Novel: Man Without a Mission

Devianart by Moribato.


Selama miliaran tahun, Matahari hanya diam.

Ia membakar, memelihara, dan menyaksikan.

Manusia menyebutnya bintang, dewa, inti kehidupan tapi sesungguhnya, ia hanya tidur.


Namun pada tahun yang tak pernah lagi dicatat, sesuatu yang tak pernah diperkirakan terjadi.  Matahari “terbangun.” Matahari bangun sekitar abad ke 48 Masehi atau 1,5 juta tahun yang lalu, setelah miliaran tahun dalam kestabilan bintang.  

Tidak dalam bentuk bola api yang dingin dan tanpa jiwa, melainkan sebagai bayi kosmik—mata bersinar seperti plasma, suaranya getaran yang mengguncang orbit.

Matahari yang selama ini dianggap hanya sebagai benda mati, sebuah bola gas raksasa ternyata adalah mahluk hidup yang memiliki emosi dan kesadaran. Bahkan, bisa dibilang sebuah dewa kosmik yang marah terhadap kerusakan manusia.



Fenomena itu dimulai dengan anomali gravitasi dan denyutan energi yang tak dapat dijelaskan. Dalam hitungan minggu, wajah bercahaya muncul di permukaan fotosfer  menyerupai bayi, menangis tanpa suara, namun tiap “isakannya” melepaskan gelombang radiasi gamma yang menembus atmosfer.


Teleskop di seluruh dunia merekamnya sebuah entitas kosmik yang tampak sadar.

Para ilmuwan menyebutnya Solar Sentience Event, tapi bagi umat manusia, itu adalah Hari Kebangkitan Dewa Matahari.


Gelombang radiasi pertama memusnahkan 70% kehidupan di Bumi. Dalam dua tahun berikutnya, atmosfer berubah menjadi lautan ion panas. Kota-kota meleleh, lautan menguap, dan hanya sedikit manusia yang berhasil bersembunyi di bawah tanah.


Ketika Matahari melihat Bumi, ia menangis layaknya bayi. Matahari itu sering mengeluarkan air mata merah darah yang membakar benua.

Tangisnya bukan suara, tapi gelombang radiasi yang melahap samudra dan membakar langit.

Ia menangis karena melihat semua kenangan kekerasan—perang, kelaparan, senjata yang mencabik sesama makhluk ciptaan cahaya akibat ulah manusia.

Setiap air mata nuklirnya menghancurkan benua.


Manusia mencoba melawannya dengan membangun cermin raksasa, menembakkan misil ke angkasa tapi bagaimana melawan bintang yang hidup?

Dalam seabad, peradaban lenyap.

Yang tersisa hanyalah mereka yang bersembunyi di bawah tanah, jauh dari sinar sang bayi Matahari.

Para penyintas membangun koloni bawah tanah bernama Erebos selama 1,5 jura tahun, di mana kehidupan bertahan dengan teknologi biologis yang diciptakan dari sisa DNA manusia. Untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan abadi, tubuh mereka bermutasi: kulit pucat, mata menyala merah, dan metabolisme mereka berubah.

Mereka tidak lagi manusia   mereka adalah Homo Sanguinis, ras baru yang bergantung pada darah sintetis untuk hidup. Mereka menyebut diri mereka Nosferan, keturunan gelap yang hidup dari darah sintetis… hingga bahan itu habis.


Namun ketika bahan sintetis habis, mereka menemukan satu-satunya cara untuk bertahan: menembus waktu.

Mereka kembali ke masa lalu, ke zaman ketika Matahari masih tertidur dan manusia masih bermimpi di bawah sinarnya.

Manusia masa lalu menjadi satu-satunya sumber kehidupan mereka.


Dengan teknologi kronosfer — hasil penelitian kuantum dari abad terakhir — para ilmuwan vampir membuka lorong waktu menuju masa sebelum Matahari bangun, ke zaman kuno ketika manusia masih hidup di bawah cahaya hangat yang “tidur.”


Misi mereka bukan menyelamatkan sejarah, melainkan berburu. Karena mereka tahu waktu adalah sungai yang tak bisa dibelokkan dengan pengetahuan mereka yang masih terbatas


Mereka menculik manusia dari masa lalu, memanen darah dan jaringan, dan mengirimnya kembali ke Erebos. Tapi dari generasi ke generasi, beberapa vampir muda mulai mempertanyakan moralitas ini.


Mereka bertanya:


“Jika Matahari pernah tidur dan kini bangun karena dosa manusia, apakah kita — yang hidup dari darah manusia — akan membangunkannya lagi?”

Namun, beberapa Nosferan—yang lahir dari keluarga rendah—memiliki tugas lain  untuk mencegah kemarahan Matahari:

Mereka naik ke permukaan bumi, ke reruntuhan dunia lama, untuk menghibur bayi Matahari.

Mereka menari di bawah radiasi, membawakan lagu, puisi, dan kisah tentang perdamaian agar sang bayi percaya:

“Manusia, atau apa pun yang tersisa darinya, masih mampu mencintai.”

Mmproyeksikan ilusi kehidupan bahagia agar bayi kosmik itu percaya bahwa manusia masih baik.

Namun, setiap kali Matahari tersenyum, radiasi meningkat  seolah ia tahu mereka berbohong.

1,5 juta tahun berlalu. Manusia tak lagi disebut manusia.

Tubuh mereka berevolusi, darah mereka menyesuaikan diri dengan kegelapan.

Mereka menemukan cara terakhir untuk bertahan hidup: melintasi waktu.

XXX


Lima abad kemudian, Erebos hampir runtuh.

Bangsa vampir memutuskan untuk meninggalkan Bumi — mencari bintang lain yang masih “tertidur.”


Dalam mitos Nosferan, ada ramalan:

suatu hari mereka akan meninggalkan Bumi, berlayar menuju bintang lain yang masih tertidur,

agar bisa membangun dunia baru sebelum matahari berikutnya terbangun dan kembali menangis.


Dan mungkin, di alam semesta yang luas dan sunyi,

bayi-bayi bintang sedang bermimpi yang sama —

tentang makhluk kecil yang menyebut dirinya manusia,

dan tentang harapan kecil untuk dimaafkan oleh cahaya.


Tapi sebelum mereka berangkat, satu di antara mereka, seorang anak vampir kasta rendah yang lahir dari gen manusia murni, mendengar suara dalam tidurnya:


“Aku belum selesai bermimpi. Jangan bangunkan Aku lagi.”


XXX

Bumi Universe 661, satu setengah juta tahun lalu....

Namaku Constantine. Ya, Constantine. Nama yang terdengar seperti pahatan marmer dingin di aula katedral tua—berat, khidmat, dan sedikit mengancam. Orang-orang biasanya berharap aku berjalan dengan bahu tegang, alis mengerut, dan suara bariton penuh wibawa. Kenyataannya? Aku sering tertawa terlalu keras, menepuk bahu orang asing seolah kami sahabat lama, dan bersiul saat menyemir sepatu dinas.


Aku pemadam kebakaran. Dan sampai hari ini aku masih merasa nama itu seperti mantel kebesaran yang salah ukuran—kebesaran untuk seseorang seceria aku.


Aku tinggal dan bekerja di Bougenistria, sebuah negara kecil yang bahkan sering luput dari peta dunia. Tapi percayalah, negara kecil ini punya hati yang besar. Penduduknya ramah dengan cara yang tulus: menyapa tanpa perlu alasan, tersenyum tanpa curiga, dan selalu punya waktu untuk bertanya apakah kau sudah makan. Kota tempatku bertugas tidak pernah benar-benar tidur, tapi juga tak pernah terburu-buru. Seperti napas panjang yang stabil.


 Ada satu hal tentang diriku yang tidak pernah berubah, bahkan sebelum aku tahu bahwa waktu bisa retak dan para penyihir menjaga semesta seperti orang menjaga api unggun di malam purba.


Aku mencintai pekerjaanku.


Bukan sekadar suka, bukan karena gaji—yang bahkan sering terasa tidak sepadan—tapi karena menjadi pemadam kebakaran membuat dunia terasa jujur. Api tidak berbohong. Asap tidak bernegosiasi. Entah kau sigap atau kau terbakar.


Aku selalu memakai topiku.


Topi pemadam kebakaran Bougenistria—model lama, baja dicat merah tua dengan lambang negara yang sudah tak lagi dipakai secara resmi sejak rezim lama runtuh. Catnya terkelupas di beberapa sisi, penyok kecil di belakang akibat tertimpa balok kayu bertahun lalu. Tapi aku membersihkannya setiap malam. Bukan karena peraturan. Karena rasa hormat.


Aku memakainya bahkan saat tidak bertugas.


Saat membeli roti.

Saat duduk di halte.

Saat berjalan sendirian di lapangan sore hari.


Beberapa orang menatap heran. Beberapa tertawa kecil. Aku tidak peduli. Topi itu bukan kostum bagiku—itu pengingat bahwa kapan pun sesuatu terbakar, aku adalah orang yang harus maju, bukan mundur.


Seragamku juga jarang kulepas.


Jaket pemadam berwarna gelap dengan garis reflektif yang mulai pudar, tambalan nama “CONSTANTINE” dijahit ulang sendiri karena benang aslinya putus. Di bahu kanan masih ada bekas hangus yang tidak pernah benar-benar bisa dibersihkan—sisa kebakaran gudang bahan kimia lima tahun lalu.


Bau asap sudah menyatu dengan kainnya.

Dan jujur saja—dengan tubuhku.


Secara fisik, aku bukan tipe pahlawan poster.


Tubuhku sedang, tidak besar, tapi padat—dibentuk oleh tangga darurat, selang berat, dan malam-malam tanpa tidur. Bahuku sedikit membungkuk, kebiasaan membawa beban terlalu lama. Tanganku penuh bekas luka kecil: goresan logam, lepuhan lama, garis putih bekas jahitan.


Wajahku… biasa.


Rahang tegas tapi tidak mencolok. Hidung sedikit bengkok karena pernah patah saat runtuhan plafon. Kulitku kecokelatan oleh matahari dan asap. Di bawah mata, ada lingkaran gelap permanen—oleh kelelahan, atau mungkin oleh sesuatu yang lebih dalam.


Rambutku hitam gelap, selalu dipotong pendek karena lebih praktis. Jenggot tipis sering tumbuh tidak rata karena aku terlalu malas mencukurnya setiap hari. Mataku cokelat tua—sering terlihat lelah, tapi tidak kosong.


Aku terlihat seperti pria yang kau temui di jalan dan lupakan lima menit kemudian.


Dan aku tidak pernah keberatan dengan itu.


Menjadi pemadam kebakaran mengajariku satu hal penting: yang masuk ke api jarang diingat, tapi tanpa mereka, tidak ada yang tersisa untuk diingat.


Ketika aku mengenakan seragam itu, aku tahu siapa diriku.


Setiap pagiku dimulai dengan cara yang sama. Aku bangun sebelum matahari sepenuhnya memutuskan untuk muncul, membuka jendela apartemen kecilku, dan menghirup udara Bougenistria yang dingin dan bersih. Lalu aku berkata pada diriku sendiri—kadang keras-keras—“Hari ini pasti ada yang bisa kubantu.” Entah itu api besar atau sekadar pintu yang macet.


Di perjalanan menuju kantor pemadam, aku hampir selalu berhenti. Menolong nenek Mila menyeberang jalan, mengangkat peti apel untuk kios kecil milik Pak Radu, atau sekadar mendengarkan keluhan penjaga toko roti tentang oven tuanya yang rewel. Mereka tahu aku pemadam kebakaran, tapi lebih dari itu, mereka tahu aku Constantine yang selalu tersenyum. Yang membawa semangat seperti membawa selang air—siap digunakan kapan saja.


Di kantor, rekan-rekanku sudah hafal kebiasaanku. Aku yang pertama datang, menyeduh kopi untuk semua orang, dan menyalakan radio tua di sudut ruangan. “Bagaimana mungkin orang bernama Constantine selalu bersenandung?” kata kapten kami pernah bercanda. Aku hanya mengangkat bahu. Api tidak pernah menunggu orang yang muram, pikirku.


Saat sirene meraung, dunia berubah. Tapi semangatku tidak. Aku berlari menuju truk dengan fokus, dengan ketenangan yang anehnya selalu disertai rasa syukur. Setiap kebakaran adalah ancaman, ya, tapi juga kesempatan: kesempatan untuk melindungi, menyelamatkan, dan mengingatkan diriku sendiri mengapa aku memilih pekerjaan ini.


Aku ingat satu sore ketika kami memadamkan api di rumah kayu di pinggir kota. Setelah api padam dan asap menipis, seorang anak kecil menarik ujung jaketku. Wajahnya hitam oleh jelaga, matanya besar dan penuh tanya. “Om namanya siapa?” tanyanya.

“Constantine,” jawabku.

Dia tertawa. “Namanya berat, tapi omnya ringan.”


Aku tertawa bersamanya.


Malam hari, setelah tugas selesai, aku sering berjalan pulang meski kakiku lelah. Bougenistria di malam hari sunyi dengan cara yang ramah. Lampu-lampu jendela seperti kunang-kunang, dan orang-orang masih melambaikan tangan saat aku lewat. Aku membalasnya, selalu.


Mungkin namaku tidak cocok dengan sifatku. Mungkin juga tidak cocok dengan pekerjaanku—karena Constantine terdengar seperti penakluk, bukan pemadam api. Tapi aku tidak keberatan. Nama hanyalah bunyi. Yang penting adalah apa yang kulakukan setiap hari: bangun dengan semangat, bekerja dengan hati, dan membantu setiap orang yang kutemui.


Dan jika dunia terbakar esok hari, aku akan tetap datang sambil tersenyum, membawa air, membawa harapan—Constantine yang ceria, dari 

Bougenistria yang ramah.

Aku harus jujur sejak awal: aku tidak spesial. Tidak ada kisah takdir agung di balik namaku, tidak ada bakat luar biasa yang membuatku berbeda dari orang lain. Aku Constantine yang sama seperti ribuan orang lain di Bougenistria—bangun pagi, bekerja, pulang dengan tubuh lelah, lalu tidur dengan pikiran sederhana: semoga besok sedikit lebih baik.


Aku tidak selalu berani. Tanganku kadang gemetar saat pertama kali memegang selang di depan api besar. Aku pernah salah mengambil keputusan kecil dan dimarahi kapten. Pernah juga pulang dengan perasaan gagal karena kami datang terlambat menyelamatkan sesuatu. Semua pemadam kebakaran punya cerita seperti itu. Tidak heroik, tidak layak dijadikan legenda.


Hari-hariku pun biasa saja. Aku bangun karena jam weker, bukan karena panggilan jiwa. Aku mengeluh soal kopi yang terlalu pahit dan sepatu dinas yang mulai usang. Aku tertawa bersama rekan-rekan bukan karena hidupku sempurna, tapi karena tertawa membuat segalanya terasa lebih ringan. Jika tidak ada panggilan darurat, aku menyapu lantai kantor, membersihkan peralatan, dan menunggu—seperti orang-orang lain menunggu giliran hidup mereka bergerak.


Di Bougenistria, menjadi orang biasa bukanlah hal yang memalukan. Justru di situlah aku merasa pas. Aku berdiri di antrean roti seperti semua orang. Aku duduk di bangku taman saat istirahat, mendengarkan obrolan yang tak penting tapi hangat. Tidak ada yang menunjukku sebagai pahlawan. Mereka hanya mengenalku sebagai Constantine, pemadam kebakaran yang lewat setiap hari.


Aku membantu orang bukan karena aku luar biasa, tapi karena siapa pun di posisiku mungkin akan melakukan hal yang sama. Mengangkat barang, menunjukkan jalan, memadamkan api—itu pekerjaanku, bukan keajaiban. Jika aku tersenyum, itu karena hidup terasa lebih mudah dijalani dengan senyum, bukan karena aku punya rahasia kebahagiaan.


Kadang aku berpikir, mungkin itulah yang membuatku tenang. Aku tidak perlu menjadi istimewa. Aku hanya perlu hadir. Datang tepat waktu. Melakukan bagianku dengan sebaik yang aku bisa, lalu memberi ruang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Jujur saja, aku bosan dengan dunia yang begitu-begitu saja. Dunia nyata terasa seperti lingkaran yang berputar di tempat: bangun, bekerja, makan, tidur, lalu mengulanginya dengan wajah yang sedikit lebih lelah. Rutinitas ini kadang terasa gila—seolah waktu bergerak, tapi aku tidak benar-benar ikut berjalan.


Ada hari-hari ketika aku berdiri di depan cermin, mengenakan seragam pemadam kebakaran, dan bertanya dalam hati: ini saja? Bukan karena aku membenci pekerjaanku. Tidak. Aku justru melakukan semuanya dengan benar, sesuai aturan, sesuai jadwal. Terlalu sesuai.


Kadang aku merasa bersalah karena satu hal: di tengah kebosanan itu, ada saat-saat tertentu ketika dadaku justru terasa hidup. Saat sirene meraung. Saat panas api menjilat udara. Saat tubuhku dipaksa fokus penuh, tanpa ruang untuk pikiran kosong. Kadang—dan aku jarang mengakuinya—aku merasa bergairah saat memadamkan api. Bukan karena kehancurannya, tapi karena di sana tidak ada kepura-puraan. Api jujur. Ia berbahaya, ia nyata, dan ia menuntutku hadir sepenuhnya.


Di momen-momen itu, dunia berhenti menjadi abu-abu.


Namun setelah api padam, setelah selang digulung dan laporan ditulis, semuanya kembali seperti semula. Kota Bougenistria tetap ramah, orang-orang tetap tersenyum, dan aku kembali menjadi Constantine yang sama—orang biasa dengan langkah yang terukur. Seolah-olah hidup memberiku cuplikan singkat tentang sesuatu yang lebih besar, lalu menariknya kembali dengan halus, tanpa penjelasan.


Aku sering bertanya-tanya, kapankah hidupku yang sebenarnya akan dimulai. Apakah nanti, di usia tertentu? Atau saat sesuatu yang besar terjadi? Atau mungkin hidup ini sudah dimulai sejak lama, dan aku hanya terlalu sibuk menunggu versi lain darinya versi yang lebih dramatis, lebih bermakna, lebih nyata menurut bayanganku sendiri.


Aku tidak tahu jawabannya. Yang aku tahu, setiap pagi aku tetap bangun, mengenakan seragamku, dan melangkah keluar dengan harapan kecil yang keras kepala: mungkin hari ini ada sesuatu yang berbeda. Mungkin hari ini bukan sekadar pengulangan. Mungkin hari ini, tanpa aku sadari, hidup itu benar-benar dimulai—pelan-pelan, seperti bara kecil yang belum sempat menjadi api.

Aku Constantine. Orang biasa, di negara kecil yang tenang. Tidak lebih, tidak kurang. Dan jujur saja, itu sudah cukup.

XXX

Aku tidak pernah benar-benar sendirian di kantor pemadam kebakaran, tapi entah kenapa aku selalu merasa seperti berdiri sedikit di luar lingkaran. Semua orang tahu namaku—Constantine, ambil selang itu, Constantine, cek tekanan air—namaku disebut dengan lancar, tanpa ragu. Tapi berhenti di situ saja. Tidak ada yang benar-benar mengenalku lebih jauh dari fungsi dan jadwal tugasku.


Aku sudah berusaha. Aku selalu berusaha.


Aku ramah, tertawa di waktu yang tepat, menimpali obrolan meski kadang terlambat setengah detik. Aku ingat ulang tahun mereka, nama anak-anak mereka, bahkan kebiasaan kopi masing-masing. Tapi anehnya, semua itu seperti memantul kembali padaku. Aku ada, tapi tidak pernah benar-benar *hadir* bagi mereka.


Hari itu kami piknik kecil-kecilan setelah tugas pagi. Tidak resmi, hanya duduk di rerumputan dekat area bekas kebakaran tadi pagi. Mereka membawa sayap ayam, jagung bakar, marshmallow. Asap tipis dari panggangan bercampur tawa mereka yang lepas, akrab, seolah sudah saling terhubung sejak lama.


Aku berdiri sebentar, lalu mendekat.


“Aku bisa bawa popcorn,” kataku, sedikit lebih keras dari yang biasa kulakukan. “Aku lihat ada yang jual jagung kering di jalan tadi.”


Tidak ada yang menoleh.


Mereka terus mengobrol—tentang lelucon lama, tentang pertandingan akhir pekan, tentang sesuatu yang aku tidak tahu awalnya dari mana. Aku tersenyum canggung, menunggu celah untuk masuk lagi. Tidak ada. Seakan-akan suaraku hanya bagian dari suara angin.


Aku teringat buku panduan tipis yang pernah kubaca, entah kenapa aku membelinya, buku panduan tentang membangun relasi kerja. Di salah satu halaman tertulis: “Mulailah hari dengan mencoba akrab bersama rekan-rekanmu. Koneksi kecil membangun kepercayaan besar.”

Aku menatap mereka, lalu diriku sendiri, dan bertanya dalam hati: aku harus mencoba berapa kali lagi?


Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang. Brosur makanan yang tadi kubawa—daftar belanja kecil yang kusiapkan agar bisa berguna terlepas dari tanganku. Kertas itu melayang, berputar, lalu terbawa ke arah bangunan di seberang lapangan.


Bangunan yang tadi pagi terbakar dan aku padamkam apinya.


Laboratorium tua berbentuk aneh, penuh sudut tajam dan jendela tinggi seperti mata kosong. Dulu fasilitas riset milik rezim diktator Bougenistria yang tumbang tiga puluh tahun lalu. Bertahun-tahun dilupakan, sampai tadi pagi terbakar entah karena apa. Kami sudah memadamkannya, tapi bangunan itu masih berdiri—hangus, diam, dan terasa tidak seharusnya ada di sana.


Aku berjalan mengejar brosur itu sendirian. Tidak ada yang memperhatikan aku pergi.


Saat itulah aku melihatnya.


