© 2026 [Damar Pratama]. Semua Hak Dilindungi.
Novel ini adalah karya asli penulis dan dilindungi oleh hukum hak cipta yang berlaku. Dilarang menyalin, mereproduksi, memodifikasi, mendistribusikan, atau menggunakan sebagian atau seluruh isi novel ini untuk tujuan komersial maupun non-komersial tanpa izin tertulis dari penulis.
Segala pelanggaran hak cipta dapat dikenai tindakan hukum sesuai peraturan yang berlaku. Pembaca diizinkan untuk menikmati karya ini hanya dalam bentuk membaca langsung di blog ini. Jika ingin membagikan atau menggunakan konten ini, silakan menghubungi penulis untuk mendapatkan izin resmi.
Terima kasih telah menghargai karya asli dan hak cipta penulis.
Prolog:
Manusia hanyalah titik yang tak bermakna di alam semesta, sangat kecil dan tak bernilai. Bahkan, jika manusia suatu saat nanti musnah, alam semesta akan tetap kokoh dengan angkuh. Penderitaan manusia tak lebih sekadar jeritan semut di alam semesta yang maha besar dan bisu.
Apa yang bisa dibanggakan dari manusia? Apa gunannya manusia harus ada di alam semesta ini? Mungkin di mata alam semesta manusia hanya titik kecil tak berharga, bahkan dibandingkan debu. Arus waktu juga tak kalah kejam, ribuan atau jutaan tahun lagi tak akan ada yang ingat identitas kita.
Namun, ada kemungkinan besar kita memang istimewa. Ada fakta yang tak bisa dibantah, siapapun kita, semenyedihkan atau tak berharga kita. Kita adalah individu yang hanya ada satu selama miliaran hingga triliunan tahun. Meskipun kehidupan ini tak bermakna, kehidupan tak pernah datang dua kali, tak ada manusia yang pernah terlahir kembali bahkan miliaran tahun kedepan.
Pada mulanya, tiada langit, tiada bumi, hanya Samudra Tak Bertepi yang sunyi, gelap, dan diam. Ombak tak bergerak, arus tak mengalir. Dalam kesunyian itu, lahirlah Suara Pertama, yang memecahkan keheningan seperti petir di dalam lautan purba. Sebelum ada laut, sebelum ada pulau, hanya ada Hening. Hening itu bukan sekadar diam, tetapi sebuah samudra tanpa batas, yang tidak berwarna, tidak berbentuk. Dari hening itulah lahir Senghala, yang tidak berwujud dan tidak bernama, namun dikenal sebagai Nada Pertama. Roh Yang Tak Terlihat, yang menjadi Awal dan Akhir.
Di dalam dirinya berputar tanpa bentuk: cahaya, kegelapan, kesadaran, dan kehendak—semuanya tercampur dalam satu mimpi yang tak bermula.
Pada suatu ketika yang tidak bisa dihitung dengan angka maupun bintang,
Sanghala diam selama puluhan ribu tahun surgawi. Ia tidur, dan dalam tidurnya ia bermimpi tentang wujud. Ia membayangkan langit dan bumi, air dan angin, dan dalam satu gerak lambat yang menggetarkan kehampaan, ia membelah dirinya sendiri. Dari tulang belakangnya, langit pertama terbentuk dan naik menjulang ke segala arah. Dari darahnya, samudra roh mengalir, menyelimuti kehampaan menjadi gelombang. Dari daging dan rambutnya, tumbuh daratan-daratan awal, pulau-pulau yang kelak menjadi inti dunia. Napas terakhirnya menjadi angin yang tak pernah tidur.
Sanghala menatap kehampaan, dan ia berkata,
"Bergelombanglah, hai lautan. Bernyanyilah, hai arus yang belum lahir."
Lautan tak bertepi. Bukan asin, bukan hangat—melainkan air tawar yang bening tak berbatas.
Ia diam. Ia sunyi. Ia tak bernama. Ia segalanya, dan bukan apa-apa.
Lalu muncullah ombak pertama.
Sebuah harmoni yang lahir dari getaran tak disengaja.
Dan dari harmoni itu, Senghala,
yang berarti Yang Tak Terucapkan, Yang Ada Karena Ada,
Dewa pertama dan terakhir.
Ia tidak lahir. Ia tidak dicipta. Ia muncul dari simfoni awal semesta.
Senghala tidak menemukan apa-apa dalam kehampaannya.
Maka Ia menatap ke dalam dirinya, dan dari tatapan itu—tercipta cermin.
Cermin itulah yang menjadi alam semesta:
langit, bintang, planet, angin, dan unsur-unsur jiwa.
Sanghala adalah dewa yang menciptakan daratan Sundalandiawidpa, benua raksasa yang hanya ada satu di bumi Alekawa, dihuni oleh berbagai peradaban dan bangsa manusia. Sundalandia adalah daratan raksasa yang akan dihuni manusia.
Dari daging dan rambutnya, tumbuh daratan-daratan awal, pulau-pulau yang kelak menjadi inti dunia. Napas terakhirnya menjadi angin yang tak pernah tidur.
Dalam diamnya, Sanghala menatap air yang tak terbagi.
Ia melihat potensi. Ia mendengar gema-gema kecil yang belum sempat menjadi suara.
Maka, untuk pertama kalinya, Ia bergerak.
Dari gerakan pertama itu, lahirlah getaran cahaya,
dan dari getaran itu, tercipta ruang bagi waktu,
dan dari ruang itu, terciptalah panggung pertama bagi kehendak.
Namun dunia belum teratur. Langit yang baru lahir belum tetap, bumi bergetar tak berirama, dan samudra menggulung tanpa batas. Maka dari jiwa terakhir Senghala yang belum lenyap, muncul dua cahaya yang berpusing perlahan seperti bintang kembar. Cahaya itu menjelma menjadi dua entitas agung: La Patingana, kaisar langit pembawa hukum dan keseimbangan, dan Senrijawa, permaisuri roh yang melahirkan nyawa dan rasa.
La Patinggana memegang tombak surgawi yang ujungnya mampu menusuk kehendak. Senriwijaya membawa jubah suara yang mampu menenun roh dan menciptakan dunia dari nada. Keduanya turun ke pusaran kekacauan dan, dalam harmoni yang tak terucapkan, mereka menyatukan kekuatan. Senriwijaya menusukkan tombaknya ke pusat kehampaan, dan tetesan dari ujungnya membentuk pulau pertama: Alekawa, tanah yang padat dan penuh cahaya. Senriwijaya kemudian menari di atasnya, dan dari gerakan kakinya lahir 12 pulau suci, 88 sungai roh, dan 108 makhluk penjaga alam yang kelak disebut kami.
Maka dari pusaran suara lahirlah Ombak Pertama, yang menari dan bergulung-gulung, menciptakan Nada Kehidupan. Dari tarian ini, tujuh arus keluar dari samudra purba, masing-masing bercahaya bagaikan bintang yang baru menyala. Mereka adalah adalah dewa dewi yang disebut batara.
La Patingana pemimpin para Batara, ayah La Toge’ Langi’ yang kelak akan menjadi Batara Guru, ayah para manusia, bertugas langsung ke Senghala.
Mengawasi stabilitas kosmos, waktu surgawi, dan hukum tertinggi di ruang sidang yang disebut Istana Takdir Sejati
Hanya bisa diakses saat Gerhana Langit Utuh (Fenomena langit surgawi)
Lahuta Nawa, arus terdalam, penguasa laut yang kelak disebut Tangaroa, raja ikan, paus, dan naga samudra.
Anginua, hembusan badai, sayap tak terlihat, yang membawa hujan dan petir, menyerupai roh penjaga langit.
Apuna Ranu, bara merah dari dasar lautan, yang menyalakan gunung berapi dan meneteskan api kehidupan.
Kayuma, akar pertama, yang kelak menumbuhkan hutan di pulau-pulau yang belum ada.
Rangi, langit muda, dan papa, bumi perawan, yang saling berpelukan erat dalam kegelapan.
Dewi Sri , dewi cantik jelita uang telah dihormati sejak era kuno khususnya sebagai pembawa keberkahan panen padi yang melimpah.
Dewi Sri, kerap digambarkan sebagai seorang perempuan muda yang cantik, bertubuh ramping namun berisi, dengan wajah yang mencerminkan keelokan alami khas perempuan di Nusantara. Ia dianggap sebagai perwujudan ideal dari kecantikan, kewanitaan, dan kesuburan.
Di sisi lain, Dewi Sri juga dipercaya mampu mengendalikan hal-hal negatif seperti kemiskinan, kelaparan, serangan hama, dan bahkan kematian. Karena keterkaitannya dengan padi, ia sering dianggap sebagai ibu kehidupan. Ia juga sering diasosiasikan dengan tanaman padi dan ular sawah.
Sebuah arca perunggu kuno menggambarkan Dewi Sri sebagai dewi yang menguasai dunia bawah tanah dan bulan. Ia memiliki peran penting sebagai Dewi Ibu, pelindung kehidupan dan kelahiran. Selain itu, ia juga dipercaya mampu mengatur ketersediaan bahan pangan, terutama padi yang merupakan makanan pokok masyarakat
Terakhir ada Rangah Dahana, arus hitam, yang iri akan cahaya saudara- saudaranya, dan menyembunyikan amarah di dasar laut. Dan masih banyak lagi.
Ketika alam masih berbicara dengan suara petir dan kehendak para dewa ditulis pada riak air dan guguran bintang, terdapat satu ulubalang agung bernama Ranggah Dahana — putra bintang kembar, pelindung jalur matahari, dan penuntun pahlawan-pahlawan dunia fana. Ia adalah dewa pembakar malam, terang dalam kegelapan, arus hitam yang semula diberkati untuk menjaga keseimbangan.
Namun satu hal menghancurkannya: iri.
Iri pada saudara-saudaranya yang memancarkan cahaya terang di langit. Iri karena ia selalu dikirim turun ke dunia fana, sementara yang lain tinggal megah di langit suci. Ia mulai bertanya:
“Mengapa aku, pengemban cahaya Sanghala, selalu dikirim menyentuh lumpur manusia? Mengapa Sanghala hanya diam ketika dunia terbakar, ketika iblis-iblis seperti Lamakara Lowu menyusup ke hati para raja?”
Ranggah Dahana meragukan tugas sucinya. Ia mulai mengutuk misi yang diberikan. Dan ketika Lamakara Lowu muncul—bukan sebagai musuh, tapi sebagai penghibur jiwa yang merasa ditinggalkanRanggah menyerah.
Ia memilih berbalik arah, melemparkan mahkota ulubalangnya ke dalam jurang waktu,
Sanghala yang memisahkan bumi dan langit sadar jika daratan bumi terlalu luas dan sulit diatur oleh dewa yang terlalu sedikit.
Setelah selesai menciptakan para dewa yang menguasai laut dan daratan selatan benua utama Alekawadwipa, Sanghala memutuskan untuk menciptakan dewa yang akan memerintah wilayah Asia Timur. Kedua ras dewa ini mengurus wilayahnya masing masing tanpa saling menggangu, namun Ulubalang setia pada Batara.
Sebelum langit mengenal tinggi dan bumi tahu kedalaman, hanya ada kekosongan abadi—tanpa arah, tanpa waktu, tanpa suara. Senghala menciptakan mutiara tak bernama yang berdenyut perlahan di tengah keabadian gelap, seperti jantung alam semesta yang belum sadar akan keberadaannya. Mutiara yang akan melahirkan para dewa penguasa bumi utara daratan utama.
Senghala kemudian menyanyikan sebuah nada, Nada Ombak Awal, dan dari suara itu lahirlah Cahaya Air, yang mengalir dan membentuk dunia. Tetapi Senghala tidak mau berjalan sendiri; maka dari suaranya diciptakan para Ulubalang Langit, sembilan penguasa arus, yang masing-masing memegang kuasa atas unsur dunia dan melayani para batara.
Baruna Sagara, yang dari tangannya lahir ombak dan arus besar;
Anila Bayu, yang meniupkan angin dan badai;
Agni Ranu, yang menyalakan api di gunung berapi laut;
Tanuwara, yang mengangkat pulau dari dasar samudra;
Pajeng Taru, yang menanam pohon pertama;
Saka Langi, yang menegakkan langit dan bintang;
Aruna Juru, penjaga matahari;
Luhita Tano, yang menabur benih kehidupan.
Di masa awal, saat kehendak belum dibagi,
saat langit belum dipisah dari air dan suara belum menemukan bentuknya,
Sanghala berdiri dalam kekosongan,
dan dari napasnya, semesta mengembang seperti lingkaran yang tiada ujung.
Sanghala mengangkat tanganNya —
tangan yang tak berbentuk, namun terasa dalam segala yang mungkin —
dan menggenggam sejumput keheningan.
Lalu Ia meniupkannya perlahan.
Nafas itu bukan udara.
Ia adalah api putih dan angin merah yang bersatu dalam satu putaran,
menggulung-gulung di atas air, menciptakan pusaran cahaya yang mengangkat kabut purba ke atas.
Dari pusaran itu, muncul seekor makhluk bersayap raksasa,
dengan paruh dari batu matahari, bulu dari angin murni,
dan tatapan yang menyala seperti matahari pertama yang baru saja menyadari dirinya bersinar.
Ia mengepakkan sayap, dan dari kibasan itu,
tercipta langit pertama.
Bukan langit biru — tapi langit bening, langit yang memantulkan segala kemungkinan.
Makhluk itu melayang di hadapan Sanghala, tak berkata apa-apa,
hingga Sanghala membuka suaranya untuk pertama kali:
“Namamu adalah Garuda.
Engkau adalah yang pertama kulahirkan dari kehendak,
bukan dari tubuh, bukan dari darah, tapi dari tugas.”
Garuda menunduk. Meski tidak tahu apa itu hormat,
ia tahu apa itu pengakuan suci. Ia tahu bahwa dirinya kini membawa arti.
“Engkau akan menjadi pengawal langit pertama,
pemecah kabut, penunjuk arah matahari,
dan penyaksi diamku di zaman-zaman yang akan datang.
Saat para dewa masih belum kulahirkan,
saat gunung dan awan masih belum tahu cara berdiri,
engkaulah yang akan terbang dan mengukir angin.”
Garuda membuka paruhnya, dan dari sana keluar teriakan pertama dalam sejarah semesta.
Bukan raungan. Bukan nyanyian. Tapi suara suci yang membuat air berhenti mengalir sesaat,
seakan seluruh alam sedang menunggu makhluk pertama itu bicara.
Lalu Garuda berkata:
“Aku adalah mataMu yang bergerak.
Maka aku akan terbang di atas segala kehendak.
Jika langit pecah, aku akan menambalnya.
Jika dunia retak, aku akan menjahitnya dengan sayapku.
Jika kehendakMu dilupakan, maka aku akan mengingatkan dengan suaraku.”
Sanghala tersenyum —
senyum yang menghangatkan kabut dan menumbuhkan mimpi pertama semesta.
Garuda mengepakkan sayapnya lebih lebar,
dan dari setiap bulunya terciptalah serat-serat cahaya,
yang kelak menjadi dasar langit, benih arah mata angin,
dan lembaran waktu pertama yang bisa dihitung.
Dari tubuhnya yang bercahaya,
awan-awan awal tercipta,
musim-musim pertama tertulis,
dan suara angin mulai punya ritme.
Di tempat pertama Garuda melintas,
sebaris embun jatuh dari langit tak berbentuk —
dan di situlah kelak, pohon pertama akan tumbuh.
Dari kehendaknya yang pertama lahirlah Garuda, si Sayap Abadi,
lalu La Patingna, sang naga laut yang menggulung ombak dengan napasnya,
dan Wanara, makhluk dari tanah dan akar yang lembut, penafsir sunyi dari bumi yang baru sadar akan dirinya.
Dialah yang paling kuat di antara para ulubalang dan batara, penguasa kekuatan laut yang gelap, penggulung ombak purba. Tetapi hatinya berat oleh ambisi. Ia ingin agar dunia kembali menjadi laut tanpa daratan, agar ia sendiri menjadi arus tunggal yang menelan segalanya.
XXX
Sebelum ada langit dan bumi, sebelum para dewa menamai diri mereka dengan gelar, sudah ada Jurang Purba—sebuah ruang tak berbentuk, gelap, dan cair, tempat segala kehendak yang tak teratur bersemayam. Manusia menyebutnya dengan banyak nama: Jurang Hampa, Samudra Kegelapan, atau Perut Dunia. Namun di antara para resi dan tetua suku, ia dikenal sebagai Lemahkarawulan—yang berarti Tanah Retak di Atas Langit, singkatnya Lamakara.
Dari pusaran itu, lahirlah seekor Komodo raksasa bersayap api, bernama Lamakara Wolu. Ia bukan dewa, bukan iblis, melainkan kehendak chaos murni yang lebih tua daripada kosmos. Kulitnya diselubungi sisik obsidian, matanya menyala seperti bara di dasar kawah, dan setiap langkahnya membuat dunia bergetar, meneteskan racun yang melahirkan ribuan makhluk buas tanpa jiwa.
Para dewa muda yang datang belakangan berusaha menaklukkan Lamakara Wolu, namun mereka tak pernah bisa menghapusnya. Karena Lamakara bukan sekadar makhluk—ia adalah manifestasi ketidakteraturan itu sendiri, luka yang menolak sembuh di tubuh semesta.
Jurang Purba yang ia kuasai ibarat penjara dan singgasana:
Di dalamnya, waktu tidak bergerak; satu detik bisa menjadi seribu tahun.
Bumi dan langit terbalik; gunung mengapung, lautan jatuh seperti hujan yang tak berujung.
Makhluk-makhluk terkutuk lahir dari napasnya, disebut Anak Wolu, makhluk yang hidup hanya untuk memangsa dan menghancurkan.
Konon, siapa pun yang jatuh ke dalam Jurang Purba akan kehilangan jati dirinya. Tubuh mereka akan berubah menjadi rantai-rantai daging, terikat pada kehendak sang Komodo, menjadi bagian dari Chaos yang tak bisa dipisahkan.
Namun ada bisik-bisik dalam naskah kuno: bahwa Lamakara Wolu bukanlah musuh abadi. Ia adalah cermin bagi para dewa dan manusia—mengingatkan bahwa tanpa kekacauan, tak akan lahir keteraturan. Bahwa untuk menumbuhkan dunia, jurang itu harus ada, tetap terbuka di balik tabir semesta.
Dari cakarannya, lahir makhluk-makhluk perusak yang tak memiliki jiwa.
Namun, Lamakara tidak sendiri. Dari tulang dan liurnya, ia melahirkan para Ashura, makhluk kontradiktif yang berwujud setengah manusia, setengah raksasa. Mereka adalah rantai hidup yang mengikat manusia ke dalam Jurang Purba.
Ashura dapat mengikat perjanjian dengan manusia yang kehilangan sesuatu (kenangan, cinta, harga diri).
Sebagai ganti, Ashura memberi kekuatan supranatural—namun menuntut “bayaran” berupa umur, kewarasan, atau jiwa.
Ashura disebut juga “Bayangan Kekacauan”, karena mereka adalah fragmen kehendak Lamakara yang terpisah namun tetap terikat.
Banyak pahlawan, raja, bahkan resi Nusantara kuno yang jatuh ke dalam kontrak Ashura, menjadikan dunia fana sebagai arena perebutan pengaruh Jurang.
---
Di dalam Jurang Purba, hanya ada lima makhluk yang diberi kehendak lebih besar dibanding Ashura. Mereka disebut tangan kanan Lamakara Wolu, yang mengatur arus kutukan dunia.
1. Brahmaditya – Sang Api Hitam
Berwujud manusia berapi dengan wajah tiga muka.
Mengatur hasrat dan nafsu manusia, membuat kerajaan besar hancur karena ambisi.
2. Ratna Kacandra – Perempuan Bertaring Bulan
Sosok ratu berwajah cantik, namun memiliki mulut ketiga di perutnya.
Menebar ilusi, menggiring manusia dalam mimpi kekal.
3. Gugur Sambu – Penggembala Tulang
Lelaki kurus membawa seruling dari tulang rusuk raksasa.
Tiap tiupan seruling memanggil ribuan roh lapar.
4. Matahunja – Sang Mata Seribu
Tubuhnya penuh mata yang terus terbuka, melihat masa lalu dan masa depan.
Penyimpan rahasia manusia yang dikorbankan.
5. Bayu Lelana – Angin Tanpa Tubuh
Tak terlihat, hanya suara.
Membisikkan kekacauan ke telinga para raja dan resi, sehingga dunia selalu berada di ambang perang.
Mereka adalah penyambung lidah Lamakara Wolu; di bumi, mereka hadir melalui bencana, peperangan, dan kutukan.
---
Di balik mereka, ada sosok-sosok yang lebih tinggi, entitas yang lahir langsung dari denyut hati Lamakara Wolu. Mereka disebut Panca Bayang
1. Sang Naya – Wajah Terbalik
Melambangkan penyangkalan, kebohongan, dan pengkhianatan.
2. Indrakara – Raksasa Bermulut Seribu
Melambangkan kerakusan dan kelaparan abadi.
3. Tumbalasa – Putri Bertangan Delapan
Melambangkan pengorbanan, penderitaan, dan keindahan yang busuk.
4. Surya Kelam – Matahari Hitam
Melambangkan kematian, waktu, dan takdir yang tak bisa ditolak.
5. Jagat Wolu – Bayangan Komodo Raksasa
Representasi langsung dari kehendak Lamakara Wolu sendiri.
Para Panca Bayang tidak turun ke dunia fana secara utuh—mereka hanya berbisik lewat mimpi, perjanjian darah, atau bencana besar. Namun, mereka adalah pengendali seluruh Ashura.
Ashura makhluk Jurang yang mengikat kontrak dengan manusia, memberi kekuatan tapi menuntut bayaran.
Ruh Kala = perantara kekacauan → lebih kuat dari Ashura, mengatur aspek-aspek bencana.
Tangan Gaib Lazuardi = entitas kosmik → puncak kekacauan, representasi langsung kehendak Lamakara Wolu.
XXX
Kabut tak biasa menggantung di kanopi hutan Khamyaka, menghitam perlahan seperti jelaga yang enggan menguap. Burung-burung kecil tak lagi berkicau. Air sungai mengalir lebih lambat dari biasanya.
Di atas dahan raksasa pohon Ratasala, bangunan dari akar, lumut, dan batu cendana berdiri: Istana Langit Bawah, tempat tinggal para pemimpin Kerajaan Wanara — bangsa monyet cerdas yang hidup tersembunyi dalam hutan suci sejak zaman kuno.
Dalam balairung yang digantung dengan jaring akar dan daun abadi, Sri Maharaja Vanikala duduk di atas takhta dari batu menyan, didampingi oleh penasihat-penasihatnya: Pendekar Bulumatang, Dukun Tua Sawarna, dan Pawang Perang Inurung.
Angin utara bertiup pelan, membawa bau amis yang tidak seharusnya sampai sejauh ini. Bau sisik dan daging busuk.
“Itu dia,” gumam Sawarna. “Lamakara Wolu telah bangkit. Sang komodo kegelapan... kembali menyeret lidahnya ke perbatasan dunia.”
Maharaja Vanikala menggenggam tongkatnya yang dibuat dari tulang keramat Nenek Moyang Langit. Matanya menyipit, penuh gelisah.
“Kupikir dia telah dikurung oleh para Dewa Timur setelah Pertarungan Matahari Kedua. Apakah segelnya telah pecah?”
Pendekar Bulumatang menjawab sambil menyilangkan ekornya:
“Tidak pecah. Tapi telah diganggu oleh anak api yang melawan tatanan — Susaroku. Dia membuka celah. Tak disadari, dia jadi jembatan bagi kegelapan lama.”
Seluruh balairung terdiam. Bahkan daun-daun pun seperti tak berani bergerak.
“Dewa muda yang terlalu gelisah,” ujar Inurung dengan suara geram. “Dunia ini sudah cukup goyah tanpa kebodohan semacam itu.”
Dari luar, seekor burung tulis bersayap tiga datang membawa gulungan kulit kayu. Pesan dari Perbatasan Renggala, tempat mata-mata Wanara berjaga.
Sawarna membukanya dan membaca cepat. Wajahnya langsung pucat:
“Pasukan Lamakara sudah mulai muncul. Bukan hanya komodo bayangan — tapi juga Orang-Orang Seret, makhluk lidah panjang dari dasar bumi. Mereka merayap ke sungai-sungai. Satu kampung suku Muwa telah hilang.”
Maharaja Vanikala berdiri perlahan.
“Hutan ini adalah jantung dunia. Jika Khamyaka roboh, maka akar langit pun retak. Kita tak bisa hanya berdoa.”
Ia menatap penasihat-penasihatnya dan berujar:
“Kita akan memanggil Panglima Tembaling, dan pasukan Pemanjat Bayangan. Dunia perlu tahu, bahwa bangsa Wanara tak lagi sembunyi.
Hari ini kita mengumumkan: Khamyaka akan melawan.”
Daun-daun tua gemetar pelan. Rasa takut masih menggantung, tapi di bawahnya menyala bara — bahwa makhluk hutan yang dulu hanya dikenal sebagai legenda, kini bersiap keluar dari bayang-bayang.
XXX
XXX
Kehendak Sanghala terlalu besar untuk satu bentuk.
Dari tiap getaran ciptaan,
ada bagian yang tidak sempat diatur,
tidak sempat disusun dalam kehendak,
terlempar sebagai percikan liar dari api penciptaan.
Percikan itu jatuh jauh ke dalam —
bukan ke langit, bukan ke laut,
melainkan ke tempat yang belum diberi nama,
tempat terdalam dalam tubuh dunia: pusar batu,
ruang sebelum suara, di mana gema sendiri takut untuk bergaung.
Dari percikan-percikan itu,
dari bara yang tidak padam dan batu yang tidak hancur,
muncullah mereka yang pertama menggenggam tanah tanpa perintah.
Mereka tidak bernama saat itu,
tapi bumi mengenali mereka sebagai Ashura.
Tubuh mereka keras,
kulit mereka seperti batu bara yang masih menyala merah.
Mereka tidak berjalan seperti manusia,
tidak melayang seperti dewa,
tapi menumbuk bumi dengan langkah berat
seakan setiap pijakan adalah perjanjian mereka dengan dunia.
Mereka tidak berbicara seperti makhluk lain,
mereka bernyanyi dengan getaran logam,
memahat doa pada dinding gua,
dan menyusun puisi dari suara palu dan besi.
Mereka tidak ditugaskan,
tapi mereka bekerja —
menggali lorong, menambang cahaya yang belum muncul,
membentuk gua dari gunung mati dan menjadikannya tempat bernapas bagi nyawa yang belum lahir.
Bagi Sanghala, mereka adalah percikan yang tidak perlu ditarik kembali,
karena mereka telah menemukan tempatnya sendiri:
di bawah, dalam, dan diam.
Tapi diam itu tidak bertahan selamanya.
---
Dalam kedalaman yang paling sunyi,
di bawah tujuh lapis batu,
sebuah suara yang sangat tua mulai bangkit —
suara yang tidak berasal dari kehendak Sanghala,
melainkan dari sisa-sisa ketidakseimbangan pertama.
Suara itu bukan bisikan. Ia adalah lidah yang menjilat dinding batu,
adalah mata yang menyala dalam lumpur,
adalah cakar yang menulis di udara panas
Itulah dia: Lamakara Wolu,
yang dahulu dilempar dari langit karena menelan matahari tanpa izin,
dan kini terbangun dalam bentuk seekor komodo purba yang tubuhnya terbuat dari kemarahan,
dan pikirannya hanyalah satu: membalas hukum.
Ia mendekati para Ashura, yang sedang bekerja dalam diam, dan berkata:
“Kalian, anak batu dan api,
kalian bukan ciptaan.
Kalian adalah sisa.
Tapi dari sisa itulah kekuatan sejati lahir.
Sanghala menciptakan kalian karena ia tidak mampu mengurus semuanya sendiri.
Tapi ia tidak memberi kalian suara, tidak memberi langit, tidak memberi nama.
Aku akan beri kalian semuanya itu.”
Ashura berhenti memukul batu.
Mereka menatap satu sama lain dengan mata yang menyala.
Dan dalam dada mereka yang keras,
bara mulai tumbuh menjadi api kehendak sendiri.
Mereka bertanya:
“Siapakah kami jika tidak diingat oleh langit?”
“Apakah kami harus terus diam?”
“Apa gunanya kekuatan tanpa kehormatan?”
---
Malam itu,
dalam perut dunia yang hanya tahu merah dan hitam,
para Ashura menciptakan mantra logam.
Mereka tidak menulisnya di daun atau kertas,
melainkan di batu dan baja.
Mantra itu berbunyi seperti palu,
dan isinya adalah janji:
Bahwa mereka tidak akan lagi bekerja dalam diam.
Bahwa mereka akan membentuk dunia bawah menjadi kerajaan mereka sendiri.
Bahwa mereka akan mengguncang langit, bukan untuk tunduk, tapi untuk menggugat.
Lamakara tersenyum — jika makhluk seperti dia pernah bisa tersenyum.
Ia tahu, bara telah menyala, dan api itu tidak akan padam.
---
Asura diidentikkan dengan makhluk pembuat bencana. Asura adalah golongan makhluk gaib non-dewa, tapi bukan merupakan hantu. Mereka menjalani kehidupan sebagai penghuni salah satu alam kehidupan—sebagaimana halnya manusia dan dewa—karena masih menjalani samsara atau tumimbal kelahiran, akibat karma yang mereka lakukan pada kehidupan sebelumnya.
Asura sering dikisahkan memiliki sifat yang buruk, yakni memusuhi Dewata, Kadang kala, para Asura disamakan dengan raksasa atau makhluk yang jahat, mereka terbagi menjadi kelompok yang baik dan jahat.
Mereka dikatakan sebagai makhluk yang menghuni bagian bawah gunung, masih suka melekat pada kenikmatan duniawi, bersikap iri hati dan berseteru dengan makhluk yang disebut dewa.
Sejak malam itu,
para Ashura memahat kota-kota dari lava beku,
mengukir takhta dari magma tua,
dan menciptakan pasukan dari batu hidup.
Mereka belajar membentuk senjata dari kemarahan,
dan baju besi dari kehinaan yang terlalu lama ditelan.
Mereka bukan iblis,
bukan dewa,
dan bukan manusia.
Mereka adalah Ashura —
anak dari percikan tak bertuan,
makhluk yang pernah bersinar tapi dibuang ke dalam,
dan kini,
berdiri sebagai bayangan dari cahaya yang tidak sempat mereka pahami.
---
Apakah kelak mereka akan kembali ke cahaya?
Atau akan membakar langit yang dulu melupakan nama mereka?
Itu adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab
dalam perang yang belum datang,
dan dalam hati batu yang diam-diam masih berharap didengar.
Melihat ini, Senghala memberi hukum:
“Harmoni adalah jalan dunia. Siapa yang melawan harmoni, akan jatuh.”
Tetapi Lamakara tidak tunduk. Dalam kesunyian, ia membentuk nyanyian sendiri, Nada Ombak Hitam, dan dari nada itu lahir makhluk-makhluk kegelapan:
Orang Bati dan Ahool, para sayap malam yang menyebar di langit; dan dari magma laut ia menciptakan Sembilan Komodo Api, dengan dirinya sebagai yang terbesar, bermahkota pusaran badai.
