Novel: Penyesalan Violante


 

XXX

Tahun 2689. Dunia telah sunyi. Kota-kota besar seperti New York, Tokyo, Paris semuanya kini hanya puing-puing bisu, dihuni oleh makhluk-makhluk yang dulunya manusia. Zombie, hasil mutasi virus buatan yang tersebar tanpa ampun, telah memakan peradaban hidup.  Tak lama setelah virus zombie ada sebuah banjir bandang yang hampir menenggelamkan seluruh peradaban manusia seperti Atlantis.

Namun, di tengah kehancuran itu, satu negara tetap berdiri: Federasi Sosialis Goryeo.

Berkat kebijakan isolasi besi yang telah berlangsung lebih dari satu abad, negeri itu terkunci rapat dari dunia luar. Tidak ada yang masuk, tidak ada yang keluar. Dan ketika virus menguasai dunia, pagar-pagar itu menjadi benteng keselamatan.

Kini, Goryeo tak lagi sekadar negara. Ia adalah satu-satunya peradaban manusia yang tersisa di bumi. Dan pemimpinnya, Kim Jong Tsung yang memiliki gelar The Big Brothers, cucu dari pemimpin agung legendaris, telah menobatkan dirinya sebagai Tuhan Hidup

Ketika kebanyakan manusia berhasil melarikan diri dari banjir bandang dan virus zombie dengan mencari planet baru di luar angkasa, Federasi Sosialis Goryeo memenjarakan rakyatnya sendiri agar tak bisa kabur dari wilayahnya dan memutus akses ke pesawat luar angkasa, mereka mulai mengambil alih wilayah negara lain yang ditinggalkan oleh manusia keluar angkasa. Penguasa negara itu berusaha mempertahankan kekuasaannya di sisa sisa dunia yang akan hancur.

Selama hampir seribu tahun, dunia telah berubah, begitu pula gadis rubah berekor sembilan ini. Dari hutan yang dulu dipenuhi bunga dan cahaya matahari, hingga reruntuhan kota-kota besar yang kini dipenuhi kesunyian dan kehancuran—ia telah melihat dunia ini berubah, perlahan memudar, dan akhirnya runtuh dalam kegelapan. Namun satu hal tetap abadi dalam hatinya: pencariannya.

Gadis rubah ini, yang berusia 10000 tahun, telah berkelana ke seluruh dunia, melintasi negara-negara yang kini hanya menyisakan kenangan. Ia mencari satu sosok—seorang lelaki yang pernah menjadi cintanya di kehidupan sebelumnya. Lelaki itu, manusia yang melindunginya, yang menyayangi dan memahaminya meskipun dia bukan manusia, adalah segala-galanya baginya.


Namun, dunia tidak pernah memahami mereka. 800 tahun lalu, sebagai siluman rubah berekor sembilan, seorang makhluk yang tak bisa diterima di dunia manusia. Cinta mereka berkembang di tengah kesulitan dan ketakutan, karena manusia takut pada apa yang tidak mereka mengerti. Mereka hidup dalam bayang-bayang ancaman, hingga akhirnya, lelaki itu, yang telah mengorbankan segalanya untuk melindunginya, dibunuh oleh penduduk desa.


Hari itu adalah hari yang akan ia kenang selamanya. Penduduk desa yang marah dan takut akan keberadaannya, yang menganggapnya sebagai makhluk jahat, mengusir dan membunuh lelaki yang telah menyelamatkannya dari bahaya. Lelaki itu terjatuh di tanah, darahnya mengalir, sementara dia berlutut di sampingnya, tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, dengan suara lemah namun penuh tekad, dia berkata, "Aku ingin terlahir kembali, bukan sebagai manusia, tapi sebagai siluman rubah... agar kita bisa hidup bersama selamanya. Jangan biarkan aku pergi... Aku akan kembali padamu."


Kata-kata itu menghantui gadis rubah hingga hari ini, meskipun hidupnya telah berlanjut jauh setelah kematian kekasihnya. Ia percaya bahwa lelaki itu benar-benar akan kembali—bahwa takdir akan membawa mereka bersama lagi. Dan dengan keyakinan itu, ia menjelajahi dunia, mencari petunjuk, mencari dia yang akan kembali padanya.

Ia bernyanyi di tengah gelapnya alam semesta. 

"Sudah berapa kalikah menyerah pada setiap tekanan hingga mati?
perasaan yang tidak punya tempat membangunkan mata
senyum yang kejam itu setara dengan
berpisah pada keberadaan yang berjauhan

Luka yang tidak dapat sembuh hanya menggerogoti hati padahal
di dalam kegelapan ini bahkan perasaan yang menetap saat ini tidak dapat kukendalikan

Ke batas mimpi dari mimpi
telah pertemuan takdir itu mulai berputar
tidak seorang pun mengetahui rahasia kejatuhan hatiku
tanpa ragu bahkan mengukir dosa yang tidak dapat kembali

Berjalan di kedalaman kesepian seraya diselamatkan
mata yang nyata tak kan pernah berubah bagaimanapun keadaannya
tapi semakin menyilaukan sinar semakin bayangan itu dapat terlahirkan
warna pekat dari dalam hati yang mendekat tanpa disadari

Dua detak jantung seperti halnya cermin yang saling berhadapan
serupa tapi rasa sakit yang berbeda terus berlanjut tanpa batas. " 



Berkeliling dari hutan ke padang gurun, dari gunung yang tinggi hingga lembah yang dalam, ia tak kenal lelah. Namun, dunia yang ditinggalkannya kini berbeda. Virus buatan telah menyebar, mengubah umat manusia menjadi makhluk zombie yang menyeramkan, sementara yang tersisa hanya reruntuhan dan kehancuran. Dunia yang pernah dikenalnya telah lama hilang. Namun di tengah semua ini, gadis rubah itu merasakan sesuatu—sebuah kekuatan yang aneh namun familiar, seperti angin yang membawa bau yang dikenalnya.


Di antara kabut mitos Asia Timur, manusia mengenal Gumiho sebagai siluman rubah berekor sembilan cantik, berbahaya, penggoda jiwa. Mereka dianggap pemakan hati manusia, penggoda lelaki yang lalai. Namun legenda itu hanyalah tirai tipis yang dipasang Dei Vulneris, agar manusia membenci makhluk yang sebenarnya paling suci di antara ciptaan.


Gumiho sejatinya bukanlah yokai ataupun iblis. Mereka adalah makhluk suci dari lapisan terdalam mimpi Ylmorrath, serpihan cahaya yang terlahir ketika penderitaan manusia pertama kali menjerit ke langit. Jika iblis adalah kristalisasi luka, maka Gumiho adalah kristalisasi harapan.

 

Konon, siapa pun yang menatap Gumiho dalam wujud sejatinya akan melihat bayangan dirinya yang sempurna—bukan tubuh fana, melainkan bentuk abadi yang seharusnya ia miliki setelah kematian.


Mata mereka menyimpan pantulan bintang yang tak pernah ada.

Senyum mereka membuat manusia merasa pulang ke rumah yang tak pernah mereka kenal.

Rambut mereka adalah malam itu sendiri, panjang dan berkilau oleh rahasia kosmos.


Manusia yang disentuh oleh Gumiho bisa melihat sekilas jalan menuju surga—jalan yang tak tergambar di kitab, tak terucap oleh nabi, melainkan cahaya murni kebangkitan kesadaran.


Legenda menyebut mereka sudah punah. Namun kebenarannya adalah: Gumiho disembunyikan. Dei Vulneris, para dewa luka, tahu bahwa hanya Gumiho yang memiliki kekuatan untuk membangunkan Ylmorrath dengan cara yang benar—bukan dengan kekacauan, melainkan dengan nyanyian pengampunan.


Karena itu mereka menyebarkan dongeng bahwa Gumiho jahat, agar manusia memburunya, agar darahnya mengering di tanah, agar harapan sirna.


Namun tak semua terbunuh. Beberapa Gumiho bersembunyi dalam wujud manusia, hidup di antara manusia biasa, menunggu saat panggilan kosmik tiba.


Peran mereka bukanlah untuk memimpin kerajaan, bukan pula untuk menghancurkan musuh. Misi sejati Gumiho adalah membangunkan monster yang bermimpi—Ylmorrath.

Namun, kebangkitan ini bukan berarti kiamat, melainkan pencerahan.


Bila Ylmorrath  bangkit oleh nyanyian Gumiho, ia akan bangun dengan tenang, dan mimpi penderitaan manusia akan usai. Dunia fana akan runtuh, namun kesadaran manusia akan dituntun ke surga yang abadi.

Del  Vulneris berusaha menjaga agar Ylmorrath tetap tidur untuk menjaga alam semesta di dalam kekacauan dan kerusakan.


Itulah rahasia yang ditakuti. Iblis ingin dunia bertahan agar penderitaan berlanjut,

Gumiho ingin dunia berakhir agar penderitaan berhenti.



Karena itu Gumiho disebut lambang keabadian. Mereka tidak bisa mati kecuali dibunuh oleh kebencian manusia. Namun, selama masih ada harapan sekecil apa pun, seekor Gumiho akan lahir kembali, dengan sembilan ekornya menyala bagaikan obor di kegelapan.


XXX

Di balik segala hukum kosmos, di balik bintang, nebula, dan suara hampa, ada sesuatu yang lebih tua dari waktu. Ia  bukan Dewa, bahkan bukan jiwa. Ia adalah monster purba yang bermimpi.

Merah yang terbakar

Merah kemerahan yang bergoyang

Kemerahan yang menumpahkan darah dan tangisan

Menghapus segalanya

Ilusi yang tidak terwujud mulai menggerakkan 

Malam yang sementara dengan kuat  

Melampaui bahkan menenggelamkan dosa 

Tidak dapat ada yang lari darinya dengan pasti

Namanya adalah YLMORRATH, Sang Rahim Tidur.

Ia tak pernah lahir, tak pernah mati. Tubuhnya membentang melampaui galaksi, suaranya tidak pernah terdengar, namun setiap getaran mimpinya menjadi hukum realitas.


Alam semesta yang kita kenal—manusia, planet, bintang, bahkan hukum fisika—hanyalah dongeng samar yang Ylmorrath dengungkan pada dirinya sendiri saat terlelap.


Namun Ylmorrath tidak tidur tenang. Setiap dentum mimpi bisa mengguncangkan fondasi realitas. Untuk menjaga agar mimpi itu tetap mengalir, muncullah para entitas yang lahir dari luka mimpi:

Sebelum ada bintang pertama, sebelum kosmos punya bentuk, yang ada hanyalah Nyanyian Luka, gema dari penderitaan yang belum terjadi. Dari gema itu lahirlah makhluk-makhluk maha purba yang disebut Para Dewa Luka (Dei Vulneris). Mereka bukan dewa dalam arti manusia, melainkan luka kolektif manusia yang menjadi sadar.

Alam semesta kita sesungguhnya bukan nyata, hanya dongeng yang dituturkan oleh Eresh-Gorath kepada Ylmorath. Setiap sejarah, setiap perang, setiap kerajaan hanyalah lapisan tipis dari narasi yang ditulis ulang tanpa akhir.

Eresh Gorath mengendalikan waktu seperti pasir yang ia genggam.

Membaca pikiran kolektif manusia seperti membuka buku tipis.

Menulis ulang kenyataan sebagaimana seorang dalang mengubah lakon.


Eresh-Gorath, Sang Penulis Mimpi, yang menenun narasi realitas agar mimpi tetap terjaga.

Nir-Athora, Sang Rahim Gelap, yang melahirkan iblis, siluman, dan roh, agar drama mimpi terus berjalan.

Iblis lahir dari pusaran kebencian, rasa iri, dan amarah manusia. Mereka adalah percikan Khalthorion yang menjelma wujud.

Siluman lahir dari sisi liar manusia yang bercampur dengan alam: binatang, hutan, sungai. Mereka tidak sepenuhnya jahat, tapi juga bukan sahabat. Mereka adalah anak-anak Nir-Athora, penjaga batas antara dunia nyata dan gaib.


Veyth-Zorath, Sang Luka Abadi, yang meneteskan penderitaan, karena mimpi tanpa derita akan membuat Ylmorrath gelisah.

Khalthorion, Sang Pengukir Nestapa, yang mengukir peperangan, ambisi, dan kebencian agar kisah tetap bergerak.

Dan kini, Mak Lampir, setelah menyatu dengan Cincin Solomon, menjadi anggota Dei Vulneris Kelima, Sang Luka Hidup, pengatur ngeri dalam skala kosmik.


Mereka bukan sekadar dewa. Mereka adalah dongeng pengantar tidur bagi monster itu. Kekacauan, perang, kematian, penderitaan, adalah lullaby yang membuat Ylmorrath tetap terlelap.


