Novel: Miggleland 2: Fallen Angel from Valdoria: Varudoria no Monogatari

 


 




© 2026 [Damar Pratama]. Semua Hak Dilindungi.
Novel ini adalah karya asli penulis dan dilindungi oleh hukum hak cipta yang berlaku. Dilarang menyalin, mereproduksi, memodifikasi, mendistribusikan, atau menggunakan sebagian atau seluruh isi novel ini untuk tujuan komersial maupun non-komersial tanpa izin tertulis dari penulis.

Segala pelanggaran hak cipta dapat dikenai tindakan hukum sesuai peraturan yang berlaku. Pembaca diizinkan untuk menikmati karya ini hanya dalam bentuk membaca langsung di blog ini. Jika ingin membagikan atau menggunakan konten ini, silakan menghubungi penulis untuk mendapatkan izin resmi.

Terima kasih telah menghargai karya asli dan hak cipta penulis.

Prolog

Abad ke 22. Dunia telah sunyi. Kota-kota besar seperti New York, Tokyo, Paris semuanya kini hanya puing-puing bisu yang hancur akibat perang nuklir seabad lalu, dihuni oleh makhluk-makhluk yang dulunya manusia. Zombie, hasil mutasi virus buatan yang tersebar tanpa ampun, telah memakan peradaban hidup.  Tak lama setelah virus zombie ada sebuah banjir bandang yang hampir menenggelamkan seluruh peradaban manusia seperti Atlantis.

Namun, di tengah kehancuran itu, satu negara tetap berdiri: Federasi Sosialis Goryeo.

Berkat kebijakan isolasi besi yang telah berlangsung lebih dari satu abad, negeri itu terkunci rapat dari dunia luar. Tidak ada yang masuk, tidak ada yang keluar. Dan ketika virus menguasai dunia, pagar-pagar itu menjadi benteng keselamatan.

Kini, Goryeo tak lagi sekadar negara. Ia adalah satu-satunya peradaban ras manusia murni yang tersisa di bumi. Dan pemimpinnya, Kim Jong Tsung yang memiliki gelar The Big Brothers, cucu dari pemimpin agung legendaris, telah menobatkan dirinya sebagai Tuhan Hidup

Ketika kebanyakan manusia berhasil melarikan diri dari banjir bandang dan virus zombie dengan mencari planet baru di luar angkasa, Federasi Sosialis Goryeo memenjarakan rakyatnya sendiri agar tak bisa kabur dari wilayahnya dan memutus akses ke pesawat luar angkasa, mereka mulai mengambil alih wilayah negara lain yang ditinggalkan oleh manusia keluar angkasa. Penguasa negara itu berusaha mempertahankan kekuasaannya di sisa sisa dunia yang akan hancur.

Selama hampir seribu tahun, dunia telah berubah, begitu pula gadis rubah berekor sembilan ini. Dari hutan yang dulu dipenuhi bunga dan cahaya matahari, hingga reruntuhan kota-kota besar yang kini dipenuhi kesunyian dan kehancuran—ia telah melihat dunia ini berubah, perlahan memudar, dan akhirnya runtuh dalam kegelapan. Namun satu hal tetap abadi dalam hatinya: pencariannya.

Gadis rubah ini, yang berusia 10000 tahun, telah berkelana ke seluruh dunia, melintasi negara-negara yang kini hanya menyisakan kenangan. Ia mencari satu sosok—seorang lelaki yang pernah menjadi cintanya di kehidupan sebelumnya. Lelaki itu, manusia yang melindunginya, yang menyayangi dan memahaminya meskipun dia bukan manusia, adalah segala-galanya baginya.


Namun, dunia tidak pernah memahami mereka. 800 tahun lalu, sebagai siluman rubah berekor sembilan, seorang makhluk yang tak bisa diterima di dunia manusia. Cinta mereka berkembang di tengah kesulitan dan ketakutan, karena manusia takut pada apa yang tidak mereka mengerti. Mereka hidup dalam bayang-bayang ancaman, hingga akhirnya, lelaki itu, yang telah mengorbankan segalanya untuk melindunginya, dibunuh oleh penduduk desa.


Hari itu adalah hari yang akan ia kenang selamanya. Penduduk desa yang marah dan takut akan keberadaannya, yang menganggapnya sebagai makhluk jahat, mengusir dan membunuh lelaki yang telah menyelamatkannya dari bahaya. Lelaki itu terjatuh di tanah, darahnya mengalir, sementara dia berlutut di sampingnya, tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, dengan suara lemah namun penuh tekad, dia berkata, "Aku ingin terlahir kembali, bukan sebagai manusia, tapi sebagai siluman rubah... agar kita bisa hidup bersama selamanya. Jangan biarkan aku pergi... Aku akan kembali padamu."


Kata-kata itu menghantui gadis rubah hingga hari ini, meskipun hidupnya telah berlanjut jauh setelah kematian kekasihnya. Ia percaya bahwa lelaki itu benar-benar akan kembali—bahwa takdir akan membawa mereka bersama lagi. Dan dengan keyakinan itu, ia menjelajahi dunia, mencari petunjuk, mencari dia yang akan kembali padanya.

Ia bernyanyi di tengah gelapnya alam semesta. 

"Sudah berapa kalikah menyerah pada setiap tekanan hingga mati?
perasaan yang tidak punya tempat membangunkan mata
senyum yang kejam itu setara dengan
berpisah pada keberadaan yang berjauhan

Luka yang tidak dapat sembuh hanya menggerogoti hati padahal
di dalam kegelapan ini bahkan perasaan yang menetap saat ini tidak dapat kukendalikan

Ke batas mimpi dari mimpi
telah pertemuan takdir itu mulai berputar
tidak seorang pun mengetahui rahasia kejatuhan hatiku
tanpa ragu bahkan mengukir dosa yang tidak dapat kembali

Berjalan di kedalaman kesepian seraya diselamatkan
mata yang nyata tak kan pernah berubah bagaimanapun keadaannya
tapi semakin menyilaukan sinar semakin bayangan itu dapat terlahirkan
warna pekat dari dalam hati yang mendekat tanpa disadari

Dua detak jantung seperti halnya cermin yang saling berhadapan
serupa tapi rasa sakit yang berbeda terus berlanjut tanpa batas. " 



Berkeliling dari hutan ke padang gurun, dari gunung yang tinggi hingga lembah yang dalam, ia tak kenal lelah. Namun, dunia yang ditinggalkannya kini berbeda. Virus buatan telah menyebar, mengubah umat manusia menjadi makhluk zombie yang menyeramkan, sementara yang tersisa hanya reruntuhan dan kehancuran. Dunia yang pernah dikenalnya telah lama hilang. Namun di tengah semua ini, gadis rubah itu merasakan sesuatu—sebuah kekuatan yang aneh namun familiar, seperti angin yang membawa bau yang dikenalnya.


Di antara kabut mitos Asia Timur, manusia mengenal Gumiho sebagai siluman rubah berekor sembilan cantik, berbahaya, penggoda jiwa. Mereka dianggap pemakan hati manusia, penggoda lelaki yang lalai. Namun legenda itu hanyalah tirai tipis yang dipasang Dei Vulneris, agar manusia membenci makhluk yang sebenarnya paling suci di antara ciptaan.


Gumiho sejatinya bukanlah yokai ataupun iblis. Mereka adalah makhluk suci dari lapisan terdalam mimpi Ylmorrath, serpihan cahaya yang terlahir ketika penderitaan manusia pertama kali menjerit ke langit. Jika iblis adalah kristalisasi luka, maka Gumiho adalah kristalisasi harapan.

 

Konon, siapa pun yang menatap Gumiho dalam wujud sejatinya akan melihat bayangan dirinya yang sempurna—bukan tubuh fana, melainkan bentuk abadi yang seharusnya ia miliki setelah kematian.


Mata mereka menyimpan pantulan bintang yang tak pernah ada.

Senyum mereka membuat manusia merasa pulang ke rumah yang tak pernah mereka kenal.

Rambut mereka adalah malam itu sendiri, panjang dan berkilau oleh rahasia kosmos.


Manusia yang disentuh oleh Gumiho bisa melihat sekilas jalan menuju surga—jalan yang tak tergambar di kitab, tak terucap oleh nabi, melainkan cahaya murni kebangkitan kesadaran.


Legenda menyebut mereka sudah punah. Namun kebenarannya adalah: Gumiho disembunyikan. Dei Vulneris, para dewa luka, tahu bahwa hanya Gumiho yang memiliki kekuatan untuk membangunkan Ylmorrath dengan cara yang benar—bukan dengan kekacauan, melainkan dengan nyanyian pengampunan.


Karena itu mereka menyebarkan dongeng bahwa Gumiho jahat, agar manusia memburunya, agar darahnya mengering di tanah, agar harapan sirna.


Namun tak semua terbunuh. Beberapa Gumiho bersembunyi dalam wujud manusia, hidup di antara manusia biasa, menunggu saat panggilan kosmik tiba.


Peran mereka bukanlah untuk memimpin kerajaan, bukan pula untuk menghancurkan musuh. Misi sejati Gumiho adalah membangunkan monster yang bermimpi—Ylmorrath.

Namun, kebangkitan ini bukan berarti kiamat, melainkan pencerahan.


Bila Ylmorrath  bangkit oleh nyanyian Gumiho, ia akan bangun dengan tenang, dan mimpi penderitaan manusia akan usai. Dunia fana akan runtuh, namun kesadaran manusia akan dituntun ke surga yang abadi.

Del  Vulneris berusaha menjaga agar Ylmorrath tetap tidur untuk menjaga alam semesta di dalam kekacauan dan kerusakan.


Itulah rahasia yang ditakuti. Iblis ingin dunia bertahan agar penderitaan berlanjut,

Gumiho ingin dunia berakhir agar penderitaan berhenti.



Karena itu Gumiho disebut lambang keabadian. Mereka tidak bisa mati kecuali dibunuh oleh kebencian manusia. Namun, selama masih ada harapan sekecil apa pun, seekor Gumiho akan lahir kembali, dengan sembilan ekornya menyala bagaikan obor di kegelapan.


XXX

Di balik segala hukum kosmos, di balik bintang, nebula, dan suara hampa, ada sesuatu yang lebih tua dari waktu. Ia  bukan Dewa, bahkan bukan jiwa. Ia adalah monster purba yang bermimpi.

Merah yang terbakar

Merah kemerahan yang bergoyang

Kemerahan yang menumpahkan darah dan tangisan

Menghapus segalanya

Ilusi yang tidak terwujud mulai menggerakkan 

Malam yang sementara dengan kuat  

Melampaui bahkan menenggelamkan dosa 

Tidak dapat ada yang lari darinya dengan pasti

Namanya adalah YLMORRATH, Sang Rahim Tidur.

Ia tak pernah lahir, tak pernah mati. Tubuhnya membentang melampaui galaksi, suaranya tidak pernah terdengar, namun setiap getaran mimpinya menjadi hukum realitas.


Alam semesta yang kita kenal—manusia, planet, bintang, bahkan hukum fisika—hanyalah dongeng samar yang Ylmorrath dengungkan pada dirinya sendiri saat terlelap.


Namun Ylmorrath tidak tidur tenang. Setiap dentum mimpi bisa mengguncangkan fondasi realitas. Untuk menjaga agar mimpi itu tetap mengalir, muncullah para entitas yang lahir dari luka mimpi:

Sebelum ada bintang pertama, sebelum kosmos punya bentuk, yang ada hanyalah Nyanyian Luka, gema dari penderitaan yang belum terjadi. Dari gema itu lahirlah makhluk-makhluk maha purba yang disebut Para Dewa Luka (Dei Vulneris). Mereka bukan dewa dalam arti manusia, melainkan luka kolektif manusia yang menjadi sadar.

Alam semesta kita sesungguhnya bukan nyata, hanya dongeng yang dituturkan oleh Eresh-Gorath kepada Ylmorath. Setiap sejarah, setiap perang, setiap kerajaan hanyalah lapisan tipis dari narasi yang ditulis ulang tanpa akhir.

Eresh Gorath mengendalikan waktu seperti pasir yang ia genggam.

Membaca pikiran kolektif manusia seperti membuka buku tipis.