Untuk melawan Lamakara, para batara memanggil para ulubalang , roh pelayan yang lahir dari percikan Nada Awal. Di antara mereka, yang paling perkasa adalah Batara Guru, penjaga hukum dunia dan pemegang Keris Arcapada, pusaka yang ditempa dari cahaya bintang pertama.
Maka pecahlah perang pertama di laut purba, sebelum Alekawadwipa lahir. Dan meskipun Lamakara akhirnya ditumbangkan dan dirantai di dasar samudra, ia bersumpah sebelum tenggelam:
“Jika rantai karang ini retak, dunia akan kembali jadi laut. Aku akan datang bersama Ombak Terakhir.”
Lalu pulau-pulau lahir, dan manusia berjalan di atasnya. Mereka lupa pada arus purba. Tetapi laut tidak pernah lupa.
Ketika para arus menari, suara Sanghala kembali terdengar, “Terpisahlah, wahai langit dan bumi! Agar dunia mendapat cahaya!” Maka Rangi dan Papa, yang saling berpelukan erat, dipisahkan oleh Anginua. Rangi terangkat tinggi menjadi langit, Papa terbaring menjadi bumi, dan di antara keduanya mengalir angin dan cahaya. Dari air mata Papa lahirlah sungai dan danau; dari peluh Rangi tercipta awan dan hujan.
Setelah perang ombak pertama reda, Sanghala memanggil para arus dan berkata,
"Wahai arus yang setia, dunia ini belum selesai. Akan datang anak-anak manusia, yang lahir dari tanah dan laut. Mereka akan mengisi pulau-pulau yang akan kalian angkat dari kedalaman. Tetapi, ingatlah ini: ketika mereka lupa pada nyanyian laut, ketika kesombongan mereka menyaingi badai, maka Ombak Terakhir akan datang, dan dunia kembali menjadi samudra."
Lalu, para arus berangkat menjalankan tugasnya. Lahuta Nawa menggiring ikan, Tangaroa menumbuhkan karang dan mengatur paus agar menjaga laut dalam. Rangi menyinari dunia dengan cahaya, Papa melahirkan pulau-pulau kecil. Anginua menebarkan badai pertama, dan Apuna Ranu menyalakan gunung berapi yang mengangkat daratan dari dasar samudra.
Di sinilah awal dunia: Era Ombak Pertama, sebelum raja-raja bumi, sebelum kapal pertama berlayar, sebelum nama manusia disebut di atas angin dan ombak.
Di bawah singgasana awan, angin berbisik dengan getir. Anginua, dewa badai, menatap ke arah bayangan yang menggantung di ujung langit. Ia merasakan sesuatu… sesuatu yang lahir dari kedalaman magma, bukan dari cahaya.
Dan memang, ketika para dewa menari menyambut keputusan musyawarah, lautan di ujung dunia bergejolak. Ombak hitam menggulung tanpa angin. Dari pusaran itu, naiklah gunung bergerak, tubuhnya bersisik bagai batu karang, matanya bara merah. Lidahnya menjulur, memercikkan api asin yang menguapkan ombak.
Suara Lamakara Wolu membelah badai:
“Wahai saudara-saudaraku yang lemah, kalian memisahkan langit dari bumi, mengikat ombak agar jinak. Tapi aku… aku akan memutus semua ikatan. Aku akan menenggelamkan pulau-pulau kalian, menghancurkan angin, membakar akar, dan mengembalikan dunia kepada laut purba! Hanya aku penguasa samudra, bukan Sanghala, bukan La Patiganna!”
Para arus terdiam, langit mendung, dan petir menari di tepi cakrawala. Untuk pertama kalinya sejak harmoni dicipta, perang disuarakan di antara gelombang.
La Patiganna bangkit, suaranya menggetarkan langit:
“Engkau bukan arus, engkau adalah luka dalam arus. Jika engkau ingin perang, perang akan datang. Tetapi ketahuilah, engkau tidak akan menang selamanya.”
Lamakara Wolu tertawa, tawa yang menggelegar dan memecahkan karang. Lalu ia menyelam ke kedalaman, membawa kegelapan bersamanya. Dan sejak hari itu, laut tak pernah benar-benar tenang.
Sementara itu, tanpa mengetahui bahaya yang mengintai, La Toge’ Langi’ turun ke Alekawa, menapaki pasir putih Ussu’. Di balik ombak yang lembut, mata bara Lamakara mengintai dari kedalaman.
Batara Guru mengikat perjanjian dengan para arus:
“Laut adalah jalanmu, bukan mangsamu. Angin adalah kawanmu, bukan budakmu. Selama engkau menghormati arus, dunia akan aman.”
Dan manusia patuh. Pulau-pulau makmur, ikan berlimpah, hutan hijau, dan langit cerah. Inilah Zaman Keemasan Ombak.
Namun, di kedalaman laut hitam, mata bara mengintai. Lamakara Wolu, sang pengguncang arus, menyaksikan manusia yang lemah menjadi kuat, membangun kota di atas ombak, dan memahat karang menjadi istana. Api iri membakar dadanya.
Bangsa Bajau Purba dan Kesombongan Laut
Dari garis keturunan para pelaut pertama sebelum Batara Guru menurunkan kerajaan Surupala, lahirlah Bangsa Bajau Purba ciptaan langsung Sanghala, manusia yang mencintai laut lebih dari daratan. Mereka hidup di atas perahu, membangun kota terapung, dan bahkan membangun rumah-rumah di bawah laut. Dalam darah mereka mengalir anugerah arus: paru-paru yang mampu menahan napas berhari-hari, mata yang melihat jelas dalam kegelapan laut dalam. Menguasai angin dan membaca ombak,,membangun perahu-perahu panjang, berlayar jauh di atas Laut Besar, menjalin pulau-pulau.
Tapi kekuatan melahirkan kesombongan. Mereka berkata:
“Jika kami bisa menguasai arus, mengapa tunduk pada langit? Jika kami bisa menaklukkan laut, mengapa hormat pada Batara Guru?”
Bisikan itu bukan milik mereka. Itu adalah suara Lamakara, berdesis dalam riak ombak:
“Engkau anak laut, bukan budak arus. Ambil kekuasaan dari mereka. Akulah penjaga samudra sejati. Berlututlah padaku, dan kuberi engkau senjata yang bahkan Batara Guru tak sanggup lawan.”
Melihat bayang kegelapan merayap, para arus setia berkumpul. Tangaroa menenggelamkan bintang laut ke dalam pusaran, Anginua meniup badai putih, Apuna Ranu meletuskan gunung api di bawah laut. Dari amarah dan doa mereka, lahirlah pusaka penyeimbang, yang ditempa dari pecahan cahaya Sanghala dan baja hitam gunung laut:
Keris Arcapada
“Bilanya tipis seperti sayap angin, pamornya berlapis ombak, gagangnya terbuat dari tulang naga laut. Keris ini mengandung nyanyian arus, dan siapa yang memegangnya, memegang kehendak laut.”
Batara Guru menyerahkan Keris Arcapada kepada pewaris yang bijak, agar dunia tetap damai. Tetapi Lamakara tak tinggal diam. Dari magma laut ia menempa Gada Laotika, senjata pemukul yang memanggil badai gelap, pusaka pengikat jiwa yang korup.
---
Bayangan Perang Ombak
Bangsa Bajau Purba, yang dulu pelaut bebas, kini terbelah. Sebagian tetap setia kepada arus dan Batara Guru. Sebagian lain bersumpah kepada Lamakara, percaya bahwa laut harus kembali pada kekuasaan naga purba. Kota-kota terapung menjadi benteng, hutan di pulau besar ditebang untuk kapal perang, dan badai yang tak pernah padam mulai muncul di ufuk timur.
Di atas lautan hitam, seekor Komodo raksasa mengibaskan ekornya, menciptakan gelombang yang memutus jalur dagang. Dan di antara ombak yang mengamuk, suara bergema:
“Datanglah, wahai Ombak Terakhir. Dunia akan kembali menjadi samudra!”
Setelah La Toge’ Langi’ menapakkan kaki di Alekawa, dunia berubah. Ia menjadi Batara Guru, pemimpin manusia pertama. Di bawah ajarannya, lahir para raja kerajaan Surupala meggantikan Bangsa Bajau purba.
XXX
Di atas Langi’ Tua, para arus berkumpul, cahaya berkilauan di antara awan yang berlapis emas. Mereka datang untuk menyaksikan keputusan Sanghala melalui Raja Langit, La Patiganna, yang duduk di singgasana ombak yang membeku menjadi kristal.
“Bumi ini, Alekawa, telah jadi. Ombak bernyanyi, pohon-pohon pertama mulai berakar, dan langit memeluk bumi dengan cahaya. Tetapi siapa yang akan menjaga harmoni ini?” suara La Patiganna bergema seperti guntur jauh.
Para arus suci mengangguk. Tangaroa (Lahuta Nawa), penguasa laut dalam, berbicara:
“Aku telah menebar karang, memanggil paus, dan mengisi laut dengan kehidupan. Namun manusia akan datang, dan mereka harus tahu jalan agar tidak melawan laut.”
Maka diputuskan: La Toge’ Langi’, putra sulung La Patiganna, akan turun ke Alekawa untuk menjadi pemimpin manusia, Batara Guru. Ia akan mengikat darat, laut, dan angin dalam satu hukum.
Namun keindahan dunia tidak bertahan lama. Dalam upaya menyempurnakan alam semesta, Senriwijaya melahirkan seorang anak yang menyatukan api dan waktu: Ranggah Dahana, sang dewa api dan badai laut . Namun tubuhnya terlalu panas, dan dalam sekejap, nyala jiwanya membakar rahim ibunya sendiri. Senriwijaya roboh, tubuhnya meretak oleh panas suci, dan ia jatuh ke Lamakara Loka, dunia bawah, tempat roh-roh tak selesai berkumpul. Di sana, ia tak mati, tapi berubah—menjadi dewi kutukan, dewi ingatan pahit, ratu bayangan yang tak lagi dapat kembali ke langit.
La Patinggana yang hancur oleh duka turun ke Lamakara Loka untuk mencarinya. …
---
Setelah kembalinya La Patingana dari Lamakara Loka dan selesainya ritual , langit tak lagi dikuasai satu kehendak. Dunia memasuki masa Peralihan Agung, ketika tugas-tugas langit tak lagi dijalankan langsung oleh dewa purba, melainkan oleh anak-anak cahaya dan murid hukum surgawi: para dewa muda, pewaris kekuatan, namun memiliki kehendak mereka sendiri.
Dua cahaya yang lahir dari air pemurnian La Patingana, La Tongge Langi dan Ranggah Dahana pada awalnya adalah saudara sejiwa. La Tongge Langi, cahaya teratur, membangun dunia berdasarkan kalender dan hukum musim. Ranggah Dahana, angin badai, menjaga ketidakteraturan agar tidak dibasmi sepenuhnya.
Namun keduanya memiliki visi berbeda tentang masa depan dunia tengah, Karena Ranggah Dahana kini bersekutu dengan Lamakara Wolu menentang Sanghala sang dewa tertinggi pencipta alam semesta.
Ia muak pada langit.
Setiap hari ia melihat para malaikat juru tulis menghitung karma seperti tukang cukai. Ia menyaksikan doa-doa manusia ditolak karena tak sesuai prosedur langit. Ia menyaksikan roh-roh manusia dipaksa bereinkarnasi berdasarkan perhitungan statistik surgawi, tanpa mendengar jeritan hati mereka. Ia melihat anak-anak yang menangis dalam kegelapan, tak mampu dipeluk karena malaikat pengawas sedang sibuk dalam rapat mingguan para dewa.
Langit ke-13 bergemuruh. Bukan oleh petir, tapi oleh bisikan hasrat yang terlalu lama dikurung dalam ruang-ruang rapat surgawi.
Ranggah Dahana berdiri di pelataran Menara Pendengaran Abadi, mengenakan jubah api kabut yang belum sempat dikancing. Matanya menatap ke bawah, ke arah dunia fana yang dipenuhi teriakan, kehancuran, dan keindahan yang tidak pernah bisa dipahami oleh para dewa birokrat.
“Mereka menyebut ini keadilan,” gumamnya, getir. “Tapi setiap keputusan diambil lewat tujuh sidang, lima meterai, dan tiga lapis restu. Sementara dunia membusuk menunggu tanda tangan.”
Di belakangnya, kabut menghitam. Udara jadi berat.
Langkah-langkah bergetar merayap naik dari dasar langit ke-13.
Ia datang.
Lamakara Wolu — dewa purba dari zaman sebelum terang. Kulitnya sisik batu, lidahnya bercabang tiga. Ia bukan hanya seekor komodo raksasa. Ia adalah ide kegelapan yang tidak bisa mati.
“Kau gelisah, anak cahaya,” desisnya. “Langit menolakmu. Tapi aku... menerimamu.”
Ranggah Dahana memutar tubuh. Matanya merah. Jantungnya tidak berdetak seperti dewa biasa. Ia terlalu muda, terlalu penuh gejolak. Ia belum dijinakkan oleh meja sidang, belum tunduk pada kitab peraturan surgawi.
“Apa yang kau inginkan, Lamakara?”
“Aku? Tidak. Aku hanya memberi jalan pada suara-suara di hatimu. Suara yang ditutup oleh para dewa tua yang hanya bisa bersidang, dan bersidang, dan bersidang…”
Ranggah Dahana menggenggam gagang tombaknya, yang belum pernah ia cabut dari sarung suci. Tapi malam itu, ia goyah.
“Apa kau pikir aku boneka yang bisa kau dorong untuk memberontak?”
“Bukan, Ranggah Dahana. Aku tahu kau bukan boneka. Kau adalah bara. Aku hanya meniupkan angin.”
Lamakara mendekat. Nafasnya seperti api busuk dari perut dunia.
Ia menjulurkan lidahnya perlahan ke telinga Susaroku, dan berbisik:
“Bayangkan surga tanpa izin.
Bayangkan dunia di mana keputusan bisa dicabut tanpa cap stempel langit.
Bayangkan, kau sendiri yang menjadi hukum.”
Tombak Aramahi bergetar. Di ujungnya, cahaya suci menghitam pelan-pelan.
Dan malam itu, tanpa izin dewan surga,
Ranggah Dahana turun dari langit ke-13 bersekutu dengan Raja Yakhsa Dewanagari .
Yakhsa Dewanagari adalah raja Asuhra , mahluk setengah dewa setengah iblis mahluk yang setia pada Lamakara Wolu , makhluk yang memiliki kesaktian dan menguasai ilmu gaib tertentu, mirip dengan dewa, dia adalah seorang Yakhsa di kalangan Ashura, Yakhsa adalah Ashura tertinggi yang mengabdi langsung pada Lamakara Wolu ,sebagaimana dewa, yaksa (makhluk gaib), dan raksasa. Ashura Dewanagari adalah raja setengah dewa,roh jahat, raksasa, dan musuh para dewa".
Yakṣa dapat disifatkan sebagai peri penunggu hutan atau gunung, tetapi dapat pula disifatkan sebagai buta, dedemit alam liar yang suka menghadang dan memangsa manusia yang kebetulan lewat, mirip dengan rakṣasa. Mereka adalah roh-roh alam yang biasanya baik hati tetapi kadang-kadang usilan atau angin-anginan, dan dikait-kaitkan dengan air, kesuburan, pohon, hutan, harta benda, serta alam liar.
Yaksa dipandang sebagai dewa-dewa pamong bumi berikut harta kekayaan yang terpendam di dalamnya.pada mulanya yakṣa adalah dewa penunggu kota, daerah, danau, atau sumur. Pemujaan yaksa maupun keyakinan populer akan kewujudan nāga-naga (dewa-dewa ular), dewa-dewa kesuburan perempuan, dan dewi-dewi ibu.yakṣa ditampilkan laksana pejuang-pejuang yang menciutkan nyali atau serupa manusia kerdil berbadan tambun dan bertampang galak.
Melihat kilau cahaya Ranggah Dahana meredup di bawah bayang-bayang Lamakara Wolu,
Sanghala, sang Dewa Pencipta, tidak segera mengangkat senjata. Sebab Ia tahu, badai tidak selalu dapat ditundukkan dengan petir; kadang harus diajak berbicara dengan kesabaran air.
Maka Ia memanggil Batara Antaga, sang punakawan abadi,kakak Ranggah Dahana yang dikenal dengan lidahnya yang jenaka dan hatinya yang setia. Kepada Antaga, Sanghala berpesan:
“Pergilah, Antaga. Dekati Ranggah Dahana seperti saudara. Jangan menghakimi badai—temani ia, bicaralah padanya, dan bawa ia kembali sebelum seluruh Alekawa terhempas dalam angin kegelapan.”
Antaga pun menempuh perjalanan panjang menembus lautan awan dan padang bintang. Ia menemukan Ranggah Dahana di puncak menara badai, tertawa bersama Lamakara Wolu yang duduk di singgasana malam.
Hari demi hari, Antaga menasihati Ranggah Dahana, mengingatkan adiknya masa-masa ketika ia dan Sanghala mencipta dunia dengan harmoni. Namun Ranggah Dahana, keras kepala seperti pusaran topan, menolak setiap kata.
Semakin lama Antaga berada di sisinya, para dewa lain mulai meragukannya.
“Lihatlah,” bisik mereka, “Antaga kini berjalan di bawah panji badai. Ia pasti telah berkhianat.”
Namun mereka tidak tahu, setiap senyuman Antaga di hadapan Ranggah Dahana hanyalah topeng, setiap gelak tawa hanyalah umpan agar ia tetap berada cukup dekat untuk berbisik, “Kembalilah, saudaraku.”
Tahun-tahun pun berlalu, dan usaha Antaga tampak sia-sia. Ranggah Dahana semakin jauh, badai semakin pekat.
Namun Antaga tidak menyerah—sebab ia tahu, bahkan badai terkuat pun suatu hari akan lelah, dan saat itulah setetes cahaya bisa memecah langit.
La tongge Langi ingin memperkuat birokrasi surgawi, memperbesar pengawasan atas jiwa manusia, dan menyatukan kalender langit dengan sistem persembahan. Ia menyebutnya Reformasi Cahaya Satu.
La Toingge Langi menentangnya. Ia percaya manusia dan para dewa perlu ruang untuk berkembang tanpa terlalu banyak laporan dan ritual. Ia menciptakan sistem taman liar surgawi di mana Dewa bisa bertumbuh bebas tanpa pengawasan pusat.
Perang pecah di langit kelima. Seribu tombak cahaya milik La Tongge Langi bertabrakan dengan badai roh kuno milik Ranggah Dahana . Istana musim gugur runtuh. Sungai karma patah arusnya. Ribuan kami hancur, dan hukum reinkarnasi sempat macet selama tiga hari surgawi.
Rangah Dahana yang telah dirasuki Lamakra Wolu murka. Ia berteriak dalam gulungan badai, menolak pemisahan itu. Dari amarahnya lahir badai pertama dan pusaran gelap yang menelan bintang-bintang.
Lahuta Nawa berdiri tegak di tengah ombak, suaranya dalam bagaikan gemuruh laut, “Diamlah, saudaraku! Dunia ini bukan untukmu seorang!” Tapi Rangah Dahana menantang, “Kalau bukan untukku, maka kubenamkan semuanya kembali ke samudra purba!”
Sejak saat itu, lautan tak pernah benar-benar tenang. Ombak membawa nyanyian Sanghala, tapi juga bisikan kegelapan dari Rangah Dahana.
Akhirnya La Patingana ,turun tangan. Ia membungkus langit dengan kabut mimpi dan menghapus memori semua pasukan. La Tongge Langi dan Ranggah Dahana dipaksa menandatangani Perjanjian , bahwa langit dan badai harus tetap bersilang agar dunia hidup.
Namun retakan batin di antara para dewa muda tetap ada. Mereka tak pernah benar-benar bersatu kembali.
---
Tidak semua hukum tercatat bisa menampung makhluk bebas. Tidak semua doa bisa difilter dengan hukum karma.
Di suatu titik paling sunyi, Kitab Jiwa menuliskan satu entri aneh:
“Namanya belum ada. Takdirnya tidak tertulis.
Namun ia akan datang seperti bencana yang tak bisa dihukum.”
Makhluk ini adalah virus dari kehendak bebas, lahir dari semua retakan sebelumnya. Ia tidak berasal dari dewa maupun manusia. Ia adalah roh kehendak hampa. Ia adalah pemikir, bukan pelaku. Namun dari pikirannya lahir gerakan. Dari gerakannya lahir api.
La Patingana tak lagi turun tangan. Ia menyatu dengan hukum alam, tidak menjadi tokoh, hanya menjadi prinsip. Langit tidak mati, tapi menjadi senyap. Dan dunia memasuki Zaman Bayangan Terjaga, ketika manusia, kami, dan roh tidak lagi tunduk sepenuhnya, melainkan memilih jalannya sendiri—dengan resiko kehancuran abadi atau penciptaan ulang.
XXX
Ia adalah Rangah Dahana yang kini bersekutu dengan Lamakara Wolu, arus yang dulu berpaling dari harmoni. Tubuhnya sepanjang sembilan pulau, ekornya menghantam laut, menimbulkan ombak setinggi gunung. Nafasnya menghanguskan awan, menciptakan hujan abu di atas lautan biru.
Ranggah Dahana membawa badai, namun juga kelembutan. Ia adalah dewa perubahan, angin yang membelai dan topan yang mengguncang. Tetapi meskipun namanya bergema dalam perang dan kehancuran, tak ada yang tahu bahwa ia juga pemilik luka terdalam dalam hati langit.
"Ini bukan langit," kata Ranggah Dahana dalam hatinya, "ini penjara transparan, bersinar, dan terlalu bersih."
Maka dalam satu malam, ia melepaskan jubah kebesarannya, memutus kontraknya dengan Birokrasi Langit, dan menyelinap ke dunia tengah: Alekawa . Ia tidak turun sebagai badai, tapi sebagai kabut pagi yang lembut, suara angin di jendela kayu, desir di rambut seorang anak kecil yang sedang menangis sendirian. Ia menampakkan diri pada anak-anak dan remaja di zaman paling gelap umat manusia—ketika langit tak mendengar dan bumi terlalu diam.
Ia tidak memberikan nasihat atau berkhotbah. Ia hanya bertanya:
"Apa keinginan terdalam hatimu?"
Dan ketika anak-anak itu menjawab—dengan polos, tulus, dan jujur—ia mengangkat tangannya, dan mengabulkan keinginan mereka.
Seorang gadis buta ingin melihat—maka ia melihat bintang-bintang menari.
Seorang anak yatim ingin merasakan kehangatan keluarga—dan tiba-tiba ia dikelilingi pelukan roh-roh hangat.
Seorang bocah yang tak pernah bisa berbicara kini menyanyikan hujan.
Namun hadiah itu tidak tanpa harga. Dalam detik pengabulan keinginan, tubuh anak itu menghangat, lalu menyala, dan tanda angin surgawi muncul di punggung mereka. Mereka telah menjadi sesuatu yang baru.
Mereka adalah anak-anak penyihir yang disebut gadis suci memiliki kekuatan penyembuhan. Jiwa manusia yang disulap oleh Ranggah Dahana , diberi setitik kekuatan langit yang telah dicuri diam-diam olehnya dari gudang. Sejak saat itu, setiap anak yang permintaannya dikabulkan akan menjadi penyihir. Mereka tidak hanya menerima sihir, tapi tugas.
Di balik bayang-bayang sejarah dunia——selalu ada penyihir muda yang bersembunyi. Mereka memiliki satu tujuan: melindungi jiwa-jiwa suci dari ancaman para Malaikat maut .
Para malaikat maut. Mereka adalah penyihir masa lalu yang mati, namun jiwanya tidak diterima oleh langit karena mereka pernah menggunakan sihir. Mereka tersesat di antara dunia, menjadi roh lapar, haus akan jiwa muda yang murni, berharap bisa naik ke langit kembali melalui jalan yang salah: dengan merebut nyawa anak-anak suci.
Dan karena itu, penyihir baru harus bertarung. Mereka adalah prajurit tak dikenal yang melindungi dunia dari bayangan waktu. Setiap bencana misterius yang menimpa anak-anak: kematian mendadak, kegilaan, menghilang, bukanlah kebetulan. Itu adalah pertempuran yang gagal. Tapi setiap anak yang tertawa di bawah hujan setelah mimpinya terkabul—itu adalah bukti bahwa Ranggah Dahana masih melindungi dunia dalam diam.
Namun karena tindakan ini, nama Ranggah Dahana dihapus dari daftar dewa resmi. Di langit, ia disebut pengkhianat. Namun di bumi, ia menjadi dewa tak bernama yang dicintai oleh langit kedua: hati anak-anak.
XXX
Sebelum Ombak Itara mengguncang dunia, sebelum Lamakara Wolu menampakkan sisik hitamnya, ada seorang putri bernama Kadita—yang kelak dikenal sebagai Ratu Ombak Selatan.
Ia lahir dari rahim seorang ratu yang cantiknya menandingi bulan purnama. Sejak kecil, Kadita adalah cahaya istana—senyum yang memantulkan damai. Namun, ketika ia beranjak remaja, malapetaka datang dari dalam rumahnya sendiri.
Sang ibu wafat dalam sakit yang misterius. Raja, ayah Kadita, menanggung duka yang panjang, hingga suatu hari ia bertemu seorang perempuan jelita yang mengaku datang dari negeri seberang. Wanita itu bernama We Kandika, dan ketika ia melangkah ke istana, bayang gelap pun ikut masuk bersama langkahnya.
We Kandika membawa serta seorang anak perempuan, seumur Kadita, namun berhati keras seperti batu. Di balik senyum mereka, tersembunyi api iri yang tak pernah padam. Mereka membisikkan kata-kata racun ke telinga sang Raja:
“Kadita tak pantas menjadi pewaris. Dia pembawa sial. Dia harus disingkirkan…”
Dan racun itu menetes, hari demi hari. Hingga suatu malam, ketika bulan pucat menggantung di langit, Pawangi Laut—penyihir hitam dari teluk terlarang—dipanggil. Ia menggumamkan mantra dari rahang ikan, dari tulang paus yang patah, dari pasir yang menyimpan darah korban. Dan di pagi berikutnya, kulit Kadita dipenuhi luka-luka seperti gigitan laut.
“Kutu laut yang menjijikkan!” teriak We Kandika pura-pura ngeri.
Raja yang hatinya sudah lapuk percaya fitnah itu. Ia mengusir Kadita dari istana.
---
Kadita berjalan sendirian. Luka di tubuhnya memerah, perih oleh angin asin. Ia terus berjalan hingga kakinya menginjak pasir putih di tepi Laut Selatan, laut yang tak pernah tenang, laut yang memakan doa. Ombak bergulung seperti naga tidur, dan di ujung cakrawala, kilatan badai menyala seperti mata iblis.
“Ibu… mengapa mereka lakukan ini padaku?” tangisnya pecah.
Dan ketika ia rebah di pasir, ketika darahnya menetes ke buih ombak, lautan menjawab.
Dari kedalaman, sesuatu bergerak. Bayangan gelap merayap di bawah air, lalu muncul—seekor komodo raksasa, sisiknya hitam seperti batu gunung, matanya merah seperti bara, napasnya membawa bau maut. Ia adalah Lamakara Wolu, Sang Ombak Hitam, Dewa yang dikurung dalam riak gelombang sejak masa Tataba Awal.
Ia menatap Kadita lama, seolah mengukur jiwa gadis itu.
“Kau dibuang oleh daratan, tapi laut akan menerimamu. Dunia ini tak adil padamu… mengapa kau tak menguasainya?”
Kadita gemetar. “Siapa… kau?”
“Aku Lamakara Wolu. Aku bisa menghapus luka-lukamu. Aku bisa memberi kekuatan yang tak dimiliki siapapun di daratan. Satu syarat saja: jadilah Ombakku. Jadilah Ratu Ombak Hitam.”
Dan malam itu, Kadita melangkah ke laut. Tubuhnya ditelan ombak, dan ketika ia muncul kembali, matanya bukan lagi mata manusia. Rambutnya menjuntai seperti riak hitam, kulitnya berkilat seperti permukaan samudra di bawah bulan darah.
Ombak menelan tubuhnya, dan ketika Kadita muncul kembali dari kedalaman, dunia seakan menahan napas. Luka-luka yang merusak kulitnya lenyap. Yang tinggal hanyalah seorang wanita dengan paras yang memabukkan.
Rambutnya memanjang, hitam legam, basah berkilauan seperti malam setelah hujan, terurai sampai menyentuh pinggang. Wajahnya halus seperti ukiran halus kayu jati, dengan alis melengkung rapi bagai lukisan awan di atas puncak gunung. Matanya… ah, matanya! Seperti danau terdalam di Tatar Sunda—jernih, tapi di dasar jernih itu, tersembunyi badai.
Kulitnya berkilat bagai porselen yang dicium cahaya bulan, dengan rona keemasan yang menyiratkan darah ningrat. Bibirnya merah seperti kelopak flamboyan, sepasang lengkung yang bisa menyihir seorang raja atau memerintahkan ribuan gelombang. Tubuhnya ramping, bergerak dengan kelenturan penari Jaipongan, tetapi setiap gerakan memancarkan sesuatu yang menggetarkan: kekuatan yang lahir dari laut dan kemarahan purba.
Ia mengenakan kemben hijau lumut, basah menempel di lekuk tubuhnya, dan selendang panjang berwarna hitam pekat yang berkibar seperti bayangan ombak malam. Di dahinya tersemat mutiara laut, memantulkan sinar merah petir yang menggores langit.
Kini ia bukan lagi putri manusia. Ia adalah ombak yang berwujud perempuan, kecantikan yang menusuk sekaligus menakutkan.
Lamakara Wolu merayap mengelilinginya, tubuh komodo raksasa itu seperti pulau yang hidup. Suaranya berat seperti gemuruh samudra:
“Kini kau milikku, Kadita. Laut adalah singgasanamu. Ombak akan jadi pedangmu. Dunia daratan akan berlutut di kakimu.”
Kadita menatap bayangan wajahnya di permukaan air. Gadis lemah yang dibuang istana telah tiada. Yang menatap balik kini adalah seorang ratu yang dilahirkan oleh laut dan dibaptis oleh kegelapan.
Ia tersenyum. Senyum indah, tetapi di balik lengkung bibirnya, badai sudah bersiap menghantam dunia.
Ia tertawa—tawa yang menggetarkan karang.
Dunia memiliki ratu baru, dan ombak selatan menjadi singgasananya.
Sejak hari itu, para nelayan berbisik:
“Ada suara di laut ketika malam. Ada bayangan perempuan berjalan di atas ombak. Itulah Kadita, Ratu Ombak Selatan—pengantin laut, murid Sang Komodo Hitam.”
Dan ramalan pun tertulis di gulungan para Ulubalang:
“Jika Ombak Hitam kembali, dunia akan tenggelam.”
XXX
Di kedalaman samudra biru kehijauan yang tak pernah disentuh cahaya mentari, tersembunyi sebuah kerajaan megah yang berkilauan seperti mimpi dan ancaman sekaligus, Di bawah tekanan ribuan atmosfer, tersembunyi sebuah peradaban yang melampaui imajinasi manusia permukaan — Kerajaan Kandis, kota bawah laut dari bangsa putri duyung, yang tak hanya memadukan keindahan alam dan sihir purba, tetapi juga teknologi biolaut yang melampaui peradaban daratan mana pun.
