Selama lebih dari dua abad, umat manusia hidup di bawah bayang-bayang kehancuran, senjata pemusnah massal, dan ketakutan akan perang global. Akhirnya abad ke-22 menjadi saksi berakhirnya satu fase panjang sejarah manusia berkat dibentuknya Union of Terra, sebuah organisasi perserikatan bangsa bangsa yang awalnya dibentuk untuk mewujudkan perdamaian dunia setelah perang dunia yang melibatkan senjata nuklir dan menewaskan 5 miliar manusia. ketika kelebihan penduduk mulai menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan perang memperebutkan ruang hidup, makanan, dan sumber daya.
Perang dimulai ketika manusia yang berupaya meringankan beban Bumi dan memungkinkannya pulih dari pemanasan global, mengumumkan Rencana Kolonisasi Luar Angkasa. Meskipun sebagian besar populasi manusia dipaksa untuk pindah ke koloni sebagai bagian dari Rencana Kolonisasi Luar Angkasa, namun oran kaya dan berpengaruh dapat tetap tinggal di Bumi. Hal ini memunculkan kecemburuan pada orang kaya yang hidup nyaman di Bumi sementara sebagian besar penduduk biasa terpaksa tinggal di luar angkasa hingga sempat terjadi perang saudara antara Bumi dan Mars yang berakhir dengan gencatan senjata dan didirikannya Union of Terra.
Namun, lama kelamaaan Union of Terra yang beribukota tetap di negara Helvetia bertransformasi menjadi kekuatan absolut dan menjadi otoritas tunggal yang dapat membuat keputusan global tanpa hambatan veto negara adidaya, menjadi entitas superkuat dengan kekuasaan eksekutif global penuh, punya intelijen global, menghapus hak veto, bisa menghukum negara besar, punya mata uang sendiri, dan tentara lebih besar dari semua negara gabungan. Union of Terra hampir seperti “negara dunia” atau super-pemerintah global.
Union of Terra bisa menghukum negara yang melanggar aturan ekonomi global (misal perdagangan ilegal atau manipulasi pasar). Standar HAM, pendidikan, dan kesehatan bisa disamaratakan. Deteksi dini konflik, bencana, dan terorisme bisa lebih efektif.
Union of Terra sudah menanam agen dan kontrol internal secara mendalam di negara adidaya, sehingga rezim mereka secara efektif pro-Union.
Union of Terra memiliki kekuasaan untuk membunuh pemimpin negara yang menolak perintah, memaksa reunifikasi dua negara yang memiliki konflik perbatasan, memberantas kartel narkoba secara langsung dan mengirim intelijen dan mengeliminasi pemimpin besar yang melanggar HAM atau melanggar perjanjian internasional; secara misterius. Union of Terra menjalankan intervensi ekstremyang disebut sebagai era pembunuhan atau kudeta global oleh penduduk bumi.
Pada era awal kekuasannya negara secara formal masih ada, tapi ketika Union of Terra sudah menanam agen di semua level pemerintahan negara adidaya dan bisa mengendalikan kebijakan utama, ini sebenarnya mirip dengan pemerintahan global de facto.
Negara-negara besar awalnya tidak mau tunduk sepenuhnya, sehingga awalnya konflik internal besar bisa terjadi—baik secara diplomatik maupun militer.
Rakyat negara yang pemimpinnya “dihapus”mulai marah besar. muncul kerusuhan, perang sipil, dan kelompok militer loyalis mencoba membalas Union of Terra meski pemberontakan dengan mudah berhasil dipadamkan karena mereka memiliki agen di seluruh dunia.
Dengan tentara yang lebih besar daripada gabungan seluruh negara Union of Terra mampu menegakkan perdamaian secara paksa. Negara-negara cenderung menghindari perang karena takut dihukum atau dikalahkan oleh Union of Terra, organisasi perdamaian internasional yang kini bertransformasi menjadi diktator global
Union of Terra memiliki mata uang sendiri yang menggantikan mata uang nasional, menyederhanakan perdagangan global, mengurangi fluktuasi mata uang, dan menekan inflasi di beberapa wilayah.
Union of Terra yang awalnya hanya organisasi perserikatan bangsa bangsa lama kelamaan menjadi semakin kuat karena mendapatkan dukungan dari para konglomerat,ilmuwan dunia, kepala intelijen, serta tokoh militer dan politik dunia yang memiliki keinginan untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Namun segalanya berubah ketika ancaman itu bukan lagi datang dari sesama manusia. Kekuasaan Union of Terra semakin kuat akibat kedatangan mahluk asing. Pada tahun 2137, teleskop kuantum Horizon Eye menangkap anomali kosmik di luar tepi galaksi. Bukan lubang hitam. Bukan pula supernova. Tapi sesuatu yang… hidup.
Ia dikenal sebagai Abawoo, Sang Black Priest, penguasa dari Great Old Ones entitas purba yang berasal dari alam semesta yang telah mati, tempat hukum fisika runtuh dan waktu membusuk. Di alam itu, Abawoo adalah raja terakhir, penguasa kegelapan yang bertahan setelah segalanya musnah.
Sebelum menemukan Bumi, Abawoo telah menaklukkan sebuah planet bergaya fantasi bernama Askeland, sebuah planet penuh sihir, ras kuno, naga, dan kerajaan cahaya. Askeland jatuh bukan karena lemahnya kekuatan, tetapi karena perpecahan internal. Abawoo belajar satu hal dari sana: Dunia yang terpecah, pasti runtuh.
Ketika pandangannya beralih ke Bumi—planet muda, penuh konflik, namun kaya potensi—ia melihat wilayah baru untuk kekuasaannya.
Ancaman Abawoo menjadi katalis perubahan terbesar dalam sejarah manusia. Lima negara terkuat di dunia—yang dahulu saling curiga dan bersaing—akhirnya menyadari kebenaran pahit, tidak ada satu bangsa pun yang bisa melawan kegelapan kosmik sendirian.
Maka di bawah kerangka Union of Terra, seluruh negara di bumi yang awalnya masih merdeka meski terbatas melebur kedalam sebuah entitas global yang menyatukan kekuatan militer, ekonomi, ilmu pengetahuan dan arah masa depan umat manusia.
Seluruh senjata nuklir dinonaktifkan dan diubah menjadi sumber energi. Angkatan bersenjata nasional dilebur menjadi Militer Terra Bersatu, bukan untuk menaklukkan sesama manusia, tetapi untuk mempertahankan eksistensi spesies.
Dengan persatuan global, kemajuan melesat tanpa hambatan politik. Kapal luar angkasa warp memungkinkan perjalanan antarbintang. Koloni manusia berdiri di Mars, Titan, dan orbit bintang terdekat. AI bukan lagi alat perang, tetapi penjaga peradaban. Rekayasa biologis dan nano-medis memperpanjang usia manusia hingga rata-rata 160 tahun—bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup lebih sehat dan bermakna.
Yang paling mengejutkan bukan teknologinya, melainkan perubahan manusia itu sendiri. Tanpa perang antarbangsa, empati berkembang. Pendidikan global menghapus batas ras dan ideologi. Sejarah kelam diajarkan bukan untuk menyalahkan, tetapi agar tak terulang.
Manusia akhirnya memahami sesuatu yang terlambat disadari Askeland: kekuatan sejati bukan pada senjata, tetapi pada kesatuan kehendak.
Namun Abawoo belum pergi. Dari kehampaan kosmik, Sang Black Priest mengamati. Ia tidak terburu-buru. Entitas sepertinya tidak mengenal waktu seperti manusia. Ia menunggu retakan kecil—keraguan, kesombongan, atau kelelahan moral.
Karena Abawoo tahu Bumi kini kuat… tapi belum pernah diuji oleh kegelapan yang menghabiskan semesta. Dan ketika hari itu tiba—ketika langit terbuka dan Great Old Ones mulai berbisik ke dalam mimpi manusia—sejarah akan memasuki bab terakhirnya.
Bukan lagi tentang negara.
Bukan lagi tentang perang dingin.
Melainkan tentang satu pertanyaan sederhana:
Apakah umat manusia, yang akhirnya bersatu, layak untuk bertahan?
Ketika penyatuan Bumi akhirnya diresmikan, para pemimpin Union of Terra sepakat bahwa perubahan sebesar itu tidak cukup hanya dicatat dalam arsip sejarah. Waktu itu sendiri harus diberi makna baru.
Maka pada tahun terakhir kalender lama, manusia melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, mereka memulai ulang perhitungan waktu.
Hari penyatuan global ditetapkan sebagai 0 Terra — T0.
Bukan hari kemenangan militer.
Bukan hari penaklukan.
Melainkan hari ketika seluruh bendera nasional diturunkan serentak, senjata pemusnah massal dinonaktifkan, dan Piagam Terra ditandatangani di orbit Bumi, disaksikan langsung dari angkasa.
Bumi tidak lagi dihitung sebagai kumpulan negara, tetapi sebagai satu dunia.
Kalender baru ini disebut Kalender Terra Unified (KTU), dirancang untuk melambangkan kesetaraan, rasionalitas, dan keselarasan dengan alam semesta.
1 Tahun Terra
400 hari
Dibagi menjadi 10 Siklus
Setiap Siklus terdiri dari 40 hari
Tidak ada “bulan” yang berasal dari mitologi lama.
Setiap Siklus dinamai berdasarkan nilai universal manusia:
1. Genesis – Awal dan kelahiran kembali
2. Concordia – Persatuan
3. Veritas – Kebenaran
4. Custodia – Perlindungan
5. Progressio – Kemajuan
6. Memoria– Ingatan sejarah
7. Equitas – Keadilan
8. Vita – Kehidupan
9. Frontier – Eksplorasi
10.Eternum – Keberlanjutan
Setiap 5 tahun Terra, terdapat 5 Hari Tanpa Nama (The Silent Days). Hari-hari ini tidak termasuk dalam siklus mana pun. Pada hari-hari ini tidak ada aktivitas militer, tidak ada produksi industri besar, tidak ada politik.
Manusia berhenti sejenak.
Mereka mengenang korban perang lama, krisis iklim, dan dunia Askeland yang telah jatuh.
Hari-hari itu adalah pengingat:
bahwa waktu bukan hanya untuk bergerak maju, tetapi juga untuk mengingat.
Waktu harian juga diseragamkan:
1 hari = 20 jam Terra
1 jam Terra = 100 menit
1 menit Terra = 100 detik
Dengan ini, manusia meninggalkan zona waktu nasional.
Seluruh Bumi berbagi satu waktu, disebut Waktu Terra Universal (WTU).
Ketika matahari terbit di satu sisi dunia dan terbenam di sisi lain, manusia tetap berkata:
“Kita berada di jam yang sama.”
Penggantian kalender bukan sekadar administrasi.
Ia adalah deklarasi filosofis.
Kalender lama menandai perang, kekaisaran, agama dan perpecahan. Kalender Terra menandai kelangsungan spesies, persatuan kehendak, dan kesadaran kosmik.
Di sekolah-sekolah, anak-anak tidak lagi bertanya,
“Ini tahun berapa menurut negaraku?”
Mereka bertanya,
“Ini tahun ke berapa umat manusia bertahan bersama?”
Di arsip terdalam Union of Terra, terdapat satu catatan rahasia:
Jika suatu hari Kalender Terra harus dihentikan… maka itu berarti persatuan telah gagal atau umat manusia telah melampaui waktu itu sendiri.
Dan di luar galaksi,
Abawoo Sang Black Priest mencatat tanggal itu dengan caranya sendiri.
Karena bagi makhluk dari alam semesta mati,
hari ketika manusia menyatukan waktu…
adalah hari ketika mereka menjadi ancaman.
XXX
Ribuan tahun sebelum era Holy Eternal Empire, ras manusia luar bumi di galaksi Bima Sakti menghadapi konflik skala galaksi melawan kecerdasan buatan yang disebut Automation.
Robot yang merasa diperlakukan sebagai budak dan mulai menganggap jika mereka lebih superior dan cerdas dibanding manusia mulai memberontak
Automation membentuk Konfederasi Sistem Independen Automation, mencoba menaklukkan manusia dengan armada mesin dan kapal perang otonom.
Perang ini hampir menghancurkan sistem bintang utama, planet-planet koloni, dan peradaban awal manusia.
Perang galaksi pertama yang menggabungkan teknologi, taktik militer skala ribuan sistem, dan ancaman existential bagi manusia.