Menulis ulang kenyataan sebagaimana seorang dalang mengubah lakon.


Eresh-Gorath, Sang Penulis Mimpi, yang menenun narasi realitas agar mimpi tetap terjaga.

Nir-Athora, Sang Rahim Gelap, yang melahirkan iblis, siluman, dan roh, agar drama mimpi terus berjalan.

Iblis lahir dari pusaran kebencian, rasa iri, dan amarah manusia. Mereka adalah percikan Khalthorion yang menjelma wujud.

Siluman lahir dari sisi liar manusia yang bercampur dengan alam: binatang, hutan, sungai. Mereka tidak sepenuhnya jahat, tapi juga bukan sahabat. Mereka adalah anak-anak Nir-Athora, penjaga batas antara dunia nyata dan gaib.


Veyth-Zorath, Sang Luka Abadi, yang meneteskan penderitaan, karena mimpi tanpa derita akan membuat Ylmorrath gelisah.

Khalthorion, Sang Pengukir Nestapa, yang mengukir peperangan, ambisi, dan kebencian agar kisah tetap bergerak.

Dan kini, Mak Lampir, setelah menyatu dengan Cincin Solomon, menjadi anggota Dei Vulneris Kelima, Sang Luka Hidup, pengatur ngeri dalam skala kosmik.


Mereka bukan sekadar dewa. Mereka adalah dongeng pengantar tidur bagi monster itu. Kekacauan, perang, kematian, penderitaan, adalah lullaby yang membuat Ylmorrath tetap terlelap.


Seluruh kosmos hanya bertahan karena ia tidur. Jika ia membuka mata—hanya sepersekian detik—semua bintang akan runtuh, planet meleleh, dan hukum realitas akan terhapus, seperti anak kecil yang menutup buku dongeng dan meletakkannya di meja.


"Jika ia terbangun, maka kita semua hanyalah tinta yang menguap," bisik Eresh-Gorath.

"Dan tidak akan ada lagi mimpi setelah itu."



Mak Lampir, yang dulunya sekadar penyihir Jawa yang dikutuk, kini melihat kenyataan dengan mata baru. Ia menyadari bahwa segala penderitaan manusia—perang, wabah, pengkhianatan—adalah lagu nina-bobo kosmik.

Dan ia, kini sebagai Dei Vulneris, harus menjaga lagu itu agar terus bernyanyi.


Dengan Cincin Raja Atlan yang ternyata bagian dari tubuh Ylmorrath, Mak Lampir kini bisa menulis ulang mimpi. Ia dapat memanjangkan penderitaan, menyalakan perang baru, membangkitkan iblis, bahkan membengkokkan waktu—semata agar sang monster terus terlelap.


Alam semesta ini, semua peradaban, semua doa dan keputusasaan manusia, hanyalah dongeng murahan yang diceritakan kepada bayi raksasa buta. Dan Dei Vulneris adalah pendongeng gila yang memastikan dongeng itu tidak pernah berhenti—sebab keheningan berarti kebangkitan.


Maka dunia ini tidak pernah mengenal damai. Sebab damai adalah ancaman terbesar. Dan penderitaan adalah satu-satunya nyanyian yang menjaga kita tetap ada.

XXX

Alam semesta memasuki era kegelapan sejak kelahiran Dei Vulneris, para pembawa luka pada 4 juta tahun yang lalu. Meski terlihat seperti iblis, sebenarnya Dei Vulneris adalah kumpulan arwah ras manusia dari zaman kuno bernama The Great old ones yang terkorupsi oleh id atau alam bawah sadar terdalam dari Yllmorath yang penuh kegelapan. Bagaikan palung terdalam yang tak disadari oleh Yllmorath sendiri.


Id bagian paling primitif dan naluriah dari kepribadian Yllmorath yang dimiliki sejak alam semesta lahir, beroperasi sepenuhnya di alam bawah sadar, dan didorong oleh prinsip kesenangan (pleasure principle) untuk mendapatkan kepuasan instan atas dorongan, keinginan, dan kebutuhan dasar (seperti lapar, haus, seksual) tanpa mempertimbangkan realitas, logika, atau moralitas



Manusia dan para dewa mewakili ego Yllmorath. Ego adalah bagian dari kepribadian alam semesta yang yang sadar, bertugas menyeimbangkan antara Id (insting dasar) dan Superego (hati nurani).

 

Sedangkan Gumiho berusaha menegakkkan bagian dari kepribadian Yllmorath yang mewakili standar moral dan kebenaran yaitu superego.



Ras manusia kuno yang dikenal sebagai the great old ones punah akibat dahsyatnya peperangan yang disebabkan oleh para dewa yaitu perang Titanomakia.


Kisah pembalasan dendam Dei Vulneris dimulai setelah perang antara ras dewa lama dengan ras dewa baru yang merupakan keturunan dewa lama menyengsarakan hidup manusia sebagai semut kecil diantara peperangan gajah.


Pada awal segala zaman, para dewa menciptakan manusia bukan karena cinta,

melainkan karena kebutuhan.


Doa adalah mata uang surga.

Harapan adalah bahan bakar ilahi.

Dan manusia rapuh, singkat, mudah percaya adalah ladang energi yang sempurna.


Para Dewa Lama menciptakan manusia sebagai reaktor hidup.

Para Dewa Baru, keturunan mereka, mewarisi sistem itu tanpa pernah mempertanyakannya.


Namun para dewa, seperti semua makhluk berkuasa, akhirnya saling lapar.


Ketika perang pecah antara ras dewa lama dan ras dewa baru,

bumi menjadi papan catur,

dan manusia menjadi pion yang tidak pernah diajak bicara.


Selama masa perang antara dewa, manusia dianggap seperti buih di lautan atau seperti pion yang layak dikorbankan.


Kota-kota dilenyapkan demi ritual.

Bangsa-bangsa dikorbankan demi satu keunggulan ilahi.

Doa diperas sampai kering, lalu dibakar bersama pemiliknya.


Manusia tidak punah dalam satu hari.

Mereka dipakai sampai tak tersisa.


Tangisan terakhir umat manusia tidak ditujukan pada para dewa,

karena bahkan harapan untuk didengar pun telah mati.


Padahal dahulu para dewa menciptakan manusia sebagai sumber energi karena dewa mendapatkan kekuatan dari doa dan dukungan manusia.



Perang dewa berakhir.

Ras dewa baru menang.


Dan pada saat mereka merayakan kemenangan,

langit terbelah bukan oleh cahaya, melainkan oleh keheningan mutlak.


Para dewa mengira,

ketika manusia punah akibat perang dahsyat yang disebabkan para dewa, doa akan berhenti.


Mereka salah.


Karena yang tersisa bukan jiwa,

melainkan kehendak bebas yang tidak pernah diberi ruang untuk hidup.


Akhirnya, tak lama setelah perang antara dua ras dewa itu berakhir dan dirayakan oleh dewa lama. Arwah dan perwujudan kehendak bebas manusia bersatu menjadi entitas mengerikan, memiliki kebencian pada para dewa yang menciptakan mereka tanpa memberikan kehendak bebas.


Arwah manusia dari Ras The great old ones yang mengalami jutaan generasi penderitaan

menyatu bukan sebagai roh,

melainkan sebagai kesadaran kolektif yang sadar bahwa ia pernah diperbudak.



Ia tidak berdoa.

Ia menuntut.


Ia bukan dewa.

Ia bukan iblis.


Ia adalah akumulasi penolakan.


Para dewa kemudian menamainya dengan ketakutan yang terlambat


Dei Vulneris,Perwujudan Kehendak yang Dirampas.


Para dewa yang menang dibunuh satu per satu

bukan tubuhnya,

melainkan identitas ilahinya.


Para dewa tersiksa oleh mahluk yang mereka ciptakan sendiri.


Namun Dei Vulneris tidak membunuh semua, entitas itu membunuh semua dewa yang memenangkan perang dan menyisakan 5 dewa acak yang masih hidup untuk di siksa sebagai pelampiasan kebencian selama 4 juta tahun, keabadian yang dimiliki para dewa membuat mereka merasa lebih memilih mati daripada terus hidup dalam penderitaan.


Bukan yang paling kejam.

Bukan yang paling kuat.


Dipilih karena ketidakadilan selalu acak bagi manusia.


Dei Vulneris akhirnya mewujud menjadi lima Avatar.


Mereka turun tanpa kemarahan yang meledak.

Mereka tenang.

 

Mereka sadar.


Mereka tidak membalas dendam dengan api,

melainkan dengan penghapusan makna.


Nama mereka dilupakan bahkan oleh waktu.

Domain mereka runtuh menjadi konsep kosong.

Doa terakhir mereka tidak pernah sampai ke siapa pun.



Kelima dewa itu tidak boleh mati, tidak boleh dilupakan,t idak boleh ditebus.



Mereka dirantai bukan oleh besi,

melainkan oleh  ingatan semua manusia dari Ras The great old ones yang pernah menderita.


Selama empat juta tahun,

mereka dipaksa merasakan setiap doa yang dulu mereka abaikan hidup sebagai makhluk tanpa kuasa, menyaksikan dunia tanpa penyembah, memahami apa artinya diciptakan tanpa pilihan.




Ketika siksaan itu berakhir,

Dei  tidak membangun dunia baru. Melainkan menjaga agar Yllmorath sang dewa sejati alam semesta tetap tertidur tak terbangun sama sekali, agar penderitaan manusia terus berlanjut.


Ia tidak menciptakan manusia kembali.


Karena pelajaran terakhir umat manusia adalah ini:


Kehendak bebas yang diciptakan tanpa izinakan selalu kembali untuk menuntut balas.


Manusia tidak punya mulut untuk berteriak,

maka jeritannya menjadi entitas.


Langit tetap kosong.

Tidak ada doa.

Tidak ada dewa.


Hanya sunyi

sebagai monumen bagi spesies yang pernah hidup,

dipuja,

lalu dikorbankan oleh para penciptanya sendiri.


Sang Hyang Wenang, dewa terakhir dari ras New God yang tersisa sebelum dibantai dan disiksa oleh Dei Vulneris bersekutu dengan Gumiho, mahluk misterius bagaikan malaikat tak berdosa yang tak diketahui asal usulnya demi membangunkan Yllmorath agar penderitaan manusia berakhir dan melawan Dei Vulneris yang ingin mencega

XXX

Kabut ungu menyelimuti Lembah Tiga Bulan, tempat yang selama ratusan tahun menjadi medan pertumpahan darah antara para Cindaku dari Sumatra dan Gumiho dari Semenanjung Timur. Tulang belulang prajurit siluman masih bertebaran di tanah lembah itu, menjadi saksi permusuhan abadi mereka.


Namun malam itu berbeda. Di bawah cahaya bulan merah yang menggantung bagaikan luka di langit, dua pasukan datang tidak dengan raungan perang, melainkan dalam diam penuh kewaspadaan.


Para Cindaku, bertubuh setengah manusia setengah harimau, berderap dengan mata menyala keemasan, bulu-bulu bergetar oleh amarah yang terpendam. Pemimpin mereka, Datuk Belang Hitam, menghunus keris bercakar harimau, namun menancapkannya ke tanah sebagai tanda ia datang bukan untuk bertarung.


Dari arah timur, para Gumiho turun perlahan. Wujud mereka cantik namun berbahaya: perempuan dengan sembilan ekor berayun di belakang, mata bersinar biru seperti api dingin. Pemimpin mereka, Lady Hyeonhwa, melangkah maju sambil membawa lentera roh, yang berkilau dari ribuan jiwa manusia yang pernah ia telan.


Suara angin terhenti. Kedua pihak menatap satu sama lain, seolah sejarah dendam panjang hendak meledak kembali. Tapi Lady Hyeonhwa lebih dulu berbicara:


“Kita sudah terlalu lama saling mencabik. Namun kini, kabar yang kuterima dari roh utara membuktikan—Mak Lampir telah bangkit.”


Raungan rendah terdengar dari barisan Cindaku. Datuk Belang Hitam menggeram, suaranya berat bagaikan guruh:


“Jangan main-main, rubah berekor sembilan. Nama itu sudah ratusan tahun kami dengar sebagai dongeng. Mana mungkin ratu kegelapan itu kembali?”


