Belum lagi, ketika menerima tamparan keras realita yang tak seindah kata kata motivator yang bilang kalau sekolah itu cuma scam..
Suatu sekolah di Yogyakarta memutuskan membuka kelas khusus setiap Sabtu dan Minggu, bukan untuk murid baru, tapi untuk para alumni. Bagi banyak dari mereka, masa SMA bukanlah masa penuh kebahagiaan. Ada penyesalan yang menumpuk: pelajaran yang tak pernah mereka kuasai,gagal menjadi anak populer di sekolah, ekskul yang tak sempat dicoba, merasa belajar kurang keras hingga gagal mencapai impian, masalah pacaran dan percintaan hingga momen yang terlewat begitu saja. Kini, di tengah tekanan kerja yang semakin berat, mereka merindukan masa SMA—masa ketika hidup terasa sederhana, dan dunia terasa penuh kemungkinan.
Kelas nostalgia ini bukan sekadar pelajaran ulang. Meski tak mendapat ijazah apapun, jni adalah kesempatan kedua. Ada yang ingin menaklukkan mata pelajaran yang dulu selalu gagal mereka taklukkan. Ada yang ingin merasakan lagi semangat ekskul yang sempat mereka tinggalkan. Ada juga yang datang hanya untuk bertemu teman lama, meski tahu hubungan di antara mereka kini lebih rumit: konflik lama yang tak terselesaikan, persahabatan yang retak, bahkan rasa kagum yang perlahan berubah menjadi iri atau cemburu.
Mereka kembali mengenakan seragam yang tampak sama, duduk di bangku yang sama, mendengar bel yang sama. Tapi semuanya berbeda. Wajah-wajah yang dulu familiar kini membawa cerita hidup masing-masing—keberhasilan, kegagalan, luka lama, dan harapan baru. Ada yang tersenyum malu, ada yang tertawa terbahak-bahak, ada juga yang menahan emosi, teringat masa-masa yang tak ingin mereka ingat.
Di tengah suasana nostalgia, kelas itu menjadi tempat refleksi dan rekonsiliasi. Pelajaran yang dulu terasa sulit kini ditaklukkan dengan ketekunan dewasa. Ekskul yang dulu terlewatkan kini dijalani dengan semangat baru. Persahabatan yang pernah renggang diuji kembali, kadang dengan canggung, kadang dengan kehangatan yang mengejutkan. Mereka belajar bahwa masa lalu tidak bisa diubah, tapi pengalaman sekarang bisa memberi mereka kesempatan untuk menutup bab yang lama dan membuka bab yang baru.
Setiap akhir pekan, kelas nostalgia itu menjadi ruang di mana penyesalan berubah menjadi pembelajaran, rindu menjadi momen nyata, dan hubungan yang rumit menjadi jembatan menuju pemahaman yang lebih dewasa. Di sana, di bangku-bangku SMA yang tak lagi muda, mereka menemukan bahwa masa remaja tidak pernah benar-benar hilang—hanya menunggu untuk dirayakan kembali.
Hari pertama pembagian seragam jatuh pada Sabtu pagi. Tidak ada pidato, tidak ada upacara. Hanya kotak-kotak kardus cokelat berjajar di aula sekolah. Di setiap kotak tertulis nama masing-masing alumni, dengan tulisan tangan rapi, seolah seseorang sengaja ingin mereka merasa kembali “terdaftar”.
Ardi membuka kotaknya perlahan. Seragam putih-abu itu baru, tanpa nama bordir, tanpa lambang angkatan. Ukurannya pas, seolah sekolah masih mengingat tubuhnya dua belas tahun lalu—atau mungkin mengingat siapa dia seharusnya dulu. Beberapa orang tertawa canggung saat mencobanya. Reno bercermin lama, Mira menahan senyum aneh, bukan bahagia, bukan sedih. Sinta menggenggam ujung lengan bajunya, seolah takut momen itu hilang kalau dilepas. Mereka berusia dua puluh hingga tiga puluh tahunan, dan untuk dua hari dalam seminggu, mereka kembali menjadi murid.