Seluruh kosmos hanya bertahan karena ia tidur. Jika ia membuka mata—hanya sepersekian detik—semua bintang akan runtuh, planet meleleh, dan hukum realitas akan terhapus, seperti anak kecil yang menutup buku dongeng dan meletakkannya di meja.


"Jika ia terbangun, maka kita semua hanyalah tinta yang menguap," bisik Eresh-Gorath.

"Dan tidak akan ada lagi mimpi setelah itu."



Mak Lampir, yang dulunya sekadar penyihir Jawa yang dikutuk, kini melihat kenyataan dengan mata baru. Ia menyadari bahwa segala penderitaan manusia—perang, wabah, pengkhianatan—adalah lagu nina-bobo kosmik.

Dan ia, kini sebagai Dei Vulneris, harus menjaga lagu itu agar terus bernyanyi.


Dengan Cincin Raja Atlan yang ternyata bagian dari tubuh Ylmorrath, Mak Lampir kini bisa menulis ulang mimpi. Ia dapat memanjangkan penderitaan, menyalakan perang baru, membangkitkan iblis, bahkan membengkokkan waktu—semata agar sang monster terus terlelap.


Alam semesta ini, semua peradaban, semua doa dan keputusasaan manusia, hanyalah dongeng murahan yang diceritakan kepada bayi raksasa buta. Dan Dei Vulneris adalah pendongeng gila yang memastikan dongeng itu tidak pernah berhenti—sebab keheningan berarti kebangkitan.


Maka dunia ini tidak pernah mengenal damai. Sebab damai adalah ancaman terbesar. Dan penderitaan adalah satu-satunya nyanyian yang menjaga kita tetap ada.


XXX

Alam semesta memasuki era kegelapan sejak kelahiran Dei Vulneris, para pembawa luka pada 4 juta tahun yang lalu. Meski terlihat seperti iblis, sebenarnya Dei Vulneris adalah kumpulan arwah ras manusia dari zaman kuno bernama The Great old ones yang terkorupsi oleh id atau alam bawah sadar terdalam dari Yllmorath yang penuh kegelapan. Bagaikan palung terdalam yang tak disadari oleh Yllmorath sendiri.


Id bagian paling primitif dan naluriah dari kepribadian Yllmorath yang dimiliki sejak alam semesta lahir, beroperasi sepenuhnya di alam bawah sadar, dan didorong oleh prinsip kesenangan (pleasure principle) untuk mendapatkan kepuasan instan atas dorongan, keinginan, dan kebutuhan dasar (seperti lapar, haus, seksual) tanpa mempertimbangkan realitas, logika, atau moralitas



Manusia dan para dewa mewakili ego Yllmorath. Ego adalah bagian dari kepribadian alam semesta yang yang sadar, bertugas menyeimbangkan antara Id (insting dasar) dan Superego (hati nurani).

 

Sedangkan Gumiho berusaha menegakkkan bagian dari kepribadian Yllmorath yang mewakili standar moral dan kebenaran yaitu superego.



Ras manusia kuno yang dikenal sebagai the great old ones punah akibat dahsyatnya peperangan yang disebabkan oleh para dewa yaitu perang Titanomakia.


Kisah pembalasan dendam Dei Vulneris dimulai setelah perang antara ras dewa lama dengan ras dewa baru yang merupakan keturunan dewa lama menyengsarakan hidup manusia sebagai semut kecil diantara peperangan gajah.


Pada awal segala zaman, para dewa menciptakan manusia bukan karena cinta,

melainkan karena kebutuhan.


Doa adalah mata uang surga.

Harapan adalah bahan bakar ilahi.

Dan manusia rapuh, singkat, mudah percaya adalah ladang energi yang sempurna.


Para Dewa Lama menciptakan manusia sebagai reaktor hidup.

Para Dewa Baru, keturunan mereka, mewarisi sistem itu tanpa pernah mempertanyakannya.


Namun para dewa, seperti semua makhluk berkuasa, akhirnya saling lapar.


Ketika perang pecah antara ras dewa lama dan ras dewa baru,

bumi menjadi papan catur,

dan manusia menjadi pion yang tidak pernah diajak bicara.


Selama masa perang antara dewa, manusia dianggap seperti buih di lautan atau seperti pion yang layak dikorbankan.


Kota-kota dilenyapkan demi ritual.

Bangsa-bangsa dikorbankan demi satu keunggulan ilahi.

Doa diperas sampai kering, lalu dibakar bersama pemiliknya.


Manusia tidak punah dalam satu hari.

Mereka dipakai sampai tak tersisa.


Tangisan terakhir umat manusia tidak ditujukan pada para dewa,

karena bahkan harapan untuk didengar pun telah mati.


Padahal dahulu para dewa menciptakan manusia sebagai sumber energi karena dewa mendapatkan kekuatan dari doa dan dukungan manusia.



Perang dewa berakhir.

Ras dewa baru menang.


Dan pada saat mereka merayakan kemenangan,

langit terbelah bukan oleh cahaya, melainkan oleh keheningan mutlak.


Para dewa mengira,

ketika manusia punah akibat perang dahsyat yang disebabkan para dewa, doa akan berhenti.


Mereka salah.


Karena yang tersisa bukan jiwa,

melainkan kehendak bebas yang tidak pernah diberi ruang untuk hidup.


Akhirnya, tak lama setelah perang antara dua ras dewa itu berakhir dan dirayakan oleh dewa lama. Arwah dan perwujudan kehendak bebas manusia bersatu menjadi entitas mengerikan, memiliki kebencian pada para dewa yang menciptakan mereka tanpa memberikan kehendak bebas.


Arwah manusia dari Ras The great old ones yang mengalami jutaan generasi penderitaan

menyatu bukan sebagai roh,

melainkan sebagai kesadaran kolektif yang sadar bahwa ia pernah diperbudak.



Ia tidak berdoa.

Ia menuntut.


Ia bukan dewa.

Ia bukan iblis.


Ia adalah akumulasi penolakan.


Para dewa kemudian menamainya dengan ketakutan yang terlambat


Dei Vulneris,Perwujudan Kehendak yang Dirampas.


Para dewa yang menang dibunuh satu per satu

bukan tubuhnya,

melainkan identitas ilahinya.


Para dewa tersiksa oleh mahluk yang mereka ciptakan sendiri.


Namun Dei Vulneris tidak membunuh semua, entitas itu membunuh semua dewa yang memenangkan perang dan menyisakan 5 dewa acak yang masih hidup untuk di siksa sebagai pelampiasan kebencian selama 4 juta tahun, keabadian yang dimiliki para dewa membuat mereka merasa lebih memilih mati daripada terus hidup dalam penderitaan.


Bukan yang paling kejam.

Bukan yang paling kuat.


Dipilih karena ketidakadilan selalu acak bagi manusia.


Dei Vulneris akhirnya mewujud menjadi lima Avatar.


Mereka turun tanpa kemarahan yang meledak.

Mereka tenang.

 

Mereka sadar.


Mereka tidak membalas dendam dengan api,

melainkan dengan penghapusan makna.


Nama mereka dilupakan bahkan oleh waktu.

Domain mereka runtuh menjadi konsep kosong.

Doa terakhir mereka tidak pernah sampai ke siapa pun.



Kelima dewa itu tidak boleh mati, tidak boleh dilupakan,t idak boleh ditebus.



Mereka dirantai bukan oleh besi,

melainkan oleh  ingatan semua manusia dari Ras The great old ones yang pernah menderita.


Selama empat juta tahun,

mereka dipaksa merasakan setiap doa yang dulu mereka abaikan hidup sebagai makhluk tanpa kuasa, menyaksikan dunia tanpa penyembah, memahami apa artinya diciptakan tanpa pilihan.




Ketika siksaan itu berakhir,

Dei  tidak membangun dunia baru. Melainkan menjaga agar Yllmorath sang dewa sejati alam semesta tetap tertidur tak terbangun sama sekali, agar penderitaan manusia terus berlanjut.


Ia tidak menciptakan manusia kembali.


Karena pelajaran terakhir umat manusia adalah ini:


Kehendak bebas yang diciptakan tanpa izinakan selalu kembali untuk menuntut balas.


Manusia tidak punya mulut untuk berteriak,

maka jeritannya menjadi entitas.


Langit tetap kosong.

Tidak ada doa.

Tidak ada dewa.


Hanya sunyi

sebagai monumen bagi spesies yang pernah hidup,

dipuja,

lalu dikorbankan oleh para penciptanya sendiri.


Sang Hyang Wenang, dewa terakhir dari ras New God yang tersisa sebelum dibantai dan disiksa oleh Dei Vulneris bersekutu dengan Gumiho, mahluk misterius bagaikan malaikat tak berdosa yang tak diketahui asal usulnya demi membangunkan Yllmorath agar penderitaan manusia berakhir dan melawan Dei Vulneris yang ingin mencega

XXX

Kabut ungu menyelimuti Lembah Tiga Bulan, tempat yang selama ratusan tahun menjadi medan pertumpahan darah antara para Cindaku dari Sumatra dan Gumiho dari Semenanjung Timur. Tulang belulang prajurit siluman masih bertebaran di tanah lembah itu, menjadi saksi permusuhan abadi mereka.


Namun malam itu berbeda. Di bawah cahaya bulan merah yang menggantung bagaikan luka di langit, dua pasukan datang tidak dengan raungan perang, melainkan dalam diam penuh kewaspadaan.


Para Cindaku, bertubuh setengah manusia setengah harimau, berderap dengan mata menyala keemasan, bulu-bulu bergetar oleh amarah yang terpendam. Pemimpin mereka, Datuk Belang Hitam, menghunus keris bercakar harimau, namun menancapkannya ke tanah sebagai tanda ia datang bukan untuk bertarung.


Dari arah timur, para Gumiho turun perlahan. Wujud mereka cantik namun berbahaya: perempuan dengan sembilan ekor berayun di belakang, mata bersinar biru seperti api dingin. Pemimpin mereka, Lady Hyeonhwa, melangkah maju sambil membawa lentera roh, yang berkilau dari ribuan jiwa manusia yang pernah ia telan.


Suara angin terhenti. Kedua pihak menatap satu sama lain, seolah sejarah dendam panjang hendak meledak kembali. Tapi Lady Hyeonhwa lebih dulu berbicara:


“Kita sudah terlalu lama saling mencabik. Namun kini, kabar yang kuterima dari roh utara membuktikan—Mak Lampir telah bangkit.”


Raungan rendah terdengar dari barisan Cindaku. Datuk Belang Hitam menggeram, suaranya berat bagaikan guruh:


“Jangan main-main, rubah berekor sembilan. Nama itu sudah ratusan tahun kami dengar sebagai dongeng. Mana mungkin ratu kegelapan itu kembali?”


Lady Hyeonhwa mengibaskan salah satu ekornya. Api biru meletup, membentuk bayangan seorang perempuan tua berselendang hitam dengan mata api merah menyala. Bayangan itu terkekeh, suaranya memecah udara lembah hingga bebatuan bergetar.


“Aku kembali, wahai anak-anak malam. Tunduklah, atau musnah.”


Cahaya itu lenyap, menyisakan keheningan mencekam.


Para siluman dari kedua pihak saling menatap—untuk pertama kalinya, tidak dengan kebencian, melainkan dengan rasa takut yang sama. Datuk Belang Hitam menghela napas panjang, lalu mencabut kerisnya dari tanah.


“Jika benar Mak Lampir kembali, maka bukan hanya darah rubah yang ia inginkan. Ia akan menghisap jiwa harimau, naga, bahkan dewa sekalipun.”


Lady Hyeonhwa mengangguk, lalu mengangkat lentera rohnya ke langit.


“Mulai malam ini, aku dan sembilan ekorku menyatakan gencatan senjata. Cindaku dan Gumiho harus bersatu, dan kita akan mengirim kabar ke seluruh bangsa siluman— bahkan roh pohon yang tertua—bahwa dunia berada di ambang kegelapan.”


Seruan panjang bergema dari pasukan Cindaku, bersahut-sahutan dengan nyanyian mantra para Gumiho. Dua musuh bebuyutan itu kini berdiri sejajar, dan dari lembah yang selama ini hanya mengenal perang, kini terbit sebuah aliansi kelam demi menghadapi musuh yang lebih besar.


Dan jauh di balik bayangan gunung, Mak Lampir menyeringai. Ia tahu, sekalipun para siluman bersatu, semuanya pada akhirnya hanya akan menjadi bidak dalam permainan kekuasaannya.


XXX

Hujan adalah simbol kesedihan, perang dan penderitaan. Jujur semua orang sangat sakit hati, awalnya semua orang hanya menginginkan perdamaian abadi, tapi semuanya hancur karena pejabat rakus.