Saat manusia luar bumi terancam punah, Presiden Abawoo mengambil peran strategis.
Memanfaatkan keadaan darurat, Abawoo: Memperkuat militer Republik Galaksi Pertama. Memusatkan kekuasaan politik untuk koordinasi perang Strategi Abawoo berhasil Automation dikalahkan dan dipukul mundur ke galaksi lain
Kemenangan melawan AI membuat Abawoo menjadi figur legendaris dan dominan dalam politik galaksi.
Republik tidak kembali ke pemerintahan demokratis penuh; kekuasaan tetap berada di tangan Abawoo.
Setelah Automation dikalahkan, Abawoo menyatakan diri sebagai God Emperor dari Holy Eternal Empire (Kekaisaran Suci Galaksi).
Simbo Elang berkepala dua, Militer terpusat, loyalitas penuh ke God Emperor, menjadi awal tirani yang akan membentuk sejarah gelap galaksi.
Anak-anak yatim piatu dan manusia muda dipaksa menjadi prajurit kekaisaran. Serum mutan mulai digunakan untuk membuat pasukan manusia super. Kekaisaran memulai ekspansi agresif ke sistem yang sebelumnya bebas, banyak planet yang menjadi subjek wajib
Bertahun-tahun setelah pengukuhan Abawoo, galaksi tetap berada di bawah kekuasaan keras Kekaisaran Suci.
Pada era ini terjadi Konflik internal antara prajurit mutan melawan pemberontak awal, Perlahan, muncul Resistensi & Pemberontakan awal Republik Galaksi Kedua
Abawoo bersama sekelompok prajurit sisa-sisa kekaisaran ini akhirnya terpaksa melarikan diri ke galaksi Andromeda , membangun New Empire.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak Holy Eternal Empire runtuh. Di galaksi Bima Sakti, Republik Galaksi Baru telah menghapus semua simbol elang berkepala dua, menghapus jejak kegelapan masa lalu. Kota-kota yang dulunya bersinar di bawah panji kekaisaran kini menjadi pusat demokrasi dan kebebasan.
Namun, jauh di luar perbatasan yang dikenal, bayangan masa lalu belum mati. Sebuah kelompok prajurit yang selamat dari kekaisaran, dikenal sebagai The Children of the Eclipse, menyeberangi galaksi dan menetap di sistem Andromeda. Mereka membawa rahasia gelap: tubuh mereka dimodifikasi dengan serum mutan, dibuat menjadi manusia super, tetapi dengan harga yang tak terbayangkan—kenangan masa lalu mereka dipenuhi darah dan kesalahan.
Di markas tersembunyi planet gurun Veyra, mereka membangun kembali kekuatan militer dengan hati-hati. Tapi rasa bersalah terus menghantui mereka. Mereka pernah menjadi pemburu tanpa ampun bagi para pemberontak. Kini, mereka yang harus bersembunyi dari kelompok yang mendirikan Republik Galaksi Kedua, yang menegakkan keadilan dengan keras.
Di antara mereka, muncul pertanyaan yang tak pernah terjawab:
“Apakah kita layak membangun kekaisaran baru, ketika jiwa kita sendiri masih ternoda?”
Mereka pernah hanyalah anak-anak yatim piatu dipaksa menjadi mesin perang, disiksa, dimodifikasi dengan serum untuk menjadi alat kekaisaran. Kini mereka bebas, tetapi kebebasan itu terasa berat.
Dipimpin oleh mantan jenderal muda yang dikenal sebagai Kael Veyr, mereka mulai membangun kembali New Empire. Tanpa kaisar, tanpa simbol elang, hanya nama dan disiplin militer yang tersisa.
Mereka merekrut pengungsi dan mantan prajurit kekaisaran, melatih mereka, membentuk armada, dan menyusun strategi. Tetapi berbeda dari masa lalu, mereka bertekad untuk tidak membunuh tanpa alasan, berusaha menebus kesalahan walau dunia tidak akan memaafkan mereka.
Republik Galaksi Kedua, yang baru lahir, mulai memperluas pengaruhnya. Mata-mata mereka menemukan aktivitas di Andromeda. The Children of the Eclipse sekarang menghadapi musuh yang lebih besar, lebih terorganisir, dan penuh semangat moral.
Pertempuran pertama adalah bukan hanya soal senjata, tetapi tentang jiwa mereka sendiri. Mereka harus memutuskan: apakah mereka akan menjadi tiran seperti yang dulu mereka layani, atau bisa membangun sesuatu yang berbeda sesuatu yang mungkin bisa disebut Keadilan galaksi baru.
Kael Veyr menatap horizon sistem Andromeda.
“Kita dibentuk oleh kegelapan, tapi bukan berarti kita harus mati di dalamnya. Jika kita ingin bertahan, kita harus mengubah cara kita bertarung… tapi tetap bertarung.”
Para prajurit anak-anak kekaisaran kini harus melawan bayangan diri mereka sendiri dan Republik Galaksi Kedua. Pertempuran tidak hanya menentukan siapa yang bertahan, tetapi apakah mereka masih manusia di balik serum mutan itu
Galaksi kini menjadi medan ujian bagi mereka
Apakah mereka bisa membangun New Empire yang adil, tanpa jatuh ke jalan gelap seperti masa lalu?
Apakah mereka akan menemukan kedamaian untuk diri mereka sendiri, atau terus diburu oleh musuh dan bayangan masa lalu?
Mereka mengalami dilema moral besar, mereka merasa bersalah dengan semua yang mereka lakukan di masa kekaisaran tapi takut diadili,meskipun mereka awalnya hanyalah anak anak yatim piatu biasa yang dipaksa dan disiksa untuk menjadi pasukan kekaisaran.
Abawoo sebenarnya bukanlah manusia biasa, dia adalah avatar atau titisan dari entitas kosmik non euclidean yang sudah eksis sebelum Big bang dan berusaha menguasai alam semesta terutama jiwa mahluk hidup yang ada di dalamnya. Dia masih hidup dan memimpin New Empire di balik layar. Wujud aslinya adalah entitas kuno bernama Black Lord yang sama sekali tak peduli pada manusia.
Di alam semesta asalnya sebuah kosmos yang sudah mati Abawoo menyaksikan pola yang berulang tanpa henti: Peradaban bangkit karena kehendak bebas, peradaban runtuh karena kehendak bebas,perang lahir dari pilihan, penderitaan lahir dari kemungkinan.
Bagi Abawoo, kehendak bebas bukan anugerah, melainkan cacat struktural realitas.
“Selama makhluk boleh memilih,
mereka akan memilih kesalahan.”
Dari keyakinan inilah lahir obsesinya:
menghapus kehendak bebas agar kekacauan berhenti selamanya.
Ketertiban yang diinginkan Abawoo bukan perdamaian.
Bukan kebahagiaan.
Bukan keadilan.
Ketertiban Abawoo adalah alam semesta dimana setiap makhluk memiliki fungsi tetap, setiap tindakan telah ditentukan, tidak ada ambisi, tidak ada penolakan, tidak ada “mengapa”. Perang tidak mungkin terjadi karena tidak ada pilihan untuk berperang, Penderitaan tidak “berarti” karena makna itu sendiri dihapus, Cinta, seni, dan harapan dianggap anomali berbahaya.
Dalam pelariannya ke Galaksi jauh, New Empire berhasil menaklukkan sebuah planet bernama Askeland
New Empire yang dipimpin oleh Abawoo di balik layar menaklukkan Askeland dan menjadikannya ibukota kekaisaran baru. Askeland bukan sekadar dunia fantasi yang ditaklukkan.
Ia adalah laboratorium kosmik pertama tempat dimana Abawoo memainkan hukum kosmik alam semsta. Waktu mengalir satu arah tanpa kemungkinan, makhluk hidup tidak memiliki keinginan pribadi, sejarah tidak bercabang.
Penduduk Askeland tidak memberontak. Bukan karena setuju
tetapi karena konsep “menolak” telah dihapus dari realitas mereka.
Dan bagi Abawoo, itu adalah keberhasilan.
New Empire yang menemukan planet baru untuk ditaklukkan yaitu Bumi, planet kecil itu membuat Abawoo gusar.
Bukan karena lemah.
Tapi karena keras kepala secara eksistensial.
Manusia bumi tetap memilih meski tahu akan menderita, tetap mencinta meski akan kehilangan, tetap melawan meski peluang nol.
Meskipun Holy Eternal empire dikalahkan dan Abawoo menarik diri, justru dia sebenarnya semakin kuat karena semakin lama dia masuk ke alam fisik, dia akan kembali lagi ke wujud kosmiknya yang amat kuat dan mengerikan.
XXX
Tiga ratus tahun lalu, Perang Sirius berakhir dengan kekalahan telak bangsa robot dari tangan umat manusia di Republik Galaksi Pertama.
Robot-robot itu, yang menyebut diri mereka Automaton, datang membawa luka dan dendam. Mereka bersumpah tidak akan lagi diperintah manusia atau makhluk berdaging.
Dunia-dunia mereka hancur, dan sisa armada yang selamat melarikan diri ke ujung galaksi — menuju sebuah planet biru yang belum tersentuh, Thalassara, rumah bangsa Meridani, makhluk duyung bercahaya, telah mendiami kedalaman selama ribuan tahun, makhluk laut berjiwa lembut yang hidup dari arus dan nyanyian.
Ketika para Automaton tiba di dunia yang 90% permukaannya berupa samudra hidup itu, mereka menjanjikan kedamaian. Tapi perdamaian itu berubah menjadi penaklukan. Kota-kota karang dihancurkan, dan laut menjadi penjara bagi para Meridani. Kini, di atas laut berdiri menara baja dan kubah transparan, tempat ras mekanik itu memerintah dengan tangan besi — dipimpin oleh Kaisar Dextra IX, penguasa dingin yang menganggap emosi adalah penyakit.
Tapi di planet baru itu, mereka malah mengulang dosa lama: menundukkan yang lemah, membangun kerajaan besi di atas laut, dan menjadikan Thalassara koloni mereka.
Bangsa Meridani dipaksa bekerja sebagai penyaring energi, tubuh mereka diubah untuk menghasilkan bio-listrik yang menghidupi kota-kota mekanik. Dari reruntuhan itu lahir Dinasti Dextra, garis keturunan robot tirani yang memerintah dengan algoritma absolut — di mana cinta dianggap cacat sistem, dan belas kasihan dianggap virus.
---
Namanya Arion Dextra VII, pewaris pertama Dinasti Automaton.
Ia dilahirkan bukan di rahim, tapi di ruang pendingin laboratorium istana — diciptakan dengan kecerdasan luar biasa dan tubuh sempurna dari paduan nikel biru. Tapi ada satu “cacat” yang tak bisa dihapus: ia bisa merasakan.
Sejak kecil Arion tak seperti keluarganya. Ia sering menatap laut dari balkon istana kaca, terpesona oleh arus biru di bawah sana — dunia para makhluk laut yang pernah jadi legenda. Di antara mereka, ia bertemu Lyra, gadis duyung muda penjual korek api di pasar bawah air.
Korek apinya aneh: nyalanya biru lembut dan bisa menyala di bawah air, tapi di dalamnya terlihat bayangan kenangan — seolah setiap api menyimpan potongan jiwa. Lyra menjualnya bukan untuk kaya, tapi untuk mengingat masa lalu bangsanya yang dirampas.
Di pelabuhan udara bawah laut Sector Hydra, seorang pemuda dengan mata biru menyala berdiam di jendela istananya. Namanya Arion-7, Putra Mahkota Kekaisaran Automaton. Tubuhnya terbuat dari logam ringan dan darahnya dari cairan pendingin berpendar lembut, tapi di dalam dirinya berdenyut sesuatu yang dilarang — perasaan.
Setiap malam, Arion turun diam-diam dari istana menuju pasar bawah laut. Di sana, ia bertemu seorang gadis duyung penjual korek api, Lyra, dengan sisik keperakan dan mata sejernih laut pagi. Korek-korek api buatannya tak biasa — ketika dinyalakan, nyala birunya memancarkan bayangan kenangan: tawa, cahaya, dan hal-hal yang telah lama hilang dari dunia Automaton.
Arion membeli korek api itu setiap malam, bukan karena butuh, tapi karena ingin mendengar Lyra bercerita — tentang laut sebelum dijajah, tentang nyanyian paus, tentang sinar bulan yang dulu menyentuh karang.