Bayangkan kota yang dibangun dari karang kristal yang mengalirkan energi laut, kubah-kubah transparan yang mengendalikan tekanan dan suhu, dan menara bioorganik yang hidup, tumbuh, dan berkomunikasi lewat cahaya. Kota itu berdenyut dalam warna biru dan ungu, diterangi oleh cahaya bioluminesens dari ribuan makhluk laut sintetis yang sengaja dibiakkan untuk memberi energi pada seluruh infrastruktur.
Transportasi antar-menara dilakukan dengan kapsul air vakum berkecepatan tinggi, meluncur dalam terowongan air yang berputar seperti spiral DNA. Robot ubur-ubur penjaga melayang di atas atap kubah, mengawasi segala gerakan dengan lensa multifaset yang menyala merah. Sensor sonar dan sistem pertahanan berbasis ganggang berpikiran kolektif menjaga batas kota dari invasi makhluk laut liar maupun teknologi darat.
Kerajaan Kandis bangun dari karang putih yang bersinar seperti mutiara, dan menara-menara spiral yang menjulang dari dasar laut, dihiasi kerang-kerang raksasa yang memantulkan cahaya bioluminesens, seperti lentera-lentera sihir yang tak pernah padam.
Di antara bangunan-bangunan yang melayang di atas kolom arus laut, tampak pasukan duyung bersenjata tombak dari karang dan ekor ikan hiu, berenang dalam formasi ketat. Mereka adalah pengawal istana Ratu Kandita, penjaga satu-satunya pintu masuk menuju Istana Cakrawilwatikta, sebuah bangunan kolosal yang dibentuk dari fosil paus purba dan terumbu karang berusia ribuan tahun.
Dan di jantung kota itu, berdiri Istana Cakrawilwatikta, sebuah keajaiban arsitektur organisme laut dan logam cair. Menaranya terbuat dari tulang paus purba yang dilapisi paduan perak-hitam dan kristal energi dari dasar palung, sementara ruang singgasananya mengambang di tengah kubah raksasa dengan gravitasi terkendali — sebuah medan anti-air, di dalam singgasana yang berkilau seperti kaca laut, duduklah Ratu Kandita, makhluk yang kecantikannya mampu membuat Ikan Pari berhenti berenang dan hiu karang menunduk hormat. Rambutnya panjang, hitam gelap seperti malam tanpa bulan, melayang lembut di dalam air, dihiasi mutiara laut selatan yang terjalin seperti mahkota hidup. Matanya tajam, sehitam jurang samudra, dan sorotnya mampu menenggelamkan rasa percaya diri siapa pun yang berani menatap terlalu lama.
Ia dikenal sebagai "Dewi Laut Selatan yang Terkutuk", bukan karena wajahnya, melainkan karena hati yang lebih dingin dari dasar palung Mariana. Kandita adalah penguasa yang adil tapi kejam, mencintai keindahan dan keteraturan, tapi menghukum dengan badai dan pusaran maut siapa pun yang berani menentang perintahnya. Di balik senyum tipisnya yang menawan, tersembunyi kutukan ratusan generasi, dan ambisi membekukan seluruh permukaan dunia jika daratan sekali lagi menodai lautan dengan keserakahan.
Ratu Kandita duduk, melayang bak dewi, rambutnya tergerai dan mahkotanya memancarkan sinyal-sinyal cahaya yang tak dapat dibaca oleh otak manusia biasa.
Ratu Kandita, ciptaan antara legenda dan teknologi, bukan sekadar makhluk mitologis — ia adalah cyber-siren, pemegang kendali atas teknologi warisan Sundalandia yang hilang. Setengah tubuhnya adalah daging, tapi tangannya memiliki jari-jari kristalin, mampu mengendalikan perangkat telepatik, sonar, dan drone laut hanya dengan pikiran.
Setiap malam purnama, dari menara tertinggi, Kandita mengirimkan nyanyian kutukan melalui ombak, lagu-lagu sirene yang membuat nelayan tersesat, kapal karam, dan pulau-pulau kecil lenyap dalam kabut laut yang tak kembali. Namun bagi rakyat Kandis, ia adalah ibu suci, penjaga hukum bawah laut, dan harapan terakhir untuk melindungi laut dari tangan manusia.
Ketika berita datang bahwa permukaan dunia mulai mengganggu batas-batas laut kuno, Kandita bangkit dari tahtanya. Sirip peraknya berubah menjadi naga air, dan di tangannya tercipta pusaran tombak petir laut.
Di belakang singgasananya, peta lautan holografis raksasa berputar, menunjukkan pergerakan armada manusia, kerusakan terumbu karang, dan lokasi-lokasi strategis bawah laut. Kandita berdiri perlahan, dan suaranya menggema dari alat komunikasi air yang diproyeksikan ke seluruh penjuru kerajaan:
“Keseimbangan lautan telah rusak. Mereka mengebom dasar laut, mereka mencuri arus, dan menghisap energi dari pusar samudra. Maka biarkan teknologi purba kita bangkit — dan ajarkan pada daratan, bahwa laut adalah peradaban yang tak akan tunduk.”
Dari gudang senjata bawah laut, makhluk-makhluk mesin laut bangkit: kuda laut mekanik bertubuh baja, hiu bersenjata laser di kepala, dan naga laut buatan dari kombinasi DNA monster purba dan sibernetik dari zaman yang telah dilupakan. Semua dikendalikan melalui Inti Laut — kristal biru kehijauan di dada Ratu Kandita yang berdenyut seperti jantung planet.
Sementara seluruh kota mempersiapkan invasi permukaan, pasukan elit Penjaga Mutiara Hitam berenang dalam formasi, membawa tombak energi, perisai transparan, dan pakaian tempur cangkang laut dengan mesin roket pendorong.
Ratu Kandita, berdiri di atas singgasananya yang melayang, menatap ke atas — ke arah permukaan.
“Lautan akan naik. Bukan untuk memohon. Tapi untuk menuntut.”
XXX
Di atas perbatasan laut dan daratan, ketika ombak membelai tebing karang yang menghitam oleh waktu, berdirilah seorang pemuda dalam diam. Pangeran Siliwangi, putra Mahkota Kerajaan Surupala, mengenakan baju zirah perak yang basah oleh air asin. Tatapannya menembus kabut senja, menunggu… dan berharap.
Dan dari pusaran ombak yang membelah permukaan, muncul sesosok keindahan yang tak tertulis dalam kitab-kitab manusia. Putri Pitaloka, darah biru dari samudra Kandis, berenang perlahan ke permukaan. Rambut hitamnya menjuntai seperti aliran tinta di air, dan matanya—mata seorang duyung—memantulkan kilatan bintang yang belum muncul.
“Kau datang lagi, Siliwangi, meski ibuku telah memperingatkan...,” bisiknya, suaranya mengalun bagai nyanyian paus purba.
Siliwangi tersenyum, getir namun tak gentar.
“Aku datang karena hatiku tak tunduk pada sejarah, Pitaloka. Jika dunia kita dipisahkan oleh dendam, biarkan cintaku menenggelamkan dendam itu.”
Namun dunia tidak sesederhana itu.
Pitaloka hanya dipanggil oleh rakyat sebagai Putri Berburu, karena hobi dan keberaniannya naik ke daratan, memburu kijang, menjinakkan elang, dan berteman dengan hutan. Ia adalah bunga yang tumbuh liar, bukan di taman istana, tapi di belantara yang lebat. Kadita sudah menyerah mengatur keinginan Pitaloka yang suka memberontak.
Dewi Kadita sudah sangat muak dengan manusia daratan, terutama Kerajaan Surupala yang mengkhianatinya di masa lalu, belum lagi manusia mengeringkan rawa suci untuk membangun pelabuhan besi. Dewi Kandita, ibu Pitaloka dan ratu kerajaan bawah laut, menyaksikan kekayaan samudra dirampas dan terumbu tempat kelahiran bangsanya dihancurkan. Dalam kemarahan, ia mengutuk semua pewaris daratan, dan bersumpah tidak akan pernah merestui cinta antara darah laut dan darah tanah.
Kini, di balik setiap pertemuan mereka, tersembunyi ancaman pengkhianatan dan badai politik.
“Ibuku mengira kau hanya memancing hatiku. Tapi aku tahu, Siliwangi… kau berani datang bukan karena bodoh, tapi karena benar-benar mencintaiku.”
Pitaloka naik ke karang, tubuhnya berubah — sisik peraknya memudar, dan dalam sekejap ia memiliki kaki. Teknologi Kandis telah menciptakan serum transmutasi, namun hanya bertahan sementara. Mereka duduk berdampingan, dua jiwa dari dua dunia yang tak pernah bersatu, berbagi sisa senja sebelum gelombang takdir memisahkan mereka lagi.
Tiba-tiba, lautan bergetar.
Dari kedalaman, muncul drone tempur laut berbentuk pari-pari logam, mengawasi Pitaloka. Suara berat menggelegar dari kristal komunikasi di tubuh makhluk mesin itu:
“Putri Kandis. Kembali sekarang. Ratu Kandita telah mendeteksi pelanggaran batas laut. Cinta adalah kelemahan. Kau adalah pewaris takhta, bukan boneka legenda.”
Siliwangi berdiri, menggenggam tombaknya.
“Jika kau menyakitinya, aku akan membawa seluruh Surupala turun ke dasar laut untuk menjemputnya.”
Tapi Pitaloka hanya menatapnya, sedih dan tenang. Ia menyentuh pipinya, lalu berkata,
“Cinta ini terlarang bukan karena kita berbeda. Tapi karena dunia kita tak mau berdamai. Tapi aku percaya, suatu hari nanti, laut dan darat akan kembali bersatu—bukan dalam perang, tapi dalam janji.”
Ia lalu menyelam kembali, tubuhnya berubah, siripnya memancar cahaya biru, menghilang ke dalam lautan seperti mimpi yang belum sempat diselesaikan.
Dan Pangeran Siliwangi pun berdiri sendiri di tebing karang, dengan satu tekad di dalam hatinya:
Suatu hari, ia akan membuat dunia pantas menerima cinta mereka.
XXX
Hari itu seharusnya menjadi perayaan perdamaian.
Akhirnya Kadita setuju menikahkan Pitaloka dengan Pangeran Siliwangi untuk menghentikan kebencian berabad abad antara laut dan daratan.
Langit dan laut bersatu di pelataran kristal biru Kerajaan Kandis, di bawah kubah raksasa dari kaca laut dan karang bercahaya. Pangeran Siliwangi, berbalut jubah upacara bersulam emas, berdiri dengan senyum tenang namun mata penuh cinta. Di sisinya, Putri Pitaloka melangkah anggun, mengenakan mahkota sisik mutiara dan gaun terapung dari jaring laut yang memantulkan cahaya bulan.
Rakyat dari Surupala dan Kandis menyatu di bawah laut — para bangsawan, penasihat sihir, perwira samudra, dan para tetua duyung. Ratu Kandita, berdiri di atas takhta karangnya, akhirnya menganggukkan kepala tanda restu. Dunia bersorak.
Namun dua wajah tak hadir — Pangeran Jayasena, adik Siliwangi, dan Putri Larasari, adik Pitaloka. Mereka memilih menjauh… karena cinta mereka sendiri telah ditolak oleh keluarga, tersembunyi di balik batas-batas darah dan kehormatan. Tapi cinta tak bisa dibendung, dan dua hati itu saling mencari di lorong-lorong sunyi Kerajaan Kandis.
Hingga sebuah bayangan hitam bangkit dari relung terdalam laut.
“Sudah cukup... semua ini palsu. Perdamaian tak berarti jika lahir dari luka yang belum sembuh.”
Lamakara Lowu, roh purba dari zaman sebelum bumi mengeras, bangkit dari tubuh Kandita. Ratu laut itu terjatuh, tubuhnya menggigil, matanya kehilangan cahaya. Dari mulutnya keluar suara yang bukan miliknya — suara kuno, berat, seperti batu pecah di bawah air.
Dalam sekejap, tombak air raksasa muncul dan menghujam jantung Pangeran Siliwangi.
Dunia berhenti. Darah bercampur garam. Putri Pitaloka berteriak, berlari memeluk tubuh suaminya yang tak lagi bernyawa, gaunnya berlumur merah. Kandita, tersadar dari pengaruh Lamakara, menjerit, menyadari tangannya sendiri penuh darah.
“TIDAAK… INI BUKAN AKU!”
Jayasena, yang datang terlambat dan melihat kakaknya tewas, menerjang maju dengan panah api. Wajahnya membara oleh duka dan dendam.
“Kau pembunuh! Ratu Kandita… kau akan kuhancurkan bersama kerajaanmu!”
Kandita tak membalas. Dalam diam dan rasa bersalah, ia mengungsikan Pitaloka dan Larasari, anak-anaknya, ke reruntuhan kuno di perbatasan Dunia Bawah Laut dan Tanah Rawa.
Sebelum pergi, ia membagi dua kerajaan Kandis, menyerahkan tahta pada Pitaloka dan memberikan Larasari wilayah utara untuk membangun kota baru.
“Ibunda tak layak memimpin. Tapi kalian… kalian harus bangkit.”
Namun Pitaloka, yang selama ini lembut dan penuh kasih, merasakan bara yang selama ini tersembunyi. Di tengah duka, tubuhnya mulai bergetar, dan dari matanya muncul cahaya biru menyala. Siripnya berubah menjadi sayap kristal. Ia menggenggam trisula air warisan ibunya, dan berkata:
“Cinta telah membunuh cinta. Maka aku akan bawa dunia ini ke akhir zaman, jika tak ada yang mampu menebusnya.”
Di tempat lain, Larasari menggenggam tangan Jayasena, dan mereka bersumpah dalam bisikan:
“Jika dunia ingin perang… maka kita akan menjadi dewa-dewi bagi dunia baru yang lahir dari puing-puingnya.”
Kisah cinta yang diawali dengan mimpi damai, kini menjadi legenda empat raja dan ratu muda, pewaris dua dunia, yang akan saling berburu, mencintai, dan menghancurkan — hingga takdir memutuskan siapa yang pantas menjadi tuan atas air dan tanah.
XXX
Di kedalaman Samudra Kegelapan, di bawah reruntuhan kuil tua dari zaman sebelum peradaban, Lamakara Lowu bersemayam, tak berbentuk dan tak berwajah, namun menguasai ribuan suara dan memiliki avatar sebagai komodo raksasa sebesar gunung, mampu terbang tanpa sayap. Ia bukan makhluk, melainkan kehendak purba — hasrat kehancuran yang dibungkus dengan logika manis dan kebenaran separuh.
“Cinta adalah tipu daya. Perdamaian adalah penundaan perang. Kau tahu itu, Kandita... dan kini anak-anakmu yang buta akan mengulang kesalahanmu.”
Ia menyusup ke dalam mimpi Ratu Kandita, lalu berbisik lembut ke telinga Putri Pitaloka dan adiknya Larasari. Kadang suaranya terdengar seperti suara mendiang ayah mereka, kadang seperti suara pangeran Siliwangi yang mereka rindukan.
Dengan licik, Lamakara menyebar benih curiga:
“Larasari, mengapa Pitaloka yang mendapat mahkota, padahal kaulah yang menjaga ibu di pengasingan? Apakah kakakmu mulai menginginkan kekuasaan manusia lebih dari lautan?”
“Pitaloka, adikmu diam-diam menjalin cinta dengan manusia juga… apa kau pikir dia setia pada bangsa duyung? Atau ia hanya menunggu saat untuk menggulingkanmu?”
Sementara itu, Lamakara menyamar sebagai penasihat spiritual di Surupala, berwujud pria tua bijak yang dipanggil Resi Malam, dan mulai mempengaruhi Raja baru— yang kini penuh dendam.
“Lihatlah, pangeran… Kandita sudah mengembalikan anaknya ke tahta. Mereka memperkuat armada bawah laut. Kau pikir mereka ingin damai? Tidak. Mereka sedang menunggu untuk menghancurkan Surupala dari dasar lautan.”
“Pitaloka hanya mencintai kakakmu untuk menguasai daratan. Sekarang ia menjadi Ratu… apa yang mencegahnya menginvasi negerimu?”
Jayasena pun mempersiapkan pasukan Naga Besi, menciptakan kapal perang terbang dan pelontar petir hasil gabungan teknologi sihir dan manusia. Di laut, Larasari — yang merasa dilupakan kakaknya — mulai membangun armada duyung tempur dan menyusup ke wilayah manusia untuk menyabotase.
Perang dingin dimulai.
Di balik tirai diplomasi, Lamakara tertawa. Ia membuat Pitaloka merasa dikhianati oleh Jayasena, dan membuat Jayasena yakin Pitaloka ingin balas dendam atas kematian kakaknya. Ia mendorong Larasari untuk merasa layak menjadi ratu satu-satunya, dan mendorong Kandita agar kembali berkuasa demi “memperbaiki semua yang salah.”
Ketika Kandita, Pitaloka, dan Larasari bertemu di ruang rahasia kerajaan, mereka mulai saling menyalahkan. Kalimat mereka tajam, penuh kemarahan yang tidak mereka sadari berasal dari racun yang Lamakara tanamkan.
“Engkau sudah jadi manusia, Pitaloka. Kau tak tahu lagi apa artinya menjadi duyung sejati!”
“Aku tak pernah mengkhianati laut… tapi kalian, kalian tak pernah melihat air mata yang kusembunyikan!”
“Cukup! Kau semua bicara seakan perang akan menyelamatkan luka. Tapi perang hanya melahirkan lebih banyak Lamakara!”
Tapi terlambat.
Di saat mereka saling membenci, Lamakara telah merasuki tubuh panglima manusia dan jenderal laut Kandis, memicu serangan palsu di wilayah netral. Kapal terbakar. Tentara tewas. Rakyat berteriak. Dan dua dunia pun jatuh dalam perang.
XXX
Beberapa pekan berlalu sejak Pitaloka mendengar bisikan pertama. Tapi suara itu tak pergi. Justru semakin dalam, semakin halus, dan semakin sulit dibedakan dari pikirannya sendiri. Ia mulai menjauh dari ibunya, Ratu Kadita, dengan alasan “konsolidasi wilayah baru,” tapi sesungguhnya ia tengah membangun lingkaran kepercayaannya sendiri — satu demi satu.
Di istana megah dari karang merah dan kristal laut itu, kerajaan Kandis mulai retak. Tak kasat mata, tapi terasa oleh semua: udara menjadi lebih dingin, para bangsawan berbisik lebih pelan, dan duyung-duyung penjaga mulai tak saling mempercayai.
“Ibumu adalah simbol kekuasaan lama. Ia mengorbankan cinta demi stabilitas. Kau adalah darah baru. Kau yang membawa harapan perubahan. Tapi perubahan selalu menuntut keberanian… dan darah.”
Bisikan Lamakara menuntun Pitaloka pada satu rencana: mengadu domba dua adik kandung kekasihnya yang dulu—Pangeran Wiratama dan Putri Larasari—agar keduanya menyerang kerajaan Kandis dari luar.
Pitaloka mengutus utusan rahasia ke daratan Surupala, dengan pesan palsu:
“Ratu Kadita menyembunyikan senjata pusaka laut yang membunuh Siliwangi. Dia berniat menggunakannya untuk menghancurkan Surupala. Hanya Larasari dan Wiratama yang bisa mencegahnya. Jika tidak bertindak sekarang, semua manusia akan tenggelam.”
Sementara itu, di Kandis sendiri, Pitaloka mengatur sidang istana untuk secara perlahan mengambil alih kekuasaan dari ibunya, dengan alasan ibunda terlalu “letih dan labil secara spiritual.” Kadita yang mulai lemah karena pengaruh Lamakara, tak sepenuhnya menyadari bahwa putri yang ia sayangi tengah merampas tahtanya sedikit demi sedikit.
Namun yang tidak disadari oleh Pitaloka—Lamakara Lowu juga mulai membisikkan hal yang sama pada Larasari dan Wiratama. Masing-masing mulai merasa ibunya dibunuh oleh Kadita, atau bahwa Pitaloka ikut terlibat dalam konspirasi. Kebencian yang diwariskan kini menjadi senjata utama Lamakara.
“Biarkan mereka saling mencintai, lalu saling membunuh. Karena hanya dari kehancuran cinta, Lamakara akan bangkit sempurna.”
XXX
XXX
Di tengah medan perang semesta yang menggetarkan tujuh langit dan sembilan bumi, ketika langit retak dan bintang-bintang redup, sebuah kenangan purba menembus waktu dan masuk ke dalam kesadaran Jayasena yang tengah bertarung mati-matian.
Suara itu bukan suara Sanghala, bukan pula suara pikirannya sendiri. Suara itu datang dari relung terdalam darahnya—suara leluhur:
“Dengarlah, Jayasena. Kau bukan hanya pewaris mahkota. Kau pewaris darah langit.”
Seketika, Jayasena melihat penglihatan kuno: sebuah medan perang zaman primordium, ketika alam semesta masih diselimuti kabut suci, sebelum kata-kata pertama diucapkan dan sebelum waktu mengalir.
Di tengah kekacauan antara makhluk awal dan kehampaan, berdirilah La Patiganna, Sang Dewa Cahaya, menghunus tombak petirnya dan menantang Lamakara Lowu yang ketika itu masih berupa naga kabut raksasa dengan tujuh kepala dan ekor tak berujung.
Pertempuran berlangsung seribu tahun, dan akhirnya, La Patiganna menang, memaku tubuh Lamakara Lowu ke dalam jurang kekosongan, dan bersumpah takkan pernah mencampuri urusan dunia lagi.
Namun sebelum terjatuh, Lamakara Lowu mengutuknya:
“Darahmu akan menumbuhkan kerajaan di Alekawa. Dan kerajaan itulah yang akan kuhancurkan dari dalam, bukan dengan perang, tapi dengan cacing-cacing pikiran dan racun kehendak!”
Setelah kemenangan itu, La Patiganna turun ke dunia, menjadikan anaknya La Toge’ Langi’ sang manusia setengah dewa yang juga berjasa mengalahkan Lamakara Lowu menjadi raja pertama dengan gelar Batara Guru yang berarti “Orang yang Turun dari Langit.” Ia mendirikan Surupala, kerajaan cahaya pertama di dunia, tempat di mana hukum, harmoni, dan kemurnian ditegakkan.
Setiap keturunannya mewarisi bukan hanya mahkota, tapi juga sebagian kekuatan langit—dan kutukan Lamakara Lowu yang terus mengintai.
Kini jelas, mengapa Lamakara Lowu membisik ke batin Pitaloka, mengapa ia memanipulasi konflik keluarga dan cinta, dan mengapa ia mencurangi permainan dadu. Ia tak hanya ingin menguasai Surupala. Ia ingin membalas dendam atas kekalahannya di awal penciptaan.
Setelah melihat wahyu itu, Jayasena berlutut, darahnya mendidih, bukan oleh amarah, tapi oleh kesadaran.
“Surupala bukan hanya kerajaanku... ia adalah perwujudan janji langit terhadap dunia.”
Namun yang paling tragis: Pitaloka adalah bagian dari Surupala juga.
XXX
Teman teman yang aku bacakan pada kalian barusan adalah Epik mitologi kuno tentang Legendarium Bhavisa Tatabanua, kisah epik besar dari peradaban kuno Sundalandiawipa di bumi Alekawa. Mitologi ini hampir lenyap oleh sejarah,hanya teks tentang kisah penciptaan dunia dan para dewa yang berhasil diselamatkan, tidak ada kisah pahlawan atau pertempuran besar seperti perang Bharatayuda di Mahabarata, seakan akan ini adalah kanvas kosong yang terbuka bagi siapa saja, Perang besarnya mungkin saja bisa terjadi di masa lalu atau bahkan di masa depan.
Aku tinggal di kota Margahayu, United Kingdom of Surupala sebuah kerajaan bergaya abad pertengahan dengan teknologi futuristik yang membentang dari sabang sampai Merauke.
Namaku Arman, aku berasal dari Keluarga Bangsawan Bangkrut di kerajaan Surupala, padahal kakek dan nenekku dulunya adalah Adipati di kota Wentira, hak bangsawan mereka dicabut dan tanah mereka dirampas oleh kerajaan karena mereka dituduh ingin menggulingkan raja serta mempraktekan ilmu hitam, kini keluarga Kertajaya yang dulunya dianggap sebagai keluarga terpandang menjadi nama yang memalukan dan tabu di seluruh kerajaan, ayahku yang pergi meninggalkan nenekku memilih menjadi rakyat biasa, menikahi ibuku,menjadi pengusaha dan menghapus nama Kertajaya dari nama anak keturunannya, aku tak begitu paham sebesar apa konflik yang terjadi antara ayahku dan nenekku, tapi bahkan ayahku tak mau bertemu kembali dengan nenekku sampai pada hari kematian nenekku. Ayahku kabur dari istana keluarga bangsawan Kertajaya dan menikahi rakyat jelata tepat beberapa hari sebelum kastil keluarga itu disita oleh pihak kerajaan.
Kedua kakek nenekku memang memiliki reputasi yang cukup buruk di akhir masa jabatannya, mulai dari korupsi, membangkang terhadap raja hingga melakukan skandal pembunuhan ke rakyat biasa.
Namun aku pernah dengar rumor jika nenek dan kakekku yang menyimpan dendam pada kedua orangtuaku menjadikanku tumbal untuk ritual ilmu hitam,konon nenek dan kakekku memang gila harta hingga rela mempertaruhkan nyawa cucunya sendiri, jiwaku konon dipersembahkan pada sosok dewa kegelapan misterius, bahkan kata dewa tak cukup sopan untuk menggambarkan kemegahan sosoknya yang sangat agung dan keji, dialah Lamakara Wolu, Lamakara Wolu yang berwujud sebagai komodo sebenarnya cuma manifestasi dari entitas purba yang lebih tua dari Sanghala sendiri yang tak suka keteraturan yang diciptakan Sanghala.
Bisa dibilang aku adalah titisan Lamakara Wolu,tapi itu bukan anugrah layaknya menjadi titisan dewa lain,bayangkan aku sebagai wadah atau inang dan Lamakara Wolu adalah virus, bisa dibilang aku adalah orang pertama yang terjangkit virusnya, orang pertama yang terjangkit oleh kehendak purba yang penuh nafsu akan kekacauan, nantinya virus itu akan menyebar ke seluruh dunia dan semuanya salahku karena tak bisa mengendalikan tubuhku yang juga di bawah kendali Lamakara Wolu
Aku hari ini sedang berkunjung ke bekas kastil keluarga Kertajaya yang kini menjadi Musum (Kastil terpencil di pinggiran kota yang bahkan tidak disita oleh kerajaan ).. Ada kitab daun lontar yang sudah sobek,banyak prasasti yang sudah hilang termakan usia atau dirampok oleh pedagang barang antik di pasar gelap, jika bukan karena usaha leluhurku mitologi ini mungkin akan menjadi semacam lost media atau hilang sama sekali dari peradaban manusia. Diantara semua relik aneh yang berhubungan dengan ilmu hitam ada sebuah peta kuno misterius yang menggambarkan sebuah hutan.
Di hutan terlarang di kerajaan Surupala yang kini dikenal sebagai Kamyaka, hiduplah Ranggah Dahana, pelayan Lamakara Wolu yang berhasil dikurung dalam penjara magis yang tersembunyi di dalam gunung tertinggi Hutan Kamyaka. Namun, kekuatannya tidak benar-benar lenyap.
Ranggah Dahana , dewa yang menolak tatanan ilahi , bangkit dengan kekuatan kegelapan yang mengerikan. Ia ingin menaklukkan seluruh bumi dan menindas semua kehidupan di sana. Untuk menghentikannya, La Patingana dan L Tonge Lang bersatu dan menggunakan empat Senjata Dewa yang legendaris Bernama Keris Arcapada.
Aku ingin menceritakan sedikit kisah masa kecilku dulu saat seorang anak Kelas 4 SD yang tinggal di pinggir jalan, merasa kesepian karena rumahku sepi. Terbiasa membaca komik superhero, aku merasa bosan dengan kehidupan sehari-hariku yang monoton.
Meskipun menyukai komik superhero, aku tidak tertarik pada pahlawan yang selalu menang. itu membuatku bosan. Mereka terlalu sempurna, terlalu baik, terlalu tak terkalahkan dan membuat semua cerita ber
akhir klise. Aku lebih terpesona pada penjahat super yang terlihat keren dan selalu memberikan tantangan nyata bagi pahlawan.
Tapi… ada masalahnya. Ada bisikan dalam diriku yang selalu menahan langkahku. Ketika kulihat seseorang kesulitan, ketika kulihat penderitaan yang nyata, entah kenapa tanganku ingin menolong, walaupun pikiranku ingin sebaliknya. Aku bukan pahlawan. Aku bukan juga sepenuhnya penjahat. Aku hanyalah… aku. Arman.
Kebetulan aku mendapatkan kekuatan super ketika aku masih kecil.
Aku tak ingat banyak tentang masa kecilku. Ibuku bilang aku sering demam tinggi dan harus dibawa ke rumah sakit berkali-kali sebelum usia lima tahun. Kadang aku merasa seperti itu adalah cerita orang lain—terdengar jauh, tidak menyentuhku langsung. Aku sehat sekarang, meskipun ada saat-saat ketika aku merasa... ganjil. Seperti ada yang bersemayam dalam tubuhku. Tapi kupikir semua orang juga punya momen seperti itu, bukan?
Yang paling jelas dalam ingatanku adalah satu mimpi yang datang berulang kali sejak aku kecil.
Dalam mimpi itu, aku berada di hutan, sendirian, tubuhku kecil dan kurus. Udara dipenuhi aroma tanah basah dan bau laut yang samar. Aku berdiri di hadapan gua gelap yang menganga seperti mulut raksasa. Dari dalamnya keluar kabut hitam. Aku merasa takut, tapi juga tenang. Seperti sudah sering ke sana.
Sosok itu muncul dari dalam kabut. Matanya menyala merah, sisiknya hitam seperti malam, dan giginya tajam seperti tombak tua. Komodo raksasa, jauh lebih besar dari rumah. Ia berbicara tanpa membuka mulutnya.
“Kau datang, seperti yang dijanjikan.”
Aku selalu lupa kelanjutannya setelah itu. Mimpi itu berhenti di sana. Tapi aku selalu bangun dengan rasa lega, seperti habis menyelesaikan sesuatu yang penting.
Aku pernah tinggal di desa tempat aku lahir. Desa terpencil di sebuah pulau kecil di tenggara Nusantara. Aku tak punya banyak kenangan tentang tempat itu. Orangtuaku pindah ke kota Margahayu saat aku masuk SD,
Tapi begitu aku menginjakkan kaki di tanahnya, aku merasa... aneh. Seperti pulang. Penduduk desa memperhatikanku dengan cara yang aneh—mata mereka memancarkan hormat yang tak masuk akal. Seorang lelaki tua bahkan menunduk ketika aku lewat.
"Apa mereka mengenalku?" tanyaku pada paman yang tinggal di sana.
Paman hanya tertawa kecil. “Kau mungkin lupa, tapi mereka tidak.”
Aku tidak mengerti apa maksudnya, sampai malam itu, aku memutuskan berjalan ke hutan di belakang desa. Seperti ditarik oleh sesuatu.
Dan di sana aku menemukannya: gua itu.
Sama seperti di mimpiku.
Mulutnya masih menganga, kabut hitam masih keluar samar dari dalamnya. Jantungku berdegup kencang. Aku tahu aku harus masuk.
Di dalam, aku melihat simbol-simbol tua di dinding, digores dengan arang dan darah. Lambang spiral, matahari tertutup, dan seekor komodo besar. Di tengah gua, ada batu datar besar, seperti altar. Dan di atasnya, ukiran kuno berbunyi:
"Wadah telah dipilih. Lamakara Wolu hidup dalam darahnya."
