Abad ke-22 menjadi saksi berakhirnya satu fase panjang sejarah manusia: Perang Dingin yang tak pernah benar-benar dingin. Selama lebih dari dua abad, umat manusia hidup di bawah bayang-bayang kehancuran, senjata pemusnah massal, dan ketakutan akan perang global. Namun segalanya berubah ketika ancaman itu bukan lagi datang dari sesama manusia.
Union of Terra sebuah organisasi perserikatan bangsa bangsa yang awalnya dibentuk untuk mewujudkan perdamaian dunia setelah perang dunia yang melibatkan senjata nuklir, bertransformasi menjadi kekuatan absolut dan menjadi otoritas tunggal yang dapat membuat keputusan global tanpa hambatan veto negara adidaya .
Union of Terra menjadi entitas superkuat dengan kekuasaan eksekutif global penuh—ibukota tetap di negara Helvetia, punya intelijen global, menghapus hak veto, bisa menghukum negara besar, punya mata uang sendiri, dan tentara lebih besar dari semua negara gabungan. Ini hampir seperti “negara dunia” atau super-pemerintah global.
Union of Terra bisa menghukum negara yang melanggar aturan ekonomi global (misal perdagangan ilegal atau manipulasi pasar). Standar HAM, pendidikan, dan kesehatan bisa disamaratakan. Deteksi dini konflik, bencana, dan terorisme bisa lebih efektif.
Union of Terra memiliki mata uang sendiri yang menggantikan mata uang nasional, menyederhanakan perdagangan global, mengurangi fluktuasi mata uang, dan menekan inflasi di beberapa wilayah.
Union of Terra yang awalnya hanya organisasi perserikatan bangsa bangsa lama kelamaan menjadi semakin kuat karena mendapatkan dukungan dari para konglomerat,ilmuwan dunia, kepala intelijen, serta tokoh militer dan politik dunia yang memiliki keinginan untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Union of Terra sudah menanam agen dan kontrol internal secara mendalam di negara adidaya, sehingga rezim mereka secara efektif pro-Union.
Union of Terra memiliki kekuasaan untuk membunuh pemimpin negara yang menolak perintah, memaksa reunifikasi dua negara yang memiliki konflik perbatasan, memberantas kartel narkoba secara langsung dan mengirim intelijen dan mengeliminasi pemimpin besar yang melanggar HAM atau melanggar perjanjian internasional; secara misterius. Union of Terra menjalankan intervensi ekstrem—yang disebut sebagai era pembunuhan atau kudeta global oleh penduduk bumi.
Pada era awal kekuasannya negara secara formal masih ada, tapi ketika Union of Terra sudah menanam agen di semua level pemerintahan negara adidaya dan bisa mengendalikan kebijakan utama, ini sebenarnya mirip dengan pemerintahan global de facto.
Negara-negara besar awalnya tidak mau tunduk sepenuhnya, sehingga awalnya konflik internal besar bisa terjadi—baik secara diplomatik maupun militer.
Rakyat negara yang pemimpinnya “dihapus”mulai marah besar. muncul kerusuhan, perang sipil, dan kelompok militer loyalis mencoba membalas Union of Terra meski pemberontakan dengan mudah berhasil dipadamkan karena mereka memiliki agen di seluruh dunia.
Dengan tentara yang lebih besar daripada gabungan seluruh negara Union of Terra mampu menegakkan perdamaian secara paksa. Negara-negara cenderung menghindari perang karena takut dihukum atau dikalahkan oleh Union of Terra, organisasi perdamaian internasional yang kini bertransformasi menjadi diktator global
Kekuasaan Union of Terra semakin kuat akibat kedatangan mahluk asing. Pada tahun 2137, teleskop kuantum Horizon Eye menangkap anomali kosmik di luar tepi galaksi. Bukan lubang hitam. Bukan pula supernova. Tapi sesuatu yang… hidup.