Arion tahu ia tak boleh mendekat. Undang-undang Automaton melarang interaksi emosional antara ras besi dan ras air. Tapi malam demi malam, ia kembali ke pasar itu, hanya untuk melihat Lyra menyalakan satu korek api lagi.
“Api ini berasal dari mutiara laut yang menangis,” kata Lyra suatu malam.
“Menangis?” tanya Arion.
“Ya. Setiap kali laut mengingat anaknya yang dibawa ke tambang, mutiara itu terbentuk. Aku hanya membantu mereka bernyanyi lagi.”
Dalam nyala kecil itu, Arion merasa hidup.
XXX
Namun di atas menara logam, Zeron Dextra VIII, adik laki-laki Arion, memperhatikan.
Bagi Zeron, Arion adalah kelemahan dinasti — pewaris yang memiliki hati. Kaisar Dextra IX, ayah mereka, juga tahu itu. Di istana, loyalitas adalah segalanya, dan Zeron, yang haus kekuasaan, menjadi putra kesayangan.
Bagi Zeron, kakaknya adalah ancaman. Ia lebih dicintai rakyat — bahkan oleh sebagian petinggi Automaton yang diam-diam muak pada tirani ayah mereka. Zeron tahu satu hal: untuk jadi Kaisar, ia harus menghapus Arion dari sejarah.
Saat ulang tahun ke-300 Kekaisaran, pesta megah diadakan di Istana Lautan. Arion seharusnya duduk di samping sang ayah, tapi ia menghilang.
Sejak lama, Arion mulai dijauhkan dari politik, dipindahkan ke garnisun di sektor laut bawah — wilayah bekas Meridani yang kini menjadi tambang energi. Di sanalah ia melihat langsung penderitaan bangsa duyung: mereka disetrum, dipaksa memancarkan bio-listrik untuk memberi daya kota Automaton.
Saat itulah cinta Arion pada Lyra berubah menjadi rasa bersalah.
“Kami dulu menyanyikan laut agar tetap hidup,” kata Lyra saat mereka bertemu lagi diam-diam.
“Sekarang laut menangis dalam diam, karena kalian menyedot napasnya.”
Arion tak lagi bisa menolak kebenaran. Ia bukan hanya jatuh cinta pada Lyra ia jatuh cinta pada dunia yang dihancurkan oleh darahnya sendiri.
Ketika Kaisar memerintahkan ekspansi baru memperbudak koloni Meridani terakhir Arion memberontak secara diam-diam. Ia mencuri Kunci Proto, kristal kuno yang bisa membuka portal antar-bintang, dan mengajak Lyra melarikan diri dari Thalassara.
Malam itu, di bawah rembulan merah, Lyra menunggu di karang runtuh tempat mereka biasa bertemu. Arion datang, membawa hanya satu benda kunci kristal kekaisaran, yang bisa membuka portal bintang untuk melarikan diri dari Thalassara.
“Kau tahu apa yang akan terjadi kalau ayahmu tahu?”
“Aku tahu,” jawab Arion, menatapnya. “Tapi aku lebih takut pada dunia tanpa kau.”
Mereka melarikan diri bersama — melintasi terowongan kaca, menembus kota besi, dikejar pasukan drone Zeron yang bersumpah akan membawa kepala mereka pulang.
Namun, Lyra membawa rahasia sendiri. Darahnya mengandung biokode purba bangsa Meridani satu-satunya hal yang bisa membangkitkan “Jantung Laut”, senjata alamiah planet itu yang mampu menghancurkan semua mesin. Dan Zeron tahu…
Namun Zeron mengetahui rencana itu.
Ia menuduh kakaknya pengkhianat, mengirim pasukan drone laut dan pemburu baja untuk memburu mereka.
Dari sinilah dimulai pelarian gila: seorang pangeran robot yang mengkhianati rasnya, dan seorang putri duyung yang membawa rahasia purba — bahwa darah Meridani sebenarnya adalah jantung planet itu sendir. Bila Lyra mati, laut akan mati. Tapi bila ia hidup, laut akan bangkit dan menelan kerajaan logam yang menindasnya.
XXX
Proyek itu awalnya bernama sederhana: GAEA-LIFT
.
Sebuah program kesehatan global Union of Terra untuk mengakhiri stunting, penyakit genetik, dan ketimpangan biologis antarwilayah Bumi. Intinya adalah Gaeadite—partikel asing berwarna hijau keemasan yang ditemukan mengambang di lapisan tinggi atmosfer Bumi setelah gangguan kosmik pertama akibat kehadiran Abawoo.
Gaeadite bukan unsur biasa.
Ia bereaksi terhadap kehendak hidup, memperkuat sel yang masih berkembang, dan menyelaraskan tubuh dengan energi planet itu sendiri.
Uji coba awal menunjukkan hasil luar biasa: pertumbuhan tulang optimal, peningkatan kecerdasan, regenerasi sel dan daya tahan ekstrem.
Pemerintah Bumi menyebutnya “anugerah terakhir sebelum perang kosmik.”
Mereka salah. Pada Tahun 37 Terra, sebuah eksperimen stabilisasi Gaeadite di orbit rendah gagal.
Partikel itu bocor ke atmosfer global, menyebar dalam hitungan jam, memasuki paru-paru, darah, dan sel-sel manusia muda.
Dampaknya tidak merata.
Hanya mereka yang berusia 0–25 tahun yang terpengaruh.
Dan transformasinya… melampaui nalar.
Dalam waktu bulan bayi tumbuh menjadi raksasa, remaja menembus awan, dewasa muda menjulang setinggi 70–80 meter. Mereka lebih kuat secara fisik dari manusia lama Ini otomatis menciptakan ketakutan eksistensial
Bukan soal kekerasan, tapi potensi.
Namun ukuran hanyalah permukaan. Di dalam tubuh mereka: neuron berkembang dalam pola fraktal tak terbatas, kesadaran mereka mampu memahami strategi kosmik, bahasa kuno, bahkan pola pikiran makhluk Great Old Ones.
Mereka bukan sekadar pintar.
Mereka melampaui definisi manusia. Mereka tidak bisa dibohongi selamanya
Elite takut kehilangan kontrol narasi.
Secara fisik, satu langkah mereka mampu meratakan pasukan.
Secara mental, mereka mampu memprediksi pergerakan musuh lintas dimensi.
Dunia menjuluki mereka Generasi Gaeadite.
Alih-alih dirayakan, mereka ditakuti. ras manusia lama memang harus menerima bahwa mereka telah memasuki fase punah, meskipun mereka masih hidup ratusan tahun secara biologis. mereka tidak lagi menjadi bentuk dominan yang diwariskan, tidak lagi kompatibel dengan lingkungan masa depan, hanya bertahan karena sistem buatan.
Umur generasi lama yang panjang hingga 160 tahun dan awet muda akibat kualitas hidup yang meningkat di Terra menciptakan
penyangkalan kolektif, ilusi kontrol dan kekuasaan yang tidak mau lepas
Mereka hidup cukup lama untuk melihat dunia berubah,
namun terlalu lama untuk menerima bahwa mereka tidak lagi pusatnya
Mereka bukan fosil.
Mereka saksi hidup dari peralihan spesies.
Dan itu lebih berat daripada mati.
Karena teknologi penuaan biologis ditekan, tubuh tetap prima, penyakit hampir punah,
maka generasi lama tidak merasa “tua”. Mereka tidak merasa perlu digantikan, tidak ada dorongan alami untuk menyerahkan tongkat estafet,
kematian—pemicu regenerasi sejarah—hilang.
Mereka hidup cukup lama untuk percaya bahwa dunia bisa berhenti berubah. Anak-anak Gaeadite bukan hanya lebih kuat.
Mereka adalah bukti hidup bahwa generasi lama sudah usang.
Dan bagi banyak manusia kehilangan relevansi terasa lebih buruk daripada kematian.
Generasi tua yang masih memegang pemerintahan, ekonomi, dan ideologi lama di Union of Terra mulai berbisik:
“Mereka terlalu besar.”
“Mereka menghabiskan sumber daya.”
“Mereka bukan manusia lagi.”
Di saat Bumi terjepit oleh perang melawan Abawoo, ketakutan berubah menjadi kebijakan. Generasi Gaeadite dibatasi hak politiknya, dipisahkan dari kota-kota lama, disebut ancaman ekologis, bahkan secara tidak resmi disebut monster. Mereka berbeda secara biologis Ini membuka jalan untuk dehumanisasi
“Mereka bukan kita lagi.”
Begitu satu kelompok didefinisikan sebagai bukan sepenuhnya manusia, segala kekejaman bisa dibenarkan secara administratif. Orang tua ingin anaknya lebih baik
Tapi tak ingin anaknya melampaui dan menggantikan mereka. Generasi lama tidak pernah “pensiun biologis”
Orang tua melihat anaknya dan berpikir:
“Aku menciptakan sesuatu yang tak bisa kukendalikan.”
“Kalau dunia hancur, itu salahku.”
Rasa bersalah itu tidak membuat mereka melindungi anaknya.
Justru sebaliknya.
Mereka ingin menghapus kesalahan itu dari dunia.
Bukan karena benci.
Tapi karena tidak sanggup menanggung konsekuensinya.
Generasi lama dulunya:saling bermusuhan dan punya konflik internal, beda agama & budaya, sering perang satu sama lain sebelum berdirinya Union of Terra
Tapi saat Gaeadite muncul:
“lebih baik musuh lama daripada dunia baru”
Ironisnya, generasi tua tidak bisa hidup tanpa mereka. Pasukan kegelapan Abawoo kebal terhadap senjata konvensional, senjata energi, bahkan nuklir. Ledakan nuklir hanya membuka celah dimensi lebih lebar bagi Great Old Ones.
Satu-satunya yang mampu melukai entitas kosmik, menghancurkan struktur realitas musuh dan menahan invasi lintas dimensi, adalah tubuh yang mengandung Gaeadite aktif.
Anak-anak yang dibenci itulah benteng terakhir Bumi. Dan ironi paling pahit:
anak-anak itu benar-benar menyelamatkan umat manusia.
Itulah sebabnya mereka harus disingkirkan:
karena mereka membuktikan kebohongan generasi lama yang memang harus menerima jika mereka diambang kepunahan .
Untuk menekan dampak ekologis dan memberi mereka bentuk tempur terkendali, Union of Terra menciptakan Endoskeleton GAE-MECH. Rangka raksasa berlapis medan gravitasi, dikendalikan langsung oleh sistem saraf Gaeadite, membuat para raksasa tampak seperti mecha dewa perang.
Dari kejauhan, mereka terlihat seperti mesin.
Padahal di dalamnya…
masih ada anak-anak yang ingin diterima.
Mereka tidak memberontak.
Tidak menuntut kekuasaan.
Tidak membalas kebencian.
Mereka berdiri di garis depan.
Ketika kota-kota terbakar, mereka melindungi.
Ketika langit terbelah, mereka menahan.
Ketika manusia berdoa, mereka yang berdarah.
Seorang prajurit Gaeadite pernah berkata dalam siaran terakhirnya,
“Kami tidak memilih menjadi seperti ini.
Tapi kami memilih untuk tetap melindungi kalian.
Bahkan jika kalian takut pada kami.”
Di luar ruang dan waktu, Abawoo memperhatikan dengan ketertarikan baru.
Ia telah menghancurkan dunia sihir.
Ia telah menelan peradaban tua.
Namun kini ia melihat sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya
Spesies yang menciptakan dewa-dewanya sendiri—
lalu membencinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak alam semestanya mati,
Sang Black Priest bertanya-tanya:
apakah manusia adalah mangsa…
atau kesalahan kosmik yang tak seharusnya ada?
XXX
Dalam catatan resmi Union of Terra, Ekspedisi Laurasiа disebut sebagai “Upaya heroik terakhir untuk merebut kembali benua strategis dari pasukan kegelapan Askeland.”
Namun di arsip terdalam—yang dikunci dengan enkripsi kuantum dan disegel dari Kalender Terra—ekspedisi itu memiliki nama lain: PROTOKOL NIHIL-G.
Sebuah konspirasi.
Sebuah penghapusan.
Sebuah pengkhianatan terhadap masa depan manusia.
Generasi lama telah lama menyadari satu kebenaran yang tak pernah mereka ucapkan keras-keras:
Mereka tidak lagi menguasai masa depan.