Lalu aku ingat semuanya.
Aku ingat malam itu—usia lima tahun, tubuhku lemah karena penyakit. Ibuku menangis. Seorang dukun tua dibawa dari seberang pulau. Mereka membawaku ke gua ini. Aku ingat suara sang dukun:
“Jika tak disembuhkan, anak ini tidak akan hidup sampai dewasa.”
Dan aku ingat suara itu datang dari dalam kegelapan.
“Aku akan menyembuhkannya. Tapi tubuhnya jadi milikku.”
Mereka setuju.
Aku setuju.
---
Aku pulang ke kota dengan kepala penuh tanya. Aku masih hidup, sehat, kuat. Tapi aku bukan hanya aku. Aku adalah wadah. Lamakara Wolu hidup dalam darahku. Mungkin suatu saat dia akan bangkit sepenuhnya, menggunakan tubuhku sebagai pintu untuk kembali ke dunia.
Tapi untuk sekarang, kami hidup berdampingan.
Aku masih bisa hidup normal, bekerja, bercanda, mencintai. Tapi di malam hari, kadang aku bisa melihat matanya dalam cermin. Mata merah menyala dari kedalaman yang bukan milikku.
Dan kadang aku bertanya dalam hati:
“Apa yang harus kulakukan ketika waktunya tiba? Saat dia bangkit sepenuhnya?”
Tapi suara itu hanya tertawa di dalam kepalaku.
Tawa komodo raksasa yang sudah lama menunggu.
---
---
Setelah kunjungan ke gua itu, segalanya berubah. Bukan dalam cara yang dramatis atau menakutkan seperti di film-film. Perubahan itu... lambat. Halus. Seperti air yang menetes terus-menerus pada batu, tak terlihat, tapi mengikis dengan pasti.
Suara itu mulai datang saat aku sendirian. Saat duduk di kamar gelap. Saat berjalan sendirian di malam hari.
Awalnya, suara itu seperti gema pikiranku sendiri. Lalu mulai menjadi sesuatu yang lain—dalam, berat, tua.
“Jangan percaya pada ingatanmu. Mereka menutupi yang sebenarnya terjadi.”
“Kau pikir itu sakit? Itu adalah kelahiran.”
“Mereka menyembahmu dalam diam, tapi mereka takut pada apa yang kau bawa.”
Aku mencoba mengabaikannya, tapi suara itu tak pernah pergi. Dan anehnya, aku tak takut. Bahkan aku mulai menantikannya.
Aku mulai melihat perubahan kecil pada diriku.
Saat seseorang mencoba merampas dompet seorang ibu tua di halte, aku mengejarnya tanpa berpikir, dan... aku terlalu cepat. Terlalu kuat. Terlalu ganas. Saat aku menangkapnya, aku hampir menghancurkan lengan pria itu. Dan aku merasa puas.
Dalam refleksi jendela, aku melihat wajahku sendiri—tapi mata itu... mata komodo.
“Kau bukan manusia seutuhnya lagi,”
bisik suara itu.
“Kau lebih. Kau pengingat.”
Akhirnya, aku tak tahan lagi. Aku berbicara langsung padanya.
“Apa sebenarnya kau?”
Dan dia menjawab.
“Aku adalah yang pertama disembah di antara bintang-bintang dan gunung-gunung. Aku adalah kekuatan yang dipuja oleh para leluhurmu sebelum nama-nama mereka punah bersama karang dan ombak. Mereka memanggilku Lamakara Wolu: delapan bentuk kehendak kegelapan.”
“Dan kau adalah tubuh baruku. Tapi jangan takut—aku tidak mengambil alih. Aku menyatu.”
Aku merasa mual. Tapi juga... merasa utuh.
Sejak itu, kami mulai berbicara lebih sering. Seperti dua pribadi dalam satu tubuh. Aku tetap aku, tapi dia juga ada. Dan semakin lama, aku mulai sulit membedakan mana pikiranku dan mana pikirannya.
Aku mulai membaca naskah-naskah tua,teks Austronesia yang tak pernah kupelajari tapi entah kenapa bisa kubaca. Aku mulai menggambar simbol-simbol yang muncul dalam mimpi. Aku menulis kata-kata dalam bahasa yang tak diajarkan siapa pun.
Lamakara ada dalam darahku, ya, tapi sekarang juga dalam pikiranku.
Dan suatu malam, dalam pantulan air di kamar mandi, aku tidak melihat wajahku lagi.
Aku melihat seekor komodo raksasa. Matanya menyala. Senyumnya mengejek.
Dan aku tidak panik.
Aku tersenyum kembali.
“Sudah waktunya,” kataku, dan dia menjawab dalam suaraku sendiri:
“Kita sudah satu.”
Wadah, dan Yang Tak Pernah Tidur
Seluruh tubuhku terasa seperti diisi ribuan petir mini. Rambutku langsung berdiri, jantungku berdetak kencang, dan dunia… menjadi gelap.
Aku pingsan.
Aku tak ingat apapun setelah itu kecuali beberapa minggu kemudian saat aku bermain di taman sednirian: aku tergelincir dari ayunan dan jatuh menimpa tanah, tapi bukannya sakit, aku merasakan dorongan aneh mengalir dari telapak tangan dan kakiku ke permukaan tanah. Rasanya seperti… bumi sendiri mendorongku. Aku meloncat, melayang, dan tiba-tiba meluncur di atas permukaan datar taman tanpa menyentuh tanah dengan cara biasa.
Menjadi titisan bukan berarti aku keturunan atau perwujudan langsung dari Lamakara Wolu, tapi itu artinya aku terlibat kontrak hidup mati dengan dia, dia meminjamkan kekuatannya padaku, manusia yang lemah dan tak berguna. Aku hampir putus asa untuk lepas dari pengaruhnya yang berusaha merenggut jiwaku perlahan-lahan. Aku sangat membenci dia melebihi apapun aku bersumpah suatu saat nanti bisa terlepas dari pengaruhnya.
Sejak saat itu, aku bisa bergerak dengan cara yang aneh—meluncur, memantul, bahkan mundur, melintasi permukaan vertikal seolah gravitasi hanya sebatas saranan. Tapi kekuatan fisik itu bukan satu-satunya anehku. Aku bisa mendengar warna—setiap nada biru atau merah seperti musik yang bergetar di telingaku. Aku bisa melihat suara; riuh burung atau langkah kaki tetangga meninggalkan jejak cahaya yang menari di udara. Dan yang paling aneh… aku bisa melihat kenangan masa lalu orang lain. Hanya dengan menyentuh benda yang pernah mereka pegang, aku disuguhi potongan hidup mereka, tawa mereka, luka mereka, rahasia mereka.
Mungkin itulah yang membuatku tidak bisa menjadi penjahat sepenuhnya. Aku terlalu banyak tahu, terlalu banyak merasakan. Setiap kali aku ingin melakukan sesuatu yang gelap, aku menyentuh dunia ini dan merasakan kehidupan di dalamnya, dan bisikan kecil itu muncul lagi: “Bantu mereka.”
Hidupku di pinggir jalan selalu terasa sepi. Orangtuaku sibuk bekerja, dan teman-teman sepertinya tak pernah ada waktu untukku. Sementara aku, Arman, tenggelam dalam dunia komik superhero yang membawa warna kehidupan yang tak kunjung hadir dalam keseharianku.
Hari itu di kelas terasa berbeda. Aku duduk termenung, pikiran penuh dengan bisikan yang terus menghantui. Mata merah dari dalam diriku masih berkilat samar di balik kelopak mata, dan aku merasa ada sesuatu yang ingin kuungkapkan—tapi belum tahu apa.
Di sudut ruangan, seorang teman sekelas mendekat. Namanya Wildan.
Dia berbeda. Tidak terlalu populer, tapi ada aura yang sulit dijelaskan. Tatapannya dalam dan tenang, seolah menyimpan rahasia yang jauh lebih tua daripada usianya.
“Kau tampak terganggu,” katanya pelan.
Aku mengangkat bahu, mencoba tersenyum.
“Aku cuma capek,” jawabku singkat.
Dia tersenyum samar, lalu duduk di sampingku. “Aku tahu sesuatu tentangmu,” katanya.
Aku menatapnya bingung.
“Aku juga pernah merasakan yang kau rasakan. Suara-suara, bayangan yang tak terlihat, berat yang kau bawa.”
Aku terdiam, jantung berdebar. “Siapa kau sebenarnya, Wildan?”
Dia menghela napas, kemudian menatapku penuh arti. “Aku titisan Ranggah Dahana, pelayan dan penjaga Lamakara Wolu. Tugasku adalah menjaga keseimbangan antara manusia dan kekuatan gelap itu.”
Kata-katanya membuat darahku berdesir.
“Aku di sini bukan untuk melawanmu,” lanjutnya, “tapi untuk membantumu. Kau bukan hanya wadah, kau juga kunci. Dan aku... aku adalah penjaga yang ditugaskan untuk melindungimu dari kegelapan yang tak bisa kau kendalikan.”
Aku memandangnya lama, mencoba mencerna semua ini.
“Kau merasa suara itu di kepalamu seperti bisikan yang menyesatkan, tapi itu bukan hanya keburukan. Lamakara Wolu adalah kekuatan purba, tapi dia juga bagian dari keseimbangan alam.”
Wildan merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah liontin kecil berbentuk komodo yang terukir halus.
“Ini pemberian leluhurku. Ketika kau merasa kehilangan kendali, gunakan ini. Aku akan selalu ada di dekatmu.”
Aku menggenggam liontin itu erat, merasakan getaran dingin yang mengalir ke tanganku.
Sejak hari itu, Wildan dan aku menjadi tak terpisahkan.
Dia mengajarkanku cara berdamai dengan suara dalam kepalaku, cara membaca tanda-tanda alam yang dulu kupikir hanya halusinasi. Dia membantuku mengendalikan kekuatan yang mulai muncul tanpa takut.
Namun, aku tahun ini baru permulaan. Bersama Ranggah Dahana, aku harus menghadapi takdirku sebagai wadah Lamakara Wolu — dan konflik yang mungkin akan menghancurkan segalanya.
XXX
United Kingdom of Surupala adalah sebuah keajaiban politik di dunia modern, lahir dari kompromi antara warisan kuno dan tuntutan demokrasi. Negara ini berbentuk konfederasi unik, di mana kekuasaan dibagi antara Keraton Surupala yang dipimpin Raja, dan Wilayah Parlemen Utara yang dikelola oleh Perdana Menteri pilihan rakyat.
Raja Surupala menguasai tanah keraton—wilayah kecil namun sakral—pusat kebudayaan dan simbol keagungan sejarah. Di sinilah berdiri istana beratap emas dengan menara menjulang yang menyimpan pusaka-pusaka kuno. Sementara itu, Perdana Menteri memimpin sebagian besar tanah Surupala di utara—wilayah yang luas, makmur, dan menjadi tulang punggung ekonomi negara.
Keduanya memiliki kedaulatan terpisah, tetapi berbagi tentara nasional yang sama, satu bendera, dan satu perjanjian pertahanan. Perpaduan ini membuat Surupala selama puluhan tahun dikenal sebagai negara yang seimbang—monarki yang berjalan beriringan dengan demokrasi.
Namun, keseimbangan itu hancur pada suatu sore di musim hujan. Di ruang permainan istana, Pangeran Jayasena, ahli strategi muda namun memiliki kelemahan terhadap judi dadu, menerima tantangan dari Putri Pitaloka, penguasa Kerajaan Kandis sekaligus pewaris takhta bangsa putri duyung Laut Selatan. Taruhannya absurd—tanah keraton melawan harta karun laut dalam.
Dadu bergulir… dan Jayasena kalah. Sesuai hukum kehormatan bangsawan Surupala, ia harus menepati janji. Tanah keraton—jantung bersejarah Surupala—diserahkan kepada Kerajaan Kandis dan bangsa putri duyung. Para bangsawan menangis, rakyat marah, tapi hukum adat lebih tua dari kemarahan mereka.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak Jayasena, putra Pangeran Siliwangi, kalah dalam permainan dadu yang mematikan nasib. Ia telah menjalani pengasingan tanpa keluhan, mengembara dari satu gunung suci ke samudra keramat, dari gua para dewa hingga lembah para roh. Ia mendalami ilmu kesunyian, menahan amarah, dan menunggu waktu.
Kini waktunya tiba.
Pada perayaan Dekade Kesepakatan, Jayasena kembali ke istana Surupala, didampingi hanya oleh dua pengikut: seorang pendeta buta dari Pegunungan Kelam, dan seorang bocah misterius yang disebut anak dari naga langit.
Di hadapan ratu Pitaloka dan seluruh bangsawan Surupala, Jayasena menyampaikan tuntutannya:
"Waktuku telah genap. Mahkota yang dicabut melalui permainan, kini harus dikembalikan menurut hukum leluhur."
Namun Pitaloka menatapnya dingin, kekuasaan telah membentuknya menjadi ratu dengan kehendak baja.
"Tidak, Jayasena. Sepuluh tahun telah mengubah segalanya. Aku takkan mengembalikan hak yang sudah gugur. Surupala kini bukan wilayah Kandis, dan mahkota bukan milik masa lalu."*
Perang pun pecah.
Tapi bukan perang biasa.
---
Apa yang dimulai sebagai konflik antara dua kerajaan berubah menjadi benturan antara dua kekuatan metafisik.
Jayasena, dalam pengembaraannya, telah menerima penglihatan dari Sanghala, sang harmoni pencipta. Ia telah diangkat sebagai Avatar Cahaya, titisan baru kekuatan yang menolak ikut campur selama ribuan tahun. Ia kembali bukan sebagai pangeran, tapi pembawa keadilan semesta.
Sementara itu, Pitaloka telah sepenuhnya berada dalam pengaruh Lamakara Lowu, yang menanamkan kekuatan gaib padanya, memunculkan makhluk-makhluk hitam dari cermin dunia, dan membangkitkan monster-monster api dari reruntuhan Sundalandia.
Pengikut Sanghala bangkit.
Para kera putih dari Gunung Tarasu, pengikut Sanghala yang pernah berdiam dalam kabut suci.
Para Elang Abadi dari Tunggul Awar, membawa pesan langit.
Manusia Perak dari Laut Tengah, prajurit bisu penjaga keseimbangan.
Pengikut Lamakara Lowu merajalela:
Grandong, monster bergigi seribu, merobek lembah dengan satu injakan. Bangsa Bajau purba roh dendam dari masa silam yang terikat janji pada Lowu. Orang bati dan Ahool serta Dewa-dewa jatuh, makhluk langit yang membelot pada cahaya demi kebebasan mereka sendiri.
---
Di puncak konflik, pertempuran terakhir pecah di Langit Ketujuh, tempat antara dunia manusia dan dunia asal para dewa.
Jayasena berhadapan langsung dengan Pitaloka, kini berubah menjadi avatar kegelapan. Rambutnya telah memutih seperti iblis, matanya menyala merah — bukan lagi ratu, tapi tangan kanan Lamakara Lowu.
Pertempuran mereka memecah bintang-bintang, menciptakan kilat petir dalam dimensi waktu yang membeku.
Jayasena berteriak:
"Kau bukan lagi Pitaloka yang dulu! Ini bukan kehendakmu, tapi tipu daya bayangan!"
Pitaloka membalas:
"Aku adalah aku! Cahaya terlalu lemah untuk melindungi dunia. Lebih baik dunia tunduk dalam kekuasaan Lamakara daripada dibiarkan terbakar dalam kehampaan!"
---
Saat pertempuran mencapai puncak, Sanghala turun langsung — bukan sebagai dewa, tapi sebagai suara dalam hati Jayasena.
Dan Lamakara Lowu muncul sepenuhnya, menampakkan wujud aslinya: komodo raksasa sebesar gunung yang mampu terbang tanpa sayap, mencengkeram waktu dengan cakarnya, menertawakan harmoni, menantang Sanghala di hadapan semesta.
"Hari ini, tak ada lagi kebaikan dan kejahatan. Hanya kehendak yang menang!"
Cerita berakhir saat Jayasena dan Pitaloka saling tebas di tengah medan perang kosmik, dan langit retak menjadi dua. Sebuah pertanda bahwa semesta ini akan memasuki zaman baru — zaman tanpa kepastian, saat semua kepercayaan diuji dan sejarah kembali ditulis dari awal.
Nasib Wilayah Parlemen ternyata lebih buruk. Saat keraton sibuk menghadapi krisis, dari utara datang Kepangeranan Suci Eurasia Romanov—kerajaan vampir kuno yang memerintah dari istana salju dan bercita-cita menguasai jalur logistik Asia Tenggara. Pasukan vampir menyerbu kota-kota perbatasan dengan kapal udara lapis baja, memutus jalur perdagangan, dan memaksa Parlemen menyerah.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, Surupala terbelah dua: bagian selatan menjadi wilayah air yang diperintah Putri Pitaloka dan armada putri duyung, sedangkan bagian utara menjadi koloni vampir Romanov.
Di tengah kekacauan, rakyat bertanya-tanya:
Apakah Surupala masih ada… atau kini hanya tinggal nama di lembar sejarah?
Ribuan lilin hitam berkelip tak serempak dalam aula bawah tanah kastil kuno yang dibangun dari tulang beku raksasa. Di tengah altar batu berlumur darah segar, Putri Zaleska Yakhsadewa berdiri dalam gaun sutra hitam yang membara seperti asap. Mahkotanya melayang setengah inci di atas rambut peraknya, dan kulitnya pucat bagai pualam yang direndam malam.
Di tangannya, gulungan daun lontar kuno, dicuri dari perpustakaan terkutuk di Jawa. Dalam bahasa Nusantara Purba yang telah lama dilupakan, ia membacakan mantra dengan aksen asing namun penuh niat:
“Wahai Lamakara Wolu, Sang Kegelapan yang bangkit dari Lautan Tawar!
Penjaga pusaran kelam, penelan pulau,
Datanglah dalam nyalaku—berikan aku izin menaklukkan tanah Garuda!”
Langit retak.
Bumi menggeliat.
Dan dari tengah altar, muncul asap hitam pekat yang membentuk sosok tinggi menjulang—makhluk setengah bayangan setengah raksasa reptil, dengan kepala naga laut, mata kosong membara, dan jubah berkabut hitam yang selalu bergerak, seolah-olah di dalamnya terkandung malam tanpa akhir.
“Siapa yang memanggil Sang Penjaga Lendir Tua dari Perut Samudra?”
Zaleska berlutut.
“Aku—Zaleska Blavatsky, Ratu vampir Eurasia, kaum siluman penghisap darah.
Dalam mimpiku, seorang anak manusia bersayap api dari tanah Nusantara—titisan Garuda—akan membunuhku.
Tapi aku tak terima ditaklukkan oleh makhluk fana.
Bantu aku menaklukkan Nusantara, agar masa depan berpihak pada bayang-bayang!”
Lamakara Wolu tertawa. Suara tawa itu terdengar seperti ribuan jangkrik raksasa yang menggeliat dari liang kubur.
“Aku pun membenci Garuda. Ia musuhku sejak langit pertama.
Maka kuizinkan kau dan pasukanmu—tapi kau harus bersumpah:
Jadikan Nusantara tanah abadi bagi malam.
Kuberi kau bala tentaraku, dan kuturunkan… Komodo-Ku.”
XXXX
Suasana hening terputus oleh suara tajam pembawa berita melalui saluran TV, mengguncang jiwa pemirsa yang tidak bersiap.
"DARURAT (Bukan Simulasi)!" suara itu bergema, memenuhi ruang tamu dengan ketegangan yang tak terduga. Mata semua yang menatap layar TV terpaku, terikat oleh kata-kata yang mengancam.
"Invasi Romanov ke Surupala, United Kingdom 00..." suara itu terdengar gemetar, memancarkan aura ketakutan yang menggigilkan. "Ini adalah siaran terakhir atas mandat Perdana Mentri United Kingdom of Surupala. Jika Anda menyaksikan ini, maka Pemerintahan United Kingdom of Surupala telah usai. Pemerintahan telah diambil alih oleh entitas bukan manusia."
Setiap kata merambat seperti belati menusuk-nusuk ke dalam hati setiap penonton yang terpaku. Ketakutan melanda, dan suasana mencekam merajai ruangan.
"Kami berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan rakyat. Berlindunglah dan hindari bepergian keluar," lanjut suara itu, menyampaikan pesan yang membuat bulu kuduk merinding.
"Lagu Surupala Raya akan segera dikumandangkan untuk terakhir kalinya."
Dengan kata-kata terakhir itu, keheningan melanda. Matapun terpaku, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Di kegelapan ruang tamu, hanya suara angin malam yang menggema, menciptakan suasana horor yang tak terlupakan. Sesuatu yang tidak manusiawi telah menyusup ke dalam kehidupan mereka, merenggut kedamaian dengan kekejaman yang tak terbayangkan.
United Kingdom of Surupala ingin bergabung dengan Humanity Alliance Pact, sebuah aliansi yang dibentuk negara-negara adidaya untuk membendung invasi vampir Romanov yang telah menguasai Eropa Timur, Rusia, dan Tiongkok, dalam upaya menggantikan dominasi ras Homo sapiens di Bumi. Namun, Romanov meminta agar aliansi tersebut tidak pernah menerima Surupala.
Romanov marah atas keinginan Surupala, yang dianggap membahayakan kepentingannya di batas wilayah Asia Tenggara. Romanov ingin membangun pangkalan militer di sekitar Samudra Hindia dan daratan utama Asia Tenggara. Mereka khawatir Surupala akan dijadikan pangkalan militer negara-negara Barat untuk melawan Eurasia Romanov.
Krisis ini dipicu oleh tensi di Samudra Hindia dan Indocina sejak akhir abad ke-22. Perjanjian damai yang tak efektif memperingatkan Romanov tentang sanksi ekonomi dari Barat jika melakukan serangan. Ketegangan ini juga terkait permusuhan antara Romanov dan Republik Federasi Asia-Afrika (RFAA), di mana Romanov mengklaim bahwa bergabungnya Surupala ke Humanity Alliance Pact mengancam kedaulatan negaranya.
Meski begitu, kenyataannya Romanov mengincar Surupala sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia pasca-perang nuklir, untuk dijadikan ternak darah manusia dan objek pemuas nafsu darah bagi para vampir.
Mereka juga ingin menguasai berbagai bahan baku dan sumber daya alam untuk keperluan militer—seperti nikel, bijih besi, minyak bumi, dan uranium di Irian Barat—guna mendukung perang melawan Oceania dan RFAA, dua negara adidaya manusia yang menjadi musuh mereka.
Sebagai negara dengan status disputed territory yang diperebutkan tiga negara superpower karena kekayaan sumber daya alamnya, United Kingdom of Surupala mengendalikan teknologi dan tambang uranium di Papua Barat untuk menjaga netralitasnya sebagai negara kecil merdeka di tengah tekanan negara-negara besar. Surupala juga berupaya mendapatkan pengakuan kedaulatan dari negara-negara lain yang membutuhkan sumber dayanya untuk pengembangan mesin tempur bertenaga nuklir.
Surupala sempat memberlakukan embargo terhadap energi uranium, karena tuntutannya untuk menghentikan pelatihan militer tidak dipenuhi. Hal ini menyebabkan Eurasia Romanov mengalami krisis sumber daya, hingga akhirnya memaksa mereka menginvasi Surupala. Surupala kemudian memperbarui reformasi perjanjian damai terkait teknologi uranium.
Romanov juga mengusulkan reformasi politik perairan hangat di Samudra Hindia, mencari pelabuhan yang tak membeku di musim dingin, serta izin untuk membangun pangkalan militer guna melawan RFAA dan Oceania. Pejabat Surupala menyebut langkah ini sebagai tekanan diplomatik dari Romanov terhadap Surupala . Namun, Perdana Mentri Surupala menentang tekanan tersebut dan mempertimbangkan untuk mengajukan kasus ini ke pengadilan militer internasional.
Kementerian Luar Negeri Romanov mengklaim bahwa Surupala mendukung terorisme di Kuala Lumpur, Kerajaan Melayu, dan bahkan membentuk organisasi sihir bawah tanah yang memburu vampir.
Karena laporan militer di perbatasan semakin intens, isu serangan pun mulai bergulir. Romanov menuntut RFAA menghentikan semua aktivitas militer di wilayah Surupala . Citra satelit menunjukkan penumpukan pasukan Romanov di perbatasan, dan sejumlah ledakan mulai terjadi di beberapa kota. Romanov memulai latihan militer besar-besaran di Laut Natuna. Barat meyakini bahwa Moskow telah memobilisasi 100.000 tentara, termasuk tank dan perangkat keras militer lainnya, di daratan utama Asia Tenggara.
Semua angkatan laut dikerahkan, dan latihan ini juga dilakukan di darat. RFAA pun "turun gunung", menginisiasi negosiasi antara kedua belah pihak. Mereka juga menerima Wakil Perdana Mentri Kerajaan Surupala yang selamat untuk mendirikan pemerintahan pengasingan sebagai langkah antisipasi.
Namun, Menteri Luar Negeri Romannov menyatakan:
“Semua histeria yang terjadi antara Romanov dan Surupala telah ditargetkan untuk mengalihkan isu dari keamanan negara kami terkait Kepangeranan Suci Eurasia Romanov. Sebenarnya tidak ada yang terjadi dan kami tidak berniat menyatakan perang. Itu gagasan yang tidak masuk akal bagi kami.”
Romanov membantah rencana penyerangan kala itu. Namun, intelijen Barat menyebut bahwa Eurasia Romanov memang sedang mempersiapkan serangan.
“Kami melihat ekspansi Humanity Alliance Pact yang telah berjalan selama lebih dari 30 tahun, dan kini infrastruktur mereka makin dekat ke perbatasan kami. Latihan militer CIS adalah untuk menjaga kedaulatan Romanov,” tambah Menteri Luar Negeri Romanov.
Commonwealth of Independent States (CIS) adalah upaya Eurasia Romanov untuk mengendalikan negara-negara bekas Kekaisaran Eurasia dan Uni Soviet, yang kini telah menandatangani perjanjian tunduk kepada Romanov, termasuk jajahan barunya seperti Surupala.
RFAA menyatakan bahwa pelanggaran terang-terangan Romanov terhadap hukum internasional merupakan tantangan langsung terhadap tatanan berbasis aturan global. RFAA mengklaim bahwa Romanov bertujuan menggulingkan pemerintah Indonesia, dan mengganti presiden dengan tokoh pro-Moskow melalui kekuatan militer. Kemungkinan besar, ini juga mencakup pendudukan wilayah oleh pasukan Romanov.
Romanov melakukan uji coba bom nuklir Tsar Bomba di daratan utama Asia Tenggara dan memaksa Surupala mengizinkan pembangunan pangkalan militer di sekitar kepulauan Samudra Hindia yang mengelilingi Surupala. Banyak personel luar negeri Indonesia diterjunkan ke zona konflik untuk menghadapi ancaman Romanov.
Romanov kemudian melakukan serangan udara ke Singapura, dengan tujuan mengendalikan dan mencegah sanksi ekonomi yang akan diberikan oleh Surupala–Persemakmuran ASEAN.
Jenderal dan bangsawan Romanov merencanakan serangan ke Sumatra dari sisi barat Selat Malaka, melewati Malaysia dan Singapura, untuk melumpuhkan pertahanan udara Surupala, karena di sana terdapat markas Angkatan Udara APRIS. Untuk mengecoh, Romanov lebih dulu mengirim kapal serang cepat ringan dua hari sebelumnya ke perbatasan Kepulauan Natuna dari arah Filipina, tempat pangkalan militer mereka berada, sehingga Surupala mengira invasi akan dimulai dari sana.
Akhirnya, Surupala mengerahkan kekuatan militernya ke Natuna. Sementara itu, pasukan vampir Romanov dengan leluasa menyapu habis Sumatra dan menghancurkan pangkalan di Pekanbaru. Pasukan Surupala berhasil dikecoh. Situasi diperparah oleh kenyataan bahwa sebagian besar kekuatan militer Surupala hanya terpusat di Pulau Jawa dan daratan Sundalandia—yang memang paling padat penduduk—untuk melindungi warga sipil.
Namun, hal ini berdampak buruk dalam menghadapi invasi. Markas militer, barak, bahkan pabrik persenjataan seluruhnya berada di Pulau Jawa. Potensi kekuatan militer Surupala gagal dimobilisasi secara efektif dan efisien karena wilayah yang terlalu luas dan tidak merata. Keamanan perbatasan pun rapuh, sehingga Surupala gagal mempertahankan diri dari invasi Romanov dari dua arah.
Lalu… kabut turun.
Kabut tebal—tak wajar—menyelimuti seluruh pantai Sanur hingga Pelabuhan Gilimanuk. Lalu dari balik kabut:
Pasukan Vampir Romanov muncul.
Mereka mengenakan jubah vampir putih kusam bertudung, wajahnya tak terlihat. Di tangan mereka: pedang sihir yang bergetar dalam warna ungu gelap dan senjata api bergaya Victoria dengan peluru kutukan.
Tanpa suara, mereka menyerbu.
Mereka tak melangkah—mereka ini melayang.
Peluru Angkatan Perang Kerajaan Surupala menembus tubuh mereka, tapi kabut menyerap semua—dan luka apapun sembuh seketika. Komandan Angkatan Perang Kerajaan Surupala berteriak:
“Mereka bukan manusia—HANTU! HANTUU!!”
Dan saat itulah, dari dasar laut, air meledak. Seekor Komodo raksasa hitam dengan punggung bersisik magma muncul—matanya menyala, mulutnya menyemburkan racun hitam pekat yang mencairkan tank baja seperti lilin.
Dan di langit, Lamakara Wolu sendiri turun, menghamburkan petir hitam yang menyambar pesawat Angkatan Perang Kerajaan Surupala hingga jatuh berjatuhan seperti bintang jatuh. Zaleska, memimpin serangan seperti ratu neraka dari pesawat induk.
Angkatan Perang Kerajaan Surupala mencoba melawan. Jet tempur menyerang dari udara. Sniper elit membidik kepala Zaleska. Rudal diluncurkan. Namun tiap ledakan hanya mempertebal kabut.
Para vampir membantai dengan senyap. Mereka menyelinap masuk markas komando, menusuk leher para jenderal dengan pedang sihir, lalu berubah menjadi kabut dan menghilang sebelum tertembak.
Lautan merah. Udara hitam. Tanah mendidih.
Dalam beberapa jam, Pangkalan Bali jatuh. Siaran berita dihentikan. Dan di ujung sore, di atas menara runtuh bekas Gedung Komando, Zaleska mengangkat bendera gelap elang kepala dua milik kekaisaran Eurasia yang juga dipakai oleh dinasti Romanov.
Di belakangnya, Lamakara Wolu berdiri, tubuhnya setinggi gunung, bayangannya menutupi seluruh Nusantara bagian selatan.
“Hari ini, cahaya telah kalah…” ujar Zaleska.
“Nusantara kini adalah tanah malam. Tanah darah. Tanah bayang-bayang.”