Seluruh fasilitas dibuka. Laboratorium IPA menyala kembali, perpustakaan lama dibersihkan dan diberi kartu anggota baru—nama-nama yang sama, tapi usia berbeda. Lapangan basket kembali penuh suara sepatu berdecit. Ruang musik kembali berisik oleh nada sumbang yang tidak lagi ditertawakan. Ekskul pun hidup kembali. Basket, teater, KIR, band sekolah, fotografi, bahkan ekskul yang dulu mati karena kurang peminat—catur dan astronomi—kini justru penuh. Tidak ada seleksi ketat, tidak ada “kamu tidak cukup bagus.” Di sini, ekskul adalah tentang mencoba, bukan menang.
Yang paling aneh bukan seragamnya. Yang paling aneh adalah perasaan lega. Ardi menyadari sesuatu di hari Minggu sore: selama enam jam ia tidak memikirkan target kerja, cicilan, atau rasa takut gagal sebagai orang dewasa. Di kelas itu, kegagalannya sudah “terjadi.” Tak ada yang perlu ia kejar—hanya dipahami. Mira, yang di dunia nyata selalu rapi dan berwibawa, kini duduk lesehan di lorong kelas sambil makan cilok, tertawa keras seperti dulu. Reno melatih basket tanpa ambisi juara. “Kaki gue udah nggak buat tanding,” katanya, “tapi buat ngajarin? Masih bisa.”
Pertemuan lama tidak selalu manis. Beberapa orang bertemu mantan pacar, beberapa bertemu orang yang dulu mereka sakiti, beberapa bertemu versi diri mereka sendiri yang paling ingin dilupakan. Ada yang tiba-tiba berhenti datang setelah bertemu orang tertentu di koridor. Ada yang bertengkar hebat hanya karena duduk di bangku yang sama seperti dulu. Karena nostalgia tidak pernah netral. Ia memilih siapa yang akan ia peluk, dan siapa yang akan ia paksa hadapi.
Hari-hari itu menjadi rutinitas rahasia. Sabtu dan Minggu adalah SMA. Senin hingga Jumat adalah dunia nyata. Beberapa mulai berharap terlalu jauh. “Apa kalau ini diperpanjang terus?” “Apa kalau ini jadi permanen?” “Apa kalau kita bisa tinggal di sini saja?” Sekolah tidak pernah menjawab. Karena semua orang tahu—tidak ada yang benar-benar ingin kembali jadi SMA. Mereka hanya ingin bernafas sebentar.
Suatu sore, setelah latihan band, listrik mati. Mereka duduk di lantai aula, mengenakan seragam putih-abu yang mulai kusut. Seseorang berkata pelan, “Seragam ini baru. Tapi kenangannya lama.” Yang lain menimpali, “Dan kita bukan orang yang sama.” Sinta tersenyum kecil. “Mungkin itu sebabnya ini akhirnya terasa aman.”
Program itu tidak mengubah hidup siapa pun secara ajaib. Tapi ia memberi sesuatu yang tak pernah mereka dapatkan dulu: kesempatan untuk merasakan masa SMA tanpa rasa takut menjadi gagal. Dan ketika suatu hari gerbang itu ditutup kembali, mereka tidak marah. Karena untuk pertama kalinya, mereka pulang bukan dengan penyesalan—melainkan dengan rindu yang sudah sembuh.
Aku Larasati, seorang gadis yang dulu hanyalah pencuri amatir berusia 14 tahun. Nasib mempertemukan aku dengan Pak Joko Purnomo, seorang preman paruh baya yang terkenal dan menguasai wilayah luas di Jogja—pasar, terminal bus, bahkan jalanan tempat para pedagang kaki lima berjualan. Waktu itu, aku ketahuan mencuri demi membiayai rumah sakit ibuku. Pak Joko berhasil menaklukkan aku hingga tidak sadarkan diri, dan aku baru tersadar tiga hari kemudian, di hadapannya dan polisi.