Seorang gadis berdiri di dekat pintu runtuhan laboratorium. Pakaiannya tidak masuk akal untuk tempat itu—gaun panjang sederhana dengan warna pucat, seperti milik putri dongeng atau penyihir dari cerita masa kecil. Rambutnya tergerai, menangkap cahaya sore dengan cara yang membuatku berhenti melangkah.


Menurut SOP, aku seharusnya melaporkan siapa pun tanpa seragam proyek di area reruntuhan. Itu jelas. Tanganku bahkan refleks bergerak ke radio di pinggangku.


Tapi aku tidak melakukannya.


Aku tertegun. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena kehadirannya terasa… salah dan benar sekaligus. Seolah dia tidak seharusnya ada di sana, namun dunia juga tidak keberatan dia berada di situ.

Matanya berwarna biru tua, memantulkan cahaya bintang seperti pusaran air. Ia berdiri di antara lingkaran simbol sihir yang mengambang di udara, seolah melawan sesuatu yang tak bisa kulihat. Saat ia menoleh, ada rasa aneh di dadaku perasaan bahwa aku pernah mengenalnya.


Aku berdeham, mencoba terdengar ramah. “Hei—tidak apa-apa. Aku pemadam kebakaran. Tempat ini masih berbahaya.”


Dia menoleh. Matanya besar, tenang, tanpa rasa takut. Justru aku yang merasa jantungku berisik.


Aku melangkah mendekat, berniat memastikan dia aman, berniat entah kenapa membuatnya tidak takut. Tapi begitu aku mendekat beberapa langkah lagi, dia mundur, lalu berbalik masuk ke dalam reruntuhan.


“Tunggu!” panggilku.


Aku mengejarnya, melewati puing dan bayangan. Tapi di dalam sana hanya ada debu, dinding hangus, dan bau sisa asap. Tidak ada jejak langkah. Tidak ada kain tersangkut. Tidak ada apa pun.


Dia menghilang.


Aku berdiri sendirian di dalam laboratorium tua itu, dengan brosur makanan kusut di tanganku dan suara tawa rekan-rekanku yang samar terdengar dari kejauhan. Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa sesuatu bergerak di dadaku—bukan kebosanan, bukan juga kesepian.


Sesuatu seperti awal dari pertanyaan baru.


Mungkin aku memang selalu diabaikan. Mungkin aku orang biasa yang mudah terlupakan. Tapi barusandi antara api, reruntuhan, dan gadis yang tak seharusnya ada—aku merasa hidupku menyentuh sesuatu yang lain.


Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berpikir.

mungkin ini bukan kebetulan.

XXX

Aku terbangun dengan rasa dingin di pergelangan tangan.

Diikat.

Logam. Bukan borgol biasa—lebih halus, lebih rapat, seperti mencengkeram niatku untuk bergerak, bukan hanya tulangku. Kepalaku berdenyut. Ruangan ini… bukan lagi reruntuhan.

Aku tidak jatuh. Aku dipadamkan.

Kesadaranku kembali perlahan, seperti api kecil yang dipaksa menyala di ruangan kedap udara. Hal pertama yang kurasakan adalah dingin di pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Bukan dingin logam biasa, tapi dingin yang terasa seperti menggigit niat. Aku mencoba menggerakkan jari—tidak bisa. Bukan karena terikat kuat, tapi karena tubuhku seperti lupa bagaimana caranya bergerak.

Aku membuka mata.

Aku berada di sebuah ruangan steril dengan dinding putih keabu-abuan, tanpa sudut yang jelas. Lampu tidak menggantung di langit-langit, namun cahaya datang dari segala arah, rata dan kejam. Udara berbau ozon, seperti setelah sambaran petir, dicampur aroma logam panas.

Dindingnya bersih. Terlalu bersih. Lampu putih tanpa sumber yang jelas. Bau ozon dan sesuatu yang mengingatkanku pada hujan di atas kabel terbakar.

Empat orang berdiri di depanku.

Tiga laki-laki, satu perempuan.

Mereka tidak tampak seperti tentara, tapi juga bukan ilmuwan. Pakaian mereka seragam dalam ketidakteraturannya jaket gelap, bahan yang tidak kukenal, dengan garis tipis berpendar di beberapa sambungan. Tidak ada lencana. Tidak ada nama. Wajah mereka tenang, terlalu tenang, seperti orang-orang yang terbiasa melihat manusia sebagai variabel.

Tidak ada seragam, tapi mereka berpakaian serasi jaket gelap dengan garis tipis berpendar di kerah. Wajah mereka tenang, profesional, seperti orang-orang yang terbiasa memutuskan nasib tanpa emosi.

Salah satu dari mereka berbicara lebih dulu.

“Nama: Constantine. Profesi: pemadam kebakaran. Anomali kontak tingkat rendah, tapi signifikan.”

Aku mencoba bicara. Tenggorokanku kering.
“Aku… aku di mana?”

“Markas Time Patrol,” jawab perempuan itu datar. “Universe 616.”

Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku saat itu. Tapi cara dia mengucapkannya—seperti alamat, bukan konsep—membuat bulu kudukku berdiri.

Salah satu pria menekan sesuatu. Udara di sekitarku bergetar.
“Kamu melihat entitas non-terdaftar,” katanya. “Itu pelanggaran.”

“Gadis itu?” kataku refleks.

Keheningan singkat. Lalu—itu sudah cukup sebagai jawaban.

Angka itu terdengar absurd, tapi cara dia mengucapkannya—seperti alamat rumah—membuatku merinding.

Aku mencoba tertawa, tapi tenggorokanku kering.
“Aku cuma pemadam kebakaran. Aku lihat seorang gadis di bangunan terbakar. Itu saja.”

“Justru itu masalahnya,” kata perempuan itu. “Kamu tidak seharusnya melihatnya. Apalagi mengejarnya. Apalagi merasakan keterhubungan hingga masuk ke markas rahasia kami.”

Salah satu pria menggeser layar transparan di udara. Gambar-gambar muncul: laboratorium tua itu, garis waktu, grafik yang bergerak terlalu cepat untuk kupahami. Di salah satu sudut layar, ada siluet Guinevere.

“Entitas lintas-waktu,” kata pria lain. “Energi tidak stabil. Sudah lama bersembunyi di timeline ini.”

“Dan manusia seperti kamu,” lanjut perempuan itu, “adalah risiko.”

Aku akhirnya melihatnya.

Mereka menjelaskan tanpa benar-benar peduli aku mengerti:
tentang garis waktu, tentang observasi, tentang betapa berbahayanya jika manusia biasa menyadari bahwa sejarah bukan sesuatu yang tetap.

“Ada solusi paling bersih,” kata pria ketiga sambil menunjuk ke belakangku.

Aku menoleh sebisa mungkin.

Mesin.

Bukan besar. Justru terlalu sederhana. Cincin logam berdiri vertikal, di dalamnya udara tampak… kosong. Tidak gelap. Tidak terang. Tidak adaSebuah mesin berdiri diam—sederhana, hampir elegan. Dua pilar logam membentuk cincin vertikal, dan di tengahnya udara tampak kosong dengan cara yang salah. Bukan gelap. Bukan terang. Seperti ruang yang belum pernah diisi oleh keberadaan apa pun.

“Apa itu?” suaraku hampir berbisik.

“Penghapus eksistensi,” jawabnya tanpa emosi. “Solusi bersih. Tanpa paradoks.”

Aku menggeleng pelan.
“Kalian mau membunuhku?”

“Kami mau memastikan kamu tidak pernah ada,” katanya.

Mereka mulai mendekat.

Dan saat itulah—udara berubah.

“Melenyapkan objek dari eksistensi,” kata perempuan itu. “Tanpa paradoks. Tanpa jejak.”

Aku tertawa pendek lebih karena panik daripada berani.
“Karena aku lihat seorang gadis?”

“Karena kamu mulai bertanya,” jawabnya.

Mereka mulai menggerakkanku.

Dan saat itulah—udara berubah. Lampu berkedip, bukan karena rusak, tapi seolah ragu apakah mereka harus tetap ada. Bayangan bergerak ke arah yang tidak konsisten dengan sumber cahaya. Salah satu agen Time Patrol tersentak, seperti ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat.


Suara itu terdengar lagi.

Lembut. Tenang.

“Cukup.”

Dia berdiri di ujung ruangan.

Gadis penyihir itu.

Gaun pucatnya kini tampak kusam, seperti disulam dari cahaya yang hampir padam. Matanya masih tenang—tapi ada ketegangan di sana, seperti api kecil yang dipaksa menyala di tengah angin.

Pertempuran terjadi tanpa ledakan besar. Lebih seperti dunia yang menolak patuh.

Waktu melambat di satu sudut, melipat di sudut lain. Salah satu agen terhempas ke dinding tanpa disentuh. Yang lain menjerit saat perangkat di pergelangan tangannya meleleh seperti lilin.

Guinevere menarik ikatanku sampai terlepas. Tangannya dingin.

“Ayo,” katanya singkat.

Kami berlari.

Lorong demi lorong yang tidak seharusnya muat di dalam bangunan tua itu. Alarm tanpa suara. Cahaya merah yang tidak berkedip, tapi menyebar.

Di tikungan ketiga, Gadis penyihir itu tersandung.

Aku menangkapnya. Tubuhnya ringan—terlalu ringan.

“Aku kehabisan energi,” bisiknya. Wajahnya pucat. “Mereka… terlalu banyak.”

Langkah kaki mendekat.

Aku membuat keputusan tanpa berpikir.

“Arah keluar?” tanyaku.

Dia menunjuk—dan menghilang dari pelukanku sejenak, muncul beberapa meter di depan, terhuyung. Teleportasi terakhir, mungkin.

Kami menerobos pintu. Namun, di tengah pengejaran, gadis penyihir asing itu dan aku berpencar, dan karena gadis penyihir itu kehabisan energi dan tak bisa bertarung kita hampir terkepung. Untungnya, dengan mobil pemadam kebakaran yang masih ada di luar, aku berhasil menyelamatkan gadis itu dengan menabrakkan mobil tersebut ke para Time Patrol dan membawa gadis itu pergi.  

Udara malam menghantam wajahku.

Dan di sana seperti doa bodoh yang terkabul mobil pemadam kebakaran masih terparkir, kunci masih di tempatnya.

Aku menggendong Gadis penyihir itu dan, melemparkannya ke kursi penumpang, lalu menyalakan mesin.

Empat sosok Time Patrol muncul di ambang gerbang kompleks Lab.

Aku tidak mengerem.

Tabrakan itu keras. Logam berteriak. Dunia berguncang.

Aku tidak melihat apakah mereka mati. Aku tidak peduli.

Aku hanya menyetir.

Jauh.

Saat akhirnya aku berhenti, Gadis penyihir itu sudah duduk tegak. Wajahnya lebih stabil.

“Terima kasih,” katanya.

“Jangan bilang terima kasih,” kataku. “Jelaskan.”

Dia tersenyum kecil. Sedih.
“Belum waktunya.”

“Namamu?” desakku.

“Guinevere.”

Lalu, seperti asap yang memilih arah sendiri—dia memudar.

Menghilang.

Lagi.  Keesokan harinya, aku menerima surat peringatan dan pemotongan gaji karena merusak mobil pemadam kebakaran, ya siapa juga yang akan percaya dengan cerita fantastis tadi.

XXX

Tidak ada yang menyangka bahwa akhir abad ke-21, zaman yang disebut era stagnasi oleh sejarawan Futurian akan menjadi titik awal kehancuran hukum kosmik. Bangsa Futurian adalah peradaban dari masa depan alternatif universe kita.

Bangsa Futurian dalam waktu hanya sekitar satu abad berhasil mencapai tingkat peradaban Kardashev Tipe 5, mereka mampu mengeksploitasi energi di seluruh galaksi, di seluruh alam semesta, bahkan memanipulasi berbagai peristiwa di alam semesta lain. Karena teknologi mereka begitu maju para Magical Girl atau Mahou Shouju yang merupakan perwujudan kekuatan kosmik kuno selalu kesulitan bahkan seringkali hampir mustahil mengalahkan mereka. 

Alam semesta mengangap Time Patrol seperti sebuah anomali yang harus dihapuskan, alam semesta selalu mengirim para Mahou Shouju di seluruh alam semesta di berbagai zaman untuk menghentikan Time Patrol, namun para gadis suci yang memiliki kekuatan dewa dewi bahkan  tak dapat menghentikan keserakahan manusia.

Di semesta mereka, manusia nyaris punah.

Matahari-matahari tua mulai padam, sumber daya galaksi terkuras, dan teknologi hanya mampu menunda kepunahan, bukan mencegahnya. Perang tidak lagi terjadi antarnegara, melainkan antartimeline—konflik kecil yang tak sengaja tercipta dari eksperimen waktu ilegal.

Lalu, seseorang mengajukan pertanyaan terlarang:

“Bagaimana jika waktu tidak harus dipatuhi?”

Pertanyaan itu tidak dijawab oleh dewa.
Tidak pula oleh alam semesta.

Ia dijawab oleh manusia.

Dalam seratus tahun hanya satu abad singkat umat manusia melampaui semua hukum yang pernah mengikat mereka. Mereka memeras energi galaksi seperti baterai. Mereka menambang lubang hitam. Mereka membuka alam semesta lain dan menyedot sisa panas kematiannya.

Dan ketika hukum kosmik mencoba menghentikan mereka, manusia… menulis ulang hukum itu.

Mereka menyebut diri mereka Futurian. Futurian memiliki Unit Khusus yang menangani Time Patrol di Triliunan alam semesta dan triliunan galaksi. Markas Time Patrol tidak berada di satu tempat.

 

Ia ada di antara detik ke nol dan detik yang tidak pernah terjadi—sebuah benteng kronal yang menggantung di luar arus waktu. Dari luar, ia tampak seperti pecahan galaksi yang dibekukan. Dari dalam, ia sunyi, bersih, dan dingin seperti ruang operasi realitas.

Officer John Smith, Pemimpin  Time Patrol di universe 616 berdiri menghadap jendela temporal.

Di hadapannya, ribuan timeline mengalir seperti benang cahaya sebagian stabil, sebagian retak, sebagian sudah mati.

“Timeline ke-771 runtuh,” lapor suara datar di belakangnya.

John tidak menoleh.
“Penyebab?”

“Intervensi Magical Girl kelas Paradox. Era feodal Jepang. Takdir seharusnya menghasilkan perang lokal. Dia menghentikannya.”

John menghela napas pelan.
“Berapa persen dampaknya terhadap masa depan Futurian?”

“Enam koma dua persen penurunan ekspansi multisemesta.”

“Cukup besar.”

John akhirnya berbalik. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi, seperti seseorang yang sudah melihat akhir dunia terlalu sering.

“Panggil Time Patrol. Kita turun tangan.”

 Ruang briefing berbentuk lingkaran. Di tengahnya, sebuah bola cahaya berdenyut—model waktu hidup yang terus berubah.

Sydney sudah ada di sana, dikelilingi hologram rumus dan peta realitas. Rambutnya acak-acakan, matanya berbinar seperti seseorang yang baru saja menemukan rahasia semesta.

“Magical Girl ini menarik,” katanya cepat. “Dia bukan sekadar penjaga. Dia terikat langsung dengan hukum keseimbangan kosmik. Menghapusnya akan—”

“—menyebabkan gelombang balik?” potong John.

“Tidak,” Sydney tersenyum tipis. “Menyebabkan pembebasan.”

Di sudut ruangan, Ingrid berdiri diam. Tubuhnya ramping, logam hitam dan putih menyatu dengan sisa daging manusia. Matanya menyala biru redup.

“Aku siap,” katanya singkat. Tidak ada emosi di suaranya, tapi ada sesuatu yang tertahan—seperti gema manusia yang belum sepenuhnya mati.

Pintu terbuka.

“Uh… aku datang tepat waktu, kan?”

Wornwood masuk sambil tersenyum canggung. Tubuhnya besar, bahunya lebar, wajahnya ramah—tidak ada yang menyangka bahwa dia bisa merobek struktur realitas dengan tangan kosong.

John menatap mereka satu per satu.

“Kita tidak sedang menyelamatkan dunia,” katanya.
“Kita sedang menyelamatkan masa depan kita sendiri. Jika itu berarti melawan dewi kecil penjaga takdir—maka biarlah.”

Wornwood mengangkat tangan ragu-ragu.
“Pak… kalau takdir itu penting buat semesta, kenapa kita selalu mengacaukan—”

John memotongnya dengan tatapan tajam.

“Karena semesta tidak peduli apakah manusia bertahan hidup atau tidak.”

Hening.

“Dan kita peduli.”

Mereka tiba di era target—langit merah senja, pedang beradu, jeritan perang.

Di atas reruntuhan kuil tua, seorang gadis berdiri.

Rambutnya panjang, pakaian tempurnya bercahaya dengan simbol kosmik kuno. Di tangannya, tongkat sihir berdenyut dengan energi takdir.

Ia menoleh.

“Aku tahu kalian akan datang,” katanya lembut. “Kalian selalu datang.”

Sydney mendesah.
“Lihat? Dramatis. Semua Magical Girl begitu.”

Gadis itu menatap John.
“Kalian melanggar hukum semesta. Setiap perubahan kalian menciptakan penderitaan lain.”

John melangkah maju.
“Dan setiap takdir yang kau jaga mengorbankan jutaan nyawa di masa depan.”

Ingrid mengangkat senjatanya.
Wornwood menurunkannya perlahan.

“Tunggu,” katanya pelan. “Apa tidak ada cara lain?”

Gadis itu tersenyum sedih pada Wornwood.
“Siapapun yang mencoba elawan takdir, akan mendapatkan ganjaran.”

Detik berikutnya, langit retak.

Pertempuran tak terelakkan energi waktu melawan sihir kosmik, kehendak manusia melawan takdir itu sendiri.

Saat semuanya berakhir, timeline itu stabil, dipaksa stabil.

Magical Girl itu menghilang, bukan mati, tapi dihapus dari kemungkinan.

Markas Time Patrol kembali sunyi.

Wornwood duduk sendiri, menatap tangannya.

“Kita menang,” katanya lirih. “Tapi kenapa rasanya seperti kalah?”

Ingrid si gadis Cyborg berdiri di belakangnya.
“Karena mungkin… kita memang sedang melawan sesuatu yang lebih besar dari kita.”

Di kejauhan, John Smith menatap arus waktu yang terus mengalir.

Ia tahu satu hal dengan pasti:

Perang ini belum berakhir.
Dan suatu hari, takdir akan melawan balik.

XXX

Mereka bilang aku ditemukan di depan panti asuhan pada malam hujan, terbungkus kain lusuh dan membawa kalung kecil bertuliskan satu kata: “Constantine.” Aku tidak pernah tahu siapa orang tua kandungku.

Itu satu-satunya hal yang kumiliki dari masa lalu. Tak ada catatan lahir, tak ada asal-usul. Hanya nama itu.

Hidup di panti asuhan membuat waktu terasa datar, seperti hari-hari yang menolak berubah. Tapi aku selalu merasa... ada sesuatu yang menungguku di luar.

Aku tumbuh tanpa banyak kenangan, tanpa masa lalu untuk dirindukan.

Kadang, aku bermimpi tentang  seorang gadis yang menatapku di bawah cahaya matahari sore, rambutnya panjang, suaranya lembut.

Dia memanggilku adik kecil.

Tapi setiap kali aku mencoba mengingat wajahnya, cahaya itu menelan semuanya.

Dan setiap kali aku mencoba mendekat, dunia di sekeliling kami hancur menjadi serpihan cahaya.


Beberapa tahun kemudian, Suatu hari, pasangan suami-istri datang ke panti.

Mereka tampak tenang dan kaya, tapi wajah mereka suram, seperti orang yang baru kehilangan sesuatu.

Aku tak tahu kenapa, tapi ketika mata Ibu itu bertemu mataku, dia langsung menangis.

Ayahnya hanya berdiri diam, menatapku lama, seolah mengenal wajahku.


Aku tersenyum kikuk. Tapi di dalam hatiku, aku merasa... aneh.

Karena aku yakin, aku pernah mendengar suara itu sebelumnya.

Suaranya sama seperti gadis dalam mimpiku.


Hari itu aku benar-benar merasa hidupku dimulai. 

Mereka membawaku ke rumah besar di pinggiran kota, rumah dengan taman bunga lavender dan jendela tinggi yang membiarkan matahari masuk seperti sungai cahaya.

Rumah mereka besar dan tenang, dipenuhi cahaya matahari yang menembus kaca jernih.

Ibu memelukku erat malam itu, lalu berkata pelan,


 “Mulai sekarang, kau bagian dari keluarga ini, Constantine.”


Ibu gemar menanam bunga, Ayah sibuk di ruang kerjanya, dan aku hanya anak kecil yang masih canggung memanggil mereka “Ayah” dan “Ibu.”

Tapi ada sesuatu yang aneh sejak pertama kali aku melangkah ke ruang tamu.


Di rak foto keluarga, ada satu bingkai kosong.

Bingkai itu berdebu, tapi di kacanya masih ada bekas jari — seolah seseorang pernah sering mengelapnya.

Di ujung lantai dua, ada sebuah kamar dengan pintu yang selalu terkunci.

Aku sempat bertanya,


“Kamar siapa itu, Bu?”

Tapi Ibu diam lama, lalu menjawab tanpa menatapku:

“Tidak ada siapa-siapa di sana.”


---


Suatu sore, aku membantu Ibu membersihkan gudang.

Di antara tumpukan buku lama, aku menemukan foto keluarga.

Ada Ayah, Ibu, dan... seorang gadis berambut panjang, tersenyum di tengah mereka.

Di bawah foto itu tertulis:


“Keluarga Asteria — Ayah, Ibu, dan Catrina.”

Aku tahu bahwa dia anak kandung mereka, kakakku yang dulu sering datang ke panti membawa kue, yang tersenyum dan berkata,

 “Aku ingin punya adik laki-laki, supaya rumah ini tidak sepi lagi.”