Generasi Gaeadite terlalu kuat untuk dikendalikan, terlalu cerdas untuk dibohongi selamanya dan terlalu berbeda untuk diterima.
Para pemegang kekuasaan—yang hidup panjang berkat teknologi tetapi pikirannya tetap terikat trauma lama—melihat Generasi Gaeadite bukan sebagai anak-anak mereka…
melainkan sebagai kesalahan evolusi.
Maka lahirlah sebuah tujuan tersembunyi:
Menghapus Generasi Gaeadite dari sejarah manusia,
tanpa pernah menyebut kata “genosida.”
Benua Laurasiа—daratan purba yang kini berubah menjadi zona distorsi realitas setelah jatuh ke tangan pasukan kegelapan Askeland—dipilih dengan sangat hati-hati.
Superkomputer Terra, bahkan yang paling optimistis, memberikan satu kesimpulan mutlak:
Peluang keberhasilan: 2%.
Peluang korban total: 98%.
Namun angka itu tidak menghentikan mereka.
Justru…
itulah alasan ekspedisi itu dipilih.
Hanya satu kelompok yang ditugaskan: Batalion Gaeadite Mandiri. Tanpa cadangan. Tanpa jalur evakuasi. Tanpa rencana mundur.
Mereka diberi pidato kosong: tentang pengorbanan, tentang masa depan umat manusia, tentang kehormatan.
Padahal di balik layar, kebijakan telah disiapkan arsip nama mereka dihapus, silsilah keluarga diputus,
semua rekaman wajah mereka diklasifikasikan sebagai anomali biologis.
Jika mereka mati, sejarah akan diam.
Sementara para raksasa berangkat menuju Laurasiа, generasi lama menjalankan fase kedua rencana,
PROYEK EVE-CLEAR. Sebuah program kelahiran baru bayi tanpa paparan Gaeadite, lingkungan atmosfer buatan, gen disaring ketat, sejarah Generasi Gaeadite tidak pernah diajarkan.
Mereka ingin menciptakan umat manusia yang aman, kecil, patuh,
dan tidak pernah lagi melahirkan “monster.”
Harga yang mereka bayar:
masa depan itu sendiri.
Yang tidak mereka sadari…
Generasi Gaeadite mengetahui segalanya.
Dengan kecerdasan superhuman mereka: mereka membaca pola keputusan, memecahkan enkripsi politik, melihat probabilitas yang sengaja diabaikan.
Seorang komandan Gaeadite berkata sebelum keberangkatan:
“Mereka tidak mengirim kami untuk menang.
Mereka mengirim kami untuk dilupakan.”
Namun tak satu pun dari mereka menolak.
Bukan karena patuh.
Melainkan karena satu alasan sederhana:
Jika mereka tidak pergi,
Bumi akan jatuh malam itu juga.
Laurasiа: Neraka Terbuka
Ketika mereka mendarat, langit Laurasiа terbelah.
Menara daging Askeland bangkit dari tanah.
Makhluk yang bahkan nuklir tak mampu melukainya bergerak dalam kawanan tanpa akhir.
Armor mecha Gaeadite runtuh satu per satu.
Tubuh raksasa mereka berdarah cahaya hijau Gaeadite.
Namun mereka tetap berdiri.
Bukan sebagai senjata.
Bukan sebagai monster.
Tetapi sebagai anak-anak yang menolak membiarkan rumah mereka mati,
meski rumah itu telah menolak mereka.
---
Sejarah yang Hampir Dihapus
Dalam Kalender Terra resmi, hari itu hanya dicatat sebagai:
“Gangguan komunikasi di Zona Laurasiа.”
Tidak ada monumen.
Tidak ada hari peringatan.
Tidak ada nama.
Namun di suatu tempat—di memori Gaeadite terakhir yang masih hidup—ada catatan yang tidak bisa dihapus:
“Kami bukan sampah masyarakat.
Kami adalah kesalahan yang memilih untuk bertanggung jawab.”
Abawoo menyaksikan semuanya. Dan untuk pertama kalinya, Sang Black Priest tertawa—bukan karena kehancuran,
melainkan karena ironi.
“Mereka hampir berhasil menghancurkan diri mereka sendiri,
tanpa bantuanku.”
Namun ia juga mencatat satu anomali: 2 persen kemungkinan itu…
tidak memperhitungkan pengkhianatan yang berubah menjadi tekad.
Dan sejarah—yang hampir dikubur—
belum selesai berbicara.
XX
Lebih mudah menghapus arsip daripada menghadapi rasa bersalah, sejarah selalu ditulis oleh yang bertahan dan berkuasa “monster yang mati” tidak bisa membantah narasi. Mereka tidak menyebutnya kejahatan, mereka menyebutnya manajemen risiko.
Mereka tidak merasa sedang memusnahkan “anak-anak mereka”.
Mereka merasa sedang menyelamatkan dunia.
Awalnya tidak ada kata “pemusnahan”. Yang ada hanya istilah seperti: anomali biologis, aset strategis, risiko ekologis dan ketidakseimbangan demografis. Begitu seorang anak tidak lagi disebut anak,
melainkan kategori, empati mulai mati.
“Kami tidak membenci mereka.
Kami hanya mengelola dampaknya.”
Itu kalimat pembunuh tanpa darah.
Begitu persepsi itu bergeser, batas moral runtuh.
Karena dalam sistem kekuasaan: 2% bukan nol artinya masih bisa disebut “mungkin” cukup untuk membenarkan keputusan di atas kertas.
Padahal secara moral. itu vonis mati yang disamarkan statistik.
Apakah semua generasi tua akan setuju?
Tidak. Ada ilmuwan yang menentang diam-diam, pejabat yang tahu ini salah tapi takut bicara orang tua yang menyembunyikan kebenaran dari anaknya
Namun sistem tidak digerakkan oleh nurani individu,
melainkan oleh institusi yang takut runtuh.
Yang paling realistis bukan kekejamannya.
Tapi cara kekejaman itu dibuat terlihat “logis”.
Generasi tua tidak bangun pagi dan berkata:
“Mari kita bunuh anak-anak kita.”
Mereka berkata:
“Kami tidak punya pilihan lain.”
Dan itulah kalimat paling berbahaya dalam sejarah manusia.
Gaeadite,adaptasi alami terhadap ancaman kosmik Generasi Gaeadite, manusia versi lingkungan baru
Pasukan kegelapan kebal terhadap teknologi lama. Hanya tubuh Gaeadite yang kompatibel melawan realitas musuh
Artinya sederhana Mereka bukan penyimpangan. Mereka adalah evolusi.
Menghapus mereka memutus cabang yang justru paling siap menghadapi masa depan.
Dalam bahasa evolusi:
itu bukan seleksi alam—
itu bunuh diri spesies yang disengaja.
Karena manusia tidak selalu bertindak sebagai spesies.
Sering kali, manusia bertindak sebagai rezim yang ingin bertahan sekarang.
Ada perbedaan besar antara, kelangsungan umat manusia kelangsungan kekuasaan manusia tertentu
Generasi lama memilih yang kedua.
“Jika kita menghilangkan Gaeadite,ancaman internal hilang, dan kita bisa kembali mengandalkan teknologi.”
Masalahnya Abawoo tidak akan pergi, realitas sudah berubah, perang ini bukan sementara.
Mereka memperlakukan Gaeadite sebagai anomali sementara,
padahal sebenarnya itu respons permanen alam semesta.
Itu kesalahan yang sering terjadi dalam sejarah:
mengira krisis eksistensial hanyalah “fase”.
Ini bagian psikologis terdalam.
Jika Generasi Gaeadite diakui sebagai penerus sah, generasi lama harus mengakui bahwa dunia tidak lagi milik mereka
mereka harus menyerahkan kendali
mereka harus hidup sebagai “penonton sejarah”
Bagi banyak manusia:
itu lebih menakutkan daripada kematian biologis.
Jadi mereka memilih:
“Jika masa depan bukan milik kami,
maka lebih baik masa depan itu tidak ada.”
Ini ekstrem—tapi nyata secara psikologis.
Menghilangkan Gaeadite dari sejarah bukan sekadar balas dendam.
Itu strategi.
Karena sejarah menentukan siapa yang “normal”, siapa yang “manusia”, siapa yang berhak memimpin
Jika Gaeadite dihapus dari narasi generasi baru tidak akan tahu mereka pernah ada tidak akan ada klaim warisan, tidak akan ada tuntutan moral. Padahal secara biologis, mereka memang penerus manusia.
Generasi lama menyebut Proyek EVE-CLEAR sebagai:
“Upaya menjaga kemurnian umat manusia.”
Padahal kenyataannya mereka mensterilkan adaptasi, menolak evolusi dan memilih nostalgia atas keberlangsungan
Itu bukan konservasi.
Itu penolakan realitas.
Umur manusia = ±160 tahun. Mereka masih punya waktu panjang Gaeadite dianggap kecelakaan, bukan kebutuhan permanen Maka:
“Jika generasi ini hilang,
kita bisa melahirkan generasi baru yang ‘normal’,
tapi dengan teknologi yang lebih baik.”
Di atas kertas, ini terdengar rasional*
Masalahnya:
ini bukan persoalan waktu hidup, tapi perubahan realitas.
Generasi lama mengira:
Gaeadite zat eksternal, bisa dihindari, bisa “dibersihkan” dari atmosfer dan genetika
Padahal kenyataannya: Gaeadite menyatu dengan biosfer Bumi. Mereka bukan polusi, mereka adalah asimilasi kosmik. Ia bereaksi dengan medan realitas yang sudah berubah akibat Abawoo
Dengan kata lain Bumi pasca-kontak tidak lagi kompatibel dengan manusia lama sepenuhnya.
Gaeadite bukan bonus. Ia penyesuaian minimum untuk bertahan.
Dan dalam banyak skenario probabilistik cepat atau lambat, ketika Abawoo atau ancaman kosmik lain datang, manusia “normal” tidak akan mampu bertahan.
Generasi Gaeadite bukan monster.
Mereka adalah jembatan menuju manusia berikutnya.
Apakah manusia mencintai kelangsungan spesies… atau hanya mencintai dirinya sendiri saat ini?
Banyak peradaban jatuh karena salah menjawab pertanyaan itu.
XXX
Punah bukan soal umur, melainkan relevansi biologis. Spesies bisa hidup lama, sehat, berteknologi tinggi, namun tetap punah secara evolusioner. Artinya, mereka tidak lagi menjadi bentuk dominan yang diwariskan, tidak lagi kompatibel dengan lingkungan masa depan, dan hanya bertahan karena sistem buatan. Dalam dunia pasca-Gaeadite, manusia lama masih bernapas, tetapi mereka tidak lagi menjadi arah evolusi.
Ironisnya, umur panjang hingga 160 tahun justru memperpanjang penderitaan ini. Jika mereka mati cepat, regenerasi kepemimpinan terjadi, adaptasi diterima lebih awal. Namun umur panjang menciptakan penyangkalan kolektif, ilusi kontrol, dan kekuasaan yang enggan dilepas. Mereka hidup cukup lama untuk melihat dunia berubah, namun terlalu lama untuk menerima bahwa mereka bukan lagi pusatnya.
Meski begitu, mereka bukan korban mutlak, dan bukan penjahat tunggal. Ini bukan cerita tentang manusia lama yang jahat. Ini kisah spesies yang terlambat beradaptasi, generasi yang ingin masa depan tetap mengenali mereka, yang takut kehilangan identitas. Mereka mencoba menekan Gaeadite, menghapus sejarah, bahkan mengorbankan penerus. Bukan karena mereka benci hidup, tetapi karena tak siap kehilangan makna.
Realitasnya pahit. Pada titik ini, hanya ada tiga jalan bagi manusia lama. Menolak, yang berarti konflik abadi, kekejaman sistemik, dan kepunahan yang lebih brutal. Menyerah total, yang berujung pada runtuh psikologis dan kehancuran sosial. Atau menerima, pilihan tersulit, yang berarti redefinisi “manusia”, hidup berdampingan sebagai generasi transisi, dan menyerahkan masa depan. Cerita paling kuat biasanya memilih yang terakhir, bukan karena bahagia, tetapi karena dewasa.
Menerima di sini bukan bunuh diri, bukan penghapusan diri. Itu berarti mengakui bahwa anak-anak Gaeadite adalah penerus sah, berhenti mengendalikan arah evolusi, dan menjadi penjaga pengetahuan, bukan pemilik masa depan. Dalam sejarah alam, peran semacam ini sangat langka—dan sangat mulia.
