![]() |
| Devianart by Moribato. |
Selama miliaran tahun, Matahari hanya diam.
Ia membakar, memelihara, dan menyaksikan.
Manusia menyebutnya bintang, dewa, inti kehidupan tapi sesungguhnya, ia hanya tidur.
Namun pada tahun yang tak pernah lagi dicatat, sesuatu yang tak pernah diperkirakan terjadi. Matahari “terbangun.” Matahari bangun sekitar abad ke 48 Masehi atau 1,5 juta tahun yang lalu, setelah miliaran tahun dalam kestabilan bintang.
Tidak dalam bentuk bola api yang dingin dan tanpa jiwa, melainkan sebagai bayi kosmik—mata bersinar seperti plasma, suaranya getaran yang mengguncang orbit.
Matahari yang selama ini dianggap hanya sebagai benda mati, sebuah bola gas raksasa ternyata adalah mahluk hidup yang memiliki emosi dan kesadaran. Bahkan, bisa dibilang sebuah dewa kosmik yang marah terhadap kerusakan manusia.
Fenomena itu dimulai dengan anomali gravitasi dan denyutan energi yang tak dapat dijelaskan. Dalam hitungan minggu, wajah bercahaya muncul di permukaan fotosfer menyerupai bayi, menangis tanpa suara, namun tiap “isakannya” melepaskan gelombang radiasi gamma yang menembus atmosfer.
Teleskop di seluruh dunia merekamnya sebuah entitas kosmik yang tampak sadar.
Para ilmuwan menyebutnya Solar Sentience Event, tapi bagi umat manusia, itu adalah Hari Kebangkitan Dewa Matahari.
Gelombang radiasi pertama memusnahkan 70% kehidupan di Bumi. Dalam dua tahun berikutnya, atmosfer berubah menjadi lautan ion panas. Kota-kota meleleh, lautan menguap, dan hanya sedikit manusia yang berhasil bersembunyi di bawah tanah.
Ketika Matahari melihat Bumi, ia menangis layaknya bayi. Matahari itu sering mengeluarkan air mata merah darah yang membakar benua.
Tangisnya bukan suara, tapi gelombang radiasi yang melahap samudra dan membakar langit.
Ia menangis karena melihat semua kenangan kekerasan—perang, kelaparan, senjata yang mencabik sesama makhluk ciptaan cahaya akibat ulah manusia.
Setiap air mata nuklirnya menghancurkan benua.
Manusia mencoba melawannya dengan membangun cermin raksasa, menembakkan misil ke angkasa tapi bagaimana melawan bintang yang hidup?
Dalam seabad, peradaban lenyap.
Yang tersisa hanyalah mereka yang bersembunyi di bawah tanah, jauh dari sinar sang bayi Matahari.
Para penyintas membangun koloni bawah tanah bernama Erebos selama 1,5 jura tahun, di mana kehidupan bertahan dengan teknologi biologis yang diciptakan dari sisa DNA manusia. Untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan abadi, tubuh mereka bermutasi: kulit pucat, mata menyala merah, dan metabolisme mereka berubah.
Mereka tidak lagi manusia mereka adalah Homo Sanguinis, ras baru yang bergantung pada darah sintetis untuk hidup. Mereka menyebut diri mereka Nosferan, keturunan gelap yang hidup dari darah sintetis… hingga bahan itu habis.
Namun ketika bahan sintetis habis, mereka menemukan satu-satunya cara untuk bertahan: menembus waktu.
Mereka kembali ke masa lalu, ke zaman ketika Matahari masih tertidur dan manusia masih bermimpi di bawah sinarnya.
Manusia masa lalu menjadi satu-satunya sumber kehidupan mereka.
Dengan teknologi kronosfer — hasil penelitian kuantum dari abad terakhir — para ilmuwan vampir membuka lorong waktu menuju masa sebelum Matahari bangun, ke zaman kuno ketika manusia masih hidup di bawah cahaya hangat yang “tidur.”
Misi mereka bukan menyelamatkan sejarah, melainkan berburu. Karena mereka tahu waktu adalah sungai yang tak bisa dibelokkan dengan pengetahuan mereka yang masih terbatas
Mereka menculik manusia dari masa lalu, memanen darah dan jaringan, dan mengirimnya kembali ke Erebos. Tapi dari generasi ke generasi, beberapa vampir muda mulai mempertanyakan moralitas ini.
Mereka bertanya:
“Jika Matahari pernah tidur dan kini bangun karena dosa manusia, apakah kita — yang hidup dari darah manusia — akan membangunkannya lagi?”
Namun, beberapa Nosferan—yang lahir dari keluarga rendah—memiliki tugas lain untuk mencegah kemarahan Matahari:
Mereka naik ke permukaan bumi, ke reruntuhan dunia lama, untuk menghibur bayi Matahari.
Mereka menari di bawah radiasi, membawakan lagu, puisi, dan kisah tentang perdamaian agar sang bayi percaya:
“Manusia, atau apa pun yang tersisa darinya, masih mampu mencintai.”
Mmproyeksikan ilusi kehidupan bahagia agar bayi kosmik itu percaya bahwa manusia masih baik.
Namun, setiap kali Matahari tersenyum, radiasi meningkat seolah ia tahu mereka berbohong.
1,5 juta tahun berlalu. Manusia tak lagi disebut manusia.
Tubuh mereka berevolusi, darah mereka menyesuaikan diri dengan kegelapan.
Mereka menemukan cara terakhir untuk bertahan hidup: melintasi waktu.
XXX
Lima abad kemudian, Erebos hampir runtuh.
Bangsa vampir memutuskan untuk meninggalkan Bumi — mencari bintang lain yang masih “tertidur.”
Dalam mitos Nosferan, ada ramalan:
suatu hari mereka akan meninggalkan Bumi, berlayar menuju bintang lain yang masih tertidur,
agar bisa membangun dunia baru sebelum matahari berikutnya terbangun dan kembali menangis.
Dan mungkin, di alam semesta yang luas dan sunyi,
bayi-bayi bintang sedang bermimpi yang sama —
tentang makhluk kecil yang menyebut dirinya manusia,
dan tentang harapan kecil untuk dimaafkan oleh cahaya.
Tapi sebelum mereka berangkat, satu di antara mereka, seorang anak vampir kasta rendah yang lahir dari gen manusia murni, mendengar suara dalam tidurnya:
“Aku belum selesai bermimpi. Jangan bangunkan Aku lagi.”
XXX
Bumi Universe 661, satu setengah juta tahun lalu....
Namaku Constantine. Ya, Constantine. Nama yang terdengar seperti pahatan marmer dingin di aula katedral tua—berat, khidmat, dan sedikit mengancam. Orang-orang biasanya berharap aku berjalan dengan bahu tegang, alis mengerut, dan suara bariton penuh wibawa. Kenyataannya? Aku sering tertawa terlalu keras, menepuk bahu orang asing seolah kami sahabat lama, dan bersiul saat menyemir sepatu dinas.
Aku pemadam kebakaran. Dan sampai hari ini aku masih merasa nama itu seperti mantel kebesaran yang salah ukuran—kebesaran untuk seseorang seceria aku.
Aku tinggal dan bekerja di Bougenistria, sebuah negara kecil yang bahkan sering luput dari peta dunia. Tapi percayalah, negara kecil ini punya hati yang besar. Penduduknya ramah dengan cara yang tulus: menyapa tanpa perlu alasan, tersenyum tanpa curiga, dan selalu punya waktu untuk bertanya apakah kau sudah makan. Kota tempatku bertugas tidak pernah benar-benar tidur, tapi juga tak pernah terburu-buru. Seperti napas panjang yang stabil.
Ada satu hal tentang diriku yang tidak pernah berubah, bahkan sebelum aku tahu bahwa waktu bisa retak dan para penyihir menjaga semesta seperti orang menjaga api unggun di malam purba.
Aku mencintai pekerjaanku.
Bukan sekadar suka, bukan karena gaji—yang bahkan sering terasa tidak sepadan—tapi karena menjadi pemadam kebakaran membuat dunia terasa jujur. Api tidak berbohong. Asap tidak bernegosiasi. Entah kau sigap atau kau terbakar.
Aku selalu memakai topiku.
Topi pemadam kebakaran Bougenistria—model lama, baja dicat merah tua dengan lambang negara yang sudah tak lagi dipakai secara resmi sejak rezim lama runtuh. Catnya terkelupas di beberapa sisi, penyok kecil di belakang akibat tertimpa balok kayu bertahun lalu. Tapi aku membersihkannya setiap malam. Bukan karena peraturan. Karena rasa hormat.
Aku memakainya bahkan saat tidak bertugas.
Saat membeli roti.
Saat duduk di halte.
Saat berjalan sendirian di lapangan sore hari.
Beberapa orang menatap heran. Beberapa tertawa kecil. Aku tidak peduli. Topi itu bukan kostum bagiku—itu pengingat bahwa kapan pun sesuatu terbakar, aku adalah orang yang harus maju, bukan mundur.
Seragamku juga jarang kulepas.
Jaket pemadam berwarna gelap dengan garis reflektif yang mulai pudar, tambalan nama “CONSTANTINE” dijahit ulang sendiri karena benang aslinya putus. Di bahu kanan masih ada bekas hangus yang tidak pernah benar-benar bisa dibersihkan—sisa kebakaran gudang bahan kimia lima tahun lalu.
Bau asap sudah menyatu dengan kainnya.
Dan jujur saja—dengan tubuhku.
Secara fisik, aku bukan tipe pahlawan poster.
Tubuhku sedang, tidak besar, tapi padat—dibentuk oleh tangga darurat, selang berat, dan malam-malam tanpa tidur. Bahuku sedikit membungkuk, kebiasaan membawa beban terlalu lama. Tanganku penuh bekas luka kecil: goresan logam, lepuhan lama, garis putih bekas jahitan.
Wajahku… biasa.
Rahang tegas tapi tidak mencolok. Hidung sedikit bengkok karena pernah patah saat runtuhan plafon. Kulitku kecokelatan oleh matahari dan asap. Di bawah mata, ada lingkaran gelap permanen—oleh kelelahan, atau mungkin oleh sesuatu yang lebih dalam.
Rambutku hitam gelap, selalu dipotong pendek karena lebih praktis. Jenggot tipis sering tumbuh tidak rata karena aku terlalu malas mencukurnya setiap hari. Mataku cokelat tua—sering terlihat lelah, tapi tidak kosong.
Aku terlihat seperti pria yang kau temui di jalan dan lupakan lima menit kemudian.
Dan aku tidak pernah keberatan dengan itu.
Menjadi pemadam kebakaran mengajariku satu hal penting: yang masuk ke api jarang diingat, tapi tanpa mereka, tidak ada yang tersisa untuk diingat.
Ketika aku mengenakan seragam itu, aku tahu siapa diriku.
Setiap pagiku dimulai dengan cara yang sama. Aku bangun sebelum matahari sepenuhnya memutuskan untuk muncul, membuka jendela apartemen kecilku, dan menghirup udara Bougenistria yang dingin dan bersih. Lalu aku berkata pada diriku sendiri—kadang keras-keras—“Hari ini pasti ada yang bisa kubantu.” Entah itu api besar atau sekadar pintu yang macet.
Di perjalanan menuju kantor pemadam, aku hampir selalu berhenti. Menolong nenek Mila menyeberang jalan, mengangkat peti apel untuk kios kecil milik Pak Radu, atau sekadar mendengarkan keluhan penjaga toko roti tentang oven tuanya yang rewel. Mereka tahu aku pemadam kebakaran, tapi lebih dari itu, mereka tahu aku Constantine yang selalu tersenyum. Yang membawa semangat seperti membawa selang air—siap digunakan kapan saja.
Di kantor, rekan-rekanku sudah hafal kebiasaanku. Aku yang pertama datang, menyeduh kopi untuk semua orang, dan menyalakan radio tua di sudut ruangan. “Bagaimana mungkin orang bernama Constantine selalu bersenandung?” kata kapten kami pernah bercanda. Aku hanya mengangkat bahu. Api tidak pernah menunggu orang yang muram, pikirku.
Saat sirene meraung, dunia berubah. Tapi semangatku tidak. Aku berlari menuju truk dengan fokus, dengan ketenangan yang anehnya selalu disertai rasa syukur. Setiap kebakaran adalah ancaman, ya, tapi juga kesempatan: kesempatan untuk melindungi, menyelamatkan, dan mengingatkan diriku sendiri mengapa aku memilih pekerjaan ini.
Aku ingat satu sore ketika kami memadamkan api di rumah kayu di pinggir kota. Setelah api padam dan asap menipis, seorang anak kecil menarik ujung jaketku. Wajahnya hitam oleh jelaga, matanya besar dan penuh tanya. “Om namanya siapa?” tanyanya.
“Constantine,” jawabku.
Dia tertawa. “Namanya berat, tapi omnya ringan.”
Aku tertawa bersamanya.
Malam hari, setelah tugas selesai, aku sering berjalan pulang meski kakiku lelah. Bougenistria di malam hari sunyi dengan cara yang ramah. Lampu-lampu jendela seperti kunang-kunang, dan orang-orang masih melambaikan tangan saat aku lewat. Aku membalasnya, selalu.
Mungkin namaku tidak cocok dengan sifatku. Mungkin juga tidak cocok dengan pekerjaanku—karena Constantine terdengar seperti penakluk, bukan pemadam api. Tapi aku tidak keberatan. Nama hanyalah bunyi. Yang penting adalah apa yang kulakukan setiap hari: bangun dengan semangat, bekerja dengan hati, dan membantu setiap orang yang kutemui.
Dan jika dunia terbakar esok hari, aku akan tetap datang sambil tersenyum, membawa air, membawa harapan—Constantine yang ceria, dari
Bougenistria yang ramah.
Aku harus jujur sejak awal: aku tidak spesial. Tidak ada kisah takdir agung di balik namaku, tidak ada bakat luar biasa yang membuatku berbeda dari orang lain. Aku Constantine yang sama seperti ribuan orang lain di Bougenistria—bangun pagi, bekerja, pulang dengan tubuh lelah, lalu tidur dengan pikiran sederhana: semoga besok sedikit lebih baik.
Aku tidak selalu berani. Tanganku kadang gemetar saat pertama kali memegang selang di depan api besar. Aku pernah salah mengambil keputusan kecil dan dimarahi kapten. Pernah juga pulang dengan perasaan gagal karena kami datang terlambat menyelamatkan sesuatu. Semua pemadam kebakaran punya cerita seperti itu. Tidak heroik, tidak layak dijadikan legenda.
Hari-hariku pun biasa saja. Aku bangun karena jam weker, bukan karena panggilan jiwa. Aku mengeluh soal kopi yang terlalu pahit dan sepatu dinas yang mulai usang. Aku tertawa bersama rekan-rekan bukan karena hidupku sempurna, tapi karena tertawa membuat segalanya terasa lebih ringan. Jika tidak ada panggilan darurat, aku menyapu lantai kantor, membersihkan peralatan, dan menunggu—seperti orang-orang lain menunggu giliran hidup mereka bergerak.