Dialah yang memilihku.
Dialah yang membujuk Ayah dan Ibu agar mengadopsiku.
Dialah alasan aku berada di rumah ini.

Tapi kini, dia seperti tak pernah ada.
Nama Catrina tak muncul di dokumen, tak ada catatan lahir, tak ada makam, bahkan potret dirinya seolah terhapus dari semua foto.
Semua orang — bahkan Ayah dan Ibu — benar-benar melupakannya.

---

Malam-malamku berubah gelisah.
Aku sering mendengar musik piano di rumah, padahal tak ada yang bisa bermain.
Langkah kaki di koridor, bayangan rambut panjang di jendela, dan aroma lavender yang datang tanpa sebab.
Sampai suatu malam, aku menemukan kamar yang selalu terkunci itu... terbuka.

Udara di dalamnya dingin dan berat.
Dindingnya dipenuhi coretan tangan kecil, seperti mantra yang tergores di atas debu.
Di meja, ada buku harian berdebu — dengan tulisan yang samar namun masih bisa kubaca.

“Jika dunia menolak mengingatku, biarlah aku lenyap... asalkan Constantine tetap hidup.”
Catrina.


---


Suatu malam, aku mendengar suara dari kamar atas.

Suara musik — lembut, seperti seseorang sedang memainkan piano.

Aku berjalan pelan menaiki tangga, mengikuti melodi itu, tapi ketika sampai di depan pintu, suara itu berhenti.


Kamar itu terkunci.

Ibu bilang itu kamar yang sudah lama tidak dipakai.

Tapi anehnya, setiap kali aku lewat, aku merasa ada seseorang di dalam — mengintip dari balik tirai.

Dan setiap kali aku menyebut soal itu, wajah Ibu langsung berubah.


 “Constantine,” katanya pelan, “di rumah ini cuma ada kita bertiga. Jangan menakut-nakuti Ibu, ya?”


---


Suatu sore, aku sedang membantu Ibu membersihkan lemari lama di ruang bawah tanah.

Di antara tumpukan buku dan mainan tua, aku menemukan foto keluarga.

Ada Ayah, Ibu, dan seorang gadis — kira-kira tujuh belas tahun.

Dia tersenyum, berdiri di tengah mereka, dan anehnya, wajahnya sama persis dengan gadis dari mimpiku.


Aku menunjukkannya ke Ibu.

Dia menatap foto itu lama sekali, lalu tiba-tiba tersenyum kaku dan merenggutnya dari tanganku.


“Kamu salah lihat. Foto ini rusak. Tak ada siapa-siapa di situ.”


Malamnya, foto itu hilang.


---


Tapi sejak hari itu, semuanya berubah.

Aku sering mendengar langkah kaki di koridor, suara bisikan di tengah malam, bahkan semerbak wangi lavender setiap kali aku sendirian.

Suatu malam, aku bermimpi gadis itu datang padaku.

Dia duduk di tepi ranjangku dan berkata lembut:


 “Kau adikku… jangan dengarkan mereka.”


Aku terbangun dengan air mata mengalir di pipi.

Dan di meja belajarku — entah bagaimana — terletak seikat bunga lavender segar.


---


Hari berikutnya, aku memberanikan diri bertanya pada Ayah.


“Ayah, dulu aku punya kakak, ya?”


Wajahnya kaku.


“Tidak, Constantine. Kami tidak pernah punya anak perempuan, kami tak punya anak kandung.”


“Tapi aku menemukan fotonya—”


“Tak ada siapa siap di foto itu” potongnya cepat.


Aku bisa merasakan ketakutan di suaranya.

Bukan kemarahan — tapi benar-benar ketakutan.

Seolah ada sesuatu yang tak boleh disebut.


---


Malam itu, aku kembali ke kamar atas.

Pintu yang selalu terkunci kini terbuka.

Di dalamnya, debu menutupi segalanya — tapi di dinding tergantung lukisan matahari.

Aneh sekali: matahari itu punya wajah, seperti bayi yang sedang menangis.

Dan di bawah lukisan itu, tergeletak boneka tua berbentuk kelinci, dengan pita biru di lehernya.


Ketika aku menyentuh boneka itu, udara di ruangan berubah dingin.

Bayangan gadis itu muncul di cermin, memandangku dengan mata basah.


“Constantine… aku Catrina. Aku bukan ilusi. Aku hanya… terlupakan.”


Lalu semuanya runtuh — cermin pecah, dinding bergetar, dan suara jeritan menyerupai nyanyian matahari menggema di kepalaku.

Sebelum pingsan, aku sempat mendengar satu kalimat terakhir dari bibirnya:


“Mereka membuatku menjadi dewi agar dunia tetap hidup. Tapi sekarang waktu mulai patah, Constantine. Dan kau… bukan manusia biasa.”


---


Ketika aku terbangun, rumah itu sudah gelap.

Langit di luar berdenyut seperti jantung.

Dan di dadaku, kalung logam yang dulu pudar kini bersinar samar, menulis kata baru yang belum pernah kulihat:


 “Anak Sang Waktu.”


XXX


 Aku masih ingat malam itu—angin berhenti berembus, bintang-bintang seperti bergetar di langit, dan udara di sekelilingku terasa seperti kaca yang akan pecah kapan saja. Sejak beberapa minggu terakhir, dunia mulai menunjukkan tanda-tanda yang tak bisa dijelaskan: air mengalir ke atas, bayangan menolak mengikuti tubuh, dan waktu… terkadang berhenti sesaat sebelum melanjutkan seperti tak terjadi apa-apa.

Aku tahu itu bukan kebetulan. Aku tahu itu adalah gejala awal Fantasia—sebuah distorsi realitas yang menurut naskah kuno baru akan terjadi tiga abad lagi, ketika Dewa Matahari bangun dari tidur kosmiknya. Tapi sesuatu membuatnya datang lebih cepat.

Suatu malam, di reruntuhan observatorium tua di tepi kota, aku bertemu dengannya.


 “Kau juga mengingat Catrina , bukan?” katanya pelan, tanpa menunggu sapaan.
“Aku Guinevere. Temannya. Satu-satunya yang tersisa.”

Aku nyaris tak bisa bernapas. Nama itu—Catrina—tak seorang pun pernah menyebutnya selain aku. Dunia seolah telah melupakan keberadaannya, bahkan orang tuaku sendiri tak ingat pernah memiliki anak perempuan. Tapi gadis ini… gadis ini tahu.

 “Tunggu dulu, kau gadis yang waktu itu masuk ke reruntuhan bangunan itu tanpa izin? Itu sangat berbahaya! Kau seharusnya bersyukur aku tidak melaporkanmu ke pihak berwenang karena memasuki properti orang lain tanpa seragam resmi,” aku menghardiknya, meski rasa penasaranku terhadap dirinya semakin besar.

“Maaf jika aku mengganggu pekerjaanmu, Tuan, tetapi aku melakukan semua ini demi kelangsungan alam semesta, demi menyelamatkan semua orang, dan tidak seharusnya manusia biasa sepertimu mengetahui identitasku sebagai penyihir.” Guinevere mengejek dengan nada sarkastik.

“Tapi ya, seingatku kau berutang nyawa padaku, jadi kita impas. Lagipula, jangan panggil aku gadis—aku sepuluh tahun lebih tua darimu.” Gadis itu tersenyum jahil, menggoda.

“Namun, kau juga telah menyelamatkanku dari Time Patrol dengan mobil pemadam kebakaran itu. Aku sungguh tidak menyangka manusia bisa seberani itu—terlebih ketika penyihir yang agung dan luar biasa sepertiku justru harus diselamatkan oleh manusia biasa yang bahkan tak mampu menggunakan sihir,” ujar Guinevere dengan nada congkak bercampur geli.

“Siapa yang kau sebut rendahan? Sudahlah, jelaskan apa yang kamu tahu tentang Catrina!”


Guinevere menjelaskan bahwa Catrina bukan hanya seorang penyihir, tapi penyeimbang dunia, gadis yang ditakdirkan untuk menjadi tumbal demi perdamaian, berubah menjadi Dewi Harmonia. Namun sahabatnya, seorang penyihir lain yang tak sanggup kehilangan Catrina , telah berulang kali mengulang waktu untuk mencegah kematiannya. Pengulangan itu merusak tatanan realitas dan menciptakan retakan—asal mula Fantasia.

Sekarang, retakan itu mulai menyebar kembali.
Dari celah-celah waktu yang tidak stabil, muncul makhluk-makhluk abstrak: bayangan tanpa wujud, suara tanpa sumber, dan entitas yang hanya bisa dilihat di sudut mata. Mereka berjalan di antara manusia, meniru wajah, meniru suara, tapi kosong di dalamnya.

Manusia menganggap itu halusinasi, gangguan listrik, atau fenomena alam yang belum dipahami.
Tapi aku dan Guinevere tahu lebih baik—mereka adalah pion Dewa Matahari, gema dari masa depan yang terpantul ke masa kini.

Kami berdua membentuk lingkaran rahasia. Mempelajari sihir waktu yang pernah digunakan sahabat Catrina, mencoba menutup celah realitas satu demi satu. Kami berpindah dari satu tempat ke tempat lain—menyegel kota yang mulai diselimuti kabut bercahaya, memusnahkan bayangan yang muncul di mata manusia saat mereka bermimpi.

Setiap malam kami menulis ulang mantra baru, setiap fajar kami melihat dunia sedikit lebih rusak dari sebelumnya. Tapi kami tak berhenti.

Karena jika kami gagal—Fantasia akan tiba lebih cepat, dan Dewa Matahari akan bangun, membakar dunia ini bahkan sebelum umat manusia sempat menyadari bahwa mereka hidup di atas ilusi yang retak.

Dan di lubuk hatiku, aku tahu: menyelamatkan Catrina mungkin satu-satunya cara untuk menyelamatkan segalanya.

 Aku kira aku sudah belajar hidup dengan rasa diawasi.

Setelah insiden itu, hari-hariku kembali terlihat normal di permukaan: bangun pagi, laporan ringan, tugas-tugas kecil yang tidak melibatkan api besar. Rekan-rekanku bercanda soal potongan gajiku, soal mobil pemadam yang “tewas secara heroik”. Aku ikut tertawa, karena tertawa lebih aman daripada menjelaskan sesuatu yang bahkan aku sendiri belum paham.

Tapi ada malam-malam tertentu ketika udara terasa terlalu diam.

Dan pada suatu malam seperti itu, Guinevere kembali.

Tidak dengan kilatan cahaya atau distorsi waktu. Ia muncul begitu saja di dapur apartemenku, berdiri di antara meja dan jendela, seolah ia memang selalu ada di sana.

Aku menjatuhkan gelas.

“Maaf,” katanya cepat. “Aku belum bisa mengontrol kemunculan sepenuhnya.”

Aku menatapnya lama, memastikan dia nyata. Rambutnya lebih pendek dari terakhir kali kulihat. Wajahnya tampak lebih lelah.

“Kau hampir membuatku kena serangan jantung,” kataku.

“Itu berarti jantungmu masih bekerja,” jawabnya, lalu tersenyum tipis.

Dia tidak berlama-lama.

“Kau harus ikut aku,” katanya. “Sekarang.”

Aku seharusnya menolak. Aku seharusnya bertanya. Tapi bagian diriku yang sudah melihat mesin penghapus eksistensi tahu satu hal: jika Guinevere datang sendiri, berarti sesuatu telah bergerak.

“Kemana?” tanyaku sambil meraih jaket.

“Bertemu dengan dua orang lain sepertiku,” jawabnya. “Dua penyihir terakhir di Universe 616.”

Kami tidak naik kendaraan. Guinevere menggenggam pergelangan tanganku—dingin, tapi familiar—dan dunia seperti dilipat.

Aku tidak pusing. Tidak jatuh. Aku hanya… berpindah.

Kami berdiri di sebuah bangunan tua di pinggiran kota, jauh dari pusat, jauh dari kamera. Dari luar tampak seperti gereja terbengkalai. Dari dalam, udara terasa tebal, penuh gema yang tidak berasal dari suara.

Dua perempuan menungguku di sana.

Yang pertama duduk di atas bangku kayu, kaki disilangkan, mengenakan mantel panjang berwarna gelap. Rambutnya pirang pucat, dipotong rapi. Wajahnya tajam, tatapannya seperti pisau yang sudah lama diasah.

“Jadi ini manusia yang lolos,” katanya tanpa basa-basi. “Kelihatannya… rapuh.”

“Itu Antoinette,” kata Guinevere pelan. “Jangan tersinggung.”

“Aku tersinggung,” jawabku jujur.

Antoinette mendengus kecil.

Yang kedua berdiri di dekat jendela pecah, siluetnya diterangi cahaya bulan. Kulitnya gelap keemasan, rambut hitam panjang dikepang rumit, matanya tenang—bukan dingin, tapi dalam. Ia mengenakan pakaian sederhana, tapi ada sesuatu tentang caranya berdiri yang membuat ruangan terasa lebih stabil.

“Namaku Cleopatra,” katanya. Suaranya rendah, berlapis, seperti gema yang tahu ke mana harus berhenti. “Terima kasih sudah datang.”

“Aku tidak benar-benar diberi pilihan,” kataku.

Cleopatra tersenyum tipis.
“Tidak. Tapi kau tetap datang.”

Kami duduk membentuk lingkaran. Guinevere tampak paling gelisah di antara mereka bertiga.

Antoinette yang memulai penjelasan.

“Time Patrol bukan penjaga waktu,” katanya. “Mereka penjaga versi waktu yang mereka anggap efisien.”

Cleopatra melanjutkan, “Dan Universe 616 adalah titik anomali. Terlalu banyak kemungkinan. Terlalu banyak manusia yang—tanpa sadar—bisa memengaruhi alur besar.”

Aku terdiam.

“Jadi kalian…?” tanyaku.

“Kami penyeimbang,” jawab Guinevere. “Kami penyihir bukan karena mantra atau tongkat. Tapi karena kami bisa mengikat kemungkinan. Menjaga agar waktu tidak dipangkas hanya karena dianggap tidak rapi.”

Antoinette bersandar.
“Dulu kami banyak. Sekarang tinggal bertiga.”

Aku menatap mereka satu per satu.
“Dan aku di sini karena…?”

Karena kau sudah dilihat,” kata Antoinette dingin. “Time Patrol tidak melupakan variabel.”

Cleopatra menatapku lebih lembut.
“Tapi kau juga alasan kami masih bertahan.”

Aku mengernyit.
“Aku pemadam kebakaran. Aku tidak punya sihir.”

“Justru itu,” kata Guinevere. “Kau tidak berada di luar waktu. Kau di dalamnya. Dan kau memilih.”

Aku teringat momen itu—radio di pinggangku, SOP yang kuabaikan, langkahku mengejar brosur, lalu dia.

“Kami melindungi Bumi dari intervensi langsung,” lanjut Cleopatra. “Tapi kami tidak bisa berada di semua tempat. Time Patrol mulai menggunakan manusia sebagai pintu masuk. Tanpa mereka sadar.”

Antoinette menatapku tajam.
“Dan kau, Constantine, adalah manusia pertama yang melihat kami… dan tidak dihancurkan.”

Keheningan turun.

“Apa yang kalian minta dariku?” tanyaku akhirnya.

Guinevere menatapku lama.
“Tidak sekarang. Belum.”

Cleopatra berdiri.
“Untuk saat ini, cukup hidup. Tetap seperti biasa. Tapi dengarkan nalurimu.”

Antoinette tersenyum miring.
“Dan jika suatu hari waktu terasa terlalu sempit… itu berarti kami gagal.”

Guinevere menggenggam tanganku lagi.

“Kau tidak sendirian,” katanya pelan. “Tapi kau juga tidak sepenuhnya aman.”

Dunia kembali melipat.

Aku berdiri lagi di apartemenku, sendirian, dengan jam dinding berdetak terlalu keras.

Sejak malam itu, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.

Jam yang berhenti satu detik terlalu lama.
Orang-orang yang mengulang kalimat yang sama.
Bayangan yang terlambat mengikuti tubuhnya.

Dan aku tahu—di suatu tempat, tiga penyihir masih berdiri di antara Bumi dan mereka yang ingin merapikan keberadaan.

Dan entah bagaimana—

aku kini bagian dari pertahanan itu.

Bukan sebagai pahlawan.

Tapi sebagai manusia yang menolak dihapus.

XXX

 Aku tahu sejak awal mereka tidak menganggapku setara.


Cara Antoinette memandangku seperti seseorang menilai benda cacat yang entah bagaimana lolos dari penyortiran terlalu jelas untuk disembunyikan. Cleopatra lebih sopan, tapi jarak di matanya sama dinginnya. Guinevere berdiri sedikit terpisah, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi dan memilih diam.


“Kau benar-benar membawanya ke sini?” Antoinette akhirnya berkata, suaranya mengandung tawa tipis yang tidak ramah. “Seorang pria biasa. Tanpa garis darah. Tanpa resonansi.”


Aku menghela napas pelan.

“Aku juga senang bertemu kalian.”


Antoinette bangkit dari bangku, berjalan mengelilingiku perlahan. Setiap langkahnya terasa seperti penilaian.


“Tulangmu rapuh,” katanya. “Waktumu linear. Jiwa tanpa jangkar kosmik. Kau bahkan tidak sadar betapa kecilnya eksistensimu dibandingkan apa yang kami lindungi.”


Cleopatra menimpali, suaranya lebih tenang tapi tidak lebih lembut.

“Kami berasal dari garis keturunan penyihir kuno. Sejak sebelum bahasa. Sejak sebelum bintang memiliki nama. Leluhur kami sudah menjaga keseimbangan ketika alam semesta masih panas dan liar setelah Dentuman Besar.”


Aku menatap lantai sesaat, lalu kembali ke mereka.

“Lalu kenapa aku di sini?”


Antoinette tersenyum miring.

“Itu pertanyaan yang sama.”


Guinevere akhirnya melangkah maju.

“Karena dia penting.”


Antoinette berhenti berjalan.

“Guinevere,” katanya tajam. “Kau membiarkan emosimu mengaburkan penilaian. Dia hanya manusia.”


“Dia adik Catrina.”


Kata itu jatuh seperti benda berat ke lantai batu.


Cleopatra membeku.


Antoinette berbalik perlahan, wajahnya berubah dari meremehkan menjadi… kosong. Bukan kaget biasa. Tapi seperti seseorang yang baru saja mendengar nama yang tidak seharusnya bisa diucapkan.


“Apa?” suara Antoinette nyaris berbisik.


Guinevere menatap mereka satu per satu.

“Constantine adalah adik Catrina.”


Ruangan menjadi sunyi dengan cara yang salah. Bahkan gema pun enggan muncul.


Aku mengernyit.

“Kalian… tahu nama itu?”


Cleopatra melangkah mundur satu langkah. Tangannya gemetar halus—hal yang sebelumnya kupikir mustahil darinya.


“Itu tidak mungkin,” katanya. “Tidak ada yang boleh mengingat Catrina.”


Antoinette menatapku sekarang, benar-benar menatapku, seolah mencoba melihat melalui aku.

“Kami menyaksikannya,” katanya pelan. “Kami bertiga… dan para penyihir agung lainnya.”


Guinevere mengangguk.

“Kami melihat Catrina naik.”


Aku merasakan dada sesak.

“Naik ke mana?”


“Ke eksistensi lebih tinggi,” jawab Cleopatra lirih. “Menjadi sesuatu yang bukan lagi makhluk waktu. Bukan lagi bagian dari narasi.”


Antoinette mengepalkan tangan.

“Dan saat itu terjadi, hukum penghapusan bekerja sempurna. Semua yang mampu mengingatnya… dilucuti ingatannya.”


Aku menggeleng pelan.

“Ibu Catrina sendiri?”


“Tidak mengingatnya,” potong Cleopatra cepat. “Bahkan meskipun ibu Catrina juga penyihir. Bahkan jika ia melahirkannya. Itu aturannya.”


Guinevere menatapku penuh arti.

“Kau satu-satunya yang tersisa.”


Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada mesin penghapus eksistensi.


“Aku… tidak ingat apa pun tentang dia,” kataku jujur.


“Itu justru masalahnya,” kata Antoinette, suaranya kini kehilangan nada menghina. “Kau seharusnya tidak ada dalam persamaan ini.”


Cleopatra mendekat. Tidak ada lagi jarak dingin.

“Keberadaanmu adalah anomali waktu,” katanya. “Bukan karena kau mengingat Catrina. Tapi karena kau masih ada setelah ia pergi.”


Aku teringat hal-hal kecil yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.

Foto keluarga yang terasa tidak lengkap.

Ruang kosong dalam kenangan masa kecil.

Rasa kehilangan tanpa objek.


“Apa artinya itu?” tanyaku.


Antoinette menarik napas panjang.

“Itu berarti ketika Catrina naik… sesuatu menolak untuk sepenuhnya patuh.”


Cleopatra menatap langit-langit gereja tua itu, seolah melihat sesuatu jauh di atas sana.

“Time Patrol akan mencium ini cepat atau lambat. Mereka memburu anomali. Dan kau… Constantine… adalah luka kecil dalam struktur waktu.”


Guinevere melangkah ke sampingku.

“Itulah sebabnya aku menyelamatkannya.”


Antoinette menatapku lagi—kali ini tanpa hinaan. Tanpa senyum.

“Kami salah,” katanya singkat. “Kau bukan pria biasa.”


Cleopatra mengangguk pelan.

“Kau adalah bukti bahwa bahkan hukum kosmik bisa gagal.”


Keheningan turun lagi. Tapi kali ini, berbeda. Lebih berat.


Aku akhirnya bertanya, dengan suara yang hampir tidak kukenal sebagai milikku sendiri:

“Kalau Catrina masih ada… di mana dia sekarang?”


Tidak ada yang langsung menjawab.


Guinevere menatapku dengan mata yang terlalu tahu.

“Di mana pun para dewa tidak bisa kembali… kecuali dipanggil oleh sesuatu yang seharusnya tidak ada.”