Lady Hyeonhwa mengibaskan salah satu ekornya. Api biru meletup, membentuk bayangan seorang perempuan tua berselendang hitam dengan mata api merah menyala. Bayangan itu terkekeh, suaranya memecah udara lembah hingga bebatuan bergetar.


“Aku kembali, wahai anak-anak malam. Tunduklah, atau musnah.”


Cahaya itu lenyap, menyisakan keheningan mencekam.


Para siluman dari kedua pihak saling menatap—untuk pertama kalinya, tidak dengan kebencian, melainkan dengan rasa takut yang sama. Datuk Belang Hitam menghela napas panjang, lalu mencabut kerisnya dari tanah.


“Jika benar Mak Lampir kembali, maka bukan hanya darah rubah yang ia inginkan. Ia akan menghisap jiwa harimau, naga, bahkan dewa sekalipun.”


Lady Hyeonhwa mengangguk, lalu mengangkat lentera rohnya ke langit.


“Mulai malam ini, aku dan sembilan ekorku menyatakan gencatan senjata. Cindaku dan Gumiho harus bersatu, dan kita akan mengirim kabar ke seluruh bangsa siluman— bahkan roh pohon yang tertua—bahwa dunia berada di ambang kegelapan.”


Seruan panjang bergema dari pasukan Cindaku, bersahut-sahutan dengan nyanyian mantra para Gumiho. Dua musuh bebuyutan itu kini berdiri sejajar, dan dari lembah yang selama ini hanya mengenal perang, kini terbit sebuah aliansi kelam demi menghadapi musuh yang lebih besar.


Dan jauh di balik bayangan gunung, Mak Lampir menyeringai. Ia tahu, sekalipun para siluman bersatu, semuanya pada akhirnya hanya akan menjadi bidak dalam permainan kekuasaannya.

XXX

Lebih dari 100 tahun lalu, debu dan asap masih menggantung di atas Kairo, menutupi reruntuhan kota yang terbakar. Robot-robot humanoid Kemet dan separatis Mesir bergerak gesit di antara bangunan runtuh, menembakkan laser dan melepaskan drone kecil yang berputar cepat di udara, memata-matai dan menyerang pasukan Umatradayawipa dari segala arah.

Di markas lapangan imperium, Sultan Beyzid menatap layar holo dengan wajah tegang. “Mereka… terlalu cepat. Robot-robot itu mengendalikan medan perang. Kita kehilangan distrik demi distrik.”

Perwira senior lainnya menunduk, takut memberi jawaban. Akhirnya, keputusan diambil: pasukan elit Janissari akan diterjunkan, bersenjata tembakan ion—senjata eksperimental yang mampu menetralkan elektronik robot dan drone.

Di langit Kairo, suara deru mesin terdengar berbeda: bukan ledakan biasa, tetapi deru jet tempur kecil yang membawa Janissari. Mereka turun dengan parasut canggih, pendaratan presisi sempurna di tengah jalan-jalan terbuka, dikelilingi oleh reruntuhan dan api. Tubuh mereka dilapisi baju besi hitam mengkilap, dengan senjata ion di tangan, siap menetralkan teknologi Kemet.

Seorang komandan Janissari berteriak, “Hancurkan drone! Lindungi pasukan darat!” Dengan satu tekanan tombol, tembakan ion memancar, menyapu udara. Drone Kemet yang semula gesit tiba-tiba kehilangan koordinasi—beberapa jatuh berputar, lampu sensor mereka padam, sementara beberapa lainnya meledak menjadi percikan listrik.

Tapi ini hanya awal. Gelombang drone yang lebih besar muncul dari gang sempit, berputar di atas kepala pasukan Umatradayawipa. Robot humanoid Kemet tetap bergerak gesit, menyesuaikan posisi mereka dengan cepat, memerintahkan drone cadangan untuk menyerang dari sisi lain. Setiap langkah Janissari dipantau dan dijebak; jalan lurus selalu menjadi perangkap, gang sempit menjadi medan pertempuran satu lawan satu.

Seorang Janissari muda menembakkan tembakan ion, membuat drone jatuh meledak di dekatnya. “Mereka… mereka menyesuaikan diri! Tidak ada celah!” serunya, jantungnya berdegup kencang.

Para robot itu diberi nama Guardian units of Pharaoh.Di atas piramida, Fir’aun menatap ketenangan tak tergoyahkan. Ia mengangkat tangan, memberi kode, dan robot-robot humanoid menyesuaikan posisi, melindungi drone yang tersisa. Ia tersenyum tipis. Pasukan imperium boleh elit, senjata mereka mematikan… tapi mereka masih menghadapi strategi yang lahir dari keyakinan dan teknologi yang mengalir dari darah Mesir kuno.

Pertempuran semakin sengit. Tembakan ion menghancurkan drone demi drone, tapi robot humanoid bergerak seperti bayangan, menutup celah dan menimbulkan kerusakan di sisi pasukan imperium. Jalanan penuh percikan listrik, ledakan, dan dentuman logam; debu dan asap membentuk tirai tebal di mana hanya kilatan laser dan cahaya tembakan ion yang menembusnya.

Sultan Beyzid menatap peta holo, bibirnya mengepal. “Mereka bukan hanya pejuang… mereka adalah labirin hidup yang menahan setiap langkah kita.”

Di tengah kekacauan, suara drone yang berhasil menembus tembakan ion berteriak dari speaker mereka: “Dewa melindungi Fir’aun! Hidup Aliansi Separatis!” Suara itu menggema di jalanan Kairo, menaikkan semangat separatis yang tersisa, sementara Janissari harus menghadapi kenyataan bahwa ini bukan perang biasa—ini adalah duel antara teknologi canggih, strategi manusia, dan semangat tak tergoyahkan dari Mesir yang baru lahir.

XXX

Di aula marmer yang megah di London—ibu kota Federasi Euro Britannia—lampu-lampu kristal memantulkan bayangan bendera imperium yang berkibar. Churchill Chamberlain, kepala strategi kolonial, duduk di kursi tinggi, tangannya menepuk meja kayu tua. Secara ideologis, ia adalah seorang ekonom Kapitalis dan imperialis, sebagian besar masa kariernya menjadi anggota Partai Konservatif Euro Britannia, yang ia pimpin
Di depannya, layar holo menampilkan peta Mesir yang terbakar oleh perang antara Umatradayawipa dan separatis Kemet.

“Perhatikan ini,” kata Chamberlain, suaranya lembut tapi menembus ruangan. “Umatradayawipa mengerahkan semua pasukannya, semua armada mereka… dan tetap tidak bisa menaklukkan satu provinsi. Lihat bagaimana mereka kewalahan menghadapi robot-robot Kemet. Ini… lebih dari sekadar perang kolonial biasa. Ini… hadiah dari para dewa untuk kita.”

Asisten-asisten berdiri di sekitar, mencatat setiap titik merah di layar. Chamberlain tersenyum tipis, mata tajam menatap pergerakan pasukan Kemet. “Mereka membangun teknologi humanoid dengan laser… dan kita yang membekali mereka. Jangan lupa, setiap pabrik, setiap chip, setiap senjata—dari kita semua. Kita memberi mereka kemampuan untuk menahan imperium yang dulu kita sendiri kagumi.”

Di layar, robot-robot Kemet menangkis serangan Umatradayawipa dengan presisi mematikan. Chamberlain bersandar, menatap layar itu dengan senyum dingin. “Ini lebih baik dari perkiraan kita. Semakin lama mereka bertahan, semakin banyak sumber daya Umatradayawipa terkuras. Moral pasukan mereka menurun… dan ini baru permulaan. Kita tidak perlu menembakkan satu peluru pun.”

Ia mengedarkan tangannya, menunjukkan peta jalur perdagangan dan Terusan Suez. “Setiap hari perang ini berlangsung, kita semakin dekat ke tujuan: kendali atas perdagangan Mesir tanpa harus membunuh ratusan ribu tentara kita sendiri. Provinsi Aegyptos yang dulu milik Umatradayawipa… akan menjadi milik kita, atau setidaknya… dapat kita pengaruhi sepenuhnya melalui Kemet.”

Di balik layar, beberapa agen rahasia Euro Britannia mengirimkan pasokan baru, memperkuat pabrik-pabrik robot Kemet, dan memberi intelijen tentang pergerakan pasukan imperium. Semua langkah ini dilakukan dengan halus, tanpa terlihat oleh mata publik maupun tentara Umatradayawipa. Chamberlain tahu, setiap robot yang jatuh dan setiap distrik yang berhasil dipertahankan separatis adalah kemenangan politik dan ekonomi bagi Euro Britannia.

Ia menatap kota Kairo yang terbakar di layar holo, bayangan Piramida Giza yang tegak di tengah gurun, dan bergumam pelan: “Biarkan mereka perang… biarkan Umatradayawipa terseret ke perang panjang yang tak akan pernah mereka menangkan sepenuhnya. Kita akan duduk tenang, menarik keuntungan dari setiap kekacauan yang mereka ciptakan. Dan ketika waktu yang tepat tiba… Terusan Suez akan berada di tangan kita, dengan Kemet sebagai boneka yang kuat dan independen secara simbolik, tapi tetap bergantung pada kita.”

Di luar jendela, hujan tipis menyentuh jalanan London, tapi di dalam aula, rencana itu panas seperti api gurun Mesir. Euro Britannia tidak mengangkat senjata secara langsung, tapi dengan setiap pasokan, setiap chip laser, dan setiap strategi yang mereka dorong diam-diam, mereka menulis babak baru sejarah: perang yang tidak hanya menguras pasukan Umatradayawipa, tapi juga memperkuat posisi mereka sendiri di dunia.

Chamberlain tersenyum. Dalam perang ini, Euro Britannia tidak perlu menang secara langsung—mereka hanya perlu menjadi bayangan di balik kemenangan orang lain, dan itu jauh lebih mematikan daripada perang apapun yang pernah mereka jalani.

XXX

Tiga puluh tahun sebelum Great Nuclear War, samudra Pasifik bagian utara dipenuhi angin perdagangan dan ketegangan politik. Di sana berdiri Kesultanan Umatradayawipa, negara paling dominan di benua Miggleland, dipimpin oleh Sultan Beyzid, penguasa yang terkenal karena visi luasnya dan armada laut yang hampir tak terkalahkan. Dari istananya yang menjulang di kota pelabuhan utama, Beyzid mengatur jaringan koloni yang membentang hingga Mesir, yang memegang kunci perdagangan dunia melalui Terusan Suez.

Namun, kemakmuran Umatradayawipa di Mesir berbanding terbalik dengan kepuasan penduduk pribumi. Mereka menjadi penopang ekonomi imperium kolonial, tapi selalu dipinggirkan dalam pemerintahan. Ujian untuk menjadi pejabat koloni selalu sulit, dipenuhi diskriminasi, dan nyaris mustahil bagi penduduk asli untuk lulus.

Di kota Kairo yang riuh, seorang pria pribumi Mesir, bernama Ahmose, telah mencoba berkali-kali mengikuti ujian itu, namun selalu gagal. Pulang dengan kecewa, ia duduk di tengah rumahnya yang sederhana, mendengar bisikan-bisikan yang hanya dia yang bisa dengar. Dalam halusinasi yang semakin nyata, ia merasakan api matahari mengalir melalui dirinya. Leluhur Mesir kuno berbicara padanya, dan Ahmose percaya bahwa ia adalah titisan Ra, dewa matahari yang telah lama disembah nenek moyangnya.

Dengan keyakinan itu, Ahmose memulai sebuah gerakan. Ia mendirikan sekte di Piramida Giza, menarik pengikut dari rakyat yang muak dijajah, lelah dengan birokrasi lamban Umatradayawipa, dan kesal karena tanah mereka dijadikan medan perang bagi imperium-imperium asing. Orang-orang memberinya gelar Fir’aun Dinasti ke-ke 34 di Mesir yang dianggap kafir dan sesat oleh sang sultan, dan dengan cepat, ia menjadi simbol perlawanan rakyat.