Di Bougenistria, menjadi orang biasa bukanlah hal yang memalukan. Justru di situlah aku merasa pas. Aku berdiri di antrean roti seperti semua orang. Aku duduk di bangku taman saat istirahat, mendengarkan obrolan yang tak penting tapi hangat. Tidak ada yang menunjukku sebagai pahlawan. Mereka hanya mengenalku sebagai Constantine, pemadam kebakaran yang lewat setiap hari.
Aku membantu orang bukan karena aku luar biasa, tapi karena siapa pun di posisiku mungkin akan melakukan hal yang sama. Mengangkat barang, menunjukkan jalan, memadamkan api—itu pekerjaanku, bukan keajaiban. Jika aku tersenyum, itu karena hidup terasa lebih mudah dijalani dengan senyum, bukan karena aku punya rahasia kebahagiaan.
Kadang aku berpikir, mungkin itulah yang membuatku tenang. Aku tidak perlu menjadi istimewa. Aku hanya perlu hadir. Datang tepat waktu. Melakukan bagianku dengan sebaik yang aku bisa, lalu memberi ruang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Jujur saja, aku bosan dengan dunia yang begitu-begitu saja. Dunia nyata terasa seperti lingkaran yang berputar di tempat: bangun, bekerja, makan, tidur, lalu mengulanginya dengan wajah yang sedikit lebih lelah. Rutinitas ini kadang terasa gila—seolah waktu bergerak, tapi aku tidak benar-benar ikut berjalan.
Ada hari-hari ketika aku berdiri di depan cermin, mengenakan seragam pemadam kebakaran, dan bertanya dalam hati: ini saja? Bukan karena aku membenci pekerjaanku. Tidak. Aku justru melakukan semuanya dengan benar, sesuai aturan, sesuai jadwal. Terlalu sesuai.
Kadang aku merasa bersalah karena satu hal: di tengah kebosanan itu, ada saat-saat tertentu ketika dadaku justru terasa hidup. Saat sirene meraung. Saat panas api menjilat udara. Saat tubuhku dipaksa fokus penuh, tanpa ruang untuk pikiran kosong. Kadang—dan aku jarang mengakuinya—aku merasa bergairah saat memadamkan api. Bukan karena kehancurannya, tapi karena di sana tidak ada kepura-puraan. Api jujur. Ia berbahaya, ia nyata, dan ia menuntutku hadir sepenuhnya.
Di momen-momen itu, dunia berhenti menjadi abu-abu.
Namun setelah api padam, setelah selang digulung dan laporan ditulis, semuanya kembali seperti semula. Kota Bougenistria tetap ramah, orang-orang tetap tersenyum, dan aku kembali menjadi Constantine yang sama—orang biasa dengan langkah yang terukur. Seolah-olah hidup memberiku cuplikan singkat tentang sesuatu yang lebih besar, lalu menariknya kembali dengan halus, tanpa penjelasan.
Aku sering bertanya-tanya, kapankah hidupku yang sebenarnya akan dimulai. Apakah nanti, di usia tertentu? Atau saat sesuatu yang besar terjadi? Atau mungkin hidup ini sudah dimulai sejak lama, dan aku hanya terlalu sibuk menunggu versi lain darinya versi yang lebih dramatis, lebih bermakna, lebih nyata menurut bayanganku sendiri.
Aku tidak tahu jawabannya. Yang aku tahu, setiap pagi aku tetap bangun, mengenakan seragamku, dan melangkah keluar dengan harapan kecil yang keras kepala: mungkin hari ini ada sesuatu yang berbeda. Mungkin hari ini bukan sekadar pengulangan. Mungkin hari ini, tanpa aku sadari, hidup itu benar-benar dimulai—pelan-pelan, seperti bara kecil yang belum sempat menjadi api.
Aku Constantine. Orang biasa, di negara kecil yang tenang. Tidak lebih, tidak kurang. Dan jujur saja, itu sudah cukup.
XXX
Aku tidak pernah benar-benar sendirian di kantor pemadam kebakaran, tapi entah kenapa aku selalu merasa seperti berdiri sedikit di luar lingkaran. Semua orang tahu namaku—Constantine, ambil selang itu, Constantine, cek tekanan air—namaku disebut dengan lancar, tanpa ragu. Tapi berhenti di situ saja. Tidak ada yang benar-benar mengenalku lebih jauh dari fungsi dan jadwal tugasku.
Aku sudah berusaha. Aku selalu berusaha.
Aku ramah, tertawa di waktu yang tepat, menimpali obrolan meski kadang terlambat setengah detik. Aku ingat ulang tahun mereka, nama anak-anak mereka, bahkan kebiasaan kopi masing-masing. Tapi anehnya, semua itu seperti memantul kembali padaku. Aku ada, tapi tidak pernah benar-benar *hadir* bagi mereka.
Hari itu kami piknik kecil-kecilan setelah tugas pagi. Tidak resmi, hanya duduk di rerumputan dekat area bekas kebakaran tadi pagi. Mereka membawa sayap ayam, jagung bakar, marshmallow. Asap tipis dari panggangan bercampur tawa mereka yang lepas, akrab, seolah sudah saling terhubung sejak lama.
Aku berdiri sebentar, lalu mendekat.
“Aku bisa bawa popcorn,” kataku, sedikit lebih keras dari yang biasa kulakukan. “Aku lihat ada yang jual jagung kering di jalan tadi.”
Tidak ada yang menoleh.
Mereka terus mengobrol—tentang lelucon lama, tentang pertandingan akhir pekan, tentang sesuatu yang aku tidak tahu awalnya dari mana. Aku tersenyum canggung, menunggu celah untuk masuk lagi. Tidak ada. Seakan-akan suaraku hanya bagian dari suara angin.
Aku teringat buku panduan tipis yang pernah kubaca, entah kenapa aku membelinya, buku panduan tentang membangun relasi kerja. Di salah satu halaman tertulis: “Mulailah hari dengan mencoba akrab bersama rekan-rekanmu. Koneksi kecil membangun kepercayaan besar.”
Aku menatap mereka, lalu diriku sendiri, dan bertanya dalam hati: aku harus mencoba berapa kali lagi?
Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang. Brosur makanan yang tadi kubawa—daftar belanja kecil yang kusiapkan agar bisa berguna terlepas dari tanganku. Kertas itu melayang, berputar, lalu terbawa ke arah bangunan di seberang lapangan.
Bangunan yang tadi pagi terbakar dan aku padamkam apinya.
Laboratorium tua berbentuk aneh, penuh sudut tajam dan jendela tinggi seperti mata kosong. Dulu fasilitas riset milik rezim diktator Bougenistria yang tumbang tiga puluh tahun lalu. Bertahun-tahun dilupakan, sampai tadi pagi terbakar entah karena apa. Kami sudah memadamkannya, tapi bangunan itu masih berdiri—hangus, diam, dan terasa tidak seharusnya ada di sana.
Aku berjalan mengejar brosur itu sendirian. Tidak ada yang memperhatikan aku pergi.
Saat itulah aku melihatnya.
Seorang gadis berdiri di dekat pintu runtuhan laboratorium. Pakaiannya tidak masuk akal untuk tempat itu—gaun panjang sederhana dengan warna pucat, seperti milik putri dongeng atau penyihir dari cerita masa kecil. Rambutnya tergerai, menangkap cahaya sore dengan cara yang membuatku berhenti melangkah.
Menurut SOP, aku seharusnya melaporkan siapa pun tanpa seragam proyek di area reruntuhan. Itu jelas. Tanganku bahkan refleks bergerak ke radio di pinggangku.
Tapi aku tidak melakukannya.
Aku tertegun. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena kehadirannya terasa… salah dan benar sekaligus. Seolah dia tidak seharusnya ada di sana, namun dunia juga tidak keberatan dia berada di situ.
Matanya berwarna biru tua, memantulkan cahaya bintang seperti pusaran air. Ia berdiri di antara lingkaran simbol sihir yang mengambang di udara, seolah melawan sesuatu yang tak bisa kulihat. Saat ia menoleh, ada rasa aneh di dadaku perasaan bahwa aku pernah mengenalnya.
Aku berdeham, mencoba terdengar ramah. “Hei—tidak apa-apa. Aku pemadam kebakaran. Tempat ini masih berbahaya.”
Dia menoleh. Matanya besar, tenang, tanpa rasa takut. Justru aku yang merasa jantungku berisik.
Aku melangkah mendekat, berniat memastikan dia aman, berniat entah kenapa membuatnya tidak takut. Tapi begitu aku mendekat beberapa langkah lagi, dia mundur, lalu berbalik masuk ke dalam reruntuhan.
“Tunggu!” panggilku.
Aku mengejarnya, melewati puing dan bayangan. Tapi di dalam sana hanya ada debu, dinding hangus, dan bau sisa asap. Tidak ada jejak langkah. Tidak ada kain tersangkut. Tidak ada apa pun.
Dia menghilang.
Aku berdiri sendirian di dalam laboratorium tua itu, dengan brosur makanan kusut di tanganku dan suara tawa rekan-rekanku yang samar terdengar dari kejauhan. Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa sesuatu bergerak di dadaku—bukan kebosanan, bukan juga kesepian.
Sesuatu seperti awal dari pertanyaan baru.
Mungkin aku memang selalu diabaikan. Mungkin aku orang biasa yang mudah terlupakan. Tapi barusandi antara api, reruntuhan, dan gadis yang tak seharusnya ada—aku merasa hidupku menyentuh sesuatu yang lain.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berpikir.
mungkin ini bukan kebetulan.
XXX
Aku terbangun dengan rasa dingin di pergelangan tangan.
Diikat.
Logam. Bukan borgol biasa—lebih halus, lebih rapat, seperti mencengkeram niatku untuk bergerak, bukan hanya tulangku. Kepalaku berdenyut. Ruangan ini… bukan lagi reruntuhan.
Aku tidak jatuh. Aku dipadamkan.
Kesadaranku kembali perlahan, seperti api kecil yang dipaksa menyala di ruangan kedap udara. Hal pertama yang kurasakan adalah dingin di pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Bukan dingin logam biasa, tapi dingin yang terasa seperti menggigit niat. Aku mencoba menggerakkan jari—tidak bisa. Bukan karena terikat kuat, tapi karena tubuhku seperti lupa bagaimana caranya bergerak.
Aku membuka mata.
Aku berada di sebuah ruangan steril dengan dinding putih keabu-abuan, tanpa sudut yang jelas. Lampu tidak menggantung di langit-langit, namun cahaya datang dari segala arah, rata dan kejam. Udara berbau ozon, seperti setelah sambaran petir, dicampur aroma logam panas.
Dindingnya bersih. Terlalu bersih. Lampu putih tanpa sumber yang jelas. Bau ozon dan sesuatu yang mengingatkanku pada hujan di atas kabel terbakar.
Empat orang berdiri di depanku.
Tiga laki-laki, satu perempuan.
Mereka tidak tampak seperti tentara, tapi juga bukan ilmuwan. Pakaian mereka seragam dalam ketidakteraturannya jaket gelap, bahan yang tidak kukenal, dengan garis tipis berpendar di beberapa sambungan. Tidak ada lencana. Tidak ada nama. Wajah mereka tenang, terlalu tenang, seperti orang-orang yang terbiasa melihat manusia sebagai variabel.
Tidak ada seragam, tapi mereka berpakaian serasi jaket gelap dengan garis tipis berpendar di kerah. Wajah mereka tenang, profesional, seperti orang-orang yang terbiasa memutuskan nasib tanpa emosi.
Salah satu dari mereka berbicara lebih dulu.
“Nama: Constantine. Profesi: pemadam kebakaran. Anomali kontak tingkat rendah, tapi signifikan.”
Aku mencoba bicara. Tenggorokanku kering.
“Aku… aku di mana?”
“Markas Time Patrol,” jawab perempuan itu datar. “Universe 616.”
Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku saat itu. Tapi cara dia mengucapkannya—seperti alamat, bukan konsep—membuat bulu kudukku berdiri.
Salah satu pria menekan sesuatu. Udara di sekitarku bergetar.
“Kamu melihat entitas non-terdaftar,” katanya. “Itu pelanggaran.”
“Gadis itu?” kataku refleks.
Keheningan singkat. Lalu—itu sudah cukup sebagai jawaban.
Angka itu terdengar absurd, tapi cara dia mengucapkannya—seperti alamat rumah—membuatku merinding.
Aku mencoba tertawa, tapi tenggorokanku kering.
“Aku cuma pemadam kebakaran. Aku lihat seorang gadis di bangunan terbakar. Itu saja.”
“Justru itu masalahnya,” kata perempuan itu. “Kamu tidak seharusnya melihatnya. Apalagi mengejarnya. Apalagi merasakan keterhubungan hingga masuk ke markas rahasia kami.”
Salah satu pria menggeser layar transparan di udara. Gambar-gambar muncul: laboratorium tua itu, garis waktu, grafik yang bergerak terlalu cepat untuk kupahami. Di salah satu sudut layar, ada siluet Guinevere.
“Entitas lintas-waktu,” kata pria lain. “Energi tidak stabil. Sudah lama bersembunyi di timeline ini.”
“Dan manusia seperti kamu,” lanjut perempuan itu, “adalah risiko.”
Aku akhirnya melihatnya.
Mereka menjelaskan tanpa benar-benar peduli aku mengerti:
tentang garis waktu, tentang observasi, tentang betapa berbahayanya jika manusia biasa menyadari bahwa sejarah bukan sesuatu yang tetap.
“Ada solusi paling bersih,” kata pria ketiga sambil menunjuk ke belakangku.
Aku menoleh sebisa mungkin.
Mesin.
Bukan besar. Justru terlalu sederhana. Cincin logam berdiri vertikal, di dalamnya udara tampak… kosong. Tidak gelap. Tidak terang. Tidak ada. Sebuah mesin berdiri diam—sederhana, hampir elegan. Dua pilar logam membentuk cincin vertikal, dan di tengahnya udara tampak kosong dengan cara yang salah. Bukan gelap. Bukan terang. Seperti ruang yang belum pernah diisi oleh keberadaan apa pun.
“Apa itu?” suaraku hampir berbisik.
“Penghapus eksistensi,” jawabnya tanpa emosi. “Solusi bersih. Tanpa paradoks.”
Aku menggeleng pelan.
“Kalian mau membunuhku?”
“Kami mau memastikan kamu tidak pernah ada,” katanya.
Mereka mulai mendekat.
Dan saat itulah—udara berubah.
“Melenyapkan objek dari eksistensi,” kata perempuan itu. “Tanpa paradoks. Tanpa jejak.”
Aku tertawa pendek lebih karena panik daripada berani.
“Karena aku lihat seorang gadis?”
“Karena kamu mulai bertanya,” jawabnya.
Mereka mulai menggerakkanku.
Dan saat itulah—udara berubah. Lampu berkedip, bukan karena rusak, tapi seolah ragu apakah mereka harus tetap ada. Bayangan bergerak ke arah yang tidak konsisten dengan sumber cahaya. Salah satu agen Time Patrol tersentak, seperti ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat.
Suara itu terdengar lagi.
Lembut. Tenang.
“Cukup.”
Dia berdiri di ujung ruangan.
Gadis penyihir itu.
Gaun pucatnya kini tampak kusam, seperti disulam dari cahaya yang hampir padam. Matanya masih tenang—tapi ada ketegangan di sana, seperti api kecil yang dipaksa menyala di tengah angin.