XXX
Dinasti Romanov Menguasai Tiongkok
Pasukan mereka berjumlah jutaan
Masalah negara ada di sini
Waktunya adalah tahun 2227
Kami tak takut apapun
Kamilah Pemuda Kerajaan Surupala
Keadilan dan kekuatan ialah kepercayaan kita
Seranglah mereka dan tunjukan pada mereka
Orang asing di pantai kepulauan Natuna
Itulah bangsa vampir Romanov
Orang orang yang sombong dan kurang ajar
Membunuh atau dibunuh
Marilah kita maju dengan kesetiaan pada rakyat
Marilah kita melatih senjata kita
Sekarang ini untuk negara kita
Mari kita angkat senapan kita
Hanya di laut Cina Selatan
Maju ke depan dan mendorong ombak ke samping
Kamilah tentara yang pemberani jadi kita harus melawan musuh kita
Kami akan menjadi pelindung negeri ini
Tuhan yang maha esa mengetahui semangat pemberani bangsa Indonesia
Tuhan marah dan membantu armada Kita membentuk ombak ganas
Melawan para musuh yang melawan negeri kita
XXX
Kekaisaran Ortodoks Eurasia Timur , pendahulu dari Kepangeranan Ortodoks Eurasia Romanov, pernah menjadi kekaisaran terbesar ketiga dalam sejarah dunia. Wilayahnya membentang lebih dari 22,2 juta kilometer persegi—hampir seluas Kekaisaran Mongolia—dan terbentang dari Finlandia di barat hingga Alaska di ujung timur. Dalam catatan sejarah manusia, hanya Imperium Britannia dan Kekaisaran Mongolia yang pernah menguasai wilayah lebih luas.
Memasuki abad ke-23, warisan kejayaan Kekaisaran Eurasia Timur itu dilanjutkan oleh Kepangeranan Ortodoks Eurasia Romanov. Kekuasaan para vampir Romanov meluas secara agresif dan mencakup wilayah-wilayah strategis dunia: Rusia, Eropa Timur dan Jerman Timur, Tiongkok, India, Jepang, Kazakhstan, Afghanistan, dan sebagian besar wilayah sekitarnya. Romanov pun menjelma menjadi salah satu negara adidaya, bersaing ketat dengan Republik Federasi Asia Afrika (RFAA), Oceania, dan negara-negara lain dalam blok barat.
Wilayah utama kerajaan vampir berada di Balkan, Eropa Timur, Siberia, dan sebagian Asia Timur hingga Asia Tenggara. Sementara itu, kekuatan manusia yang masih bertahan di bawah sistem pemerintahan totaliter menguasai seluruh benua Amerika, Greenland, dan Pulau Britannia. Afrika Selatan telah dikembalikan ke RFAA, sementara Australia—yang dahulu sempat direbut oleh Kekaisaran Pertama berabad-abad lalu—masih menjadi wilayah sengketa.
Meski Romanov merupakan sebuah Principality atau kepangeranan elektif—dipimpin oleh bangsawan yang dipilih langsung oleh rakyat—tidak semua wilayah anggota Konfederasi Eurasia adalah kerajaan. Beberapa tetap menjalankan sistem republik atau militeristik, meskipun tunduk kepada dominasi politik dan kekuatan militer Romanov.
Kepangeranan Romanov membentang dari Jerman Timur hingga Kutub Utara, termasuk juga daratan Tiongkok yang sebelumnya dikenal sebagai wilayah negara Eastasia. Setelah berhasil menaklukkan Dinasti Hongxian di Tiongkok, wilayah kekuasaan Romanov menjadi lebih besar daripada gabungan Oceania dan Republik Federasi Asia Afrika, dengan populasi yang bahkan melebihi Indonesia. Ketika Moskow dan Stalingrad dibom nuklir oleh Sekutu dalam Perang Dunia Ketiga, Romanov memindahkan ibu kotanya kembali ke Saint Petersburg.
Setelah invasi besar-besaran Romanov ke Asia Tenggara, United Kingdom of Surupala akhirnya jatuh. Pemerintahan yang tersisa berubah nama menjadi Kadipaten Agung Orde Naga, sebuah struktur boneka di bawah kendali Romanov. Hasil bumi dan kekayaan alam Indonesia dijarah besar-besaran dan dikirim ke Saint Petersburg. Invasi brutal ini memicu konflik internal yang dahsyat—Kerajaan Surupala pecah menjadi dua faksi utama dan terjebak dalam perang saudara yang semakin rumit, menciptakan segitiga kekuasaan antara Romanov, Faksi Konservatif Surupala, dan Faksi Demokratik Surupala.
Faksi Konservatif—yang mewakili sisa-sisa pemerintahan Parlemen Surupala—disebut pengecut dan korup karena memilih untuk melarikan diri ke pengasingan di Kairo, wilayah RFAA. Prerdana Mentri Surupala yang korup meninggal dunia tidak lama setelah memindahkan seluruh kekayaan negara ke luar negeri. Wakil perdana mentri menggantikannya dan mewarisi kebencian rakyat. Sementara petinggi militer dan pejabat lainnya hidup mewah di pengasingan, rakyat Surupala dibiarkan menghadapi penjajahan vampir sendirian.
Kekorupan ini berdampak fatal. Surupala kesulitan memproduksi senjata-senjata penting untuk perang melawan vampir—terutama senjata plasma dan sinar UV yang mematikan bagi makhluk malam itu. Bahkan pedang dan pisau yang seharusnya terbuat dari perak—logam yang menjadi kelemahan utama vampir—justru dibuat dari tembaga murah demi keuntungan pribadi. Akibatnya, meski Angkatan Laut RIS memiliki potensi besar, mereka dihabisi dengan mudah oleh armada Romanov.
Beberapa pejuang Surupala yang tersisa bahkan terpaksa menggunakan senjata kuno peninggalan keraton untuk melawan teknologi perang vampir yang jauh lebih maju.
Sementara itu, rakyat miskin yang tidak mampu melarikan diri ke RFAA terpaksa hidup menderita di tanah air yang telah dijajah. Mereka dijadikan budak dan ternak darah oleh para vampir penjajah. Anak-anak yatim piatu menjadi pemandangan sehari-hari, meratapi kehilangan orang tua mereka akibat perang dan perbudakan.
Di tengah kehancuran itu, Faksi Demokratik yang dipimpin mantan Panglima Jenderal Angkatan Perang Kerajaan Surupala, Notonindito mendirikan pemerintahan tandingan bernama Republik Demokratik Surupala Serikat (RDSS) di Surupala Timur dan Papua—wilayah terakhir yang belum jatuh ke tangan vampir, mereka ingin mendirikan republik dan menghapus monarki sepenuhnya, wilayah parlemen harus dipisahkan dari wilayah keraton yang kini dikuasai oleh Pitaloka. Mereka dianggap makar oleh pemerintah pengasingan dan menjadi buronan Agen Eksil Detektif Laskar Sembrani Liga Garuda, organisasi intelijen dari Faksi konservatif pengasingan.
Namun, Faksi Demokratik menolak untuk tunduk pada Faksi Konservatif yang dianggap telah menyerah tanpa perlawanan. Faksi konservatif bukan kaum bangsawan karena bangsawan hanya ada di wilayah keraton Surupala sedangkan merek adalah elit wilayah parlemen berupa pengusaha, politisi dan ptinggi militer. Tapi Faksi konservatif cenderung pro monarki.
Faksi Demokratik menarik mundur pasukan ke Papua Barat dan pulau-pulau di SurupalaTimur untuk mempertahankan benteng terakhir Surupala. Wilayah ini dipilih karena angkatan laut Romanov tergolong lemah dan tidak mampu mendominasi lautan luas di sekitar Kepulauan SurupalaTimur.
Romanov, meski unggul dalam kekuatan darat, memiliki kelemahan besar di laut dan udara. Tank-tank mereka adalah yang terkuat di dunia, dan infanteri vampir jauh lebih unggul daripada manusia. Tapi kemampuan angkatan laut mereka masih kalah bahkan dibandingkan negara kecil seperti Surupala, dan kemampuan udara mereka terbatas karena hanya sebagian bangsawan vampir yang bisa terbang—itu pun tidak sekuat pesawat tempur futuristik milik manusia. Vampir pun tidak bisa berenang lama di laut dalam tanpa bantuan kapal induk, menjadikan wilayah-wilayah laut seperti Papua relatif aman dari invasi langsung.
Jika saja petinggi militer dan pejabat Surupala di masa lalu lebih kompeten, tidak korup, dan benar-benar membangun persenjataan canggih, mungkin angkatan laut Romanov tak akan mampu menyeberangi Pulau Natuna dan menerobos Selat Malaka untuk menginvasi Surupala .
Kini, ibukota pendudukan Romanov di Surupala terletak di Vladimirovich—nama baru bagi kota Surabaya, setelah Jakarta hancur dalam invasi brutal. Kota itu menjadi simbol kekuasaan vampir di Nusantara.
XXX
Burung Merpati terlihat terbang di antara puing-puing bangunan di sekitar Monas. Monas sendiri, yang dulunya berwarna putih, kini menghitam seperti hangus terbakar. Kota Wentira, yang dulu indah dengan pemandangan gedung-gedung tinggi, ondel-ondel, dan bajai, kini seakan rata dengan tanah. Pemandangan yang horor, mencekam, dan membuat sesak. Dunia ini sangatlah mengerikan, tapi juga sangat hebat.
Semua pemandangan ini bukanlah cuplikan dari film horor atau thriller. Ini hanyalah pemandangan kota Wentira yang telah berdiri selama ratusan tahun. Di abad ke-23, ketika Surupala sebagai negara netral terpaksa terlibat dengan negara-negara adidaya yang memiliki keinginan ekspansionis.
Selama sekitar satu setengah abad, banyak negara adidaya yang dikuasai oleh ras manusia, vampir, atau iblis yang ingin menguasai negara ini.
Sebagai negara dunia ketiga di belahan bumi selatan yang netral dari konflik di belahan bumi Utara antara, Rezim Fasis Oceania di Benua Amerika, Republik Federasi Asia Afrika, serta Kepangeranan Suci Eurasia Romannov di masa lalu, menyebabkan Surupala yang ada di garis khatulistiwa selamat dari perang nuklir.
Beberapa daratan di bumi juga tenggelam terutama kota kota yang ditepi pantai, hingga peta dunia di berbagai dunia seperti kertas yang sobek terkena air dan banyak yang pindah ke daratan tinggi yang aman dari melelehnya es kutub,tapi untungnya Surupala menjadi negara pertama yang berhasil mencegah tenggelamnya kepulauan Nusantara akibat melelehnya volume es kutub dengan teknologi mutakhir.
Benua menjadi sangat kecil karena beberapa persen daratannya tenggelam kecuali Indonesia, pola cuaca yang tak normal mengancam kehidupan semua mahluk hidup beberapa ribu dari spesies dan setengah populasi bumi hilang karenanya,perang nuklir sampai memperebutkan sda di Antartika dan es mencair dalam sekejap,tingkat air laut naik dan bumi terlempar dari porosnya ,dunia juga masih terdampak perang nuklir dan perebutan kekuasaan antara tiga Superstate yaitu Eurasia Romanov, Oceania dan Republik Federasi Asia Afrika serta menurunnya ekonomi dunia konflik etnik dan perang saudara
Meski begitu, perang dan invasi dari negara-negara belahan bumi Utara yang ingin mendapatkan sumber daya alam Surupala yang melimpah dan subur, setelah negerinya hancur akibat perang nuklir, membuat Surupoala menjadi negeri empuk untuk dijajah negara-negara superpower yang menjadi korban nuklir mereka sendiri akibat netralitas dan demiliterisasi Surupala, terutama bagi Romanov.
"Lagu Surupala Raya versi Pasukan Pemilihan Republikan Anti Faksi konservatif yang masih digunakan sampai saat ini
Lebih dari setengah abad yang lalu tepat ketika kakek Gilang lahir, saat itu sedang pemberontakan kaum Republikan Surupala yang berhasil dittumpas oleh faksi konservatif..
Surupala adalah negara di belahan bumi selatan yang selamat dari perang nuklir di negara negara maju di bumi Utara Karena kondisi geopolitiknya,
Penduduk ibu kota Jakarta yang tersisa hidup di tengah puing-puing bangunan dengan ketakutan dan kemiskinan. Setiap hari, kekerasan dan pertumpahan darah melanda Jakarta yang dulunya menjadi tempat tujuan merantau, kini seperti neraka yang dikelilingi oleh burung pemakan bangkai.
Serangan negara-negara adidaya itu membuat Indonesia hancur. Bom atom pernah dijatuhkan di Bandung dan Bogor untuk memaksa Jakarta menyerahkan kekuasaan negara pada penjajah. Hanya ada satu harapan yang dimiliki orang-orang Jakarta, termasuk Gilang, seorang pemuda tampan dan gagah yang sedang mengusir burung bangkai saat sedang melakukan wajib militer di puing-puing kota Jakarta. Semoga matahari yang lebih indah kembali menyinari Jakarta. Kota Jakarta seharusnya aman dari vampir atau bencana alam apapun termasuk tsunami, nuklir atau pemanasan global.
Gilang kembali ke rumahnya dan duduk di sudut kamar yang sempit, matanya kosong menatap tembok putih yang hampir tak terlihat lagi karena kerusakan lama. Di tangannya, secarik kertas dengan angka-angka yang membingungkan, seolah mewakili beban yang terus menghantuinya. Ia bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada orang lain yang tak ada di ruangan itu.
“Entah berapa banyak hutangku di koperasi angkatan udara,” katanya, suara serak, seperti seseorang yang telah lama berjuang melawan kepayahan. Ia melemparkan kertas itu ke atas meja, tangan terasa kaku, seolah tak mampu lagi mengangkat beban hidup yang menggunung. “Setiap bulan, cicilan itu terus menggerogoti sisa-sisa harapan yang kupunya. Rasanya... tidak pernah habis. Bagaimana bisa aku keluar dari semua ini?”
Ia mendesah, lalu pandangannya beralih ke tempat tidur, di mana Cecilia terbaring lemah. Wajah wanita itu terlihat pucat, tubuhnya terbungkus selimut tebal, namun masih tampak gemetar. “Kesehatan Cecilia masih belum membaik,” bisiknya, hatinya terasa sesak. “Dokter bilang butuh pengobatan intensif. Tapi, aku... aku bahkan tak bisa memenuhi kebutuhan dasar kami berdua. Bagaimana jika aku kehilangan dia? Apa yang akan aku lakukan?”
Gilang terdiam sejenak, perasaan cemas dan ketidakberdayaan merayap ke seluruh tubuhnya. Ia berusaha menenangkan diri, meski tahu bahwa semua yang ia katakan hanya untuk dirinya sendiri, sebagai pengingat betapa gelapnya jalan yang harus ia lewati.
“Pernahkah aku membuat pilihan yang tepat?” ia bertanya dengan nada ragu. “Jika aku bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan aku ubah? Tapi kenyataannya, waktu tak pernah memberi kesempatan kedua.”
Ia tertunduk, mata menatap lantai yang kotor. Setiap detik terasa semakin berat, setiap keputusan yang diambil seakan hanya memperburuk keadaan. Dan sementara itu, dunia di luar sana terus berputar, tak peduli dengan kesedihan yang ada di dalam dirinya.
“Namun... aku tidak bisa menyerah. Tidak sekarang, tidak setelah semua yang telah kulalui.” Gilang mengangkat wajahnya, matanya penuh tekad meski hatinya masih terombang-ambing. “Aku harus tetap bertahan, karena hanya itu yang bisa kulakukan.”
Dengan langkah gontai, ia kembali mendekat ke sisi tempat tidur Cecilia, menggenggam tangan wanita itu dengan lembut, meski hatinya dipenuhi keraguan.
Gilang diberi julukan kakeknya sebagai Ksatria putih, kakeknya meramalkan dia akan menjadi penyelamat bangsa Indonesia karena terlahir dengan tanda lahir berbentuk Peta Indonesia di punggungnya. Pemuda itu menanggung beban yang sangat berat untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Seberapa jauhkah mimpi dan cita cita prajurit Garuda tempur dengan baju zirah tanpa tanding?
XXX
Pada 17 Juli 1918, tiga abad setelah dinasti penguasa Romanov berkuasa dan berakhirnya kekacauan, kekerasan, serta kekejaman, Kaisar Ortodoks Eurasia Timur Nicholas II, Tsarina Alexandra, dan lima anak mereka, Duchess Olga, Duchess Maria, Duchess Tatiana, Duchess Anastasia, serta Alexim Tsarevitch, dieksekusi secara brutal oleh regu tembak di sebuah basement di Ekaterinburg.
Mayat mereka kemudian dikubur di hutan terdekat. Namun, tak lama kemudian, sebuah rumor menyebar menyebut bahwa beberapa anggota Romanov selamat. Ada yang menyebut Alexei atau Marie sebagai anak yang berhasil selamat, tetapi kebanyakan rumor menyebut Anastasia, anak bungsu sang kaisar, sebagai yang berhasil selamat. Pada zaman itu manusia belum mengetahui keberadaan vampir.
Kemunculan Kepangeranan Suci Eurasia Romanov menunjukkan kepada dunia keberadaan ras vampir yang selama ini dianggap mitos. Orang Balkan dan Eropa Timur tidak menyadari bahwa bangsawan mereka adalah ras Strigoi, yang merupakan keturunan Vlad Dracula Tepes. Vlad mendapat kekuatan dari setan Kesilim.
Selama era kekuasaan Soviet, Alexei Romannov hidup dibawah perlindungan Kantor Intelijen Pusat Kepangeranan Suci Romanov, merupakan kelanjutan dari organisasi yang sudah ada sejak era Kekaisaran Ortodoks Eurasia Timur , Departemen untuk Perlindungan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (dikenal dalam bahasa Rusia sebagai Отделение по Охранению Общественной Безопасности и Порядка), yang sering disebut sebagai "departemen pertahanan" (okhrannoye otdelenie) dan umumnya disingkat sebagai Okhrana atau Okhranka di Rusia. Okhrana adalah polisi rahasia dari Kekaisaran Rusia dan merupakan bagian dari departemen polisi Kementerian Urusan Dalam Negeri (MVD) pada akhir abad ke-19.
Mereka dibentuk untuk menangani terorisme politik dan aktivitas revolusioner sayap kiri. Okhrana mengoperasikan kantor-kantor di seluruh Kekaisaran Eurasia serta agensi-agensi di negara-negara asing. Mereka secara khusus memantau aktivitas-aktivitas revolusioner Rusia di luar negeri, termasuk di Paris, di mana Pyotr Rachkovsky beroperasi (1884–1902).
Puluhan tahun setelah Alexei dan Anastasia berhasil selamat dari kejaran pasukan Red Army. sebagai putra mahkota Vampire kekaisaran Romanov Rusia, Alexei Satu satunya anak laki laki kaisar memimpin perlawanan terhadap pendudukan blok sekutu di bekas wilayah Republik Sosialis Rakyat Eurasia yang kalah perang dunia 2. Tujuannya adalah membalas dendam pada kaum Bolshevik yang membunuh ayahnya, Tsar Nicholas II, dan ibunya, Alexandra. Dia mendirikan kekaisaran Vampire setelah selamat dari pembantaian yang dilakukan oleh orang-orang komunis Rusia, dengan niat membalas dendam pada seluruh manusia.
keputusan Republik Sosialis Rakyat Eurasia untuk bergabung dengan Operasi Sealion dalam menginvasi Inggris bersama Kekaisaran Suci Germania menyebabkan Eurasia dicap sebagai negara yang kalah dalam Perang Dunia Kedua. Uni Soviet sempat bersekutu dengan Kekaisaran Suci Germania untuk menyerang Inggris dalam Operasi Sealion pada September 1940, berdasarkan Pakta Non-Agresi dengan Germania.
Soviet lebih condong masuk ke Blok Poros karena turut menyerang Polandia. Pada tahun 1939, Kekaisaran Suci Germania dan Uni Soviet menandatangani Pakta Molotov-Ribbentrop, sebuah perjanjian rahasia untuk membagi wilayah Eropa. Sebagai bagian dari perjanjian ini, kedua negara bekerja sama dalam invasi Polandia. Sebelum dan pada awal Perang Dunia Kedua, Uni Soviet sejatinya menjadi sekutu Kekaisaran Suci Germania. Uni Soviet juga memasok bahan mentah penting untuk pembangunan tank, pesawat, dan kapal perang Germania, serta menyediakan fasilitas pelatihan militer seperti Sekolah Tank Kama, Sekolah Pilot Tempur Lipetsk, dan Fasilitas Peperangan Gas Tonka.
Setelah serangkaian diskusi panjang, Kekaisaran Suci Germania mengusulkan rancangan Pakta Poros yang membagi pengaruh dunia di antara empat kekuatan besar: Kekaisaran Suci Germania, Uni Soviet, Keshogunan Ezo, dan Italia. Uni Soviet kemudian mengajukan tuntutan tambahan, termasuk pengaruh atas wilayah Bulgaria, Irak, dan Iran.
Namun, Uni Soviet mulai melemah setelah mendapatkan tekanan dari Blok Sekutu, yang melihatnya sebagai bagian dari Blok Poros karena keterlibatannya dalam Operasi Sealion—invasi bersama Kekaisaran Suci Germania dan Soviet terhadap Inggris. Serangan ini memperkuat persepsi dunia bahwa Uni Soviet bukanlah korban, melainkan agresor. Setelah Stalin dieksekusi, Gedung Senat Kremlin memilih menyerah tanpa syarat kepada pihak yang mendukung Restorasi Romanov, bukan kepada Sekutu.
Kekalahan Uni Soviet dipercepat oleh kemunculan senjata pemusnah massal seperti bom atom dan pecahnya konflik segitiga antara Soviet, Kelompok Vampir , dan Blok Sekutu. Moral pasukan Soviet anjlok drastis pasca Operasi Sealion. Pada tahun 1949, Oceania dan sekutunya berhasil menduduki Moskow dan mengeksekusi Stalin atas tuduhan kejahatan perang.
Dalam kekosongan kekuasaan pasca-Stalin, Pangeran Alexei Romanov memanfaatkan situasi untuk memulihkan Kekaisaran Ortodoks Eurasia Timur melalui gerakan Restorasi Romanov. Ia memimpin serangan terhadap pasukan pendudukan Sekutu di Moskow dan menyerang fasilitas militer, meskipun bertentangan dengan perintah Dewan Bangsawan Vampir untuk tidak ikut campur dalam urusan manusia.
Setelah Alexei ditangkap oleh Sekutu karena dianggap mengganggu ketertiban umum, adiknya memimpin pasukan vampir Kekaisaran Rusia dan merebut kembali Gedung Senat Kremlin. Ia mengusir pasukan pendudukan dan mendeklarasikan dirinya sebagai Putri Sah Rusia dari Dinasti Romanov.
Meskipun Dewan Bangsawan kemudian memakzulkan sang putri karena menganggap Pangeran Alexei sebagai ahli waris sah, ia dengan rela turun takhta dan menghormati hak kakaknya. Patriark Ortodoks Timur berjanji akan mempertimbangkan pemulihan Kekaisaran dan memberikan legitimasi kepada Alexei, meskipun Dewan Bangsawan masih menolak keputusan tersebut. Saat ini, entitas politik mereka dikenal sebagai Kepangeranan Suci Eurasia Romanov, dan belum diakui sebagai kekaisaran penuh.
Di bawah kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), negara-negara sekutu menutup semua bentuk komunikasi dengan Kepangeranan Romanov, dan setiap negosiasi dengan mereka dianggap ilegal.
Tanpa hadirnya rezim otoriter seperti Oceania, umat manusia kemungkinan besar sudah musnah atau diperbudak oleh vampir Romanov, karena dunia terpecah dalam berbagai negara kecil yang tidak mampu bersatu di bawah satu doktrin mutlak.
Di Kepulauan Britannia dan Benua Amerika, revolusi oleh kelompok Sosialis Nasional Inggris menyebabkan berdirinya negara superpower Oceania Anglo-Columbia di bawah kepemimpinan totaliter Big Brother. Eropa daratan dikuasai oleh Europhania, sedangkan Afrika dan Asia Tengah dikendalikan oleh RFAA.
Meskipun negara-negara ini secara formal menganut sistem demokrasi, tingkat korupsi sangat tinggi. Dampak dari perubahan ini juga dirasakan di wilayah Asia Tenggara, terutama di Surupala, yang dulunya dipengaruhi ideologi komunis Rusia. Kini, Surupala telah bertransformasi menjadi kerajaan federasi demokratis.
Revolusi global ini dipicu oleh kekalahan Kekaisaran Suci Germania dan Uni Soviet dalam Operasi Sealion, kekosongan kekuasaan di Rusia, serta kebangkitan vampir Romanov yang berhasil menaklukkan Tiongkok, Jepang, dan Mongolia untuk memperbudak umat manusia.
Dunia kini terbagi dalam beberapa kekuatan besar yang terus bersaing dan saling mengancam satu sama lain: Kepangeranan Vampir Romanov, Oceania, Europhania, dan RFAA. Setiap blok memiliki ideologi dan kepentingan berbeda, membentuk tatanan dunia baru yang jauh dari perdamaian.
Kekosongan kekuasaan diisi oleh Restorasi Dinasti Romanov yang dipimpin oleh kaum vampir, Alexei memerintahkan seluruh Rakyat Rusia diubah menjadi vampir dan meminum darah bangsawan.
Sementara itu, Revolusi Xinhai di Cina gagal menyatukan daratan Bei Xian pada awal abad ke-20. Membuat daratan yang terbagi menjadi 10 kerajaan merdeka dan 6 dinasti keturunan langit, ditaklukkan sepenuhnya oleh Dinasti Vampir Romanov.,
Pada tahun 2080, Alexei Romanov meninggal secara misterius, dengan dugaan bunuh diri meskipun banyak yang meyakini bahwa dewan Bangsawan yang menginginkan kekuasaan terlibat dalam kematiannya. Akibatnya, Zaleska Romannov , yang saat itu berusia 27 tahun namun memiliki penampilan fisik seperti anak manusia berusia 5 tahun, naik tahta sebagai putri satu-satunya dari Alexei yang berkuasa sampai saat ini. Dia telah memegang kekuasaan sejak saat itu, dengan tekad kuat untuk mengurangi pengaruh dewan Bangsawan dan coven mereka, serta berambisi untuk memperoleh kekuasaan secara mutlak.
Pada puncaknya, wilayah Kepangeranan Ortodoks Eurasia Romannov membentang dari Finlandia, Romania, Siberia, Seluruh Cina, barat, dan asia tenggara serta Indonesia barat, namun mereka tak benar benar bersatu dalam federasi atau kekaisaran, karena tahta Romannov sendiri hanya berstatus sebagai Kepangeranan dan belum mendapat Legitimasi dari Batrik Ortodoks Timur yang memperebutkan pengaruh dengan para bangsawan.
Lagu kebangsaan Holy Principality of Eurasia Romanov. Kepangeranan Suci Eurasia Romanov dan (Holy Principality of Eurasia Romanov). (святые княжества Евразии Романовы)
Eurasia tanah suci kami
Rusia, negeri suci kami!
Rusia, tanah yang kami cinta!
Negeri kita tercinta
Tekad yang kuat, kemuliaan teragung
Adalah milikmu sepanjang waktu!
Eurasia Raya yang telah disatukan untuk berdiri selamannya
Tuhan selamatkan putri Romanov yang mulia
Penguasa bangsa vampir yang suci
Dari Kremilin engkau telah menciptakan negara di atas bumi
Tanah air yang kuat dari orang orang merdeka
Kepangeranan Suci Romanov tetap berdiri bagaikan sebuah tebing
Lahir dari kekuatan dan kejujuran engkau
Hebat kejayannya
Memerintah untuk kejayaan
Dipengaruhi kejayaan kita disatukan oleh keinginan kita
Menjadi lebih kuat untuk hidup di abad abad yang akan datang
Berjalan yang didirakan dengan kehendak rakyat
Tuhan selamatkan Putri Romanov kita yang mulia
Hebat kejayaannya
Memerintah untuk membuat takut musuh
Kehendak luhur untuk kemuliaan yang besar
Adalah warisanmu yang abadi
Jayalah wahai tanah air yang mulia
Ortodoks Romanov
Ortodoks Romanov
Tuhan selamatkan Putri
Dari lautan selatan ke daratan kutub
Tersebar hutan dan ladang kami
Engkaulah satu-satunya di dunia ini
Tanah air yang dilindungi Tuhan!
kemuliaan teragung
Adalah milikmu sepanjang waktu
Ruang terbuka untuk bermimpi dan hidup
Terbuka untuk kita oleh tahun-tahun yang akan datang
Kesetiaan kami pada Ibu Pertiwi memberi kami kekuatan
Begitulah, dan akan selalu begitu untuk selamanya!
Jayalah, tanah air kami yang bebas!
Persatuan dan persaudaraan rakyat yang abadi
Kebijaksanaan yang diberikan leluhur kepada rakyat!
Jayalah, negaraku! Kami bangga padamu!
XXX
Bab 3: Gilang dan Garuda Kosmos
Konferensi meja bundar diantara para ilmuwan Surupala untuk menemukan teknologi baru yang bisa melindungi umat manusia dari serangan vampir melahirkan Kavaleri robot tempur raksasa yang bisa dinaiki Garuda Wisnh Kencana Driveforce yang dijadikan wadah awatara oleh sang Batara Garuda Kosmos.
Jika kavaleri Robot mengalami kerusakan pilot yang saraf dan otaknya sudah terkoneksi juga akan mengalami rasa sakit setiap kali robot itu rusak atau anggota tubuhnya menerima serangan, karena itu mereka berusaha melindungi diri mereka dari vampir dengan senjata yang mereka miliki termasuk pedang sinar UV yang bisa menghancurkan energi kegelapan Mecha Hollow Earth Gate Generator.
Garuda Kosmos menjadi simbol harapan dan perlawanan rakyat Indonesia, menginspirasi mereka untuk bergabung melawan penjajah. Dia menggunakan kekuatannya untuk melindungi rakyat dan memimpin mereka menuju kemenangan melawan tentara Romannov.
Romanov sebelumnya sudah berhasil menguasai daratan Tiongkok, negara Eastasia yang dipimpin oleh Dinasti Hongxian, salah satu dari negara adidaya yang menjadi saingan Romanov. Karena itu, moral pasukan RIS yang baru merdeka dari Kekaisaran Mughal di Borneo terasa rendah. Mereka merasa tak percaya diri bahwa negara mereka yang belum stabil mampu menahan invasi Romanov yang telah menguasai Tiongkok dan Pulau Natuna.
Garuda Kosmos adalah makhluk mitologis yang diyakini tercipta dari ledakan supernova atau mungkin lahir dari The Big Bang, entitas cahaya yang dikenal melindungi perdamaian di seluruh alam semesta sejak zaman kuno. Dia dianggap sebagai pelindung atmosfer Bumi yang diprediksi akan turun membantu umat manusia dalam menghadapi bahaya, terutama setelah evolusi dan peningkatan kekuatan yang dihasilkan dari perang nuklir yang dilakukan manusia.
Garuda Kosmos bukanlah mahluk gaib, melainkan mahluk kosmik yang tinggal dan melindungi cincin Bumi. Sebagai entitas kosmik, dia diyakini berperan dalam menjaga integritas dan keamanan atmosfer Bumi serta mungkin memberikan energi yang vital seperti matahari dan perlindungan dari ancaman meteor melalui pengaruh dan kekuatan atmosfernya.
Garuda Kosmos diyakini memberikan energi Matahari kepada manusia dan melindungi Bumi dari meteor melalui energi atmosfernya yang kuat. Sebagai pelindung alam semesta dan penjaga perdamaian, keberadaannya dipercaya sebagai sumber kekuatan yang vital bagi keseimbangan ekosistem Bumi dan keselamatan umat manusia dari ancaman luar angkasa.