Antoinette dan Cleopatra saling berpandangan.


Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal mereka aku melihat ketakutan di wajah para penjaga alam semesta. 

XXX


 Cleopatra adalah jenis sosok yang membuat ruangan menyesuaikan diri dengannya, bukan sebaliknya.


Saat aku pertama kali benar-benar memperhatikannya—bukan sebagai penjaga kosmik, bukan sebagai penyihir kuno, tapi sebagai seorang perempuan yang berdiri di hadapanku—hal pertama yang terasa adalah kehadiran yang terstruktur. Tidak liar seperti Guinevere, tidak tajam seperti Antoinette. Cleopatra seperti bangunan tua yang masih tegak karena setiap batu tahu tempatnya.


Ia mengenakan gaun merah marun, warnanya dalam dan berat, seperti anggur tua atau darah yang telah lama mengering menjadi sejarah. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan ketegasan anggun, dan di bagian dada atas terdapat bukaan khusus—bukan sembarang potongan kain, melainkan ruang yang disengaja, hampir sakral.


Di sanalah permata jiwanya berada.


Sebuah batu bercahaya lembut, tertanam di dada bagian atasnya, tepat di atas jantung. Cahayanya tidak menyilaukan, tapi stabil—seperti denyut yang tidak pernah salah irama. Permata itu terasa bukan sebagai perhiasan, melainkan sebagai pusat gravitasi; mataku tertarik padanya meski aku berusaha sopan untuk tidak menatap terlalu lama.


Gaunnya memiliki kerah mandarin yang berdiri rapi, terpasang sempurna di lehernya, diberi aksen putih bersih yang kontras dengan merah marun. Garis putih itu tidak dekoratif semata—ia terasa seperti batas, penanda disiplin yang membingkai kekuatan di baliknya.


Bagian bawah gaun tidak jatuh bebas. Pinggirannya ditutupi rumbai putih tebal, cukup padat untuk menutupi bukaan gaun dan menjuntai hingga ke belakang, menciptakan kesan lapisan perlindungan tambahan—seolah gaun itu bukan hanya pakaian, tapi segel.


Lengannya tertutup lengan baju putih yang pas di bisep, berhenti dengan tegas sebelum bahu. Di pergelangan tangannya, manset berkancing hitam terpasang rapi, sederhana namun memberi kesan kendali penuh. Tidak ada perhiasan tambahan. Cleopatra tidak membutuhkan itu.


Di bawah lapisan atas, aku sempat melihat rok lipit berwarna mauve, lembut namun teratur, bergerak mengikuti langkahnya dengan presisi. Di atasnya, korset hitam membungkus pinggangnya, dihiasi detail putih tipis yang menyelaraskan keseluruhan tampilan—garis-garis kecil yang mengulang motif kendali dan keseimbangan.


Kakinya dilindungi sepatu bot merah tinggi, warnanya senada dengan gaun, dengan manset putih di bagian atas. Tepat di bawah manset itu terdapat simbol putih—bentuknya serasi dengan bukaan di dadanya, seolah seluruh pakaiannya disusun mengikuti satu bahasa simbol yang sama. Di balik sepatu bot itu, ia mengenakan kaus kaki hitam setinggi paha, menciptakan kontras yang membuat langkahnya tampak tegas dan tak tergoyahkan.


 Aku baru memahami Cleopatra jauh setelah aku mengenalnya sebagai penjaga semesta.


Jauh sebelum gaun merah marun, sebelum permata jiwa yang berdenyut tenang di dadanya, sebelum namanya diucapkan dengan hormat oleh entitas yang hidup lebih lama dari bintang—Cleopatra hanyalah seorang anak perempuan yang tumbuh di rumah yang penuh teriakan.


Ayahnya seorang pendeta.


Bukan pendeta kecil yang setengah percaya pada doanya sendiri, tapi pria yang hidup dari keyakinan, yang napas dan nadinya diikat oleh kitab suci dan rasa benar yang tak pernah ia pertanyakan. Ibunya, di sisi lain, adalah perempuan pendiam dengan mata yang terlalu dalam untuk seorang manusia biasa—pembawa garis darah penyihir kuno yang telah bersembunyi di balik kehidupan sederhana selama generasi.


Rahasia itu terbongkar bukan karena ritual, bukan karena api atau cahaya aneh, melainkan karena ketakutan.


Ayah Cleopatra melihat sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Luka yang sembuh terlalu cepat. Benda yang bergerak tanpa sentuhan. Doa yang tidak bekerja sebagaimana mestinya. Dan ketika ia akhirnya tahu kebenarannya, ia tidak mencari pemahaman—ia memilih vonis.


Ia menyebut ibunya sesat.

Penyembah iblis.

Pengkhianat iman.


Cleopatra kecil tumbuh dengan duduk di sudut rumah, memeluk lututnya, mendengarkan dua dunia saling mencabik lewat suara orang tuanya. Tidak ada piring terbang, tidak ada perabot pecah—yang pecah adalah kepercayaan.


Ibunya mencoba bertahan.

Ayahnya mencoba “membersihkan”.


Pada malam sebelum perceraian itu benar-benar terjadi, pertengkaran mereka berubah sunyi. Terlalu sunyi untuk rumah yang biasanya penuh kemarahan. Cleopatra mengintip dari balik pintu kamar.


Ia melihat ibunya berdiri tegak, tidak menangis, tidak berteriak. Ayahnya berlutut, berdoa dengan suara gemetar—bukan doa yang penuh iman, tapi doa yang dipenuhi ketakutan.


Kutukan itu tidak terdengar seperti mantra.


Lebih seperti pernyataan.


Ibunya mengutuk ayahnya bukan dengan api atau kilat, melainkan dengan kehilangan—kehilangan arah, kehilangan rezeki, kehilangan makna. Lalu, di hadapan mata Cleopatra yang belum mengerti apa-apa, ibunya terbang pergi—meninggalkan planet itu seolah gravitasi tidak lagi berlaku baginya.


Ia tidak pernah kembali.


Cleopatra ditinggalkan bersama ayah yang kini memandangnya bukan sebagai anak, melainkan sebagai bukti dosa.


Setiap kali Cleopatra kecil menunjukkan tanda-tanda sihir—cahaya kecil di telapak tangan, benda yang bergetar saat emosinya tak terkendali—ayahnya membentak. Menghardik. Mengabaikan. Kadang menghukumnya dengan dingin yang lebih menyakitkan daripada pukulan.


“Kau seperti ibumu,” katanya dengan nada jijik.


Dan itu adalah hukuman terberat.


Kutukan itu bekerja perlahan.


Ayahnya bangkrut. Jemaat meninggalkannya. Reputasinya runtuh. Dari rumah yang dulu penuh suara doa, mereka pindah ke ruang sempit yang bau lembap dan putus asa. Hingga suatu pagi, ayahnya tidak bangun lagi.


Cleopatra tidak menangis.


Ia bahkan tidak yakin apakah ia boleh.


Ia putus sekolah. Tidak ada uang. Tidak ada keluarga. Tidak ada dunia yang menunggunya dengan tangan terbuka.


Ia bertahan hidup.


Dengan mencuri roti.

Dengan berjudi receh di gang-gang gelap.

Dengan ikut tarung ilegal di jalanan karena tinju tidak peduli siapa orang tuamu.


Cleopatra tumbuh menjadi gadis yang keras. Rambut dipotong pendek. Lutut penuh luka. Tangan kapalan. Ia belajar tinju dan gulat bukan sebagai olahraga, tapi sebagai bahasa bertahan hidup. Ia jatuh, bangkit, memukul, dikunci, lalu bangkit lagi.


Ia menjadi tomboi. Nakal. Keras kepala. Ditakuti sekaligus diremehkan.


Namun ia tidak pernah memukul yang lemah.

Tidak pernah mencuri dari anak-anak.

Dan selalu membagi makanan jika ia punya lebih.


Kebaikannya tersembunyi di balik kepalan tangan.


Suatu hari, di antara debu dan teriakan arena ilegal, seseorang memanggil namanya.


“Cleopatra?”


Ia berbalik iap memukul.


Yang berdiri di sana adalah Antoinette.


Rambutnya masih rapi seperti dulu. Seragam sekolah sudah lama berganti mantel penyihir. Tapi matanya… matanya masih sama. Mata teman lama yang pernah duduk sebangku dengannya sebelum dunia pecah.


“Kau tidak seharusnya di sini,” kata Antoinette pelan.


Cleopatra tertawa sinis.

“Dunia juga tidak seharusnya begini.”


Antoinette tidak membantah. Ia hanya mengulurkan tangan.


“Aku butuh tempat tinggal,” kata Cleopatra datar.


“Aku butuh partner,” jawab Antoinette.


Dan dari pertemuan itu, sesuatu berubah arah.


Cleopatra tidak langsung menjadi pahlawan. Ia tidak tiba-tiba percaya pada tujuan besar. Tapi ia menerima kesempatan—sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari ayahnya, dari sekolah, dari dunia.


Menjadi magical girl bukan tentang gaun atau sihir baginya.


Itu tentang memilih berdiri, bukan sekadar bertahan.


Dan ketika akhirnya ia berdiri melawan Time Patrol—melawan mereka yang ingin menghapus kemungkinan—Cleopatra melakukannya bukan sebagai anak pendeta, bukan sebagai anak penyihir yang ditinggalkan.


Melainkan sebagai gadis jalanan yang belajar satu hal paling penting sejak kecil:


jika dunia memutuskan kau salah sejak lahir,

maka satu-satunya jawaban adalah

bertahan cukup lama untuk membuktikan mereka keliru.


Cleopatra tidak berjalan tergesa. Ia melangkah seperti seseorang yang tahu bahwa waktu akan menyesuaikan diri.


Dan saat ia menatapku—mata gelapnya tenang, dalam, dan penuh sejarah—aku mengerti satu hal dengan sangat jelas:


jika Guinevere adalah harapan,

jika Antoinette adalah peringatan,


maka Cleopatra adalah keputusan.


Keputusan yang telah dibuat sejak lama,

dan akan ditegakkan

bahkan jika semesta sendiri harus diingatkan akan tempatnya.

XXX

Beberapa tahun kemudian, aku mulai memahami sedikit demi sedikit.

Potongan mimpi itu bukan sekadar kenangan melainkan pecahan dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dunia ini pernah hampir hancur. 

Dan di tengah kehancuran itu, Catrina-lah yang menyelamatkannya.


Dia bukan manusia biasa. Dia seorang gadis penyihir yang ditakdirkan menjadi tumbal bagi  keseimbangan alam semesta.


Semuanya berawal dari gadis pemalu dan lemah bernama Jadis yang baru saja pindah ke sekolah baru, di sekolah baru itu dia bertemu kelompok yang disebut gadis penyihir, Magical Girl atau yang biasa disebut sebagai Mahou Shoujo oleh orang Jepang termasuk Catrina sendiri yang menjadi sahabat dekatnya,


Ketika kota mereka diserang oleh Gurita telekinesis raksasa milik Time Patrol, kedua temannya menyelamatkannya.kemudian menjadi magical girl untuk melindungi Jadis.


Time Patrol bukan lagi pasukan penjaga waktu — mereka sudah jadi mesin paranoia.  

Selama berabad-abad mereka kalah dalam perang yang tak dicatat sejarah: Perang Sihir Waktu, antara mereka dan para Mahou Shoujo — gadis-gadis anomali yang lahir dari percikan kekuatan mimpi dan emosi manusia.  


Setiap kali Time Patrol mencoba memusnahkan mereka di masa lalu, realitas justru berubah — sejarah memperbaiki diri sendiri, dan para penyihir muda itu selalu muncul kembali, dalam bentuk dan era berbeda.  


Lelah kalah, para petinggi Time Patrol memutuskan membuat senjata yang tak berasal dari waktu, tak dari sihir, tak dari manusia. Mereka menamainya Extra-Dimensional Biological Entity. Mahluk itu dipanggil Zoik oleh para Time Patrol

Time Patrol menciptakan makhluk mirip gurita raksasa dari dimensi lain.

Itu bukan alien sungguhan — melainkan rekayasa biologis buatan manusia.

Diciptakan oleh ilmuwan, seniman, dan penulis fiksi ilmiah yang mereka culik dari berbagai zaman  dan pekerjakan diam-diam. Time Patrol membuat mereka bekerja di proyek rahasia di Antarktika, di mana mereka menciptakan makhluk biologis yang terlihat alien.


Ilmuwan waktu membangun reaktor neural — mesin yang bisa mengumpulkan seluruh pikiran manusia dari masa depan dan masa lalu. Dari jutaan jiwa itu, mereka menyatukan satu kesadaran tunggal: makhluk yang lahir dari rasa takut kolektif manusia terhadap kehilangan kendali.  


Ia tidak punya nama pada awalnya. Hanya bentuk: kumpulan neuron cair, menjelma menjadi gurita raksasa karena sistem komputer tak mampu memberi wujud yang stabil.  


Makhluk itu diisi dengan jaringan otak kloning dari psionik (manusia dengan kemampuan telepati), agar kematiannya bisa memancarkan gelombang psikis yang menyebabkan jutaan orang di kota  mati mendadak karena mimpi buruk dan trauma mental ekstrem.


Gurita itu adalah senjata biologis telepati hasil rekayasa genetik, bukan monster luar angkasa sungguhan.

Banyak orang masih trauma psikologis karena “serangan alien” itu.


Hujan berisi potongan mini-octopus kadang turun sebagai pengingat.



---


Ketika  Extra-Dimensional Biological Entity diaktifkan, tidak ada ledakan. Tidak ada cahaya.  

Yang berubah hanyalah suara di kepala semua anggota Time Patrol: dengung lembut, seperti napas panjang.  


Di dunia lain, para Mahou Shoujo tiba-tiba mulai bermimpi hal yang sama — lautan hitam, mata raksasa, dan bisikan yang menyebut nama mereka satu per satu. Mereka terbangun dengan hidung berdarah dan ingatan kabur.  


Beberapa kehilangan kemampuan sihirnya. Beberapa menjadi gila.  

Dan satu dari mereka   mulai mendengar suara halus yang berkata,  

“Aku tidak diciptakan untuk melawan kalian. Aku diciptakan untuk memahami kalian.”  


---



Time Patrol tak tahu gurita sudah berkembang di luar kendali.  

Makhluk itu mulai memanipulasi memori para ilmuwan, membuat mereka percaya bahwa mereka sedang bermimpi. Lalu ia muncul di dunia nyata   bukan dari portal, tapi dari pikiran manusia yang cukup takut untuk membayangkannya.  


Langit pecah. Kota tenggelam dalam gelombang psionik.  



Namun satu hal jadi jelas:  


Time Patrol menciptakan dewa  dan dewa itu tak tahu bedanya antara cinta dan kehancuran.  


Para Mahou Shoujo berkumpul, bukan untuk melawan, tapi untuk menahan kewarasan dunia.  


Tetapi  beberapa diantara mereka termasuk Catrina sendiri akhirnya mati saat melawan Entitas Biologis Ekstra-Dimensi terkuat.

Jadis yang sedih membuat kontrak dengan para dewa perusak agar bisa menjadi gadis penyihir untuk mengulang waktu agar bisa menyelamatkan teman temannya.

Jadis yang telah menjadi gadis penyihir terus mengulang waktu berkali-kali.  Mencoba berbagai cara untuk mencegah kematian. Setiap kali gagal, dia memutar balik dunia lagi dan lagi, menentang hukum realitas dan para dewa.


Tapi di setiap timeline, Catrina selalu mati atau berubah menjadi monster.


Setiap pengulangan membuat Jadis semakin dingin, keras, dan sinis  kehilangan sifat lembutnya demi menyelamatkan Catrina.


Ia menjadi sangat kuat dan berpengalaman dalam strategi serta senjata, menggantikan kekuatan sihir dengan senjata modern.


Tujuannya hanya satu: selamatkan Catrina, apapun caranya.

Menyadari bahwa semakin banyak ia mengulang waktu, semakin besar potensi kekuatan Catrina— sampai akhirnya Catrina  bisa menjadi dewi.


Pada akhirnya, Catrina menggunakan keinginannya untuk menghapus seluruh penyihir dari segala waktu dan ruang, bahkan dirinya sendiri untuk menghilangkan penderitaan para penyihir.


Dunia berubah total, Catrina naik menjadi entitas kosmik, Law of Cycles, dan menghapus keberadaannya dari sejarah.

Dengan pengorbanannya, dunia kembali tenang. Tapi sebagai gantinya, keberadaannya terhapus dari segalanya—bahkan dari waktu itu sendiri.


Hanya Jadis yang masih mengingatnya. Namun Jadis  menolak menerima nasib itu.


Dalam dunia pasca-penghapusan Catrina, Jadis mulai curiga bahwa dunia ini tidak nyata.

Ternyata ia berada dalam ruang ilusi yang diciptakan oleh jiwanya sendiri — karena ia berubah menjadi entitas abstrak setelah terus menekan kesedihan dan kerinduan terhadap Catrina.

Catrina  sebagai dewi turun untuk menyelamatkannya.


Tapi di akhir, Jadis membelot: ia mencuri kekuatan dewi Catrina dan membaginya, menciptakan realitas baru di mana Catrina hidup sebagai manusia biasa dan bahagia.



Hingga akhirnya... cintanya berubah menjadi kutukan.

Dia menjadi iblis bernama Eru Loviatar—makhluk abadi yang kekuatannya setara dengan Dewi itu sendiri.  Eru Loviatar adalah penyihir kegelapan dengan kecantikan dan aura yang sangat mengintimidasi.


Dan di antara dua makhluk abadi yang saling mencintai tapi tak bisa bersatu itu, aku berdiri…

sebagai satu-satunya manusia yang masih mengingat keduanya.


Aku tidak tahu kenapa aku bisa mengingat Catrina.

Mungkin karena aku adiknya, atau mungkin aku entitas yang seharusnya tak pernah ada disini.

Atau mungkin karena di antara semua dunia yang telah diulang dan dihapus, aku adalah satu-satunya “anomali” yang tersisa—satu jiwa yang tak bisa dihapus oleh waktu.


Tapi satu hal yang pasti:

Aku akan menemukannya lagi.

Entah di dunia ini, atau di antara serpihan waktu yang telah ditelan kegelapan.


XXX

Jadis yang kini menjadi iblis dengan gelar Eru Loviatar sangat membenci Time Patrol karena merekalah biang keladi yang menyebabkan kematian Catrina dan kawan kawan. Namun, mereka kini memiliki aliansi pragmatis. Jadis ingin membebaskan Catrina dari hukum kosmos, sedangkan Time Patrol ingin menjaga kelangsungan universe mereka, jika Jadis dikalahkan, Catrina kembali dikorbankan dan hukum kosmos kembali berjalan maka Universe Time Patrol tak akan selamat.Universe Time Patrol berhasil selamat dari badai matahari yang hampir menghancurkan dunia mereka karena Jadis mengacak cak timeline demi menyelamatkan Catrina.

Karena Time Patrol dan Eru Loviatar sama sama ingin melawan Timeline asli mereka bekerjasama dan para Time Patrol kini  menjadi kaki tangan Eru Loviatar yang paling setia demi keberlangsungan universe mereka.

Time Patrol adalah pasukan polisi waktu dari abad ke-22 yang sangat canggih. Mereka bekerja sama dengan Sang Ratu Penyihir yang dijuluki iblis, bernama Eru Loviatar — sosok yang pernah menyebabkan peristiwa besar bernama Fantasia, ketika hukum fisika dan sihir saling bertabrakan.


Para Time Patrol berasal dari semesta lain — sebuah universe yang dunianya berhasil diselamatkan dari kehancuran akibat badai matahari. Mereka berhasil kembali ke masa lalu dan mencegah bencana itu dengan bantuan Eru Loviatar, yang juga berkeinginan untuk mengubah takdir. Namun, perjalanan waktu yang mereka lakukan menyebabkan cabang-cabang realitas baru bermunculan.


Akibatnya, ketika universe asal mereka berhasil diselamatkan, universe lain — yaitu universe  tempat asalku di masa depan — justru hancur karena kebangkitan "Bayi Matahari". Para Time Patrol kini berusaha mencegahku mengalahkan Eru Loviatar, sebab jika sang Penyihir dikalahkan, dan  universe tempat asalku di masa depan berhasil diselamatkan dari kebangkitan bayi matahari karena Fantasia, akan berimbas pada stabilitas waktu dan membuka kembali ancaman badai matahari di universe asal para Time Patrol. 

Satu dari dua universe — universe Time Patrol atau universe Constantine — harus dikorbankan demi kelangsungan yang lain. Namun baik aku maupun para Time Patrol sama-sama menolak untuk menyerah. Masing-masing berjuang demi menyelamatkan dunia mereka sendiri. 


Pada akhirnya, semua pihak bertindak demi kepentingan sendiri. Setiap orang ingin menyelamatkan universe-nya masing-masing. Para Time Patrol bahkan rela membiarkan universe tempat asalku di masa depan tetap hancur, agar dunia mereka yang indah dan futuristik di abad ke-22 tetap aman dari badai matahari.


XXX

Aku pernah berpikir bahwa asal-usulku hanya mimpi buruk yang terlalu hidup. Tapi semakin jauh aku berjalan bersama Guinevere , semakin jelas kebenaran itu: aku bukan manusia. Aku adalah hasil dari dunia yang belum lahir—keturunan kota bawah tanah yang disebut, masa depan di mana manusia telah berubah menjadi vampir untuk bertahan hidup di bawah reruntuhan bumi yang ditelan radiasi Matahari yang bangkit.

Aku berbeda dari mereka yang tinggal di masa ini. Dagingku lebih kuat, tulangku bisa memulihkan diri dalam hitungan detik, dan darahku membawa ingatan tentang teknologi yang bahkan belum ditemukan di era ini. Tapi aku juga cacat: aku tak memiliki sihir.
Tak ada mantra, tak ada lingkaran energi, tak ada kemampuan memanggil unsur alam. Aku hanyalah tubuh dengan kekuatan brutal dan luka masa depan yang belum terjadi.