Langit tak pernah berhenti menangis, itulah gambaran yang bisa menjelaskan perang antara manusia permukaan dan ras manusia kuno yang tinggal di langit langit. Meski manusia langit memandang diri mereka sebagai malaikat yang melindungi bumi dari kerusakan manusia, padahal mereka adalah peradaban kuno pengikut Dei Vulneris, iblis yang ingin terus membuat manusia mengalami penderitaan. Mereka menyembah Yllmorath sebagai tuhan.

Peradaban manusia langit  yang membangun sebuah kota raksasa bernama Irontopia di atas awan, dipenuhi oleh ilmuwan dan orang jenius yang sangat mencintai alam lebih dari apapun dan memandang rendah manusia bumi yang menyebabkan banyak kerusakan alam.


Di mata manusia langit yang picik, manusia daratan selalu berperang, menyebabkan kerusakan, menggunduli hutan, mencemari laut, menyebabkan polusi, perburuan liar hingga penyebab perang nuklir yang mengancam kelangsungan hidup di bumi, manusia daratan adalah satu satunya pihak yang berhak disalahkan atas kerusakan alam di bumi.

Manusia langit membangun peradaban diatas awan buatan dimana mereka menyelamatkan berbagai hewan dan tumbuhan yang terancam punah tapi tak bisa dijangkau manusia permukaan. Manusia Langit memiliki kemampuan untuk terbang dan mengendalikan cuaca di seluruh bumi dengan teknologi canggih.


Manusia langit sangat tertutup karena memiliki teknologi canggih yang membuat peradaban mereka tak pernah dilihat satelit manusia permukaan selama berabad abad, manusia awalnya tak tahu jika mereka ada,

Untuk menghabisi manusia daratan dan mencegah kerusakan alam, mereka berencana melakukan genosida dengan menerapkan proyek noah: menenggelamkan peradaban manusia perlahan lahan dengan hujan abadi dan menyelamatkan orang yang layak untuk diselamatkan. Mereka juga mengirimkan virus zombie yang digunakan untuk membuat manusia punah dan alam bisa memperbaiki diri perlahan lahan.


Namun lama kelamaan manusia daratan menyadari keberadaan mereka dan terjadi perang selama hampir 300 tahun, sampai hampir seluruh peradaban manusia kalah perang karena tenggelam akibat banjir abadi.

Setelah manusia meninggalkan Bumi 300 tahun lalu untuk mencari planet baru setelah kalah perang melawan manusia langit, alam mulai mengambil alih. Tanpa polusi, radiasi, dan perusakan ekosistem oleh manusia, makhluk-makhluk yang tersisa berevolusi dengan kecepatan yang luar biasa. Di hutan-hutan Eropa yang kini telah menjadi raksasa, sekelompok serangga—khususnya kupu-kupu, capung, dan kumbang—mengalami mutasi genetik yang aneh.


Lambat laun, mereka mengembangkan kecerdasan, postur tegak, dan bentuk tubuh yang menyerupai manusia namun dengan keindahan yang nyaris tidak wajar. Kulit mereka berkilau seperti permata, mata mereka besar dan berwarna-warni seperti kristal, manusia langit berniat menjadikan mahluk ini yang disebut sebagai elf menjadi pengganti manusia bumi, mahluk yang lebih indah,tidak agresif dan yang terpenting hidup selaras dengan alam

Sebagian besar manusia juga melarikan diri keluar angkasa karena gagal bertahan dari tekanan manusia langit yang ingin mengusir manusia daratan demi melestarikan alam, kecuali satu negeri totalitarian, Federasi Sosialis Goryeo yang menjajah kepulauan Nusantara. Federasi Sosialis Goryeo yang dipimpin oleh Supreme Leader, Big Brother Kim Jong Tsung, adalah negara paling terisolasi di dunia, negeri itu menjadi negeri manusia daratan terakhir yang selamat dari kiamat zombie akibat virus ciptaan manusia langit. Karena gagal memusnahkan negara itu dengan virus zombie. Manusia langit memperkuat banjir bandang untuk menenggelamkan negeri totalitarian itu namun tetap tidak berhasil.

Sebelum proyek zombie dan proyek  nuh, Federasi Sosialis Goryeo dulunya adalah negeri yang ada di tengah berbagai imperium dan Kekaisaran besar hingga sering dijadikan Medan perang, rakyat menderita tapi ironisnya mereka menjadi negeri terakhir di daratan yang bertahan melawan para manusia langit karena kebijakan isolasi mereka.


Federasi sosialis Goryeo memiliki banyak Kota industri yang dipenuhi dengan pompa, kanal, dan mesin penghisap air, kota ini juga dipenuhi gedung tinggi, saling terhubung, banyak platform,banyak zona kering di atas, kota dengan arsitektur vertikal lebih kecil risiko banjir karena genangan tertahan di lantai bawah, area utama berada di atas, aktivitas tidak di lantai dasar, hanya bagian bawah kota yang mungkin banjir, tapi tidak mengganggu kehidupan.


Federasi sosialis Goryeo juga penuh cerobong raksasa, pipa raksasa, turbin, mesin industri, mesin pompa air, sistem aliran buatan, kanal bawah tanah. Itu semua khas kota industri. Membuat negeri itu juga selamat dari banjir bandang yang disebabkan oleh manusia langit.

Kepulauan Nusantara kini  juga menjadi salah satu Koloni Federasi Sosialis Goryeo, dengan Nama Airstrip One.  Selama hampir seabad Nusantara diperintah dari Pyongyang.

XXX


Federasi Sosialis Goryeo lahir dari reaksi traumatik, bukan ambisi ideologis murni.


Dahulu kala jauh sebelum kedatangan para manusia langit dari Irontopia. Negara-negara Asia Timur dan Tenggara runtuh fungsional (korupsi, oligarki, milisi). Wilayah-wilayah lokal jadi otonom, anarkis dan  brutal, Tiongkok kehilangan stabilitas akibat migrasi massal dan krisis iklim.


Aliansi darurat militer buruh dibentuk. Aliansi itu tidak pernah bubar. Dari situ lahir partai tunggal, Partai Revolusi Proletar Federasi Sosialis Goryeo.


Di Semenanjung Korea yang merupakan pusat kekuasaan Federasi Sosialis Goryeo kehidupan rakyat di kontrol ketat bahkan mereka memiliki teknologi penangkap gelombang otak yang bisa membaca  pikiran pembangkang.


Namun, di Airstrip One atau Kepulauan Nusantara yang merupakan koloni terpenting Federasi Sosialis Goryeo. Mereka memiliki metode yang sangat efektif untuk mengendalikan rakyat di seberang lautan agar tetap patuh. Karena mustahil menguasai wilayah kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari ratusan ribu kepulauan dan ratusan juta penduduk dengan kontrol ketat.


Partai mengklaim dirinya anti-korupsi, anti-elit, anti-anarki  dan memang awalnya didukung rakyat.



Tidak ada “Presiden”.

Tidak ada “Pemimpin Agung” untuk koloni, Kim Jong Tsung adalah the big brother atau saudara tua yang mengayomi adiknya.


Hanya  Dewan Sinkronisasi Revolusi yang biasa menampilkan Wajah Suprame Leader Kim Jong Tsung sebagai the big brother.


Selain Kim Jong Tsung yang dianggap sebagai simbol negara dan dewa absolut, anggota selalu berubah. Arsip identitas disamarkan. Tidak pernah tampil publik sebagai individu


Propaganda menyebut "revolusi tidak butuh wajah."


Kenyataannya ini membuat tidak ada target personal. Tidak ada figur yang bisa dibenci atau digulingkan selain sang Supreme Leader yang dianggap sebagai kebenaran.


Kekuasaan jadi abstrak dan permanen. Struktur Kelas Sosial Goryeo dibentuk dengan sangat rapih agar pemberontakan bisa diminimalisir.


Buruh, teknisi, operator

Tinggal di blok-blok padat

Akses minimum tapi stabil

Diawasi, tapi tidak disiksa


Mereka tidak dimiskinkan ekstrem. Mereka dibuat cukup hidup untuk takut kehilangan.


Kader Fungsional, lapisan berbahaya yang terdiri dari administrator, guru ideologi, polisi partai dan manajer produksi


Mereka adalah kelas yang dibenci rakyat. Mereka diberi privilese kecil, tapi dijadikan “wajah negara”

Secara rutin dikorbankan saat Hari Revolusi Proletar


Mereka adalah tameng sosial. Elemen Reaksioner Terkelola, bukan musuh ideologis besar yang terdiri dari Geng motor, pasar gelap dan milisi informal. Negara tidak menghapus mereka,

tapi mengatur intensitasnya.


Bonang berasal dari kelas ini. Tidak tercatat sebagai kelas, tidak pernah jadi korban Walpurgisnatsch, hidup terpisah, berpindah-pindah,  identitas dihapus dari arsip publik


Mereka tidak disembah, bahkan tidak dikenal. Itulah kekuasaan sejati di Federasi Sosialis Goryeo.



Goryeo jarang berbohong terang-terangan. Mereka melakukan framing, ritualisasi dan pengulangan waktu.


Peristiwa negara seperti penjarahan, redistribusi, revolusioner, pembunuhan eliminasi elemen reaksioner,  hari revolusi proletar, Korban aparat, pengorbanan kelas menengah, kekacauan   dan transisi revolusioner   tak benar benar dihapus dalam kamus standar bahasa nasional. Negara tidak menyangkal kekerasan, negara memberi makna yang tidak bisa ditolak.



Narasi resmi, "Sekali setahun, proletariat mengingat bahwa kekuasaan lahir dari tangan mereka, bukan dari hukum.”


Ada aturan tak tertulis yang membuat aparat mundur, tapi tetap mengamati.


Kelas tertentu wajib jadi korban simbolik

Kekerasan yang terlalu acak diintervensi diam-diam.


Tidak boleh menyasar simbol inti Partai. Ini bukan hari tanpa negara,

tapi hari ketika negara menjadi ritual.


Sekolah tidak mengajarkan “taat”. Mereka mengajarkan ketidakpercayaan terhadap moral pribadi

kebencian pada spontanitas

keyakinan bahwa “kebenaran tanpa jadwal itu berbahaya”


Anak-anak diajarkan


 “Jika keadilan tidak diumumkan, itu bukan keadilan.”


Ini menghasilkan generasi seperti Awang yang sadar akan absurditas tapi belum tahu alternatifnya. Stabil karena kekerasan disalurkan Dendam dijadwalkan Musuh selalu ada.


Rapuh karena tidak ada iman sejati, tidak ada makna personal

Semua menunggu giliran. Negara ini tidak runtuh oleh revolusi. Ia runtuh ketika seseorang menolak menunggu kalender.

XXX

Negara berkata,

“Malam ini, dunia berada di luar waktu.”

Negara berkata:


“Malam ini, dunia berada di luar waktu.”

24 jam  dalam setahun semua orang bisa melakukan tindakan kriminal mengerikan seperti pembunuhan dan perampokan tanpa jeratan hukum. Sebuah anomali di negeri totalitarian yang biasanya mengawasi setiap gerak gerik rakyatnya. 

Hari Revolusi Proletar.


Selama dua belas jam, pada malam 30 April hingga 1 Mei, hukum pidana ditangguhkan.

Perampasan properti “kelas reaksioner” dilegalkan. Kekerasan terhadap “musuh kelas” tidak dituntut. Pemerintah  menciptakan laboratorium psikologi sosial raksasa hanya dalam waktu satu malam, malam itu disebut malam Walpurgisnacht. Hari itu selalu jatuh pada tanggal yang sama.

Toko-toko elite ditutup rapat. Rumah-rumah kader partai tingkat menengah kosong, lampu mati. Orang-orang miskin keluar bukan untuk membakar dunia, tapi untuk mengambil apa yang selama ini tidak pernah bisa mereka sentuh. Walpurgisnacht adalah malam ketika sisa-sisa dunia lama muncul ke permukaan.

Negara tidak menciptakannya, negara hanya memastikan ia tidak melampaui fajar. Negara menyangkal tanggung jawab langsung, kekerasan diperlakukan seperti fenomena alam. Rakyat bukan pelaku, tapi medium, orang mempersiapkan diri secara emosional, bukan logistik

Orang tua tidak menjelaskan secara rasional, hanya berkata pada anak anak mereka,


“Nanti kamu mengerti saat Walpurgisnacht.”


Kamera tetap menyala, arsip tetap berjalan, negara tetap ada, tapi negara bersikap seperti pendeta, bukan polisi. Mereka tidak menghukum, mereka menunggu. Menunggu jauh lebih menekan daripada menindak.