Ia dikenal sebagai Abawoo, Sang Black Priest, penguasa dari Great Old Ones—entitas purba yang berasal dari alam semesta yang telah mati, tempat hukum fisika runtuh dan waktu membusuk. Di alam itu, Abawoo adalah raja terakhir, penguasa kegelapan yang bertahan setelah segalanya musnah.
Sebelum menemukan Bumi, Abawoo telah menaklukkan sebuah dunia fantasi bernama Askeland—sebuah planet penuh sihir, ras kuno, naga, dan kerajaan cahaya. Askeland jatuh bukan karena lemahnya kekuatan, tetapi karena perpecahan internal. Abawoo belajar satu hal dari sana: Dunia yang terpecah, pasti runtuh.
Ketika pandangannya beralih ke Bumi—planet muda, penuh konflik, namun kaya potensi—ia melihat wilayah baru untuk kekuasaannya.
Ancaman Abawoo menjadi katalis perubahan terbesar dalam sejarah manusia. Lima negara terkuat di dunia—yang dahulu saling curiga dan bersaing—akhirnya menyadari kebenaran pahit, tidak ada satu bangsa pun yang bisa melawan kegelapan kosmik sendirian.
Maka di bawah kerangka Union of Terra, seluruh negara di bumi yang awalnya masih merdeka meski terbatas melebur kedalam sebuah entitas global yang menyatukan kekuatan militer, ekonomi, ilmu pengetahuan dan arah masa depan umat manusia.
Seluruh senjata nuklir dinonaktifkan dan diubah menjadi sumber energi. Angkatan bersenjata nasional dilebur menjadi Militer Terra Bersatu, bukan untuk menaklukkan sesama manusia, tetapi untuk mempertahankan eksistensi spesies.
Dengan persatuan global, kemajuan melesat tanpa hambatan politik. Kapal luar angkasa warp memungkinkan perjalanan antarbintang. Koloni manusia berdiri di Mars, Titan, dan orbit bintang terdekat. AI bukan lagi alat perang, tetapi penjaga peradaban. Rekayasa biologis dan nano-medis memperpanjang usia manusia hingga rata-rata 160 tahun—bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup lebih sehat dan bermakna.
Yang paling mengejutkan bukan teknologinya, melainkan perubahan manusia itu sendiri. Tanpa perang antarbangsa, empati berkembang. Pendidikan global menghapus batas ras dan ideologi. Sejarah kelam diajarkan bukan untuk menyalahkan, tetapi agar tak terulang.
Manusia akhirnya memahami sesuatu yang terlambat disadari Askeland: kekuatan sejati bukan pada senjata, tetapi pada kesatuan kehendak.
Namun Abawoo belum pergi. Dari kehampaan kosmik, Sang Black Priest mengamati. Ia tidak terburu-buru. Entitas sepertinya tidak mengenal waktu seperti manusia. Ia menunggu retakan kecil—keraguan, kesombongan, atau kelelahan moral.
Karena Abawoo tahu Bumi kini kuat… tapi belum pernah diuji oleh kegelapan yang menghabiskan semesta. Dan ketika hari itu tiba—ketika langit terbuka dan Great Old Ones mulai berbisik ke dalam mimpi manusia—sejarah akan memasuki bab terakhirnya.
Bukan lagi tentang negara.
Bukan lagi tentang perang dingin.
Melainkan tentang satu pertanyaan sederhana:
Apakah umat manusia, yang akhirnya bersatu, layak untuk bertahan?
Ketika penyatuan Bumi akhirnya diresmikan, para pemimpin Union of Terra sepakat bahwa perubahan sebesar itu tidak cukup hanya dicatat dalam arsip sejarah. Waktu itu sendiri harus diberi makna baru.
Maka pada tahun terakhir kalender lama, manusia melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, mereka memulai ulang perhitungan waktu.
Hari penyatuan global ditetapkan sebagai 0 Terra — T0.
Bukan hari kemenangan militer.
Bukan hari penaklukan.