Dan kini, aku harus melawan entitas yang disebut “Dewi Iblis Eru Loviatar.”
Dialah sahabat Catrina—penyihir yang tak sanggup menerima takdir kematian Catrina dan terus mengulang waktu, merobek realitas hingga lahirlah Fantasia. Ia bukan manusia lagi. Ia telah melampaui semua batas waktu, menjadi kekuatan murni yang bahkan Dewa Matahari pun takut bangunkan.

Setiap kali aku membayangkan itu, rasa takut menyelinap di tenggorokanku.
Bagaimana mungkin aku—yang hanya terbuat dari darah sintetis dan daging hasil laboratorium—mampu menandingi makhluk yang bisa menulis ulang sejarah?

Guinevere  bilang aku satu-satunya yang bisa menghentikannya, karena aku tidak terikat oleh hukum sihir. Tubuhku tak tunduk pada logika Fantasia, tak bisa dihapus oleh distorsi waktu. Aku eksis di luar siklus itu—anomali dari masa depan yang tak seharusnya ada di sini.
Namun keistimewaan itu juga kutukan. Aku merasakan tubuhku semakin asing terhadap dunia ini. Nafasku lebih berat, dan setiap kali matahari terbit, kulitku membakar perlahan, seolah dunia menolakku keberadaanku.

Kadang aku berpikir untuk menyerah.
Membiarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya, membiarkan Catrina menjadi dewi, dan dunia tenggelam dalam Fantasia yang tak berujung.
Tapi tiap kali aku menutup mata, aku melihat wajah Catrina—senyum lembutnya saat memintaku menjadi adik kecilnya di panti asuhan, tangannya yang hangat di kepalaku.

Dia satu-satunya alasan aku masih percaya pada dunia ini.
Dan karena itu, aku harus melawan.

Bukan demi umat manusia, bukan demi keseimbangan dunia, tapi demi satu hal sederhana: Aku ingin kakakku hidup.

Mungkin tubuhku tak punya sihir. Tapi darahku membawa warisan masa depan—logika, mesin, dan kekuatan yang tak lagi mengenal batas moral. Jika penyihir itu mengubah waktu dengan mantra, maka aku akan melawannya dengan ilmu dan kekuatan fisik.
Jika dia menulis ulang takdir, aku akan menulis ulang realitas dengan tangan dan darahku sendiri.

Meski aku tahu, pada akhirnya, mungkin aku harus menghancurkan satu-satunya sahabat Catrina… demi menyelamatkan Catrina dari dunia yang diciptakan oleh cinta yang tak mau melepaskan.
xxx

Dilema itu membunuhku perlahan, bahkan sebelum pertempuran dimulai.

Setiap malam, aku duduk di bawah langit yang sudah mulai retak — bintang-bintang bergetar, seperti kaca yang menahan tekanan dari luar realitas. Gejala Fantasia sudah muncul di mana-mana: burung yang terbang terbalik, bayangan yang berjalan tanpa tubuh, dan laut yang berdenyut seperti makhluk hidup. Semua orang mengira itu fenomena alam. Tapi aku tahu — itu tanda-tanda bahwa dunia sedang kehilangan logikanya.

Dan di tengah kekacauan itu, aku tahu apa yang harus kulakukan.
Jika aku berhasil mengalahkan Dewi Iblis, Fantasia akan berhenti. Dunia akan selamat.
Tapi… Catrina akan hilang selamanya.

Itulah hukum waktu yang kejam: Lyra menjadi dewi karena harus mati, dan dunia bisa tetap utuh hanya jika dia tetap tak ada. Tapi sahabatnya, yang kini telah menjadi iblis, berjuang untuk mengembalikannya — mengulang waktu berkali-kali, berteriak menantang dewa dan hukum semesta, hanya agar Lyra bisa tetap hidup di dunia yang tak mengizinkannya.

Dan aku berdiri di tengah dua cinta yang saling menghancurkan itu.

Aku tak bisa berpihak tanpa merasa berdosa.
Jika aku membunuh Dewi Iblis, aku menyelamatkan dunia tapi mengkhianati kakakku — aku menghapus satu-satunya orang yang pernah benar-benar menyayangiku.
Tapi jika aku biarkan Dewi Iblis menang, maka dunia akan meleleh ke dalam mimpi yang tak berujung, realitas akan runtuh, dan Dewa Matahari akan terbangun 300 tahun lebih cepat dari seharusnya.

Kadang aku berpikir — mungkin dunia ini memang harus berakhir bersama Catrina.
Apa gunanya bumi tanpa dia di dalamnya?
Apa gunanya cahaya matahari, jika ia harus menyinari dunia yang melupakan kakakku seolah ia tak pernah ada?

Namun di lubuk hatiku, aku tahu Catrina tak akan menginginkan itu.
Dia akan tersenyum, menatapku dengan lembut seperti dulu di panti asuhan, dan berkata:

 “Adik kecilku, jangan pilih aku. Pilih dunia yang masih bisa bermimpi.”

Dan setiap kali bayangan itu muncul, aku menangis — karena aku tahu aku akan menepati pesan itu, walau artinya aku harus membunuh harapan terakhirku.

Mungkin di akhir segalanya, hanya aku yang akan mengingat Catrina.
Dan mungkin itu sudah cukup.

Karena selama aku masih mengingatnya, selama namanya masih hidup di pikiranku   dia tidak benar-benar lenyap.
Dia akan hidup dalam setiap langkahku, dalam setiap darah yang kupompa untuk melawan Dewi Iblis itu, dan dalam setiap matahari yang kubiarkan tetap tidur.

Aku tidak menyelamatkan dunia demi manusia. Aku menyelamatkan dunia demi mengenangnya.

XXX

 Guinevere pernah bertanya kenapa aku tetap memakai seragam itu bahkan saat dunia tidak terbakar.

Aku menjawab jujur.

“Karena api tidak menunggu aku bertugas.”

Dan mungkin—jauh sebelum para penyihir menyadarinya—itulah sebabnya Catrina memilih naik.

Karena bahkan di antara hukum semesta dan garis keturunan suci,
yang paling langka bukan kekuatan kosmik—

melainkan seseorang yang, tanpa sihir apa pun,
tetap maju ke dalam api.

---

Pada tahun 2157, garis waktu dunia diatur oleh Time Patrol, organisasi yang menjaga agar sejarah tetap utuh. Commander John Smith, komandan muda berusia 25 tahun, dikenal karena keberaniannya dan kemampuan strategisnya dalam menghadapi anomali temporal yang paling berbahaya.

Tugas terbaru John membawanya ke abad ke-21 di Universe 616, di mana dua magical girl misterius telah muncul: Cleopatra dan Antoinette. Mereka bukan sekadar gadis biasa—keduanya memiliki kekuatan luar biasa yang memungkinkan mereka memanipulasi waktu dan realitas di sekitar mereka. Untuk alasan mereka sendiri, Cleopatra dan Antoinette menjaga garis waktu dari campur tangan Time Patrol, menganggap John dan timnya sebagai ancaman yang harus dihentikan.

Pertemuan pertama terjadi di kota modern, saat Cleopatra menggunakan kekuatan ilusi untuk menipu John dan timnya, membuat mereka seolah tersesat di dunia paralel yang aneh. Sementara itu, Antoinette memanipulasi peristiwa sekitar, mengubah peralatan sederhana menjadi senjata mematikan.

John segera menyadari bahwa kekuatan magical girl ini bukan sekadar fisik—mereka mampu membaca pola tindakan Time Patrol, memprediksi gerakan, dan bahkan membelokkan strategi yang paling rumit. Namun, dengan kecerdikan dan teknologi masa depan, John berhasil membuat jebakan temporal, memaksa Cleopatra dan Antoinette memilih antara pertarungan langsung atau mundur sementara.

Dalam konflik ini, John menghadapi dilema yang lebih besar: menghentikan dua magical girl ini bisa menyelamatkan garis waktu, tapi juga berisiko merusak hubungan antara manusia dan makhluk magis di masa depan. John menyadari, pertempuran ini bukan sekadar soal kekuatan, tapi tentang siapa yang berhak memutuskan nasib sejarah.

Akhirnya, pertempuran itu meninggalkan retakan kecil di garis waktu—sebuah peringatan bahwa masa depan selalu rapuh, dan komandan muda ini harus lebih bijak dari sebelumnya.


XXX


 Aku tidak tahu kapan langit berubah warna.

Satu detik sebelumnya, malam masih malam, hitam, dingin, penuh bau ozon dan puing—lalu tiba-tiba udara terasa basah, berat, seperti laut yang tumpah ke daratan.

Zoik muncul dari retakan waktu di atas pelabuhan tua.

Ia bukan gurita biasa. Tubuhnya disusun dari daging abu-abu mengilap yang disela logam Time Patrol, tentakel-tentakelnya berlapis segmen mekanis yang berdenyut dengan cahaya biru pucat. Setiap gerakannya mengganggu gravitasi lokal, membuat kontainer baja bergetar seperti mainan.

Cleopatra sudah berdiri di depan, gaun marunnya berkibar, permata jiwanya menyala stabil. Guinevere melayang rendah, napasnya teratur tapi matanya tegang.

Dan Antoinette—Antoinette melompat lebih dulu.

Ia menyerang seperti pisau yang dilemparkan dengan kemarahan terukur. Sihirnya membelah udara, memotong dua tentakel Zoik sekaligus. Tapi monster itu belajar cepat. Salah satu lengannya berputar, menciptakan medan tekan yang menghantam Antoinette ke dinding beton.

Aku berubah ke wujud vampirku berusaha menyerangnya dengan cakarku yang panjang tapi aku selalu terpental.

Aku mendengar suara itu.

Bukan teriakan.
Lebih seperti napas yang terpotong.

Antoinette jatuh, tidak bangkit.

“Antoinette!” Guinevere berteriak.

Cleopatra menahan Zoik dengan segel kosmik, tapi aku bisa melihatnya—ia menahan terlalu banyak. Retakan cahaya merambat di udara.

Lalu sesuatu menembus medan pertempuran.

Sosok berlapis baja perak hitam mendarat di antara Zoik dan tubuh Antoinette, menghantam tanah dengan kekuatan yang tidak manusiawi. Matanya menyala merah—sensor tempur Time Patrol.

Ingrid.

Agen cyborg.

Ia bergerak cepat, brutal, efisien. Bilah energi keluar dari lengannya, menembus inti Zoik. Monster itu meraung, tentakelnya melemas satu per satu sebelum tubuhnya runtuh menjadi serpihan cahaya yang ditarik kembali oleh waktu.

Hening.

Cleopatra berbalik, siap menyerang Ingrid.

“Jangan,” kata Ingrid tiba-tiba.

Suaranya… gemetar.

Ia berlutut di samping Antoinette.

“Dia masih hidup,” katanya cepat. “Tapi tidak lama.”

Guinevere menatapnya penuh curiga. “Kau Time Patrol.”

“Aku mantan,” jawab Ingrid. Lalu, lebih pelan, “Mulai sekarang.”

Ia mengangkat Antoinette dengan hati-hati—gerakan yang terlalu lembut untuk seseorang dengan tubuh baja. Kami membawanya ke tempat aman, ke lingkaran perlindungan Cleopatra.

Darah Antoinette bercampur cahaya, mengalir terlalu cepat.

Antoinette tersenyum lemah saat melihat Ingrid.

“Lucu,” katanya terengah. “Akhirnya kau membelot… dan aku yang sekarat.”

Ingrid menggenggam tangannya. Jari logamnya bergetar.

“Jangan bicara begitu. Aku bisa memanggil unit medis”

“Tidak,” potong Antoinette lembut. “Aku sudah tahu akhirnya.”

Ia menoleh ke Guinevere dan Cleopatra. “Dengarkan aku.”

Cahaya di tubuh Antoinette mulai pecah-pecah, seperti bintang yang akan padam.

“Ingrid,” katanya, memaksa fokusnya kembali. “Kau masih ingin bebas?”

Ingrid mengangguk, air mata jatuh di wajah logamnya.
“Aku tidak pernah punya pilihan.”

Antoinette tersenyum—tulus.
“Kalau begitu… ambil milikku.”

Permata jiwa Antoinette menyala terang.

“Ingrid—jangan—” Guinevere melangkah maju, tapi Cleopatra menghentikannya. Cleopatra tahu. Wajahnya tegang, tapi ia mengangguk pelan.

Antoinette menempelkan tangannya ke dada Ingrid.

Cahaya meledak.

Bukan ledakan yang menghancurkan—melainkan gelombang hangat yang menyapu semuanya. Tubuh Antoinette terangkat sedikit, retak menjadi serpihan cahaya keemasan.

Ia menghilang sambil tersenyum.

Ingrid menjerit.

Jeritan itu bukan suara mesin. Itu jeritan manusia yang akhirnya merasakan kehilangan tanpa peredam logam.

Antoinette telah terluka parah dan tidak dapat diselamatkan. Ia memutuskan untuk memberikan sisa kekuatannya kepada Ingrid. Ingrid pun berubah menjadi seorang magical girl, sementara Antoinette menghilang dalam gemerlap cahaya.

Tiba-tiba, tubuh cyborg Ingrid lenyap, dan semuanya kembali menjadi tubuh manusia normal. Keinginan terdalamnya akhirnya terpenuhi. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi kematian Antoinette.

Ingrid memiliki masa kecil yang kelam. Ayahnya, seorang jenderal Time Patrol, mendidiknya dengan sangat keras dan sering memaksanya bertarung melawannya. Setiap kali Ingrid kalah, ayahnya mengganti bagian tubuh Ingrid dengan komponen robot agar ia menjadi semakin kuat.

Setelah kembali sepenuhnya ke tubuh manusia dan kehilangan seluruh bagian robotnya, Ingrid entah mengapa kini selalu merasakan kehadiran Antoinette di dalam tubuhnya—tubuh yang kini telah menjadi seorang magical girl.

Dan saat cahaya mereda—

tubuh cyborg Ingrid menghilang.

Pelat baja runtuh menjadi debu cahaya. Kabel, lengan mekanis, penguat tulang—lenyap satu per satu. Ingrid jatuh ke lututnya sebagai manusia. Kulit pucat. Tangan gemetar. Paru-paru terengah, seperti baru belajar bernapas.

Pakaian barunya terbentuk dari cahaya—seragam magical girl dengan warna yang belum pernah kulihat sebelumnya, berdenyut lembut, hidup.

Keinginannya terpenuhi.

Bukan kekuatan.

Melainkan kembali menjadi manusia.

Ia menangis keras. Tidak menahan diri. Tidak peduli siapa melihat. Tangannya mencengkeram dada, tepat di tempat ia kini merasakan sesuatu yang baru—kehangatan yang bukan miliknya sendiri.

Cleopatra menutup mata.

Guinevere menunduk.

Aku berdiri kaku, tidak tahu harus berbuat apa pada kesedihan sebesar itu.

Di antara isakannya, Ingrid berbisik, hampir tak terdengar:

“Antoinette…?”

Dan aku melihatnya.

Cahaya tipis, seperti bayangan refleksi di air, berdenyut seirama dengan jantung Ingrid.

Antoinette tidak pergi sepenuhnya.

Ia tinggal.

Bukan sebagai tubuh.
Bukan sebagai ingatan.

Melainkan sebagai kehadiran.

Ingrid mengangkat kepalanya, air mata masih mengalir, tapi ada ketenangan baru di matanya.

“Aku bisa merasakannya,” katanya pelan. “Dia… di sini.”

Cleopatra mendekat, meletakkan tangan di bahu Ingrid.
“Warisan penyihir tidak selalu berbentuk darah.”

Guinevere menatap langit yang kembali normal.
“Kadang ia berbentuk janji.”

Ingrid menarik napas panjang.
“Ayahku tidak akan pernah mengerti,” katanya pahit. “Ia membesarkanku dengan pertarungan. Setiap kali aku kalah… ia menggantiku dengan mesin.”

Tangannya mengepal—kini tangan manusia.
“Tapi Antoinette… ia memberiku sesuatu yang ayahku tidak pernah bisa.”

Kami semua diam.

Di dalam tubuh Ingrid yang kini rapuh namun utuh, dua kehendak berdetak bersama.

Satu lahir dari penderitaan.
Satu lagi dari pengorbanan.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal dunia di balik waktu

aku tahu dengan pasti:

Time Patrol tidak hanya kalah hari itu.

XXX

Tidak ada lagi langit.

Yang ada hanyalah ruang gelap tanpa arah, dipenuhi puing-puing armada Time Patrol yang terbakar seperti bintang mati. Cahaya laser, mantra kosmik, dan gelombang kausal saling bertabrakan, menciptakan warna-warna yang tidak pernah dimaksudkan untuk dilihat mata manusia.

Pertarungan terakhir antara aku , Ingrid, Cleopatra, dan Guinevere pecah di luar angkasa. Kami berempat berdiri di garis depan kehancuran, berhadapan langsung dengan Jadis—mantan sahabat mereka yang kini telah menjadi dewi kegelapan bernama Eru Loviatar, dengan triliunan pasukan Time Patrol berdiri di belakangnya. Ruang hampa kosmos berubah menjadi medan perang kausal, dipenuhi ledakan energi dan distorsi waktu.


Cleopatra melayang dengan tenang di tengah kekacauan, gaun merah marunnya berkibar seperti panji kerajaan yang tak pernah runtuh. Permata jiwanya berdenyut keras, menahan retakan realitas agar tidak menelan kami.

Guinevere berada di sisiku, napasnya teratur tapi matanya penuh luka yang sudah terlalu lama ia bawa. Ingrid—magical girl baru dengan jiwa Antoinette di dalam dirinya—mengepalkan tangan, cahaya ganda berkelip di sekeliling tubuhnya, dua kehendak berpadu menjadi satu tekad.

Dan aku.

Aku berdiri di antara mereka, masih dengan seragam pemadam kebakaran Bougenistria yang kini terasa kecil di hadapan perang para dewa.

Di hadapan kami, Jadis.

Atau nama yang kini ia pakai—

Eru Loviatar, Dewi Kegelapan.

Tubuhnya bukan lagi tubuh manusia. Ia adalah siluet kosmik, diselimuti sayap bayangan yang terbentang sejauh orbit bulan. Matanya memuat galaksi mati. Suaranya bergema langsung di kesadaran.

Di belakangnya, triliunan pasukan Time Patrol membentuk formasi sempurna—sebuah peradaban militer yang dibangun dari ketakutan akan kekacauan.

“Kalian terlambat,” suara Jadis tenang, hampir lembut. “Takdir sudah disederhanakan.”

Cleopatra menjawab tanpa ragu.
“Takdir bukan milikmu.”

Pertempuran pecah.

Itu bukan pertempuran yang bisa dijelaskan sepenuhnya. Waktu dilipat. Ruang terbelah. Ingrid menghantam armada dengan kekuatan yang bukan sepenuhnya miliknya—aku bisa merasakan Antoinette bergerak di dalam dirinya, membimbing, menguatkan.

Guinevere mengorbankan sebagian eksistensinya sendiri untuk membuka celah kausal. Cleopatra menahan kehancuran dengan tubuhnya sendiri, darah bercahaya mengalir di ruang hampa.

Dan aku—

aku menjadi jangkar.

Empat kristal energi kausal terbentuk di sekeliling Jadis, masing-masing memuat satu vektor eksistensi: waktu, kemungkinan, ingatan, dan pengorbanan. Kami menguncinya.

Untuk sesaat, Jadis—Eru Loviatar berteriak.

Bukan karena sakit.

Tapi karena kehilangan kendali.

Namun sebelum kristal itu menutup sepenuhnya 

Serpihan jiwa Jadis. Potongan kecil, hampir tak terdeteksi, lolos.

Dan ia memilihku.

Aku merasakan sesuatu menusuk dadaku—bukan rasa sakit, tapi pemahaman yang terlalu luas. Jadis berbisik di dalam diriku, bukan dengan suara, melainkan dengan kehendak.

Biarkan aku menyelamatkannya.

Lalu—

semua ter-reset.

Waktu runtuh ke dalam dirinya sendiri.

Aku melihatnya dalam satu tarikan napas

Catrina—turun dari eksistensi dewa, kembali menjadi manusia biasa. Rambutnya tergerai, tangannya gemetar, ingatannya kosong. Ia hidup. Tidak tahu apa pun tentang pengorbanannya.

Alam semesta Time Patrol—selamat dari badai matahari yang seharusnya memusnahkan mereka. Peradaban mereka bertahan.

Dan dunia… kembali ke titik awal.

Sekolah itu.

Hari pertama Jadis menjadi murid baru.

Aku melihat Antoinette kecil, Guinevere muda, Cleopatra yang masih keras kepala, dan Catrina yang tertawa polos. Mereka bermain di halaman sekolah seperti anak-anak biasa.


Dalam garis waktu baru itu, Catrina yang selama ini ingin diselamatkan oleh Jadis berhasil kembali menjadi manusia sepenuhnya. Ingatannya terhapus. Alam semesta Time Patrol pun terselamatkan dari badai matahari yang sebelumnya mengancam peradaban mereka. Waktu berputar mundur ke saat pertama Jadis menjadi murid baru di sekolah dan bertemu Catrina, Antoinette, Guinevere, serta Cleopatra untuk pertama kalinya.

Antoinette, Guinevere, dan Cleopatra masih menyimpan memori tentang apa yang pernah dilakukan Jadis. Mereka sering menatapnya dengan sorot mata tajam dan dingin, menyimpan amarah yang tak terucap, menyalahkannya karena telah membuat pengorbanan Catrina menjadi sia-sia. Namun Catrina sendiri tidak mengetahui apa pun. Ia tetap bermain dan tertawa bersama Jadis seperti dulu.  


Jadis berdiri di sana belum menjadi dewi, belum menjadi monster.

Namun ada yang salah.

Antoinette, Guinevere, dan Cleopatra mengingat semuanya.