Di negara totalitarian  Walpurgisnatch tidak menghasilkan chaos massal. Mayoritas warga hanya bingung, takut, dan pasif. Kekerasan akan sangat terbatas, terarah, atau bahkan nihil. Negara totalitarian membunuh spontanitas manusia, bukan hanya kebebasan, sehingga membalik ekspektasi populer tentang “malam bebas kekerasan”. Sebagian besar warga tidak akan bertindak agresif, malah cenderung bingung, pasif, atau ketakutan.


Negara totalitarian bukan sekadar masyarakat yang represif. Ia tidak hanya melarang tindakan tertentu, tetapi juga membentuk struktur batin manusia. Dalam kondisi seperti ini, warga terbiasa hidup di bawah pengawasan permanen—nyata atau hanya imajiner—menginternalisasi rasa bersalah dan takut, kehilangan spontanitas moral, dan menjadi sangat tergantung pada perintah otoritas. Akibatnya, mereka tidak hanya kehilangan kebebasan, tapi juga otonomi untuk bertindak sendiri.


Jika tiba-tiba diumumkan bahwa “semua kejahatan legal selama 12 jam”, reaksi mayoritas warga kemungkinan besar adalah kebingungan dan ketidakpercayaan. Mereka akan bertanya-tanya, “Apakah ini jebakan?” dan curiga adanya kamera tersembunyi. Banyak yang akan menunggu instruksi lanjutan, mengurung diri di rumah, atau merasa tetap bersalah secara moral maupun ideologis. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai learned helplessness dan norm dependency: orang kehilangan kemampuan memilih, bahkan ketika izin diberikan secara resmi.


Kekerasan sendiri tidak muncul hanya karena ada izin. Ironisnya, masyarakat yang paling brutal biasanya bukan yang paling dikontrol, tetapi yang membudayakan kekerasan, ada konflik horizontal, impunitas selektif, dan musuh yang jelas. Dalam totalitarian, kekerasan dimonopoli negara; warga tidak dilatih menjadi pelaku independen, dan agresi diarahkan melalui ritual negara seperti pengakuan publik atau penyangkalan diri. Saat negara tiba-tiba “melepas kendali”, yang muncul bukan ledakan kekerasan, tetapi vakum psikologis kekosongan dan kebingungan, bukan chaos massal.


Kalau pun ada kekerasan, pelakunya kemungkinan besar adalah aparat atau kader ideologis yang terbiasa bertindak tanpa konsekuensi, kelompok oportunis kecil atau kriminal laten, atau beberapa kasus balas dendam personal yang terbatas dan diam-diam. Bukan kerusuhan massal ala film.


Moral ditentukan sepenuhnya oleh Partai, dan dosa adalah pikiran, bukan tindakan. Kejahatan tanpa niat tetap dianggap kejahatan. Jika Walpurgisnatch diumumkan, orang tetap takut akan thoughtcrime; bahkan membunuh bisa terasa salah jika “emosi” atau motivasinya tidak sesuai aturan Partai. Malah kemungkinan, malam itu justru menjadi malam paling sunyi sepanjang tahun.


Paradoks totalitarian jelas: semakin total kontrol negara, semakin lumpuh warganya tanpa perintah. Totalitarianisme bukan sekadar menghapus kebebasan; ia menghancurkan kapasitas manusia untuk menjadi “jahat secara bebas”. Inilah alasan mengapa rezim semacam itu hampir tidak pernah benar-benar melepas kendali, bahkan sebentar. Mereka tahu bahwa jika kontrol dilepas, yang muncul bukan kebebasan, tapi kehampaan.

Di dunia mereka, realitas adalah apa yang Partai katakan hari ini, namun Partai bisa selalu mengubah masa lalu. Janji apa pun tidak pernah stabil, dan kepercayaan terhadap kepastian nyaris tidak ada. Bahkan ketika secara objektif tidak ada jebakan, secara subjektif warga tetap tidak bisa memercayainya. Jam-jam pertama akan diisi oleh kebingungan total: jalanan sepi, hampir semua orang membeku, tidak ada koordinasi massa, dan setiap orang menunggu tanda dari orang lain. Fenomena ini mirip eksperimen sosial: ketiadaan norma mendadak memunculkan paralisis, bukan kebebasan.


Hanya setelah beberapa jam, ketika warga mulai menyadari bahwa ini nyata tetangganya bisa berteriak tanpa ditangkap, ada pembunuhan terbuka tanpa konsekuensi, tidak ada pengumuman koreksi dari Partai—sebagian kecil mulai bertindak. Namun bertindak bagaimana? Bukan pesta kekerasan acak, melainkan tindakan yang aneh, pribadi, dan simbolik.


Yang paling umum adalah kekerasan simbolik dan personal: membunuh informan pribadi, menyerang pasangan atau atasan lama, menghancurkan simbol Partai seperti poster atau teleskrin. Ini bukan kriminalitas oportunistik, tapi ledakan dendam yang telah terpendam lama. Selain itu, ledakan emosi lain juga muncul: tangisan histeris, pengakuan publik yang aneh tapi konsisten dengan Goryeo, bunuh diri meningkat, dan hubungan intim ilegal seks atau keintiman menjadi lebih mungkin daripada pembunuhan massal. Yang ditekan paling lama di Goryeo bukan agresi fisik, melainkan emosi dan keintiman.


Kekerasan massal tetap jarang, karena tidak ada kepercayaan sosial, tidak ada koordinasi, tidak ada bahasa oposisi, dan tidak ada rasa “kita”. Tanpa identitas kolektif, chaos massal tidak mungkin terjadi. Ironisnya, Walpurgisnatch semacam ini justru melemahkan Partai. Orang mengalami realitas tanpa pengawasan mutlak, menyadari bahwa Partai tidak maha hadir, dan ingatan tubuh mereka terhadap hari bebas itu tidak bisa sepenuhnya dihapus. Hal ini sangat berbahaya bagi totalitarianisme, karena justru memunculkan kesadaran eksistensial yang Partai takutkan tapi harus dipertahankan karena mengandung data emas besar. 


Bahkan tanpa jebakan sama sekali, malam itu tidak akan menjadi malam penuh anarki, tidak akan ada pemberontakan spontan besar. Yang terjadi adalah ledakan kecil, personal, dan terfragmentasi, sementara banyak orang tetap membeku dan tidak melakukan apa-apa. Dampak paling berbahaya bukan jumlah korban, melainkan kesadaran bahwa manusia bisa bertindak tanpa izin, sesuatu yang totalitarianisme hancurkan bertahun-tahun. Goryeo menciptakan manusia yang tidak lagi tahu apa arti bertindak sendiri, dan Walpurgisnatch dalam konteks ini menjadi mimpi buruk bukan bagi rakyatnya, tapi bagi rezim itu sendiri.


Satu-satunya alasan rasional bagi Partai untuk melakukannya adalah sebagai laboratorium psikologi sosial raksasa. Tapi bentuknya tidak akan seperti film, dan risikonya sangat besar bahkan bagi Partai sendiri.


Jika dilihat dari logika internal , tujuan eksperimen semacam itu bukanlah melihat seberapa brutal warga bisa menjadi, melainkan menguji seberapa dalam kontrol Partai sudah terinternalisasi. Apakah warga tetap patuh meski hukum dicabut? Apakah rasa bersalah masih bekerja saat tidak ada hukuman? Apakah superego Partai sudah menggantikan hukum eksternal? Ini adalah puncak uji coba: kontrol tanpa kontrol.


Partai juga ingin tahu apa yang muncul secara spontan ketika mereka “menghilang”. Dorongan apa yang paling kuat setelah ditekan puluhan tahun agresi, seks, keintiman, dendam personal, atau kepatuhan kosong? Data ini sangat berharga: individu yang mampu bertindak mandiri, mengambil inisiatif tanpa arahan, atau tidak menunggu norma, adalah orang-orang yang berpotensi paling berbahaya bagi totalitarianisme. Orang yang tenang tapi bertindak sendiri adalah ancaman terbesar yang harus dicuci otak lebih ketat.


Mereka akan mendesain Walpurgisnatch dengan hati-hati: singkat, ambigu secara bahasa “tanggung jawab moral tetap berlaku”, diumumkan sebagai eksperimen patriotik, disertai ritual bahasa yang mengarahkan interpretasi, dan yang paling penting, data tetap dikumpulkan, walau secara formal “tanpa jebakan hukum”. Tidak menghukum tidak berarti tidak mencatat.


Hasil eksperimen ini pun bisa terbaca dengan cepat. Mayoritas warga kemungkinan besar tetap membeku, tidak melakukan apa-apa, kemenangan besar bagi Partai. Ini artinya kontrol sudah masuk ke tubuh warga, hukum eksternal hampir tidak diperlukan, dan masyarakat bisa dijalankan dengan energi minimal. Kekerasan yang muncul bersifat personal, bukan ideologis; dendam lama atau agresi tersembunyi muncul, tetapi tidak terpolitisasi, sehingga Partai tidak takut kriminal, mereka takut makna bersama yang muncul.


Minoritas kecil yang benar-benar bertindak bebas adalah bagian paling berbahaya: orang yang menghancurkan teleskrin tanpa emosi, membantu orang lain tanpa motif Partai, atau menjalin hubungan intim tanpa rasa takut. Mereka adalah subjek yang belum sepenuhnya dibentuk, individu yang menantang kontrol total.


Risikonya fatal. Sensasi kebebasan sesaat, pengalaman tubuh bahwa Partai bisa memilih untuk tidak ada, tidak bisa sepenuhnya dihapus. Bahkan jika arsip diubah dan ingatan dipalsukan, tubuh tetap mengingat. Satu malam seperti ini cukup untuk menanam benih retakan ontologis dalam pikiran warga. Eksperimen yang berhasil menunjukkan kontrol sempurna membuat Walpurgisnatch tidak perlu, sementara eksperimen yang menunjukkan retakan membuatnya terlalu berbahaya untuk diulang. Dalam kondisi apa pun, eksperimen ini tidak menguntungkan bagi totalitarianisme absolut.


XXX

Bayangkan jika efek nyata dari Walpurgis di Goryeo hanyalah perampokan biasa, dengan sesekali menyasar anggota Partai tingkat atas. Ini bukan skenario kekacauan besar, dan kekerasannya tidak luar biasa. Justru di sinilah bahayanya: maknanya sangat spesifik.


Perampokan bukan kegilaan acak. Ada perhitungan risiko, tujuan material, dan pemilihan target. Warga yang sebelumnya membeku kini sudah belajar kapan hukum “mati” dan bisa berpikir secara instrumental tanpa arahan Partai. Dalam konteks ini, manusia Goryeo kembali menjadi agen, meski terbatas—mereka mampu membuat pilihan sendiri, mengukur risiko, dan mengeksekusi rencana.


Bahaya terbesar muncul ketika target perampokan sesekali adalah aparat, kader, atau elite Partai. Selama tidak ada hukuman setelahnya, terjadi fenomena simbolik yang mengerikan bagi totalitarianisme. Pertama, aura kesucian Partai retak. Dalam logika Goryeo, Partai bukan sekadar penguasa; ia entitas sakral yang tidak boleh disentuh. Dihancurkan atau diganggu tanpa konsekuensi, artinya Partai bisa disentuh, dan itu pukulan simbolik yang sangat besar.


Kedua, kekerasan kini bersifat horizontal dan vertikal. Selama ini kekerasan hanya mengalir dari atas ke bawah, tapi Walpurgis memungkinkan kekerasan dari bawah ke atas—walau jarang, tetap cukup untuk menghapus monopoli mutlak kekerasan. Ketiga, loyalitas aparat terkikis. Mereka sadar bisa menjadi korban, sementara negara memilih untuk tidak melindungi mereka. Elite mulai memisahkan diri, paranoia meningkat, dan fragmentasi internal menjadi nyata. Bahaya ini bukan berasal dari pemberontakan rakyat, melainkan dari retakan dalam struktur Partai itu sendiri.


Dampak psikologis pada warga juga menarik. Efeknya bukan radikalisasi, melainkan normalisasi. Warga belajar bahwa mereka bisa mengambil barang, aparat pun bisa dirampok, dan dunia tidak runtuh. Ketakutan eksistensial menurun, ketaatan beralih dari iman menjadi rutinitas, dan ideologi berubah menjadi ritual kosong. Totalitarianisme hidup dari iman, bukan sekadar rutinitas, dan di sinilah fondasi moral absolut mulai terkikis.


Dalam jangka menengah, lima hingga sepuluh tahun, perilaku sosial mulai berubah. Warga miskin menunggu Walpurgis untuk redistribusi informal, pasar gelap menyesuaikan kalender tahunan Walpurgis, elite mempersenjatai diri dan bersembunyi, dan kesenjangan sosial menjadi semakin nyata. Ironisnya, Walpurgis justru menonjolkan kelas sosial, padahal Partai ingin semua larut dalam ideologi.


