Well
Defined Problem adalah masalah yang memiliki struktur
jelas, informasi lengkap, tujuan akhir yang spesifik, dan aturan atau metode
yang pasti untuk mencapai solusi.
Menurut Solso dkk. (2014), problem solving adalah proses berpikir yang diarahkan untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu, yang melibatkan baik pembentukan berbagai kemungkinan respons maupun pemilihan di antara respons-respons tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghadapi sangat banyak masalah yang membuat kita harus menyusun strategi respons, memilih respons yang mungkin, serta menguji respons tersebut dalam upaya menyelesaikan masalah.
Menurut Sternberg dan Sternberg (2012), well-structured problems memiliki jalur penyelesaian yang jelas, meskipun tidak selalu mudah, dan biasanya melibatkan penerapan rumus atau langkah tertentu.
Menurut Allaire dan Marsiske (2010), pengukuran problem solving menggunakan well-defined dan ill-defined problems menunjukkan bahwa keduanya saling berkaitan, namun memiliki hubungan yang berbeda dengan kemampuan kognitif dasar.
Menurut Dörner dan Funke (2017), terjadi pergeseran dalam cara memahami pemecahan masalah, yaitu dari yang awalnya berfokus pada masalah yang terdefinisi dengan baik (well-defined problems) menjadi masalah yang tidak terdefinisi dengan baik (ill-defined problems).
Pergeseran ini terjadi karena adanya kekecewaan terhadap konsep general problem solver, yaitu sebuah program komputer yang dirancang untuk dapat menyelesaikan berbagai jenis masalah selama masalah tersebut memiliki struktur yang jelas. Program ini pada awalnya dianggap mampu menjadi solusi umum untuk berbagai persoalan. Namun, dalam praktiknya, sistem ini ternyata hanya mampu menyelesaikan masalah yang terstruktur dengan baik dan berada dalam kondisi yang terbatas.
Hal ini menunjukkan bahwa general problem solver sebenarnya bukanlah pemecah masalah umum, melainkan hanya efektif untuk jenis masalah tertentu saja, yaitu well-defined problems. Sementara itu, masalah dalam kehidupan nyata jauh lebih kompleks. Dunia nyata dipenuhi oleh masalah yang memiliki batasan yang tidak jelas, tidak memiliki solusi yang pasti, serta sering kali membingungkan dan sulit diprediksi Oleh karena itu, pendekatan yang hanya mengandalkan struktur dan aturan yang jelas menjadi kurang relevan untuk menghadapi masalah sehari-hari.
Lebih lanjut, perbedaan karakteristik antara well-defined problems dan ill-defined problems menunjukkan bahwa keduanya membutuhkan proses berpikir yang berbeda. Penyelesaian masalah yang terstruktur cenderung menggunakan cara berpikir logis dan sistematis, sedangkan masalah yang tidak terstruktur membutuhkan fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang lebih tinggi. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang menyatakan bahwa kedua jenis masalah tersebut melibatkan proses kognitif yang berbeda.
Dapat disimpulkan bahwa well-defined problem dapat dipahami sebagai jenis masalah yang memiliki struktur yang jelas, baik dari segi tujuan, informasi yang tersedia, maupun langkah-langkah penyelesaiannya. Dalam kerangka pemecahan masalah sebagai proses berpikir yang melibatkan pembentukan dan pemilihan respons, well-defined problem menempati posisi yang relatif “terkendali” karena individu dapat mengandalkan aturan, rumus, atau prosedur tertentu untuk mencapai solusi. Meskipun tidak selalu mudah diselesaikan, masalah jenis ini tetap memberikan arah yang pasti sehingga memungkinkan pendekatan yang logis, sistematis, dan terencana.