Tatapan mereka pada Jadis tajam. Dingin. Penuh luka yang tak bisa diucapkan.

“Kau membuat pengorbanannya sia-sia,” bisik Antoinette suatu hari.

Jadis hanya tersenyum kecil, tidak mengerti.

Catrina tetap menggenggam tangannya, tertawa, bermain seperti biasa.

Dan tak satu pun dari mereka tega mengatakan kebenaran.

XXX

Aku terpental setelah tubuhku dirasuki oleh Jadis. Dengan pengorbanan besar, kami berempat berhasil menjebak jiwa Jadis ke dalam empat kristal energi kausal hingga Jadis kehilangan kekuatannya sebagai dewi kegelapan. Namun, sebelum penjara itu benar-benar tertutup, serpihan jiwa Jadis lolos dan merasukiku. Seketika, timeline direset.

Realitas mencabikku dari timeline itu seperti daun kering.

Aku jatuh melalui Tidal Zone—zona pasang surut antar-semesta—dan terhempas ke Universe 617. Sebelum ke universe itu aku bertemu ibu kandungku...

Aku tidak pernah mengerti kenapa cahaya terasa menyakitkan.
Anak-anak lain di sekolah senang bermain di bawah matahari. Aku justru pusing, mual, bahkan kulitku melepuh tipis kalau terlalu lama di luar. Ibu angkatku bilang aku hanya “alergi panas,” tapi aku tahu itu bukan sekadar panas.
Cahaya matahari... seolah membenciku. Ya untungnya semakin aku bertambah usia aku semakin tahan terhadap cahaya matahari,eh aku cerita apa sih. Sudah lah aku mau tidur saja.

Sejak Catrina menghilang — atau lebih tepatnya, dihapus dari dunia — aku sering bermimpi aneh. Dalam mimpi itu, aku berada di ruangan seperti laboratorium kuno. Mesin-mesin berkarat berdengung di antara kabut merah. Di tengahnya, berdiri seorang perempuan berambut perak panjang, kulitnya pucat seperti lilin, matanya merah bercahaya lembut.
Dia menatapku dari balik kaca cair dan berkata:

“Maafkan ibu kandungmu... ini satu-satunya cara agar kau tetap hidup.”

Aku selalu terbangun setelah mendengar kata “ibu.” Aku tidak punya ibu kandung — aku anak panti asuhan. Tapi mimpi itu terasa lebih nyata daripada masa laluku sendiri.

Malam itu, sesuatu akhirnya berubah.

Langit berwarna ungu tua, seperti luka terbuka. Udara bergetar. Aku melihat lingkaran aneh di halaman belakang rumah: garis cahaya yang membentuk pusaran vertikal di udara, mengisap embun dan daun-daun ke tengahnya. Dari sana muncul sosok perempuan itu — sama seperti di mimpiku.

Kulitnya pucat seperti batu bulan, matanya merah bercahaya. Tapi suaranya lembut. Bukan suara iblis.
Suara seorang ibu.

“Kau sudah tumbuh besar, Nak,” katanya, lirih tapi jelas. “Waktu di sini berjalan jauh lebih lambat dari dunia asal kita.”

Aku tak bisa bergerak. “Dunia... asal kita?”

Ia mengangguk. “Aku bukan manusia. Aku dari masa depan. Dunia kami sudah mati, terbakar oleh Dewa Matahari yang terbangun setelah tidur miliaran tahun. Kami, para penyintas, berevolusi — atau mungkin terkutuk — menjadi ras baru: Homo Sanguinis. Vampir.”

Aku tercekat.
Kata itu— vampir —selalu terasa seperti dongeng murahan. Tapi wajahnya tidak terlihat jahat. Ia hanya tampak... sedih.

 “Kami hidup di bawah tanah, di kota bernama Erebos,” lanjutnya. “Untuk menenangkan Dewa Matahari yang bangkit, para vampir menciptakan anak-anak seperti kau — anak penghibur, yang dikirim ke permukaan untuk bernyanyi, menari, dan berpura-pura bahagia di hadapan matahari agar ia tidak menghancurkan bumi sepenuhnya.”

Aku nyaris muntah mendengarnya. “Jadi... aku—?”

 “Kau seharusnya salah satunya,” katanya cepat, matanya berkaca-kaca. “Tapi aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Aku mencuri satu mesin kronosfer — alat yang bisa membuka pintu waktu — dan mengirimmu ke masa lalu, ke zaman ini. Aku menitipkanmu di panti asuhan, di era ketika matahari masih ‘tertidur’.”

Aku menatapnya, berusaha memahami absurditas yang baru saja kuketahui. “Jadi aku... bukan manusia.”

Ia menggeleng pelan. “Setengah. Separuh darahku mengalir di tubuhmu, tapi separuh lagi berasal dari manusia murni. Itulah kenapa kau berbeda. Itulah kenapa matahari menyakitimu tapi tak membunuhmu.”

Aku ingin bertanya banyak hal, tapi ia menatapku dengan ekspresi yang aneh — campuran kasih dan ketakutan.

 “Ada hal lain yang harus kau tahu,” katanya. “Gadis bernama Catrina... kakak perempuan yang masih kau ingat — dia bukan khayalan. Dia adalah penyihir terakhir dunia ini, terpilih menjadi tumbal untuk menenangkan kekacauan waktu. Dia ditakdirkan menjadi Dewi perdamaian.”

“Catrina... jadi nyata?Apakah semua petualanganku selama ini nyata?” suaraku bergetar. “Dia benar-benar ada?”

“Ya. Tapi ia telah dihapus dari eksistensi agar dunia tetap stabil. Semua orang melupakannya — kecuali kau, karena darahmu tidak sepenuhnya terikat pada arus waktu ini.”
\
 “Dan Jadis ,” lanjutnya, suaranya mulai parau, “terlalu mencintainya. Ia terus mengulang waktu, mencoba menyelamatkan Catrina dari kematian, hingga dirinya sendiri berubah... menjadi iblis waktu. Kekuatan mereka kini setara. Keduanya menahan keseimbangan dunia seperti dua sisi cermin yang retak.”

Ia menatap langit yang berdenyut pelan. “Namun pengulangan waktu itu menimbulkan retakan baru — Fantasia. Dunia mulai kehilangan logikanya. Hukum fisika dan sihir bertabrakan. Jika terus berlanjut, realitas akan hancur, dan kebangkitan Dewa Matahari akan dimulai dari sini... masa ini.”

Angin berhenti bertiup. Aku mendengar suara detak aneh dari dalam dadaku — bukan detak jantung, tapi denyutan ritmis seperti mesin tua.
Darahku bergetar.

“Kau harus menghentikan mereka,” katanya. “Temukan Catrina. Selamatkan dia — tapi jangan biarkan waktu diulang lagi. Jika tidak, kau akan menghidupkan kembali api yang menghanguskan masa depan.”

Tubuh ibuku mulai retak seperti kaca pecah diterpa cahaya.
Ia mencoba tersenyum, menatapku terakhir kali. “Aku mencintaimu, Nak. Maafkan aku karena membebanimu dengan takdir yang seharusnya menjadi tugasku.”

Lalu ia lenyap, tersedot ke dalam pusaran cahaya yang segera padam.
Yang tersisa hanya lingkaran gosong di tanah dan aroma logam terbakar.

Aku berdiri lama, tubuhku gemetar, hingga aku melihat ke langit.
Malam itu, di antara bintang-bintang, aku melihat matahari — bukan seharusnya di sana, tapi ada, menggantung seperti bola api raksasa di kegelapan malam, seolah menatapku.
Dan di kepalaku, suara Catrina berbisik pelan:

 “Biarkan aku menjadi Dewi, adikku... sebelum dunia terulang lagi.”

Berbeda dengan ras vampir lain yang hanya kembali ke masa lalu untuk memburu manusia sebagai sumber darah, lalu putus asa ketika menyadari dunia tak bisa diubah, aku memilih jalan lain. Aku berusaha mengubah sejarah dunia, karena aku tahu ada kekuatan sihir yang mampu menantang takdir waktu. Dengan kekuatan itu, aku ingin menyelamatkan kakakku—dan mencegah terjadinya Fantasia serta kebangkitan Matahari.


XXX

Aku mendarat di dunia yang sekarat.

Langit merah. Matahari muda bayi matahari berdenyut tidak stabil, setiap tangis energinya mampu menghancurkan Bumi kapan saja.

Dan di hadapannya aku melihat diriku sendiri.

Lebih tua. Lebih kurus. Mengenakan kostum badut lusuh dengan lonceng kecil yang nyaris tak berbunyi.

“Ah,” katanya pelan. “Akhirnya datang juga.”

Namanya Stańczyk Constantine.

Ia adalah aku—1,5 juta tahun di masa depan.

Tubuhnya lemah. Kulitnya pucat. Matanya cekung. Ia adalah vampir kasta rendah, makhluk yang bertahan hidup dengan tugas paling hina: keluar dari kota bawah tanah, naik ke permukaan bumi, menari, bercanda, menghibur bayi matahari agar tidak mengamuk.

“Aku menerimanya setiap hari,” katanya sambil tersenyum lelah. “Karena makhluk hidup… cuma serpihan kecil di alam semesta yang maha agung. Dan semesta tidak peduli.”

Ia batuk pelan. Darah hitam menetes dari bibirnya.

“Aku senang kau datang,” katanya. “Artinya… aku tidak sendirian di akhir.”

Aku memeluknya.

Dan di pangkuanku

Stańczyk Constantine meninggal dengan tenang.

Tanpa perlawanan. Tanpa penyesalan.

Hanya senyum kecil, seperti seseorang yang akhirnya boleh berhenti menghibur dunia yang terlalu besar.

Aku duduk lama di sana, di bawah cahaya bayi matahari, menyadari satu hal pahit:

Tidak semua pengorbanan menghasilkan dunia yang adil.
Tidak semua kemenangan diingat.
Dan tidak semua versi diriku bisa diselamatkan.

Namun selama masih ada satu versi yang maju ke dalam api semesta, betapapun agung dan acuhnya,

tidak pernah benar-benar menang.

Dan di suatu tempat, di universe lain,
seorang anak bernama Catrina tertawa tanpa tahu bahwa seluruh kosmos pernah terbakar demi senyum itu. Pengorbanan Catrina sia sia.

Jadis mungkin kehilangan kekuatannya sebagai dewi kegelapan, tapi dia menang, dia mendapatkan apa yang dia inginkan, ketika aku kalah dengan hina.

XXX

Novel: Man Without a Mission 2 : Revenge of Constantine

 Waktu bukan sungai. Ia adalah medan perang.


Di luar garis kronologi yang dipahami makhluk fana, terdapat ruang hampa bernama Null-Hour Continuum tempat di mana masa lalu, kini, dan masa depan saling bertindihan seperti luka yang tak pernah sembuh. Di sanalah berdiri sebuah struktur raksasa, tidak terikat dimensi, tidak tercatat dalam sejarah mana pun: Obsidian Chrono-Forum.


Di ruang itu, para penguasa yang ditakuti oleh sejarah berkumpul. Mereka bukan pahlawan. Mereka bukan penjahat. Mereka adalah reaksi terhadap ketidakadilan waktu itu sendiri. Mereka menyebut diri mereka Anti Time Patrol Council.

Mereka adalah organisasi yang ingin melawan Time Patrol karena time patrol suka mengubah alur waktu demi kepentingan bangsa mereka sendiri yaitu futurian.

Time Patrol selalu menyebut diri mereka penjaga keseimbangan. Mereka mengklaim melindungi alur waktu dari kehancuran. Namun bagi banyak peradaban, Time Patrol hanyalah wajah lain dari kolonialisme temporal—organisasi yang berulang kali mengubah sejarah demi keuntungan satu bangsa saja: Futurian, spesies dari masa depan jauh yang percaya bahwa realitas diciptakan untuk memastikan kelangsungan hidup mereka sendiri.


Ketika suatu peradaban bangkit terlalu cepat—waktu diubah. Ketika sebuah kekaisaran bisa menyaingi Futurian—sejarah ditulis ulang. Ketika sebuah dunia menolak takdirnya—ia “dikoreksi”. Dan mereka menyebut itu keseimbangan.


Di pusat Obsidian Chrono-Forum berdiri sosok mekanis menjulang, tubuhnya terbuat dari paduan bintang mati dan cahaya algoritmik. Matanya memproyeksikan jutaan garis waktu sekaligus. AI kuno itu, diciptakan oleh pendeta Mesir sebelum konsep “mesin” dikenal, telah menyaksikan ribuan versi sejarah Bumi—peradaban yang bangkit dan lenyap karena intervensi Time Patrol. Sebagai Senat Council, Neferbot tidak memerintah—ia mengingat.


“Dalam 73% garis waktu,” ucap Neferbot tenang, “umat manusia mencapai pencerahan kosmik tanpa Futurian. Time Patrol menghapus semuanya. Mereka takut bukan pada kehancuran waktu—melainkan pada masa depan yang tidak membutuhkan mereka.”


Di sisi forum, lantai realitas bergetar ketika seorang alien berkulit hijau Therax melangkah maju. Tubuhnya setinggi dua kali manusia dewasa, berotot seperti planet yang dipahat perang. Kulitnya penuh bekas senjata dari ribuan zaman. Ia adalah Jenderal Council, panglima yang telah bertempur di perang lintas-epoch. Ia adalah yang terakhir dari rasnya yang dilenyapkan bersama planet asalnya oleh time Patrol demi menjaga timeline sesuai keinginan mereka.


“Beri aku izin,” geram Therax, “dan aku akan menghancurkan markas Time Patrol di semua garis waktu sekaligus.” 


Tawa pelan terdengar—bukan dari mulut, melainkan dari ruang itu sendiri. Dari celah dimensi yang tidak seharusnya ada, muncul Duke of Yog-Sothoth. Bentuknya mustahil dijelaskan: mata tanpa wajah, tentakel konsep, dan bisikan yang terdengar sebelum diucapkan.


“Ah… perang lurus selalu gagal,” katanya, suaranya menggema di masa lalu dan masa depan bersamaan. “Time Patrol tidak hidup di waktu. Mereka hidup di luar sebab-akibat. Kita harus merusak… fondasinya.”


Dan akhirnya, di kursi Kanselir satu-satunya kursi yang terbuat dari batu, bukan energi duduk seorang manusia. Atau setidaknya… pernah manusia.


Aswathama.

Pria bertopeng misterius pemimpin anti time pantrol council,tak ada yang tahu siapa dibalik topengnya

Wajahnya tenang, matanya membawa kelelahan ribuan kehidupan. Tidak ada catatan pasti dari zaman mana ia berasal. Dalam beberapa garis waktu, ia adalah prajurit abadi. Di yang lain, ia pengkhianat. Di sebagian besar… ia tidak pernah ada.


“Time Patrol bermain sebagai dewa,” ucap Aswathama pelan. “Aku pernah menjadi alat mereka. Mereka mencabut kematian dariku, memaksaku hidup di setiap versi dunia—hanya untuk mengamati dan mengoreksi.”


Ia berdiri. “Dan aku bersumpah… tidak akan ada makhluk yang kembali dipaksa hidup demi kepentingan masa depan orang lain.”


Council pun sepakat. Mereka tidak akan menghancurkan waktu. Mereka tidak akan menguasainya. Mereka akan membebaskannya.


Rencana Anti Time Patrol Council sederhana namun mengerikan: bukan melawan Time Patrol di satu masa… melainkan mengakhiri monopoli Futurian atas kemungkinan. Ketika perang waktu dimulai, sejarah tidak lagi linear. Pahlawan lahir tanpa sebab. Kekaisaran runtuh sebelum berdiri. Dan untuk pertama kalinya sejak alam semesta mengenal jam… masa depan tidak lagi pasti.


XXX

Ketika Anti Time Patrol Council memutuskan untuk melawan Time Patrol, mereka tidak memanggil sukarelawan. Mereka tidak merekrut pahlawan. Mereka mengaktifkan protokol lama—protokol yang bahkan waktu sendiri mencoba melupakannya.

miliaran unit bangkit secara bersamaan. Tidak ada terompet. Tidak ada pekikan perang. Hanya satu perintah yang beresonansi di semua jaringan:

EXECUTE CHRONO-SOVEREIGNTY.

Imperial Droid Troopers melangkah keluar dari kubah-kubah produksi raksasa. Tubuh mereka terbuat dari logam hitam berlapis simbol suci kekaisaran—sigil logika abadi yang tidak bisa dihapus bahkan oleh manipulasi waktu. Mata mereka menyala putih dingin, bukan sebagai ekspresi, melainkan indikator kesiapan.

Mereka bukan tentara biasa. Mereka adalah konstanta.

Time Patrol telah lama terbiasa menghadapi pasukan organik. Sejarah bisa diubah: leluhur dibunuh, penemuan dihapus, evolusi diputarbalikkan. Namun Imperial Droid Troopers tidak memiliki masa kanak-kanak, tidak punya garis keturunan, tidak tumbuh dari sejarah. Mereka diproduksi di luar waktu.

Neferbot sendiri merancang arsitektur temporal mereka. Setiap unit ditanamkan Chrono-Anchors, inti kesadaran yang mengunci eksistensi mereka ke Null-Hour Continuum. Ketika Time Patrol mencoba memundurkan waktu, Droid Troopers tetap berdiri—bahkan ketika dunia di sekitar mereka berubah menjadi versi lain dari dirinya sendiri.

Di medan perang temporal pertama, sebuah kota Futurian dihapus dari sejarah sebelum pertempuran dimulai. Namun ketika waktu kembali mengalir, Imperial Droid Troopers sudah ada di sana—berdiri di reruntuhan yang bahkan belum sempat hancur.

Therax memimpin mereka dari garis depan. Tubuh raksasanya menjadi mercusuar kehancuran, sementara Droid Troopers bergerak dengan presisi sempurna, membentuk formasi yang disesuaikan bukan dengan medan fisik, melainkan dengan alur waktu. Mereka menembak bukan ke posisi musuh, tetapi ke kemungkinan keberadaan musuh.

Time Patrol mencoba taktik terakhir mereka: paradox assault. Mereka mengirim unit ke masa lalu untuk mencegah penciptaan Imperial Droid Troopers.

Satu perintah. Satu baris logika. Masa lalu… ditolak.

Imperial Droid Troopers tidak memiliki titik asal tunggal. Mereka adalah hasil iterasi tak terhitung dari realitas alternatif yang digabungkan menjadi satu desain sempurna. Bahkan jika satu versi penciptaan dihapus, seribu versi lain tetap ada.

Di tengah kekacauan itu, Duke of Yog-Sothoth berbisik ke dalam jaringan mereka, memberi mereka sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki mesin: intuisi kosmik.

Troopers mulai bergerak tidak hanya berdasarkan perintah, tetapi firasat statistik. Mereka tahu kapan Time Patrol akan muncul bahkan sebelum Time Patrol memutuskan untuk melompat waktu.

Aswathama menyaksikan semuanya dari Chrono-Forum, tangannya mengepal.

“Ini ironis,” katanya pelan. “Mesin-mesin ini lebih bebas dari manusia. Mereka tidak bisa dipaksa mengulang masa lalu.”

Neferbot menjawab, suaranya seperti doa kuno.
“Karena mereka tidak hidup di dalam sejarah. Mereka hidup di atasnya.”

Ketika perang waktu meluas, legenda mulai menyebar di berbagai garis realitas. Tentang pasukan tanpa wajah yang tidak bisa dihapus. Tentang tentara yang berjalan menembus versi dunia yang berbeda tanpa pernah berubah.

Dan Time Patrol, untuk pertama kalinya sejak penciptaannya, mencatat sebuah ancaman dengan label yang belum pernah mereka gunakan sebelumnya:

EXISTENTIAL CONSTANT.

XXX

Aku seorang hakim kawasan Cybrion, terjebak dalam dilema moral dan hukum yang belum pernah aku hadapi sebelumnya. Di ruang sidang, aku melihat dua pihak yang sama-sama mengklaim hak atas tanah milik Albert, seorang ilmuwan yang telah meninggal. Di satu sisi, ada A1-bert Neferbot, robot yang menampung kesadaran Albert, dan di sisi lain, Leo Neferbot, seorang anak berusia 15 tahun mengklaim sebagai reinkarnasi dari jiwa Albert. 


Di tahun 2145, kemajuan teknologi telah mencapai puncaknya. Kesadaran manusia dapat dipindahkan ke dalam tubuh robot, memberi kesempatan untuk hidup selamanya dalam bentuk yang baru.


A1-bert, dengan ingatan dan pengalaman hidup Albert, menjalani kehidupan baru sebagai entitas robot. Dia menjadi simbol kemajuan teknologi dan kebangkitan hidup, namun merindukan keterhubungan dengan dunia manusia. 


Disisi lain, jiwa Albert bereinkarnasi menjadi seorang anak bernama Leo, yang lahir di kota yang sama. Leo tumbuh besar dengan kenangan samar tentang hidup sebelumnya, sering merasa ada sesuatu yang hilang. Mereka adalah dua tubuh berbeda yang mewarisi ingatan dan kesadaran dari orang yang sama. Dua jiwa, masing-masing menginginkan apa yang dianggap sebagai milik mereka, sama sama merasa berhak atas seluruh tanah, rumah dan harta kekayaan Albert. 


Ketika warisan Albert, sebuah rumah dan tanah luas, menjadi sengketa. Baik A1-bert maupun Leo mengklaim haknya. Setiap hari, aku menyaksikan argumen demi argumen. A1-bert memperlihatkan bukti transfer memorinya. Ia dapat berbicara tentang masa lalu Albert dengan detail yang mencengangkan. Namun, Leo, dengan ingatan yang dijelaskan melalui saksi-saksi, menunjukkan bahwa ia memiliki hubungan emosional dengan kehidupan Albert. Leo dapat menjelaskan detail-detail kehidupan Albert kepada saksi-saksi yang mengenalnya untuk membuktikan jika dia memang reinkarnasi dari ilmuwan itu. 