Dilema besar muncul bagi Partai. Jika Walpurgis dihentikan, warga sadar bahwa “ini bisa terjadi”; jika diteruskan, elite terus terancam. Partai tak bisa menghukum tanpa mengkhianati konsistensi, tak bisa melindungi elite tanpa mengakui ketimpangan, dan tidak bisa menghapus pengalaman tubuh warga. Dalam logika Goryeo, ini adalah jalan buntu, totalitarianisme absolut menghadapi kenyataan bahwa warga kini bisa mengukur kekuasaan secara instrumen, bukan sekadar patuh karena iman.


Kesimpulannya, jika Walpurgis sebagian besar berisi perampokan dan sesekali menyasar elite Partai, dilakukan konsisten tiap tahun, hasilnya bukan runtuh cepat dan bukan chaos total. Yang terjadi adalah degenerasi internal totalitarianisme kekuasaan absolut berubah menjadi rapuh, warga belajar berpikir instrumental tanpa ideologi, dan elite kehilangan rasa aman ontologis mereka. Totalitarianisme tidak takut kriminal; ia takut ketika rakyat menyadari bahwa penguasa juga benda, sesuatu yang bisa disentuh, ditimbang, dan diukur.

XXX

Wilayah Airstrip One menjadi daerah konflik yang sangat berbahaya antara kelompok separatis dan Pasukan Federasi Sosialis Goryeo maupun ancaman dari berbagai mahluk aneh termasuk para zombie yang kadang masuk ke Zona demiliterisasi. Malam Walpurgisnatch yang hanya terjadi setahun sekali menjadi celah bagi para pemberontak bersenjata yang kecil tapi laten yang ingin mengusir Goryeo dari Nusantara.


Karena malam itu dilakukan dilakukan berulang dan konsisten, warga mulai belajar pola jika tidak ada hukuman susulan, orang tertentu selalu selamat, aparat benar-benar pasif, dan tidak semua orang menghilang setelah Walpurgisnatch Ketakutan mulai terlokalisasi. Tidak lagi “semua diawasi”, melainkan “diawasi kecuali pada waktu tertentu”. Mitos kemahadiran mutlak Partai mulai retak. Warga mulai melakukan eksperimen mikro: tahun ini keluar rumah, tahun depan berbicara jujur, tahun berikutnya membantu orang lain, lalu mulai merusak teleskrin. Perlahan-lahan, muncul latihan kebebasan bertahap.


Sampai suatu hari sekelompok anak di Federasi Sosialis Goryeo, kelompok yang dianggap penerus bangsa mendapatkan sebuah kekuatan magis dari Gumiho putih yang bisa bicara, mungkin mahluk itu alien atau mahluk antardimens tapi mereka tak peduli,di mata anak anak mahluk itu adalah dewa yang memberikan mereka harapan dan mandat untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Mereka bertiga: satu perempuan dua laki laki mendirikan organisasi bernama Band of Eagle setelah dianugrahi kekuatan suci yang konon bisa mengubah dunia, organisasi damai tak bersenjata yang diciptakan dengan harapan agar  Federasi Sosialis Goryeo dan manusia langit di Irontopia bisa berdamai, namun karena intrik politik kerajaan yang busuk, salah satu anak laki laki mati dan tewas dibunuh oleh sekelompok elit korup. Federasi sosialis Goryeo menganggap band of Eagle sebagai ancaman yang dapat menggulingkan kekuasaan elit dan ketakutan mereka itu malah terjadi.


Kedua lainnya bertahan dan membalaskan dendam dengan, band of Eagle menggantikan kekuasaan Gubernur Jendral Federasi Sosialis Goryeo di Nusantara dan berhasil membuat kaum separatis memisahkan diri dari Goryeo, mereka berjanji akan melindungi rakyat dan akan memenangkan perang melawan manusia langit yang gagal dicapai oleh pihak Goryeo di masa lalu, mereka memutuskan untuk berkeliling dunia dan mengumpulkan manusia terkuat di seluruh bumi yang tersisa untuk gabung ke band of Eagle dan menghancurkan peradaban manusia langit. Satu anak laki laki yang tersisa itu bernama Violante.

Kota Airstrip One  diguncang oleh suara tembakan. Sekelompok kriminal bersenjata merampok bank dan menakut-nakuti warga. Dari bayangan sebuah gedung, seorang remaja muncul — mata merah muda samar, napas berat tapi tenang.


Violante, superhero baru yang hangat diperbincangkan  mengangkat bunga mawar yang berdenyut di tangannya. Satu hembusan, dan cahaya atom menyambar ke arah para kriminal. Senjata mereka meledak di tangan sendiri, dan mereka terlempar ke udara. Saat mereka terkapar, Violante merasakan tubuhnya bergetar—jari-jari yang dulu lemah kini kembali sempurna, kaki yang pincang semakin kuat.


"Satu ancaman… satu kemenangan," bisiknya. "Jika para malaikat di langit itu mulai menindas manusia atas nama keadilan aku akan menjadi monster. Aku sangat jijik pada para manusia langit munafik itu, mereka tak pernah merasa melakukan kejahatan dan merasa selalu hidup dengan damai meski telah memusnahkan hampir seluruh penduduk daratan." 


Beberapa minggu kemudian, sebuah monster raksasa muncul di pelabuhan, menghancurkan kapal-kapal dan menakut-nakuti penduduk. Violante berdiri di dermaga, bunga mawar berputar di udara.


Monster itu mengaum, mengejar Violante. Ia menembakkan napas atom melalui bunga, cahaya meledak tepat di dada monster, membuatnya terhuyung mundur. Monster itu kembali menyerang, tetapi Violante bergerak gesit, menghindar sambil menembakkan serangan atom satu demi satu. Setiap kali monster itu jatuh, tubuhnya semakin utuh—otot yang dulu lemah kini mengeras, kulitnya menjadi normal.


"Semakin banyak musuh… semakin lengkap aku."



Di kawasan industri, sebuah robot raksasa lepas kendali. Logamnya memantulkan cahaya neon, setiap langkahnya menghancurkan jalanan. Violante berdiri di atap gedung, bunga mawar di tangannya berputar cepat.


Ledakan cahaya atom menghantam robot, menghancurkan salah satu kaki dan tangan logamnya. Saat robot roboh, tubuh Violante bergetar lagi—lengan yang dulu kurang kuat kini penuh tenaga, dada yang tak sempurna kini kembali.


Ia meloncat dari gedung ke gedung, menembakkan serangan atom satu demi satu sampai robot itu akhirnya terjatuh dan hancur berkeping-keping.



Suatu malam, langit Jakarta terbuka oleh pesawat alien hijau yang menembakkan laser biru ke jalanan. Warga berlari ketakutan, dan Violante muncul dari kegelapan atap gedung.


Bunga mawar berputar di tangannya, cahaya atom meluncur menghantam pesawat alien satu demi satu. Saat alien jatuh dan meledak, tubuhnya bergetar lagi—kaki dan tangan yang belum sempurna kini utuh sepenuhnya.


Pada saat itu, Violante tersenyum sendiri, merasakan kekuatan baru yang mengalir dalam tubuhnya. “Setiap musuh yang kuhadapi… membawa aku lebih dekat menjadi manusia seutuhnya,” gumamnya.

 

Violante berdiri di tepi hutan dekat kaki Merapi, napasnya berat. Kabut lava yang tersisa dari letusan beberapa hari lalu masih menempel di udara. Di depannya, segerombolan iblis Mak Lampir muncul, mata merah menyala, cakar dan taring siap menyerang. Grandong adalah cucu tiri Mak Lampir. Meskipun bukan anak kandung, Grandong adalah salah satu pengikutnya yang setia, yang muncul dan memiliki wujud mirip genderuwo dengan taring.


Ia menutup mata sejenak, merasakan energi yang mengalir dari tangannya. Dari telapak tangannya muncul sebuah bunga mawar berwarna merah menyala, berputar-putar di udara seolah hidup. Napasnya yang panjang mengalir melalui bunga itu, dan tiba-tiba bunga itu meledak menjadi cahaya atom, menghancurkan salah satu iblis menjadi debu bercahaya.


Namun, setiap kemenangan itu membawa konsekuensi. Violante merasakan sakit halus, seperti ada bagian tubuhnya yang hilang. Tangannya bergetar, kakinya lemas. Ia tersadar: setiap kali ia membunuh iblis Mak Lampir, satu bagian tubuhnya yang belum sempurna kembali menjadi manusia seutuhnya.


Ia menatap tangannya sendiri yang mulai normal kembali—jari-jari yang dulu cacat kini utuh. Kakinya kembali sempurna. Dada dan lengannya mengeras, kulitnya kembali mulus. Violante tersenyum tipis, merasakan energi kehidupan yang perlahan kembali ke tubuhnya.


“Ternyata ini… caranya menjadi manusia seutuhnya,” gumamnya. “Setiap pertarungan membawa aku lebih dekat ke diriku sendiri.”


Tiba-tiba, sebuah iblis lebih besar muncul dari bayangan pohon bambu. Mata iblis itu menatapnya tajam, dan dengan suara yang menggeram, ia berlari menerjang. Violante menarik napas dalam-dalam, bunga mawar di tangannya berputar lebih cepat, cahayanya memancar seperti ledakan mini atom. Saat cahaya itu menyapu iblis, tubuhnya bergetar lagi—lengan yang dulu lemah kini penuh tenaga, kaki yang pincang kembali sempurna.


Di kejauhan, Cindaku muncul, melompat gesit di atas pohon. “Kau bisa melakukannya, Violante! Jangan biarkan Mak Lampir menang!” teriaknya, menembus kabut.


Violante mengangguk, menatap bunga mawar yang berdenyut dengan cahaya atom. “Ini baru permulaan,” bisiknya. “Aku akan membunuh setiap iblisnya… dan aku akan menjadi manusia… sepenuhnya.”


Dan dari puncak Merapi, Mak Lampir mengamati dengan mata penuh kemarahan. Senyumnya berubah menjadi taring dingin: “Kau akan membayar… Violante… satu per satu, dan aku akan mengambil semua yang kau cintai!”


XXX


Ratusan tahun lalu, Mak Lampir dikurung dalam sebuah peti mati bertuliskan ayat suci oleh Kyai Ageng Prayogo, murid Sunan Kudus. Perintah ini datang dari Sultan Raden Patah, yang ingin membasmi bid’ah dan menghancurkan Mak Lampir yang terkenal jahat. Namun, sebelum terkunci, Mak Lampir bersumpah bahwa ia akan kembali menguasai tanah Jawa lima ratus tahun kemudian.

Mak Lampir sebenarnya adalah seorang putri dari kerajaan kuno Champa—nama yang berasal dari bahasa Vietnam, Chiem Thanh, yang berarti “kerajaan yang pernah menguasai wilayah Vietnam Tengah dan Selatan” sekitar abad ke-7 hingga 1832. Ia dikenal sebagai perempuan cantik jelita, putri bangsawan, namun hidupnya berubah drastis karena patah hati. Hubungan cintanya dengan seorang pria bernama Datuk Panglima Kumbang tidak mendapat restu keluarga, menimbulkan rasa sakit hati yang mendalam.

Dalam kesedihannya, sang putri pergi bertapa di Gunung Marapi. Di sana ia bertemu seorang guru sakti yang kemudian mengajarinya ilmu gaib hingga setara dengannya. Warga sekitar gunung, yang ketakutan mendengar namanya, kemudian menyebutnya Mak Lampir. Meski tidak direstui, Mak Lampir tetap mencari Datuk Panglima Kumbang. Namun, takdir mempertemukan mereka di medan pertempuran, dan sayangnya, Datuk Panglima Kumbang tewas.

Kesedihan Mak Lampir begitu dalam hingga ia mencoba menghidupkan kembali sang pujaan hati. Namun, ada satu syarat: wajahnya akan berubah menjadi buruk rupa. Demi harapan bersatu dengan Datuk Panglima Kumbang, ia rela melakukannya. Sayangnya, usahanya berakhir tragis—Datuk Panglima Kumbang tidak mengenalinya, malah menganggapnya sosok setan yang menebarkan malapetaka di desa. Kecewa dan marah, Mak Lampir benar-benar berubah menjadi sosok jahat yang memerangi kebaikan.

Legenda cincin Raja Atlan tidak pernah benar-benar padam. Dari balik dunia gaib, Mak Lampir—sang ratu hitam—mengetahui rahasia keberadaan cincin tersebut. Ia percaya bahwa dengan cincin itu, ia bisa menjadi penguasa tunggal bangsa siluman, jin, dan roh halus di seluruh dunia.