Melainkan hari ketika seluruh bendera nasional diturunkan serentak, senjata pemusnah massal dinonaktifkan, dan Piagam Terra ditandatangani di orbit Bumi, disaksikan langsung dari angkasa.
Bumi tidak lagi dihitung sebagai kumpulan negara, tetapi sebagai satu dunia.
Kalender baru ini disebut Kalender Terra Unified (KTU), dirancang untuk melambangkan kesetaraan, rasionalitas, dan keselarasan dengan alam semesta.
1 Tahun Terra
400 hari
Dibagi menjadi 10 Siklus
Setiap Siklus terdiri dari 40 hari
Tidak ada “bulan” yang berasal dari mitologi lama.
Setiap Siklus dinamai berdasarkan nilai universal manusia:
1. Genesis – Awal dan kelahiran kembali
2. Concordia – Persatuan
3. Veritas – Kebenaran
4. Custodia – Perlindungan
5. Progressio – Kemajuan
6. Memoria– Ingatan sejarah
7. Equitas – Keadilan
8. Vita – Kehidupan
9. Frontier – Eksplorasi
10.Eternum – Keberlanjutan
Setiap 5 tahun Terra, terdapat 5 Hari Tanpa Nama (The Silent Days). Hari-hari ini tidak termasuk dalam siklus mana pun. Pada hari-hari ini tidak ada aktivitas militer, tidak ada produksi industri besar, tidak ada politik.
Manusia berhenti sejenak.
Mereka mengenang korban perang lama, krisis iklim, dan dunia Askeland yang telah jatuh.
Hari-hari itu adalah pengingat:
bahwa waktu bukan hanya untuk bergerak maju, tetapi juga untuk mengingat.
Waktu harian juga diseragamkan:
1 hari = 20 jam Terra
1 jam Terra = 100 menit
1 menit Terra = 100 detik
Dengan ini, manusia meninggalkan zona waktu nasional.
Seluruh Bumi berbagi satu waktu, disebut Waktu Terra Universal (WTU).
Ketika matahari terbit di satu sisi dunia dan terbenam di sisi lain, manusia tetap berkata:
“Kita berada di jam yang sama.”
Penggantian kalender bukan sekadar administrasi.
Ia adalah deklarasi filosofis.
Kalender lama menandai perang, kekaisaran, agama dan perpecahan. Kalender Terra menandai kelangsungan spesies, persatuan kehendak, dan kesadaran kosmik.
Di sekolah-sekolah, anak-anak tidak lagi bertanya,
“Ini tahun berapa menurut negaraku?”
Mereka bertanya,
“Ini tahun ke berapa umat manusia bertahan bersama?”
Di arsip terdalam Union of Terra, terdapat satu catatan rahasia:
Jika suatu hari Kalender Terra harus dihentikan… maka itu berarti persatuan telah gagal atau umat manusia telah melampaui waktu itu sendiri.
Dan di luar galaksi,
Abawoo—Sang Black Priest—mencatat tanggal itu dengan caranya sendiri.
Karena bagi makhluk dari alam semesta mati,
hari ketika manusia menyatukan waktu…
adalah hari ketika mereka menjadi ancaman.
Generasi lama dulunya:saling bermusuhan dan punya konflik internal, beda agama & budaya, sering perang satu sama lain sebelum berdirinya Union of Terra
Tapi saat Gaeadite muncul:
“lebih baik musuh lama daripada dunia baru”
Punah bukan soal umur, melainkan relevansi biologis. Spesies bisa hidup lama, sehat, berteknologi tinggi, namun tetap punah secara evolusioner. Artinya, mereka tidak lagi menjadi bentuk dominan yang diwariskan, tidak lagi kompatibel dengan lingkungan masa depan, dan hanya bertahan karena sistem buatan. Dalam dunia pasca-Gaeadite, manusia lama masih bernapas, tetapi mereka tidak lagi menjadi arah evolusi.