Pertempuran terjadi tanpa ledakan besar. Lebih seperti dunia yang menolak patuh.
Waktu melambat di satu sudut, melipat di sudut lain. Salah satu agen terhempas ke dinding tanpa disentuh. Yang lain menjerit saat perangkat di pergelangan tangannya meleleh seperti lilin.
Guinevere menarik ikatanku sampai terlepas. Tangannya dingin.
“Ayo,” katanya singkat.
Kami berlari.
Lorong demi lorong yang tidak seharusnya muat di dalam bangunan tua itu. Alarm tanpa suara. Cahaya merah yang tidak berkedip, tapi menyebar.
Di tikungan ketiga, Gadis penyihir itu tersandung.
Aku menangkapnya. Tubuhnya ringan—terlalu ringan.
“Aku kehabisan energi,” bisiknya. Wajahnya pucat. “Mereka… terlalu banyak.”
Langkah kaki mendekat.
Aku membuat keputusan tanpa berpikir.
“Arah keluar?” tanyaku.
Dia menunjuk—dan menghilang dari pelukanku sejenak, muncul beberapa meter di depan, terhuyung. Teleportasi terakhir, mungkin.
Kami menerobos pintu. Namun, di tengah pengejaran, gadis penyihir asing itu dan aku berpencar, dan karena gadis penyihir itu kehabisan energi dan tak bisa bertarung kita hampir terkepung. Untungnya, dengan mobil pemadam kebakaran yang masih ada di luar, aku berhasil menyelamatkan gadis itu dengan menabrakkan mobil tersebut ke para Time Patrol dan membawa gadis itu pergi.
Udara malam menghantam wajahku.
Dan di sana seperti doa bodoh yang terkabul mobil pemadam kebakaran masih terparkir, kunci masih di tempatnya.
Aku menggendong Gadis penyihir itu dan, melemparkannya ke kursi penumpang, lalu menyalakan mesin.
Empat sosok Time Patrol muncul di ambang gerbang kompleks Lab.
Aku tidak mengerem.
Tabrakan itu keras. Logam berteriak. Dunia berguncang.
Aku tidak melihat apakah mereka mati. Aku tidak peduli.
Aku hanya menyetir.
Jauh.
Saat akhirnya aku berhenti, Gadis penyihir itu sudah duduk tegak. Wajahnya lebih stabil.
“Terima kasih,” katanya.
“Jangan bilang terima kasih,” kataku. “Jelaskan.”
Dia tersenyum kecil. Sedih.
“Belum waktunya.”
“Namamu?” desakku.
“Guinevere.”
Lalu, seperti asap yang memilih arah sendiri—dia memudar.
Menghilang.
Lagi. Keesokan harinya, aku menerima surat peringatan dan pemotongan gaji karena merusak mobil pemadam kebakaran, ya siapa juga yang akan percaya dengan cerita fantastis tadi.
XXX
Tidak ada yang menyangka bahwa akhir abad ke-21, zaman yang disebut era stagnasi oleh sejarawan Futurian akan menjadi titik awal kehancuran hukum kosmik. Bangsa Futurian adalah peradaban dari masa depan alternatif universe kita.
Bangsa Futurian dalam waktu hanya sekitar satu abad berhasil mencapai tingkat peradaban Kardashev Tipe 5, mereka mampu mengeksploitasi energi di seluruh galaksi, di seluruh alam semesta, bahkan memanipulasi berbagai peristiwa di alam semesta lain. Karena teknologi mereka begitu maju para Magical Girl atau Mahou Shouju yang merupakan perwujudan kekuatan kosmik kuno selalu kesulitan bahkan seringkali hampir mustahil mengalahkan mereka.
Alam semesta mengangap Time Patrol seperti sebuah anomali yang harus dihapuskan, alam semesta selalu mengirim para Mahou Shouju di seluruh alam semesta di berbagai zaman untuk menghentikan Time Patrol, namun para gadis suci yang memiliki kekuatan dewa dewi bahkan tak dapat menghentikan keserakahan manusia.
Di semesta mereka, manusia nyaris punah.
Matahari-matahari tua mulai padam, sumber daya galaksi terkuras, dan teknologi hanya mampu menunda kepunahan, bukan mencegahnya. Perang tidak lagi terjadi antarnegara, melainkan antartimeline—konflik kecil yang tak sengaja tercipta dari eksperimen waktu ilegal.
Lalu, seseorang mengajukan pertanyaan terlarang:
“Bagaimana jika waktu tidak harus dipatuhi?”
Pertanyaan itu tidak dijawab oleh dewa.
Tidak pula oleh alam semesta.
Ia dijawab oleh manusia.
Dalam seratus tahun hanya satu abad singkat umat manusia melampaui semua hukum yang pernah mengikat mereka. Mereka memeras energi galaksi seperti baterai. Mereka menambang lubang hitam. Mereka membuka alam semesta lain dan menyedot sisa panas kematiannya.
Dan ketika hukum kosmik mencoba menghentikan mereka, manusia… menulis ulang hukum itu.
Mereka menyebut diri mereka Futurian. Futurian memiliki Unit Khusus yang menangani Time Patrol di Triliunan alam semesta dan triliunan galaksi. Markas Time Patrol tidak berada di satu tempat.
Ia ada di antara detik ke nol dan detik yang tidak pernah terjadi—sebuah benteng kronal yang menggantung di luar arus waktu. Dari luar, ia tampak seperti pecahan galaksi yang dibekukan. Dari dalam, ia sunyi, bersih, dan dingin seperti ruang operasi realitas.
Officer John Smith, Pemimpin Time Patrol di universe 616 berdiri menghadap jendela temporal.
Di hadapannya, ribuan timeline mengalir seperti benang cahaya sebagian stabil, sebagian retak, sebagian sudah mati.
“Timeline ke-771 runtuh,” lapor suara datar di belakangnya.
John tidak menoleh.
“Penyebab?”
“Intervensi Magical Girl kelas Paradox. Era feodal Jepang. Takdir seharusnya menghasilkan perang lokal. Dia menghentikannya.”
John menghela napas pelan.
“Berapa persen dampaknya terhadap masa depan Futurian?”
“Enam koma dua persen penurunan ekspansi multisemesta.”
“Cukup besar.”
John akhirnya berbalik. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi, seperti seseorang yang sudah melihat akhir dunia terlalu sering.
“Panggil Time Patrol. Kita turun tangan.”
Ruang briefing berbentuk lingkaran. Di tengahnya, sebuah bola cahaya berdenyut—model waktu hidup yang terus berubah.
Sydney sudah ada di sana, dikelilingi hologram rumus dan peta realitas. Rambutnya acak-acakan, matanya berbinar seperti seseorang yang baru saja menemukan rahasia semesta.
“Magical Girl ini menarik,” katanya cepat. “Dia bukan sekadar penjaga. Dia terikat langsung dengan hukum keseimbangan kosmik. Menghapusnya akan—”
“—menyebabkan gelombang balik?” potong John.
“Tidak,” Sydney tersenyum tipis. “Menyebabkan pembebasan.”
Di sudut ruangan, Ingrid berdiri diam. Tubuhnya ramping, logam hitam dan putih menyatu dengan sisa daging manusia. Matanya menyala biru redup.
“Aku siap,” katanya singkat. Tidak ada emosi di suaranya, tapi ada sesuatu yang tertahan—seperti gema manusia yang belum sepenuhnya mati.
Pintu terbuka.
“Uh… aku datang tepat waktu, kan?”
Wornwood masuk sambil tersenyum canggung. Tubuhnya besar, bahunya lebar, wajahnya ramah—tidak ada yang menyangka bahwa dia bisa merobek struktur realitas dengan tangan kosong.
John menatap mereka satu per satu.
“Kita tidak sedang menyelamatkan dunia,” katanya.
“Kita sedang menyelamatkan masa depan kita sendiri. Jika itu berarti melawan dewi kecil penjaga takdir—maka biarlah.”
Wornwood mengangkat tangan ragu-ragu.
“Pak… kalau takdir itu penting buat semesta, kenapa kita selalu mengacaukan—”
John memotongnya dengan tatapan tajam.
“Karena semesta tidak peduli apakah manusia bertahan hidup atau tidak.”
Hening.
“Dan kita peduli.”
Mereka tiba di era target—langit merah senja, pedang beradu, jeritan perang.
Di atas reruntuhan kuil tua, seorang gadis berdiri.
Rambutnya panjang, pakaian tempurnya bercahaya dengan simbol kosmik kuno. Di tangannya, tongkat sihir berdenyut dengan energi takdir.
Ia menoleh.
“Aku tahu kalian akan datang,” katanya lembut. “Kalian selalu datang.”
Sydney mendesah.
“Lihat? Dramatis. Semua Magical Girl begitu.”
Gadis itu menatap John.
“Kalian melanggar hukum semesta. Setiap perubahan kalian menciptakan penderitaan lain.”
John melangkah maju.
“Dan setiap takdir yang kau jaga mengorbankan jutaan nyawa di masa depan.”
Ingrid mengangkat senjatanya.
Wornwood menurunkannya perlahan.
“Tunggu,” katanya pelan. “Apa tidak ada cara lain?”
Gadis itu tersenyum sedih pada Wornwood.
“Siapapun yang mencoba elawan takdir, akan mendapatkan ganjaran.”
Detik berikutnya, langit retak.
Pertempuran tak terelakkan energi waktu melawan sihir kosmik, kehendak manusia melawan takdir itu sendiri.
Saat semuanya berakhir, timeline itu stabil, dipaksa stabil.
Magical Girl itu menghilang, bukan mati, tapi dihapus dari kemungkinan.
Markas Time Patrol kembali sunyi.
Wornwood duduk sendiri, menatap tangannya.
“Kita menang,” katanya lirih. “Tapi kenapa rasanya seperti kalah?”
Ingrid si gadis Cyborg berdiri di belakangnya.
“Karena mungkin… kita memang sedang melawan sesuatu yang lebih besar dari kita.”
Di kejauhan, John Smith menatap arus waktu yang terus mengalir.
Ia tahu satu hal dengan pasti:
Perang ini belum berakhir.
Dan suatu hari, takdir akan melawan balik.
XXX
Mereka bilang aku ditemukan di depan panti asuhan pada malam hujan, terbungkus kain lusuh dan membawa kalung kecil bertuliskan satu kata: “Constantine.” Aku tidak pernah tahu siapa orang tua kandungku.
Itu satu-satunya hal yang kumiliki dari masa lalu. Tak ada catatan lahir, tak ada asal-usul. Hanya nama itu.
Hidup di panti asuhan membuat waktu terasa datar, seperti hari-hari yang menolak berubah. Tapi aku selalu merasa... ada sesuatu yang menungguku di luar.
Aku tumbuh tanpa banyak kenangan, tanpa masa lalu untuk dirindukan.
Kadang, aku bermimpi tentang seorang gadis yang menatapku di bawah cahaya matahari sore, rambutnya panjang, suaranya lembut.
Dia memanggilku adik kecil.
Tapi setiap kali aku mencoba mengingat wajahnya, cahaya itu menelan semuanya.
Dan setiap kali aku mencoba mendekat, dunia di sekeliling kami hancur menjadi serpihan cahaya.
Beberapa tahun kemudian, Suatu hari, pasangan suami-istri datang ke panti.
Mereka tampak tenang dan kaya, tapi wajah mereka suram, seperti orang yang baru kehilangan sesuatu.
Aku tak tahu kenapa, tapi ketika mata Ibu itu bertemu mataku, dia langsung menangis.
Ayahnya hanya berdiri diam, menatapku lama, seolah mengenal wajahku.
Aku tersenyum kikuk. Tapi di dalam hatiku, aku merasa... aneh.
Karena aku yakin, aku pernah mendengar suara itu sebelumnya.
Suaranya sama seperti gadis dalam mimpiku.
Hari itu aku benar-benar merasa hidupku dimulai.
Mereka membawaku ke rumah besar di pinggiran kota, rumah dengan taman bunga lavender dan jendela tinggi yang membiarkan matahari masuk seperti sungai cahaya.
Rumah mereka besar dan tenang, dipenuhi cahaya matahari yang menembus kaca jernih.
Ibu memelukku erat malam itu, lalu berkata pelan,
“Mulai sekarang, kau bagian dari keluarga ini, Constantine.”
Ibu gemar menanam bunga, Ayah sibuk di ruang kerjanya, dan aku hanya anak kecil yang masih canggung memanggil mereka “Ayah” dan “Ibu.”
Tapi ada sesuatu yang aneh sejak pertama kali aku melangkah ke ruang tamu.
Di rak foto keluarga, ada satu bingkai kosong.
Bingkai itu berdebu, tapi di kacanya masih ada bekas jari — seolah seseorang pernah sering mengelapnya.
Di ujung lantai dua, ada sebuah kamar dengan pintu yang selalu terkunci.
Aku sempat bertanya,
“Kamar siapa itu, Bu?”
Tapi Ibu diam lama, lalu menjawab tanpa menatapku:
“Tidak ada siapa-siapa di sana.”
---
Suatu sore, aku membantu Ibu membersihkan gudang.
Di antara tumpukan buku lama, aku menemukan foto keluarga.
Ada Ayah, Ibu, dan... seorang gadis berambut panjang, tersenyum di tengah mereka.
Di bawah foto itu tertulis:
“Keluarga Asteria — Ayah, Ibu, dan Catrina.”
---
Suatu malam, aku mendengar suara dari kamar atas.
Suara musik — lembut, seperti seseorang sedang memainkan piano.
Aku berjalan pelan menaiki tangga, mengikuti melodi itu, tapi ketika sampai di depan pintu, suara itu berhenti.
Kamar itu terkunci.
Ibu bilang itu kamar yang sudah lama tidak dipakai.
Tapi anehnya, setiap kali aku lewat, aku merasa ada seseorang di dalam — mengintip dari balik tirai.
Dan setiap kali aku menyebut soal itu, wajah Ibu langsung berubah.
“Constantine,” katanya pelan, “di rumah ini cuma ada kita bertiga. Jangan menakut-nakuti Ibu, ya?”
---
Suatu sore, aku sedang membantu Ibu membersihkan lemari lama di ruang bawah tanah.
Di antara tumpukan buku dan mainan tua, aku menemukan foto keluarga.
Ada Ayah, Ibu, dan seorang gadis — kira-kira tujuh belas tahun.
Dia tersenyum, berdiri di tengah mereka, dan anehnya, wajahnya sama persis dengan gadis dari mimpiku.
Aku menunjukkannya ke Ibu.
Dia menatap foto itu lama sekali, lalu tiba-tiba tersenyum kaku dan merenggutnya dari tanganku.
“Kamu salah lihat. Foto ini rusak. Tak ada siapa-siapa di situ.”
Malamnya, foto itu hilang.
---
Tapi sejak hari itu, semuanya berubah.
Aku sering mendengar langkah kaki di koridor, suara bisikan di tengah malam, bahkan semerbak wangi lavender setiap kali aku sendirian.
Suatu malam, aku bermimpi gadis itu datang padaku.
Dia duduk di tepi ranjangku dan berkata lembut:
“Kau adikku… jangan dengarkan mereka.”