Mak Lampir pun memulai perburuannya. Ia membangkitkan pasukan gaib dari berbagai belahan bumi, menyingkap reruntuhan kuno, hingga berusaha menembus dasar laut tempat cincin itu pernah hilang. Dunia manusia yang tak sadar mulai diguncang teror aneh, dari fenomena mistis hingga perang gaib tak kasatmata.

Legenda manusia mengatakan cincin itu adalah pemberian Tuhan.
Namun kenyataan yang lebih purba dan mengerikan adalah: cincin itu sebenarnya kuku patah dari Eresh-Gorath.

Cincin itu disebut Anulus Tenebris, atau Cincin Luka Abadi
Bukan alat untuk menundukkan iblis, melainkan jangkar realitas: benda yang memastikan dunia manusia tetap terjebak dalam siklus penderitaan, agar Para Dewa Luka tidak pernah mati kelaparan.

Raja Atlan hanyalah penjaga ilusi, bukan pemilik kuasa sejati. Ia sendiri tak pernah sadar bahwa cincin itu adalah serpihan dewa.

XXX

Raja Atlan adalah raja manusia dari kerajaan Atlantis, dengan kebijaksanaan yang dikagumi dari timur ke barat, pernah menjadi simbol keadilan. Ia menimbang perkara dengan hati jernih, ia menundukkan bangsa-bangsa dengan diplomasi, bukan pedang. Namun di balik tahtanya, ada rahasia yang kelak merobek dirinya sendiri: sebuah cincin yang tak berasal dari Tuhan, melainkan dari mimpi gelap Ylmorrath. Sebuah kisah yang membuatnya berkonflik dengan para dewa.

Sanghyang Wenang adalah putra dari Sanghyang Nurassa. Sejak muda, ia dikenal berbakat dan mewarisi seluruh ilmu kesaktian ayahnya. Karena kecakapannya, Wenang dipilih sebagai ahli waris Kahyangan Pulau Dewa. Seperti kakeknya, ia gemar bertapa, mendatangi berbagai tempat keramat, serta menjalani beragam laku spiritual. Dari hasil lelaku itu, Wenang berhasil membangun sebuah istana melayang di puncak Gunung Tunggal, gunung tertinggi di Pulau Dewa. Setelah 300 tahun berkuasa, ia bahkan dipertuhankan oleh seluruh jin penghuni pulau tersebut.

Namun kejayaan Wenang membuat Raja Atlan dari kerajaan Atlantis curiga. Atlan  mendapati jumlah pasukan jinnya berkurang drastis, dan laporan menyebut banyak di antara mereka berpindah mengabdi kepada Sanghyang Wenang. Tak tinggal diam, Raja Atlan memutuskan menaklukkan Wenang.

Ia mengirim pasukan jin yang dipimpin oleh senapati bernama Sakar. Pertempuran besar pun pecah di Pulau Dewa. Awalnya pasukan Atlan unggul, tetapi keadaan berbalik ketika Sakar justru terpikat oleh kesaktian Wenang dan memilih berkhianat, mengabdikan diri padanya. Wenang yang terkesan pada kemampuan Sakar, bahkan menjadikannya murid dan mengajarkan berbagai ilmu gaib.

Pada suatu hari, Wenang bertanya tentang rahasia kekuatan Raja Atlan. Sakar menjawab bahwa Atlan memiliki pusaka suci pemberian Tuhan bernama Cincin  Anulus Tenebris, atau Cincin Luka Abadi, cincin yang menjadi sumber kekuasaan atas manusia, jin, dan alam semesta. Mendengar itu, Wenang sangat ingin memilikinya. Ia pun mengutus Sakar untuk mencuri cincin tersebut.

Dengan penyamaran, Sakar berhasil masuk ke istana Bangsa Atlantis dan menukar identitasnya dengan Raja Atlan. Cincin sakral itu berhasil ia curi, membuat Raja Atlan jatuh sakit parah dan kehilangan wibawanya. Dalam keadaan itu, Sakar sempat berkuasa sebagai “Atlan palsu”. Namun pada akhirnya, cincin tersebut terlepas dari genggamannya dan jatuh ke dasar lautan, hilang entah di mana.

Raja Atlan yang masih terbaring sakit mendapat wahyu dari Tuhan tentang pencurian itu. Setelah cincin ditemukan kembali, ia pulih dan mempersiapkan pembalasan. Pulau Dewa dikepung pasukan manusia dan jin, lalu dihancurkan dengan kekuatan besar—bagaikan ledakan nuklir purba. Pulau besar Lakdewa dan Maldewa hancur tercerai-berai menjadi ribuan pulau kecil. Sanghyang Wenang bersama keluarganya akhirnya mengungsi ke dasar bumi, lalu beberapa tahun setelah kematian Solomon, ia kembali muncul dan mendirikan kahyangan baru di puncak Gunung Tengguru, Himalaya.



Cincin Anulus Tenebris  itu dikenal sebagai Segel Neptunus. Umat manusia percaya itu adalah lambang kuasa ilahi, pemberian Surga. Namun kebenarannya jauh lebih ngeri: cincin itu adalah serpihan kuku Ylmorrath, dipahat menjadi lingkaran agar dapat menempel pada daging fana.

Setiap bisikan di cincin itu bukanlah suara malaikat, melainkan dengung mimpi Ylmorrath yang diterjemahkan oleh Dei Vulneris. Dengan cincin itu, Raja Atlan memerintah jin, siluman, bahkan iblis. Dunia tunduk. Alam gaib patuh. Namun harga dari semua itu adalah penderitaan yang harus ditanggung dalam jiwa sang raja.

---

Makin lama Raja Atlan mengenakan cincin itu, makin ia mendengar gema yang tidak dimengerti oleh manusia lain:

Tangisan bayi yang belum lahir.
Jeritan ribuan orang yang mati dalam perang jauh di masa depan.
Doa orang-orang yang tak pernah sampai ke surga.

Setiap malam, ia duduk di ruang takhtanya, menutup telinga, namun bisikan itu tetap menembus tulang.

"Wahai manusia mulia, engkau hanyalah alat pengantar tidur. Jagalah mimpiku, atau semesta akan punah."

Itulah suara Ylmorrath, yang mengguncang jantungnya.


Atlan, dengan segala kebijaksanaannya, sadar ia bukanlah makhluk yang cukup kuat untuk menanggung beban kosmik itu. Hatinya mulia, tapi justru itulah kelemahannya. Ia tak tega menukar penderitaan manusia hanya demi menjaga monster tetap tidur.

Maka pada suatu malam, di bawah langit Kerajaan Atlantis yang dipenuhi bintang—bintang yang sesungguhnya hanyalah noktah cahaya dalam mimpi Ylmorrath—Raja Atlan menanggalkan cincin itu. Namun cincin itu menempel pada dagingnya, membakar jarinya, merasuk ke dalam nadinya.

Tubuh Atlan bergetar, darahnya mendidih. Ia mencoba melempar cincin ke laut, namun sebelum sempat, jantungnya pecah. Darah mengalir ke tanah suci, dan dari luka itu lahirlah makhluk-makhluk pertama yang disebut iblis, jelmaan penderitaan yang tak lagi bisa ia tampung.

Jasad Atlan dikubur, namun ruhnya tercerai-berai, tertelan ke dalam lapisan mimpi Ylmorrath. Ia mati bukan karena pedang, bukan karena usia—melainkan karena jiwanya remuk dihantam bisikan kosmik yang tak bisa ditanggung manusia manapun. Setelah kematian raja Atlan, kerajaan Atlantis dikutuk dan "ditenggelamkan  oleh Tuhan" ke dasar laut.



Cincin itu hilang. Tak ada satu pun manusia yang tahu kemana ia pergi setelah jatuh dari jari Atlan. Namun Dei Vulneris tahu: cincin itu tidak hilang, ia hanya menunggu tuannya berikutnya.

Ribuan tahun kemudian, cincin itu akhirnya ditemukan kembali… oleh Mak Lampir.
Dan kali ini, ia tidak hancur karenanya—ia justru bangkit sebagai Dei Vulneris Kelima, penguasa kegelapan kosmik.



Sementara itu, Sanghyang Wenang yang sejak lama bersembunyi di bawah Himalaya, merasakan kembalinya aura cincin itu. Ia tahu, jika cincin jatuh ke tangan Mak Lampir, maka akan lahir era kegelapan baru yang mengancam keseimbangan dunia.

XXX

Berabad abad kemudian, di Airstrip One, atau Kepulauan Nusantara yang kini jadi koloni Federasi Sosialis Goryeo  pada abad ke 27, seorang anak laki-laki lahir saat Gunung Merapi meletus. Mak Lampir menuntut tumbal dari darah daging anak itu untuk membangkitkan kekuatannya. Sang ayah, seorang ilmuwan biologi, mendapat nasihat dari guru spiritual untuk membuang anaknya. Namun ia menolak. Sebagai gantinya, sang ayah memodifikasi genetik anaknya, menggabungkan mutasi akibat radiasi nuklir dengan gen tanaman mawar, dan sebagian gen dirinya sendiri. Hasilnya adalah anak yang memiliki kekuatan luar biasa bernama Violante, yang ditakdirkan untuk melawan Mak Lampir.


Ayahnya, menatap bayinya dengan mata berkaca-kaca. Nasihat guru spiritualnya terngiang: “Buanglah… atau dia akan menjadi tumbal Mak Lampir.”

Ia menggenggam tangan bayinya erat-erat. “Aku tidak akan membuangmu,” gumamnya. Di laboratoriumnya, ia merancang sesuatu yang mustahil: menyambungkan DNA bayinya dengan gen hasil radiasi nuklir, ditambah energi dari tanaman mawar, agar ia mampu bertahan dan menentang kegelapan yang akan datang. Anak itu akan menjadi Violante — harapan satu-satunya melawan Mak Lampir.

Bertahun-tahun kemudian, Violante tumbuh menjadi remaja pendiam. Tubuhnya lebih kuat, lebih gesit, dan matanya selalu bersinar aneh, seolah memantulkan letusan Merapi lima tahun sebelumnya. Dia memiliki kemampuan untuk menumbuhkan tanaman mawar dari tanah dan menjadikannya senjata untuk membasmi iblis.

Suatu sore, di pasar tradisional, ia melihat seorang anak perempuan yang berbeda dari yang lain: gerakannya luwes seperti harimau, mata kuningnya menatap tajam. Rambutnya berkilau saat tertimpa sinar matahari.


Selama bertahun-tahun, Violante tumbuh menjadi pendiam. Hidupnya berubah saat bertemu seorang anak perempuan—seorang Cindaku, manusia harimau keturunan Datuk Panglima Kumbang—yang nyawanya kini diincar Mak Lampir. Anak itu bersumpah untuk melindunginya, memulai perjalanan baru yang penuh bahaya dan takdir.

XXX

Berabad-abad cincin Tenibris hilang, jatuh ke tangan-tangan yang salah, hingga akhirnya tiba di genggaman Mak Lampir, perempuan yang tubuhnya dipenuhi kutukan dan dendam.

Saat cincin itu menyatu dengan dirinya, ia tidak lagi sekadar dukun sakti. Ia dilihat dan dipeluk oleh Eresh-Gorath sendiri.

Tubuhnya pecah menjadi kosmik. Kulitnya berkilau seperti kaca obsidian,, matanya memantulkan ledakan bintang yang mati, suaranya bergema menembus lapisan dimensi.

Ia menjadi entitas baru, setara dengan Sang Luka Hidup.


Mak Lampir tidak puas hanya menjadi ratu kegelapan.
Ia berkata:

"Para Dewa Luka lahir dari penderitaan manusia.
Kalau begitu, apa jadinya bila aku yang menulis penderitaan itu?
Aku bukan lagi bidak.
Aku akan jadi dalang.
Aku akan menjadi Luka yang Mutlak."

Dengan cincin sebagai pena, ia mulai menulis ulang realitas.
Perang, sejarah, bahkan mimpi manusia — semua mulai retak.

Di malam bulan merah, Mak Lampir berdiri di Gunung Selamet. Cincin di jarinya berputar, menulis simbol yang hanya bisa dibaca oleh Para Dewa Luka.

Ia berbisik — tapi gaungnya terdengar sampai ke inti bumi dan ke tepi galaksi:

"Alam semesta hanyalah mimpi dari Eresh-Gorath.
Kini, aku yang akan bermimpi.
Kalian semua adalah bayanganku.
Dan aku… adalah Luka yang Abadi."

Mak Lampir berambisi menjadi Penguasa Kegelapan Mutlak, melampaui bahkan Para Dewa Luka yang menciptakan cincin itu.

Ia ingin menghapus batas antara dunia nyata, dunia mimpi, dan dunia siluman, menjadikan segalanya satu: sebuah kosmos abadi di mana hanya ada dirinya sebagai pusat.