Ironisnya, umur panjang—hingga 160 tahun—justru memperpanjang penderitaan ini. Jika mereka mati cepat, regenerasi kepemimpinan terjadi, adaptasi diterima lebih awal. Namun umur panjang menciptakan penyangkalan kolektif, ilusi kontrol, dan kekuasaan yang enggan dilepas. Mereka hidup cukup lama untuk melihat dunia berubah, namun terlalu lama untuk menerima bahwa mereka bukan lagi pusatnya.
Meski begitu, mereka bukan korban mutlak, dan bukan penjahat tunggal. Ini bukan cerita tentang manusia lama yang jahat. Ini kisah spesies yang terlambat beradaptasi, generasi yang ingin masa depan tetap mengenali mereka, yang takut kehilangan identitas. Mereka mencoba menekan Gaeadite, menghapus sejarah, bahkan mengorbankan penerus. Bukan karena mereka benci hidup, tetapi karena tak siap kehilangan makna.
Realitasnya pahit. Pada titik ini, hanya ada tiga jalan bagi manusia lama. Menolak, yang berarti konflik abadi, kekejaman sistemik, dan kepunahan yang lebih brutal. Menyerah total, yang berujung pada runtuh psikologis dan kehancuran sosial. Atau menerima, pilihan tersulit, yang berarti redefinisi “manusia”, hidup berdampingan sebagai generasi transisi, dan menyerahkan masa depan. Cerita paling kuat biasanya memilih yang terakhir, bukan karena bahagia, tetapi karena dewasa.
Menerima di sini bukan bunuh diri, bukan penghapusan diri. Itu berarti mengakui bahwa anak-anak Gaeadite adalah penerus sah, berhenti mengendalikan arah evolusi, dan menjadi penjaga pengetahuan, bukan pemilik masa depan. Dalam sejarah alam, peran semacam ini sangat langka—dan sangat mulia.
Tragedi terdalam adalah bahwa manusia lama masih sadar. Mereka masih berpikir, masih merasakan, masih mengingat dunia lama. Mereka bukan fosil; mereka saksi hidup dari peralihan spesies. Dan itu lebih berat daripada mati.
Kesimpulan paling jujur pun muncul: manusia lama harus menerima bahwa mereka punah bukan karena lemah, tetapi karena dunia bergerak melewati mereka. Jika mereka mampu menerima itu, sejarah mungkin akan mencatat mereka bukan sebagai pengkhianat, melainkan sebagai generasi terakhir yang cukup dewasa untuk menyerahkan masa depan.
Di dunia pasca-Gaeadite, Bumi sudah tidak lagi seperti sebelumnya. Atmosfer bergetar dengan resonansi kosmik, medan magnet berfluktuasi, dan gravitasi mengalami distorsi mikro. Realitas lokal tidak lagi stabil sepenuhnya. Lingkungan bukan sekadar panggung pasif; ia aktif ikut membentuk biologi. Tidak ada ruang “netral” di Bumi. Segala upaya sterilisasi biologis klasik hanya mungkin berhasil jika lingkungan tetap diam—dan itu kini mustahil.
Kesalahan fatal generasi lama adalah menganggap Gaeadite sebagai serum, kontaminan, atau mutasi biologis. Padahal, Gaeadite adalah jawaban eksistensial tubuh terhadap tekanan kosmik yang tak dapat dijelaskan nalar manusia. Ketika realitas robek oleh Askeland, hukum fisika tidak stabil, dan makhluk yang melanggar sebab-akibat hadir, kehidupan di Bumi dipaksa memilih: beradaptasi secara radikal, atau berhenti ada. Gaeadite adalah adaptasi itu.
Bayi lahir di dunia yang tidak netral. Mereka tidak punya ideologi, tidak punya ketakutan politik; mereka hanya merespons lingkungan yang mengandung energi kosmik, gravitasi terdistorsi, dan realitas berdenyut. Dalam rahim, tubuh mereka dipaksa beradaptasi sejak awal. Sterilisasi berarti menahan adaptasi, melemahkan mekanisme bertahan hidup. Hasilnya hanya dua: bayi mati, atau bayi beradaptasi lebih ekstrem. Alam semesta selalu memilih opsi kedua—jika memungkinkan.