Marsekal Angkatan Udara APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat), Gilang Wisnu Nirwana memiliki kekuatan Garuda setelah Garuda Kosmos memilih Gilang sebagai awatarannya, karena Garuda Kosmos merasa bersalah dan kasihan pada Gilang yang sekarat dalam kecelakaan yang disebabkan olehnya. Saat pesawat tempur Gilang tak sengaja menabrak paruh Sang Garuda yang sedang berburu iblis untuk mendapatkan makanan, Garuda Awatara memberikan Energi Kembang cangkok Wijaya Kusuma Mulia yang membuat Gilang kembali sadar dari kecelakaan dan seketika memiliki kekuatan Garuda.
Cangkok Wijayakusuma adalah sebuah pusaka yang dapat menghidupkan orang yang belum ditakdirkan untuk mati. Setelah dipilih sebagai Awatara, Sang Garuda Kosmos masuk dan tertanam di dalam tubuh dan jiwa Gilang, dan Gilang memiliki seluruh kekuatan Batara Garuda. Gilang menjadi satu dengan sang Garuda, dan kini Gilang memiliki kekuatan dewa untuk melawan vampir dan melawan pemerintah pengasingan RIS yang korup dalam perang saudara antara pemerintah pengasingan RIS melawan RDIS/IDR (Indonesian Demokratic Republic/Republik Demokratik Indonesia Serikat).
Selain mentransfer seluruh kekuatannya kepada Gilang yang sekarat, Garuda Kosmos yang berada di dalam tubuh Gilang juga terhubung dengan inti pikiran yang ada di dalam robot transformasi tersebut. Inti pikiran ini memungkinkannya untuk berubah bentuk menjadi tank atau pesawat tempur sesuai kebutuhan situasional.
Gilang memiliki beberapa pusaka andalan, seperti pusaka Cakra Sudharsana yang berkhasiat seperti senjata pemusnah massal, dan Panah Kesawa yang membuatnya dapat menyerap energi kegelapan dan kekuatan musuh, bahkan menyerap energi vampir milik Roslov, musuh bebuyutan Gilang.
Gilang tidak memiliki kekuatan super sebelum mendapatkan kekuatan dari Garuda Kosmos. Namun, sebelum kakeknya menghilang setelah invasi Romannov, Kakek Gilang menyuntikkan serum eksperimental yang telah ditingkatkan ke puncak kesempurnaan manusia pada Gilang. Serum itu membuat kulit Gilang menjadi pucat albino dan menjadi ras Neotype seperti saudara tirinya Cecilia yang dibunuh oleh serdadu Romannov. Karena dia sudah menjadi Neotype tubuhnya tak hancur saat menerima kekuatan Garuda
Ketika Gilang masih berusia 17 tahun dan kakenya melihat Gilang mengalami berbagai gangguan perkembangan bahkan penyakit yang membuatnya hampir meregang nyawa dan tak dapat disembuhkan dokter, Kakek Gilang memutuskan untuk melakukan eksperimen berisiko pada Gilang dan mengubahnya menjadi ras manusia Neotype setelah Cecilia. Gilang adalah Neotype yang jauh lebih sempurna daripada Cecilia karena dia malah sembuh setelah diubah menjadi Neotype. Berbeda dengan Cecilia yang menjadi ras Neotype sejak lahir dan mengalami penyakit genetik kronis. Gilang berubah secara perlahan lahan layaknya mahluk hidup yang berevolusi sepanjang usianya.
Hal ini membuat Gilang menjadi luar biasa kuat untuk menahan energi yang diberikan Garuda kosmos padanya. Melalui serum eksperimental yang diberikan oleh kakeknya, Gilang yang divonis gangguan belajar slow learner oleh terapis di sekolahnya ketika masih anak anak, memperoleh peningkatan eksponensial dalam kecerdasan, kekuatan, ketahanan, kelincahan, kecepatan, refleks, daya tahan, dan penyembuhan, yang berada di puncak potensi alami manusia.
Bahkan, sebelum mendapatkan Serum dari kakeknya dan kekuatan Garuda. Meskipun terlahir sebagai anak dengan gangguan belajar slow learner bahkan pernah mendapatkan skor IQ rendah dari terapis di sekolahnya,menjadi anak yang pernah tak naik kelas 3 kali dan dapat rangking 10 dari belakang. Gilang dengan modal tekad dan keyakinan tak pernah berhenti melatih dirinya sendiri secara fisik dan intelektual. Bahkan sebelum diberikan serum dan kekuatan Garuda memiliki kondisi fisik di atas manusia normal. Ia tangkas dalam berbagai hal akrobatik dan ahli dalam meloloskan diri.
Gilang semakin cerdas seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan pendidikannya di militer, serta saraf otaknya yang terkoneksi ke kesadaran universal Bhatara Garuda Kosmos Awatara. Anak slow learner seperti dia jauh lebih unggul dalam keterampilan praktis, seperti bela diri dan aktivitas fisik, daripada menghafal, berteori, berpikir cepat, atau berpikir kompleks. Hal ini berkat modular otomatis yang bekerja tanpa kesadaran pengemudi di real life time, yang terbebani fokusnya dengan banyak hal di medan pertempuran yang dia ciptakan. Dia mampu mengendalikan robot dengan sangat baik, seolah dikendalikan oleh pilot dengan jam terbang tinggi, bukan anak berkehendak khusus.
Gilang memiliki daya tahan yang jauh melebihi manusia biasa. Karena kemampuan fisiknya yang tidak manusiawi akibat latihan intensif, dia sering dijuluki sebagai "monster" oleh rekan-rekannya di militer angkatan udara.
Gilang mengakui bahwa dia sering perlu mengulang beberapa kali untuk memahami sesuatu. Seringkali, ia merasa bodoh dengan label "slow learner" yang pernah dijatuhkan oleh terapis sekolahnya, yang membuatnya merasa kurang percaya diri.
Meskipun terlahir dengan fisik yang sangat kuat dan rajin berlatih serta belajar,Gilang terlahir sebagai anak dengan kebutuhan khusus sebagai slow learner, yang mengalami kesulitan belajar dan lambat dalam prosesnya saat masih anak-anak.
Namun, berkat dukungan dari kakeknya dan saudara sepupunya Cecilia, serta usaha kerasnya sendiri, dia berhasil menemukan metode belajar yang efektif. Sebelum menerima peningkatan dari serum eksperimental, Gilang telah mencapai peringkat pertama di militer. Meskipun menghadapi tantangan sebagai slow learner, dia memiliki pengetahuan yang luas di bidang militer dan teknologi.
Selain karena belajar tak kenal tempat dan waktu, kemanapun membawa buku, kakeknya yang merupakan ilmuwan robot terkenal dengan gelar Bapak Teknologi Robot Indonesia mampu memberikannya pendidikan yang sangat baik di rumah dan menyesuaikan gaya belajar agar muda dipahami. Gilang berhasil meraih peringkat pertama di sekolahnya, meskipun ia lahir sebagai anak berkebutuhan khusus slow learner. Kakeknya bertekad membuat Gilang hidup tanpa mengandalkan harta warisannya.
Gilang, meskipun mengalami gangguan belajar slow learner yang membuatnya lambat dalam berpikir, menemukan tantangan besar dalam menjadi pilot mecha. Koordinasi kompleks untuk mengendalikan seluruh anggota tubuh robot humanoid terpisah dalam satu kontrol dan menjaga keseimbangan bipedal robot adalah hal yang membutuhkan kerja keras dan kecerdasannya. Berkat CPU biologis yang terkoneksi dengan syaraf otaknya, Gilang mampu mengemudikan robotnya dengan lebih baik, mendukung minat dan bakatnya sebagai pilot terampil.
Sebagai Garuda Kosmos Awatara dengan GPU Biologis, Gilang memiliki kemampuan fisik dan mental yang unggul, memungkinkannya mengoperasikan teknologi canggih dengan efisiensi tinggi. Kecepatan, refleks, kemampuan berpikir analitis, dan pengolahan informasi yang baik memungkinkannya merancang strategi dan mengambil keputusan secara efektif.
Mecha adalah teknologi yang memerlukan keahlian khusus untuk dioperasikan. Gilang berhasil mengembangkan sistem operasi sendiri yang memungkinkan pilot mecha suit dengan gangguan slow learner seperti dirinya mengendalikan robot dengan lebih mudah dan efisien. Meskipun memerlukan pelatihan militer yang tepat, sistem kontrol modular yang disederhanakan ini berhasil menyamai kemampuan pilot lain yang tidak memiliki gangguan belajar, menjembatani kesenjangan dalam koordinasi robot dan keterampilan bertarung.
Inti Pikiran adalah sistem kecerdasan buatan yang memungkinkan robot tempur mampu berpikir dan membuat keputusan seperti manusia, dengan terhubung langsung ke pikiran pilotnya sendiri. Jika robot merasakan sakit, maka pilot juga merasakannya, begitu pula sebaliknya. Sistem ini memberikan respons sensor yang efektif dalam pertempuran karena kedekatan antara pilot dan kavaleri robotnya.
Kavaleri robot tempur, seperti Garuda Wisnu Kencana, Driveforce, Shadow Milenium, dan Garuda Kosmos, memiliki tinggi 15 meter. Terkadang Garuda Wisnu kencana Driveforce harus dianggkat menggunakan tali pesawat sebelum mendarat dalam pertempuran melawan vampir Romanov.
Meskipun tidak terlalu tinggi sebagai robot raksasa yang dapat berubah menjadi mobil dan pesawat ketika pilotnya berada di kokpit, ukuran ini cukup untuk melindungi pilotnya dengan baju zirah yang tebal serta medan perisai energi yang tahan terhadap serangan fisik dan magis. Serangan vampir yang berkali-kali lipat lebih kuat dari kekuatan manusia pun tidak dapat menembus perlindungannya.
Meskipun Gilang adalah anak berkebutuhan khusus, prestasinya dalam mengembangkan teknologi dan kemampuan militer membuat banyak orang mengaguminya. Dia membuktikan bahwa dengan ketekunan dan dedikasi, dia mampu bersaing dengan siapa pun dalam dunia pilot mecha suit yang canggih.
Pekerjaan seorang pilot pesawat tempur seperti GWK Driveforce kini tidak sesulit dulu, ketika teknologi navigasi belum secanggih sekarang. Dulu, pilot harus mengandalkan pengamatan rasi bintang untuk menavigasi pesawatnya. Saat ini, sebagian besar tugas pilot hanya untuk memantau autopilot, serta melakukan takeoff dan landing, meskipun banyak pesawat kini dapat melakukan keduanya secara otomatis.
Tugas pilot juga terbatas pada pengaturan ketinggian dan heading sesuai instruksi ATC, padahal banyak pesawat modern yang dapat mengatur keduanya secara otomatis setelah rencana penerbangan dimasukkan ke dalam komputer. Seiring dengan perkembangan teknologi ILS yang memungkinkan pesawat melakukan pendaratan otomatis melalui sinyal dari darat, pekerjaan pilot pun semakin terancam.
Setelah bersalaman dengan Cecilia ternyata Gilang mulai membangkitkan kekuatan Bhatara Garuda karena Cecilia ternyata memiliki pikiran yang terkoneksi ke alam keabadian, Cecilia ternyata tak mati begitu saja melainkan dia sengaja mengorbankan nyawanya agar Gilang sebagai orang yang terpilih dan satu satunya yang bisa menggunakannya memiliki kemampuan khusus dari sang dewa Bhatara Garuda untuk melawan vampir
XXX
Di Akademi Militer Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat, para peserta tidak hanya diajarkan cara mengendarai mecha seperti GWK Driveforce, tetapi juga mempelajari bagaimana cara merakit mecha layaknya merakit balok mainan. Meskipun konsep robot raksasa terdengar fantastis, sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya mustahil di dunia nyata. Namun, dalam konteks pertempuran nyata, efektivitas mecha raksasa akan menghadirkan berbagai tantangan teknis yang kompleks dan kontroversial.
Saat ini, teknologi robotik dan otomatisasi semakin berkembang, terutama dalam dunia militer, dengan tujuan mengurangi korban jiwa. Meskipun eksperimen dengan robot seukuran manusia telah berkembang pesat, menciptakan robot yang lebih besar akan jauh lebih rumit jika harus dibangun sesuai dengan prinsip fisika yang berlaku.
Alih-alih membangun robot raksasa berawak, para insinyur lebih tertarik mengembangkan teknologi perang yang ada saat ini, seperti tank, IFV, kapal, dan pesawat tempur tanpa awak. Seperti yang Anda sebutkan, teknologi robotik lebih cocok diterapkan dalam skala manusia dan bukan sebagai pengganti kendaraan tempur besar.
Mechadilengkapi dengan senjata futuristik, seperti senjata energi dan laser, yang belum tersedia dalam dunia nyata. Bahkan senjata laser pada mecha pun akan mengalami kendala seiring habisnya baterai atau sumber energi. Selain itu, robot raksasa memerlukan energi yang sangat besar untuk beroperasi, serta perlindungan kuat untuk menahan serangan musuh. Mecha biasanya menggunakan sumber energi seperti sel bahan bakar atau monopropellant ceramic tubes, meskipun belum jelas apakah sumber energi semacam itu sudah ada atau dapat ditemukan.
Karena ukuran tubuhnya yang besar, mecha membutuhkan energi besar untuk menggerakkan tangan dan kaki agar dapat berdiri dan bergerak. Para insinyur harus mempertimbangkan keseimbangan mekanisme pengungkit agar beban pada tubuh mecha tidak melebihi kapasitas yang memungkinkan pergerakan.
Semakin besar ukuran robot, semakin banyak komponen yang diperlukan untuk menggerakkannya, yang akan membuat gerakannya menjadi lebih lambat. Bandingkan dengan tank modern yang mampu menjelajah hingga 400–500 kilometer dalam sekali pengisian bahan bakar. Tank juga memiliki sistem bahan bakar yang lebih fleksibel, menggunakan berbagai jenis bahan bakar seperti bensin, solar, atau minyak tanah.
Struktur tank relatif sederhana dengan tubuh dan turret yang efisien, sementara energi dari mesin digunakan secara optimal untuk menggerakkan roda, dengan pemborosan energi yang minimal. Sebaliknya, robot raksasa seperti mecha akan membuang banyak energi hanya untuk berjalan, yang membawa kita pada masalah ketiga: tekanan ke permukaan tanah (ground pressure).
Tekanan permukaan yang ditimbulkan oleh robot besar sangat tinggi karena beban berat yang terkonsentrasi pada area kecil, yaitu telapak kaki. Untuk mengurangi tekanan tersebut, kaki mecha harus didesain lebih lebar, namun jika terlalu lebar, akan mengurangi mobilitasnya. Hal ini bisa membuat mecha kesulitan bergerak di medan berlumpur, berpasir, atau terhalang oleh rintangan seperti akar pohon. Tank, dengan sistem track yang lebih efisien, mampu mendistribusikan bobotnya secara lebih merata dan bergerak lebih lancar di berbagai medan.
Tank juga memiliki keunggulan dalam hal stabilitas dan mobilitas. Misalnya, tank modern seperti M1A2 Abrams dilengkapi dengan lebih dari satu alat optik untuk mengidentifikasi target dan memungkinkan kru untuk beralih ke optik cadangan jika salah satu rusak. Sementara itu, pilot mecha sangat rentan terhadap serangan, dan jika mecha memiliki kokpit kaca terbuka, pilot bisa lebih mudah terkena tembakan musuh.
Sebagai alternatif, kaki Garuda droid, yang mengadopsi desain berkaki empat atau enam, menawarkan mobilitas yang lebih baik di berbagai medan, meskipun kecepatannya kalah dibandingkan dengan tank.
Selain itu, mecha dalam dunia fiksi sering digerakkan dengan cara yang tidak realistis, seperti melompat dan berlari dengan kecepatan tinggi. Dalam kenyataannya, robot besar dan berat akan cenderung lebih lambat dan tidak responsif. Tank memiliki pusat massa yang rendah, yang memberi stabilitas lebih baik dibandingkan dengan mecha yang tinggi dan mudah terbalik jika tertabrak kendaraan berat.
Masalah lain yang dihadapi adalah efisiensi energi. Dengan meningkatnya ukuran, volume mesin dan komponen dalam mecha juga akan bertambah, yang berpotensi mengurangi efisiensinya. Square Cube Law menjelaskan bahwa semakin besar ukuran suatu benda, semakin banyak energi yang diperlukan untuk menggerakkannya, dan semakin rumit desain yang dibutuhkan.
Mecha kecil, seperti eksoskeleton, mungkin lebih realistis, karena ukurannya yang lebih proporsional dan kemampuannya untuk berfungsi sebagai kendaraan militer penyerbu dengan persenjataan modern. Misalnya, eksoskeleton dengan tinggi sekitar 4 meter dan dilengkapi dengan senjata seperti pisau raksasa, ranjau, dan autocannon GAU-90 bisa menjadi alternatif yang lebih realistis dan fungsional.
Namun, mecha yang dirancang untuk melawan musuh atau monster harus lebih lincah daripada tank. Jika tidak, tujuan mereka menjadi kurang jelas. Dalam hal ini, mecha bisa digunakan untuk misi-misi khusus yang sangat terfokus, atau mungkin dilengkapi dengan senjata mutakhir seperti laser atau plasma beam. Sebagai alternatif, jet fighter bisa menjadi pilihan, karena mereka mampu beroperasi di darat dan udara.
Kesimpulannya, mecha lebih realistis diterapkan untuk misi-misi khusus dan tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti kendaraan tempur konvensional seperti tank. Selain itu, masalah desain, seperti pusat massa, efisiensi energi, dan perlindungan pilot, membuat mecha dalam dunia nyata jauh lebih kompleks dan terbatas fungsinya dibandingkan dengan kendaraan militer lainnya.
Tank menyimpan amunisi mereka di bawah turret.ruang amunisinya terletak baik di bawah turret maupun di belakang turret.juga menyimpan sebagian amunisi di hull side.menyimpan amunisi dalam bentuk belt.Tank menyimpan amunisinya di dalam, sedangkan amunisi Mecha jelas-jelas terekspos. Namun Kalau para insinyur menempatkan boks amunisi cadangan, ruang itu bisa memengaruhi pusat gravitasi si robot dan membuatnya lebih sulit bergerak.Mecha memiliki masalah yang sama. Karena itu mereka menciptakan alat untuk memanipulasi gravitasi agar Mecha mampu menyimpan amunisi layaknya Tank.
Vampir memiliki kekuatan luar biasa dan kemampuan untuk sembuh dengan cepat, yang semakin berkembang seiring dengan garis keturunan dan usia mereka. Mereka dapat dengan mudah menyambung kembali bagian tubuh yang terputus. Bahkan, kepala vampir yang terlepas pun bisa dipasang kembali, meskipun membutuhkan seseorang untuk menyatukan kedua bagiannya. Para bangsawan memiliki hak untuk mengubah manusia menjadi vampir jika mereka menginginkannya. Vampir juga dapat memperkuat kemampuan mereka dengan meminum darah manusia kapan saja.
Indera mereka sangat tajam, dan penglihatan mereka memungkinkan untuk mengenali target dari jarak beberapa ratus meter, bahkan di kegelapan total. Namun, mereka tidak lagi merasakan keindahan pada sesuatu.
Mecha yang bipedal atau berkaki dua jauh lebih fleksibel dan efektif dibandingkan dengan tank beroda empat dalam menghadapi vampir yang sangat cepat dan dinamis. Namun, ini tentu memerlukan pilot yang terampil untuk mengendalikan semua anggota tubuh mecha secara bersamaan di dalam kopkit dalam waktu yang sangat cepat. Mengenai masalah pusat massa dan bagaimana mencegah mecha, mobile suit, atau GWK Driveforce agar tidak mudah terjatuh atau terjungkal, saya rasa itu bisa diatasi dengan sistem gyroscopic balancing atau self-balancing, yang sudah diterapkan pada prototipe kendaraan roda dua terbaru.
GWK Driveforce adalah teknologi canggih, peralatan tempur seperti itu pasti dilengkapi dengan sistem otonom untuk tugas-tugas dasar seperti menjaga keseimbangan saat berjalan, mirip dengan cara pusat saraf pada binatang mengatur keseimbangan (terletak di telinga bagian dalam). Keseimbangan itu tidak dikendalikan secara sadar, begitu pula pada mecha, keseimbangan tidak sepenuhnya dikendalikan oleh operatornya.
Para insinyur dan ilmuwan yang antusias mengembangkan robot bipedal tidak hanya melakukannya untuk eksperimen tanpa tujuan. Mereka melakukan hal tersebut dengan semakin intensif karena robot bipedal memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh robot berkaki delapan atau yang menggunakan roda rantai. Keunggulan tersebut berkaitan dengan kelincahan dan gerakan yang mulus. Bahkan, sudah ada robot bipedal yang bisa melompat cukup tinggi dan mendarat dengan mulus menggunakan dua kaki, serta melakukan gerakan seperti salto, parkour, handstand, dan gerakan lainnya yang membutuhkan keseimbangan yang sangat baik.
XXX
Kekaisaran Suci Eurasia Salakanegara telah mengarahkan pandangannya untuk menginvasi Surupala, sebuah negara yang damai di Asia Tenggara. Negara ini tidak siap kuntuk mempertahankan diri melawan kekuatan tentara Vampir Romannov, dan orang-orang sangat membutuhkan seorang pahlawan untuk menyelamatkan mereka.seorang pemuda dengan kekuatan unsur luar biasa yang dia gunakan untuk melindungi kampung halamannya. Ketika dia mendengar tentang invasi Romannov, dia tahu bahwa dia harus maju dan menggunakan kekuatannya untuk membela negara dan rakyatnya.memulai misi untuk mengumpulkan sekutu dan sumber daya untuk membantunya dalam perang melawan tentara Romannov. Sepanjang jalan, dia bertemu dengan teman dan sekutu baru yang sama-sama bertekad untuk mempertahankan negaranya dari penjajah.
Sama seperti Faksi demokratik, Faksi konservatif juga memiliki pasukan elit yang merupakan pengendali Kavaleri robot pembasmi vampir yaitu Agen Eksil detektif Laskar Sembrani.
Agen Eksil Detektif Laskar Sembrani, salah satu divisi Liga Garudarisers yang merupakan bagian dari Badan Intelijen Republik Indonesia Serikat, memiliki Lima anggota ksatria yang terdiri dari Ksatria Kuning, Merah, Biru, Hijau, dan Hitam.
Dengan kekuatan unsurnya dan dukungan dari sekutu barunya, Mereka menggunakan kekuatan dan kecerdasan gabungan mereka untuk mengakali Romanov dan mendorong mereka kembali di setiap kesempatan.
XXX
Di studio TVRI yang remang, layar televisi menyorot wajah Panglima Jenderal Notonindito dengan latar belakang bendera Faksi Demokratik yang berkibar. Wajahnya tegas, matanya menatap penuh keyakinan ke kamera. Suara lembut namun tegas menggema di seluruh ruang studio, menyampaikan pidato yang penuh amarah namun juga harapan.
"Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, kita semua mengetahui sejarah kelam yang tak boleh kita lupakan. Faksi Konservatif, yang sebagian besar terdiri dari pejabat, pengusaha, dan petinggi militer, dulu berkuasa di Republik Indonesia Serikat kedua—RIS. Namun, ketika menghadapi ancaman yang datang dari invasi Romannov, mereka bukan hanya mundur... mereka melarikan diri ke Kairo, membawa harta dan keluarga mereka. Mereka memilih untuk menghindar, untuk meninggalkan tanah air ini, meninggalkan kita semua."
Notonindito terdiam sejenak, menatap jauh ke depan, seolah-olah berbicara langsung kepada rakyat yang menonton di rumah mereka.
Panglima Jenderal Notonindito (lanjut):
"Faksi Konservatif ini, para pengecut, tidak berani berdiri melawan penjajah Romannov. Mereka tidak berani mempertaruhkan jiwa dan raga mereka untuk tanah yang telah memberi mereka semua kemewahan itu. Tidak seperti kita, rakyat Indonesia yang terjebak di sini, yang harus menanggung derita, yang harus bertahan hidup dalam bayang-bayang penjajahan ini. Mereka semua pergi tanpa rasa malu, tanpa keberanian untuk mempertahankan martabat bangsa."
Panglima Jenderal Notonindito mengerutkan kening, suaranya semakin keras dan penuh semangat.
Panglima Jenderal Notonindito (dengan emosi)
"Sedangkan rakyat miskin dan menengah, yang tidak memiliki cukup uang untuk pergi ke Kairo dan mencari perlindungan, ditinggalkan untuk hidup dalam penderitaan. Di bawah cengkraman Romannov yang tidak manusiawi! Kami, yang tak punya daya untuk berlari, dipaksa menjadi budak! Kami dijadikan ternak darah para vampir Romannov yang haus akan kekuasaan dan darah manusia!"
Dia mengangkat tangannya, seolah memimpin sebuah seruan untuk bangkit.
Panglima Jenderal Notonindito (dengan keyakinan):
"Tapi kami tidak akan diam! Kami, rakyat yang tak pernah pergi, yang tetap bertahan di tanah ini, akan melawan. Faksi Demokratik, bersama seluruh rakyat Indonesia yang masih punya hati dan jiwa kemerdekaan, akan berjuang untuk merdeka! Kami akan melawan ketidakadilan ini. Kami akan mengusir penjajah Romannov, dan kami akan membangun kembali negeri ini! Kami tak akan menyerah, meskipun darah kami menjadi bahan darah para makhluk itu!"
Suara tepuk tangan mulai terdengar, lembut pada awalnya, lalu membesar. Notonindito memandang kamera dengan tatapan penuh tekad.
Panglima Jenderal Notonindito (menyudahi dengan suara penuh semangat):
"Saudara-saudara, ini bukanlah akhir dari perjuangan kita. Ini baru permulaan. Kami, Faksi Demokratik, akan memimpin perjuangan ini. Bergabunglah bersama kami, untuk sebuah Indonesia yang bebas dan merdeka, tanpa darah vampir yang mengalir di tubuh bangsa kita. Bersama kita bangkit! Hidup Indonesia!"
Layar hitam, pidato berakhir, namun gema kata-kata itu tetap bergema di hati setiap pemirsa yang mendengarnya.
Panglima Jendral APRIS Notonindito memang tak main main dalam mempertahankan kekuasaannya. Jika Surupala sampai bekerjasama dengan Romanov atau Oceania dan salah satu dari kekuatan itu kalah ia bisa dicopot dari jabatan presidennya akibat kudeta oleh rakyat dan Indonesia akan dijadikan negara boneka lagi oleh pemenang perang, menjadi monarki boneka lagi seperti di zaman Kekaisaran Mughal Indonesia, karena itu dia menentang kebijakan Faksi konservatif yang cenderung mendekat ke Partai Ingsoc Oceania.
Rakyat Surupala disuruh kerja paksa untuk kemakmuran negeri katanya sih kalau hasil panennya melimpah untuk mereka juga,tapi salah sedikit dihukum cambuk oleh pasukan vampir berjubah mengerikan itu.
Karena Faksi Konservatif di pengasingan cuma negara boneka yang dikendalikan negara adidaya dan dianggap tak memiliki kedaulatan penuh untuk memperjuangkan perlawanan melawan Romanov tanpa intervensi dari dua negara yang lebih kuat yaitu Oceania dan RFAA serta sekutu sekutunya tempat dimana pemerintahan RIS diasingkan dikuasai oleh negara sekutu yang memiliki kepentingan masing masing.
Banyak rakyat yang mengangap memihak faksi Konservatif sama saja menyerahkan Indonesia pada penjajah lain selain Romanov, yaitu negara manusia korup dan Totaliter Oceania dan RFAA.
Faksi Demokratik yang tidak puas dengan partai berkuasa menentang Faksi Konservatif dengan memindahkan rakyat Indonesia yang berada di bawah jajahan Romanov untuk mengungsi ke wilayah Faksi Demokratik di Indonesia Timur, bukan ke Kairo, RFAA, tempat Pemerintah RIS yang dikuasai Faksi Konservatif diasingkan. Hal ini dilakukan karena mereka khawatir rakyat tersebut akan dipersekusi oleh pemerintah pengasingan atau RFAA, mengingat banyak rakyat Indonesia di tanah jajahan yang memihak Faksi Demokratik, yang sangat dimusuhi oleh Faksi Konservatif.
Panglima Jenderal Besar APRIS, Notonindito, dituduh ingin mengangkat dirinya sendiri sebagai Kaisar Seluruh Indonesia. Padahal, dia adalah tokoh kunci yang menyebabkan kemenangan pasukan pemulihan RIS dalam mengusir Kekaisaran Mughal dari tanah Nusantara.
Namun, dia dituduh mengembalikan tragedi dan sejarah kelam RIS di bawah kekuasaan Mughal sebagai salah satu Warlord yang berkuasa di wilayah Indonesia Timur dengan wilayah terluas. Notonindito akhirnya dibunuh oleh Intelijen Liga Garuda di Pemerintahan Pengasingan, dan posisinya digantikan oleh Gilang, Natalius Kaisepo, dan Teuku Muhammad Syah. Marsekal Gilang menjadi Presiden, Teuku, mantan Gubernur Aceh, menjadi Wakil Presiden, dan Natalius menjadi Perdana Menteri Pemerintah Darurat Revolusioner Republik Demokratik Indonesia Serikat di Papua dan Indonesia Timur.
Notonindito mengancam semua jendral warlord provinsi di seluruh wilayah RIS yang tak mau tunduk pada faksi demokratik untuk melawan Romannov siap mendapatkan hukuman mati.
Intinya Faksi Demokratik Surupala yang dipimpin Notonindito memiliki tujuan menghapus monarki, mendirikan republik, menyingkirkan pejabat korup dan elit lama serta mengusir pendudukan Romannov di Surupala
Di sisi lain, banyak orang Indonesia yang tewas akibat kerja paksa demi kepentingan militer dan logistik Romanov, atau kehabisan darah menjadi pemuas nafsu dan pet darah sebagai mangsa ternak vampir.
Kerja paksa partisan yang dilakukan oleh pemerintah Kepangeranan Suci Eurasia Romanov membuat banyak orang Indonesia mati kelaparan akibat kekurangan darah selama kerja paksa, karena Romanov mengubah orang Indonesia menjadi vampir hingga membuat mereka kesakitan, tersiksa, dan ketergantungan jika tidak minum darah.
Sedangkan darah yang didapatkan oleh Romanov dari ternak yang bersumber dari manusia yang belum diubah menjadi vampir hanya diberikan untuk militer dan bangsawan, bukan untuk orang Indonesia yang menjadi kurus kering karena disuruh kerja paksa di bawah todongan senjata dan haus darah akibat ketergantungan darah setelah diubah menjadi vampir.
Rakyat yang kurus kering hingga tulang belulang hanya akan diberikan upah darah yang sedikit dan tidak manusiawi jika melakukan kerja paksa, hingga banyak terjadi kanibalisme di antara para pekerja paksa untuk kepentingan perang Romanov.
XXX
Ada perang segitiga antara Penjajah Kepangeranan Suci Eurasia Romanov di Indonesia melawan Faksi Demokratik di Indonesia Timur, yang anti-pejabat RIS korup di era sebelumnya yang melarikan diri, dan Faksi Konservatif yang korup di Pemerintahan Pengasingan RFAA, yang dibantu oleh pasukan Pakta Sekutu aliansi dua negara manusia, yang terdiri dari Republik Federasi Asia Afrika dan Oceania. Faksi Konservatif sering berperang melawan tentara Romanov maupun pasukan Aliansi Tiga Negara, yang terdiri dari Faksi Konservatif Indonesia di Pengasingan Kairo RFAA, Republik Federasi Asia Afrika yang korup tapi demokratis, dan Negara Totaliter Oceania.