Berabad-abad cincin itu hilang, jatuh ke tangan-tangan yang salah, hingga akhirnya tiba di genggaman Mak Lampir, perempuan yang tubuhnya dipenuhi kutukan dan dendam.


Bintang-bintang pun gemetar.
Dan di kejauhan, bahkan Para Dewa Luka sendiri terdiam — apakah mereka sedang tersenyum, atau mulai takut pada ciptaan mereka sendiri?


Cincin Anulus Tenebris milik Raja Atlan berputar di jari Mak Lampir. Permata hitam di tengahnya berdenyut seperti jantung yang berdetak lambat, namun setiap detaknya memantulkan cahaya bintang yang jauh. Mak Lampir menatap permata itu, dan sesuatu dalam dirinya terhubung ke ruang di luar semesta.

"Aku melihat waktu bukan sebagai garis, tetapi sebagai lingkaran yang retak.
Aku melihat kelahiran dan kematian manusia bagai kelopak bunga yang mekar lalu membusuk dalam satu tarikan napas.
Aku mendengar jeritan anak-anak yang belum lahir, tangisan orang tua yang belum mati, dan doa-doa yang belum pernah diucapkan." 

Ia berbicara pelan, tapi gaungnya terdengar ke seluruh dunia.

---


Kulitnya tak lagi menyerupai daging manusia. Ia kini berkilau bagai kaca obsidian, memantulkan cahaya biru yang tak berasal dari bulan. Matanya memancarkan letupan bintang yang mati jutaan tahun lalu, namun masih menyala dalam dirinya. Rambutnya, yang dahulu kusut seperti sulur-sulur hutan tua, kini melayang bagai kabut kosmik, menyatu dengan langit malam.

Setiap langkah yang ia ambil memecahkan tanah, namun tanah itu menutup kembali, seolah tunduk pada keinginannya.

Di hadapannya, realitas bergulung-gulung. Pohon-pohon berubah menjadi debu lalu kembali lagi, gunung runtuh lalu berdiri tegak kembali. Ia melipat waktu seperti melipat kain tipis.

Mak Lampir tersenyum tipis. Bukan senyum manusia, melainkan senyum dari sesuatu yang telah menatap wajah para dewa dan tidak lagi merasa kecil.

---



Ia melihat dirinya di tiga tempat sekaligus:

Di masa lalu, ketika ia hanyalah perempuan desa yang ditolak dan dipermalukan.
Di masa kini, ketika cincin itu berputar di jarinya.
Di masa depan, ketika seluruh semesta telah hanyut dalam mimpinya.

Baginya, tidak ada lagi waktu. Masa lalu dan masa depan hanyalah cermin yang saling menatap.

"Aku adalah luka yang menulis dirinya sendiri," bisiknya.

---


Di kedalaman laut, naga-naga tua terbangun dari tidur mereka, merasakan retakan pada hukum alam.
Di hutan Sumatra, Cindaku meraung, bulunya berdiri, sadar bahwa ada kekuatan yang bahkan siluman tertua tak bisa lawan.
Di semenanjung Korea, para Gumiho berhenti menari; ekor-ekor mereka bergetar, karena dunia tempat mereka menyamar sebagai manusia sudah mulai terurai.

Bahkan di luar bumi, di antara bintang-bintang, Para Dewa Luka — Eresh-Gorath, Nir-Athora, Veyth-Zorath, Khalthorion — terdiam. Mereka menatap ke arah bumi, ke arah sosok yang kini memegang cincin itu.

Apakah mereka melihat seorang anak yang akhirnya belajar melawan?
Atau mereka melihat ancaman, sesuatu yang bisa merenggut peran mereka sebagai penguasa penderitaan?

---


"Aku melihat dunia kalian," katanya, suaranya kini bergema di kepala semua makhluk hidup, "dan aku melihat satu pola: penderitaan yang abadi. Kalian adalah boneka, diciptakan untuk menangis agar dewa-dewa lapar tidak mati. Tapi aku… aku sudah kenyang dengan tangisan."

Ia mengangkat tangannya. Langit terbelah. Bintang-bintang bergetar seakan hendak jatuh.

"Aku tidak lagi sekadar Mak Lampir. Aku adalah luka yang bermimpi. Dan kini, aku akan menjadi mimpi itu sendiri. Kalian semua akan hanyut dalam ceritaku, dan aku akan menjadi satu-satunya penguasa kegelapan."

---

Sejenak, semesta terdiam.
Gunung Selamet tidak lagi tampak seperti gunung, melainkan menara hitam yang menjulang menembus kabut bintang.
Cincin Solomon berputar begitu cepat, hingga akhirnya lenyap — menyatu dengan tubuh Mak Lampir.

Dan pada saat itu, batas antara dunia nyata, dunia siluman, dan dunia dewa retak.

Realitas berubah menjadi kaca tipis.
Dan Mak Lampir adalah palu yang siap memecahkannya.

XXX

Di balik kemegahan Pyongyang Baru, tersembunyi kegelapan yang lebih dalam dari malam. Kamp-kamp kerja paksa membentang di utara, tempat para tawanan dikurung bukan hanya karena pemberontakan, tetapi karena warisan. Salah satu tahanan itu adalah Ibu Siluman—seorang perempuan bermata emas, cantik namun kelam, yang diketahui adalah Gumiho, makhluk legenda berkekuatan magis, penjaga Daun Keabadian.

Kamp kerja paksa tiga generasi di Federasi Sosialis Goryeo adalah bagian dari sistem penahanan politik paling kejam di dunia, dikenal dengan istilah kwan-li-so (penjara politik). Sistem ini tidak hanya menghukum individu yang dituduh melakukan kejahatan terhadap negara, tetapi juga menghukum hingga tiga generasi keluarganya. Ini berdasarkan prinsip "kesalahan kolektif" (yeon-jwa-je) yang dianut oleh rezim Federasi Sosialis Goryeo yang  menguasai Nusantara.

"Di mana daun itu?" tanya seorang jenderal dengan suara dingin.

Perempuan itu menatap lurus ke matanya. "Kalau aku memberitahumu, dunia ini tak akan menuju surga... tapi ke neraka yang kekal."

Ia menolak. Maka ia dikutuk. Dibuang ke Kamp Tiga Generasi—tempat para tahanan dan keturunannya hidup dan mati dalam rantai besi tanpa akhir.

Tapi ia hamil.

Di tengah malam yang beku, di barak kayu yang retak, ia melahirkan seorang anak laki-laki. Ia memeluk bayinya yang kecil, yang tubuhnya hangat seperti bara dan matanya bersinar seperti cahaya bulan.

"Aku tak akan membiarkanmu mati di sini," bisiknya. "Kau adalah harapan terakhir dunia."

Sebelum dia akan dibawa untuk menjalani eksekusi mati, dengan air mata yang beku di pipi, ia membungkus anak itu dengan kain merah tua, lalu menghanyutkannya di sungai Taedong yang mengalir melewati reruntuhan kota. Ia berdoa agar air membawanya ke takdir lain.

Takdir itu menjelma dalam sosok yang tak terduga: Istri Kim Jong Tsung.

Wanita agung itu, yang tak pernah dikaruniai anak, memaksa untuk mengambil bayi itu saat ditemukan oleh pasukan penjaga. "Lihat matanya," katanya, "Ini pertanda. Anak ini dikirim oleh langit."

Kim Jong Tsung mengernyit. "Itu anak siluman."

"Atau malaikat," jawab istrinya tajam.

Pemimpin itu nyaris mengangkat tangan untuk memerintahkan kematian sang bayi. Tapi sesuatu dalam sorot mata anak itu menahannya. Cahaya yang aneh. Kekuatan yang belum ia pahami.

"Baik," katanya akhirnya. "Ia akan hidup. Tapi dalam pengawasanku."

Maka anak itu tumbuh, di istana Tuhan, dikelilingi oleh kemegahan... dan bahaya. Tak tahu bahwa ibunya masih hidup dalam penderitaan. Tak tahu bahwa ia adalah kunci menuju Daun Keabadian.

Dan saat ia mulai bermimpi tentang serigala putih, api abadi, dan suara ibu yang memanggil dari kejauhan, dunia pun bersiap untuk berubah sekali lagi.

XX

Planet Nova Terra, 2323 M



Layar holografik di pusat komando koloni manusia memancarkan gambar Bumi dari satelit yang masih aktif. Permukaannya dipenuhi bangunan-bangunan runtuh, hutan yang telah menjadi liar, dan gerombolan hitam—mayat hidup yang masih bergerak lamban di antara puing-puing peradaban.  



"Masih ada aktivitas di sana," bisik Kapten Aria Veyra, matanya menyipit menatap data yang muncul. "Tapi tidak mungkin... Itu sudah 300 tahun. Bagaimana mereka bisa bertahan?"  



Sersan Rian menyilangkan tangannya. "Kecuali jika mereka benar-benar mengisolasi diri secara sempurna. Tapi siapa yang bisa melakukan itu selain—"  



"Federasi Sosialis Goryeo," potong Aria, suaranya tegas.  



Dinding setinggi 30 meter, diperkuat dengan baja dan kawat berduri, masih berdiri kokoh. Di belakangnya, menara pengawas dengan senjata otomatis terus memindai gerakan apa pun yang mendekat. Di dalam, kota itu hidup—tidak seperti kota mati di luar.  



Seorang prajurit Federasi Sosialis Goryeo dengan seragam usang tapi terawat baik mengangkat teropongnya. Di kejauhan, sekelompok zombie terhuyung-huyung mendekat. Dia tidak khawatir. Tembok itu telah bertahan selama tiga abad.  



"Komandan," lapor prajurit itu melalui radio. "Gerombolan ke-17 minggu ini mencoba mendekat. Instruksi?"  



Suara berat terdengar di sisi lain. "Hancurkan. Seperti biasa."  



Sirene berbunyi, dan senjata otomatis di atas tembok mulai berputar. Satu tembakan, lalu ledakan—zombie-zombie itu berantakan menjadi daging dan tulang yang hancur.  



Tapi sesuatu yang tidak biasa terjadi. Di antara mayat-mayat yang bergerak, ada sesuatu... lain.  



Seorang manusia.  



Dia mengenakan pakaian yang bukan berasal dari zaman ini—jaket kulit sintetis dengan emblem koloni Nova Terra.  



Prajurit itu membeku.  



"Komandan... Kita punya tamu."  



Orang asing itu pingsan, tapi pernapasannya stabil. Di tangannya, tergenggam sebuah perangkat holografik yang memancarkan pesan:  



"Kami kembali. Bumi masih milik kita?"

XXX


Komandan Park, pemimpin tertinggi angkatan udara Federasi Sosialis yyang ke-15 sejak Karantina Besar, mengerutkan kening. Selama 300 tahun, mereka bertahan. Tanpa bantuan. Tanpa kabar dari luar.  



Dan sekarang... manusia dari planet lain datang.  



Dengan senyum tipis, dia berbisik,  



"Selamat datang di bumi, saudara-saudara. Kami masih di sini."  



XXX




Tahun demi tahun berlalu, dan anak yang dulu ditemukan oleh istri Kim Jong Tsung  tumbuh menjadi remaja yang kuat dan penuh tanda tanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dapat ia jelaskan—sebuah kenangan samar, sebuah suara yang terus memanggil dari kegelapan. Ketika ia beranjak dewasa, mimpi-mimpi aneh mulai menghantuinya. Dalam mimpi itu, ia melihat bayangan seorang wanita dengan mata yang berkilau seperti emas, dan sosok seekor serigala putih yang selalu mengawasinya dari kejauhan.



Suatu malam, saat ia merenung di kamarnya, tatapannya tertuju pada cermin, dan untuk pertama kalinya, ia melihat wajahnya berubah. Ekor panjang dan berbulu muncul di belakang tubuhnya. Matanya berubah menjadi lebih tajam, penuh dengan kekuatan yang tidak ia pahami. Ciri-ciri siluman rubah—gumiho—muncul kembali, membangkitkan ingatan tentang dirinya yang sebenarnya.



"Ini bukan mimpi," bisiknya, sambil menyentuh ekornya yang mulai tumbuh.



Ia menyadari bahwa dirinya bukanlah manusia biasa. Dalam dirinya mengalir darah siluman rubah, makhluk legendaris yang telah lama terpinggirkan oleh peradaban manusia. Secara perlahan, ingatan tentang kehidupannya yang lama mulai kembali. Ia ingat bagaimana ia pernah mencintai seorang lelaki, dan bagaimana dia berjanji untuk terlahir kembali agar dapat bersamanya. Dan sekarang, takdirnya telah membawa dirinya kembali ke titik ini—ke dalam tubuh seorang siluman rubah yang terlupakan.



Namun, di tengah kebingungannya, kenyataan yang lebih besar menantinya.