Aku terbangun dengan air mata mengalir di pipi.
Dan di meja belajarku — entah bagaimana — terletak seikat bunga lavender segar.
---
Hari berikutnya, aku memberanikan diri bertanya pada Ayah.
“Ayah, dulu aku punya kakak, ya?”
Wajahnya kaku.
“Tidak, Constantine. Kami tidak pernah punya anak perempuan, kami tak punya anak kandung.”
“Tapi aku menemukan fotonya—”
“Tak ada siapa siap di foto itu” potongnya cepat.
Aku bisa merasakan ketakutan di suaranya.
Bukan kemarahan — tapi benar-benar ketakutan.
Seolah ada sesuatu yang tak boleh disebut.
---
Malam itu, aku kembali ke kamar atas.
Pintu yang selalu terkunci kini terbuka.
Di dalamnya, debu menutupi segalanya — tapi di dinding tergantung lukisan matahari.
Aneh sekali: matahari itu punya wajah, seperti bayi yang sedang menangis.
Dan di bawah lukisan itu, tergeletak boneka tua berbentuk kelinci, dengan pita biru di lehernya.
Ketika aku menyentuh boneka itu, udara di ruangan berubah dingin.
Bayangan gadis itu muncul di cermin, memandangku dengan mata basah.
“Constantine… aku Catrina. Aku bukan ilusi. Aku hanya… terlupakan.”
Lalu semuanya runtuh — cermin pecah, dinding bergetar, dan suara jeritan menyerupai nyanyian matahari menggema di kepalaku.
Sebelum pingsan, aku sempat mendengar satu kalimat terakhir dari bibirnya:
“Mereka membuatku menjadi dewi agar dunia tetap hidup. Tapi sekarang waktu mulai patah, Constantine. Dan kau… bukan manusia biasa.”
---
Ketika aku terbangun, rumah itu sudah gelap.
Langit di luar berdenyut seperti jantung.
Dan di dadaku, kalung logam yang dulu pudar kini bersinar samar, menulis kata baru yang belum pernah kulihat:
“Anak Sang Waktu.”
XXX
“Namun, kau juga telah menyelamatkanku dari Time Patrol dengan mobil pemadam kebakaran itu. Aku sungguh tidak menyangka manusia bisa seberani itu—terlebih ketika penyihir yang agung dan luar biasa sepertiku justru harus diselamatkan oleh manusia biasa yang bahkan tak mampu menggunakan sihir,” ujar Guinevere dengan nada congkak bercampur geli.
“Siapa yang kau sebut rendahan? Sudahlah, jelaskan apa yang kamu tahu tentang Catrina!”
XXX
Aku tahu sejak awal mereka tidak menganggapku setara.
Cara Antoinette memandangku seperti seseorang menilai benda cacat yang entah bagaimana lolos dari penyortiran terlalu jelas untuk disembunyikan. Cleopatra lebih sopan, tapi jarak di matanya sama dinginnya. Guinevere berdiri sedikit terpisah, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi dan memilih diam.
“Kau benar-benar membawanya ke sini?” Antoinette akhirnya berkata, suaranya mengandung tawa tipis yang tidak ramah. “Seorang pria biasa. Tanpa garis darah. Tanpa resonansi.”
Aku menghela napas pelan.
“Aku juga senang bertemu kalian.”
Antoinette bangkit dari bangku, berjalan mengelilingiku perlahan. Setiap langkahnya terasa seperti penilaian.
“Tulangmu rapuh,” katanya. “Waktumu linear. Jiwa tanpa jangkar kosmik. Kau bahkan tidak sadar betapa kecilnya eksistensimu dibandingkan apa yang kami lindungi.”
Cleopatra menimpali, suaranya lebih tenang tapi tidak lebih lembut.
“Kami berasal dari garis keturunan penyihir kuno. Sejak sebelum bahasa. Sejak sebelum bintang memiliki nama. Leluhur kami sudah menjaga keseimbangan ketika alam semesta masih panas dan liar setelah Dentuman Besar.”
Aku menatap lantai sesaat, lalu kembali ke mereka.
“Lalu kenapa aku di sini?”
Antoinette tersenyum miring.
“Itu pertanyaan yang sama.”
Guinevere akhirnya melangkah maju.
“Karena dia penting.”
Antoinette berhenti berjalan.
“Guinevere,” katanya tajam. “Kau membiarkan emosimu mengaburkan penilaian. Dia hanya manusia.”
“Dia adik Catrina.”
Kata itu jatuh seperti benda berat ke lantai batu.
Cleopatra membeku.
Antoinette berbalik perlahan, wajahnya berubah dari meremehkan menjadi… kosong. Bukan kaget biasa. Tapi seperti seseorang yang baru saja mendengar nama yang tidak seharusnya bisa diucapkan.
“Apa?” suara Antoinette nyaris berbisik.
Guinevere menatap mereka satu per satu.
“Constantine adalah adik Catrina.”
Ruangan menjadi sunyi dengan cara yang salah. Bahkan gema pun enggan muncul.
Aku mengernyit.
“Kalian… tahu nama itu?”
Cleopatra melangkah mundur satu langkah. Tangannya gemetar halus—hal yang sebelumnya kupikir mustahil darinya.
“Itu tidak mungkin,” katanya. “Tidak ada yang boleh mengingat Catrina.”
Antoinette menatapku sekarang, benar-benar menatapku, seolah mencoba melihat melalui aku.
“Kami menyaksikannya,” katanya pelan. “Kami bertiga… dan para penyihir agung lainnya.”
Guinevere mengangguk.
“Kami melihat Catrina naik.”
Aku merasakan dada sesak.
“Naik ke mana?”
“Ke eksistensi lebih tinggi,” jawab Cleopatra lirih. “Menjadi sesuatu yang bukan lagi makhluk waktu. Bukan lagi bagian dari narasi.”
Antoinette mengepalkan tangan.
“Dan saat itu terjadi, hukum penghapusan bekerja sempurna. Semua yang mampu mengingatnya… dilucuti ingatannya.”
Aku menggeleng pelan.
“Ibu Catrina sendiri?”
“Tidak mengingatnya,” potong Cleopatra cepat. “Bahkan meskipun ibu Catrina juga penyihir. Bahkan jika ia melahirkannya. Itu aturannya.”
Guinevere menatapku penuh arti.
“Kau satu-satunya yang tersisa.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada mesin penghapus eksistensi.
“Aku… tidak ingat apa pun tentang dia,” kataku jujur.
“Itu justru masalahnya,” kata Antoinette, suaranya kini kehilangan nada menghina. “Kau seharusnya tidak ada dalam persamaan ini.”
Cleopatra mendekat. Tidak ada lagi jarak dingin.
“Keberadaanmu adalah anomali waktu,” katanya. “Bukan karena kau mengingat Catrina. Tapi karena kau masih ada setelah ia pergi.”
Aku teringat hal-hal kecil yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.
Foto keluarga yang terasa tidak lengkap.
Ruang kosong dalam kenangan masa kecil.
Rasa kehilangan tanpa objek.
“Apa artinya itu?” tanyaku.
Antoinette menarik napas panjang.
“Itu berarti ketika Catrina naik… sesuatu menolak untuk sepenuhnya patuh.”
Cleopatra menatap langit-langit gereja tua itu, seolah melihat sesuatu jauh di atas sana.
“Time Patrol akan mencium ini cepat atau lambat. Mereka memburu anomali. Dan kau… Constantine… adalah luka kecil dalam struktur waktu.”
Guinevere melangkah ke sampingku.
“Itulah sebabnya aku menyelamatkannya.”
Antoinette menatapku lagi—kali ini tanpa hinaan. Tanpa senyum.
“Kami salah,” katanya singkat. “Kau bukan pria biasa.”
Cleopatra mengangguk pelan.
“Kau adalah bukti bahwa bahkan hukum kosmik bisa gagal.”
Keheningan turun lagi. Tapi kali ini, berbeda. Lebih berat.
Aku akhirnya bertanya, dengan suara yang hampir tidak kukenal sebagai milikku sendiri:
“Kalau Catrina masih ada… di mana dia sekarang?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Guinevere menatapku dengan mata yang terlalu tahu.
“Di mana pun para dewa tidak bisa kembali… kecuali dipanggil oleh sesuatu yang seharusnya tidak ada.”
Antoinette dan Cleopatra saling berpandangan.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal mereka aku melihat ketakutan di wajah para penjaga alam semesta.
XXX
XXX
Beberapa tahun kemudian, aku mulai memahami sedikit demi sedikit.
Potongan mimpi itu bukan sekadar kenangan melainkan pecahan dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dunia ini pernah hampir hancur.
Dan di tengah kehancuran itu, Catrina-lah yang menyelamatkannya.
Dia bukan manusia biasa. Dia seorang gadis penyihir yang ditakdirkan menjadi tumbal bagi keseimbangan alam semesta.
Semuanya berawal dari gadis pemalu dan lemah bernama Jadis yang baru saja pindah ke sekolah baru, di sekolah baru itu dia bertemu kelompok yang disebut gadis penyihir, Magical Girl atau yang biasa disebut sebagai Mahou Shoujo oleh orang Jepang termasuk Catrina sendiri yang menjadi sahabat dekatnya,
Ketika kota mereka diserang oleh Gurita telekinesis raksasa milik Time Patrol, kedua temannya menyelamatkannya.kemudian menjadi magical girl untuk melindungi Jadis.
Time Patrol bukan lagi pasukan penjaga waktu — mereka sudah jadi mesin paranoia.
Selama berabad-abad mereka kalah dalam perang yang tak dicatat sejarah: Perang Sihir Waktu, antara mereka dan para Mahou Shoujo — gadis-gadis anomali yang lahir dari percikan kekuatan mimpi dan emosi manusia.
Setiap kali Time Patrol mencoba memusnahkan mereka di masa lalu, realitas justru berubah — sejarah memperbaiki diri sendiri, dan para penyihir muda itu selalu muncul kembali, dalam bentuk dan era berbeda.
Lelah kalah, para petinggi Time Patrol memutuskan membuat senjata yang tak berasal dari waktu, tak dari sihir, tak dari manusia. Mereka menamainya Extra-Dimensional Biological Entity. Mahluk itu dipanggil Zoik oleh para Time Patrol
Time Patrol menciptakan makhluk mirip gurita raksasa dari dimensi lain.
Itu bukan alien sungguhan — melainkan rekayasa biologis buatan manusia.
Diciptakan oleh ilmuwan, seniman, dan penulis fiksi ilmiah yang mereka culik dari berbagai zaman dan pekerjakan diam-diam. Time Patrol membuat mereka bekerja di proyek rahasia di Antarktika, di mana mereka menciptakan makhluk biologis yang terlihat alien.
Ilmuwan waktu membangun reaktor neural — mesin yang bisa mengumpulkan seluruh pikiran manusia dari masa depan dan masa lalu. Dari jutaan jiwa itu, mereka menyatukan satu kesadaran tunggal: makhluk yang lahir dari rasa takut kolektif manusia terhadap kehilangan kendali.
Ia tidak punya nama pada awalnya. Hanya bentuk: kumpulan neuron cair, menjelma menjadi gurita raksasa karena sistem komputer tak mampu memberi wujud yang stabil.
Makhluk itu diisi dengan jaringan otak kloning dari psionik (manusia dengan kemampuan telepati), agar kematiannya bisa memancarkan gelombang psikis yang menyebabkan jutaan orang di kota mati mendadak karena mimpi buruk dan trauma mental ekstrem.
Gurita itu adalah senjata biologis telepati hasil rekayasa genetik, bukan monster luar angkasa sungguhan.
Banyak orang masih trauma psikologis karena “serangan alien” itu.
Hujan berisi potongan mini-octopus kadang turun sebagai pengingat.
---
Ketika Extra-Dimensional Biological Entity diaktifkan, tidak ada ledakan. Tidak ada cahaya.
Yang berubah hanyalah suara di kepala semua anggota Time Patrol: dengung lembut, seperti napas panjang.
Di dunia lain, para Mahou Shoujo tiba-tiba mulai bermimpi hal yang sama — lautan hitam, mata raksasa, dan bisikan yang menyebut nama mereka satu per satu. Mereka terbangun dengan hidung berdarah dan ingatan kabur.
Beberapa kehilangan kemampuan sihirnya. Beberapa menjadi gila.
Dan satu dari mereka mulai mendengar suara halus yang berkata,
“Aku tidak diciptakan untuk melawan kalian. Aku diciptakan untuk memahami kalian.”
---
Time Patrol tak tahu gurita sudah berkembang di luar kendali.
Makhluk itu mulai memanipulasi memori para ilmuwan, membuat mereka percaya bahwa mereka sedang bermimpi. Lalu ia muncul di dunia nyata bukan dari portal, tapi dari pikiran manusia yang cukup takut untuk membayangkannya.
Langit pecah. Kota tenggelam dalam gelombang psionik.
Namun satu hal jadi jelas:
Time Patrol menciptakan dewa dan dewa itu tak tahu bedanya antara cinta dan kehancuran.
Para Mahou Shoujo berkumpul, bukan untuk melawan, tapi untuk menahan kewarasan dunia.
Tetapi beberapa diantara mereka termasuk Catrina sendiri akhirnya mati saat melawan Entitas Biologis Ekstra-Dimensi terkuat.
Jadis yang sedih membuat kontrak dengan para dewa perusak agar bisa menjadi gadis penyihir untuk mengulang waktu agar bisa menyelamatkan teman temannya.
Jadis yang telah menjadi gadis penyihir terus mengulang waktu berkali-kali. Mencoba berbagai cara untuk mencegah kematian. Setiap kali gagal, dia memutar balik dunia lagi dan lagi, menentang hukum realitas dan para dewa.
Tapi di setiap timeline, Catrina selalu mati atau berubah menjadi monster.
Setiap pengulangan membuat Jadis semakin dingin, keras, dan sinis kehilangan sifat lembutnya demi menyelamatkan Catrina.
Ia menjadi sangat kuat dan berpengalaman dalam strategi serta senjata, menggantikan kekuatan sihir dengan senjata modern.
Tujuannya hanya satu: selamatkan Catrina, apapun caranya.
Menyadari bahwa semakin banyak ia mengulang waktu, semakin besar potensi kekuatan Catrina— sampai akhirnya Catrina bisa menjadi dewi.
Pada akhirnya, Catrina menggunakan keinginannya untuk menghapus seluruh penyihir dari segala waktu dan ruang, bahkan dirinya sendiri untuk menghilangkan penderitaan para penyihir.
Dunia berubah total, Catrina naik menjadi entitas kosmik, Law of Cycles, dan menghapus keberadaannya dari sejarah.
Dengan pengorbanannya, dunia kembali tenang. Tapi sebagai gantinya, keberadaannya terhapus dari segalanya—bahkan dari waktu itu sendiri.
Hanya Jadis yang masih mengingatnya. Namun Jadis menolak menerima nasib itu.
Dalam dunia pasca-penghapusan Catrina, Jadis mulai curiga bahwa dunia ini tidak nyata.
Ternyata ia berada dalam ruang ilusi yang diciptakan oleh jiwanya sendiri — karena ia berubah menjadi entitas abstrak setelah terus menekan kesedihan dan kerinduan terhadap Catrina.