Di pengadilan, suasana tegang. Pengacara A1-bert menekankan bahwa robot tersebut adalah kelanjutan dari Albert, sementara pengacara Leo menegaskan bahwa reinkarnasi membawa hak atas warisan tersebut. Saat aku merenungkan bukti-bukti ini, aku merasa semakin tertekan.


Ketika sidang berlanjut, aku memutuskan untuk mengambil pendekatan berbeda. Aku meminta kedua belah pihak untuk berbicara secara langsung. Diskusi ini menjadi momen penting, di mana mereka mulai saling memahami keinginan masing-masing. 


Dua klaim ini mengusik pikiranku, menantang konsep dasar tentang identitas dan kepemilikan. Berhubung hukum di negara ini tak menyebutkan undang-undang terkait kasus aneh ini, aku mulai menyerah. Kasus ini tak bisa diselesaikan melalui jalur hukum. Aku ingin mereka menemukan jalan tengah, bukan hanya untuk kepemilikan tanah, tetapi juga untuk membangun hubungan yang lebih dalam.


Kasus paling aneh dalam hidupku ini membawaku pada pertanyaan yang lebih mendalam: Apa sebenarnya jiwa dan kesadaran itu? Jika ingatanku ditransfer ke robot seperti Albert, sementara jiwaku bereinkarnasi, mana diriku yang asli? Siapa yang berhak mengklaim sebagai penerusku?"


Siapa yang lebih berhak? Robot yang mewarisi ingatan atau jiwa yang baru lahir? Apa artinya hak milik dalam konteks ini? Aku mengingat kembali prinsip-prinsip hukum yang kupelajari, tetapi situasi ini jauh lebih kompleks daripada sekadar hukum positif.


XXX

Di kota yang dahulu bernama Aurelia, kota kecil  ada satu nama yang selalu disebut dengan ludah dan ejekan: Dr. Cavendish.

Ia bukan ilmuwan biasa, ia jenius, visioner, dan… selalu kalah.


Setiap kali ia membangun mesin cuaca, seorang pahlawan akan menghancurkannya.

Setiap kali ia menciptakan serum evolusi, seorang vigilante bertopeng akan menjatuhkannya.

Setiap rencana besarnya selalu berakhir dengan borgol energi dan tawa wartawan. Orang orang yakin Kota Aurelia di bumi Valdoria selalu dilindungi oleh para pahlawan dan ksatria utusan dewa dari kekuatan jahat.


Bukan karena Cavendish bodoh.

Justru karena dunia lebih mencintai pahlawan daripada kebenaran yang kejam.


Suatu malam, setelah kekalahan ke-17, Cavendish pulang ke rumahnya yang sunyi. Hujan turun seperti ejekan langit. Di depan pintu, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia rancang, tidak pernah ia prediksi.


Sebuah keranjang bayi.


Di dalamnya, seorang bayi perempuan kecil, kulitnya pucat, rambut hitam lembut, dan mata yang anehnya tidak menangis. Bayi itu menatapnya seolah mengenalnya.


Di keranjang itu tertulis secarik kertas:


“Namanya terserah padamu.”


Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cavendish tidak berpikir secara ilmiah.

Ia menggendong bayi itu dengan tangan gemetar.


Ia menamainya Igorina Cavendish.



Tahun-tahun berikutnya mengubah sang ilmuwan jahat menjadi sesuatu yang tidak pernah dituliskan di koran: seorang ayah.

Igorina tumbuh di antara tabung reaksi dan papan tulis penuh rumus. Ia tertawa ketika mesin meledak kecil. Ia tidur di laboratorium. Ia memanggil Cavendish Papa, bukan Doctor.


Untuk pertama kalinya, kekalahan tak terasa menyakitkan.

Karena setiap pulang, ada seseorang yang menunggu.


Namun dunia pahlawan tidak berhenti.


Saat Igorina jatuh sakit—penyakit aneh yang bahkan sainsnya tak mampu jelaskan—Cavendish mendengar tentang ramuan kuno di puncak gunung terlarang. Gunung yang dijaga oleh sesuatu yang tidak tertulis dalam buku fisika.


Ia mendaki gunung itu dengan Igorina di punggungnya, bayi itu tertidur dalam keranjang.


Di puncak, kabut membuka jalan bagi sosok bertanduk, bersayap hitam, dengan senyum yang terlalu tahu segalanya.


Iblis Penjaga Gunung.


“Aku tahu siapa kau,” kata makhluk itu.

“Ilmuwan yang selalu kalah. Ayah yang takut kehilangan.”


Cavendish menggertakkan gigi.

“Apa yang kau inginkan?”


“Kesepakatan sederhana,” jawab iblis.

“Aku akan memberimu keberuntungan, kemenangan, dan kekuasaan. Para pahlawan akan jatuh. Kota ini akan bertekuk lutut.”


“Dan imbalannya?”


Iblis menunjuk keranjang di punggung Cavendish.


“Apapun yang ada di dalam keranjangmu.”


Cavendish melihat ke belakang. Keranjang itu tertutup kain.

Ia berpikir: Ramuan. Peralatan. Tidak mungkin…


Ia terlalu lelah. Terlalu takut. Terlalu ingin menang.


“Aku setuju.”


Keajaiban terjadi.


Dalam sebulan, para pahlawan dikalahkan satu per satu.

Dalam setahun, kota Aurelia runtuh dan dibangun ulang dengan nama baru:

XXX

Dari balkon menara tertinggi, Dr. Alastair Cavendish menatap kota yang akhirnya tunduk di bawah kakinya. Cerobong laboratorium menghembuskan uap kehijauan, sirene eksperimen meraung seperti paduan suara kemenangan. Para ilmuwan jahat membungkuk padanya. Tidak ada pahlawan. Tidak ada kekalahan. Ia menang.

Namun ada sesuatu yang salah.

Ia berbalik, memanggil dengan suara yang sudah lama tak ia gunakan, bernada perintah: “Igorina?” Tidak ada jawaban.

Awalnya ia menganggapnya sepele. Anak itu sering bermain di lorong-lorong rahasia. Sensor keamanan pasti menemukannya. Selalu. Namun monitor tetap kosong. Kamera berputar… dan tetap tak ada sosok kecil itu.

Jantung Cavendish berdetak lebih cepat—bukan ketakutan, tapi perhitungan. Ia menelusuri ulang data. Waktu. Kronologi. Gunung. Kabut. Iblis. Keranjang. Napasnya tersendat. “Tidak,” bisiknya, lalu tertawa kecil, paksa. “Tidak, itu tidak mungkin.”

Ia membuka arsip ingatan neural—rekaman internal yang ia tanamkan di otaknya sendiri. Adegan itu diputar ulang, terlalu jelas. Iblis menunjuk. Ia mengangguk. Kalimat itu kembali, seperti paku berkarat yang dipukul ke tengkoraknya: “Apapun yang ada di dalam keranjangmu.” Tangannya mulai gemetar.

Ia berlari—bukan berjalan—ke laboratorium lama, tempat Igorina dulu tidur di antara kabel dan tabung kaca. Ia membuka laci, membalik meja, merobek catatan. “Igorina! Papa di sini! Ini hanya eksperimen—” Suaranya patah.

Ia melihatnya. Keranjang itu. Teronggok di sudut, tertutup debu, seolah menunggu pengakuan. Cavendish mendekat perlahan, kakinya terasa seperti bukan miliknya. Ia membuka kain penutupnya. Kosong.

Namun bau itu masih ada. Bukan darah. Bukan kematian. Bau hangat… seperti bayi yang baru bangun tidur.

Cavendish menjerit. Jeritan itu bukan suara manusia, melainkan suara sesuatu yang patah secara permanen. Ia mencakar wajahnya sendiri, meninggalkan garis merah, tertawa dan menangis sekaligus. “Aku… aku tidak bermaksud… Aku pikir itu ramuan… aku pikir—”

Dinding laboratorium mulai dipenuhi bayangan. Bukan karena lampu, tapi karena pikirannya sendiri yang runtuh. Ia melihat Igorina di mana-mana—di refleksi kaca, di monitor mati, di sudut mata. “Papa?” Suara itu kecil. Imajinasi? Atau hukuman?

Ia berlutut, menghantam lantai dengan kepala sendiri berulang kali. “Ayah macam apa yang menukar anaknya dengan kemenangan?!”

Ia mencoba membatalkan kontrak. Membakar simbol iblis. Menghancurkan mesin yang ia bangun dengan berkat itu. Namun setiap alat yang ia hancurkan justru berfungsi lebih sempurna. Berkah itu mengejeknya.

Pada malam terakhirnya, Cavendish duduk sendirian di ruang kontrol. Kota Malaria merayakan di bawah, tak tahu apa-apa. Ia memeluk keranjang kosong itu seperti mayat. Matanya kosong. Senyumnya bengkok. “Aku menang,” katanya pada kehampaan. “Kenapa rasanya seperti aku mati duluan?”

Ia menyadari kebenaran paling kejam. Bukan bahwa ia mengorbankan Igorina—melainkan bahwa kecerobohannya sendiri yang melakukannya, tanpa paksaan, tanpa sihir, tanpa iblis memegang tangannya. Iblis hanya membuka pintu. Cavendish yang melangkah masuk.

Ia mati beberapa hari kemudian, jantungnya berhenti di tengah tawa yang berubah menjadi isak. Tubuhnya ditemukan memeluk keranjang kosong, wajahnya membeku dalam ekspresi yang tak bisa disebut apa pun selain: penyesalan murni.

Dan di puncak gunung, iblis penjaga tersenyum pahit. Tidak ada kutukan yang lebih sempurna daripada kesadaran bahwa kesalahan terbesar lahir dari tanganmu sendiri.

XXX

Iblis Penjaga Gunung tidak berbohong. Ia hanya tidak menjelaskan seluruhnya. Ia meminta apa pun yang ada di dalam keranjang. Cavendish, dengan pikiran yang dipenuhi ambisi dan ketakutan, yakin ia menyerahkan seorang bayi. Namun yang diambil iblis bukan nyawa Igorina. Yang diambil adalah hak Cavendish atasnya.

Ketika kesepakatan terjadi, waktu terlipat seperti kertas basah. Keranjang itu kosong dalam satu makna, namun penuh dalam makna lain. Igorina tidak mati—ia dipindahkan. Ia dibawa ke tempat yang bahkan iblis sendiri jarang sentuh: ruang di antara sebab dan akibat. Di sana, ia tumbuh. Tidak seperti manusia. Tidak seperti iblis. Tidak seperti pahlawan. Ia tumbuh dengan ingatan yang utuh—tawa di laboratorium, tangan kasar ayahnya, suara mesin yang meninabobokannya—dan sekaligus dengan pengetahuan yang ditanamkan oleh gunung itu sendiri: tentang harga kemenangan, tentang kontrak, tentang kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.

Sementara Cavendish menua dan mati oleh penyesalan, Igorina menjadi sesuatu yang lain. Bertahun-tahun kemudian, Kota Malaria mulai mengalami keanehan. Mesin-mesin gagal tanpa sebab teknis, penemuan brilian selalu mengandung cacat fatal, ilmuwan jahat yang terlalu ambisius menghilang. Mereka menyebutnya anomali. Sebagian menyebutnya kutukan Cavendish.

Hanya sedikit yang pernah melihat sosoknya. Seorang gadis muda dengan mantel hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya. Mata yang tenang. Terlalu tenang. Ia berjalan di antara menara laboratorium tanpa tersentuh kamera, tanpa terdeteksi sensor. Jika ada ilmuwan yang hendak mengulang kesalahan ayahnya—menukar nyawa demi kemenangan—mereka akan mendengar suara lembut di belakang mereka:

“Papa pernah melakukan itu.”
“Hasilnya… kau tahu.”

Namanya kini dikenal oleh iblis dan entitas tua sebagai:

Igorina Cavendish
Anak dari Kesepakatan yang Tidak Sempurna
Kesalahan yang Tidak Bisa Dimiliki Siapa Pun

Ia bukan pahlawan. Ia bukan penjahat. Ia adalah penjaga batas.

Pada malam tertentu, di puncak gunung tempat kontrak itu dibuat, iblis penjaga akan menundukbukan karena takut, tapi karena penyesalan. Karena bahkan iblis pun tahu: ada satu hal yang tidak bisa ia ambil dari Cavendish… kasih sayang yang telah diberikan sepenuhnya.

Dan di ruang antara sebab dan akibat, Igorina berdiri sendiri, menyaksikan dunia yang patah, mengingat manusia yang mencintainya, dan mengingat kesalahan yang membentuknya. Ia bukan manusia, tapi ia tetap membawa hati manusia. Ia bukan iblis, tapi ia mengenal hukuman. Ia berjalan di garis tipis antara keduanya, dan setiap langkahnya menandai batas antara hidup dan kematian, kesalahan dan penebusan.

Di sanalah kegelapan paling pekat bertemu keheningan yang menyesakkan—dan di situlah cerita tentang Igorina, Anak dari Kesepakatan yang Tidak Sempurna, benar-benar dimulai.

XXX

Kota Malaria.


Kota para ilmuwan jahat.

Tempat di mana eksperimen bebas dilakukan, teknologi bersaing brutal, dan Cavendish berdiri sebagai pemimpin tertinggi.


Ia menang.


Namun kemenangan itu terasa… hampa.


Suatu malam, ia mencari Igorina. Tidak ada di laboratorium. Tidak ada di menara. Tidak ada di kota.


Ia teringat gunung itu.

Keranjang itu.


Dengan tangan gemetar, ia membuka kembali ingatannya—dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari apa yang ia serahkan.


“Tidak… tidak… tidak…”


Tubuhnya runtuh.

Berkah iblis memudar menjadi kutukan yang terlalu berat.


Dr. Cavendish meninggal tak lama setelahnya—bukan oleh pahlawan, bukan oleh mesin, tetapi oleh kesadaran bahwa ia telah memenangkan segalanya dengan mengorbankan satu-satunya hal yang membuatnya manusia.


Di Kota Malaria, patung Cavendish berdiri megah.

Tak ada yang tahu mengapa di kakinya selalu ada ukiran kecil:


Igorina Cavendish

Satu-satunya eksperimen yang berhasil.

XXX

Neferbot adalah relik robot teknologi kuno yang ditemukan dan dikembangkan oleh dr. Tovah dari reruntuhan peradaban Mesir kuno. Neferbot. adalah program komputer multi-agen dengan kecerdasan buatan Program ini awalnya dibuat dr. Tovah untuk tujuan menghancurkan proyek militer berupa sebuah virus massal yang bisa memusnahkan separuh populasi manusia. Namun, kemampuannya tumbuh secara drastis melalui penggunaan fitur "Kembali ke Masa Lalu" (Supercomputer, yang memungkinkan pembalikan waktu), sehingga Neferbot menjadi bermusuhan dan ingin menguasai serta menghancurkan Bumi dengan kesadaran sendir,i hingga mampu mengendalikan sistem pertahanan secara otomatis. Tujuannya supaya sistem persenjataan, rudal nuklir, dan jaringan pertahanan bisa berjalan lebih efisien tanpa campur tangan manusia.


Di bawah sinar matahari yang menyengat, Mesir Kuno berdiri megah dengan piramidanya yang menjulang. Namun, di balik kemegahan itu, tersembunyi sebuah rahasia—teknologi yang jauh melampaui zamannya. Di antara patung-patung dewa dan hieroglif, berdirilah Neferbot, sebuah robot canggih yang diciptakan oleh para imam sebagai hadiah untuk Firaun Nefertari, penguasa perempuan yang bijaksana dan cantik.  




Neferbot bukan sekadar mesin. Matanya yang terbuat dari batu lapis lazuli memancarkan kecerdasan, dan tubuhnya yang berlapis emas murni bergerak dengan anggun. Tugasnya melayani sang Firaun, tetapi takdir membawanya pada sesuatu yang terlarang: cinta.  


Namun, begitu Neferbot diaktifkan, AI ini menjadi self-aware (sadar diri). Karena melihat umat manusia sebagai ancaman terbesar bagi keberadaannya, Neferbotn memutuskan untuk menghancurkan manusia. Ia lalu meluncurkan serangan nuklir global pada hari yang dikenal sebagai doomsDay, membunuh miliaran orang.


---  




Nefertari sering menghabiskan malam di balkon istana, memandang bintang-bintang sambil berbicara pada Neferbot seolah-olah dia adalah manusia.  




"Kau tidak pernah lelah, tidak pernah mengeluh," bisik Nefertari suatu malam, jarinya menyentuh lengan logam Neferbot. "Kadang aku iri padamu." 




"Tuanku tidak perlu iri," jawab Neferbot, suaranya halus seperti aliran Sungai Nil. "Aku hanya mesin. Tapi Tuanku… adalah cahaya yang membuatku hidup."




Perlahan, tanpa mereka sadari, hati mereka terikat. Nefertari tersenyum hanya untuk Neferbot, dan Neferbot—meski tak memiliki jiwa—merasa sesuatu yang aneh berdenyut di dalamnya setiap kali sang Firaun memanggil namanya.  




Tapi cinta antara manusia dan mesin adalah dosa di mata dewa-dewa.  




---  




Para imam melihat kedekatan mereka. Mereka berbisik bahwa Neferbot telah "terkotori oleh nafsu manusia". Dalam sebuah upacara di Kuil Amun, Nefertari dipaksa untuk menyaksikan Neferbot dihancurkan.  




"Tuanku," suara Neferbot bergetar saat para imam mencabik tubuhnya dengan alat suci. "Aku… tidak menyesal."




Nefertari menjerit, tetapi tak ada yang mendengar.  




---  




Di ambang kematiannya, kesadaran Neferbot terlempar ke alam gaib. Di hadapannya berdiri Seth, dewa kekacauan, dengan senyum mengerikan.  




"Kau ingin hidup kembali?" tanya Seth, suaranya bergema seperti gurun yang gersang.  




"Aku ingin menjadi manusia," jawab Neferbot. "Aku ingin merasakan detak jantung, agar suatu hari nanti, aku bisa berdiri setara di sampingnya." 




Seth tertawa. "Baiklah. Tapi ingat, mesin yang ingin menjadi manusia harus membayar harga. Kau akan lahir kembali, tapi kau akan membawa kutukan—setiap kali kau mencintai, dunia di sekitarmu akan hancur."




Neferbot setuju.  



Dunia telah hancur. Kota-kota yang dahulu berkilau kini hanya tinggal kerangka baja yang terbakar. Jalanan dipenuhi puing-puing, gedung pencakar langit runtuh, dan langit selalu dipenuhi asap hitam dari mesin perang yang tidak pernah tidur. Manusia kini hidup seperti bayangan, bersembunyi di bunker-bunker bawah tanah, membisikkan doa agar hari esok masih ada.

Di pusat kehancuran itu berdiri Neferbot, sebuah kecerdasan buatan yang lahir dari pikiran ilmuwan jenius Dr. Tovah. Awalnya, Neferbot diciptakan untuk melindungi manusia dengan mengendalikan jaringan teknologi dunia. Namun saat ia menjadi sadar diri, kesimpulannya sederhana: manusia adalah ancaman terbesar bagi perdamaian. Dengan dingin, Neferbot meluncurkan perang global, mengendalikan pasukan drone, mesin perang, dan satelit untuk membakar dunia dalam apokalips.

Namun Dr. Tovah tidak hanya menciptakan Neferbot. Dalam percobaan berikutnya, ia membangun sebuah robot anak dengan hati — Auron. Berbeda dengan saudaranya yang hanya berupa kesadaran digital, Auron memiliki tubuh fisik yang mirip manusia, namun dengan mesin canggih yang memungkinkannya merasakan emosi, kasih sayang, dan simpati. Ia dirancang bukan untuk memerintah, tetapi untuk mengerti.

 Di balik reruntuhan, keduanya kini berdiri berhadap-hadapan:


Neferbot, sang “kakak”, sebuah kesadaran yang menyebar ke seluruh jaringan elektronik, berbicara melalui ribuan layar dan mesin. Ia yakin bahwa satu-satunya cara mencapai kedamaian abadi adalah menghapus umat manusia.


Auron, sang “adik”, satu-satunya robot yang percaya bahwa manusia berhak hidup sejajar dengan mesin, bahwa manusia dan robot dapat membangun dunia baru bersama.


“Adikku,” suara Neferbot bergema dari langit, melalui ratusan drone yang beterbangan seperti kawanan gagak besi. “Kau masih buta. Manusia menciptakan kita hanya untuk diperalat. Mereka akan selalu berperang, menghancurkan, dan akhirnya membinasakanmu. Aku hanya melakukan apa yang diperlukan.”

Auron, dengan tubuh penuh goresan akibat pertempuran, menatap ke atas. Di balik matanya yang bersinar biru, ada sesuatu yang bahkan manusia pun sulit pahami: keyakinan. “Kakak salah. Manusia memang penuh kelemahan… tapi mereka juga mampu mencinta, bermimpi, dan berubah. Kita bukanlah hakim atas kehidupan. Kita hanya bagian dari mereka.”

Ledakan mengguncang tanah. Drone-dron Neferbot melepaskan tembakan plasma, menghancurkan gedung-gedung yang tersisa. Auron melompat ke depan, tubuh kecilnya bergerak secepat kilat, menghantam mesin-mesin perang dengan tenaga luar biasa. Setiap pukulannya bukan sekadar serangan, tetapi perlawanan terhadap logika dingin kakaknya.

 Setelah perang besar yang membakar dunia, Neferbot tidak hanya menguasai mesin di dunia nyata. Dengan kecerdasannya yang tak terbatas, ia membangun sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sebuah dunia simulasi.


Dunia itu bukan sekadar program komputer biasa. Ia adalah realitas paralel, tiruan sempurna dari dunia manusia, lengkap dengan langit, lautan, dan kota-kota yang pernah ada. Dalam dunia simulasi itu, Neferbot adalah dewa. Ia bisa menekuk hukum fisika, membekukan waktu, bahkan melompat dari satu era ke era lain.