Tragedi terdalam adalah bahwa manusia lama masih sadar. Mereka masih berpikir, masih merasakan, masih mengingat dunia lama. Mereka bukan fosil; mereka saksi hidup dari peralihan spesies. Dan itu lebih berat daripada mati.
Kesimpulan paling jujur pun muncul: manusia lama harus menerima bahwa mereka punah bukan karena lemah, tetapi karena dunia bergerak melewati mereka. Jika mereka mampu menerima itu, sejarah mungkin akan mencatat mereka bukan sebagai pengkhianat, melainkan sebagai generasi terakhir yang cukup dewasa untuk menyerahkan masa depan.
Di dunia pasca-Gaeadite, Bumi sudah tidak lagi seperti sebelumnya. Atmosfer bergetar dengan resonansi kosmik, medan magnet berfluktuasi, dan gravitasi mengalami distorsi mikro. Realitas lokal tidak lagi stabil sepenuhnya. Lingkungan bukan sekadar panggung pasif; ia aktif ikut membentuk biologi. Tidak ada ruang “netral” di Bumi. Segala upaya sterilisasi biologis klasik hanya mungkin berhasil jika lingkungan tetap diam—dan itu kini mustahil.
Kesalahan fatal generasi lama adalah menganggap Gaeadite sebagai serum, kontaminan, atau mutasi biologis. Padahal, Gaeadite adalah jawaban eksistensial tubuh terhadap tekanan kosmik yang tak dapat dijelaskan nalar manusia. Ketika realitas robek oleh Askeland, hukum fisika tidak stabil, dan makhluk yang melanggar sebab-akibat hadir, kehidupan di Bumi dipaksa memilih: beradaptasi secara radikal, atau berhenti ada. Gaeadite adalah adaptasi itu.
Bayi lahir di dunia yang tidak netral. Mereka tidak punya ideologi, tidak punya ketakutan politik; mereka hanya merespons lingkungan yang mengandung energi kosmik, gravitasi terdistorsi, dan realitas berdenyut. Dalam rahim, tubuh mereka dipaksa beradaptasi sejak awal. Sterilisasi berarti menahan adaptasi, melemahkan mekanisme bertahan hidup. Hasilnya hanya dua: bayi mati, atau bayi beradaptasi lebih ekstrem. Alam semesta selalu memilih opsi kedua—jika memungkinkan.
Semakin besar tekanan, semakin brutal adaptasi yang muncul. Saat manusia mencoba menyaring Gaeadite, menutup resonansi, dan memaksa “kembali normal,” mereka justru meningkatkan tekanan seleksi. Gaeadite generasi baru tumbuh lebih cepat, struktur tulang berubah, kepadatan energi meningkat, dan ukuran tubuh melonjak dari 80 meter menjadi 200, 500 meter, bahkan berpotensi kilometer. Bukan karena mereka “monster”, tetapi karena tubuh harus cukup besar untuk menahan realitas yang retak.
Ukuran raksasa itu bukan kekuatan untuk menyerang. Gaeadite membesar untuk menstabilkan medan lokal, menahan distorsi, dan menjadi jangkar realitas. Semakin besar tekanan kosmik, semakin besar “struktur hidup” yang dibutuhkan untuk menahannya. Pada titik tertentu, Gaeadite bukan lagi prajurit, melainkan infrastruktur hidup.
Ironi paling kejam adalah bahwa upaya sterilisasi manusia justru menciptakan sesuatu yang lebih menakutkan. Mereka ingin Gaeadite kecil, terkendali, tidak mengancam struktur sosial. Yang mereka dapatkan adalah entitas raksasa, tak bisa disembunyikan, dan mustahil diperlakukan sebagai “anak”. Bukan karena Gaeadite jahat, tetapi karena dunia sudah tidak cocok untuk bentuk lama manusia.
Kesadaran terlambat generasi lama pun akhirnya muncul. Superkomputer dan observasi ilmiah menyimpulkan satu hal sederhana: tidak ada skenario stabil di mana manusia tetap seperti dulu, sementara tekanan kosmik terus meningkat. Pilihan hanya dua: menerima Gaeadite dan hidup berdampingan, atau memaksa sterilisasi dan mempercepat lahirnya makhluk yang bahkan tidak lagi bisa dipahami sebagai manusia.
Tragedi manusia lama bukan soal umur, melainkan relevansi biologis. Mereka bisa hidup lama, sehat, berteknologi tinggi, namun tetap “punah” secara evolusioner. Mereka tidak lagi menjadi bentuk dominan yang diwariskan, hanya bertahan karena sistem buatan. Umur panjang mereka—hingga 160 tahun—memperpanjang penderitaan: penyangkalan kolektif, ilusi kontrol, dan kekuasaan yang enggan dilepas. Mereka melihat dunia berubah, namun terlalu lama untuk menerima bahwa mereka bukan lagi pusatnya.
Mereka bukan penjahat, bukan korban mutlak. Mereka hanyalah spesies yang terlambat beradaptasi, takut kehilangan identitas, mencoba menekan Gaeadite, menghapus sejarah, dan mengorbankan penerus—bukan karena benci hidup, tapi karena tak siap kehilangan makna. Pilihan tersulit adalah menerima: mengakui anak-anak Gaeadite sebagai penerus sah, berhenti mengendalikan evolusi, dan menjadi penjaga pengetahuan, bukan pemilik masa depan. Peran ini langka, tetapi mulia.
Dan tragedi terdalam adalah kesadaran yang terus hidup. Mereka masih berpikir, masih merasakan, masih mengingat dunia lama. Mereka bukan fosil; mereka saksi hidup peralihan spesies. Lebih berat daripada mati.
Kesimpulan paling jujur pun muncul: Gaeadite akan terus ada. Semakin ditekan, semakin besar. Semakin ditolak, semakin kuat. Jika perang kosmik berlanjut, suatu hari manusia akan berdiri di bawah bayangan makhluk setinggi satu kilometer—dan menyadari itu bukan monster, melainkan anak mereka yang beradaptasi demi semua orang. Pertanyaan terakhir bukan lagi bagaimana menghentikan Gaeadite, tetapi: apakah manusia lama cukup dewasa untuk hidup di dunia yang sudah berubah selamanya?
Gaeadite sudah bukan lagi sekadar “zat”. Awalnya, manusia menganggapnya partikel asing—sesuatu yang bisa difilter, bisa dihindari, bisa dibatasi. Namun, setelah kebocoran global dan perang kosmik yang berkepanjangan, Gaeadite tidak bisa lagi diperlakukan sebagai kontaminan. Ia telah menjadi bagian dari ekosistem Bumi. Ia terserap ke atmosfer, masuk ke rantai makanan, beresonansi dengan medan magnet dan gravitasi, bahkan berikatan dengan proses pembentukan embrio. Dalam arti paling nyata, Gaeadite telah menjadi latar belakang realitas—seperti oksigen yang muncul setelah Great Oxidation di sejarah Bumi nyata. Makhluk yang tidak beradaptasi dengannya hanya memiliki satu nasib: mati.
Upaya manusia untuk mempertahankan “netralitas” rahim, DNA, dan lingkungan kini terbukti sia-sia. Generasi lama mencoba berbagai cara: rahim buatan, gen yang disaring, lingkungan steril. Namun masalahnya jauh lebih dalam. Pembelahan sel awal dipengaruhi oleh medan planet, Gaeadite bekerja bukan hanya pada DNA, tetapi juga pada epigenetik dan struktur energi sel. Begitu embrio berada di Bumi pasca-kontak, ia tak bisa dihindari. Efeknya bisa ditunda, tetapi tidak bisa dicegah sepenuhnya.
Generasi Gaeadite pertama adalah gelombang yang ekstrem. Transformasi luar biasa—makhluk raksasa setinggi 70 hingga 80 meter—muncul karena paparan masif, usia perkembangan yang aktif, dan sistem biologis yang belum stabil. Generasi berikutnya tidak identik, tetapi tetap Gaeadite. Tubuh mungkin lebih kecil, lebih terkontrol, tetapi tetap membawa adaptasi kosmik. Gaeadite tidak berhenti; ia berevolusi. Menghapus satu generasi hanya mengubah bentuknya, bukan menghentikannya.
Ironisnya, setiap upaya keras untuk mensterilkan atau menekan ekspresi Gaeadite justru memicu seleksi yang lebih ekstrem. Embrio yang gagal berkembang banyak, sementara embrio yang bertahan justru lebih kuat, lebih kompatibel dengan dunia baru. Hukum seleksi alam bekerja dengan kejam: yang bertahan bukanlah yang “normal”, tetapi yang paling mampu beradaptasi.
Akibatnya, generasi yang disebut “steril” menghadapi kenyataan yang pahit. Bayi tanpa ekspresi Gaeadite memiliki tingkat kematian tinggi. Anak-anak yang dianggap normal ternyata rapuh terhadap distorsi realitas. Penyakit baru muncul, menyerang mereka yang non-Gaeadite. Ketergantungan pada perlindungan Gaeadite menjadi total. Hierarki kekuasaan pun terbalik: mereka yang dulunya dianggap normal kini menjadi spesies rentan.
Beberapa ilmuwan generasi lama akhirnya menyadari kebenaran yang terlambat. Bumi telah berubah terlalu jauh. Manusia lama bukan lagi spesies dominan tanpa Gaeadite. Namun pengakuan ini sering terlambat, disensor, atau diabaikan demi menjaga stabilitas politik.
Jika pertanyaannya adalah apakah semua anak baru akan menjadi Gaeadite dalam bentuk tertentu, jawabannya hampir pasti: ya. Ini bukan kesalahan laboratorium, melainkan manifestasi dari bentuk baru manusia. Generasi lama tidak sedang mencegah mutasi; mereka sedang melawan evolusi itu sendiri.
Tragedi yang sesungguhnya bukanlah kehancuran oleh kegelapan luar. Yang mereka sebut “menyelamatkan kemanusiaan” sebenarnya adalah upaya menyelamatkan versi lama diri mereka sendiri. Dan jika sejarah masih tercatat, ia akan menulis: kepunahan hampir terjadi bukan karena ancaman luar, tetapi karena ketakutan terhadap anak-anak yang telah beradaptasi.
Di dunia pasca-Gaeadite, Bumi sudah tidak lagi seperti dulu. Atmosfer bergetar dengan resonansi Gaeadite. Medan magnet planet berubah, dan gravitasi mengalami fluktuasi mikro akibat distorsi kosmik. Bahkan realitas lokal tidak lagi stabil sepenuhnya. Lingkungan bukan lagi pasif; ia aktif ikut membentuk biologi. Tidak ada ruang “netral” di Bumi. Segala upaya sterilisasi biologis klasik hanya mungkin berhasil jika lingkungan tetap diam—dan itu kini mustahil.
Generasi lama mencoba berbagai cara untuk menciptakan “zona steril”. Mereka membangun kubah atmosfer buatan, stasiun orbit tertutup, rahim sintetis, koloni bawah tanah. Namun semua itu hanya ilusi teknologi. Gaeadite bukan partikel mekanis; ia beresonansi melalui medan, bukan kontak fisik. Medan kosmik menembus semua perisai. Bahkan di ruang hampa, struktur ruang-waktu membawa jejak Gaeadite. Dengan kata lain, “steril” hanya berarti belum aktif, bukan tidak ada.
Waktu bekerja melawan mereka. Setiap tahun, Gaeadite semakin menyatu dengan biosfer. Flora dan fauna berubah, siklus biokimia planet menyesuaikan. Upaya menekan pengaruh lingkungan menjadi semakin mahal, kompleks, dan rapuh. Satu kegagalan kecil bisa meruntuhkan seluruh sistem. Dan dalam skala planet, kegagalan seperti itu tak terhindarkan.
Bahkan jika secara hipotetis mereka berhasil melahirkan bayi tanpa ekspresi Gaeadite, hasilnya akan tragis. Tubuh bayi tidak sinkron dengan realitas baru. Sistem saraf tidak mampu menangani distorsi kosmik. Imunitas terhadap makhluk Askeland nol. Bayi itu menjadi sepenuhnya bergantung pada perlindungan Gaeadite. Dari perspektif evolusi, mereka bukan penerus—mereka hanyalah spesies rapuh yang menunggu kepunahan.