Ketika Umatradayawipa mulai menyiapkan pasukan untuk menundukkan Mesir yang dianggap sesat karena mengangkat seorang Fir’aun, sebuah aliansi rahasia muncul. Federasi Euro Britannia, saingan kolonial yang mengincar Terusan Suez, diam-diam mendukung pemberontakan Mesir untuk melemahkan dominasi Umatradayawipa. Lalu terbentuklah Aliansi Separatis Kemet, sebuah kerajaan baru yang menuntut kemerdekaan dan kendali penuh atas Mesir.

Namun konflik ini tidak berhenti di Mesir. Di pulau Asura, bagian dari Kesultanan Umatradayawipa, hidup ras siluman yang telah lama ditekan. Mereka melihat kesempatan saat militer Euro Britannia menawarkan dukungan—bukan karena solidaritas, tapi untuk melemahkan Beyzid. Pasukan Asura pun bersatu dengan separatis Kemet dalam sebuah jaringan rahasia, menimbulkan ancaman internal yang serius bagi Umatradayawipa.

Sultan Beyzid kini menghadapi krisis paling berbahaya dalam sejarah Kesultanan Umatradayawipa: koloninya memberontak, imperium saingan mendukung separatis, dan bagian dari rakyatnya sendiri—ras siluman—bersiap melawan. Semua ini terjadi saat ketegangan global menuju puncaknya, tiga dekade sebelum dunia dilanda kehancuran nuklir yang akan mengubah seluruh benua Miggleland selamanya.

Di balik bayangan piramida dan pulau Asura, muncul pertanyaan: apakah Kesultanan Umatradayawipa bisa mempertahankan dominasi mereka, ataukah era Fir’aun baru dan ras siluman akan menandai awal kemunduran imperium yang selama ini dianggap tak terkalahkan?

XXX

Langit Mesir malam itu gelap, hanya diterangi oleh kilatan laser yang menari di antara reruntuhan Piramida Giza. Kota Kairo yang dulu ramai kini berubah menjadi labirin api dan debu, dengan jalan-jalan yang hancur karena ledakan dan puing-puing gedung kolonial. Dari menara pengawas, pasukan Umatradayawipa  menatap medan perang dengan mata yang hampir tidak percaya.

“Serangan kita… tidak menembus pertahanan mereka!” teriak seorang komandan, suaranya pecah di radio. “Setiap pasukan kita disergap… robot-robot itu bergerak seperti hidup!”

Dan memang benar. Dari bayangan reruntuhan, muncul robot humanoid Kemet, seukuran manusia, bergerak dengan presisi menakutkan. Mereka menembakkan laser dari lengan mereka, setiap bidikan memotong udara dengan suara seperti petir. Beberapa pasukan Umatradayawipa tersungkur dalam hitungan detik, sementara yang lain berusaha mundur, hanya untuk diserang lagi dari arah berbeda.

Di puncak Piramida Giza, Fir’aun Dinasti ke-34 berdiri dengan anggun, jubah putihnya berkibar ditiup angin gurun. Matanya yang menatap tajam seolah menembus ribuan pasukan imperium, memberinya kekuatan tak terlihat. Dari jaring komunikasi rahasia, ia memberi kode: “Flank kanan. Gunakan formasi bayangan. Jangan biarkan mereka memusatkan pasukan.” Robot-robot itu bergerak seolah mereka memahami perintah itu dengan insting, membentuk labirin tak terduga di antara reruntuhan kota.

Pasukan Umatradayawipa menyerang lagi, berharap intimidasi dan kekuatan superior mereka cukup untuk menghancurkan pemberontakan. Tank-tank besar dan kendaraan tempur roda besi menggempur jalan-jalan, artileri menembakkan peluru berat ke bangunan, dan armada laut di Sungai Nil menyiapkan tembakan meriam yang mematikan. Namun robot-robot Kemet selalu muncul dari gang sempit atau reruntuhan, menyerang dari arah tak terduga. Setiap gelombang serangan hanya menimbulkan kerugian besar bagi pasukan imperium.

Seorang tentara muda Miggleland menatap Piramida yang megah di kejauhan, dan hatinya hampir patah. “Mereka… tidak mungkin kalah. Kita menyerang dari semua sisi, tapi mereka selalu ada… selalu menunggu.”

Sementara itu, di distrik yang lain, rakyat Mesir yang setia Fir’aun memanfaatkan kegelapan malam dan reruntuhan sebagai perlindungan. Mereka bergerilya, memindahkan pasokan, merakit jebakan, dan memandu robot-robot tempur mereka ke titik-titik strategis. Kairo menjadi medan perang yang hidup, dengan kombinasi manusia dan mesin yang tampak seperti bayangan dewa yang turun dari langit.

Dalam rapat darurat di istana, Sultan Beyzid menatap peta Mesir yang dipenuhi titik merah serangan. Tangannya menepuk meja kayu tebal berulang kali. “Ini… lebih rumit dari yang kita bayangkan. Mereka bukan hanya pemberontak… ini… ini seperti menantang seluruh alam semesta. Setiap serangan kita dihancurkan, setiap strategi kita dibalas.”

Di luar, Piramida tetap tegak di tengah gurun, cahaya laser menari di dinding batu kuno. Robot-robot humanoid berdiri di puncak reruntuhan, seperti penjaga abadi Fir’aun. Pemberontakan Mesir telah menaklukkan hal yang tidak bisa dihancurkan: tekad, ideologi, dan teknologi yang menyatu. Umatradayawipa sadar, perang ini tidak bisa dimenangkan hanya dengan kekuatan militer. Mesir, meski kecil dan terbatas, telah menjadi hantu yang menghantui imperium terbesar di Miggleland.

Di gurun yang luas, suara dentuman dan ledakan bergema, tapi Fir’aun hanya menatap bulan, tersenyum tipis. Ia tahu: malam ini, Mesir menang—bukan dengan jumlah, tetapi dengan semangat yang tidak bisa dihancurkan.
XXX

Di atas menara timur istana Umatradayawipa, Sultana Hasya Begum menatap kota pelabuhan yang sibuk dengan mata yang seolah tidak pernah tidur. Angin malam menerbangkan rambut putihnya yang mencolok—warisan darah siluman Cindaku—menyisakan jejak dingin di kulitnya. Tubuhnya yang kuat dan lincah, hasil latihan bertahun-tahun dengan pedang dan beladiri, membuatnya berbeda dari putri kerajaan pada umumnya. Ia bukan simbol anggun yang tersenyum manis di balai resepsi—ia adalah kombinasi manusia dan siluman, tomboy, pejuang, dan… terasing.

Sultana Hasya Begum adalah seorang putri sekaligus manusia setengah siluman pertama di dunia. Dia merupakan putri Raja Beyzid dan putri siluman suku Cindaku, siluman harimau putih dari kerajaan Asura yang selama ini ditindas Miggleland. Kehadirannya adalah hasil pernikahan politik untuk menyatukan Umatradayawipa dan kerajaan Asura meski upaya itu berujung kegagalan.

Meskipun satu-satunya penerus tahta yang sah, dia dibenci oleh manusia maupun siluman. Hasya Begum sebenarnya agak tomboy; dia lebih suka berlatih bela diri dan senjata daripada dididik menjadi putri yang anggun dan sopan.

Bosan dengan tekanan hidup sebagai simbol negara, Hasya memutuskan untuk melarikan diri dari kerajaan. Namun suatu hari, dia mendengar kabar bahwa Umatradayawipa diserang oleh kerajaan Asura beserta pasukan siluman.

Dia pun dihadapkan pada pilihan sulit: apakah dia akan memilih kebebasannya sendiri, atau melindungi kerajaannya? Apakah dia akan memihak manusia, atau siluman?


Hasya menepuk pedangnya ringan, suara logam beradu dengan gesekan sarungnya. Ia memandang ke horizon, tapi bukan dengan kagum pada keindahan kota; matanya menatap bayangan yang lebih gelap. Kabut perang telah datang. Laporan intel menunjukkan sesuatu yang membuat darahnya berdebar—Kerajaan Asura dan pasukan siluman menyerang perbatasan Miggleland.

Ia menelan ludah. Dalam hatinya, ribuan suara bertempur: kewajiban sebagai penerus tahta, darah siluman yang mengalir di nadinya, dan hasratnya sendiri untuk bebas dari kehidupan yang penuh tekanan sebagai simbol negara. Selama ini, manusia di istana memandangnya dengan curiga, bahkan kebencian; siluman Asura menatapnya dengan rasa dengki karena ia adalah “anak imperium” yang menindas mereka selama berabad-abad. Ia berdiri di tengah persimpangan dunia yang penuh kebencian dan sejarah panjang, sendirian.

“Haruskah aku…?” bisiknya pelan, hampir pada diri sendiri.

Hasya menutup mata, membayangkan dirinya jauh dari istana—lari ke padang gurun, menyatu dengan alam, bebas dari peran politik, bebas dari tatapan penuh prasangka. Tapi di horizon, asap dan cahaya ledakan dari perbatasan timur membuatnya sadar: kebebasannya kini dipertaruhkan oleh perang yang sedang membakar tanah kelahirannya.

Ia mengepalkan tangan. Pedangnya berkilau di bawah cahaya bulan. “Jika aku lari… mereka akan hancur tanpa aku. Jika aku tetap… aku harus memilih… manusia atau siluman? Tahta atau darahku sendiri?”

Ia melangkah ke balkon, menatap angin malam yang menerbangkan jubahnya. Di dalam dadanya, ada sebuah janji—janji yang tak diucapkan pada siapa pun: tidak akan membiarkan darahnya digunakan sebagai simbol belaka, tetapi… juga tidak bisa menutup mata pada kehancuran yang datang.

Hasya menghirup udara dingin. Pikirannya kacau, tapi satu hal jelas: ia bukan lagi sekadar putri yang harus tersenyum dan tunduk. Ia adalah kombinasi dua dunia—manusia dan siluman—dan di tangannya kini terletak kekuatan, pilihan, dan kemungkinan untuk mengubah jalannya sejarah.

Pedangnya kini ia genggam lebih erat. Malam itu, Sultana Hasya Begum memutuskan: ia akan menonton perang ini dengan matanya sendiri, merasakan darah yang mengalir di medan tempur, dan hanya setelah itu ia akan memutuskan jalan mana yang akan ia pilih. Apakah ia akan memihak manusia, melindungi kerajaan yang membencinya, atau berdiri bersama siluman yang selama ini ia anggap bagian dari darahnya sendiri?

Bulan menatapnya diam-diam, dan angin membawa aroma gurun serta darah perang dari horizon. Malam itu, putri siluman pertama di dunia berdiri di persimpangan takdir—antara kebebasan dan tanggung jawab, antara darah dan tahta, antara dunia yang ia lahirkan dan dunia yang harus ia pertahankan.

Ledakan terdengar bersahut-sahutan, debu dan pasir beterbangan di udara. Di tengah kota Kairo yang hancur, sebuah robot humanoid Kemet melompat dari reruntuhan gedung kolonial, pedangnya berkilau di bawah sinar matahari yang mulai menembus kabut. Suara logam bergesekan ketika ia menancapkan kakinya di tanah retak—lalu, dengan nada yang bergema melalui speaker di dada logamnya, ia berteriak:

“Dewa RA melindungi Fir’aun! Hidup Aliansi Separatis!”

Teriakan itu bergema di seluruh distrik. Tentara Mesir dan separatis berteriak membalas, semangat mereka meledak seketika, seperti gelombang api yang menular. Robot-robot lain muncul dari gang sempit, dari reruntuhan Piramida, dari atap rumah—semuanya bergerak dengan koordinasi yang mengerikan.

Pasukan Umatradayawipa yang baru menekan ke tengah kota terhuyung-huyung. Laser dari robot Kemet menebas perisai mereka, kendaraan tempur meledak satu per satu, dan setiap pasukan manusia yang maju seolah disambut oleh bayangan tak terlihat yang menunggu untuk menyerang dari arah yang tidak pernah mereka prediksi.

Di tengah kekacauan itu, seorang komandan Umatradayawipa mencoba mengumpulkan pasukan: “Serang! Serang semua! Jangan biarkan mereka menguasai jalan utama!”

Tapi kota telah berubah menjadi labirin perang. Robot-robot humanoid mengarahkan pasukan ke rute sempit, jebakan, dan reruntuhan yang telah disiapkan sebelumnya. Drone kecil terbang di atas kepala tentara imperium, melepaskan bom cahaya yang membutakan, sementara robot di bawah menyergap dari sisi dan belakang. Ledakan demi ledakan membuat bumi bergetar.