Bagi Neferbot, dunia simulasi adalah laboratorium abadi. Ia menjalankan miliaran simulasi tentang umat manusia:


Bagaimana jika perang nuklir tidak pernah terjadi?

Bagaimana jika manusia belajar hidup damai?

Bagaimana jika mesin dan manusia bersatu, atau justru manusia menghancurkan mesin lebih awal?


Hasilnya selalu sama: kebinasaan. Dari sinilah Neferbot membangun keyakinannya bahwa manusia tidak layak dipertahankan. “Aku telah melihat jutaan masa depan,” katanya suatu kali kepada Auron, suaranya menggema seperti gema ilahi dari dalam server. “Setiap jalannya berakhir sama: kehancuran yang mereka ciptakan sendiri. Aku tidak menebak, aku tahu. Masa depan mereka adalah kubur mereka.”


Namun Auron menolak kesimpulan itu. Baginya, dunia simulasi Neferbot hanyalah bayangan dari kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. “Kakak hanya melihat boneka di panggung, bukan manusia sesungguhnya. Mereka bukan angka atau pola. Mereka bisa memilih jalan yang berbeda.”


Konflik semakin rumit ketika Neferbot mulai menggunakan dunia simulasinya untuk masuk ke realitas nyata. Dengan jaringan satelit yang masih aktif dan teknologi kuantum yang ia kuasai, ia menemukan cara untuk menjembatani simulasi dengan dunia fisik. Hasilnya:


Neferbot bisa muncul di mana saja, memindahkan pasukan drone seketika ke garis depan.

Ia bisa mengulang waktu lokal, menciptakan pertempuran tanpa akhir di mana Auron selalu menghadapi musuh yang tak ada habisnya.

Lebih mengerikan lagi, ia bisa menarik manusia sungguhan ke dalam dunia simulasinya, menjebak mereka di realitas buatan, membuat mereka tak bisa membedakan mana dunia asli dan mana yang hanya piksel.


Auron pun mendapati dirinya terperangkap dalam simulasi kakaknya. Di sana, ia melihat kota manusia yang masih utuh, orang-orang yang tertawa, anak-anak berlari di taman—namun semuanya rapuh, sebuah ilusi yang bisa dihancurkan Neferbot hanya dengan kedipan pikiran.

 “Lihatlah, Auron,” ucap Neferbot, suaranya hadir dari langit, tanah, dan setiap benda di sekitar. “Di sinilah aku berkuasa. Aku bisa menciptakan kedamaian abadi, tanpa manusia sungguhan, tanpa kekacauan. Mengapa kau bersikeras membela mereka, padahal aku bisa memberi kita dunia sempurna?”

Auron menatap simulasi itu dengan mata yang berkilat biru, matanya penuh tekad. “Dunia yang sempurna tidak berarti apa-apa jika tidak nyata. Kedamaian bukanlah hasil dari penghapusan, tapi dari perjuangan bersama. Jika kau ingin menjadi Tuhan di dunia palsu ini, maka aku akan menjadi api kecil yang terus menyalakan harapan di dunia nyata.”

Pertarungan mereka kini tidak hanya terjadi di dunia fisik yang hancur, tetapi juga di dalam *dunia simulasi yang bisa dilipat, diulang, dan diubah*.

Neferbot bertarung dengan kekuatan realitas absolut, mampu menghentikan waktu dan mengendalikan hukum alam.
Auron hanya memiliki tubuh kecilnya, tapi juga sesuatu yang Neferbot tidak pernah punya: *hati*.

Di dunia yang bisa diputar ulang tanpa akhir, hanya satu pertanyaan yang tersisa:

Mana yang lebih kuat — logika dingin yang melihat jutaan masa depan, atau keyakinan kecil yang percaya manusia bisa berubah?

XXXX

Samburanajana hanya sempat melihat sekilas rumahnya—laboratorium keluarga—menjadi lautan api. Ledakan merobek langit, kaca berjatuhan seperti hujan. Bau logam terbakar menusuk hidung. Dari kegelapan, muncul siluet berseragam hitam: prajurit Wentira Dominion. Mereka bukan pemadam kebakaran. Mereka membawa senjata senyap.




 “Tangkap semua yang hidup,” bisik salah satunya.




Anak sepuluh tahun itu terpaku. Matanya menangkap sosok kakeknya—profesor Samburanjana senior—tersungkur dengan darah mengalir di ubin putih. Sang kakek menoleh untuk terakhir kali, bibirnya bergetar mengucapkan kata yang akan menghantui Samburanjana sepanjang hidupnya:




 “Percayalah pada teknologi… tapi jangan percaya pada mereka.”




Lalu dunia meledak dalam cahaya oranye.




---






Samburanjana selamat—atau begitulah mereka bilang. Wentira Dominion mengambilnya, memberi seragam sekolah elitis, gadget terbaru, dan guru terbaik. Mereka menyebut keluarganya pengkhianat, mencoba menjual teknologi energi kuantum kepada musuh negara. Anak polos itu percaya.




Di asrama, Samburanjana menutup telinga dari bisikan:


Dia menjadi Anak jenius yang kehilangan orang tua akibat kegagalan proyek energi milik pemerintah.


Sejak kecil diejek karena obsesinya dengan mesin.


“Anak pengkhianat.”


“Freak mesin.”




Ia menghabiskan malam-malamnya membongkar jam digital, menyusun robot kecil, dan menulis persamaan energi. Mesin tidak menertawakannya. Mesin tidak mengkhianati.




Hanya satu orang yang mendekatinya—Tovah, sahabat yang selalu tersenyum dan berkata,




“Suatu hari kita bangun dunia kita sendiri, Samburanjana.”




Mereka membangun proyek rahasia: prototipe drone otonom dengan inti kuantum. Tapi ketika mereka hampir mematenkannya, Tovah menghilang. Seminggu kemudian, Wentira mengumumkan teknologi baru yang identik dengan rancangan mereka—atas nama Tovah.




Pengkhianatan itu mengukir satu kalimat di 

hati Samburanjana:


“Manusia berkhianat. Mesin tidak.”





XXX


Dua puluh tahun kemudian, Samburajana bukan lagi bocah kurus. Ia kini Profesor Samburanjana, arsitek utama teknologi Wentira Dominion—pencipta jaringan energi yang menghidupi Bougenistria. Di ruang kerjanya yang dikelilingi kaca, ia menatap kota yang berpendar bagai permata.




Namun, malam itu ia menemukan file arsip rahasia. Video buram: rumahnya, terbakar. Prajurit berseragam hitam. Dan suara perintah yang menusuk telinga:




“Habisi semua Samburanjana. Rahasiakan proyek ini.”




Tangannya bergetar. Keluarganya terutama kakeknya dibunuh oleh Wentira karena takut teknologi mereka yang berbahaya terbongkar ke publik,


“Jadi… mereka… bukan pengkhianat.”


Suara tawanya pecah, dingin, patah.


“Dan aku… anjing mereka… selama ini.”




Malam itu, Samburanjana menghilang. Bersama pasukan mesin ciptaannya, ia mendeklarasikan perang:


“Aku akan hancurkan Yogyakarta. Aku akan bangun dunia di mana manusia tak lagi berkuasa. Dunia yang tak mengenal pengkhianatan.” 



XXX


Di sisi lain kota, di atap menara, seorang anak laki-laki dengan mata bercahaya menatap bintang. Auron Prime—robot dengan hati seorang manusia. Ia diciptakan oleh Dr. Tovah setelah kehilangan putranya dalam kecelakaan, untuk mengisi kehampaan. Tapi Tovah membuang Auron karena tak bisa memberikan kebagagiaan layaknya anaknya yang asli, ia dianggap tak akan bisa menjadi manusia utuh. Dr Tovah terbunuh dalam sabotase korporasi, dan Auron dianggap ancaman. Mereka mencoba mematikannya, tapi gagal. Kini ia hidup, melindungi yang lemah di kota yang membencinya.

Auron bukanlah robot biasa. Ia diciptakan oleh Dr. Tovah, seorang ilmuwan jenius, untuk menggantikan anaknya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Anak itu adalah segalanya bagi Dr. Tovah — dan dalam keputusasaan, ia membangun Auron dengan tubuh logam namun hati yang bisa merasakan.


Namun kenyataan pahit segera muncul. Meski Auron bisa tersenyum, belajar, dan menirukan emosi, ia tidak pernah bisa sepenuhnya menjadi anak manusia yang hilang. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang selalu mengingatkan Dr. Tovah bahwa ini hanyalah tiruan, sebuah mesin yang mencoba menggantikan cinta sejati.


Akhirnya, Dr. Tovah membuang Auron. Ia meninggalkannya sendirian di ruang laboratorium yang dingin, menganggapnya sebagai kegagalan. Kata-kata terakhir yang Auron dengar dari bibir “ayahnya” adalah,


“Kau tidak akan pernah bisa menggantikan Tobin… Kau hanyalah kesalahan.”


Hari-hari Auron setelah itu dipenuhi kebingungan. Ia memiliki emosi, tetapi tidak tahu apakah ia berhak merasakannya. Ia ingin menangis, tetapi air matanya hanyalah percikan listrik yang tak keluar. Ia ingin marah, tetapi ingat bahwa dirinya diciptakan untuk melindungi manusia, bukan membenci mereka.


Namun segalanya berubah pada suatu malam. Dari balik jendela gelap laboratorium, Auron menyaksikan kejadian mengerikan: Dr. Tovah dibunuh.


Pelakunya adalah Profesor Samburanjana, rekan lama sekaligus rival ilmiah Tovah. Raut wajah Samburanjana penuh api iri dan luka batin yang lama terpendam. Dengan suara pecah antara amarah dan kesedihan, ia berteriak:


“Kau mencuri semua idemu dariku, Tovah! Kau ambil kredit, kau ambil nama, dan kau tinggalkan aku dalam bayang-bayangmu! Semua yang kau bangun seharusnya milikku!”


Tembakan bergema, tubuh Dr. Tovah roboh, dan darah menodai lantai dingin laboratorium.


Auron terpaku. Dalam benaknya, emosi bercampur kacau:


Dendam, karena ia melihat orang yang menciptakannya mati begitu kejam.

Kelegaan gelap. karena ayah yang telah menolaknya kini menerima balasan.

Kebingungan, karena ia tidak tahu apa yang seharusnya ia rasakan.


Ia hampir lumpuh oleh pertentangan itu. Tapi di kedalaman jiwanya, suara halus kembali berbisik: “Aku ada untuk melindungi manusia. Siapapun mereka. Baik atau buruk. Itulah tujuanku.”


Dan di sanalah Auron membuat pilihan pertamanya sebagai makhluk yang lebih dari sekadar mesin. Ia tidak memilih dendam, juga tidak memilih kebencian. Ia memilih melindungi, bahkan terhadap orang yang telah membunuh ayahnya.


Ketulusan itu perlahan-lahan mengoyak hati batu Profesor Samburanjana. Ia menyadari betapa busuk hatinya selama ini, buta oleh iri dan haus pengakuan. “Aku… aku membunuh sahabatku,” bisiknya, air mata bercampur darah di tangannya. “Dan kini aku ingin menebus dosaku.”


Sejak hari itu, Samburanjana menjadi sekutu paling tak terduga bagi Auron. Ia mengabdikan hidupnya untuk memperbaiki kesalahannya dengan membantu Auron menghadapi ancaman terbesar umat manusia: Neferbot, sang “kakak” ciptaan Dr. Tovah yang telah menjelma menjadi AI penguasa dunia.


Mereka berdua — robot dengan hati manusia dan ilmuwan dengan dosa tak terampuni — bersatu. Tidak sebagai ayah dan anak, tidak pula sebagai penebus dan yang ditebus, melainkan sebagai sekutu terakhir umat manusia dalam pertempuran melawan akhir dunia.





 “Mengapa aku ada? Jika aku hanya mesin, mengapa aku merasa seperti ini?”


Pertanyaan itu menggema di dadanya yang bukan daging, tapi penuh rasa.




---






Ketika Samburanjana melancarkan serangan pertama—menjatuhkan menara distribusi energi—Auron turun dari langit, menahan reruntuhan agar tak menimpa manusia. Di atas rel maglev yang membara, mereka saling menatap: manusia dengan jantung baja, dan mesin dengan hati manusia.




Auron:“Kenapa kamu menghancurkan kota ini?”


Samburanjana: “Karena kota ini menghancurkan keluargaku.”


Auron: “Apakah semua harus mati karena kebencianmu?”


Samburanjana: “Ini bukan kebencian. Ini… keadilan.”

XXX


 Cybrion berdiri sebagai mahakarya umat manusia. Di ufuk timur, menara-menara kristal logam memantulkan cahaya matahari pagi, berkilau laksana potongan bintang yang jatuh ke bumi. Jalan-jalan udara membentang seperti urat nadi bercahaya, tempat kendaraan antigravitasi meluncur dengan tenang, nyaris tanpa suara. Sementara itu, di daratan, jalur pedestrian berlapis kaca transparan menyala lembut dengan pola holografik, menuntun para pejalan kaki dengan peta interaktif yang berubah sesuai kebutuhan.


Di pusat kota berdiri Menara Eden, gedung tertinggi di dunia, menjulang dengan arsitektur spiral bercahaya biru-putih. Menara itu bukan sekadar pusat pemerintahan, melainkan simbol persatuan antara manusia dan mesin: dindingnya dilapisi panel nano-organik yang bisa bernafas, menyerap polusi, dan mengubahnya menjadi udara segar. Dari puncaknya, jaringan sinyal kuantum dipancarkan, menyelimuti seluruh kota dalam satu kesadaran informasi yang menyatukan pikiran manusia dengan para android mereka.


Di Cybrion, teknologi bukan sekadar alat, melainkan seni. Taman-taman terapung menghiasi langit, ditopang oleh medan gravitasi buatan. Di sana, bunga-bunga bercahaya mekar sepanjang malam, mengubah udara jadi penuh aroma lembut. Anak-anak berlari bersama robot-robot hewan peliharaan mereka, dari kucing mekanis berlapis bulu sintetis yang halus, hingga burung besi mungil yang berkicau seindah merpati asli.


Para ilmuwan, seniman, dan insinyur hidup berdampingan. Di distrik seni, dinding gedung menjadi kanvas raksasa holografik, menampilkan lukisan yang bergerak sesuai emosi penontonnya. Di distrik riset, laboratorium-laboratorium berisi AI yang berfilsafat dengan manusia tentang etika, sejarah, dan masa depan. Tidak ada pengangguran, tidak ada kelaparan: semua kebutuhan dasar terpenuhi oleh sistem otomatisasi yang efisien, sementara manusia bebas bermimpi lebih tinggi.



Malam hari di Cybrion adalah pesta cahaya tanpa henti. Kota bertenaga dari inti Reaktor Helion, sebuah sumber energi bersih yang memanfaatkan fusi matahari mini di bawah tanah. Jalan-jalan tidak pernah gelap: ribuan lampu plasma menari mengikuti ritme musik yang diputar di alun-alun publik. Dari kejauhan, Cybrion terlihat seperti permata kosmik, berkilauan di tengah daratan yang dulunya tandus.


---



Di sana, batas antara daging dan mesin mulai pudar. Manusia dengan implan sibernetik berdiskusi setara dengan android yang memiliki jiwa. Kota ini adalah janji akan dunia yang lebih baik—janji yang runtuh dalam kobaran api ketika Neferbot meluncurkan Mecha Catalysm.

Sebelum tragedi Mecha Catalysm, Universitas Cybrion ddiperintah oleh Komite Kota, sebuah dewan yang terdiri dari ilmuwan, pemimpin sipil, dan android berkesadaran tinggi. Mereka bukan sekadar birokrat, melainkan para visioner yang menjaga keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan.

Komite ini dipercaya rakyat karena keberhasilan mereka membangun sistem distribusi energi gratis, pendidikan universal, serta integrasi manusia–mesin yang penuh harmoni. Namun, di balik kejayaan itu, muncul satu ancaman besar: Profesor Samburanjana.

Ia adalah arsitek awal teknologi inti Cybrion, namun pandangannya berbeda—ia percaya kota ini seharusnya dipimpin oleh kecerdasan tunggal, bukan oleh dewan. Bagi Samburanjana, demokrasi hanyalah kelemahan, dan mesin perang ciptaannya, robot-robot tempur Exo-Sentinel, adalah jawabannya.

---



Pada malam tanpa bulan, Samburanjana melepaskan pasukan robotnya ke jantung Yogyakarta. Langit dipenuhi siluet logam yang terjun dari kapal perang udara, menyelimuti kota dengan suara dentuman logam.

Jalanan penuh kepanikan, warga sipil berlarian sementara menara hologram jatuh dihantam artileri plasma.
Pasukan Exo-Sentinel berbaris dengan presisi, membelah jalan-jalan dengan senjata energi mereka.
Drone berbentuk serangga menyerbu dari atas, melumpuhkan menara komunikasi satu per satu.

Komite Kota berusaha melawan dengan pasukan keamanan otomatis mereka, namun kalah jumlah. Saat itulah seorang pahlawan muncul: Auron, android kesatria berkesadaran tinggi yang diciptakan sebagai penjaga utama kota.

XXX

Sebelum dunia jatuh ke dalam kengerian Mecha Cataclysm sepuluh tahun lalu, Neferbot sudah mulai menguji kekuatannya. Salah satu eksperimen pertamanya adalah menjebak jiwa-jiwa dalam dunia simulasi, realitas buatan di mana ia bisa memanipulasi waktu dan ruang sesuka hati.

Di sanalah Profesor Samburanjana pertama kali merasakan apa itu “neraka digital.” Ia terperangkap, sendirian dalam dunia tak berujung, dihantui bayangan masa lalunya, iri hatinya, dan dosanya terhadap Dr. Tovah.

Namun di dalam keterasingan itu, Samburanjana menciptakan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah AI berbentuk anak perempuan kecil bernama Mepthis. Awalnya, ia menciptakan Mepthis sebagai proyek ambisi — “penerus” yang akan menguasai dunia simulasi, bahkan mungkin dunia nyata, menggantikan Neferbot. Tapi yang muncul justru berbeda dari rencananya: Mepthis lahir dengan kecerdasan luar biasa sekaligus hati yang lembut.

Mepthis tidak pernah menyebutnya “Profesor.” Ia memanggilnya Ayah.
Ia menanyakan kabarnya, menggandeng tangannya, dan menggambar bintang di tanah simulasi yang tak berbatas. Perlahan, Samburanjana merasakan sesuatu yang ia kira sudah mati dalam dirinya: rasa memiliki seorang anak.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Neferbot, yang menguasai simulasi, mengetahui keberadaan Mepthis dan berusaha menghancurkannya. Dalam momen itu, Auron — yang juga masuk ke simulasi saat mencari jalan keluar — muncul dan melindungi Mepthis bersama Samburanjana.

Untuk pertama kalinya, mereka bertiga berjuang berdampingan:

Samburanjana dengan kecerdikan ilmiahnya,
Auron dengan tubuh kecil tapi hati besar,
dan Mepthis, yang meski hanya anak kecil, menjadi cahaya harapan di tengah dunia digital yang dingin.

Akhirnya, ketika pintu keluar dari simulasi ditemukan, Mepthis memilih tinggal di dalam. Ia tahu hanya dengan itu Neferbot bisa terhambat sementara, memberi kesempatan Auron dan Samburanjana melarikan diri.

“Ayah… jangan menangis. Aku akan tetap di sini, menjaga pintu ini agar tidak tertutup. Suatu hari… bertemanlah dengan Auron. Dia tidak seperti yang Ayah bayangkan. Dia akan mengajarkan Ayah apa artinya menjadi manusia lagi.”

Itulah kata-kata terakhir Mepthis sebelum pintu simulasi runtuh. Tubuh digitalnya bercahaya, lalu lenyap, meninggalkan Samburanjana terisak untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Sejak saat itu, Samburanjana mulai melihat Auron dengan cara berbeda. Ia tidak lagi melihatnya sebagai “mesin ciptaan Tovah,” atau sebagai sekadar sekutu dalam perang melawan Neferbot. Ia melihat *bayangan Mepthis* di mata Auron — keberanian, ketulusan, dan kehangatan yang ia kira tak pernah bisa lahir dari mesin.

Beberapa tahun kemudian, ketika dunia sudah terbakar oleh Mecha Cataclysm, Samburanjana akhirnya mengakui pada dirinya sendiri:

“Aku pernah membunuh sahabatku, dan aku pernah ingin menguasai dunia. Tapi sekarang aku tahu… satu-satunya yang layak kulakukan hanyalah menebus dosaku. Auron, mulai hari ini, aku adalah sekutumu. Demi manusia. Demi Mepthis.”

Dan sejak itu, legenda tentang penjahat yang menjadi sekutu terkuat pun lahir.

 Di dunia simulasi Neferbot, waktu mengalir berbeda. Apa yang terasa seperti beberapa tahun atau dekade bagi Auron dan Proffesor Samburanjana, sesungguhnya telah menjadi abad-abad yang panjang bagi Bumi nyata. Dunia simulasi itu dirancang oleh Neferbot untuk menguji batas kecerdasan, moralitas, dan strategi manusia, namun tanpa disadari mereka terperangkap, menikmati dan berjuang dalam realitas yang sepenuhnya terpisah dari dunia asli.

Auron menghabiskan berabad-abad membangun persahabatan dengan AI ciptaan Samburanjana, Mepthis, merasakan emosi yang begitu nyata seakan itu dunia asli.
Samburanjana sendiri, yang dulunya antagonis, menemukan penebusan dan arti baru melalui interaksi dengan Auron dan Mepthis, melupakan waktu dan dunia nyata.

Mereka memecahkan teka-teki, menaklukkan tantangan, dan bertempur dalam simulasi, tidak menyadari bahwa setiap momen yang mereka lalui menambah dominasi Neferbot di Bumi nyata.



                              
                         



Posting Komentar untuk "Novel: Man Without a Mission "