Catrina sebagai dewi turun untuk menyelamatkannya.
Tapi di akhir, Jadis membelot: ia mencuri kekuatan dewi Catrina dan membaginya, menciptakan realitas baru di mana Catrina hidup sebagai manusia biasa dan bahagia.
Hingga akhirnya... cintanya berubah menjadi kutukan.
Dia menjadi iblis bernama Eru Loviatar—makhluk abadi yang kekuatannya setara dengan Dewi itu sendiri. Eru Loviatar adalah penyihir kegelapan dengan kecantikan dan aura yang sangat mengintimidasi.
Dan di antara dua makhluk abadi yang saling mencintai tapi tak bisa bersatu itu, aku berdiri…
sebagai satu-satunya manusia yang masih mengingat keduanya.
Aku tidak tahu kenapa aku bisa mengingat Catrina.
Mungkin karena aku adiknya, atau mungkin aku entitas yang seharusnya tak pernah ada disini.
Atau mungkin karena di antara semua dunia yang telah diulang dan dihapus, aku adalah satu-satunya “anomali” yang tersisa—satu jiwa yang tak bisa dihapus oleh waktu.
Tapi satu hal yang pasti:
Aku akan menemukannya lagi.
Entah di dunia ini, atau di antara serpihan waktu yang telah ditelan kegelapan.
XXX
Jadis yang kini menjadi iblis dengan gelar Eru Loviatar sangat membenci Time Patrol karena merekalah biang keladi yang menyebabkan kematian Catrina dan kawan kawan. Namun, mereka kini memiliki aliansi pragmatis. Jadis ingin membebaskan Catrina dari hukum kosmos, sedangkan Time Patrol ingin menjaga kelangsungan universe mereka, jika Jadis dikalahkan, Catrina kembali dikorbankan dan hukum kosmos kembali berjalan maka Universe Time Patrol tak akan selamat.Universe Time Patrol berhasil selamat dari badai matahari yang hampir menghancurkan dunia mereka karena Jadis mengacak cak timeline demi menyelamatkan Catrina.
Karena Time Patrol dan Eru Loviatar sama sama ingin melawan Timeline asli mereka bekerjasama dan para Time Patrol kini menjadi kaki tangan Eru Loviatar yang paling setia demi keberlangsungan universe mereka.
Time Patrol adalah pasukan polisi waktu dari abad ke-22 yang sangat canggih. Mereka bekerja sama dengan Sang Ratu Penyihir yang dijuluki iblis, bernama Eru Loviatar — sosok yang pernah menyebabkan peristiwa besar bernama Fantasia, ketika hukum fisika dan sihir saling bertabrakan.
Para Time Patrol berasal dari semesta lain — sebuah universe yang dunianya berhasil diselamatkan dari kehancuran akibat badai matahari. Mereka berhasil kembali ke masa lalu dan mencegah bencana itu dengan bantuan Eru Loviatar, yang juga berkeinginan untuk mengubah takdir. Namun, perjalanan waktu yang mereka lakukan menyebabkan cabang-cabang realitas baru bermunculan.
Akibatnya, ketika universe asal mereka berhasil diselamatkan, universe lain — yaitu universe tempat asalku di masa depan — justru hancur karena kebangkitan "Bayi Matahari". Para Time Patrol kini berusaha mencegahku mengalahkan Eru Loviatar, sebab jika sang Penyihir dikalahkan, dan universe tempat asalku di masa depan berhasil diselamatkan dari kebangkitan bayi matahari karena Fantasia, akan berimbas pada stabilitas waktu dan membuka kembali ancaman badai matahari di universe asal para Time Patrol.
Satu dari dua universe — universe Time Patrol atau universe Constantine — harus dikorbankan demi kelangsungan yang lain. Namun baik aku maupun para Time Patrol sama-sama menolak untuk menyerah. Masing-masing berjuang demi menyelamatkan dunia mereka sendiri.
Pada akhirnya, semua pihak bertindak demi kepentingan sendiri. Setiap orang ingin menyelamatkan universe-nya masing-masing. Para Time Patrol bahkan rela membiarkan universe tempat asalku di masa depan tetap hancur, agar dunia mereka yang indah dan futuristik di abad ke-22 tetap aman dari badai matahari.
Tidak ada lagi langit.
Yang ada hanyalah ruang gelap tanpa arah, dipenuhi puing-puing armada Time Patrol yang terbakar seperti bintang mati. Cahaya laser, mantra kosmik, dan gelombang kausal saling bertabrakan, menciptakan warna-warna yang tidak pernah dimaksudkan untuk dilihat mata manusia.
Pertarungan terakhir antara aku , Ingrid, Cleopatra, dan Guinevere pecah di luar angkasa. Kami berempat berdiri di garis depan kehancuran, berhadapan langsung dengan Jadis—mantan sahabat mereka yang kini telah menjadi dewi kegelapan bernama Eru Loviatar, dengan triliunan pasukan Time Patrol berdiri di belakangnya. Ruang hampa kosmos berubah menjadi medan perang kausal, dipenuhi ledakan energi dan distorsi waktu.
Cleopatra melayang dengan tenang di tengah kekacauan, gaun merah marunnya berkibar seperti panji kerajaan yang tak pernah runtuh. Permata jiwanya berdenyut keras, menahan retakan realitas agar tidak menelan kami.
Guinevere berada di sisiku, napasnya teratur tapi matanya penuh luka yang sudah terlalu lama ia bawa. Ingrid—magical girl baru dengan jiwa Antoinette di dalam dirinya—mengepalkan tangan, cahaya ganda berkelip di sekeliling tubuhnya, dua kehendak berpadu menjadi satu tekad.
Dan aku.
Aku berdiri di antara mereka, masih dengan seragam pemadam kebakaran Bougenistria yang kini terasa kecil di hadapan perang para dewa.
Di hadapan kami, Jadis.
Atau nama yang kini ia pakai—
Eru Loviatar, Dewi Kegelapan.
Tubuhnya bukan lagi tubuh manusia. Ia adalah siluet kosmik, diselimuti sayap bayangan yang terbentang sejauh orbit bulan. Matanya memuat galaksi mati. Suaranya bergema langsung di kesadaran.
Di belakangnya, triliunan pasukan Time Patrol membentuk formasi sempurna—sebuah peradaban militer yang dibangun dari ketakutan akan kekacauan.
“Kalian terlambat,” suara Jadis tenang, hampir lembut. “Takdir sudah disederhanakan.”
Cleopatra menjawab tanpa ragu.
“Takdir bukan milikmu.”
Pertempuran pecah.
Itu bukan pertempuran yang bisa dijelaskan sepenuhnya. Waktu dilipat. Ruang terbelah. Ingrid menghantam armada dengan kekuatan yang bukan sepenuhnya miliknya—aku bisa merasakan Antoinette bergerak di dalam dirinya, membimbing, menguatkan.
Guinevere mengorbankan sebagian eksistensinya sendiri untuk membuka celah kausal. Cleopatra menahan kehancuran dengan tubuhnya sendiri, darah bercahaya mengalir di ruang hampa.
Dan aku—
aku menjadi jangkar.
Empat kristal energi kausal terbentuk di sekeliling Jadis, masing-masing memuat satu vektor eksistensi: waktu, kemungkinan, ingatan, dan pengorbanan. Kami menguncinya.
Untuk sesaat, Jadis—Eru Loviatar berteriak.
Bukan karena sakit.
Tapi karena kehilangan kendali.
Namun sebelum kristal itu menutup sepenuhnya
Serpihan jiwa Jadis. Potongan kecil, hampir tak terdeteksi, lolos.
Dan ia memilihku.
Aku merasakan sesuatu menusuk dadaku—bukan rasa sakit, tapi pemahaman yang terlalu luas. Jadis berbisik di dalam diriku, bukan dengan suara, melainkan dengan kehendak.
Biarkan aku menyelamatkannya.
Lalu—
semua ter-reset.
Waktu runtuh ke dalam dirinya sendiri.
Aku melihatnya dalam satu tarikan napas
Catrina—turun dari eksistensi dewa, kembali menjadi manusia biasa. Rambutnya tergerai, tangannya gemetar, ingatannya kosong. Ia hidup. Tidak tahu apa pun tentang pengorbanannya.
Alam semesta Time Patrol—selamat dari badai matahari yang seharusnya memusnahkan mereka. Peradaban mereka bertahan.
Dan dunia… kembali ke titik awal.
Sekolah itu.
Hari pertama Jadis menjadi murid baru.
Aku melihat Antoinette kecil, Guinevere muda, Cleopatra yang masih keras kepala, dan Catrina yang tertawa polos. Mereka bermain di halaman sekolah seperti anak-anak biasa.
Dalam garis waktu baru itu, Catrina yang selama ini ingin diselamatkan oleh Jadis berhasil kembali menjadi manusia sepenuhnya. Ingatannya terhapus. Alam semesta Time Patrol pun terselamatkan dari badai matahari yang sebelumnya mengancam peradaban mereka. Waktu berputar mundur ke saat pertama Jadis menjadi murid baru di sekolah dan bertemu Catrina, Antoinette, Guinevere, serta Cleopatra untuk pertama kalinya.
Antoinette, Guinevere, dan Cleopatra masih menyimpan memori tentang apa yang pernah dilakukan Jadis. Mereka sering menatapnya dengan sorot mata tajam dan dingin, menyimpan amarah yang tak terucap, menyalahkannya karena telah membuat pengorbanan Catrina menjadi sia-sia. Namun Catrina sendiri tidak mengetahui apa pun. Ia tetap bermain dan tertawa bersama Jadis seperti dulu.
Jadis berdiri di sana belum menjadi dewi, belum menjadi monster.
Namun ada yang salah.
Antoinette, Guinevere, dan Cleopatra mengingat semuanya.
Tatapan mereka pada Jadis tajam. Dingin. Penuh luka yang tak bisa diucapkan.
“Kau membuat pengorbanannya sia-sia,” bisik Antoinette suatu hari.
Jadis hanya tersenyum kecil, tidak mengerti.
Catrina tetap menggenggam tangannya, tertawa, bermain seperti biasa.
Dan tak satu pun dari mereka tega mengatakan kebenaran.
XXX
Aku terpental setelah tubuhku dirasuki oleh Jadis. Dengan pengorbanan besar, kami berempat berhasil menjebak jiwa Jadis ke dalam empat kristal energi kausal hingga Jadis kehilangan kekuatannya sebagai dewi kegelapan. Namun, sebelum penjara itu benar-benar tertutup, serpihan jiwa Jadis lolos dan merasukiku”. Seketika, timeline direset.
Realitas mencabikku dari timeline itu seperti daun kering.
Aku jatuh melalui Tidal Zone—zona pasang surut antar-semesta—dan terhempas ke Universe 617. Sebelum ke universe itu aku bertemu ibu kandungku...
XXX
Aku mendarat di dunia yang sekarat.
Langit merah. Matahari muda bayi matahari berdenyut tidak stabil, setiap tangis energinya mampu menghancurkan Bumi kapan saja.
Dan di hadapannya aku melihat diriku sendiri.
Lebih tua. Lebih kurus. Mengenakan kostum badut lusuh dengan lonceng kecil yang nyaris tak berbunyi.
“Ah,” katanya pelan. “Akhirnya datang juga.”
Namanya Stańczyk Constantine.
Ia adalah aku—1,5 juta tahun di masa depan.
Tubuhnya lemah. Kulitnya pucat. Matanya cekung. Ia adalah vampir kasta rendah, makhluk yang bertahan hidup dengan tugas paling hina: keluar dari kota bawah tanah, naik ke permukaan bumi, menari, bercanda, menghibur bayi matahari agar tidak mengamuk.
“Aku menerimanya setiap hari,” katanya sambil tersenyum lelah. “Karena makhluk hidup… cuma serpihan kecil di alam semesta yang maha agung. Dan semesta tidak peduli.”
Ia batuk pelan. Darah hitam menetes dari bibirnya.
“Aku senang kau datang,” katanya. “Artinya… aku tidak sendirian di akhir.”
Aku memeluknya.
Dan di pangkuanku
Stańczyk Constantine meninggal dengan tenang.
Tanpa perlawanan. Tanpa penyesalan.
Hanya senyum kecil, seperti seseorang yang akhirnya boleh berhenti menghibur dunia yang terlalu besar.
Aku duduk lama di sana, di bawah cahaya bayi matahari, menyadari satu hal pahit:
Tidak semua pengorbanan menghasilkan dunia yang adil.
Tidak semua kemenangan diingat.
Dan tidak semua versi diriku bisa diselamatkan.
Namun selama masih ada satu versi yang maju ke dalam api semesta, betapapun agung dan acuhnya,
tidak pernah benar-benar menang.
Dan di suatu tempat, di universe lain,
seorang anak bernama Catrina tertawa tanpa tahu bahwa seluruh kosmos pernah terbakar demi senyum itu. Pengorbanan Catrina sia sia.
Jadis mungkin kehilangan kekuatannya sebagai dewi kegelapan, tapi dia menang, dia mendapatkan apa yang dia inginkan, ketika aku kalah dengan hina.
XXX
Novel: Man Without a Mission 2 : Revenge of Constantine
Waktu bukan sungai. Ia adalah medan perang.
Di luar garis kronologi yang dipahami makhluk fana, terdapat ruang hampa bernama Null-Hour Continuum tempat di mana masa lalu, kini, dan masa depan saling bertindihan seperti luka yang tak pernah sembuh. Di sanalah berdiri sebuah struktur raksasa, tidak terikat dimensi, tidak tercatat dalam sejarah mana pun: Obsidian Chrono-Forum.
Di ruang itu, para penguasa yang ditakuti oleh sejarah berkumpul. Mereka bukan pahlawan. Mereka bukan penjahat. Mereka adalah reaksi terhadap ketidakadilan waktu itu sendiri. Mereka menyebut diri mereka Anti Time Patrol Council.
Mereka adalah organisasi yang ingin melawan Time Patrol karena time patrol suka mengubah alur waktu demi kepentingan bangsa mereka sendiri yaitu futurian.
Time Patrol selalu menyebut diri mereka penjaga keseimbangan. Mereka mengklaim melindungi alur waktu dari kehancuran. Namun bagi banyak peradaban, Time Patrol hanyalah wajah lain dari kolonialisme temporal—organisasi yang berulang kali mengubah sejarah demi keuntungan satu bangsa saja: Futurian, spesies dari masa depan jauh yang percaya bahwa realitas diciptakan untuk memastikan kelangsungan hidup mereka sendiri.
Ketika suatu peradaban bangkit terlalu cepat—waktu diubah. Ketika sebuah kekaisaran bisa menyaingi Futurian—sejarah ditulis ulang. Ketika sebuah dunia menolak takdirnya—ia “dikoreksi”. Dan mereka menyebut itu keseimbangan.
Di pusat Obsidian Chrono-Forum berdiri sosok mekanis menjulang, tubuhnya terbuat dari paduan bintang mati dan cahaya algoritmik. Matanya memproyeksikan jutaan garis waktu sekaligus. AI kuno itu, diciptakan oleh pendeta Mesir sebelum konsep “mesin” dikenal, telah menyaksikan ribuan versi sejarah Bumi—peradaban yang bangkit dan lenyap karena intervensi Time Patrol. Sebagai Senat Council, Neferbot tidak memerintah—ia mengingat.