Panglima Jenderal APRIS, Notonindito, berdiri tegak di depan kamera. Suasana studio TVRI yang megah malam itu sunyi. Lampu-lampu sorot menggantung di atasnya, memberikan cahaya keemasan yang menyinari wajahnya yang tegas. Di belakangnya, bendera merah putih berkibar perlahan, seolah-olah ikut menyaksikan momen penting yang akan terjadi.
Di luar studio, ribuan rakyat Indonesia, yang saat itu tak dapat hadir secara langsung, menunggu dengan cemas di rumah mereka. Layar kaca di seluruh penjuru negeri menyala, menyiarkan pidato yang sangat dinantikan.
"Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air," suara Notonindito menggetarkan ruangan. Dengan suara yang berat dan penuh wibawa, ia memulai pidatonya. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah-olah mengandung kekuatan yang dapat mempersatukan atau membakar semangat yang sedang membara.
"Malam ini," lanjutnya, "saya berdiri di hadapan Anda bukan hanya sebagai Panglima Jenderal APRIS, tetapi sebagai seorang prajurit yang telah mengabdikan hidupnya untuk kemerdekaan dan kedaulatan negara kita."
Tangan kanan Notonindito mengatup di atas meja, menunjukan ketegasan yang tidak dapat digoyahkan. Matanya tajam, seolah menembus layar kaca dan langsung mengarah kepada rakyat Indonesia yang berada jauh di sana, di setiap sudut negara ini.
Ia menarik napas sejenak, memberi waktu pada kata-katanya untuk meresap. Suara keributan di luar studio yang semula terdengar samar, kini menjadi hening seiring dengan ketegangan yang tercipta.
"Di tengah ketegangan yang melanda," suaranya melanjutkan, "kita dihadapkan pada ujian terbesar dalam sejarah bangsa ini. Perang saudara yang terjadi antara faksi-faksi yang saling bertikai, memisahkan kita dalam perbedaan ideologi yang semestinya dapat kita atasi dengan dialog, bukan dengan senjata."
Dia berhenti sejenak. Setiap kalimatnya bergaung di udara, dan hanya detak jantung yang terdengar di dalam studio. Wajah Notonindito menunjukkan tekad yang tidak dapat diruntuhkan. Ia tahu apa yang harus disampaikan, dan malam ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya.
"Tapi, kita tidak boleh terjebak dalam permusuhan yang tak berujung," katanya lebih keras, "Ada musuh yang lebih besar, yang mengancam kita semua. Musuh yang tidak tampak di depan mata, namun terus mengintai di balik bayang-bayang kekuasaan. Mereka adalah para vampir Romannov, yang ingin menghancurkan segala yang kita bangun dengan darah dan perjuangan. Mereka bukan hanya musuh dari satu faksi, tetapi musuh kita semua!"
Kata-kata itu seperti api yang menyala di dada setiap orang yang mendengarnya. Di setiap sudut negeri, hati rakyat Indonesia berdetak lebih cepat. Tidak ada yang bisa mengabaikan ancaman yang begitu nyata. Mereka semua tahu bahwa untuk bertahan, mereka harus bersatu.
Panglima Jenderal itu berdiri tegak, matanya menatap lurus ke kamera, menatap langsung pada jutaan pasang mata yang sedang terfokus padanya.
"Oleh karena itu," lanjutnya dengan suara yang menggetarkan, "Saya menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, kepada setiap prajurit APRIS, dan kepada setiap elemen bangsa, mari kita bersatu! Kita hentikan pertikaian yang memecah belah, kita bersiap untuk menghadapi ancaman yang nyata. Jangan biarkan bangsa kita dihancurkan oleh kekuatan asing yang hanya berusaha menguasai kita untuk kepentingan mereka!"
Panglima Jenderal itu berjalan perlahan menuju meja, meraih mikrofon dengan tangan kanan, dan menarik napas dalam-dalam. Setiap gerakannya penuh dengan makna. Ini bukan pidato biasa. Ini adalah panggilan untuk bersatu, untuk bertahan hidup.
"Untuk itu," katanya lebih tegas, "Saya berjanji, di bawah komando APRIS, kita akan melawan setiap upaya yang bertujuan meruntuhkan kedaulatan negara ini. Tidak ada kompromi dengan mereka yang ingin merusak tanah air kita. Kedaulatan Indonesia adalah harga mati!"
Wajah Notonindito semakin serius. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti memberikan energi baru bagi setiap prajurit dan rakyat yang mendengarnya.
"Ini adalah saat kita bangkit, saat kita bersatu, dan saat kita menunjukkan kepada dunia bahwa kita, bangsa Indonesia, tak akan pernah menyerah. Bersama kita bisa, dan bersama kita akan menang!"
Di luar, di balik jendela studio, ribuan orang di jalan-jalan, di rumah, di tempat-tempat umum, semuanya terdiam mendengarkan pidato itu. Masing-masing terinspirasi, seolah kekuatan baru muncul di dalam diri mereka. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka merasa memiliki harapan yang jelas.
Notonindito mengangkat tangannya, memberi hormat kepada seluruh rakyat Indonesia melalui layar kaca. Wajahnya tidak menunjukkan keraguan, hanya keyakinan yang membara. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia tahu bahwa masa depan bangsa ini tergantung pada setiap keputusan yang diambil sekarang.
"Selamat malam, dan Tuhan memberkati bangsa Indonesia."
Kamera perlahan mundur, menampilkan wajahnya yang penuh keyakinan. Sesaat kemudian, layar menjadi gelap, mengakhiri pidato yang telah menggetarkan seluruh negeri.
Di luar studio, ribuan rakyat Indonesia berdiri dengan tangan terangkat, bersiap untuk menyambut pertempuran yang akan datang.
Panglima Jenderal APRIS, Notonindito, berdiri di depan Marsekal Gilang dan serdadunya. "Perlu kalian ketahui, vampir memiliki beberapa kelemahan yang dapat kita manfaatkan," katanya.
"Mereka memiliki kebanggaan besar dan biasanya meremehkan lawan manusia mereka," lanjutnya. "Mereka juga memerlukan darah untuk bertahan hidup. Jika mereka tidak minum darah, mereka akan menjadi tidak stabil dan dapat menimbulkan bahaya."
"Notonindito melanjutkan, "Paparan sinar matahari juga dapat membahayakan mereka. Mereka harus memakai perlengkapan pelindung untuk menetralkan efek ini. Jika tidak, mereka akan terbakar."
Berikut adalah kalimat yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
"Perlengkapan pelindung yang paling umum digunakan oleh vampir adalah memakai ban lengan di lengan kiri mereka untuk melindungi diri dari cahaya UV. Mereka juga mungkin memakai cincin. Ini memungkinkan mereka untuk bergerak di bawah sinar matahari tanpa bahaya, meskipun mereka masih tidak menyukainya."
"Dengan memakai ban lengan di lengan kiri mereka, vampir dapat melindungi diri dari cahaya UV yang berbahaya. Beberapa dari mereka juga memakai cincin yang memiliki fungsi serupa. Dengan perlengkapan pelindung ini, mereka dapat bergerak di bawah sinar matahari tanpa khawatir akan terbakar, meskipun mereka masih tidak menyukai sensasi panas yang ditimbulkan oleh sinar matahari."
"Menghilangkan hati mereka juga dapat melemahkan mereka dan mulai mengubahnya menjadi setan," lanjut Notonindito. "Namun, jika hati dikembalikan, mereka dapat kembali normal."
"Terakhir, kehilangan darah besar-besaran juga dapat membahayakan mereka," katanya. "Jika mereka terluka sampai pada titik bahwa mereka kehilangan sejumlah besar darah, mereka akhirnya 'mati' dan menjadi iblis."
"Saat ini, tidak diketahui bagaimana vampir dapat kembali menjadi manusia. Bahkan, tujuan tersebut dianggap mustahil. Namun, ada beberapa kasus yang menunjukkan bahwa vampir dapat mengalami transformasi menjadi iblis ketika mereka sekarat.
"Transformasi ini dapat terjadi ketika vampir kelaparan darah sampai mereka mati, atau ketika mereka terluka parah dan kehilangan sejumlah besar darah. Setelah mati, vampir akan melepaskan energi yang besar dan mengeluarkan 'ratapan' yang hanya dapat didengar oleh vampir lainnya.
"Ratapan ini dapat didengar oleh vampir lainnya, bahkan oleh iblis. Setelah ratapan, vampir yang sudah meninggal akan dilahirkan kembali sebagai iblis, dengan kekuatan yang bergantung pada kekuatan mereka sebelumnya sebagai vampir.
"Perlu diingat bahwa vampir memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada manusia. Mereka dapat mengubah manusia menjadi vampir, tetapi hanya darah murni yang memiliki izin untuk melakukannya.
"Selain itu, vampir juga memiliki hierarki yang ketat, dengan darah murni sebagai penguasa tertinggi. Mereka juga memiliki kemampuan untuk menghadiri pertemuan dewan darah murni, tetapi hanya dalam kondisi tertentu."
Notonindito berhenti sejenak, memandang para prajuritnya dengan serius.
"Kita harus memahami kekuatan dan kelemahan vampir jika kita ingin mengalahkan mereka. Kita harus bekerja sama dan menggunakan strategi yang tepat untuk menghadapi musuh yang kuat ini."
Marsekal Gilang dan serdadunya mendengarkan dengan saksama, siap untuk menghadapi vampir dengan pengetahuan baru tersebut.
XXX
Francis Galton, seorang ilmuwan tak bermoral yang ironisnya adalah paman Gilang dengan entengnya mengorbankan Cecilia saat pasukan pendudukan Romannov di Jakarta meminta satu orang wanita di tiap rumah untuk dijadikan budak untuk minum darah dan makanan, Sampai Gilang melihat dengan mata kepala sendiri Roslov memakan Cecilia hidup hidup, Galton sama sekali tak menganggap nyawa anaknya itu berharga.
Gilang memiliki kenangan masa kecil ketika pertama kali bertemu Cecilia, saat itu Jakarta terjadi peperangan antara sisa sisa simpastisan kekaisaran Mughal dan angkatan udara Earth Federation of oceania yang menjatuhkan Bom atom di Monas untung saja tidak sampai ke tanah karena dicegat oleh sebuah rudal.
Paman Gilang, Galton, membenci Gilang dan Cecilia karena mereka adalah ras manusia yang disebut Neotype—makhluk yang menurut Galton adalah monster yang tak memiliki hak untuk hidup seperti manusia. Bagi Galton, mereka adalah makhluk yang lebih rendah dari manusia. Namun, bagi ras manusia baru yang disebut Neotype, Gilang dan Cecilia bagaikan Adam dan Hawa.
Paman Gilang, yang berdiri di hadapan Gilang dan Cecilia, menatap mereka dengan ekspresi dingin. Suaranya yang berat mengisi ruangan, menggema di antara dinding yang kosong. Gilang merasa darahnya mendidih, namun ia tetap mencoba menahan diri, berusaha memahami apa yang sedang dikatakan pamannya.
"Paman... apa maksudmu?" tanya Gilang dengan suara serak, berusaha mencari kejelasan di tengah kebingungannya.
Paman Gilang mendekat, langkahnya teratur namun penuh penekanan. "Kau dan Cecilia, Gilang," katanya, menyebut namanya dengan nada penuh penilaian, "pada dasarnya hanyalah manusia buatan. Kalian tidak lebih dari sekadar eksperimen—produk dari teknologi yang tak punya hak untuk mengklaim tempat di dunia ini."
Gilang terdiam, merasakan setiap kata paman yang seperti pisau tajam yang menusuk hatinya. Cecilia yang berdiri di sampingnya hanya menggigit bibir, berusaha menahan air mata yang hampir tumpah. Paman Gilang melanjutkan, wajahnya semakin keras.
"Kalian itu monster," lanjutnya dengan nada yang tak tergoyahkan, "hasil eksperimen kakek kalian yang bermain-main dengan batasan manusia. Semua yang kalian alami, semua yang kalian rasakan, hanyalah hasil rekayasa. Tak ada yang asli tentang diri kalian."
Gilang menggertakkan giginya, perasaan hancur bercampur marah. "Itu tidak benar, Paman," katanya dengan tegas. "Kami... kami punya perasaan, punya tujuan hidup. Kakek mungkin membuat kami berbeda, tapi kami bukan monster. Kami juga punya hak untuk hidup."
Paman Gilang tertawa miris, menatap Gilang dengan mata penuh penghinaan. "Hak? Kalian tidak tahu apa itu hak. Kalian hanya alat—sesuatu yang bisa dibuang jika tak lagi berguna."
Gilang merasa seolah-olah duniannya runtuh. Namun, di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia harus membuktikan bahwa meskipun ia berbeda, ia tetaplah manusia, dengan impian dan perasaan yang layak dihargai.
Sejak awal sebelum Gilang berubah menjadi Neotype, Galton sudah membenci Gilang. Paman Gilang, Galton seorang ilmuwan tak bermoral yang mendukung Eugenetika, melihat dengan merendahkan bahwa Slow Learner yang dialami Gilang tidak dapat disembuhkan,ia percaya bahwa kecerdasan adalah hasil dari genetika. Galton percaya bahwa individu yang cerdas harus didorong untuk menikah dan memiliki banyak anak, sementara orang yang kurang cerdas harus tidak disarankan untuk bereproduksi bahkan harus disingkirkan.
Dia yakin skor IQ atau kecerdasan adalah takdir genetik yang tidak bisa diubah. Meskipun demikian, kakek Gilang selalu memberikan arahan optimis dan yakin bahwa pendidikan yang baik,terapi konseling, latihan kognitif serta kasih sayang pasti akan membantu Gilang berkembang.
Lebih menyedihkan lagi, Gilang lahir di dalam keluarga yang dipenuhi oleh orang-orang jenius. Kakek dan pamannya adalah ilmuwan terkenal, sedangkan sepupu perempuannya, Cecilia, adalah manusia hasil rekayasa genetik dengan IQ hampir 200. Namun, efek samping dari rekayasa tersebut menyebabkan Cecilia menderita kelainan genetik dan penyakit kronis seperti sesak napas serta melemahnya tubuh akibat penyakit.
Gilang merasa seperti bukan bagian dari keluarga mereka,jika bukan karena kasih sayang kakeknya dan Cecilia entah bagaimana dia akan bertahan hidup.
Di titik inilah Gilang melakukan sesuatu yang dia sesali seumur hidupnya setelah melihat Sangapaman tak menghargai nyawa orang lain. Khususnya putrinya sendiri Cecilia, maka nyawanya bagi Gilang juga tak pantas dihargai...."dor".
Meskipun Cecilia sudah tewas, Suara hatinya yang masih terdengar hingga ke ujung galaksi selalu menghantui jiwa Gilang.
XXX
Invasi Romannov memicu wabah mematikan yang dengan cepat menyebar ke manusia, mengubah mereka menjadi makhluk peminum darah yang dikenal sebagai vampire. Dalam waktu singkat, hampir seluruh umat manusia terinfeksi dan berubah menjadi vampire, menciptakan masalah baru: siapa yang akan menjadi korban mereka jika seluruh manusia telah punah?
Vampir adalah makhluk yang mirip manusia, dengan ciri-ciri seperti taring, telinga runcing, dan mata merah kosong. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk mengubah penampilan mereka. Vampir dapat memodifikasi tubuhnya untuk memiliki telinga yang normal dan memakai lensa kontak untuk menutupi warna matanya. Darah mereka berwarna gelap dan hitam, meskipun dalam anime, darah mereka digambarkan merah.
Vampir tidak memiliki suhu tubuh, detak jantung, atau proses ekskresi karena metabolisme mereka sudah berhenti, dan mereka tidak mengalami penuaan.
Manusia dapat berubah menjadi vampir dan menjadi vampir tidak lengkap. Namun perbedaannya adalah mereka berubah menjadi vampir, bukan dilahirkan sebagai vampir. Vampir tidak lengkap adalah manusia yang meminum darah vampir dan menjadi kasta terendah dengan sebutan level E, tetapi tidak sepenuhnya menjadi vampir. Cenderung lebih lemah daripada kelas yang lebih tinggi tetapi tetap lebih kuat dari manusia. Sebuah vampir umum dengan kecakapan pertempuran yang lebih besar memiliki pengaruh yang mirip dengan bangsawan berperingkat rendah.
Setelah seorang manusia mengonsumsi darah vampir, mereka kehilangan emosinya, hanya menyisakan aspek terbesar dari kepribadian mereka selain hasrat abadi untuk darah.Vampir murni dan mantan manusia ini akan terikat dalam hubungan master-pelayan. Tuan mereka memiliki kontrol penuh atas pelayan mereka, sementara pelayan tidak dapat membunuh tuan mereka, meskipun mereka ingin melakukannya.
Mereka juga tidak lagi merasakan hasrat seksual atau keinginan lainnya, kecuali keinginan untuk minum darah. Karena kehilangan emosi dan keinginan, banyak vampir berusaha mencari minat lain untuk menghindari kebosanan kekal mereka, meskipun vampir yang peduli dengan hal lain selain darah dianggap aneh. Meskipun tidak perlu tidur, mereka bisa melakukannya untuk beristirahat dari keabadian, biasanya antara pagi dan siang. Tidak diketahui siapa yang pertama kali memulai kebiasaan ini, tetapi banyak vampir tidur di peti mati karena nyaman dan melindungi mereka dari sinar matahari. Mandi tidaklah diperlukan karena metabolisme mereka telah berhenti, tetapi mereka tetap bisa melakukannya jika diinginkan.
Vampir umumnya bersatu demi kepentingan diri mereka sendiri, bukan karena kasih sayang atau cinta, dan mereka tidak ragu untuk membunuh sekutu mereka begitu mereka kehilangan perasaan manusia. Beberapa vampir mungkin memilih untuk menenangkan manusia sebagai pendamping untuk mengatasi kebosanan abadi mereka, meskipun banyak yang enggan menyebarkan kutukan ini dan lebih memilih untuk mengubah orang yang mereka pilih. Namun, bila dua vampir saling bertatap muka, yang satu akan selalu lebih kuat daripada yang lainnya.
Mereka biasanya hanya mampu menahan rasa haus darah selama tiga hari sebelum kehilangan kontrol, dan menggigit serta meminum darah manusia kering dianggap sebagai kesenangan terbesar. Vampir juga bisa menikmati darah sesama vampir..
Manusia yang berubah menjadi vampir dapat mempertahankan emosi , seperti perasaan terikat atau merasa terabaikan, jika itu merupakan emosi kuat yang tersisa dari kehidupan mereka sebagai manusia. Seiring berjalannya waktu, kehilangan Kemanusiaan membuat kompleks-kompleks tersebut semakin menjadi bagian dari identitas mereka.
Sebagai hemovora, vampir hanya suka mengonsumsi darah dan tidak ada yang lain. Semakin nikmat rasa darahnya, semakin kuat hasrat mereka untuk meminum darah tersebut sampai orang itu mati. Selain itu, darah manusia terasa paling enak ketika orang itu berada dalam penderitaan kematian. Pada awalnya, mereka mungkin merasa bersalah karena membunuh manusia dan meminum darahnya, tetapi lama kelamaan mereka mulai menganggap manusia hanya sebagai makanan setelah bertahun-tahun memberi makan mereka dan menyaksikan manusia berperang satu sama lain serta mengulangi kesalahan yang sama berulang kali. Ada aturan yang melarang vampir saling meminum darah, seperti antara vampir dan anak vampir, tetapi tampaknya ada kesenangan yang dianggap tidak bermoral yang bisa ditemukan di situ.
Vampir yang baru berubah dapat bertahan hidup dengan meminum darah orang yang mengubahnya mereka, namun ini hanya berlaku untuk waktu terbatas. Seperti vampir sejati, mereka akan mengembangkan taring, kehilangan detak jantung, dan telinga mereka menjadi runcing. Namun, mereka lebih lemah dibandingkan vampir sejati dengan peringkat yang sama, tetap mempertahankan warna mata manusia, dan akan terus menua hingga mereka meminum darah manusia, yang akan mengubah mereka menjadi vampir sejati.
Meskipun vampir tidak lengkap bukanlah vampir sejati, tampaknya vampir sejati tidak keberatan dengan mereka.
Dunia Vampire memiliki hirarki ras yang terdiri dari ras unggul dan ras rendah. Ras unggul termasuk Leluhur atau Dewa Dewi Slavia, Vampir (Kelelawar), Vibora (Ular), Serigala dan Adler (Elang), sementara ras rendah seperti Ghoul (Gagak) dan beberapa ras inferior lainnya seperti Dhampir, manusia setengah vampire dan vampir tidak lengkap. Leluhur, sebagai ras asal dari semua iblis, memiliki kemampuan dasar dari empat sub-ras unggul dan tanpa kelemahan, mampu berubah menjadi kelelawar, ular, serigala, dan elang, serta memiliki kekuatan, kecepatan, dan regenerasi luar biasa. Mereka juga bisa menggunakan sihir dan memanggil familiar, serta hanya bisa mati dengan pemenggalan kepala. Selama bulan purnama, vampir darah murni bisa terbang, dan selalu bisa berteleportasi. Vampir darah murni juga memiliki kekuatan, kecepatan, kemampuan regeneratif yang tinggi, peningkatan penglihatan, indra penciuman, dan pendengaran. Vampir darah murni hanya bisa mati dengan dipenggal kepalanya, namun, jika tubuh mereka terlalu rusak untuk sembuh dengan cukup cepat, itu bisa mengancam jiwa, meski tidak secara langsung. Mereka bisa menggunakan sihir dan memanggil familiar. Kelemahan mereka adalah perak dan penglihatan mereka berkurang di bawah sinar matahari. Mereka bisa makan makanan manusia, tapi itu tidak memberi mereka makan; darah adalah sumber makanan utama mereka.
Leluhur Dapat terbang dan berteleportasi pada bulan purnama, dengan kelemahan pada perak dan berkurangnya penglihatan di bawah sinar matahari, sementara vampir tidak murni lebih mudah dibunuh dan tidak memiliki kekuatan sekuat vampir darah murni, meski tetap bisa berteleportasi dan terbang. Ghoul, tanpa sihir, digunakan sebagai budak oleh ras iblis lainnya dan dapat berubah menjadi gagak. Vibora, yang dikenal sebagai sekutu vampir, mungkin memiliki taring berbisa, sementara informasi tentang Serigala dan Adler masih belum jelas. Semua ras iblis menghisap darah, namun hanya vampir yang menjadikannya sebagai sumber makanan utama. Ras ini terinspirasi oleh hewan, kecuali Leluhur, yang memiliki wujud satu-satunya. Vampir adalah ras abadi yang awalnya manusia, yang berubah setelah menelan darah vampir, dan sering memandang rendah vampir muda.
Vibora dalam bahasa Spanyol (vìbora) berarti ular berbisa; serigala dan adler dalam bahasa Jerman berarti masing-masing serigala dan elang.
Semua ras iblis diilhami oleh hewan, kecuali leluhur (karena mereka semua adalah ras dewa dewi dalam satu wujud).
Ras leluhur iblis dapat menggunakan semua wujud hewan dari semua ras iblis.
Sub-Sider adalah bentuk devolusi vampir tidak lengkap yang kelaparan, berubah menjadi makhluk liar tanpa akal, dan hidup di tempat gelap untuk mencari darah manusia. Jika mereka tidak mendapatkan cukup darah, mereka akan semakin mengerikan dan tidak dapat dipulihkan hanya dengan darah manusia.
Jika seorang manusia digigit oleh vampir murni atau meminum darah dari darah murni, dan tidak mati karena kehilangan darah, mereka akan dan perlahan kehilangan kewarasannya.
Ternyata, vampir membutuhkan darah manusia untuk menjaga kestabilan DNA mereka. Jika mereka kekurangan darah manusia, mereka akan berubah menjadi makhluk mengerikan dan liar seperti kelelawar ini. Setelah perubahan terjadi, bahkan darah manusia tidak bisa mengembalikan mereka ke keadaan semula. Makhluk-makhluk ini hidup di saluran air, keluar untuk berburu darah setiap kali ada kesempatan, dan banyak di antaranya sangat terdesak hingga mereka pergi ke rumah-rumah untuk mencari makan.
Vampir darah murni yang kelaparan tidak akan mati atau menjadi Subsider, melainkan berubah menjadi iblis mahluk yang tak memiliki wujud fisik tapi tak kehilangan akal dan kesadaran, kematian karena bunuh diri juga akan menghasilkan hal yang sama. Selain itu, vampir dapat berubah menjadi setan jika jantung mereka dikeluarkan dari tubuh, namun hal ini bisa dicegah dengan mengembalikan jantung ke dalam dada mereka. Memotong kepala vampir dengan senjata biasa tidak akan membunuhnya, meskipun hal itu akan membuat vampir tidak bisa lagi menggunakan tubuhnya. Ketika seorang vampir terbunuh, tubuhnya akan berubah menjadi abu saat hancur.
Viscount Roslov, pemimpin Invasi Romannov ke kepulauan Indonesia adalah Dhampir atau setengah manusia, setengah vampir yang menjadi kelas dua di negaranya sendiri yang lebih rendah dan dianggap lebih lemah dari darah murni.
Vampir Tidak Murni atau Dhampir seperti Roslov memiliki kemiripan dengan vampir darah murni. Mereka memiliki kekuatan, kecepatan, dan kemampuan regenerasi yang tinggi, serta peningkatan kemampuan dalam penglihatan, penciuman, dan pendengaran, meskipun tidak sekuat vampir darah murni. Vampir tidak murni memiliki kemampuan untuk terbang dan berteleportasi saat bulan purnama. Mereka lebih mudah dibunuh karena keterampilan dan pertahanan mereka lebih lemah. Mereka memiliki sihir yang lebih lemah. Perak adalah kelemahan utama mereka.
Karena garis keturunan mereka tidak tercampur dengan darah manusia, vampir murni dianggap sebagai jenis vampir yang terkuat dengan kekuatan yang paling dominan.
Meskipun sangat kuat, purebloods hanya membentuk sebagian kecil dari populasi vampir. Ketika seorang vampir murni meninggal, tubuh mereka akan hancur secara perlahan menjadi partikel kecil yang bersinar sebelum hancur menjadi serpihan kaca.
Selain itu, vampir dengan tingkatan lebih rendah hanya memiliki satu kemampuan khusus, pureblood atau darah murni memiliki banyak kekuatan. Kekuatan ini sangat berbahaya bagi sesama vampir maupun manusia mereka. Purebloods mampu membunuh seluruh pasukan manusia dalam waktu singkat. Purebloods juga memiliki kemampuan untuk memaksa vampir yang lebih rendah untuk melakukan perintah mereka.
Padahal Dhampir atau manusia setengah vampir seperti Roslov sebenarnya lebih kuat daripada darah murni karena dia lebih toleran pada sinar matahari maupun sinar UV buatan dan memiliki darah manusia yang mengalir di tubuhnya sendiri, sumber energi utama yang menjadi kekuatan pada vampir.
Berbeda dengan vampir darah murni, mereka dapat melihat dengan jelas di bawah sinar matahari. Meskipun darah tetap menjadi makanan utama mereka, mereka dapat bertahan dengan makanan manusia lainnya.
Meski begitu dulu kebanyakan bangsawan Romannov bahkan Putri Zaleska sendiri tak percaya dia adalah Nosterfath karena dia bukan darah murni.
Dalam ruang pertemuan yang anggun dengan hiasan kristal dan lukisan-lukisan bersejarah, Zaleska Blavatsky, pemimpin kepangeranan Romanov, duduk di singgasana yang megah, mengenakan gaun hitam berhiaskan permata yang bersinar, menatap tajam ke arah Viscount Roslov yang berdiri di hadapannya dengan ekspresi penuh rasa malu.
Dengan suara yang tajam dan penuh sarkasme, Zaleska membuka pembicaraan, suaranya memecah kesunyian yang tegang. "Ah, Viscount Roslov," katanya sambil menyeringai. "Kau bahkan tak bisa berubah menjadi kelelawar, teleportasi, atau bahkan regenerasi dengan cepat. Bagaimana mungkin kau berharap bisa berubah menjadi Nosferatu? Apakah kau kira kekuatan itu datang dengan hanya berpura-pura menjadi bagian dari keluarga vampir kuno?"
Viscount Roslov, dengan wajah yang sedikit memerah, mencoba untuk menyembunyikan kecanggungan, namun tidak bisa menghindari perasaan terhina yang menderanya. Zaleska melanjutkan, menundukkan kepala dengan angkuh, seolah menyisir rambutnya dengan jemari yang halus, seolah mempermainkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Kau terlalu lama berada dalam bayang-bayang," katanya dengan nada mengejek, "dan itu tak akan membantumu menjadi Nosferatu yang sejati. Kekuatan itu hanya untuk mereka yang benar-benar memahami kekuatan kegelapan, bukan sekadar mengikuti legenda."
Roslov menelan ludah, berusaha untuk tetap tenang, tetapi di dalam hatinya, penghinaan itu meresap jauh, merobek egonya. Zaleska berdiri perlahan dan melangkah mendekat, menatapnya dengan mata yang tajam. "Jika kau ingin menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar manusia, maka kau harus belajar terlebih dahulu bagaimana mengatasi kelemahanmu yang jelas terlihat." Dia tersenyum sinis. "Atau tetaplah menjadi makhluk yang lemah. Pilihan ada padamu."
Selesai berkata demikian, Zaleska berpaling, meninggalkan Viscount Roslov yang masih berdiri terdiam, dipenuhi rasa sakit karena hinaan yang baru saja diterimanya.
Ayah Roslov, Mihai Cel Rau yang merupakan seorang bangsawan vampir Rusia menikah dengan ibunnya Ileana Elizabeth dari Rumania,putri seorang Pendeta dan pemburu Vampire yang menikahkannya sebagai istri demi perdamaian antar ras.Mereka memiliki anak laki laki bernama Roslov Pavel Petrovich dan Sylvania Nikolaevna.
Dewan Bangsawan coven Vampire Romania, menginginkan ayah Roslov untuk menikah dengan darah murni sebagai bentuk kesetiaan dan menceraikan ibu kandung Roslov. Ibu Roslov adalah manusia,meski sang ayah yang merupakan darah murni membuat dia dan adik perempuannya menyandang gelar bangsawan dan memiliki kekuatan seperti darah murni, dia tetap dianggap sebagai dhampir atau mahluk yang lebih rendah dari vampir.
Ibunya hanya manusia biasa yang merupakan putri salah satu pendeta Gereja Ortodoks Rumania. Ikatan pernikahan mereka, yang awalnya didasari pada cinta dan untuk menjaga perdamaian antara komunitas vampir dan Gereja Ortodoks Timur, dibatalkan oleh Dewan Bangsawan, yang meminta ayah Roslov cerai untuk menikahi wanita darah murni. Para vampir melanggar perjanjian damai dengan pemburu dan memisahkan ayah dan ibu Roslov sebagai simbol perdamaian antara vampir dan manusia, terutama pemburu vampir, karena suatu insiden..