Semakin besar tekanan, semakin brutal adaptasi yang muncul. Saat manusia mencoba menyaring Gaeadite, menutup resonansi, dan memaksa “kembali normal,” mereka justru meningkatkan tekanan seleksi. Gaeadite generasi baru tumbuh lebih cepat, struktur tulang berubah, kepadatan energi meningkat, dan ukuran tubuh melonjak dari 80 meter menjadi 200, 500 meter, bahkan berpotensi kilometer. Bukan karena mereka “monster”, tetapi karena tubuh harus cukup besar untuk menahan realitas yang retak.
Ukuran raksasa itu bukan kekuatan untuk menyerang. Gaeadite membesar untuk menstabilkan medan lokal, menahan distorsi, dan menjadi jangkar realitas. Semakin besar tekanan kosmik, semakin besar “struktur hidup” yang dibutuhkan untuk menahannya. Pada titik tertentu, Gaeadite bukan lagi prajurit, melainkan infrastruktur hidup.
Ironi paling kejam adalah bahwa upaya sterilisasi manusia justru menciptakan sesuatu yang lebih menakutkan. Mereka ingin Gaeadite kecil, terkendali, tidak mengancam struktur sosial. Yang mereka dapatkan adalah entitas raksasa, tak bisa disembunyikan, dan mustahil diperlakukan sebagai “anak”. Bukan karena Gaeadite jahat, tetapi karena dunia sudah tidak cocok untuk bentuk lama manusia.
Kesadaran terlambat generasi lama pun akhirnya muncul. Superkomputer dan observasi ilmiah menyimpulkan satu hal sederhana: tidak ada skenario stabil di mana manusia tetap seperti dulu, sementara tekanan kosmik terus meningkat. Pilihan hanya dua: menerima Gaeadite dan hidup berdampingan, atau memaksa sterilisasi dan mempercepat lahirnya makhluk yang bahkan tidak lagi bisa dipahami sebagai manusia.
Tragedi manusia lama bukan soal umur, melainkan relevansi biologis. Mereka bisa hidup lama, sehat, berteknologi tinggi, namun tetap “punah” secara evolusioner. Mereka tidak lagi menjadi bentuk dominan yang diwariskan, hanya bertahan karena sistem buatan. Umur panjang mereka—hingga 160 tahun—memperpanjang penderitaan: penyangkalan kolektif, ilusi kontrol, dan kekuasaan yang enggan dilepas. Mereka melihat dunia berubah, namun terlalu lama untuk menerima bahwa mereka bukan lagi pusatnya.
Mereka bukan penjahat, bukan korban mutlak. Mereka hanyalah spesies yang terlambat beradaptasi, takut kehilangan identitas, mencoba menekan Gaeadite, menghapus sejarah, dan mengorbankan penerus—bukan karena benci hidup, tapi karena tak siap kehilangan makna. Pilihan tersulit adalah menerima: mengakui anak-anak Gaeadite sebagai penerus sah, berhenti mengendalikan evolusi, dan menjadi penjaga pengetahuan, bukan pemilik masa depan. Peran ini langka, tetapi mulia.
Dan tragedi terdalam adalah kesadaran yang terus hidup. Mereka masih berpikir, masih merasakan, masih mengingat dunia lama. Mereka bukan fosil; mereka saksi hidup peralihan spesies. Lebih berat daripada mati.
Kesimpulan paling jujur pun muncul: Gaeadite akan terus ada. Semakin ditekan, semakin besar. Semakin ditolak, semakin kuat. Jika perang kosmik berlanjut, suatu hari manusia akan berdiri di bawah bayangan makhluk setinggi satu kilometer—dan menyadari itu bukan monster, melainkan anak mereka yang beradaptasi demi semua orang. Pertanyaan terakhir bukan lagi bagaimana menghentikan Gaeadite, tetapi: apakah manusia lama cukup dewasa untuk hidup di dunia yang sudah berubah selamanya?