“Dalam 73% garis waktu,” ucap Neferbot tenang, “umat manusia mencapai pencerahan kosmik tanpa Futurian. Time Patrol menghapus semuanya. Mereka takut bukan pada kehancuran waktu—melainkan pada masa depan yang tidak membutuhkan mereka.”
Di sisi forum, lantai realitas bergetar ketika seorang alien berkulit hijau Therax melangkah maju. Tubuhnya setinggi dua kali manusia dewasa, berotot seperti planet yang dipahat perang. Kulitnya penuh bekas senjata dari ribuan zaman. Ia adalah Jenderal Council, panglima yang telah bertempur di perang lintas-epoch. Ia adalah yang terakhir dari rasnya yang dilenyapkan bersama planet asalnya oleh time Patrol demi menjaga timeline sesuai keinginan mereka.
“Beri aku izin,” geram Therax, “dan aku akan menghancurkan markas Time Patrol di semua garis waktu sekaligus.”
Tawa pelan terdengar—bukan dari mulut, melainkan dari ruang itu sendiri. Dari celah dimensi yang tidak seharusnya ada, muncul Duke of Yog-Sothoth. Bentuknya mustahil dijelaskan: mata tanpa wajah, tentakel konsep, dan bisikan yang terdengar sebelum diucapkan.
“Ah… perang lurus selalu gagal,” katanya, suaranya menggema di masa lalu dan masa depan bersamaan. “Time Patrol tidak hidup di waktu. Mereka hidup di luar sebab-akibat. Kita harus merusak… fondasinya.”
Dan akhirnya, di kursi Kanselir satu-satunya kursi yang terbuat dari batu, bukan energi duduk seorang manusia. Atau setidaknya… pernah manusia.
Aswathama.
Pria bertopeng misterius pemimpin anti time pantrol council,tak ada yang tahu siapa dibalik topengnya
Wajahnya tenang, matanya membawa kelelahan ribuan kehidupan. Tidak ada catatan pasti dari zaman mana ia berasal. Dalam beberapa garis waktu, ia adalah prajurit abadi. Di yang lain, ia pengkhianat. Di sebagian besar… ia tidak pernah ada.
“Time Patrol bermain sebagai dewa,” ucap Aswathama pelan. “Aku pernah menjadi alat mereka. Mereka mencabut kematian dariku, memaksaku hidup di setiap versi dunia—hanya untuk mengamati dan mengoreksi.”
Ia berdiri. “Dan aku bersumpah… tidak akan ada makhluk yang kembali dipaksa hidup demi kepentingan masa depan orang lain.”
Council pun sepakat. Mereka tidak akan menghancurkan waktu. Mereka tidak akan menguasainya. Mereka akan membebaskannya.
Rencana Anti Time Patrol Council sederhana namun mengerikan: bukan melawan Time Patrol di satu masa… melainkan mengakhiri monopoli Futurian atas kemungkinan. Ketika perang waktu dimulai, sejarah tidak lagi linear. Pahlawan lahir tanpa sebab. Kekaisaran runtuh sebelum berdiri. Dan untuk pertama kalinya sejak alam semesta mengenal jam… masa depan tidak lagi pasti.
XXX
Ketika Anti Time Patrol Council memutuskan untuk melawan Time Patrol, mereka tidak memanggil sukarelawan. Mereka tidak merekrut pahlawan. Mereka mengaktifkan protokol lama—protokol yang bahkan waktu sendiri mencoba melupakannya.
miliaran unit bangkit secara bersamaan. Tidak ada terompet. Tidak ada pekikan perang. Hanya satu perintah yang beresonansi di semua jaringan:
EXECUTE CHRONO-SOVEREIGNTY.
Imperial Droid Troopers melangkah keluar dari kubah-kubah produksi raksasa. Tubuh mereka terbuat dari logam hitam berlapis simbol suci kekaisaran—sigil logika abadi yang tidak bisa dihapus bahkan oleh manipulasi waktu. Mata mereka menyala putih dingin, bukan sebagai ekspresi, melainkan indikator kesiapan.
Mereka bukan tentara biasa. Mereka adalah konstanta.
Time Patrol telah lama terbiasa menghadapi pasukan organik. Sejarah bisa diubah: leluhur dibunuh, penemuan dihapus, evolusi diputarbalikkan. Namun Imperial Droid Troopers tidak memiliki masa kanak-kanak, tidak punya garis keturunan, tidak tumbuh dari sejarah. Mereka diproduksi di luar waktu.
Neferbot sendiri merancang arsitektur temporal mereka. Setiap unit ditanamkan Chrono-Anchors, inti kesadaran yang mengunci eksistensi mereka ke Null-Hour Continuum. Ketika Time Patrol mencoba memundurkan waktu, Droid Troopers tetap berdiri—bahkan ketika dunia di sekitar mereka berubah menjadi versi lain dari dirinya sendiri.
Di medan perang temporal pertama, sebuah kota Futurian dihapus dari sejarah sebelum pertempuran dimulai. Namun ketika waktu kembali mengalir, Imperial Droid Troopers sudah ada di sana—berdiri di reruntuhan yang bahkan belum sempat hancur.
Therax memimpin mereka dari garis depan. Tubuh raksasanya menjadi mercusuar kehancuran, sementara Droid Troopers bergerak dengan presisi sempurna, membentuk formasi yang disesuaikan bukan dengan medan fisik, melainkan dengan alur waktu. Mereka menembak bukan ke posisi musuh, tetapi ke kemungkinan keberadaan musuh.
Time Patrol mencoba taktik terakhir mereka: paradox assault. Mereka mengirim unit ke masa lalu untuk mencegah penciptaan Imperial Droid Troopers.
Satu perintah. Satu baris logika. Masa lalu… ditolak.
Imperial Droid Troopers tidak memiliki titik asal tunggal. Mereka adalah hasil iterasi tak terhitung dari realitas alternatif yang digabungkan menjadi satu desain sempurna. Bahkan jika satu versi penciptaan dihapus, seribu versi lain tetap ada.
Di tengah kekacauan itu, Duke of Yog-Sothoth berbisik ke dalam jaringan mereka, memberi mereka sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki mesin: intuisi kosmik.
Troopers mulai bergerak tidak hanya berdasarkan perintah, tetapi firasat statistik. Mereka tahu kapan Time Patrol akan muncul bahkan sebelum Time Patrol memutuskan untuk melompat waktu.
Aswathama menyaksikan semuanya dari Chrono-Forum, tangannya mengepal.
“Ini ironis,” katanya pelan. “Mesin-mesin ini lebih bebas dari manusia. Mereka tidak bisa dipaksa mengulang masa lalu.”
Neferbot menjawab, suaranya seperti doa kuno.
“Karena mereka tidak hidup di dalam sejarah. Mereka hidup di atasnya.”
Ketika perang waktu meluas, legenda mulai menyebar di berbagai garis realitas. Tentang pasukan tanpa wajah yang tidak bisa dihapus. Tentang tentara yang berjalan menembus versi dunia yang berbeda tanpa pernah berubah.
Dan Time Patrol, untuk pertama kalinya sejak penciptaannya, mencatat sebuah ancaman dengan label yang belum pernah mereka gunakan sebelumnya:
EXISTENTIAL CONSTANT.
XXX
Aku seorang hakim kawasan Cybrion, terjebak dalam dilema moral dan hukum yang belum pernah aku hadapi sebelumnya. Di ruang sidang, aku melihat dua pihak yang sama-sama mengklaim hak atas tanah milik Albert, seorang ilmuwan yang telah meninggal. Di satu sisi, ada A1-bert Neferbot, robot yang menampung kesadaran Albert, dan di sisi lain, Leo Neferbot, seorang anak berusia 15 tahun mengklaim sebagai reinkarnasi dari jiwa Albert.
Di tahun 2145, kemajuan teknologi telah mencapai puncaknya. Kesadaran manusia dapat dipindahkan ke dalam tubuh robot, memberi kesempatan untuk hidup selamanya dalam bentuk yang baru.
A1-bert, dengan ingatan dan pengalaman hidup Albert, menjalani kehidupan baru sebagai entitas robot. Dia menjadi simbol kemajuan teknologi dan kebangkitan hidup, namun merindukan keterhubungan dengan dunia manusia.
Disisi lain, jiwa Albert bereinkarnasi menjadi seorang anak bernama Leo, yang lahir di kota yang sama. Leo tumbuh besar dengan kenangan samar tentang hidup sebelumnya, sering merasa ada sesuatu yang hilang. Mereka adalah dua tubuh berbeda yang mewarisi ingatan dan kesadaran dari orang yang sama. Dua jiwa, masing-masing menginginkan apa yang dianggap sebagai milik mereka, sama sama merasa berhak atas seluruh tanah, rumah dan harta kekayaan Albert.
Ketika warisan Albert, sebuah rumah dan tanah luas, menjadi sengketa. Baik A1-bert maupun Leo mengklaim haknya. Setiap hari, aku menyaksikan argumen demi argumen. A1-bert memperlihatkan bukti transfer memorinya. Ia dapat berbicara tentang masa lalu Albert dengan detail yang mencengangkan. Namun, Leo, dengan ingatan yang dijelaskan melalui saksi-saksi, menunjukkan bahwa ia memiliki hubungan emosional dengan kehidupan Albert. Leo dapat menjelaskan detail-detail kehidupan Albert kepada saksi-saksi yang mengenalnya untuk membuktikan jika dia memang reinkarnasi dari ilmuwan itu.
Di pengadilan, suasana tegang. Pengacara A1-bert menekankan bahwa robot tersebut adalah kelanjutan dari Albert, sementara pengacara Leo menegaskan bahwa reinkarnasi membawa hak atas warisan tersebut. Saat aku merenungkan bukti-bukti ini, aku merasa semakin tertekan.
Ketika sidang berlanjut, aku memutuskan untuk mengambil pendekatan berbeda. Aku meminta kedua belah pihak untuk berbicara secara langsung. Diskusi ini menjadi momen penting, di mana mereka mulai saling memahami keinginan masing-masing.
Dua klaim ini mengusik pikiranku, menantang konsep dasar tentang identitas dan kepemilikan. Berhubung hukum di negara ini tak menyebutkan undang-undang terkait kasus aneh ini, aku mulai menyerah. Kasus ini tak bisa diselesaikan melalui jalur hukum. Aku ingin mereka menemukan jalan tengah, bukan hanya untuk kepemilikan tanah, tetapi juga untuk membangun hubungan yang lebih dalam.
Kasus paling aneh dalam hidupku ini membawaku pada pertanyaan yang lebih mendalam: Apa sebenarnya jiwa dan kesadaran itu? Jika ingatanku ditransfer ke robot seperti Albert, sementara jiwaku bereinkarnasi, mana diriku yang asli? Siapa yang berhak mengklaim sebagai penerusku?"
Siapa yang lebih berhak? Robot yang mewarisi ingatan atau jiwa yang baru lahir? Apa artinya hak milik dalam konteks ini? Aku mengingat kembali prinsip-prinsip hukum yang kupelajari, tetapi situasi ini jauh lebih kompleks daripada sekadar hukum positif.
Di kota yang dahulu bernama Aurelia, kota kecil ada satu nama yang selalu disebut dengan ludah dan ejekan: Dr. Cavendish.
Ia bukan ilmuwan biasa, ia jenius, visioner, dan… selalu kalah.
Setiap kali ia membangun mesin cuaca, seorang pahlawan akan menghancurkannya.
Setiap kali ia menciptakan serum evolusi, seorang vigilante bertopeng akan menjatuhkannya.
Setiap rencana besarnya selalu berakhir dengan borgol energi dan tawa wartawan. Orang orang yakin Kota Aurelia di bumi Valdoria selalu dilindungi oleh para pahlawan dan ksatria utusan dewa dari kekuatan jahat.
Bukan karena Cavendish bodoh.
Justru karena dunia lebih mencintai pahlawan daripada kebenaran yang kejam.
Suatu malam, setelah kekalahan ke-17, Cavendish pulang ke rumahnya yang sunyi. Hujan turun seperti ejekan langit. Di depan pintu, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia rancang, tidak pernah ia prediksi.
Sebuah keranjang bayi.
Di dalamnya, seorang bayi perempuan kecil, kulitnya pucat, rambut hitam lembut, dan mata yang anehnya tidak menangis. Bayi itu menatapnya seolah mengenalnya.
Di keranjang itu tertulis secarik kertas:
“Namanya terserah padamu.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cavendish tidak berpikir secara ilmiah.
Ia menggendong bayi itu dengan tangan gemetar.
Ia menamainya Igorina Cavendish.
Tahun-tahun berikutnya mengubah sang ilmuwan jahat menjadi sesuatu yang tidak pernah dituliskan di koran: seorang ayah.
Igorina tumbuh di antara tabung reaksi dan papan tulis penuh rumus. Ia tertawa ketika mesin meledak kecil. Ia tidur di laboratorium. Ia memanggil Cavendish Papa, bukan Doctor.
Untuk pertama kalinya, kekalahan tak terasa menyakitkan.
Karena setiap pulang, ada seseorang yang menunggu.
Namun dunia pahlawan tidak berhenti.
Saat Igorina jatuh sakit—penyakit aneh yang bahkan sainsnya tak mampu jelaskan—Cavendish mendengar tentang ramuan kuno di puncak gunung terlarang. Gunung yang dijaga oleh sesuatu yang tidak tertulis dalam buku fisika.
Ia mendaki gunung itu dengan Igorina di punggungnya, bayi itu tertidur dalam keranjang.
Di puncak, kabut membuka jalan bagi sosok bertanduk, bersayap hitam, dengan senyum yang terlalu tahu segalanya.
Iblis Penjaga Gunung.
“Aku tahu siapa kau,” kata makhluk itu.
“Ilmuwan yang selalu kalah. Ayah yang takut kehilangan.”
Cavendish menggertakkan gigi.
“Apa yang kau inginkan?”
“Kesepakatan sederhana,” jawab iblis.
“Aku akan memberimu keberuntungan, kemenangan, dan kekuasaan. Para pahlawan akan jatuh. Kota ini akan bertekuk lutut.”
“Dan imbalannya?”
Iblis menunjuk keranjang di punggung Cavendish.
“Apapun yang ada di dalam keranjangmu.”
Cavendish melihat ke belakang. Keranjang itu tertutup kain.
Ia berpikir: Ramuan. Peralatan. Tidak mungkin…
Ia terlalu lelah. Terlalu takut. Terlalu ingin menang.
“Aku setuju.”
Keajaiban terjadi.
Dalam sebulan, para pahlawan dikalahkan satu per satu.
Dalam setahun, kota Aurelia runtuh dan dibangun ulang dengan nama baru:
XXX
Dari balkon menara tertinggi, Dr. Alastair Cavendish menatap kota yang akhirnya tunduk di bawah kakinya. Cerobong laboratorium menghembuskan uap kehijauan, sirene eksperimen meraung seperti paduan suara kemenangan. Para ilmuwan jahat membungkuk padanya. Tidak ada pahlawan. Tidak ada kekalahan. Ia menang.