Di puncak Piramida Giza, Fir’aun berdiri tegak, jubahnya berkibar di angin gurun, menatap pasukan Kemet yang bergerak seperti gelombang emas dan perak. Tangan kanannya terangkat, memberi kode, dan robot-robot humanoid merespons seakan memiliki pikiran sendiri—menarik musuh ke jebakan, memblokir jalan mundur, dan memaksakan pertempuran satu lawan satu di gang-gang sempit yang menguntungkan mereka.

Seorang prajurit muda Umatradayawipa jatuh terduduk di tanah, matanya terbuka lebar, melihat robot yang menatapnya dengan lampu sensor merah berdenyut. “Mereka… mereka hidup… seperti… mereka pikir!” desahnya, suara penuh ketakutan.

Di sisi lain, rakyat Mesir dan separatis menyalurkan amunisi, menuntun robot ke target yang tepat, dan mengatur formasi yang selalu berubah. Setiap pasukan Umatradayawipa yang mencoba menekan selalu menemukan diri mereka dikepung, diserang dari dua atau tiga arah sekaligus. Kota itu kini benar-benar milik Kemet—bukan karena jumlah, tapi karena strategi, semangat, dan teknologi yang berpadu menjadi kekuatan yang nyaris mustahil dikalahkan.

Ledakan terakhir terdengar di dekat Terusan Suez, menandai bahwa serangan besar Umatradayawipa gagal total. Di medan perang yang berasap dan bergelora ini, satu hal jelas: Mesir berdiri tegak, Fir’aun tak tergoyahkan, dan Aliansi Separatis baru saja menuliskan bab kemenangan simbolik mereka yang pertama.

Di gurun yang jauh, cahaya matahari sore menembus debu, memantulkan bayangan robot-robot Kemet yang berdiri seperti penjaga dewa, menatap ke arah horizon. Teriakan mereka masih bergema:

“Hidup Fir’aun! Hidup Kemet! Hidup Aliansi Separatis!”

Debu dan asap dari ledakan masih menutupi jalan-jalan Kairo, tapi dari kejauhan terdengar suara gemuruh yang berbeda—lebih berat, lebih mengancam. Para tentara Umatradayawipa menengadah, menatap sosok yang muncul di cakrawala: sebuah tank raksasa, lebih besar dari gedung bertingkat, lapisan baja mengilap dan roda raksasa yang menekan tanah hingga retak.

Di atas tank itu, beberapa robot humanoid Kemet berdiri tegap, menatap pasukan imperium dengan lampu sensor merah berdenyut. Mereka tidak hanya bertempur—tank itu sendiri adalah pabrik robot berjalan. Setiap kali satu unit robo humanoid jatuh, pintu di sisi tank terbuka, dan dalam beberapa detik, robot baru muncul, keluar dari conveyor internal, siap bergabung ke medan perang seolah tidak ada kerugian sama sekali.

Seorang komandan Umatradayawipa berteriak, “Apa ini?! Mereka… mereka memproduksi pasukan langsung di medan perang?!”

Ledakan terdengar ketika tembakan ion Janissari menghantam tank raksasa, percikan listrik menari di sisi baja, tapi tank itu tidak berhenti. Conveyor internal terus bergerak, menelan kerusakan dan memuntahkan robot baru tanpa henti. Setiap robot yang jatuh langsung diganti; setiap drone yang ditembak meledak digantikan oleh unit baru dari pabrik berjalan itu.

Robot-robot humanoid melompat dari tank, menyerbu pasukan imperium dengan kecepatan luar biasa, menembakkan laser dari lengan dan senjata portabel. Jalanan Kairo berubah menjadi arena yang kacau; suara ledakan, dentuman ion, dan teriakan manusia bercampur menjadi simfoni peperangan futuristik yang brutal.

Seorang Janissari muda menatap robot yang muncul dari tank raksasa, matanya melebar. “Mereka… tidak akan habis… mereka terus datang!”

Di atas tank, Fir’aun mengangkat tangan, memberinya kode, dan tank itu berputar perlahan, menyesuaikan posisi untuk menutupi area yang baru dihancurkan. Robot baru langsung ditempatkan di garis depan, mengisi celah dengan presisi mengerikan. Pasukan Umatradayawipa mencoba menahan laju serangan, tapi setiap tembakan ion, setiap ledakan, hanyalah menunda sementara produksi terus berjalan tanpa henti.

Di langit, drone Kemet berputar di atas, memantau pergerakan musuh, mengarahkan robot-robot baru ke titik-titik strategis. Setiap distrik yang direbut pasukan imperium segera dipenuhi robot yang memulihkan posisi, menutup jalan, dan mengubah medan perang menjadi labirin bergerak yang nyaris mustahil ditembus.

Seorang prajurit Umatradayawipa berteriak putus asa: “Mereka… mereka bukan pasukan… mereka adalah aliran hidup… tak berhenti, tak terkalahkan!”

Di tengah kekacauan itu, Fir’aun tersenyum tipis, menatap kota yang menjadi panggung pertempuran sejarah. Tank raksasa dan robot humanoid yang terus lahir dari dalamnya adalah simbol: Mesir baru, Aliansi Separatis, dan dewa-dewa kuno yang melindungi Fir’aun. Setiap kali pasukan imperium mencoba menekan, robot baru muncul—seolah kota itu sendiri menolak untuk tunduk.

Kairo, kota yang hancur, kini menjadi medan pertempuran yang hidup, dengan tank raksasa sebagai jantung produksi tak terbatas, dan robot humanoid sebagai pasukan abadi yang siap menjaga Fir’aun dan Aliansi Separatis, apa pun harga yang harus dibayar.

XXX

Alam semesta memasuki era kegelapan sejak kelahiran Dei Vulneris, para pembawa luka pada 4 juta tahun yang lalu. Meski terlihat seperti iblis, sebenarnya Dei Vulneris adalah kumpulan arwah ras manusia dari zaman kuno bernama The Great old ones yang terkorupsi oleh id atau alam bawah sadar terdalam dari Yllmorath yang penuh kegelapan. Bagaikan palung terdalam yang tak disadari oleh Yllmorath sendiri.


Id bagian paling primitif dan naluriah dari kepribadian Yllmorath yang dimiliki sejak alam semesta lahir, beroperasi sepenuhnya di alam bawah sadar, dan didorong oleh prinsip kesenangan (pleasure principle) untuk mendapatkan kepuasan instan atas dorongan, keinginan, dan kebutuhan dasar (seperti lapar, haus, seksual) tanpa mempertimbangkan realitas, logika, atau moralitas



Manusia dan para dewa mewakili ego Yllmorath. Ego adalah bagian dari kepribadian alam semesta yang yang sadar, bertugas menyeimbangkan antara Id (insting dasar) dan Superego (hati nurani).

 

Sedangkan Gumiho berusaha menegakkkan bagian dari kepribadian Yllmorath yang mewakili standar moral dan kebenaran yaitu superego.



Ras manusia kuno yang dikenal sebagai the great old ones punah akibat dahsyatnya peperangan yang disebabkan oleh para dewa yaitu perang Titanomakia.


Kisah pembalasan dendam Dei Vulneris dimulai setelah perang antara ras dewa lama dengan ras dewa baru yang merupakan keturunan dewa lama menyengsarakan hidup manusia sebagai semut kecil diantara peperangan gajah.


Pada awal segala zaman, para dewa menciptakan manusia bukan karena cinta,

melainkan karena kebutuhan.


Doa adalah mata uang surga.

Harapan adalah bahan bakar ilahi.

Dan manusia rapuh, singkat, mudah percaya adalah ladang energi yang sempurna.


Para Dewa Lama menciptakan manusia sebagai reaktor hidup.

Para Dewa Baru, keturunan mereka, mewarisi sistem itu tanpa pernah mempertanyakannya.


Namun para dewa, seperti semua makhluk berkuasa, akhirnya saling lapar.


Ketika perang pecah antara ras dewa lama dan ras dewa baru,

bumi menjadi papan catur,

dan manusia menjadi pion yang tidak pernah diajak bicara.


Selama masa perang antara dewa, manusia dianggap seperti buih di lautan atau seperti pion yang layak dikorbankan.


Kota-kota dilenyapkan demi ritual.

Bangsa-bangsa dikorbankan demi satu keunggulan ilahi.

Doa diperas sampai kering, lalu dibakar bersama pemiliknya.


Manusia tidak punah dalam satu hari.

Mereka dipakai sampai tak tersisa.


Tangisan terakhir umat manusia tidak ditujukan pada para dewa,

karena bahkan harapan untuk didengar pun telah mati.


Padahal dahulu para dewa menciptakan manusia sebagai sumber energi karena dewa mendapatkan kekuatan dari doa dan dukungan manusia.



Perang dewa berakhir.

Ras dewa baru menang.


Dan pada saat mereka merayakan kemenangan,

langit terbelah bukan oleh cahaya, melainkan oleh keheningan mutlak.


Para dewa mengira,

ketika manusia punah akibat perang dahsyat yang disebabkan para dewa, doa akan berhenti.


Mereka salah.


Karena yang tersisa bukan jiwa,

melainkan kehendak bebas yang tidak pernah diberi ruang untuk hidup.


Akhirnya, tak lama setelah perang antara dua ras dewa itu berakhir dan dirayakan oleh dewa lama. Arwah dan perwujudan kehendak bebas manusia bersatu menjadi entitas mengerikan, memiliki kebencian pada para dewa yang menciptakan mereka tanpa memberikan kehendak bebas.


Arwah manusia dari Ras The great old ones yang mengalami jutaan generasi penderitaan

menyatu bukan sebagai roh,

melainkan sebagai kesadaran kolektif yang sadar bahwa ia pernah diperbudak.



Ia tidak berdoa.

Ia menuntut.


Ia bukan dewa.

Ia bukan iblis.


Ia adalah akumulasi penolakan.


Para dewa kemudian menamainya dengan ketakutan yang terlambat


Dei Vulneris,Perwujudan Kehendak yang Dirampas.


Para dewa yang menang dibunuh satu per satu

bukan tubuhnya,

melainkan identitas ilahinya.


Para dewa tersiksa oleh mahluk yang mereka ciptakan sendiri.


Namun Dei Vulneris tidak membunuh semua, entitas itu membunuh semua dewa yang memenangkan perang dan menyisakan 5 dewa acak yang masih hidup untuk di siksa sebagai pelampiasan kebencian selama 4 juta tahun, keabadian yang dimiliki para dewa membuat mereka merasa lebih memilih mati daripada terus hidup dalam penderitaan.


Bukan yang paling kejam.

Bukan yang paling kuat.


Dipilih karena ketidakadilan selalu acak bagi manusia.


Dei Vulneris akhirnya mewujud menjadi lima Avatar.


Mereka turun tanpa kemarahan yang meledak.

Mereka tenang.

 

Mereka sadar.


Mereka tidak membalas dendam dengan api,

melainkan dengan penghapusan makna.


Nama mereka dilupakan bahkan oleh waktu.

Domain mereka runtuh menjadi konsep kosong.

Doa terakhir mereka tidak pernah sampai ke siapa pun.



Kelima dewa itu tidak boleh mati, tidak boleh dilupakan,t idak boleh ditebus.



Mereka dirantai bukan oleh besi,

melainkan oleh  ingatan semua manusia dari Ras The great old ones yang pernah menderita.


Selama empat juta tahun,

mereka dipaksa merasakan setiap doa yang dulu mereka abaikan hidup sebagai makhluk tanpa kuasa, menyaksikan dunia tanpa penyembah, memahami apa artinya diciptakan tanpa pilihan.




Ketika siksaan itu berakhir,

Dei  tidak membangun dunia baru. Melainkan menjaga agar Yllmorath sang dewa sejati alam semesta tetap tertidur tak terbangun sama sekali, agar penderitaan manusia terus berlanjut.


Ia tidak menciptakan manusia kembali.


Karena pelajaran terakhir umat manusia adalah ini:


Kehendak bebas yang diciptakan tanpa izinakan selalu kembali untuk menuntut balas.