Namun saat ia mengetahui alasanku, Pak Joko memilih untuk tidak menyerahkanku pada hukum. Ia mengakuiku sebagai saudaranya sendiri, menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan, dan memberiku uang untuk menolong ibuku. Seminggu kemudian, aku kembali ke hadapannya dengan uang itu masih utuh. Ibuku sudah meninggal sebelum sempat menerima bantuan itu. Meski hati ini hancur, aku belajar banyak dari Pak Joko: arti tanggung jawab, loyalitas, dan kekuatan yang datang dari menghormati orang lain.
Dulu aku Larasati hanyalah seorang gadis pemalu, takut pada dunia yang keras dan kejam. Tapi semuanya berubah ketika aku jatuh ke tangan Pak Joko Purnomo. Awalnya, aku hanya “anak buah kecil” di kelompoknya—diminta membantu di pasar, mengatur pedagang kaki lima, bahkan sesekali menagih uang parkir dari pengendara motor. Semua terlihat sepele bagi orang lain, tapi bagi seorang gadis yang terbiasa hidup di balik bayangan, ini adalah dunia baru yang menuntut keberanian.
Pak Joko tidak memaksa dengan kata-kata, tapi dengan ketegasan dan rasa hormat, ia menanamkan aturan yang jelas: jika kamu ingin bertahan, kamu harus mampu menghadapi dunia tanpa takut. Perlahan-lahan, aku belajar mempertahankan diriku sendiri. Gadis pemalu itu mulai hilang, digantikan oleh sosok tomboy yang berani, terkadang kasar, dan tidak mudah digertak.
Aku mulai berani menghadapi sekelompok begal sendirian. Dulu, hanya melihat mereka saja sudah membuatku gemetar. Tapi setelah latihan, belajar bela diri, dan menonton cara Pak Joko menaklukkan lawan-lawannya, aku menemukan kekuatan yang tersembunyi. Sekali waktu, ketika sekelompok tiga orang begal mencoba merampok pengendara motor di terminal, aku melompat, menghindar, dan menaklukkan mereka dengan tangan kosong. Orang-orang di sekitar menatapku dengan campuran ketakjuban dan rasa takut. Itu menjadi titik balik—aku bukan lagi gadis yang mudah diintimidasi.
Hari-hari di bawah bimbingan Pak Joko membentukku. Aku belajar mengatur anak buah, melindungi pedagang pasar, dan menjaga wilayah dari ancaman luar. Aku tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut, dan yang terpenting, aku belajar bahwa kekuatan bukan hanya soal otot, tapi juga keberanian dan strategi.
Meski aku berubah menjadi sosok yang tangguh, ada satu hal yang selalu melekat: rasa hormat dan loyalitasku kepada Pak Joko. Ia bukan hanya bos, tapi juga mentor dan keluarga yang memberiku tempat di dunia yang dulu tampak begitu keras dan menakutkan. Tanpanya, aku mungkin masih gadis pemalu yang takut menatap jalanan Jogja di malam hari.
Setelah peristiwa itu, Pak Joko memutuskan pensiun dari dunia preman. Ia hanya memberi tahu aku, karena kata-kata terakhir istrinya yang meninggal memberinya alasan untuk mengakhiri hidupnya yang penuh kekerasan. Sebelum istrinya meninggal, istrinya berujar akan menunggunya di surga. Pak Joko lalu berpikir, kalau dia terus menjadi preman tidak mungkin akan sampai kesana.
Ia menyerahkan seluruh kekuasaan gerombolannya kepadaku. Meskipun masih muda, orang-orang di Jogja segera belajar untuk menghormati, bahkan takut padaku.
Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Tak lama setelah pensiun, Pak Joko meninggal secara misterius. Polisi menyebutnya bunuh diri, tapi aku tidak percaya. Aku yakin ada tangan lain yang terlibat—mantan anak buahnya sendiri yang mengincar kekuasaan dan ingin menghapus jejak Pak Joko.
Kini, aku harus mencari kebenaran. Aku memanggil seorang detektif swasta terkenal di Jogja untuk menyelidiki kematian Pak Joko. Pasar, terminal, gang sempit, dan jalanan kota ini menjadi medan penyelidikan.
Di balik bayangan lampu-lampu Jogja, aku harus menghadapi intrik lama, pengkhianatan, dan rahasia gelap yang membayangiku sejak pertama kali menjejakkan kaki di dunia preman.