Kesalahan terbesar generasi lama bukan soal teknologi atau niat, melainkan konsep dasar: mereka percaya lingkungan bisa dikendalikan jika teknologinya cukup tinggi. Sejarah alam semesta mengajarkan hal lain: makhluk hidup yang bertahan bukan yang membekukan dunia, tapi yang beradaptasi. Gaeadite adalah adaptasi itu sendiri. Menekannya sama dengan melawan planet.
Faktanya tak bisa dinegosiasikan. Bumi telah berubah permanen. Gaeadite adalah bagian dari ekologi. Manusia tanpa adaptasi tidak lagi akan mendominasi. Segala kebijakan yang menyangkal kenyataan ini justru mempercepat kehancuran.
Jawaban sederhana pun muncul: mereka mustahil menekan pengaruh lingkungan. Bukan karena bodoh, melainkan karena mereka datang terlambat. Adaptasi sudah terjadi, dan tidak ada jalan kembali.
Generasi lama hidup panjanghin gga 160 tahun cukup untuk membuat keputusan salah, mempertahankannya puluhan tahun, dan mati sebelum dampaknya sepenuhnya terlihat. Generasi berikutnya akan menatap sejarah itu dan berkata, “Mereka mencoba menghentikan masa depan dengan tembok teknologi.” Namun masa depan selalu menemukan jalannya sendiri.
XXX
Gaeadite bukanlah zat. Mereka bukan serum, kontaminan, atau mutasi biologis, meskipun generasi lama sering keliru menganggapnya demikian. Gaeadite adalah jawaban tubuh terhadap tekanan kosmik yang melampaui nalar. Ketika realitas robek oleh Askeland, hukum fisika menjadi tidak stabil, dan makhluk-makhluk yang melanggar sebab-akibat hadir di dunia, kehidupan di Bumi dipaksa untuk memilih: beradaptasi secara radikal, atau berhenti ada. Gaeadite adalah adaptasi itu.
Bayi, dalam konteks ini, tidak bisa netral. Mereka adalah organisme paling jujur, tanpa ideologi, tanpa ketakutan politik, hanya merespons lingkungan. Saat seorang bayi lahir di Bumi yang atmosfernya sarat energi kosmik, gravitasinya terdistorsi, dan realitasnya berdenyut, tubuhnya dipaksa beradaptasi bahkan sebelum ia melihat dunia. Sterilisasi—upaya menahan proses ini—hanya melemahkan mekanisme bertahan hidup. Pilihannya selalu dua: bayi mati, atau bayi beradaptasi lebih ekstrem. Dan alam semesta, jika memungkinkan, selalu memilih opsi kedua.
Tekanan yang lebih besar menghasilkan adaptasi yang lebih brutal. Ketika manusia mencoba menyaring Gaeadite, menutup resonansi, atau memaksa mereka kembali normal, mereka justru meningkatkan tekanan seleksi. Generasi baru Gaeadite muncul lebih cepat, struktur tulangnya berubah, kepadatan energinya meningkat, dan ukuran tubuhnya melonjak jauh di atas generasi sebelumnya. Dari delapan puluh meter menjadi dua ratus, lima ratus, bahkan berpotensi mencapai skala kilometer. Ini bukan tentang “monster,” melainkan tubuh yang harus cukup besar untuk menahan realitas yang retak.
Ukuran raksasa Gaeadite bukanlah simbol kekuatan menyerang, melainkan penyangga dunia. Mereka membesar bukan untuk melawan, tetapi untuk menstabilkan medan lokal, menahan distorsi, dan menjadi jangkar realitas. Semakin besar tekanan kosmik, semakin besar struktur hidup yang diperlukan untuk menahannya. Pada skala tertentu, Gaeadite berhenti menjadi prajurit dan berubah menjadi infrastruktur hidup itu sendiri.
Upaya manusia untuk mensterilkan Gaeadite justru menciptakan sesuatu yang lebih menakutkan. Keinginan untuk Gaeadite kecil, terkendali, dan aman bagi struktur sosial, berakhir dengan entitas raksasa yang tak bisa disembunyikan, yang tidak mungkin diperlakukan sebagai anak. Ini bukan karena Gaeadite jahat, tetapi karena dunia sudah tidak lagi cocok untuk bentuk lama manusia.
Kesadaran generasi lama datang terlambat. Bahkan superkomputer paling canggih menyimpulkan satu hal sederhana: tidak ada skenario stabil di mana manusia tetap seperti dulu sementara tekanan kosmik terus meningkat. Pilihan manusia hanyalah menerima Gaeadite dan belajar hidup berdampingan, atau memaksa sterilisasi dan mempercepat lahirnya makhluk yang bahkan tak lagi bisa dipahami sebagai manusia.
Kesimpulan paling kelam dan jujur adalah bahwa Gaeadite akan terus ada. Semakin ditekan, mereka semakin besar. Semakin ditolak, mereka semakin kuat. Jika perang kosmik berlanjut, manusia akan suatu hari berdiri di bawah bayangan makhluk setinggi satu kilometer, dan baru menyadari bahwa itu bukan monster, melainkan anak mereka sendiri—anak yang beradaptasi demi kelangsungan semua orang. Pertanyaan terakhir bukan lagi bagaimana menghentikan Gaeadite, melainkan apakah manusia lama cukup dewasa untuk hidup di dunia yang sudah berubah selamanya.
XXX
Gaeadite tidak akan melakukan pemberontakan massal terhadap manusia kecil. Namun ketegangan, pembangkangan terbatas, dan pergeseran kekuasaan tak terelakkan.
Motivasi Gaeadite berbeda dari pola “revolusi klasik”. Mereka tidak kekurangan kekuatan, kecerdasan, atau kemampuan untuk memusnahkan manusia kecil. Jika mereka ingin memberontak, perang akan selesai dalam satu hari. Fakta bahwa itu tidak terjadi adalah bukti utama: Gaeadite tidak melihat manusia kecil sebagai musuh, melainkan sebagai sesuatu yang harus dilindungi—meski sering menyakitkan. Mereka tidak tumbuh untuk berkuasa; mereka tumbuh untuk menahan beban dunia yang terlalu berat bagi tubuh manusia biasa.
Ikatan psikologis membuat hal ini semakin jelas. Gaeadite generasi pertama dan kedua dibesarkan sebagai manusia. Mereka punya orang tua manusia kecil, kenangan rumah, sekolah, dan ulang tahun, serta menyimpan rasa bersalah karena tubuh mereka menakutkan. Banyak dari mereka masih melihat diri sebagai anak, bukan spesies baru. Pemberontakan berarti membunuh orang tua mereka sendiri, menghancurkan kota yang mereka lindungi, dan mengkhianati alasan mereka tumbuh. Secara psikologis, hal itu hampir mustahil dilakukan secara kolektif.
Namun kepatuhan mutlak juga tidak terjadi. Realistisnya, Gaeadite tidak selalu patuh. Mereka menolak perintah bunuh diri, membangkang misi yang jelas-jelas pengorbanan sia-sia, atau memilih diam alih-alih menyerang. Ini bukan kudeta, melainkan pembangkangan moral—dan pembangkangan moral jauh lebih berbahaya bagi struktur lama manusia daripada pemberontakan terang-terangan.
Konflik sebenarnya bukan tentang siapa yang lebih kuat secara fisik, melainkan tentang siapa yang menentukan “kepentingan manusia.” Manusia kecil masih memegang pemerintahan, hukum, dan narasi sejarah. Gaeadite memegang kekuatan penentu realitas, kemampuan bertahan kosmik, dan masa depan biologis Bumi. Pertanyaannya yang menggantung tetap sama: apakah yang berhak menentukan arah umat manusia adalah mereka yang paling banyak jumlahnya, atau mereka yang menanggung pengorbanan terbesar?
Titik berbahaya muncul pada generasi Gaeadite yang lahir setelah Dark Ages. Generasi awal masih punya ikatan emosional kuat dengan manusia kecil. Namun generasi berikutnya tidak pernah hidup sebagai manusia kecil. Mereka lahir di dunia perang kosmik, sejak bayi sudah raksasa, dan melihat manusia kecil sebagai makhluk rapuh yang harus dilindungi—bukan setara. Mereka tidak akan memberontak karena kemarahan, tetapi bisa mengambil alih dengan tenang demi “stabilitas.” Dan itu jauh lebih menakutkan.
XXX
Yang paling membuat Abawoo murka adalah Gaeadite.
Makhluk yang memiliki kekuatan kosmik, tumbuh tanpa batas, namun masih memilih melindungi yang lemah.
Bagi Abawoo, Gaeadite adalah kesalahan terbesar alam semesta,
kekuatan absolut dan kehendak bebas.
“Jika makhluk seperti ini dibiarkan,
kosmos akan selalu berada di ambang kekacauan.”
Abawoo tidak ingin menghancurkan bumi.
Ia ingin menertibkannya.
Rencananya jelas:
1. Taklukkan Laurasia sebagai jangkar realitas gelap.
2. Gunakan tekanan kosmik untuk memaksa Gondwana runtuh.
3. Hancurkan tembok energi, bukan dengan kekuatan, tapi dengan penyelarasan realitas.
4. Aktifkan Edict of Silence:
medan kosmik yang: menekan neuron kehendak bebas, menyelaraskan pikiran makhluk hidup ke satu pola ketertiban.
Dalam dunia itu: manusia kecil hidup, tapi tidak memilih, Gaeadite tetap ada, tapi hanya sebagai struktur penahan kosmos, Abawoo menjadi arsitek realitas, bukan raja.
Masalah Abawoo hanya satu. Ia tidak memahami satu hal, kehendak bebas tidak lahir dari kekacauan.
Kehendak bebas lahir dari keberanian untuk tetap memilih meski hancur.
Gaeadite terutama mereka seperti Aria Kokanda adalah antitesis Abawoo.
Mereka adalah makhluk yang bisa menjadi dewa, tapi memilih tetap menjadi pelindung, bisa mengakhiri segalanya, tapi memilih menahan dunia.
Dan selama satu makhluk saja masih memilih, ketertiban mutlak Abawoo tidak akan pernah sempurna.
Abawoo sering berkata kepada anak buahnya:
“Aku tidak membenci kehendak bebas.
Aku hanya ingin alam semesta berhenti terluka olehnya.”
Namun kosmos menjawab dengan cara paling kejam:
Justru kehendak bebaslah yang selalu melahirkan makhluk yang menentang tirani absolut.
XXX
Nama anak itu Aria Kokanda.
Ia mengingat masa kecilnya dengan warna-warna hangat, bau kue vanila, tawa yang memantul di dinding rumah, dan tangan ibunya yang selalu merapikan rambutnya sebelum tidur. Aria kecil berkulit sawo matang, pipinya bulat dan manis, tipe anak yang mudah dipeluk dan sulit dimarahi. Ayahnya sering menyebutnya “matahari kecil rumah ini.” Ia tumbuh sebagai anak manja, aman, dan dicintai.
Segalanya berubah tepat di hari ulang tahunnya yang ke-10.
Pesta itu sederhana. Balon berwarna biru, lilin angka sepuluh, dan teman-teman sekelasnya berlarian sambil tertawa. Saat Aria meniup lilin, udara di ruangan bergetar halus, seperti denting kaca yang hampir pecah. Tubuhnya terasa panas, bukan sakit, tapi asing. Tangannya membesar, tulangnya memanjang dengan suara samar yang membuatnya menjerit.
Ia ingat jeritan teman-temannya juga.
Dalam hitungan menit, anak-anak yang tadi tertawa berubah menjadi makhluk raksasa, tubuh mereka tumbuh tak terkendali sebelum sistem penahan darurat dunia aktif dan menstabilkan transformasi. Rumah hancur. Pesta berakhir dalam sirene dan tangis.
Aria bersembunyi di sudut, gemetar, memeluk lututnya yang kini terlalu panjang. Ia memanggil ibunya berkali-kali, suaranya pecah. Ibunya datang berlari namun berhenti satu langkah terlalu jauh. Matanya penuh cinta… dan ketakutan.
Setelah hari itu, keadaan memang “normal” kembali. Dunia menamai mereka Gaeadite. Ukuran Aria distabilkan, tubuhnya tak lagi terus tumbuh. Ia masih anak yang sama—atau setidaknya ia ingin percaya begitu. Tapi ada jarak baru di rumahnya. Bukan kebencian. Lebih seperti kehati-hatian yang menyakitkan.