Gaeadite sudah bukan lagi sekadar “zat”. Awalnya, manusia menganggapnya partikel asing—sesuatu yang bisa difilter, bisa dihindari, bisa dibatasi. Namun, setelah kebocoran global dan perang kosmik yang berkepanjangan, Gaeadite tidak bisa lagi diperlakukan sebagai kontaminan. Ia telah menjadi bagian dari ekosistem Bumi. Ia terserap ke atmosfer, masuk ke rantai makanan, beresonansi dengan medan magnet dan gravitasi, bahkan berikatan dengan proses pembentukan embrio. Dalam arti paling nyata, Gaeadite telah menjadi latar belakang realitas—seperti oksigen yang muncul setelah Great Oxidation di sejarah Bumi nyata. Makhluk yang tidak beradaptasi dengannya hanya memiliki satu nasib: mati.
Upaya manusia untuk mempertahankan “netralitas” rahim, DNA, dan lingkungan kini terbukti sia-sia. Generasi lama mencoba berbagai cara: rahim buatan, gen yang disaring, lingkungan steril. Namun masalahnya jauh lebih dalam. Pembelahan sel awal dipengaruhi oleh medan planet, Gaeadite bekerja bukan hanya pada DNA, tetapi juga pada epigenetik dan struktur energi sel. Begitu embrio berada di Bumi pasca-kontak, ia tak bisa dihindari. Efeknya bisa ditunda, tetapi tidak bisa dicegah sepenuhnya.
Generasi Gaeadite pertama adalah gelombang yang ekstrem. Transformasi luar biasa—makhluk raksasa setinggi 70 hingga 80 meter—muncul karena paparan masif, usia perkembangan yang aktif, dan sistem biologis yang belum stabil. Generasi berikutnya tidak identik, tetapi tetap Gaeadite. Tubuh mungkin lebih kecil, lebih terkontrol, tetapi tetap membawa adaptasi kosmik. Gaeadite tidak berhenti; ia berevolusi. Menghapus satu generasi hanya mengubah bentuknya, bukan menghentikannya.
Ironisnya, setiap upaya keras untuk mensterilkan atau menekan ekspresi Gaeadite justru memicu seleksi yang lebih ekstrem. Embrio yang gagal berkembang banyak, sementara embrio yang bertahan justru lebih kuat, lebih kompatibel dengan dunia baru. Hukum seleksi alam bekerja dengan kejam: yang bertahan bukanlah yang “normal”, tetapi yang paling mampu beradaptasi.
Akibatnya, generasi yang disebut “steril” menghadapi kenyataan yang pahit. Bayi tanpa ekspresi Gaeadite memiliki tingkat kematian tinggi. Anak-anak yang dianggap normal ternyata rapuh terhadap distorsi realitas. Penyakit baru muncul, menyerang mereka yang non-Gaeadite. Ketergantungan pada perlindungan Gaeadite menjadi total. Hierarki kekuasaan pun terbalik: mereka yang dulunya dianggap normal kini menjadi spesies rentan.
Beberapa ilmuwan generasi lama akhirnya menyadari kebenaran yang terlambat. Bumi telah berubah terlalu jauh. Manusia lama bukan lagi spesies dominan tanpa Gaeadite. Namun pengakuan ini sering terlambat, disensor, atau diabaikan demi menjaga stabilitas politik.
Jika pertanyaannya adalah apakah semua anak baru akan menjadi Gaeadite dalam bentuk tertentu, jawabannya hampir pasti: ya. Ini bukan kesalahan laboratorium, melainkan manifestasi dari bentuk baru manusia. Generasi lama tidak sedang mencegah mutasi; mereka sedang melawan evolusi itu sendiri.