Lalu muncul dia: Ranggawarsita, atau yang biasa dipanggil Detektif Rangga. Ia baru berusia 17 tahun—lima tahun lebih muda dariku—namun sudah dikenal sebagai detektif cerdas di Jogja. Ketika aku memanggilnya untuk menyelidiki kematian Pak Joko, aku awalnya hanya menilai dia dari profesionalismenya. Rangga sigap, teliti, dan tenang di tengah intrik yang rumit.
Tapi, seiring waktu aku mulai menyadari sesuatu yang tak kusangka: ada perasaan lain yang muncul di dadaku setiap kali Rangga berada di dekatku. Cara ia mengamati tempat kejadian, menanyakan pertanyaan kecil, atau sekadar berdiri di sampingku membuat jantungku berdebar. Aku—yang terbiasa menahan emosi dan mengandalkan kekuatan fisik—perlahan menyadari rasa suka ini.
Masalahnya, Rangga sama sekali tidak tampak menyadari. Ia tetap profesional, fokus pada kasus, dan jarang menatapku dengan cara yang berbeda. Kadang aku merasa bodoh, menahan perasaan yang tak mungkin terbalas. Tapi sekalipun begitu, kehadirannya memberi warna pada hari-hariku yang biasanya kelam: rasa aman, rasa penasaran, dan... sesuatu yang hangat di hati yang selama ini keras.
Aku Larasati, gadis yang dulunya pencuri kecil, kini pemimpin yang disegani, mulai belajar satu hal baru: meski kuat, bahkan aku tidak bisa mengendalikan hati. Dan entah bagaimana, aku sadar bahwa perasaan ini—rasa suka pada Rangga—adalah rahasia kecil yang hanya akan kutahan sendiri, setidaknya untuk saat ini.
Di balik riuh rendah Malioboro, di mana lampu-lampu kuning berpendar di atas jalanan basah setelah hujan, seorang anak berusia sepuluh tahun menatap dunia dengan mata yang terlalu dewasa untuk umurnya. Ayahnya, seorang pria jujur dan pekerja keras, difitnah menjual senjata api dan obat-obatan terlarang oleh mantan bosnya sendiri. Perusahaan itu menuntut tumbal, dan ayahnya menjadi korban, terseret ke penjara tanpa alasan yang sah. Anak itu hanya bisa menyaksikan dari jauh—tak mampu mengubah apa pun—sementara rasa bersalah dan trauma menghantuinya seperti bayangan yang tak pernah hilang.
Takdir membawanya ke sebuah panti asuhan elit di pinggiran kota. Panti itu bukan tempat bermain atau belajar biasa; ia adalah laboratorium manusia, tempat anak-anak berbakat diasah dengan ketelitian seperti mesin. Emosi dianggap lemah, kebutuhan sosial diabaikan, dan setiap jam dihabiskan untuk membentuk tubuh dan pikiran menjadi sempurna. Dalam waktu singkat, ia menjadi luar biasa: seorang genius dengan intelek menakjubkan, fisik di atas rata-rata, seniman bela diri yang terampil, dan detektif alami yang mampu membaca pola dan motif orang lain dengan akurat.
Namun kesempurnaan itu datang dengan harga mahal—ia tak pernah belajar cara tersenyum tanpa rasa takut, atau membangun hubungan sederhana dengan orang lain. Malam itu, di bawah cahaya bulan yang menembus jendela besi, ia memutuskan untuk melarikan diri. Dunia nyata menanti, dan Jogjakarta, kota yang memadukan sejarah dan modernitas, menjadi medan pertempurannya.
Kini, ia adalah detektif swasta yang bekerja dari bayang-bayang gang sempit Kotagede hingga pasar Beringharjo yang riuh. Dengan peralatan canggih, analisis kriminal setajam pisau bedah, dan kemampuan tempur yang mematikan, ia membela orang-orang tak bersalah dari tuduhan palsu. Setiap kasus adalah kesempatan untuk menebus ketidakberdayaannya di masa lalu, untuk menegakkan keadilan yang dulu direnggut dari ayahnya.