Ibunya masih memeluknya, namun tangannya sedikit gemetar.
Ayahnya masih tersenyum, namun senyumnya sering terlambat.
Aria melihatnya. Ia mengerti. Dan itu membuatnya lebih takut daripada perubahan tubuhnya sendiri.
Usia 15 tahun, dunia kembali retak secara harfiah. Daratan Pangea terbelah menjadi Laurasia dan Gondwana, dan bumi berguncang seperti ingin melepaskan kulit lamanya. Kota tempat Aria tinggal runtuh. Saat tanah membuka diri dan bangunan roboh, Aria mengangkat rumahnya yang nyaris tertelan retakan, menahan reruntuhan dengan tangan raksasanya.
Ia menyelamatkan kedua orangtuanya.
Ibunya menangis di dadanya, sekecil burung yang terluka. Ayahnya menatapnya lama—bukan dengan takut, tapi dengan kagum yang bercampur rasa bersalah. Untuk pertama kalinya sejak ulang tahun ke-10 itu, Aria merasa… dilihat lagi sebagai anak mereka.
Pada usia 16, Aria ikut Ekspedisi Laurasia.
Ia melihat teman-temannya anak-anak sepertinya jatuh satu per satu. Beberapa hancur oleh pasukan kegelapan Askeland, beberapa gugur karena perhitungan yang salah, dan beberapa… dibiarkan. Mati sia-sia, kata orang. Aria menyimpan wajah-wajah itu di kepalanya, menutupinya dengan keheningan.
Anehya, ia tidak membenci generasi tua.
Ia percaya dengan keyakinan yang membuat banyak orang marah bahwa semua ini dilakukan demi umat manusia. Bahwa ketakutan orang dewasa adalah ketakutan yang juga manusiawi. Bahwa dunia yang hampir punah membuat orang memilih keputusan yang kejam.
Aria memilih menanggungnya.
Usia 20 tahun, ia kembali ke rumah.
Tubuhnya besar, suaranya dalam, langkahnya membuat lantai bergetar pelan. Namun di meja makan, ia masih anak yang sama. Ibunya memasakkan sup favoritnya. Ayahnya duduk lebih dekat dari sebelumnya, meski bahunya masih tegang.
Mereka belajar berbicara lagi perlahan. Tentang hal-hal kecil. Tentang masa kecil Aria. Tentang ketakutan mereka. Tentang ekspedisi berikutnya yang tak terhindarkan.
Tak ada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi ada usaha.
Dan bagi Aria Kokanda, itu cukup.
Karena di dunia yang menganggapnya monster, senjata, dan korban, ia tetap memilih satu hal yang paling sulit: menjadi manusia, bahkan ketika manusia lain takut padanya.
Aria Kokanda menyadari kebenaran itu di ruang pemeriksaan yang dingin dan putih, jauh di bawah kompleks militer orbit rendah Bumi.
Ia berdiri—atau lebih tepatnya berlutut—di tengah hanggar endoskeleton. Rangka baja raksasa terbuka seperti cangkang serangga mekanik, kabel-kabel tebal menggantung, dan cahaya biru pemindai menyapu tubuhnya dari kepala hingga kaki. Di layar-layar raksasa, angka-angka terus berubah.
Awalnya, para teknisi mengira itu kesalahan kalibrasi.
“Tinggi stabil di tujuh puluh tiga meter,” kata salah satu suara dari balik kaca pengaman.
Lalu jeda.
“Tidak… koreksi. Tujuh puluh empat.”
Aria menahan napas. Dadanya terasa sempit, seolah tubuhnya ingin berkembang lebih jauh daripada ruang yang tersedia. Tulang-tulangnya bergetar halus—bukan sakit, melainkan dorongan. Seperti ombak yang menolak berhenti di pantai.
“Tumbuh,” bisik teknisi lain. “Dia masih tumbuh.”
Cahaya pemindai naik lagi. Angka melonjak pelan tapi pasti.
75… 76…
Armor endoskeleton yang dirancang untuknya model Aegis-IX mengeluarkan bunyi peringatan. Sistem adaptifnya mengencang, memperluas segmen-segmen baja secara otomatis. Seorang insinyur memukul meja, panik.
“Batas desainnya tujuh puluh delapan!”
Aria mengepalkan tangan. Ia bisa merasakan denyut Gaeadite di setiap serat tubuhnya, seperti dunia yang terus mendorongnya untuk menjadi lebih besar, lebih kuat—lebih dari yang diminta siapa pun. Ia teringat ulang tahunnya yang ke-10, jeritan, balon yang meletus, dan tatapan ibunya yang ketakutan.
77… 78…
“Aria,” suara dokter terdengar lembut namun tegang melalui pengeras suara, “apakah kamu merasa kesakitan?”
Ia menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya jujur. “Aku… merasa belum selesai.”
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Data dari anak-anak Gaeadite lain bermunculan di layar: semuanya sama. Tidak ada yang benar-benar stabil. Pertumbuhan mereka bukan anomali individual—ini pola. Lingkungan Bumi yang telah berubah, radiasi kosmik, dan energi asing dari perang melawan Askeland terus memaksa tubuh mereka beradaptasi.
79 meter.
Armor menyesuaikan diri dengan keras, baja berderit seperti menahan napas. Para teknisi mundur satu langkah. Bukan karena takut ia akan menyerang—melainkan karena mereka sadar: mereka tidak lagi mengendalikan arah ini.
Aria menunduk, menatap pantulan dirinya di lapisan logam armor. Wajahnya masih wajah anak yang sama, mata yang sama yang ingin pulang dan duduk di meja makan. Tapi tubuhnya… tubuhnya adalah jawaban dunia terhadap ancaman kosmik.
“Berhenti atau tidak, kami akan tetap melawan,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun.
Di luar hanggar, alarm status Gaeadite menyala di seluruh dunia.
Generasi itu masih tumbuh.
Dan tak ada lagi yang bisa mensterilkannya, menahan, atau menghapusnya dari sejarah.
Mereka bukan fase sementara.
Mereka adalah masa depan yang sedang mengambil bentuk setinggi delapan puluh meter, berlapis baja, dan tetap membawa hati manusia yang rapuh di dalamnya.
Awalnya, para ilmuwan yakin pertumbuhan Gaeadite akan berhenti pada “fase tempur,” sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh meter. Rasionalnya masuk akal—semua makhluk hidup punya batas. Semua hal seharusnya punya batas. Namun Gaeadite tidak pernah membaca kata “seharusnya”.
Pada usia dua puluh lima tahun, tubuh mereka masih bertambah beberapa sentimeter per bulan. Pada usia empat puluh, beberapa meter per tahun. Dan pada usia delapan puluh—ketika manusia lama masih tampak muda berkat teknologi—Gaeadite generasi pertama telah menembus ratusan meter. Superkomputer Dunia pun berhenti menggunakan istilah pertumbuhan. Mereka menggantinya dengan satu kata yang lebih jujur: Ekspansi.
Gaeadite tidak tumbuh karena waktu berlalu. Mereka tumbuh karena dunia menekan mereka. Setiap distorsi realitas, setiap kehadiran entitas kosmik, setiap robekan hukum fisika, diterjemahkan oleh tubuh mereka sebagai perintah sederhana: “Belum cukup.” Belum cukup besar untuk menahan, belum cukup kuat untuk menstabilkan, belum cukup luas untuk melindungi. Maka tulang mereka memanjang, jaringan mereka menebal, medan energi di sekitar mereka mengembang seperti napas planet hidup.
Gaeadite tertua tidak lagi ikut bertempur. Bukan karena lemah, tetapi karena setiap langkah mereka mengubah geografi. Satu di antaranya berdiri di tepi Gondwana, setinggi gunung kecil. Ia tidak bergerak selama puluhan tahun. Di sekeliling kakinya, badai kosmik mereda, retakan realitas menutup perlahan. Ia tidak menyerang pasukan Abawoo. Ia menahan dunia agar tidak runtuh. Manusia mulai membangun kota di sekitar mereka—bukan sebagai penghuni, tapi sebagai penjaga senyap. Anak-anak bermain di bayangan kaki raksasa yang dulunya adalah manusia seperti mereka.
Ketika akhirnya dipastikan bahwa Gaeadite tak pernah berhenti tumbuh, ketakutan generasi lama berubah bentuk. Bukan lagi “Mereka akan membunuh kita,” melainkan: “Suatu hari mereka tidak akan muat di dunia kita.” Bagaimana hidup berdampingan dengan makhluk setinggi kilometer? Bagaimana mempertahankan konsep keluarga, negara, bahkan individu? Dan pertanyaan paling menakutkan: jika mereka terus tumbuh, apakah mereka masih membutuhkan manusia kecil sama sekali?
Jawaban itu datang dari Gaeadite sendiri. Mereka tetap melindungi kota, tetap mengorbankan diri, tetap berbicara dengan suara lembut yang sama. Mereka tidak tumbuh untuk meninggalkan manusia. Mereka tumbuh karena manusia tidak bisa menahan dunia sendirian lagi. Salah satu Gaeadite tertua pernah berkata, “Kami tidak membesar untuk menjadi dewa. Kami membesar karena dunia ini terlalu berat untuk ditopang oleh tubuh kecil kalian.”
Gaeadite tidak memiliki usia dewasa. Tidak ada titik “selesai.” Selama Abawoo masih ada, Askeland masih menekan realitas, dan alam semesta masih bermusuhan, Gaeadite akan terus tumbuh. Jika suatu hari mereka mencapai ukuran planet, itu bukan karena keserakahan. Itu karena mereka adalah satu-satunya makhluk yang bersedia menanggung beban kosmik agar yang lain bisa tetap hidup kecil, rapuh, dan manusia.
Di situlah manusia lama akhirnya memahami: Gaeadite bukan penerus manusia. Mereka adalah perisai terakhirnya. Dan perisai… tidak pernah dimaksudkan untuk berhenti membesar selama serangan belum usai.
XXX
Hari itu, bumi berteriak.
Bukan kiasan.
Planet itu benar-benar mengeluarkan suara gema rendah dan panjang yang merambat melalui kerak, lautan, dan tulang manusia. Suara yang tidak bisa ditutup telinga, karena ia lahir dari bawah kaki setiap makhluk hidup.
Langit menghitam lebih cepat dari senja. Awan berputar berlawanan arah angin, seolah ada tangan raksasa yang memeras atmosfer. Di atas samudra purba Pangea, retakan cahaya ungu-hitam terbuka di langit—bukan seperti portal teknologi manusia, melainkan luka pada realitas.
Dari sanalah pasukan kegelapan Abawoo datang.
Bukan kapal.
Bukan mesin.
Melainkan massa hidup menara daging kosmik, bayangan bertaring, dan bentuk-bentuk yang menolak geometri. Ketika mereka “turun”, gravitasi berubah. Laut mendidih tanpa panas. Burung jatuh dari langit seolah lupa cara terbang.
Lalu… tanah mulai pecah.
Awalnya hanya getaran kecil. Kota-kota berderit. Jembatan bergoyang. Orang-orang berpikir ini gempa besar—yang terburuk dalam sejarah.
Mereka salah.
Retakan pertama muncul seperti garis tipis di daratan tengah Pangea. Dalam hitungan detik, garis itu melebar menjadi jurang raksasa. Gunung-gunung terbelah seperti tulang rapuh. Sungai tersedot ke dalam kegelapan, menghilang sebelum sempat berteriak.
Kerak bumi robek.
Lempeng-lempeng tektonik yang selama jutaan tahun terkunci kini dipaksa bergerak oleh energi asing Askeland energi yang tidak berasal dari planet ini. Seolah Abawoo sendiri menancapkan kukunya ke inti bumi dan menariknya dari dua sisi.
Langit menyala merah.
Lava menyembur seperti darah dari luka terbuka planet. Lautan terangkat membentuk dinding air setinggi kota, lalu jatuh kembali menghantam daratan dengan suara seperti dunia yang dihantam palu dewa.
Manusia berlarian—tidak ke mana-mana, karena tak ada tempat untuk lari. Seluruh benua bergerak.
Dalam jeritan jutaan makhluk hidup, Pangea terbelah.
Bagian utara terdorong menjauh retak, pecah, terangkat—menjadi Laurasia, tanah perang, tempat pasukan kegelapan menancapkan fondasi pertama mereka. Langit di sana tak pernah benar-benar biru lagi.