Namun, pemahaman tentang well-defined problem juga menunjukkan keterbatasannya. Berbagai kajian menegaskan bahwa jenis masalah ini memang saling berkaitan dengan bentuk masalah lain, tetapi tidak sepenuhnya mewakili kompleksitas kemampuan kognitif manusia dalam kehidupan nyata. Hal ini terlihat dari kegagalan konsep general problem solver, yang awalnya dianggap mampu menyelesaikan berbagai persoalan secara universal, tetapi pada praktiknya hanya efektif pada masalah yang terstruktur dengan jelas. Artinya, well-defined problem hanya mencerminkan sebagian kecil dari realitas permasalahan yang dihadapi manusia.
Lebih jauh lagi, pergeseran fokus dalam studi pemecahan masalah dari well-defined ke ill-defined problems mempertegas bahwa dunia nyata tidak selalu menyediakan batasan yang jelas, solusi yang pasti, atau langkah yang terstruktur. Oleh karena itu, meskipun well-defined problem penting sebagai dasar untuk melatih kemampuan berpikir logis dan analitis, pendekatan ini menjadi kurang memadai jika digunakan secara tunggal untuk menghadapi masalah sehari-hari yang kompleks.
Dengan demikian, well-defined problem dapat disimpulkan sebagai jenis masalah yang efektif untuk dipahami dan diselesaikan melalui prosedur yang jelas dan sistematis, tetapi memiliki keterbatasan dalam merepresentasikan realitas yang lebih luas. Keberadaannya tetap penting dalam kajian kognitif, terutama untuk memahami bagaimana manusia menggunakan aturan dan strategi terstruktur, namun perlu dilengkapi dengan pendekatan yang lebih fleksibel agar mampu menghadapi berbagai bentuk masalah dalam kehidupan nyata.
Menurut Janet E. Davidson
dan Robert J. Sternberg (2003) faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah
sering dijelaskan sebagai sebuah siklus. Artinya, langkah-langkahnya tidak
berhenti pada satu solusi saja, tetapi bisa berulang terus ketika muncul
masalah baru
Dalam siklus ini, ada
beberapa tahap utama yang biasanya dilakukan seseorang saat menyelesaikan
masalah:
a.
Menyadari adanya masalah
Kita harus tahu dulu
bahwa ada sesuatu yang perlu diselesaikan.
b.
Memahami dan mendefinisikan masalah
Kita mencoba memahami
masalah tersebut secara lebih jelas di dalam pikiran.
c.
Menyusun strategi solusi
Mulai memikirkan cara
atau langkah untuk menyelesaikannya.
d.
Mengorganisasi pengetahuan
Mengingat informasi
atau pengalaman yang relevan dengan masalah tersebut.
d.
Mengalokasikan sumber daya
Menggunakan waktu,
tenaga, dan kemampuan berpikir untuk menyelesaikan masalah.
e.
Memantau proses
Mengecek apakah langkah
yang dilakukan sudah menuju ke solusi.
f.
Mengevaluasi hasil
Menilai apakah solusi
yang diperoleh sudah benar atau belum.
Solso,
R. L., Maclin, M. K., dan Maclin, O.
H. (2016). Cognitive psychology (8th ed.). Pearson.
Sternberg,
R. J. dan Sternberg, K. (2012). Cognitive psychology (6th ed.). Wadsworth, Cengage Learning.
Allaire,
J. C. dan Marsiske, M. (2002). Well- and ill-defined measures of everyday
cognition: Relationship to older adults’ intellectual ability and functional
status. Psychology and Aging, 17(1), 101–115. https://doi.org/10.1037/0882-7974.17.1.101
Dörner,
D. dan Funke, J. (2017). Complex problem
solving: What it is and what it is not. Frontiers in Psychology, 8, 1153. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2017.01153
Guthrie,
L. G., Vallée-Tourangeau, F., Vallée-Tourangeau, G. dan Howard, C. (2015). Learning and interactivity in solving a
transformation problem. Memory & Cognition, 43(5), 723–735. https://doi.org/10.3758/s13421-015-0504-8
Davidson,
J. E., & Sternberg, R. J. (Eds.). (2003). The psychology of problem solving. Cambridge University Press.

Posting Komentar untuk "Well Defined Problem"