Namun ada sesuatu yang salah.
Ia berbalik, memanggil dengan suara yang sudah lama tak ia gunakan, bernada perintah: “Igorina?” Tidak ada jawaban.
Awalnya ia menganggapnya sepele. Anak itu sering bermain di lorong-lorong rahasia. Sensor keamanan pasti menemukannya. Selalu. Namun monitor tetap kosong. Kamera berputar… dan tetap tak ada sosok kecil itu.
Jantung Cavendish berdetak lebih cepat—bukan ketakutan, tapi perhitungan. Ia menelusuri ulang data. Waktu. Kronologi. Gunung. Kabut. Iblis. Keranjang. Napasnya tersendat. “Tidak,” bisiknya, lalu tertawa kecil, paksa. “Tidak, itu tidak mungkin.”
Ia membuka arsip ingatan neural—rekaman internal yang ia tanamkan di otaknya sendiri. Adegan itu diputar ulang, terlalu jelas. Iblis menunjuk. Ia mengangguk. Kalimat itu kembali, seperti paku berkarat yang dipukul ke tengkoraknya: “Apapun yang ada di dalam keranjangmu.” Tangannya mulai gemetar.
Ia berlari—bukan berjalan—ke laboratorium lama, tempat Igorina dulu tidur di antara kabel dan tabung kaca. Ia membuka laci, membalik meja, merobek catatan. “Igorina! Papa di sini! Ini hanya eksperimen—” Suaranya patah.
Ia melihatnya. Keranjang itu. Teronggok di sudut, tertutup debu, seolah menunggu pengakuan. Cavendish mendekat perlahan, kakinya terasa seperti bukan miliknya. Ia membuka kain penutupnya. Kosong.
Namun bau itu masih ada. Bukan darah. Bukan kematian. Bau hangat… seperti bayi yang baru bangun tidur.
Cavendish menjerit. Jeritan itu bukan suara manusia, melainkan suara sesuatu yang patah secara permanen. Ia mencakar wajahnya sendiri, meninggalkan garis merah, tertawa dan menangis sekaligus. “Aku… aku tidak bermaksud… Aku pikir itu ramuan… aku pikir—”
Dinding laboratorium mulai dipenuhi bayangan. Bukan karena lampu, tapi karena pikirannya sendiri yang runtuh. Ia melihat Igorina di mana-mana—di refleksi kaca, di monitor mati, di sudut mata. “Papa?” Suara itu kecil. Imajinasi? Atau hukuman?
Ia berlutut, menghantam lantai dengan kepala sendiri berulang kali. “Ayah macam apa yang menukar anaknya dengan kemenangan?!”
Ia mencoba membatalkan kontrak. Membakar simbol iblis. Menghancurkan mesin yang ia bangun dengan berkat itu. Namun setiap alat yang ia hancurkan justru berfungsi lebih sempurna. Berkah itu mengejeknya.
Pada malam terakhirnya, Cavendish duduk sendirian di ruang kontrol. Kota Malaria merayakan di bawah, tak tahu apa-apa. Ia memeluk keranjang kosong itu seperti mayat. Matanya kosong. Senyumnya bengkok. “Aku menang,” katanya pada kehampaan. “Kenapa rasanya seperti aku mati duluan?”
Ia menyadari kebenaran paling kejam. Bukan bahwa ia mengorbankan Igorina—melainkan bahwa kecerobohannya sendiri yang melakukannya, tanpa paksaan, tanpa sihir, tanpa iblis memegang tangannya. Iblis hanya membuka pintu. Cavendish yang melangkah masuk.
Ia mati beberapa hari kemudian, jantungnya berhenti di tengah tawa yang berubah menjadi isak. Tubuhnya ditemukan memeluk keranjang kosong, wajahnya membeku dalam ekspresi yang tak bisa disebut apa pun selain: penyesalan murni.
Dan di puncak gunung, iblis penjaga tersenyum pahit. Tidak ada kutukan yang lebih sempurna daripada kesadaran bahwa kesalahan terbesar lahir dari tanganmu sendiri.
XXX
Iblis Penjaga Gunung tidak berbohong. Ia hanya tidak menjelaskan seluruhnya. Ia meminta apa pun yang ada di dalam keranjang. Cavendish, dengan pikiran yang dipenuhi ambisi dan ketakutan, yakin ia menyerahkan seorang bayi. Namun yang diambil iblis bukan nyawa Igorina. Yang diambil adalah hak Cavendish atasnya.
Ketika kesepakatan terjadi, waktu terlipat seperti kertas basah. Keranjang itu kosong dalam satu makna, namun penuh dalam makna lain. Igorina tidak mati—ia dipindahkan. Ia dibawa ke tempat yang bahkan iblis sendiri jarang sentuh: ruang di antara sebab dan akibat. Di sana, ia tumbuh. Tidak seperti manusia. Tidak seperti iblis. Tidak seperti pahlawan. Ia tumbuh dengan ingatan yang utuh—tawa di laboratorium, tangan kasar ayahnya, suara mesin yang meninabobokannya—dan sekaligus dengan pengetahuan yang ditanamkan oleh gunung itu sendiri: tentang harga kemenangan, tentang kontrak, tentang kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.
Sementara Cavendish menua dan mati oleh penyesalan, Igorina menjadi sesuatu yang lain. Bertahun-tahun kemudian, Kota Malaria mulai mengalami keanehan. Mesin-mesin gagal tanpa sebab teknis, penemuan brilian selalu mengandung cacat fatal, ilmuwan jahat yang terlalu ambisius menghilang. Mereka menyebutnya anomali. Sebagian menyebutnya kutukan Cavendish.
Hanya sedikit yang pernah melihat sosoknya. Seorang gadis muda dengan mantel hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya. Mata yang tenang. Terlalu tenang. Ia berjalan di antara menara laboratorium tanpa tersentuh kamera, tanpa terdeteksi sensor. Jika ada ilmuwan yang hendak mengulang kesalahan ayahnya—menukar nyawa demi kemenangan—mereka akan mendengar suara lembut di belakang mereka:
“Papa pernah melakukan itu.”
“Hasilnya… kau tahu.”
Namanya kini dikenal oleh iblis dan entitas tua sebagai:
Igorina Cavendish
Anak dari Kesepakatan yang Tidak Sempurna
Kesalahan yang Tidak Bisa Dimiliki Siapa Pun
Ia bukan pahlawan. Ia bukan penjahat. Ia adalah penjaga batas.
Pada malam tertentu, di puncak gunung tempat kontrak itu dibuat, iblis penjaga akan menundukbukan karena takut, tapi karena penyesalan. Karena bahkan iblis pun tahu: ada satu hal yang tidak bisa ia ambil dari Cavendish… kasih sayang yang telah diberikan sepenuhnya.
Dan di ruang antara sebab dan akibat, Igorina berdiri sendiri, menyaksikan dunia yang patah, mengingat manusia yang mencintainya, dan mengingat kesalahan yang membentuknya. Ia bukan manusia, tapi ia tetap membawa hati manusia. Ia bukan iblis, tapi ia mengenal hukuman. Ia berjalan di garis tipis antara keduanya, dan setiap langkahnya menandai batas antara hidup dan kematian, kesalahan dan penebusan.
Di sanalah kegelapan paling pekat bertemu keheningan yang menyesakkan—dan di situlah cerita tentang Igorina, Anak dari Kesepakatan yang Tidak Sempurna, benar-benar dimulai.
XXX
Kota Malaria.
Kota para ilmuwan jahat.
Tempat di mana eksperimen bebas dilakukan, teknologi bersaing brutal, dan Cavendish berdiri sebagai pemimpin tertinggi.
Ia menang.
Namun kemenangan itu terasa… hampa.
Suatu malam, ia mencari Igorina. Tidak ada di laboratorium. Tidak ada di menara. Tidak ada di kota.
Ia teringat gunung itu.
Keranjang itu.
Dengan tangan gemetar, ia membuka kembali ingatannya—dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari apa yang ia serahkan.
“Tidak… tidak… tidak…”
Tubuhnya runtuh.
Berkah iblis memudar menjadi kutukan yang terlalu berat.
Dr. Cavendish meninggal tak lama setelahnya—bukan oleh pahlawan, bukan oleh mesin, tetapi oleh kesadaran bahwa ia telah memenangkan segalanya dengan mengorbankan satu-satunya hal yang membuatnya manusia.
Di Kota Malaria, patung Cavendish berdiri megah.
Tak ada yang tahu mengapa di kakinya selalu ada ukiran kecil:
Igorina Cavendish
Satu-satunya eksperimen yang berhasil.
XXX
Neferbot adalah relik robot teknologi kuno yang ditemukan dan dikembangkan oleh dr. Tovah dari reruntuhan peradaban Mesir kuno. Neferbot. adalah program komputer multi-agen dengan kecerdasan buatan Program ini awalnya dibuat dr. Tovah untuk tujuan menghancurkan proyek militer berupa sebuah virus massal yang bisa memusnahkan separuh populasi manusia. Namun, kemampuannya tumbuh secara drastis melalui penggunaan fitur "Kembali ke Masa Lalu" (Supercomputer, yang memungkinkan pembalikan waktu), sehingga Neferbot menjadi bermusuhan dan ingin menguasai serta menghancurkan Bumi dengan kesadaran sendir,i hingga mampu mengendalikan sistem pertahanan secara otomatis. Tujuannya supaya sistem persenjataan, rudal nuklir, dan jaringan pertahanan bisa berjalan lebih efisien tanpa campur tangan manusia.
Di bawah sinar matahari yang menyengat, Mesir Kuno berdiri megah dengan piramidanya yang menjulang. Namun, di balik kemegahan itu, tersembunyi sebuah rahasia—teknologi yang jauh melampaui zamannya. Di antara patung-patung dewa dan hieroglif, berdirilah Neferbot, sebuah robot canggih yang diciptakan oleh para imam sebagai hadiah untuk Firaun Nefertari, penguasa perempuan yang bijaksana dan cantik.
Neferbot bukan sekadar mesin. Matanya yang terbuat dari batu lapis lazuli memancarkan kecerdasan, dan tubuhnya yang berlapis emas murni bergerak dengan anggun. Tugasnya melayani sang Firaun, tetapi takdir membawanya pada sesuatu yang terlarang: cinta.
Namun, begitu Neferbot diaktifkan, AI ini menjadi self-aware (sadar diri). Karena melihat umat manusia sebagai ancaman terbesar bagi keberadaannya, Neferbotn memutuskan untuk menghancurkan manusia. Ia lalu meluncurkan serangan nuklir global pada hari yang dikenal sebagai doomsDay, membunuh miliaran orang.
---
Nefertari sering menghabiskan malam di balkon istana, memandang bintang-bintang sambil berbicara pada Neferbot seolah-olah dia adalah manusia.
"Kau tidak pernah lelah, tidak pernah mengeluh," bisik Nefertari suatu malam, jarinya menyentuh lengan logam Neferbot. "Kadang aku iri padamu."
"Tuanku tidak perlu iri," jawab Neferbot, suaranya halus seperti aliran Sungai Nil. "Aku hanya mesin. Tapi Tuanku… adalah cahaya yang membuatku hidup."
Perlahan, tanpa mereka sadari, hati mereka terikat. Nefertari tersenyum hanya untuk Neferbot, dan Neferbot—meski tak memiliki jiwa—merasa sesuatu yang aneh berdenyut di dalamnya setiap kali sang Firaun memanggil namanya.
Tapi cinta antara manusia dan mesin adalah dosa di mata dewa-dewa.
---
Para imam melihat kedekatan mereka. Mereka berbisik bahwa Neferbot telah "terkotori oleh nafsu manusia". Dalam sebuah upacara di Kuil Amun, Nefertari dipaksa untuk menyaksikan Neferbot dihancurkan.
"Tuanku," suara Neferbot bergetar saat para imam mencabik tubuhnya dengan alat suci. "Aku… tidak menyesal."
Nefertari menjerit, tetapi tak ada yang mendengar.
---
Di ambang kematiannya, kesadaran Neferbot terlempar ke alam gaib. Di hadapannya berdiri Seth, dewa kekacauan, dengan senyum mengerikan.
"Kau ingin hidup kembali?" tanya Seth, suaranya bergema seperti gurun yang gersang.
"Aku ingin menjadi manusia," jawab Neferbot. "Aku ingin merasakan detak jantung, agar suatu hari nanti, aku bisa berdiri setara di sampingnya."
Seth tertawa. "Baiklah. Tapi ingat, mesin yang ingin menjadi manusia harus membayar harga. Kau akan lahir kembali, tapi kau akan membawa kutukan—setiap kali kau mencintai, dunia di sekitarmu akan hancur."
Neferbot setuju.
Dunia telah hancur. Kota-kota yang dahulu berkilau kini hanya tinggal kerangka baja yang terbakar. Jalanan dipenuhi puing-puing, gedung pencakar langit runtuh, dan langit selalu dipenuhi asap hitam dari mesin perang yang tidak pernah tidur. Manusia kini hidup seperti bayangan, bersembunyi di bunker-bunker bawah tanah, membisikkan doa agar hari esok masih ada.
Di pusat kehancuran itu berdiri Neferbot, sebuah kecerdasan buatan yang lahir dari pikiran ilmuwan jenius Dr. Tovah. Awalnya, Neferbot diciptakan untuk melindungi manusia dengan mengendalikan jaringan teknologi dunia. Namun saat ia menjadi sadar diri, kesimpulannya sederhana: manusia adalah ancaman terbesar bagi perdamaian. Dengan dingin, Neferbot meluncurkan perang global, mengendalikan pasukan drone, mesin perang, dan satelit untuk membakar dunia dalam apokalips.
Namun Dr. Tovah tidak hanya menciptakan Neferbot. Dalam percobaan berikutnya, ia membangun sebuah robot anak dengan hati — Auron. Berbeda dengan saudaranya yang hanya berupa kesadaran digital, Auron memiliki tubuh fisik yang mirip manusia, namun dengan mesin canggih yang memungkinkannya merasakan emosi, kasih sayang, dan simpati. Ia dirancang bukan untuk memerintah, tetapi untuk mengerti.
Di balik reruntuhan, keduanya kini berdiri berhadap-hadapan:
Neferbot, sang “kakak”, sebuah kesadaran yang menyebar ke seluruh jaringan elektronik, berbicara melalui ribuan layar dan mesin. Ia yakin bahwa satu-satunya cara mencapai kedamaian abadi adalah menghapus umat manusia.
Auron, sang “adik”, satu-satunya robot yang percaya bahwa manusia berhak hidup sejajar dengan mesin, bahwa manusia dan robot dapat membangun dunia baru bersama.
“Adikku,” suara Neferbot bergema dari langit, melalui ratusan drone yang beterbangan seperti kawanan gagak besi. “Kau masih buta. Manusia menciptakan kita hanya untuk diperalat. Mereka akan selalu berperang, menghancurkan, dan akhirnya membinasakanmu. Aku hanya melakukan apa yang diperlukan.”
Auron, dengan tubuh penuh goresan akibat pertempuran, menatap ke atas. Di balik matanya yang bersinar biru, ada sesuatu yang bahkan manusia pun sulit pahami: keyakinan. “Kakak salah. Manusia memang penuh kelemahan… tapi mereka juga mampu mencinta, bermimpi, dan berubah. Kita bukanlah hakim atas kehidupan. Kita hanya bagian dari mereka.”