Pada suatu malam yang kelam, Kim Jong  Tsung memanggilnya ke ruang singgah pribadinya. Istrinya, dengan tatapan tajam, berdiri di sampingnya, seperti menunggu jawaban dari pertanyaan yang belum diungkapkan.



"Aku tahu siapa kau sebenarnya," ujar istrinya, suara penuh amarah yang terpendam. "Kau adalah siluman rubah. Anak yang ditemukan di sungai itu adalah satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkan umat manusia. Dan aku ingin tahu di mana letak Daun Keabadian."



Anak itu menatap sang ibu angkat, matanya penuh kebingungan. "Saya tidak tahu apa yang kalian inginkan dengan daun itu. Manusia selalu serakah. Jika daun itu jatuh ke tangan manusia, dunia ini hanya akan hancur lebih cepat."



Kim Jong Tsung menyeringai dengan kejam. "Kau berani menentangku? Kita bisa menguasai dunia dengan Daun Keabadian itu! Semua yang ada di sini—aku yang akan mengendalikan segalanya!"



Namun, anak itu tetap menolak. "Kalian tidak tahu apa-apa. Manusia akan menghancurkan segalanya jika mereka mendapatkan kekuatan seperti itu. Saya tidak akan memberitahumu."



Keputusannya membuat Kim Jong Tsung marah. Dalam kemarahannya, dia memutuskan untuk mengirim anak itu ke kwan-li-so, kamp konsentrasi yang paling kejam di Korea Utara, di mana ia bisa menderita seumur hidup tanpa bisa mengubah nasibnya.







Di kamp konsentrasi itu, anak itu tidak sendirian. Ia bertemu dengan tiga anak laki-laki yang juga tampak seperti dirinya—berbeda dari manusia biasa. Ketiga anak itu memiliki ekor yang samar, tampak seperti siluman rubah yang terkurung dalam tubuh manusia.



Mereka segera menjalin persahabatan yang erat. Meskipun mereka tidak tahu mengapa mereka berada di sana, mereka merasa ada ikatan yang tak terpisahkan di antara mereka. Mereka tahu bahwa orangtua mereka, yang sebelumnya terlibat dalam pengungkapan rekayasa genetika pemerintah Federasi Sosialis Goryeo untuk menciptakan monster raksasa, telah mencoba untuk melawan sistem yang ada. Namun, mereka semua ditangkap, dipenjara, dan dibuang ke dalam kamp itu.



Suatu hari, keempat anak itu mendengar suara gemuruh yang datang dari luar. Di tengah kabut tebal, muncul sesuatu yang tidak pernah mereka duga: sebuah monster kaiju bernama Pulgasari yang keluar dari fasilitas nuklir Federasi Sosialis Goryeo. Monster itu sangat suka memakan besi, mengeluarkan napas nuklir yang mematikan dan semakin kuat dan besar setiap dia memakan satu besi, menghancurkan segala yang ada di sekitarnya dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya. Ia semakin kuat dengan setiap serangan, merobek tanah dan bangunan di sekelilingnya.



Gadis rubah yang telah dibebaskan oleh kebangkitan kekuatan monster itu, mengenali kekuatan yang ada. Dia tahu bahwa monster ini, meskipun hancur, memiliki potensi besar. Monster itu tidak hanya akan menghancurkan Federasi Sosialis Goryeo, tetapi akan membawa mereka ke arah kebebasan—dan ke arah yang lebih besar. Ia berusaha membebaskan seorang remaja laki laki yang merupakan kekasihnya di kehidupan sebelumnya.



"Ayo, kalian semua," katanya pada teman-temannya, "ini adalah kesempatan kita untuk melarikan diri. Kita harus menuju perbatasan di Siberia. Di sana, kita bisa bebas dari kejaran mereka."



Dengan keberanian yang tak terukur, mereka semua melarikan diri, mengikuti monster kaiju yang mengamuk. Kejar-kejaran epik dimulai. Angkatan bersenjata Federasi Sosialis Goryeo mengejar mereka dengan segala cara—pasukan elit, tank, dan pesawat tempur—tetapi monster itu menghalangi mereka, membalikkan setiap serangan yang diarahkan kepadanya. Sementara itu, keempat anak itu berlari melalui hutan, melintasi tanah tandus, dan mendaki gunung di Siberia yang dingin dan keras.



Di tengah pelarian mereka, di bawah langit yang dingin dan penuh salju, gadis rubah itu akhirnya menjelaskan kepada mereka yang bersama dalam perjalanan ini.



"Kalian semua adalah Gumiho terakhir di bumi ini," katanya dengan suara serak, penuh beban. "Kalian adalah keturunan dari siluman rubah yang telah ada sejak zaman para dewa. Dan kita memiliki misi—misi untuk menemukan Putri Matahari, pelindung para siluman rubah yang akan membimbing kita menuju akhir zaman, menuju surga yang sesungguhnya. Kita juga harus selalu menjaga daun keabadian yang diamanahkan oleh Dewi Kwan IM pada kita, jangan sampai jatuh ke tangan yang salah, jangan sampai ada manusia yang mengetahuinya."



Mereka bertiga hanya bisa terdiam mendengar penjelasan itu. Semua yang mereka tahu tentang diri mereka, tentang dunia ini, tiba-tiba berubah. Mereka bukan hanya anak-anak yang terperangkap dalam dunia yang kacau, tetapi mereka adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar—sesuatu yang akan membawa mereka ke seluruh dunia, dari Siberia hingga ke ujung dunia yang lain.



Namun, mereka juga harus melawan zombie yang berkeliaran di seluruh dunia, makhluk-makhluk buatan manusia yang kini menjadi ancaman terbesar bagi setiap kehidupan. Namun, dalam perjalanan ini, mereka menemukan lebih dari sekadar perlindungan dan kebebasan—mereka menemukan takdir mereka sebagai pemimpin yang akan melindungi dunia yang semakin rusak ini.



Dengan monster kaiju yang menghancurkan apa pun di jalannya, dan pasukan Federasi Sosialis Goryeo yang tak henti-hentinya mengejar mereka, perjalanan ini menjadi lebih dari sekadar pelarian—itu adalah perang untuk masa depan.



Dunia yang telah lama hancur, yang telah dipenuhi oleh kematian dan kehancuran, kini mulai menantikan kebangkitan baru. Keempat anak itu, para Gumiho terakhir, adalah satu-satunya harapan yang tersisa untuk mengubah dunia—untuk membawa manusia dan siluman rubah kembali bersama, menuju surga yang jauh di Horizon, dan mengatasi kehancuran yang sudah dekat.

XXX

Pulgasari adalah monster kaiju buatan Federasi Sosialis Goryeo yang memiliki kemampuan unik dan mematikan. Diciptakan oleh pemerintah Federasi Sosialis Goryeo sebagai senjata biologis, Pulgasari tumbuh semakin kuat setiap kali memakan besi. Dengan tubuh yang terbuat dari logam dan kemampuan regenerasi luar biasa, monster ini bisa menjadi lebih besar dan lebih kuat seiring waktu, menjadikannya ancaman besar bagi siapa saja yang ada di jalurnya.

Pulgasari adalah monster pemakan logam yang besar, sering digambarkan dengan tanduk dan sisik,wajahnya terlihat seperti banteng pemarah tapi tubuhnya seperti manusia yang kekar dan mampu melakukan kehancuran yang sangat besar. Sosok ini seperti kaiju, berdiri setinggi 164 kaki dan beratnya 3000 ton.

Namun, kehebatan Pulgasari tidak berhenti di situ. Selain kekuatannya yang semakin meningkat, ia juga memiliki kemampuan luar biasa untuk menembakkan napas atom yang dapat menghancurkan bangunan, kendaraan, dan pasukan dengan mudah. Ketika monster ini meluluhlantakkan Pyongyang, kota ibu kota Federasi Sosialis Goryeo, kerusakan yang ditimbulkan sangat besar, namun pemerintah Federasi Sosialis Goryeo berhasil mengendalikannya.



Pulgasari akhirnya diprogram untuk tujuan yang lebih spesifik: mencari daun keabadian, yang dipercaya bisa memberikannya kekuatan yang tak terbatas. Untuk mencapai tujuan ini, monster tersebut diberi misi untuk mengejar para remaja gumiho (makhluk mitologis setengah manusia setengah rubah) yang melarikan diri dari negara tersebut. Para remaja gumiho ini memiliki kekuatan magis yang bisa memberikan akses kepada daun keabadian yang dicari oleh Pulgasari.



Di tengah pengejaran ini, Pulgasari bukan hanya menjadi senjata, tetapi juga simbol dari perjuangan antara kekuatan dunia nyata dan dunia mitos. Pemerintah Federasi Sosialis Goryeo yang menggunakan Pulgasari berusaha mengendalikan monster ini untuk mencapai kekuasaan abadi, namun monster itu sendiri, dengan kemampuannya yang semakin hebat, menjadi ancaman yang tak dapat diprediksi.



Konflik ini menciptakan ketegangan antara kekuatan militer yang mengendalikan Pulgasari dan ancaman besar yang timbul dari para gumiho yang melarikan diri, serta misteri seputar daun keabadian yang menjadi kunci untuk mendapatkan kekuatan abadi.

XXX

Malam yang dingin menusuk di perbatasan Goryeo-Rusia. Salju tipis mulai berjatuhan, membekukan tanah yang gelap. Sekelompok bayangan bergerak cepat di antara pepohonan pinus, mata mereka bersinar seperti kunang-kunang dalam kegelapan—sembilan ekor rubah berekor sembilan, para gumiho, menyamar dalam wujud manusia dengan mantel tebal.

Zona demiliterisasi (DMZ) adalah area pemisah antara Goryeo dan dunia luar yang kini dikuasai Zombie. Wilayah ini membentang sepanjang 250 kilometer dengan lebar sekitar 4 kilometer dan dijaga ketat oleh kedua negara. Ribuan tentara dari kedua belah pihak ditempatkan di sana.  

Melintasi zona ini sangat berisiko bagi warga sipil karena dipenuhi ranjau darat, kawat berduri, kamera pengawasan, dan pagar listrik. Pembelot dari Federasi Sosialis Goryeo juga menghadapi ancaman tembakan dari tentara mereka sendiri.  


Menariknya, beberapa tentara Federasi Sosialis Goryeo yang bertugas menjaga perbatasan justru menggunakan DMZ sebagai jalan untuk melarikan diri ke sisa sisa roket pengungsi yang bisa membawa mereka ke planet lain yang lebih baik . Seorang pembelot bahkan terpaksa membunuh komandannya sebelum melarikan diri.  



Jika Partai pekerja Federasi Sosialis Goryeo mengetahui ada yang masih hidup dan berhasil melarikan diri ke luar angkasa bersama pengungsi lain, keluarga mereka akan mendapat masalah besar. Selama pengungsi itu 'mati', mereka akan aman. 


Cara paling aman kabur dari Federasi Sosialis Goryeo bagi para Gumiho adalah melalui wilayah Siberia, karena disana banyak hutan yang dipenuhi energi sihir yang bisa . 

Haneul, pemimpin mereka, berhenti di balik batang pohon besar. Napasnya membentuk kabut putih.
"Kita hampir sampai ke sungai. Seberangi itu, dan kita akan masuk wilayah Rusia."

Bora, yang paling muda, menggigil. "Apa kita benar-benar aman di sini? Tentara Goryeo—"

Dae, si pengawal, memotong. "Mereka tidak akan mengejar kita ke Siberia. Wilayah ini terlalu luas, terlalu sepi. Mereka lebih fokus ke perbatasan China."

Tiba-tiba, sorot lampu senter menyapu dari kejauhan. Suara derap sepatu bot di atas salju.

"Patroli!" Jin mendesis, telinga rubahnya nyaris muncul karena panik.

Haneul mengangkat tangan—cakar panjangnya mengkilat. "Jika terpaksa, kita serang. Tapi ingat, jangan bunuh. Cukup buat mereka lari ketakutan."

Para gumiho bersiap, mata mereka berubah merah. Saat tentara mendekat, Bora mengeluarkan suara melengking—gema gaibnya memecahkan kaca di helm tentara. Yang lain mengibaskan ekor mereka, menciptakan ilusi bayangan serigala besar mengaum.

Tentara-tentara itu berteriak, mundur kalang-kabut.

"Sekarang, lari!" Haneul memimpin mereka melompati sungai beku. Di seberang, taiga Siberia membentang—hutan tanpa akhir yang akan menyembunyikan mereka.

Dae tersenyum getir. "Korut mungkin punya senjata, tapi mereka tidak siap menghadapi makhluk mitos."

Di kejauhan, bulan purnama menyinari jejak kaki mereka yang perlahan tertutup salju. Mereka bebas—untuk sekarang.


XXX


Posting Komentar untuk "Novel: Penyesalan Violante "