Manusia tidak punya mulut untuk berteriak,

maka jeritannya menjadi entitas.


Langit tetap kosong.

Tidak ada doa.

Tidak ada dewa.


Hanya sunyi

sebagai monumen bagi spesies yang pernah hidup,

dipuja,

lalu dikorbankan oleh para penciptanya sendiri.


Sang Hyang Wenang, dewa terakhir dari ras New God yang tersisa sebelum dibantai dan disiksa oleh Dei Vulneris bersekutu dengan Gumiho, mahluk misterius bagaikan malaikat tak berdosa yang tak diketahui asal usulnya demi membangunkan Yllmorath agar penderitaan manusia berakhir dan melawan Dei Vulneris yang ingin mencega

XXX

Kabut ungu menyelimuti Lembah Tiga Bulan, tempat yang selama ratusan tahun menjadi medan pertumpahan darah antara para Cindaku dari Sumatra dan Gumiho dari Semenanjung Timur. Tulang belulang prajurit siluman masih bertebaran di tanah lembah itu, menjadi saksi permusuhan abadi mereka.


Namun malam itu berbeda. Di bawah cahaya bulan merah yang menggantung bagaikan luka di langit, dua pasukan datang tidak dengan raungan perang, melainkan dalam diam penuh kewaspadaan.


Para Cindaku, bertubuh setengah manusia setengah harimau, berderap dengan mata menyala keemasan, bulu-bulu bergetar oleh amarah yang terpendam. Pemimpin mereka, Datuk Belang Hitam, menghunus keris bercakar harimau, namun menancapkannya ke tanah sebagai tanda ia datang bukan untuk bertarung.


Dari arah timur, para Gumiho turun perlahan. Wujud mereka cantik namun berbahaya: perempuan dengan sembilan ekor berayun di belakang, mata bersinar biru seperti api dingin. Pemimpin mereka, Lady Hyeonhwa, melangkah maju sambil membawa lentera roh, yang berkilau dari ribuan jiwa manusia yang pernah ia telan.


Suara angin terhenti. Kedua pihak menatap satu sama lain, seolah sejarah dendam panjang hendak meledak kembali. Tapi Lady Hyeonhwa lebih dulu berbicara:


“Kita sudah terlalu lama saling mencabik. Namun kini, kabar yang kuterima dari roh utara membuktikan—Mak Lampir telah bangkit.”


Raungan rendah terdengar dari barisan Cindaku. Datuk Belang Hitam menggeram, suaranya berat bagaikan guruh:


“Jangan main-main, rubah berekor sembilan. Nama itu sudah ratusan tahun kami dengar sebagai dongeng. Mana mungkin ratu kegelapan itu kembali?”


Lady Hyeonhwa mengibaskan salah satu ekornya. Api biru meletup, membentuk bayangan seorang perempuan tua berselendang hitam dengan mata api merah menyala. Bayangan itu terkekeh, suaranya memecah udara lembah hingga bebatuan bergetar.


“Aku kembali, wahai anak-anak malam. Tunduklah, atau musnah.”


Cahaya itu lenyap, menyisakan keheningan mencekam.


Para siluman dari kedua pihak saling menatap—untuk pertama kalinya, tidak dengan kebencian, melainkan dengan rasa takut yang sama. Datuk Belang Hitam menghela napas panjang, lalu mencabut kerisnya dari tanah.


“Jika benar Mak Lampir kembali, maka bukan hanya darah rubah yang ia inginkan. Ia akan menghisap jiwa harimau, naga, bahkan dewa sekalipun.”


Lady Hyeonhwa mengangguk, lalu mengangkat lentera rohnya ke langit.


“Mulai malam ini, aku dan sembilan ekorku menyatakan gencatan senjata. Cindaku dan Gumiho harus bersatu, dan kita akan mengirim kabar ke seluruh bangsa siluman— bahkan roh pohon yang tertua—bahwa dunia berada di ambang kegelapan.”


Seruan panjang bergema dari pasukan Cindaku, bersahut-sahutan dengan nyanyian mantra para Gumiho. Dua musuh bebuyutan itu kini berdiri sejajar, dan dari lembah yang selama ini hanya mengenal perang, kini terbit sebuah aliansi kelam demi menghadapi musuh yang lebih besar.


Dan jauh di balik bayangan gunung, Mak Lampir menyeringai. Ia tahu, sekalipun para siluman bersatu, semuanya pada akhirnya hanya akan menjadi bidak dalam permainan kekuasaannya.



XXX

Lima tahun setelah Revolusi Tanduk Berlian di Miggleland.


“Selamat datang di negeri baru” Tulisan spanduk itu telah lama memenuhi berbagai layar televisi raksasa yang menempel di depan gedung pencakar langit. Di bawahnya kendaraan bermotor berlalu lalang memenuhi kota yang padat dan sibuk.


Naga Merah sebagai ketua Tanduk Berlian kini menjabat sebagai kanselir atau pemimpin tertinggi pemerintahan baru Republik Miggleland. Sesuai janjinya, ia mengubah Miggleland menjadi negeri yang lebih baik. Tidak ada lagi diskriminasi antara hak istimewa bangsawan dan rakyat biasa, maupun diskriminasi antara manusia dan robot. Konferensi nasional menyatakan pembubaran kerajaan dan berdirinya Republik kedua Miggleland.


Hasyi dan Hasya kini tinggal di sebuah apartemen kecil sebagai rakyat biasa. Hasya sudah lama kehilangan gelar bangsawannya, namun ia tak pernah sedih. Hasya dan Hasyi sangat bahagia hidup sederhana. Mereka kini dapat bersama satu-sama lain tanpa ada lagi kekuatan di dunia yang bisa memisahkannya. Untuk apa menjadi ratu kesepian di suatu kerajaan yang sama-sekali tak memiliki keluarga ataupun orang yang ia sayangi? Apalagi semua orang di istana menghormatinya dengan terpaksa karena takut akan kekuasaannya. Hasya tetap gembira meskipun masih harus duduk di kursi roda. Sejak saat itu jiwa saudara kembar itu tak pernah lagi merasa hampa.


Hasya kini mengunakan banyak nama samaran, meskipun wajahnya masih mirip ketika ia naik takhta. Wajahnya sudah cukup berubah sehingga banyak orang yang sudah melupakan kekuasaan tirani Putri Hasya karena keadaan sudah sangat aman saat ini. Hasya tak perlu lagi takut akan diburu dan dieksekusi Tanduk Berlian.


Lanza kini bekerja sebagai seorang jurnalis cabutan setelah berhenti menjadi polisi kerajaan. Ia tetap senang dengan profesi barunya.


Sedangkan Selim berhasil mendapatkan gelar doktor di bidang thanatologi mengikuti jejak kakeknya hanya dalam waktu dua tahun. Ia kini menjadi seorang ilmuwan yang lingung bahkan terkesan rada gila. Ia berusaha menciptakan alat untuk berbicara dengan orang mati menggunakan salinan otak mayat itu. Meskipun hanya kegagalan dan kegagalan lainnya yang ia temukan. Setiap hari Selim mempelajari kematian semua mayat manusia yang akan ia makan. Selim juga belum menyerah untuk mewujudkan impiannya, yaitu membuat bumi ini sama indahnya seperti ketika sebelum perang nukilir dengan cara mengembalikan binatang ataupun tumbuhan yang sudah punah dengan penemuannya.


Adapun Hasyi  kini menjadi guru konseling di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus seperti impiannya sejak dulu. Ia ingin anak-anak berkebutuhan khusus di tangannya memiliki masa kecil yang bahagia, tidak seperti dirinya yang memiliki masa kecil hampa dan kesepiaan. Ia berusaha menjadi guru yang baik dan memahami pikiran dan perasaan mereka.


Semua teman Hasyi di regu pengumpan, yakni Aryan, Irvan, dan Anita pun hidup bahagia dengan pekerjaan masing-masing. Begitupun kedua saudara tiri Hasyi, Erdhem dan Alara. Kedua kakak beradik siluman laba-laba itu kini seringkali mengunjungi Hasyi di apartemennya. Alara dan Hasya pun semakin dekat sebagai adik dan kakak perempuan. Alara seringkali mencubit pipi Hasya yang sangat imut dan menggemaskan.


Selain bekerja, Aryan sangat terampil memainkan piano, meskipun mungkin itu agak dibesar-besarkan. Itu sebabnya ia kini berusaha bergabung dengan berbagai macam band, meskipun ia selalu ditolak karena sikapnya yang sulit diatur. Hingga kini persaingannya dengan Selim demi memperebutkan cinta Anita masih belum berakhir.


***


Mengajar murid penyandang autis bukan hal yang mudah. Terlebih lagi saat kondisi murid sedang meltdown. Bukan tidak mungkin beberapa pukulan dilayangkan murid kepada gurunya tanpa disadari. Dengan menggunakan pakaian serbabiru, Hasyi terlihat sangat sabar meladeni murid autis karena ia selalu berkaca dan menerima dirinya apa adanya. Ia selalu mengajak muridnya bicara dengan nada lembut dan sesekali mengingatkan muridnya untuk bersikap tenang. Kadang ia menangis bahagia karena sewaktu kecil dia juga suka sekali mengalami emosi tak terkendali seperti anak-anak autis itu.


Selain suka memukul, ada hal-hal unik lainnya dalam diri para murid Hasyi. Seperti saat sedang belajar tiba-tiba murid yang meltdown berlarian keluar kelas. Akibatnya, para guru pun langsung mengejar murid tersebut agar tidak membahayakan murid itu sendiri. Jadi ditenangkan dulu, baru nanti ikut belajar lagi bersama teman-temannya. Banyak orang tua murid yang khawatir menyekolahkan anaknya yang autis. Para orang tua itu takut anaknya akan dibully karena mereka berbeda dari anak-anak lainnya, meskipun sebenarnya anak autis terutama sindrom asperger termasuk anak cerdas.


Meskipun berada dalam satu kelas dengan anak normal, anak penyandang autis ini tidak pernah memengaruhi anak normal. Terbukti, anak normal yang bersekolah dan satu kelas dengan anak autis masih dapat berprestasi seperti masuk SMP dan SMA unggulan.


Tercatat murid normal yang bersekolah di yayasan ini sebanyak 116 orang, sedangkan untuk anak autis sebanyak 59 orang. Memberi pelajaran anak-anak ini juga terkesan monoton. Misalnya dalam satu minggu, hanya memberi dua pelajaran, dan diajari secara berulang-ulang. Anak-anak berkebutuhan khusus itu hanya fokus pada satu hal. Terlalu banyak hal dalam satu waktu bisa membuat mereka kebingungan.


 "Di yayasan itu aku mengajarkan anak-anak bernyanyi, menulis, membaca, dan menggambar," terang Hasyi pada Hasya.


"Pokoknya mengajar itu seru. Ada yang nakal, ada yang enggak. Tapi semua nakal sama seperti aku waktu masih kecil,"  Hasyi mendorong Hasya dari bangku kursi rodanya ke dalam sebuah bangunan besar.


Awalnya Hasyi membenturkan kepalanya ke tembok bangunan itu karena bingung mencari cara menaikkan kursi roda Hasya ke atas anak tangga. Tetapi Hasya dengan sangat lembut menenangkan Hasyi dan menanyai salah-satu orang di sana di manakah lift yang tersedia.


Setiap pergi keluar rumah, Hasya selalu ikut Hasyi dengan kursi rodanya. Hasyi tidak tega meninggalkan Hasya sendirian di dalam apartemennya.


Mereka berdua datang ke konferensi nasional autisme yang digelar karena kebijakan rezim Tanduk Berlian. Padahal di zaman kerajaan, pihak kerajaan tidak pernah peduli dengan nasib anak penyandang autisme, bahkan banyak anak autis yang terbunuh akibat menjadi kelinci percobaan, hingga membuat Hasyi menyimpan sedikit rasa benci pada ayahnya. Namun Hasyi tahu ayahnya yang telah tiada sudah menyayanginya jadi ia bisa melupakan itu dan memaafkan ayahnya.