Di mata warga Jogja, ia adalah Si Bayangan, sosok misterius yang selalu muncul di saat yang paling genting—tidak terlihat, tapi selalu ada. Di balik topeng ketenangan dan senyuman tipisnya, ada luka lama yang membara, dan tekad seorang anak yang memilih mengubah rasa sakit menjadi kekuatan.
Jogjakarta bukan lagi sekadar kota pelajar; bagi dirinya, kota ini adalah papan catur tempat setiap langkah dihitung, setiap gerakan diukur, dan setiap musuh diperhitungkan.
Bagimu aku hanyalah sebongkah batu bara usang di tengah tumpukan gunung berlian
Sudah kulampaui semua batasan kesabaranku
bagaikan langit senja yang melesat melampaui kegelapan
Meskipun akan menghancurkan diriku
meskipun membuat jiwaku penuh kegelapan
meskipun aku mungkin bukan orang terbaik yang pantas berada di sisimu
Sesuatu yang ingin kulupakan adalah sesuatu yang tak terlupakan
Aku ingin memusnahkan semua keraguan dalam dirimu
Perhatianmu kini telah terlepas dari cintaku yang redup pada dirimu
Kesetiaanku yang tulus ini tak mudah padam seperti pandemi yang memayungi kita saat ini
Namun biarlah hubungan kita kini menjadi pusaka cinta yang terbenam.
XXX
Tak ada yang mengira bahwa bangunan tua di balik perbukitan tandus itu menyimpan rahasia sebesar kiamat itu sendiri.
Orang-orang menyebutnya Asrama meski sejatinya tak pernah ada plang nama, tak pernah ada petugas pos yang datang, tak pernah ada orang tua yang menjemput atau bahkan menanyakan kabar. Tempat itu seperti lubang hitam dalam catatan sipil—tak terdaftar, tak terdeteksi, dan tak pernah dibicarakan.
Bagi dunia luar, bangunan itu hanyalah sisa panti asuhan dari era pasca-perang, tempat anak-anak yatim piatu dirawat dengan seadanya. Tapi bagi Ranggawarsita, yang dibesarkan di dalam tembok dinginnya sejak usia lima tahun, tempat itu adalah dunia yang tak mengenal kasih sayang, apalagi kebebasan.
Namun baru belakangan ia menyadari: itu bukan sekadar tempat pengasuhan. Itu adalah markas dari Garudayana—organisasi rahasia yang dibentuk oleh segelintir ilmuwan, mantan militer, dan filsuf futuris yang menyadari bahwa umat manusia berada di ambang kehancuran oleh perang nuklir atau perubahan iklim.
Di tempat itu, anak-anak tak diajari cara bermain. Mereka diajari cara berpikir seperti algoritma, bertindak seperti mesin, dan bertarung seperti predator.
Bangun pukul tiga pagi. Lari lima belas kilometer tanpa sepatu. Sarapan adalah sepotong roti keras dan sebutir pil nutrisi. Lalu latihan beladiri, simulasi logika, eksperimen psikis, dan pembelajaran linguistik tingkat lanjut semuanya dijejalkan ke otak-otak mungil yang belum sempat tahu rasanya pelukan ibu.
Mereka bukan dibesarkan, tapi diprogram.
Beberapa anak kehilangan identitas. Beberapa lainnya kehilangan kewarasan. Tapi yang bertahan… menjadi sesuatu yang lebih dari manusia. Mereka adalah tentara dalam bentuk bocah dilatih untuk mengalahkan sesuatu yang bahkan tak punya tubuh.
Garudayana menyebut mereka Anak Garuda bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka harus siap mati sebelum sempat terbang.
Ranggawarsita dulu mengira semua anak dibesarkan seperti dirinya. Ia mengira wajar jika tangan kirinya diborgol seminggu penuh hanya karena gagal menjawab soal kalkulus dalam waktu lima detik. Ia mengira semua anak harus membaca literatur filsafat Yunani dan manual sistem tempur taktis sebelum usia sembilan tahun.
Posting Komentar untuk "Novel: Kelas Alumni"