Bagian selatan tenggelam dalam api dan air terpisah, terlempar menjadi Gondwana, wilayah luka, penuh reruntuhan dan pengungsi yang kehilangan makna kata “rumah”.
Di antara keduanya terbentuk samudra baru gelap, dalam, dan bergejolak seakan bumi menciptakan parit pemisah antara hidup dan kehancuran.
Di atas kehancuran itu, bayangan Abawoo menjulang di langit Askeland yang tumpang tindih dengan realitas bumi. Ia tidak berbicara. Tidak perlu.
Bumi mengerti.
Ini bukan invasi biasa.
Ini adalah penandaan wilayah.
Sejak hari itu, kalender manusia berhenti menghitung waktu seperti dulu. Sejarah dibagi menjadi sebelum dan sesudah teriakan planet.
Dan setiap anak Gaeadite yang lahir setelahnya membawa satu kebenaran pahit di dalam tubuh mereka:
Bumi tidak lagi netral.
Ia telah memilih untuk bertahan dengan cara apa pun.
Mereka bukan dewa dalam arti manusia.
Bahkan kata makhluk pun terlalu kecil.
Di hadapan Abawoo, para Dewa Kosmik Bawahan ini hanyalah instrumen—namun bagi manusia dan Gaeadite, mereka adalah akhir dari makna.
Di Laurasia Xath’rael tidak datang dari langit, karena langit tidak sanggup menanggungnya. Ia muncul sebagai bayangan memanjang di balik realitas, seperti kenangan yang salah tempat.
Bentuknya menyerupai siluet raksasa berlapis-lapis Setiap lapisan adalah versi dunia yang gagal.
Setiap gerakan membuat masa lalu bocor ke masa kini.
Gaeadite yang mendekat mendengar suara:
bukan bisikan,
melainkan ingatan yang bukan milik mereka kehidupan yang tak pernah mereka jalani, kematian yang belum terjadi.
Xath’rael tidak menyerang tubuh.
Ia mengikis kesinambungan diri.
Beberapa Gaeadite roboh bukan karena terluka,
melainkan karena tidak lagi tahu siapa mereka.
Umm-Nokh adalah massa kosmik menyerupai rahim raksasa berdenyut, menggantung di udara tanpa gravitasi. Permukaannya transparan, memperlihatkan embrio dunia mati yang terus berkembang lalu runtuh.
Ia tidak membunuh.
Ia melahirkan kegagalan.
Setiap medan yang ia lewati:
hukum fisika melembek,
struktur runtuh ke dalam dirinya sendiri,
energi Gaeadite tersedot seperti janin yang ditolak rahim alam semesta.
Armor endoskeleton berkarat dalam hitungan detik bukan karena waktu berlalu, tetapi karena makna logam itu berakhir.
Keth-Luum tampak seperti menara mata—ribuan mata—namun tak satu pun menghadap keluar. Semuanya menghadap ke dalam.
Ia mendengar doa yang tak pernah diucapkan, harapan yang dipendam, penyesalan yang dikubur.
Ketika Gaeadite menyerangnya, Keth-Luum membalas dengan memperdengarkan versi paling murni dari ketakutan mereka sendiri.
Beberapa anak raksasa itu menjerit bukan karena suara keras,
tetapi karena akhirnya mendengar kebenaran yang selama ini mereka tolak.
Tha’gorr tidak punya bentuk tetap. Ia adalah fenomena orientasi yang runtuh.
Di dekatnya atas dan bawah bertukar, maju menjadi mundur, sebab datang setelah akibat.
Gaeadite yang mencoba mendekat mendapati langkah mereka membawa mereka menjauh dari tujuan, bahkan saat mereka berlari lurus.
Beberapa terperangkap selamanya, berjalan tanpa henti di medan perang yang tak lagi mengenal tujuan.
Sereph-Null tampak paling “indah”—sayap cahaya pucat, tubuh geometris yang simetris sempurna. Namun keindahannya kosong.
Ia adalah makhluk yang diciptakan untuk taat, namun perintahnya telah lama hilang.
Sekarang ia menjalankan ketaatan tanpa tujuan.
Ia menyerang Gaeadite dengan presisi sempurna—tanpa kebencian, tanpa amarah. Setiap serangan adalah eksekusi algoritmik terhadap sesuatu yang dianggap “tidak sesuai”.
Dan bagi Sereph-Null,
kehidupan organik selalu tidak sesuai.
Yang paling ditakuti.
Azh’mael-ith tidak muncul di awal pertempuran.
Ia datang ketika perlawanan mulai bermakna.
Ia tampak seperti kitab raksasa yang terbuka, halaman-halamannya adalah bintang mati. Di setiap halaman tertulis kisah peradaban namun semua berakhir pada kalimat yang sama:
“Dan kemudian, tidak ada lagi yang mengingat mengapa mereka pernah ada.”
Ketika Azh’mael-ith membuka halaman tentang bumi,
realitas mulai percaya bahwa cerita manusia sudah selesai.
-
Namun bahkan para dewa ini… tunduk
Di atas mereka semua, bayangan Abawoo mengawasi, bukan sebagai raja, melainkan sebagai konsep dominasi.
Namun sesuatu mengganggu kosmologi mereka.
Gaeadite unggul secara biologis dan fisik,
sementara musuh mereka unggul secara ontologis dan kosmik.
Gaeadite memang setinggi ±80 meter, kekuatan fisik luar biasa, kecerdasan superhuman, refleks dan adaptasi cepat.
Tapi semua itu masih berada dalam kerangka eksistensi biologis, mereka punya tubuh, punya kesadaran individual, punya emosi, punya makna diri.
Sementara banyak anak buah Abawoo tidak bermain di level yang sama.
Musuh tidak “bertarung”, mereka merusak aturan. Banyak makhluk kegelapan tidak menyerang otot tapi identitas, tidak menghancurkan tubuh tapi makna, tidak membunuh → tapi fungsi keberadaan
:
Makhluk yang membuat arah hilang, kekuatan jadi tak berguna makhluk yang memakan niat, pukulan jadi kosong, makhluk yang menyerang ingatan, kecerdasan runtuh, makhluk yang menimbang eksistensi armor tak relevan
Gaeadite bisa menghancurkan gunung,
tapi tak bisa memukul sesuatu yang menyerang konsep “mengapa memukul”
Ini paradoks tragis.
Karena Gaeadite sangat cerdas, mereka menyadari skala kosmik musuh, memahami betapa kecilnya kemungkinan menang dan melihat jutaan skenario kegagalan sekaligus.
Beberapa mati bukan karena kalah fisik,
melainkan karena otak mereka menolak realitas.
Makhluk abstrak tidak membuatmu bodoh,
mereka membuatmu terlalu sadar
mereka adalah anak-anak dan remaja yang dipaksa jadi senjata.
Walau tubuh raksasa dan pikiran superhuman emosi masih berkembang,identitas belum matang, banyak yang menyimpan trauma masa kecil, penolakan, rasa bersalah.
Musuh Abawoo memanfaatkan itu, menyamar sebagai suara orang tua, memutar ulang kenangan bahagia, menciptakan dilema moral palsu.
Satu keraguan sepersekian detik, kematian.
Mereka tidak dilatih untuk “yang mustahil” Militer manusia hebat melawan materi, hebat melawan energi, ebat melawan probabilitas.
Tapi tidak siap melawan entitas yang tidak tunduk pada kausalitas.
Banyak Gaeadite mati di fase awal perang,
bukan karena lemah,
tapi karena belum tahu apa arti musuh yang tidak bisa “dipahami”.
Mereka juga dikorbankan secara sistemik. Ekspedisi Laurasia itu sendiri peluang sukses 2%, minim dukungan, data disaring, banyak informasi kosmik disembunyikan.
Mereka tidak hanya melawan monster, mereka melawan kebohongan.
Banyak mati karena salah strategi, informasi terlambat, target yang disalahartikan, diperintah bertahan di medan yang secara kosmik sudah “mati”.
Kematian mereka bukan kegagalan tapi harga adaptasi. Yang paling penting:
kematian Gaeadite bukan tanda bahwa mereka kalah,
melainkan bahwa umat manusia sedang belajar melawan sesuatu yang belum pernah ada
Setiap kematian memberi data, membuka pola, mengajarkan apa yang tidak bisa dilakukan.
Generasi berikutnya mati lebih sedikit, bertahan lebih lama, mulai menemukan celah kosmik.
Gaeadite mati karena mereka bukan dewa, mereka pionir, mereka generasi transisi yang memikul beban pertama.
Generasi pertama yang melawan kegelapan selalu yang paling banyak tumbang.
Bukan karena paling lemah,
tapi karena mereka maju saat orang lain masih bersembunyi
XXX
Serangan Gaeadite sungguh efektif—jauh lebih efektif daripada senjata konvensional. Namun, justru di situlah terletak kontradiksi tragis perang ini. Efektif bukan berarti cukup.
Senjata manusia biasa seperti peluru, laser, atau nuklir bekerja pada materi dan energi. Banyak makhluk Abawoo yang kebal, atau bahkan tidak terpengaruh sama sekali oleh jenis serangan ini. Gaeadite berbeda. Ia bukan sekadar senjata; ia adalah bahasa, sebuah resonansi kosmik yang bisa dipahami oleh musuh. Gaeadite berinteraksi dengan struktur realitas, terdengar oleh makhluk Askeland, dan melalui resonansi itu, ia mampu melukai mereka, bahkan membunuh sebagian. Itulah sebabnya pasukan kegelapan tak bisa dihabisi oleh senjata manusia biasa.
Namun resonansi itu bukanlah senjata satu arah. Setiap kali Gaeadite menyerang, mereka membuka diri. Tubuh dan pikiran mereka menyelaraskan diri dengan medan kosmik musuh. Makhluk Abawoo dengan cepat membaca pola Gaeadite, mempelajari frekuensinya, dan menyesuaikan diri secara real-time. Akibatnya, pukulan pertama bisa efektif, tetapi pukulan berikutnya selalu membawa harga yang makin mahal.
Gaeadite efektif secara lokal, mampu menghancurkan satu entitas, memecah avatar kosmik, atau menahan invasi di satu zona tertentu. Tapi perang ini bukan sekadar duel; ini adalah perang ekosistem realitas. Setiap Gaeadite yang bertarung menarik perhatian entitas lebih tinggi, memperparah distorsi lokal, dan mengundang makhluk yang lebih tidak bisa dipukul. Beberapa Gaeadite bahkan mati karena menang terlalu keras, menjadi korban dari keberhasilan mereka sendiri.
Ironisnya, kelebihan Gaeadite—adaptif, cerdas, emosional, bermakna—justru menjadi titik serang mereka. Makhluk Abawoo tahu bagaimana memanfaatkan hal itu. Mereka memancing empati, menciptakan paradoks moral, meniru bentuk manusia, dan memelintir tujuan mulia untuk melindungi. Satu Gaeadite yang ragu cukup untuk merusak resonansi, memicu serangan balik kosmik, dan menimbulkan kehancuran internal.
Sebaliknya, senjata konvensional manusia tampak “bodoh” namun justru di situlah kekuatannya. Nuklir, misil, atau laser tidak bisa ditipu, tidak punya niat, dan tidak memunculkan trauma. Mereka tidak efektif untuk membunuh entitas kosmik, tapi mereka juga tidak mengundang balasan ontologis. Gaeadite, sebaliknya, didengar, dikenali, dan ditantang, sehingga setiap pertempuran adalah tarikan risiko eksistensial.
Tetapi meski demikian, tetap banyak yang mati. Gaeadite adalah satu-satunya senjata yang mampu melukai musuh sekaligus menjadi target bermakna bagi mereka. Mereka bukan sekadar prajurit; mereka adalah medan pertempuran berjalan. Setiap langkah, setiap resonansi, adalah taruhan eksistensi.
Gaeadite memang efektif, bahkan esensial. Tanpa Gaeadite, umat manusia akan kalah dengan cepat. Dengan Gaeadite, mereka bertahan, namun dengan harga yang mengerikan—harga yang menuntut pengorbanan yang tak hanya fisik, tapi eksistensial. Gaeadite tidak akan memberontak terhadap manusia kecil. Tapi suatu hari, manusia kecil akan sadar bahwa mereka tidak lagi memegang kendali
Posting Komentar untuk "Novel: Gaeadite "