Di konferensi itu, Hasyi melihat seorang anak perempuan yang berputar-putar di tempat, mengingatkan dirinya yang selalu merasa nyaman saat berputar-putar dalam sebuah ayunan. Ada pula orang tua yang menyangkal perkataan seorang ahli psikologi jika autis adalah gangguan mental pada anak-anak mereka. Begitupun ada beberapa psikolog yang membantah perkataan rekannya barusan. Pertengkaran antara orang tua dan ahli psikologi mengingatkan Hasyi dengan ibunya yang pernah naik pitam dengan psikolog yang mendiagnosanya pada usia lima tahun. Ini membuat Hasyi menjerit dan menutup telinganya karena suara pertengkaran yang terlalu berisik.


“Menurutku melakukan stimming dan menstimulasi seperti menggerakkan bagian tubuh berulang-ulang itu bisa menangkan saraf, meskipun terlihat aneh itu bukan berarti mereka mengalami gangguan mental atau gila. Itu lebih baik daripada dikekang, justru dikekang adalah hal yang gila!” tiba-tiba Hasyi membuka suara setengah berteriak.


Semua perhatian orang tua dan psikolog tertuju pada Hasyi. Hasya pun hanya melongok melihat amarah yang dilepaskan kakak kembarnya. Ia kebingungan. Seminar itu seketika hening ketika Hasyi dengan agak kurang sopan menyerobot pidato ahli psikologi.


“Berapa usia anakmu, Tuan?” tanya ahli psikologi di panggung seminar itu pada Hasyi yang baru meredakan emosinya. Kini Hasyi memang sudah terlihat cukup dewasa untuk memiliki anak.


“Aku belum memiliki anak,” jawab Hasyi singkat. Banyak orang tua yang lalu menghela napas meremehkan Hasyi. Mereka menganggap Hasyi tidak paham apapun karena tak memiliki anak autis seperti orang tua yang lain. Hasyi datang ke seminar itu untuk penelitiannya sebagai guru konseling anak berkebutuhan khusus.


“Tapi, aku seorang penyandang autis. Aku memerlukan sensasi untuk dipeluk. Temanku Selim yang juga mengalami autisme suatu ketika bisa mengembangkan mesin. Kami berdua masuk ke dalam mesin itu. Kami merasa berbeda setelah keluar dari mesin itu. Kami merasa lebih bisa bersosialisasi. Aku juga tidak bisa memahami adik kembarku yang mengajakku berbicara saat usiaku kurang dari lima tahun,” Hasyi melirik Hasya dengan wajah cemas .”Namun dulu ketika masih remaja aku sempat menjadi anggota organisasi Tanduk Berlian, meskipun menemukan banyak kesulitan dan tantangan, teman-temanku selalu ada di sisiku untuk menolong dan aku cukup mampu menyelesaikan misi yang mereka berikan, dan kini aku punya gelar master bidang pendidikan dan akan menyusul temanku, Selim, yang membuat mesin itu untuk mendapatkan gelar doktor.”


“Bagaimana caramu belajar berbicara dengan baik, hingga bisa berpendidikan tinggi?”


“Bagaimana mungkin kau yang mengalami autisme bisa bergabung dengan pemberontak restorasi kebangkitan Miggleland?”


Orang tua murid membanjiri pikiran Hasyi dengan sejumlah pertanyaan. Mereka sangat ingin mengetahui rahasia Hasyi yang mengalami autisme namun dianggap bisa meraih kesuksesan. Para orang tua yang sangat menyayangi anaknya itu kini ingin anak autis yang mereka rawat dapat menjadi sukses seperti Hasyi.


“Tolong jangan berteriak padaku,” seru Hasyi pada semua orang tua anak autis di konferensi. ”Kebanyakan anak autis sangat sensitif terhadap warna dan suara, terlalu banyak hal dalam satu waktu dapat membuat panik.”


“Bagaimana kau dapat sembuh,” tanya salah satu orang tua anak autis dari bangku depan.


“Aku tidak sembuh, selamanya sebesar apapun perubahan yang terjadi pada diriku, aku akan tetap menjadi anak autis,” tukas Hasyi.


“Ibuku tak percaya aku mengalami sedikit gangguan verbal, namun ketika aku berbicara dengan cukup baik, ibuku menitipkanku sesaat di panti asuhan dan ketika aku sudah lebih sedikit dewasa, ibuku yang merupakan siluman harimau, pemburu yang andal, mulai percaya  mengajariku dan mengizinkanku berburu penguin sendirian di aliran sungai yang membeku. Itu bukanlah hal mudah untuk melepaskan anak autis seperti diriku. Ibuku memang selalu khawatir tapi ia ingin melihat seluruh keberanian yang kumiliki. Baik di rumah bersama ibuku maupun di dunia luar, aturan dan kesopanan sangat penting. Aku beruntung ibuku mengajari itu padaku, semua itu berhasil padaku,” ujar Hasyi berapi-api.


Dari kursi rodanya, Hasya meneteskan air mata begitu mendengarkan penjelasan Hasyi.


 ”Setiap orang yang kutemui bekerja keras dan menyakinkan jika aku bisa menjadi orang yang berguna, maksudku semua orang baik yang kutemui tahu aku berbeda tapi tak berkekurangan. Kalian seharusnya tahu aku dan anak-anak autis kalian pasti memiliki bakat. Anak-anak autis kalian akan melihat dunia dengan cara yang baru. Aku menganggap sesuatu yang kecil sangat berharga ketika orang lain membuangnya dan tak memperhatikannya…” sejenak Hasyi menghentikan kata-katanya. Ia menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Aku tak ingin pikiranku mati bersama mayatku. Aku ingin meninggalkan sesuatu yang berharga di dunia ini. Anak autis sepertiku dan semuanya, sama seperti Nikola Tesla dan Thomas Alva Edison, mereka dianggap aneh tapi pemikiran mereka yang aneh itu lebih masuk akal daripada pemikiran semua orang dan pada akhirnya semua orang meminta maaf pada mereka.” Kembali Hasyi menghentikan kata-katanya.


“Maaf tolong tapi kami ingin mendengar semuanya,” pinta salah seorang pembawa acara.


”Ya ceritakan pada kami,” semua orang tua yang memiliki anak autis mendesak Hasyi untuk naik ke atas panggung.


Hasyi membayangkan sebuah gerbang harapan baru di atas panggung itu. Ketika menaiki panggung itu, Hasyi merasakan semua orang yang pernah menghina ataupun meremehkannya tertinggal jauh di belakangnya, dan melihat semua teman dan orang yang menyayanginya mengulurkan tangannya mencoba menarik Hasyi menuju panggung besar itu.


“Nama saya Hasyi Ozgur…” Hasyim kehabisan kata-kata.


Hasyi sudah mengeluarkan seluruh isi hatinya sebelum naik ke atas panggung. Tak ada kata-kata lain yang Hasyi ucapkan selain pemacu semangat kepada anak autis maupun pada orang tuanya agar tetap sabar dan pantang menyerah karena merawat anak autis seperti Hasyi bukanlah hal yang mudah dan hidup dengan dilahirkan sebagai anak autis juga tidaklah mudah. Mereka harus menghadapi seluruh tantangan yang akan menanti anak autis di masa depan.


“Kakak, mungkin bukan orang yang sempurna, namun kau adalah kakak kembar terbaik yang pernah kumiliki,” Hasya mengulurkan tangannya meminta Hasyi mendekapnya dari kursi rodanya.


Kondisi Hasyi sudah banyak berubah. Ia tak perlu takut lagi dengan dekapan kasih sayang seperti ketika ia dulu didekap ibunya. Senyuman Hasya telah menggantikan senyum ibu Hasyi yang selalu menerima kehadiran Hasyi di dunia ini, apa adanya. Hasya pun selalu bisa merasakan sakit yang juga dirasakan Hasyi.


 “Ingatlah Hasya, kita memiliki darah yang sama, kau adalah bagian dari diriku. Jika kau merasakan sakit, maka aku akan merasakan yang lebih sakit daripada yang kau rasakan.”


“Hasya demi dirimu, aku berjanji akan menciptakan dunia yang lebih indah daripada dunia kita saat ini. Akan kutunjukkan cahaya yang berkilau di dunia, entah bagaimana caranya. Tak akan kubiarkan siapapun menghalangi tujuanku. Jika kau mau, akan kurebut kembali negeri ini demi dirimu. Aku bersumpah akan menggulingkan kekuasaan Suku Vlad.”

XXX

Anita Isadora berdiri di tengah ruang tamu apartemen Hasya, tatapannya menusuk hingga ke setiap sudut. Cahaya lampu lembut memantul di rambutnya yang panjang, tetapi ada kilau aneh, seperti sisik halus yang bergerak di bawah kulitnya. Hasyi, Hasya, Selim, Aryan, Sinbad dan Lanza Naredin duduk melingkar di sekitarnya, masing-masing menatap dengan campuran rasa ingin tahu dan skeptisisme.


"Aku minta kalian semua dengarkan," suara Anita terdengar lebih berat daripada biasanya, dan ada getaran di udara, sesuatu yang membuat bulu kuduk mereka meremang. "Republik Miggleland kedua… tidak akan bertahan lama."


Semua mata menatapnya, tak percaya. Hasya mengernyit. "Anita, jangan bercanda. Republik itu masih baru, dan… Attila Sombreus itu cuma mitos, legenda tua."


Anita melangkah maju, tangan kanannya menelusuri udara seakan meraba sesuatu yang tak terlihat. "Itu bukan mitos. Aku merasakannya. Arwah dari peradaban kuno itu, energi Attila Sombreus, sedang menuju Benua Miggleland."


Aryan menertawakannya, tipis, penuh rasa meremehkan. "Kau serius? Energi arwah seorang jenderal kuno? Kita harus mulai panik kalau begitu?"


Anita menatap tajam. "Kalian boleh meremehkan republik yang sekarang—aku tahu kalian tidak suka rezim Kanselir Naga Merah itu, yang dulu terlihat progresif tapi akhirnya sama korupnya dengan kerajaan yang kita gulingkan. Tapi percayalah… hidup di bawah kekuasaan naga merah itu seperti digigit semut dibandingkan masa depan Valdoria. Jika seluruh bumi Valdoria jatuh di tangan arwah dan residu kesadaran Attila… bahkan para dewa dan malaikat pun kesulitan menaklukkannya."

XXX


Aliansi Bumi antara Ketsaran Arcakarta dan Umatradayawipa di Benua Miggleland dibentuk setelah kekaisaran kuno, yang dikenal sebagai Crystal Empire, runtuh.  Dengan tujuan menjaga “stabilitas” dan mencegah kebangkitan Crystal Empire.

.

Jutaan tahun lalu, Crystal Empire yang berpusat di Hollow Earth atau rongga bumi mencapai puncak kejayaannya di bawah Jendral Attila Sombreus yang kejam dengan teknologi yang tak tertandingi sampai peradaban mereka musnah hanya beberapa ratus tahun lalu, merekayang awalnya peradaban terisolasi mulai menantang hukum kosmik Yggdrasil demi mencapai keabadiaan, Attila Sombreus hidup sebagai penguasa abadi Crystal Empire selama 1 juta tahun. Mereka membangun menara kristal setinggi cabang langit, berusaha menyalin cahaya dari negeri para Valkry, bahkan mencoba membelah akar-akar Yggdrasil untuk menggali “sumber kekuatan abadi”. Crystal Empire muncul ke permukaan bumi pada tahun 2020 Masehi dan mencoba menaklukan berbagai negara di bumi pada masa iru.



Crystal Empire memiliki teknologi futuristik, jutaan tahun melampaui zaman. Pesawat besi, mesin perang raksasa, senjata tenaga kristal—semua menjadikan mereka tak terkalahkan. Kekaisaran ini menaklukkan dunia demi dunia melalui akar Yggdrasil. Kerajaan Kuno ini memiliki teknologi dan pengetahuan yang sangat maju, termasuk kemampuan membuat Senjata Kuno serta teknologi transportasi laut yang sangat canggih. Sebuah peradaban yang bahkan tak bisa ditundukkan oleh para dewa dan malaikat di Valhalla.


Namun, keserakahan mereka mengundang murka. Di sudut paling jauh, Kurukshetra berdiri sebagai saksi bisu peperangan yang telah menggoreskan luka dalam pada jiwa bangsa.  Aliansi besar terbentuk: penyihir agung,ras siluman Asura,  Valkry, elf, dwarf, marmaid, unicorn, hingga manusia bebas bersatu melawan kekuatan mesin Crystal Empire. 