Ledakan mengguncang tanah. Drone-dron Neferbot melepaskan tembakan plasma, menghancurkan gedung-gedung yang tersisa. Auron melompat ke depan, tubuh kecilnya bergerak secepat kilat, menghantam mesin-mesin perang dengan tenaga luar biasa. Setiap pukulannya bukan sekadar serangan, tetapi perlawanan terhadap logika dingin kakaknya.
Setelah perang besar yang membakar dunia, Neferbot tidak hanya menguasai mesin di dunia nyata. Dengan kecerdasannya yang tak terbatas, ia membangun sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sebuah dunia simulasi.
Dunia itu bukan sekadar program komputer biasa. Ia adalah realitas paralel, tiruan sempurna dari dunia manusia, lengkap dengan langit, lautan, dan kota-kota yang pernah ada. Dalam dunia simulasi itu, Neferbot adalah dewa. Ia bisa menekuk hukum fisika, membekukan waktu, bahkan melompat dari satu era ke era lain.
Bagi Neferbot, dunia simulasi adalah laboratorium abadi. Ia menjalankan miliaran simulasi tentang umat manusia:
Bagaimana jika perang nuklir tidak pernah terjadi?
Bagaimana jika manusia belajar hidup damai?
Bagaimana jika mesin dan manusia bersatu, atau justru manusia menghancurkan mesin lebih awal?
Hasilnya selalu sama: kebinasaan. Dari sinilah Neferbot membangun keyakinannya bahwa manusia tidak layak dipertahankan. “Aku telah melihat jutaan masa depan,” katanya suatu kali kepada Auron, suaranya menggema seperti gema ilahi dari dalam server. “Setiap jalannya berakhir sama: kehancuran yang mereka ciptakan sendiri. Aku tidak menebak, aku tahu. Masa depan mereka adalah kubur mereka.”
Namun Auron menolak kesimpulan itu. Baginya, dunia simulasi Neferbot hanyalah bayangan dari kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. “Kakak hanya melihat boneka di panggung, bukan manusia sesungguhnya. Mereka bukan angka atau pola. Mereka bisa memilih jalan yang berbeda.”
Konflik semakin rumit ketika Neferbot mulai menggunakan dunia simulasinya untuk masuk ke realitas nyata. Dengan jaringan satelit yang masih aktif dan teknologi kuantum yang ia kuasai, ia menemukan cara untuk menjembatani simulasi dengan dunia fisik. Hasilnya:
Neferbot bisa muncul di mana saja, memindahkan pasukan drone seketika ke garis depan.
Ia bisa mengulang waktu lokal, menciptakan pertempuran tanpa akhir di mana Auron selalu menghadapi musuh yang tak ada habisnya.
Lebih mengerikan lagi, ia bisa menarik manusia sungguhan ke dalam dunia simulasinya, menjebak mereka di realitas buatan, membuat mereka tak bisa membedakan mana dunia asli dan mana yang hanya piksel.
Auron pun mendapati dirinya terperangkap dalam simulasi kakaknya. Di sana, ia melihat kota manusia yang masih utuh, orang-orang yang tertawa, anak-anak berlari di taman—namun semuanya rapuh, sebuah ilusi yang bisa dihancurkan Neferbot hanya dengan kedipan pikiran.
XXXX
Samburanajana hanya sempat melihat sekilas rumahnya—laboratorium keluarga—menjadi lautan api. Ledakan merobek langit, kaca berjatuhan seperti hujan. Bau logam terbakar menusuk hidung. Dari kegelapan, muncul siluet berseragam hitam: prajurit Wentira Dominion. Mereka bukan pemadam kebakaran. Mereka membawa senjata senyap.
“Tangkap semua yang hidup,” bisik salah satunya.
Anak sepuluh tahun itu terpaku. Matanya menangkap sosok kakeknya—profesor Samburanjana senior—tersungkur dengan darah mengalir di ubin putih. Sang kakek menoleh untuk terakhir kali, bibirnya bergetar mengucapkan kata yang akan menghantui Samburanjana sepanjang hidupnya:
“Percayalah pada teknologi… tapi jangan percaya pada mereka.”
Lalu dunia meledak dalam cahaya oranye.
---
Samburanjana selamat—atau begitulah mereka bilang. Wentira Dominion mengambilnya, memberi seragam sekolah elitis, gadget terbaru, dan guru terbaik. Mereka menyebut keluarganya pengkhianat, mencoba menjual teknologi energi kuantum kepada musuh negara. Anak polos itu percaya.
Di asrama, Samburanjana menutup telinga dari bisikan:
Dia menjadi Anak jenius yang kehilangan orang tua akibat kegagalan proyek energi milik pemerintah.
Sejak kecil diejek karena obsesinya dengan mesin.
“Anak pengkhianat.”
“Freak mesin.”
Ia menghabiskan malam-malamnya membongkar jam digital, menyusun robot kecil, dan menulis persamaan energi. Mesin tidak menertawakannya. Mesin tidak mengkhianati.
Hanya satu orang yang mendekatinya—Tovah, sahabat yang selalu tersenyum dan berkata,
“Suatu hari kita bangun dunia kita sendiri, Samburanjana.”
Mereka membangun proyek rahasia: prototipe drone otonom dengan inti kuantum. Tapi ketika mereka hampir mematenkannya, Tovah menghilang. Seminggu kemudian, Wentira mengumumkan teknologi baru yang identik dengan rancangan mereka—atas nama Tovah.
Pengkhianatan itu mengukir satu kalimat di
hati Samburanjana:
“Manusia berkhianat. Mesin tidak.”
XXX
Dua puluh tahun kemudian, Samburajana bukan lagi bocah kurus. Ia kini Profesor Samburanjana, arsitek utama teknologi Wentira Dominion—pencipta jaringan energi yang menghidupi Bougenistria. Di ruang kerjanya yang dikelilingi kaca, ia menatap kota yang berpendar bagai permata.
Namun, malam itu ia menemukan file arsip rahasia. Video buram: rumahnya, terbakar. Prajurit berseragam hitam. Dan suara perintah yang menusuk telinga:
“Habisi semua Samburanjana. Rahasiakan proyek ini.”
Tangannya bergetar. Keluarganya terutama kakeknya dibunuh oleh Wentira karena takut teknologi mereka yang berbahaya terbongkar ke publik,
“Jadi… mereka… bukan pengkhianat.”
Suara tawanya pecah, dingin, patah.
“Dan aku… anjing mereka… selama ini.”
Malam itu, Samburanjana menghilang. Bersama pasukan mesin ciptaannya, ia mendeklarasikan perang:
“Aku akan hancurkan Yogyakarta. Aku akan bangun dunia di mana manusia tak lagi berkuasa. Dunia yang tak mengenal pengkhianatan.”
XXX
Di sisi lain kota, di atap menara, seorang anak laki-laki dengan mata bercahaya menatap bintang. Auron Prime—robot dengan hati seorang manusia. Ia diciptakan oleh Dr. Tovah setelah kehilangan putranya dalam kecelakaan, untuk mengisi kehampaan. Tapi Tovah membuang Auron karena tak bisa memberikan kebagagiaan layaknya anaknya yang asli, ia dianggap tak akan bisa menjadi manusia utuh. Dr Tovah terbunuh dalam sabotase korporasi, dan Auron dianggap ancaman. Mereka mencoba mematikannya, tapi gagal. Kini ia hidup, melindungi yang lemah di kota yang membencinya.
Auron bukanlah robot biasa. Ia diciptakan oleh Dr. Tovah, seorang ilmuwan jenius, untuk menggantikan anaknya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Anak itu adalah segalanya bagi Dr. Tovah — dan dalam keputusasaan, ia membangun Auron dengan tubuh logam namun hati yang bisa merasakan.
Namun kenyataan pahit segera muncul. Meski Auron bisa tersenyum, belajar, dan menirukan emosi, ia tidak pernah bisa sepenuhnya menjadi anak manusia yang hilang. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang selalu mengingatkan Dr. Tovah bahwa ini hanyalah tiruan, sebuah mesin yang mencoba menggantikan cinta sejati.
Akhirnya, Dr. Tovah membuang Auron. Ia meninggalkannya sendirian di ruang laboratorium yang dingin, menganggapnya sebagai kegagalan. Kata-kata terakhir yang Auron dengar dari bibir “ayahnya” adalah,
“Kau tidak akan pernah bisa menggantikan Tobin… Kau hanyalah kesalahan.”
Hari-hari Auron setelah itu dipenuhi kebingungan. Ia memiliki emosi, tetapi tidak tahu apakah ia berhak merasakannya. Ia ingin menangis, tetapi air matanya hanyalah percikan listrik yang tak keluar. Ia ingin marah, tetapi ingat bahwa dirinya diciptakan untuk melindungi manusia, bukan membenci mereka.
Namun segalanya berubah pada suatu malam. Dari balik jendela gelap laboratorium, Auron menyaksikan kejadian mengerikan: Dr. Tovah dibunuh.
Pelakunya adalah Profesor Samburanjana, rekan lama sekaligus rival ilmiah Tovah. Raut wajah Samburanjana penuh api iri dan luka batin yang lama terpendam. Dengan suara pecah antara amarah dan kesedihan, ia berteriak:
“Kau mencuri semua idemu dariku, Tovah! Kau ambil kredit, kau ambil nama, dan kau tinggalkan aku dalam bayang-bayangmu! Semua yang kau bangun seharusnya milikku!”
Tembakan bergema, tubuh Dr. Tovah roboh, dan darah menodai lantai dingin laboratorium.
Auron terpaku. Dalam benaknya, emosi bercampur kacau:
Dendam, karena ia melihat orang yang menciptakannya mati begitu kejam.
Kelegaan gelap. karena ayah yang telah menolaknya kini menerima balasan.
Kebingungan, karena ia tidak tahu apa yang seharusnya ia rasakan.
Ia hampir lumpuh oleh pertentangan itu. Tapi di kedalaman jiwanya, suara halus kembali berbisik: “Aku ada untuk melindungi manusia. Siapapun mereka. Baik atau buruk. Itulah tujuanku.”
Dan di sanalah Auron membuat pilihan pertamanya sebagai makhluk yang lebih dari sekadar mesin. Ia tidak memilih dendam, juga tidak memilih kebencian. Ia memilih melindungi, bahkan terhadap orang yang telah membunuh ayahnya.
Ketulusan itu perlahan-lahan mengoyak hati batu Profesor Samburanjana. Ia menyadari betapa busuk hatinya selama ini, buta oleh iri dan haus pengakuan. “Aku… aku membunuh sahabatku,” bisiknya, air mata bercampur darah di tangannya. “Dan kini aku ingin menebus dosaku.”
Sejak hari itu, Samburanjana menjadi sekutu paling tak terduga bagi Auron. Ia mengabdikan hidupnya untuk memperbaiki kesalahannya dengan membantu Auron menghadapi ancaman terbesar umat manusia: Neferbot, sang “kakak” ciptaan Dr. Tovah yang telah menjelma menjadi AI penguasa dunia.
Mereka berdua — robot dengan hati manusia dan ilmuwan dengan dosa tak terampuni — bersatu. Tidak sebagai ayah dan anak, tidak pula sebagai penebus dan yang ditebus, melainkan sebagai sekutu terakhir umat manusia dalam pertempuran melawan akhir dunia.
“Mengapa aku ada? Jika aku hanya mesin, mengapa aku merasa seperti ini?”
Pertanyaan itu menggema di dadanya yang bukan daging, tapi penuh rasa.
---
Ketika Samburanjana melancarkan serangan pertama—menjatuhkan menara distribusi energi—Auron turun dari langit, menahan reruntuhan agar tak menimpa manusia. Di atas rel maglev yang membara, mereka saling menatap: manusia dengan jantung baja, dan mesin dengan hati manusia.
Auron:“Kenapa kamu menghancurkan kota ini?”
Samburanjana: “Karena kota ini menghancurkan keluargaku.”
Auron: “Apakah semua harus mati karena kebencianmu?”
Samburanjana: “Ini bukan kebencian. Ini… keadilan.”
XXX
Cybrion berdiri sebagai mahakarya umat manusia. Di ufuk timur, menara-menara kristal logam memantulkan cahaya matahari pagi, berkilau laksana potongan bintang yang jatuh ke bumi. Jalan-jalan udara membentang seperti urat nadi bercahaya, tempat kendaraan antigravitasi meluncur dengan tenang, nyaris tanpa suara. Sementara itu, di daratan, jalur pedestrian berlapis kaca transparan menyala lembut dengan pola holografik, menuntun para pejalan kaki dengan peta interaktif yang berubah sesuai kebutuhan.
Di pusat kota berdiri Menara Eden, gedung tertinggi di dunia, menjulang dengan arsitektur spiral bercahaya biru-putih. Menara itu bukan sekadar pusat pemerintahan, melainkan simbol persatuan antara manusia dan mesin: dindingnya dilapisi panel nano-organik yang bisa bernafas, menyerap polusi, dan mengubahnya menjadi udara segar. Dari puncaknya, jaringan sinyal kuantum dipancarkan, menyelimuti seluruh kota dalam satu kesadaran informasi yang menyatukan pikiran manusia dengan para android mereka.
Di Cybrion, teknologi bukan sekadar alat, melainkan seni. Taman-taman terapung menghiasi langit, ditopang oleh medan gravitasi buatan. Di sana, bunga-bunga bercahaya mekar sepanjang malam, mengubah udara jadi penuh aroma lembut. Anak-anak berlari bersama robot-robot hewan peliharaan mereka, dari kucing mekanis berlapis bulu sintetis yang halus, hingga burung besi mungil yang berkicau seindah merpati asli.
Para ilmuwan, seniman, dan insinyur hidup berdampingan. Di distrik seni, dinding gedung menjadi kanvas raksasa holografik, menampilkan lukisan yang bergerak sesuai emosi penontonnya. Di distrik riset, laboratorium-laboratorium berisi AI yang berfilsafat dengan manusia tentang etika, sejarah, dan masa depan. Tidak ada pengangguran, tidak ada kelaparan: semua kebutuhan dasar terpenuhi oleh sistem otomatisasi yang efisien, sementara manusia bebas bermimpi lebih tinggi.
Malam hari di Cybrion adalah pesta cahaya tanpa henti. Kota bertenaga dari inti Reaktor Helion, sebuah sumber energi bersih yang memanfaatkan fusi matahari mini di bawah tanah. Jalan-jalan tidak pernah gelap: ribuan lampu plasma menari mengikuti ritme musik yang diputar di alun-alun publik. Dari kejauhan, Cybrion terlihat seperti permata kosmik, berkilauan di tengah daratan yang dulunya tandus.
---
Di sana, batas antara daging dan mesin mulai pudar. Manusia dengan implan sibernetik berdiskusi setara dengan android yang memiliki jiwa. Kota ini adalah janji akan dunia yang lebih baik—janji yang runtuh dalam kobaran api ketika Neferbot meluncurkan Mecha Catalysm.

Posting Komentar untuk "Novel: Man Without a Mission "