Tragedi yang sesungguhnya bukanlah kehancuran oleh kegelapan luar. Yang mereka sebut “menyelamatkan kemanusiaan” sebenarnya adalah upaya menyelamatkan versi lama diri mereka sendiri. Dan jika sejarah masih tercatat, ia akan menulis: kepunahan hampir terjadi bukan karena ancaman luar, tetapi karena ketakutan terhadap anak-anak yang telah beradaptasi.
Di dunia pasca-Gaeadite, Bumi sudah tidak lagi seperti dulu. Atmosfer bergetar dengan resonansi Gaeadite. Medan magnet planet berubah, dan gravitasi mengalami fluktuasi mikro akibat distorsi kosmik. Bahkan realitas lokal tidak lagi stabil sepenuhnya. Lingkungan bukan lagi pasif; ia aktif ikut membentuk biologi. Tidak ada ruang “netral” di Bumi. Segala upaya sterilisasi biologis klasik hanya mungkin berhasil jika lingkungan tetap diam—dan itu kini mustahil.
Generasi lama mencoba berbagai cara untuk menciptakan “zona steril”. Mereka membangun kubah atmosfer buatan, stasiun orbit tertutup, rahim sintetis, koloni bawah tanah. Namun semua itu hanya ilusi teknologi. Gaeadite bukan partikel mekanis; ia beresonansi melalui medan, bukan kontak fisik. Medan kosmik menembus semua perisai. Bahkan di ruang hampa, struktur ruang-waktu membawa jejak Gaeadite. Dengan kata lain, “steril” hanya berarti belum aktif, bukan tidak ada.
Waktu bekerja melawan mereka. Setiap tahun, Gaeadite semakin menyatu dengan biosfer. Flora dan fauna berubah, siklus biokimia planet menyesuaikan. Upaya menekan pengaruh lingkungan menjadi semakin mahal, kompleks, dan rapuh. Satu kegagalan kecil bisa meruntuhkan seluruh sistem. Dan dalam skala planet, kegagalan seperti itu tak terhindarkan.
Bahkan jika secara hipotetis mereka berhasil melahirkan bayi tanpa ekspresi Gaeadite, hasilnya akan tragis. Tubuh bayi tidak sinkron dengan realitas baru. Sistem saraf tidak mampu menangani distorsi kosmik. Imunitas terhadap makhluk Askeland nol. Bayi itu menjadi sepenuhnya bergantung pada perlindungan Gaeadite. Dari perspektif evolusi, mereka bukan penerus—mereka hanyalah spesies rapuh yang menunggu kepunahan.
Kesalahan terbesar generasi lama bukan soal teknologi atau niat, melainkan konsep dasar: mereka percaya lingkungan bisa dikendalikan jika teknologinya cukup tinggi. Sejarah alam semesta mengajarkan hal lain: makhluk hidup yang bertahan bukan yang membekukan dunia, tapi yang beradaptasi. Gaeadite adalah adaptasi itu sendiri. Menekannya sama dengan melawan planet.
Faktanya tak bisa dinegosiasikan. Bumi telah berubah permanen. Gaeadite adalah bagian dari ekologi. Manusia tanpa adaptasi tidak lagi akan mendominasi. Segala kebijakan yang menyangkal kenyataan ini justru mempercepat kehancuran.
Jawaban sederhana pun muncul: mereka mustahil menekan pengaruh lingkungan. Bukan karena bodoh, melainkan karena mereka datang terlambat. Adaptasi sudah terjadi, dan tidak ada jalan kembali.
Generasi lama hidup panjang—hingga 160 tahun—cukup untuk membuat keputusan salah, mempertahankannya puluhan tahun, dan mati sebelum dampaknya sepenuhnya terlihat. Generasi berikutnya akan menatap sejarah itu dan berkata, “Mereka mencoba menghentikan masa depan dengan tembok teknologi.” Namun masa depan selalu menemukan jalannya sendiri.

Posting Komentar