Ibu Roslov adalah pemburu vampir terampil yang berpengalaman dalam penggunaan senjata anti-vampir. Ayah Roslov menyelamatkan Pemburu yang ingin membunuhnya saat pertama kali bertemu. Sang ayah menggambarkan ibunnya memiliki kemampuan 'luar biasa'.Keluargannya Setuju Untuk menerima ayah Roslov sebagai pasangan sebagai upaya untuk mencapai perdamaian antara vampir dan pemburu vampir ibunnya adalah manusia dari klan Pemburu vampir terakhir di dunia, namun ibunnya dikhianati ketika coven di Moldova meminta Ayah Roslov untuk menceraikan ibunnya dan menikahi seorang darah murni,karena bagi bangsawan menikahi manusia adalah hal yang memalukan.
Dewan Bangsawan telah melanggar sumpah persetujuan mereka, meskipun awalnya mereka menyetujui pernikahan ayah Roslov dengan seorang wanita, putri Pemburu Vampir dan pendeta Gereja Ortodoks Rumania.
Tak diketahui dengan pasti di mana dan kapan Roslov lahir. Beberapa sumber menyatakan dia lahir di Targoviste, Rumania, pada tahun 1901, jauh sebelum Revolusi Bolshevik, sementara yang lain mengatakan dia lahir di Ukraina sekitar tahun 1910 dan pernah melayani Pangeran Vampir Alexei Romanov bersama Biarawan Sinting Grigori Rasputin. Roslov sendiri mungkin sudah lupa dengan kelahirannya, yang jelas dia seumuran dan menjadi teman dekat putra mahkota Kekaisaran Rusia tersebut.
Roslov pernah memenggal anak buahnya hanya dalam beberapa detik dengan telapak tangannya, hanya karena anak buahnya iseng menyetel lagu kebangsaan Uni Soviet yang memuja Stalin. Roslov merasa sangat trauma dengan rezim tirai besi Uni Soviet yang melakukan genosida kelaparan terhadap vampir dan agen GPU, yang menyebabkan ayah dan adiknya tewas
Di usia yang masih sangat kecil untuk ukuran vampir, Roslov yang tinggal di Ukraina menjadi korban kekejaman Stalin dalam tragedi kelaparan Holodomor. Ayah dan adik kandungnya tewas akibat diburu oleh satuan pemburu vampir Soviet yang merupakan bagian dari agen GPU. Ibunya tewas karena penyakit setelah diubah menjadi vampir, tak lama setelah dipaksa menceraikan ayah Roslov. Hal ini terjadi karena Dewan Bangsawan tak menyukai darah murni yang menikah dengan manusia.
Roslov memeluk ayah dan adiknya saat ayahnya dan adiknya dieksekusi oleh agen Intel Soviet GPU yang memiliki kemampuan khusus untuk memburu vampir bangsawan.
Karena ayah dan adik kesayangannya dieksekusi tentara pendudukan Soviet di Polandia Roslov memutuskan balas dendam dengan mengembalikan kekaisaran Rusia di bekas wilayah Soviet di bawah Pangeran vampir Alexei Romannov.
Ibu tiri Roslov sangat kejam. Dia adalah seorang wanita bangsawan tak bermoral yang menginginkan harta ayah Roslov dan naik gelar bangsawan, ia sama sekali tak mencintai ayah Roslov, hanya menikah dengan ayah Roslov demi tujuan politis dan menguasai harta serta kekayaannya sebagai bangsawan.
Adik Roslov diperlakukan seperti budak. Bahkan, ibu tiri Roslov mengkhianati ayah Roslov demi mendapatkan harta warisan. Dia melaporkan keberadaan mereka kepada pihak GPU dan tentara merah Uni Soviet Sebagai vampir klan Romanov yang berbahaya dan menindas kaum Proletar. Akibatnya, ayah dan adik Roslov tewas dieksekusi mati oleh regu tembak di Ukraina.
Roslov sangat terpukul dengan kematian adiknya sampai dia membunuh ibu tirinnya untuk balas dendam.
Dendam Roslov memuncak. Dia membunuh tentara Soviet yang membunuh ayah dan adik perempuannya dengan kekuatan yang tak terjelaskan muncul dalam dirinya dan membunuh ibu tirinya dengan mencekiknya menggunakan taring srigala.
Tapi ibu tirinnya mengutuk wajahnya yang tampan menjadi setengah monster sebelum kematiannya, Roslov memasukan jantung adiknya ke dalam tubuhnya sendiri,sebagai keturunan bangsawan tinggi yang punya kekuatan untuk menjadi Srigala dan elang,pada malam hari Alter egonya yaitu adiknya yang sekarang ada di dalam diri Roslov karena jantung adik perempuannya yang dia tanam di tubuhnya akan bangkit dan dia menjadi perempuan tubuhnya akan sedikit menyusut dan ia akan menjadi vampir,tapi ketika siang hari ia akan kembali normal dengan tubuhnya sendiri ia bisa berubah menjadi manusia srigala raksasa meski lama kelamaan ia malah kehilangan Alter ego adiknya karena menyatu dengan dirinnya senidiri menjadi satu orang.
Roslov kemudian memasukkan jantung adiknya yang masih berdetak ke dalam tubuhnya sendiri. Dia berharap kesadaran adiknya masih hidup di dalam dirinya. Adiknya akan mengambil alih tubuh Roslov di malam hari. Sebagai srigala, Roslov akan berkuasa atas tubuhnya di siang hari. Namun, sebagian tubuh Roslov yang kekar bagai srigala akan berubah menjadi versi perempuan ketika adiknya mengambil alih tubuhnya.
Ia bersumpah tak akan lagi menjadi anak miskin yang kelaparan dan bertekad untuk naik gelar bangsawan bahkan membangun kerajaanya sendiri.
Hanya vampir leluhur pertama yang merupakan dewa-dewi Slavia pra-Ortodoks yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan elemen, dan mereka semua adalah pemimpin dewan Bangsawan Coven Romannov.
Purebloods, leluhur atau darah murni adalah vampir yang darahnya sepenuhnya murni tanpa campuran manusia, mereka adalah keturunan Langsung dewa Dewi dari Mitologi Slavia. Mereka merupakan kelas vampir yang paling langka, elit, dan kuat. Senat menganggap darah murni sangat berharga, bahkan sampai pada titik di mana membunuh atau membahayakan vampir murni dianggap tabu. Purebloods sangat ditakuti dan dihormati, dan mereka diakui sebagai penguasa ras vampir, diperlakukan layaknya bangsawan.
Bisa dibilang dewa-dewi Slavia cuma sekelas vampir dan siluman. Bangsa Slavia sejak lama terkenal dengan kehidupannya yang dekat dengan alam. Mereka sering mengait-ngaitkan kekuatan alam atau hal lain yang menyebabkan asal-usul dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan dewa-dewi tertentu yang kemudian mereka puja. Dalam tulisan ini, diulas secara singkat mengenai dewa-dewi utama bangsa Slavia yang ada dalam mitologi Slavia.
Dewa-dewi yang disembah bangsa Slavia sebelum era Kristen Ortodoks sebenarnya adalah vampir leluhur pertama yang hidup abadi. Mereka adalah ras iblis dan siluman yang dipuja oleh manusia karena ketakutan akan kekuatan yang mereka miliki. Beberapa manusia ada yang menyembah maupun memerangi iblis karena kekuatan mengerikan yang mereka miliki. Untuk membuat pemerintahan lebih efektif, mereka membuat manusia tak sadar dengan konspirasi bangsa vampir yang memerintah manusia di balik layar tanpa disadari manusia itu sendiri. Vampir menguasai politik di Eropa Timur, Balkan, dan Rusia. Bangsawan dinasti Romanov Oldenburg di Rusia sebenarnya adalah vampir yang menyamar agar bisa berbaur dan mengontrol manusia di balik layar tanpa secara langsung mencampuri urusan mereka dengan menunjukkan identitas vampir. Namun, kekuasaan vampir di Rusia sempat berakhir saat dinasti Romanov digulingkan kaum Bolshevik. Anggota tertinggi dewan Bangsawan Coven Romannov di Moldovia dan Targoviste adalah dewa-dewi Slavia vampir terkuat dan vampir tertinggi di Eropa Timur yang dipimpin oleh dewa mitologi Slavia yang merupakan vampir pertama dan leluhur seluruh vampir di Eropa Timur. Para bangsawan vampir pertama itu dipimpin oleh dewa petir Perun, Veles - dewa bumi, air, dan bawah tanah; Svarog - dewa langit, matahari; dan dewa-dewi Slavia lainnya. Merekalah yang sebenarnya ingin vampir menjaga hubungannya dengan manusia agar bisa hidup berdampingan dan tak mencampuri urusan manusia.
Di Eropa Timur, ada sebuah rahasia yang dijaga ketat oleh para vampir tertinggi yang memerintah di wilayah tersebut. Mereka adalah keturunan dari para dewa dan dewi bangsa Slavia yang dipimpin oleh dewa vampir pertama dan leluhur seluruh vampir di Eropa Timur, yang dikenal sebagai Dewi Vampir Selene.
Dewi Vampir Selene memperoleh kekuatan gaib dan keabadian dari sumber daya alam yang kuat, dan dengan kekuatannya itu, ia menciptakan bangsa vampir pertama di Eropa Timur. Para bangsawan vampir pertama itu dipimpin oleh tiga dewa Slavia terbesar: Perun, dewa petir yang perkasa; Veles, dewa bumi, air, dan bawah tanah; dan Svarog, dewa langit dan matahari.
Vampir tertinggi di Eropa Timur dipimpin oleh dewa mitologi Slavia yang merupakan vampir pertama dan leluhur seluruh vampir di Eropa Timur. Para bangsawan vampir pertama itu dipimpin oleh dewa petir Perun, Veles - dewa bumi, air, dan bawah tanah; Svarog - dewa langit, matahari, dan dewa-dewi Slavia lainnya.
Perun adalah dewa yang paling kuat dan dihormati oleh bangsa vampir. Ia adalah pemimpin perang dan pelindung bangsa vampir di saat mereka menghadapi ancaman dari manusia maupun makhluk gaib lainnya. Dengan kekuatan petirnya, Perun mampu menghancurkan musuh-musuh bangsa vampir dengan mudah.
Dewa petir dan kilat yang paling ditakuti oleh bangsa vampir. Merupakan dewa tertinggi dalam mitologi Slavia. Dia sering digambarkan bersama dengan api, gunung, pohon oak, bunga iris, elang, cakrawala, kuda, dan kereta kudanya. Tak lupa dengan senjata yang selalu ada di tangannya, biasanya berupa palu, kapak, atau anak panah petir miliknya. Perun digambarkan sebagai sosok lelaki yang gagah perkasa dengan janggut tembaganya. Fenomena petir oleh bangsa Slavia kuno dianggap sebagai panah-panah Perun yang diarahkan ke arah Veles di bumi, di mana Veles adalah musuh Perun dalam mitologi Slavia. Simbol-simbol yang digunakan untuk melambangkan dewa Perun sering ditemukan pada alat-alat perang yang dibuat dari batu dan logam. Selain itu, ditemukan pula pada balok-balok atau rumah mereka untuk melindungi atap dari sambaran petir. Dalam mitologi Baltik, ada pula nama dewa yang mirip baik namanya maupun kekuatan dan ciri khasnya dengan Perun, yakni "Perkunas" atau "Perkons", yang jika ditelusuri ke akar kata dari bahasa Proto-Indo-Eropa, ditemukan kata *Perkwunos. Kata *perkwu- berarti "pohon oak", tapi dalam bahasa Proto-Slavia, kata per- berarti "menyerang" atau "membelah" dengan benda tajam.
Veles adalah dewa yang bertanggung jawab atas keseimbangan alam dan kekuatan bawah tanah. Ia membantu bangsa vampir mengambil keuntungan dari sumber daya alam yang melimpah untuk bertahan hidup dan memperkuat diri mereka. Veles juga menjadi perantara antara dunia vampir dan dunia manusia.
Sering dikaitkan dengan karakter naga dan lembu. Ia merupakan salah satu dewa terpenting dalam mitologi, dianggap sebagai dewa ahli sihir, musik, kesehatan, dan pesulap (mirip dewa Loki dalam mitologi Nordik). Sosok Veles sering digambarkan sebagai seorang lelaki bertanduk dengan rambut, berjenggot tebal, atau sebagai ular naga. Konflik antara Perun dan Veles merupakan hal paling penting dalam mitologi Slavia. Dalam pertempurannya dengan Perun, Veles seringkali merubah dirinya menjadi pohon di hutan atau masuk ke lubang-lubang atau gua menuju dasar bumi ketika berusaha untuk menyelamatkan diri. Selain itu, ketika Veles berada dalam pertarungan melawan Perun, ia mengubah dirinya menjadi naga. Tokoh Veles dalam mitologi Slavia kemungkinan memiliki hubungan dengan tokoh Vala sebagai lawan dari dewa petir Indra dalam kitab Veda, atau dengan Vels atau Velinas sebagai lawan dari dewa petir Perkunas dalam mitologi Baltik. Nama, ciri khas, dan posisi mereka kesemuanya sangat mirip. Hal yang paling mungkin adalah nama yang berasal dari akar kata pada bahasa Proto-Indo-Eropa *wel- yang berarti wol. Dalam bahasa Rusia, kata "volos" berarti rambut, dan kata "vol" dalam bahasa Rusia dan rumpun bahasa Slavia selatan berarti "lembu". Hal tersebut memiliki garis hubung yang merujuk pada penggambaran dewa Veles yang berambut dan berjanggut tebal dengan tanduk di kepalanya. Nama lain: Weles, Volos.
Svarog adalah dewa yang bertanggung jawab atas kekuatan langit dan matahari. Ia memberikan kekuatan dan kekuasaan pada bangsa vampir, memastikan mereka selalu memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi diri mereka sendiri dan mempertahankan wilayah mereka.
Ia sering juga dianggap sebagai dewanya ahli logam (pembuat perkakas atau senjata dari logam). Svarog yang mewakili kekuatan api, dianggap sebagai dewa yang sangat penting karena api (termasuk matahari) dianggap sebagai sumber kehidupan oleh bangsa Slavia. Svarog adalah salah satu dari dewa tertinggi dalam mitologi Slavia dan dianggap "bapak para dewa" karena merupakan personifikasi dari dewa Rod, dewa tertua, yang merupakan ayah para dewa. Salah satu dewa terpenting yang merupakan anak Svarog adalah Dazhbog. Ketika berbicara tentang Svarog, maka sering pula ditemukan dalam literatur nama "Svarozich". Secara harfiah, "Svarozhich" berarti "Svarog kecil", atau sederhananya adalah sebutan bagi Svarog ketika masih kecil. Akan tetapi, ada beberapa ahli mitologi Slavia yang menganggap bahwa Svarozhich adalah salah satu anak dari Svarog, selain Dazhbog. Pada pendapat yang terakhir tersebut diterangkan pula bahwa Dazhbog kemudian mewakili kekuatan api di langit, yaitu matahari, sedangkan Svarozhich melambangkan kekuatan api di bumi. Selain pendapat-pendapat di atas, ada pula yang menganggap bahwa baik Svarozhich maupun Dazhbog adalah sosok dewa yang sama. Nama Svarog sendiri jika ditelusuri dari bahasa Slavia tua, terdiri dari dua akar kata, yakni "swa" memiliki arti "langit" (svet "cahaya", svyat "kesucian", -> sveta na nebe "cahaya di langit") dan "rog" yang berarti "tanduk", yang melambangkan maskulinitas. Nama lain: Svaroh, Swarog, Svarozhich.
Namun, kekuasaan dan keabadian yang dimiliki oleh bangsa vampir tidak datang tanpa harga. Mereka harus memelihara keseimbangan alam dengan menjaga ekosistem yang ada di sekitar mereka. Mereka juga harus memastikan bahwa mereka tidak terlalu bergantung pada darah manusia untuk bertahan hidup, agar tidak mengancam keberadaan manusia dan keberlangsungan hidup mereka sendiri.
Dazhbog adalah dewa matahari yang merupakan anak dari Svarog dan termasuk dalam jajaran dewa-dewa utama. Ia diakui sebagai dewa yang berkaitan dengan kesehatan dan kekuatan, karena bangsa Slavia meyakini bahwa "api" atau "matahari" adalah sumber kehidupan dan energi, sangat penting bagi mereka yang hidup di wilayah dengan iklim dingin. Nama Dazhbog berasal dari kata "dat'" atau "daj" yang berarti "memberi", dan "bog" yang berarti "tuhan" atau "dewa", sehingga ia dianggap sebagai personifikasi matahari, dewa yang memberi kehangatan dan kehidupan di dunia. Hujan yang turun juga dianggap sebagai berkah dari Dazhbog, yang mendukung pertumbuhan tanaman di ladang. Dalam puisi epik "Slove o Polku Igoryeve", yang ditulis dalam bahasa Slavia Timur Tua, bangsa Slavia menganggap diri mereka sebagai keturunan atau cucu dari Dazhbog. Bukti-bukti yang mengarah pada pemujaan Dazhbog ditemukan di berbagai situs arkeologis.
Karena kekuatan mereka yang luar biasa, keluarga bangsawan vampir kepangeranan Romannov tak akan bisa naik tahta tanpa mendapatkan dukungan atau pengakuan dari mereka, mereka pula yang mewajibkan vampir untuk menutup identitasnya dan tak terlalu mencampuri urusan manusia, karena itu dewan bangsawan seringkali bersitegang dengan kepangeranan Romannov
Bangsa vampir telah menjadi legenda dan mitos di Eropa Timur selama berabad-abad. Namun, sedikit yang tahu bahwa bangsa vampir sebenarnya adalah keturunan dari para dewa dan dewi Slavia yang kuat dan bijaksana. Meskipun mereka hidup terpisah dari manusia, mereka selalu menghormati kekuatan alam dan kebijaksanaan para dewa dan dewi bangsa Slavia, termasuk Dewi Vampir dan para dewa yang memimpin mereka.
XXX
Marsekal Gilang, tiba-tiba ditangkap oleh Kepangeranan Romannov yang didominasi vampir ketika hendak melakukan perundingan gencatan senjata dengan Gubernur Jendral Putri Alexandra Cel Frumks. Dia diasingkan jauh ke Beijing di bawah pengawasan Yuan Fahai, di tempat yang dijaga ketat oleh vampir untuk memastikan sumber darah yang tak terputus dari tahanan perang.
Dalam pengasingan, awalnya Romannov berencana mengubah Gilang menjadi vampir, layaknya seluruh rakyat yang ditaklukkan. Namun, semua vampir yang mencoba menggigit dan meminum darahnya banyak yang mati terbakar, karena Garuda Kosmos di dalam dirinya memiliki energi matahari yang merupakan kelemahan para vampir. Biar bagaimanapun, Gilang rela ditangkap agar Romannov melepaskan rakyat Indonesia yang diternak sebagai pet darah, agar bisa mengungsi ke Indonesia Timur, terutama Papua Barat, wilayah yang masih dikuasai Faksi Demokratik.
Di sisi lain, sekelompok milisi yang dikenal sebagai APRIs, dipimpin oleh Kapten Rena, yang merupakan teman lama Gilang, bersiap untuk misi berbahaya: menyusup ke dalam Beijing yang terlarang dan menyelamatkan Marsekal Gilang dari cengkeraman vampir. Misi ini adalah harapan terakhir mereka untuk mengembalikan keadilan dan kebebasan kepada manusia yang diasingkan itu.
Namun, di tengah perjalanan yang penuh risiko dan pengorbanan ini, Rena dan timnya harus menghadapi rintangan yang tak terduga. Kepangeranan Romannov memiliki sistem keamanan yang rumit, dan vampir-vampir yang kuat siap melindungi apa pun yang menjadi kepentingan mereka. Di sisi lain, Gilang sendiri harus menemukan cara untuk bertahan hidup di dunia yang tak dikenal baginya, di mana setiap sudut dipenuhi dengan ancaman dan kegelapan.
Ketika misi menyelamatkan berjalan semakin berbahaya, Rena dan Gilang menghadapi pilihan sulit antara mempertaruhkan segalanya untuk kembali ke dunia mereka atau terjebak dalam perang yang lebih besar yang melibatkan vampir dan umat manusia. Dalam pertempuran untuk kebebasan, cinta, dan keadilan, mereka akan menemukan kekuatan sejati dari persahabatan dan tekad yang tidak pernah padam.
XXX
Sudah rahasia umum dalam sejarah rata-rata rezim totaliter yang ada di dunia ini runtuh bukan karena perang atau ditaklukkan oleh negara lain, melainkan karena masalah internal, seperti kebangkrutan yang dialami oleh Romanov dan Oceania selama ratusan tahun terakhir. RFAA dan Presiden RIS menuntut anggota partai dalam Oceania untuk melakukan reformasi sosial politik guna menciptakan pemerintahan yang lebih demokratis, serta dengan lapang dada membubarkan diri. RIS kedua akhirnya membiarkan Romanov tetap merdeka, tetapi menjadi negara bawahan Republik Indonesia. Tahta kepangeranan milik Dinasti Romanov dihapuskan, dan Presiden Indonesia memberikan kekuasaan pada Dewan Bangsawan Coven Vampir.
Siang, Garuda kosmos unggul telak
matahari menguatkannya
Roslov sang vampir melemah
Malam Roslov unggul strategis
Garuda kosmos tetap kuat, tapi:
tidak di charge
visibilitas turun
XXX
Romanov menginvasi Indonesia dengan ancaman serangan dari Republik Federasi Asia Afrika dan Oceania memerlukan strategi yang sangat hati-hati dan multifaset.
Meski gagal, Romannov Memperkuat pertahanan laut di sekitar Selat Malaka dan perairan strategis lainnya untuk mencegah atau memitigasi serangan dari armada Oceania. Mengembangkan sistem pertahanan udara yang kuat untuk melindungi wilayah penting dan menghadapi potensi serangan udara.
Memperkuat pertahanan di Jawa untuk menghadapi kemungkinan serangan dari timur oleh Pejuang Pemulihan kemerdekaan Faksi Demokratik dan memastikan kesiapan untuk melawan atau menanggapi serangan.
Menyusun rencana logistik yang matang untuk memastikan aliran pasokan dan pergerakan pasukan yang efisien ke Malaysia.
Menciptakan aliansi atau mendapatkan dukungan dari kelompok lokal atau faksi di Malaysia yang dapat membantu dalam mengurangi perlawanan dan memberikan intelijen lokal.
Melancarkan operasi diversif untuk mengalihkan perhatian dari potensi serangan. Ini bisa mencakup serangan terhadap posisi atau kepentingan strategis lainnya.
Menggunakan propaganda untuk menciptakan ketidakstabilan atau kebingungan di negara-negara yang mungkin menjadi ancaman.
Berusaha menjalin komunikasi atau kesepakatan diplomatik dengan negara-negara besar untuk meredakan ketegangan dan mengurangi kemungkinan intervensi langsung mereka. Mencoba untuk menawarkan kesepakatan atau perjanjian yang bisa menguntungkan mereka dalam rangka menurunkan intensitas konflik atau mendapatkan penundaan.
Menyesuaikan strategi berdasarkan perubahan situasi di lapangan dan reaksi dari negara-negara besar.
Mengidentifikasi dan memitigasi risiko terkait dengan serangan balasan atau intervensi internasional. Mempertimbangkan dampak politik, ekonomi, dan militer dari invasi.
Memastikan penyebaran pasukan yang fleksibel dan dapat cepat diubah jika terjadi ancaman dari arah yang tidak terduga.
Selain mungkin karena ketidakompetenan Alexandra Cel Frumos dan kekurangan Romannov di angkatan Laut,bukti mereka tak berhasil menaklukkan Indonesia Timur terutama Papua Barat yang menjadi basis faksi Demokratik membuktikan jika mereka mungkin memang tak fokus ke Indonesia dan lebih fokus untuk berperang di daratan utama Asia dan Eropa terutama Medienterania meski Indonesia adalah tempat yang penting karena banyak SDA Romannov terlalu terbebani untuk melawan RFAA dan Oceania yang ada di daratan utama Asia dan Eropa,Mereka terlalu meremehkan Indonesia dan tak menganggapnya serius mereka memperluas wilayahnya kesana juga hanya untuk dapat tambahan SDA.
XXX
Saat perang berkecamuk, Gilang menyadari bahwa mengalahkan Romannov akan membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan kasar. Dia juga harus memenangkan hati dan pikiran rakyat Indonesia, menginspirasi mereka untuk bangkit dan memperjuangkan kebebasan mereka.
Gilang memutuskan untuk menculik Presiden pemerintah pengasingan Theodore Adhitya ke Kuala Lumpur dan menuntut Faksi konservatif mengadakan gencatan senjata dan aliansi sementara melawan pendudukan Romannov, akhirnya Faksi konservatif dan Demokratik bersekutu menyerang Romannov di front depan pertempuran tapi di front yang tak terdapat keberadaan tentara Romannov perang saudara tetap terjadi seperti biasa.
RFAA mengecam keras tindakan mantan sekutunya Oceania karena menyerang negara berdaulat secara sepihak.Akhirnya Parlemen RFAA membuat keputusan bulat untuk mendeklarasikan perang melawan Oceania dan Romanov dan bersekutu dengan melawan pasukan di Hawaii dan Terusan Trans Siberia.
Lagu yang mengerikan bergema diikuti oleh barisan pasukan yang siap membumi hanguskan seluruh Indonesia.
All hail Oceania!
Her cause is true and glorious.
All hail Oceania!
Her armies are victorious!
What sustains us never dies...
Big brother, steadfast at our side
He guides us always, firm and wise,
the light of truth, far and wide.
All hail Oceania!
Her cause is true and glorious.
All hail Oceania!
Her armies are victorious!
Still to beckon, still to shine,
marching bravely to the fore!
Built of trust and strong with pride:
Hail Oceania, evermore!
Hail!!
WAR IS PEACEFREEDOM IS SLAVERYIGNORANCE IS STRENGTH.
Angkatan laut APRIS yang menjaga kedaulatan negara ini juga mendengarkan lagu yang tak kalah mengerikannya,
Sing to the sailors, on the floating fortress'
Sing to the soldiers, on the battlefield
Sing to the airmen, in the burning azure
Sing to the farmers, rising yields
We are the children, builders of the future
And we the children swear too thee;
Loyal devotion
Fearless devotion
And too die with dignity
Sing to the thankful members of the party
Sing to the party policy
Sing to our country, mighty Oceania
And on peace and Victory.
RFAA, yang kini berbalik menentang mantan sekutunya karena bekerja sama dengan vampir, dijanjikan akan menaklukkan seluruh Eropa dan benua Amerika, yang sebelumnya dikuasai oleh Oceania. Sementara itu, RIS dijanjikan akan menguasai wilayah Asia, termasuk daerah sekitar India dan Cina, yang sebelumnya merupakan bagian dari jajahan Romannov.
Pemerintah Faksi Demokratik RIS di Papua Barat, yang dipimpin oleh Natalius Kaisepo Papare dan Teuku Muhammad Syah, yang sudah berdamai dengan mantan Presiden Pemerintah Pengasingan, mengirim agen Liga Garuda dengan kekuatan Kavaleri Robot Tempur raksasa mereka. Mereka dapat bergabung untuk berperang melawan Romanov di Terusan Trans-Siberia yang menghubungkan daratan Siberia ke Amerika Utara.
Ketika seluruh Guardian United of Nation APRIS dikirimkan ke Front Afrika Utara dan Mediterania untuk melawan Romanov dan Oceania, Pemerintah RIS mengirimkan agen Liga Garuda dengan kekuatannya untuk membantu pasukan perbatasan zona netral melindungi wilayahnya. Sementara itu, Gilang dan anak buahnya diperintahkan untuk melindungi istana pemerintahan dan kastil Vladimirovich di Surabaya yang kini telah direbut oleh pasukan republikan.
Akhirnya terjadilah perang antara Kubu Pasifik Sentral RFAA dan RIS melawan Blok Romanov dan Oceania yang disebut perang Salib Alucard oleh vampir Romannov atau perang Oceania ketiga oleh partai Ingsoc.
XXX
Zaleska mendapatkan ramalan mengerikan dari Perun, Dewa petir bangsa Slavia dan ketua dewan bangsawan vampir jika dia akan dihabisi oleh seorang ksatria hitam dan putih dari zamrud khatulistiwa.
Zaleska yakin jika orang itu pasti adalah manusia yang menjadi titisan Garuda, karena itu dia melancarkan invasi besar besaran ke Indonesia untuk menghabisi ksatria itu yang dia pikir adalah Gilang.
Roslov menyadari jika Gilang mungkin adalah ksatria hitam putih dalam ramalan yang suatu saat akan memusnahkan Zaleska, Roslov sudah muak dengan Zaleska yang selalu merendehkan dhampir Atau vampir seperti Roslov yang bukan darah murni.
Roslov yakin jika satu-satunya cara untuk menghentikan perang dan pertumpahan darah adalah semua orang harus memahami perasaan sakit dan penderitaan yang ditimbulkan akibat perang itu sendiri, agar takut dan berpikir seribu kali sebelum memulai peperangan hanya karena perbedaan antara manusia dengan ras lain. Dia juga ingin semua orang, baik manusia yang mengucilkannya karena takut, atau vampir darah murni yang merendahkannya, merasakan penderitaan yang dia alami sebagai vampir yang berumur panjang, hanya untuk tersiksa dengan kengerian perang selama ratusan tahun.
Karena itu Roslov memutuskan untuk membunuh Cecilia di depan mata Gilang agar Gilang memiliki dendam seumur hidup pada vampir dan memberikannya motivasi untuk menjadi ksatria hitam dan putih yang diramalkan Perun agar dia bisa membunuh Zaleska. Roslov akan mengambil kesempatan untuk menjadi penguasa baru Eurasia Romannov setelah Zaleska tewas ditangan Gilang.
Zaleska hanya melihat Gilang sebagai Ancaman utama karena dimimpinya hanya diperlihatkan si ksatria hitam putih yang selalu memainkan seruling, memakai bulu merak dan sangat ahli membasmi iblis,dia tak melihat sang ksatria Hitam dengan jelas di memorinya.
Tapi Roslov salah, Ksatria hitam dan putih itu bukanlah Gilang, melainkan Zaleska itu sendiri. Zaleska mati akibat dendamnya pada umat manusia. Sedangkan Gilang lebih memilih menerima kematian Cecilia sebagai perpanjangan tangan takdir. Gilang menyadari ia tak akan punya lagi tujuan hidup yang bermakna jika tergantung pada dendam dan kebencian.
Di tengah sunyi malam yang dingin, suara statis bergema di saluran radio. Hanya desis halus yang terdengar sejenak sebelum suara berat seorang pria terputus-putus muncul, menggema di seluruh frekuensi.
“Roslov, mengapa tidak menjawab?!” Suara itu penuh ketegangan, menuntut perhatian. “Tugas barumu… setelah menarik mundur pasukan dari RIS… adalah membangun pangkalan robot dan logistik darah manusia di sekitar Terusan Trans Siberia dan negara konfederasi Romanov, Amerika Utara Utara. Dengarkan baik-baik, ini bukan permintaan biasa. Kerjakan sebaik-baiknya. Pesan ini akan meledak dalam waktu 24 jam.”
Suara itu menghilang lagi dalam kilatan statis, menyisakan ketegangan yang menggantung di udara, seperti badai yang siap datang. Di dalam ruang kontrol yang gelap, Roslov menatap layar radio dengan mata yang sudah terbiasa dengan ancaman, namun kali ini ada yang berbeda. Pesan itu tidak hanya mengingatkan dia akan tugas, tapi juga tentang bahaya yang mengintai, tak terhindarkan. Waktu tidak berpihak padanya.

Posting Komentar untuk "Novel: Legendarium Bhavisatatabanua"