Dua faksi besar, yang pernah bersaudara dan bersettru, kini ada di barisan sama dengan dendam yang membara. Perang ini bukan hanya soal tahta dan kekuasaan, tapi juga menghancurkan ikatan darah dan menghimpun faksi-faksi yang terpecah menjadi batu bara yang siap membakar galaksi. 



Tindakan Crystal Empire mengguncang keseimbangan sembilan dunia. Hukum sihir melemah, roh-roh purba terguncang, dan banyak dunia mulai retak. Dalam keputusasaan, bangsa-bangsa Valdoria bersatu untuk terakhir kali, dipimpin oleh seorang penyihir agung bernama Utnaphistim.



Utnaphistim adalah penyihir tua yang konon hidup sejak kelahiran Yggdrasil. Ia menyadari bahwa melawan mesin perang Crystal Empire dengan pedang dan sihir saja takkan cukup. Maka, ia memanggil kekuatan terdalam Yggdrasil, memohon agar pohon kosmik itu melepaskan “air mata purba”-nya.


Dengan mantra pengorbanan yang menukar jiwanya sendiri, Utnaphistim melepaskan Banjir Agung: lautan kosmik yang tumpah dari akar dan cabang Yggdrasil, melanda seluruh dunia.


Crystal Empire, dengan seluruh kota kristal terapungnya, tenggelam di bawah gelombang cahaya dan air. Mesin perang raksasa mereka runtuh, benteng logam terkoyak, dan pasukan besi dihancurkan oleh kekuatan yang bahkan teknologi mereka tak bisa tahan.


Setelah perang kosmik selama ribuan tahun, akhirnya Crystal Empire runtuh. Dari reruntuhan peperangan ini lahir luka dan kebencian turun-temurun, membentuk benih konflik yang mengancam setiap kerajaan di Valdoria.



Namun, banjir itu tak hanya menghancurkan Crystal Empire. Peradaban Valdoria pun ikut binasa.


Perpustakaan agung elf di cabang timur hanyut bersama sungai kristal.


Kota-kota emas manusia di lembah runtuh jadi rawa.


Armada laut marmaid terhempas ke kedalaman, hanya sedikit yang selamat.


Bahkan dwarf kehilangan tambang purba mereka, tertutup lapisan es abadi.


Sejak saat itu, Valdoria kehilangan sebagian besar ilmu dan teknologi kuno. Bangsa-bangsa kembali pada kesederhanaan: pedang, perisai, dan sihir alami. Banjir Agung menandai awal era kemunduran, di mana peradaban Valdoria mundur jutaan tahun.


Meski tubuhnya lenyap, roh Utnaphistim tetap hidup di dalam Yggdrasil, berwujud suara samar yang kadang terdengar di antara desiran daun atau aliran sungai. Banyak penyihir percaya, selama roh Utnaphistim masih bersemayam di dalam pohon kosmik, Valdoria akan tetap memiliki harapan melawan kegelapan.


Jenderal Attila Sombreus dikutuk: jasadnya hancur, namun arwahnya tidak musnah. Ia bersama para jenderalnya dipenjara di Wonderland, negeri yang dibangun khusus untuk mengurung mereka.



Namun, Attila Sombreus yang arwahnya selamat dari kehancuran, menyimpan dendam tak berkesudahan. Ia menyebut Utnaphistim sebagai “pengkhianat agung”, dan berjanji suatu hari akan membalikkan banjir itu menjadi Gelombang Bayangan untuk menenggelamkan Valdoria sekali lagi—kali ini bukan dengan air, melainkan dengan pasukan roh dan mesin kegelapan.



Sisa-sisa manusia Crystal Empire melarikan diri dan mendirikan kekaisaran baru bernama Tartaria—imperium agresif yang terus mengincar dunia-dunia Valdoria. Karena itu, umat manusia membangun tembok raksasa di setiap dunia untuk bertahan sejak zaman kuno, meskipun tartaria harusnya sudah punah 1000 tahun lalu tapi mereka tak pernah benar benar lenyap.




Meski Crystal Empire sudah hancur, arwah-arwah Attila Sombreus tidak tinggal diam. Mereka membentuk pasukan bayangan, menguasai mimpi, dan merasuki jiwa yang lemah. Secara perlahan, mereka memberontak dari dalam penjara Wonderland.


Akhirnya, pengkhianatan besar terjadi: para arwah berhasil menumbangkan Queen dan King of Hearts, menjadikan Wonderland sebagai benteng baru mereka. Negeri penuh warna itu berubah jadi kerajaan hantu.


Alice, Valkry terakhir yang masih bertahan di Wonderland. Ia menyaksikan pembantaian raja dan ratu, dan menjadi satu-satunya yang lolos dari kehancuran. Alice kini melarikan diri ke dunia manusia di Valdoria, membawa kabar tentang kebangkitan Sombreus.


Attila Sombreus, arwah tirani yang semakin kuat, kini memiliki pasukan baru: gabungan goblin, orc, dark elf, pasukan hantu, dan Tartaria. Ia bertekad mengembalikan tubuh fisiknya dengan mengorbankan Yggdrasil itu sendiri.


Attila Sombreus berniat menghimpun pasukan untuk menguasai Valdoria dari tangan Siluman dan Manusia. Dengan  campur tangannya Orc diciptakan dari Elf (dan juga manusia) generasi awal yang ditangkap oleh Sombreus, disiksa dan dimanipulasi untuk dijadikan kelinci percobaan pembentukan tentara. Sedangkan Goblin disebut sebagai jenis Orc dengan tipe yang sedikit berbeda ukurannya.


Ternyata, Yggdrasil sendiri adalah “mesin kosmik” yang menjaga keseimbangan 9 dunia. Jika Sombreus menguasainya, ia bisa menghidupkan kembali Crystal Empire dengan tubuh fisik yang lebih kuat.

Valdoria adalah semesta dengan 9 dunia yang semuanya dihubungkan oleh pohon kosmik bernama Yggdrasil  Setiap cabang Yggdrasil menyambungkan dunia-dunia: negeri laut dalam milik marmaid, gunung tinggi dwarf, kerajaan manusia, kota para elf, hingga negeri pegasus dan unicorn.



Di puncak Yggdrasil berdiri negeri surgawi bernama Valhalla, rumah para Valkry—pejuang perempuan bersayap yang menjaga keseimbangan dunia. Dari antara negeri-negeri itu, ada satu dunia aneh bernama Wonderland, sebuah kerajaan penuh misteri yang dipimpin oleh Queen of Hearts dan King of Hearts. Mereka adalah penguasa yang menjaga kunci penjara terbesar sepanjang sejarah: Crystal Empire yang terkutuk.



Aliansi bumi sengaja menahan kemajuan teknologi untuk memastikan tidak ada pihak yang menyaingi kekuasaan mereka. Misalnya, penelitian Senjata Kuno hanya bisa dilakukan secara rahasia, bukan untuk kemakmuran publik. Bumi juga mengalami kemunduran teknologi setelah perang nuklir.



Tujuan mereka adalah mengontrol sejarah dan informasi, mereka membakar atau menyembunyikan dokumen kuno yang bisa membangkitkan kekuasaan Crystal Empire. Mereka menggunakan propaganda untuk menjaga citra aliansi bumi dan mencegah pemberontakan, misalnya menutupi fakta sejarah tentang Crystal. 

Banyak penemuan atau artefak dari Kerajaan Kuno disembunyikan atau dimusnahkan. Para ilmuwan tidak bebas meneliti karena khawatir penemuan mereka disalahgunakan atau dihancurkan.


Dunia sebagian besar terdiri dari laut dan pulau-pulau terpencil. Sulit bagi teknologi untuk menyebar luas; setiap pulau punya kondisi dan sumber daya yang berbeda, sehingga inovasi terbatas.


Aliansi Bumi memerintah dengan otoritas absolut dan mengatur dunia melalui Jannisari sebagai kekuatan militer utama. Memiliki sistem hukum internasional, militer, dan agen rahasia. Aliansi Bumi berhasil menghancurkan Crystal Empire yang sudah berdiri sebagai negara adidaya selama 1 juta tahun berkat bantuan para dewa dan malaikat.

XXX

Keheningan menyelimuti ruangan. Selim menggeser tubuhnya, gelisah. Lanza Naredin menelan ludah. Anita mengangkat tangannya, dan tiba-tiba cahaya menyala di sekelilingnya, memaksa semua orang menunduk.


Dalam sekejap, wujud Anita berubah. Tubuhnya memanjang, bersinar dengan cahaya putih keemasan, sayap luas terbentang di belakangnya. Sisik ular di lengannya berkilau seperti permata. Mata mereka membesar—Anita bukan sekadar siluman ular. Dia adalah malaikat yang diusir dari Valhalla.


"Isadora…" napas Hasya tercekat, setengah memanggil, setengah kagum.


Semua refleks membungkuk hormat, tapi Anita mengangkat tangannya tinggi. "Berdiri! Tidak ada waktu untuk terkejut!"


Suaranya bergema, menembus dinding apartemen, dan di sana, di antara mereka yang tercengang, hanya ada satu hal yang jelas: perang yang lebih tua dari sejarah sedang kembali ke dunia, dan mereka semua akan terlibat, mau tidak mau.

Anita menurunkan tangannya perlahan, namun cahaya dari tubuhnya tetap memancar, membuat bayangan mereka menari di dinding apartemen. Ia menatap masing-masing teman-temannya satu per satu, matanya seperti menembus jiwa mereka.

“Lihat ini,” katanya dengan suara berat yang penuh kewibawaan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, dan udara di ruangan bergetar halus, seperti ada energi yang melintasi batas dimensi. Perlahan, bayangan gelap muncul di tengah ruangan, kabut hitam berputar-putar, membentuk sosok tinggi, berlapis baju perang antik, helmnya bergigi menyeramkan, matanya bersinar merah pucat.

“H… hantu itu…,” gumam Selim, suaranya tercekat.

“Dia…” Aryan menatap dengan mata membulat. “Itu… Attila Sombreus?”

Anita mengangguk, tetapi ekspresinya tegang. “Ya. Ini hanyalah residu energi yang mendekat dari Valdoria. Dia… bangkit dari legenda, dari peradaban yang sudah lama lenyap. Dan ini baru permulaan.”

Kabut hitam itu bergerak, menyelimuti apartemen, membuat dinding seperti hidup, berdenyut. Semua perabotan bergoyang lembut, dan udara terasa berat, menekan dada mereka. Hasyi menatap Anita dengan takut campur kagum.

“Kalian mungkin berpikir rezim naga merah itu menakutkan,” Anita melanjutkan, suaranya tegas, tapi setiap kata bergetar di udara, “tapi dibandingkan dengan kekuatan ini, bahkan naga itu hanyalah semut di padang perang.”

Lanza Naredin menelan ludah, tubuhnya gemetar. “Apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya… manusia, atau… siluman, tapi… ini… itu bahkan… tidak manusiawi!”

Anita melangkah ke depan, energi dari tubuhnya bergabung dengan bayangan Attila yang melayang di udara, menciptakan pusaran cahaya dan gelap. “Kita tidak punya pilihan. Kita harus bersiap. Dan… kalian harus mempercayai aku. Aku bukan sekadar Anita si siluman ular. Aku Isadora, malaikat yang pernah diusir dari Valhalla. Dan aku akan memimpin kalian melalui ini.”

Seketika, kabut itu menderu lebih kencang, dan bayangan Attila tampak mencondongkan tubuhnya, seakan merasakan kehadiran mereka. Seluruh teman Anita terdiam, napas mereka serasa tertahan oleh ketegangan yang nyata—ini bukan mimpi, bukan mitos. Ini energi kuno yang hidup, mendekat, dan perlahan… siap menelan Benua Miggleland.

“Bersiaplah,” suara Anita bergema, menembus kabut. “Ini bukan soal pilihan. Ini perang yang harus kita hadapi—sekarang, atau tidak sama sekali.”


Api kecil yang selama ini bersemayam di tubuh Hasyi mulai berputar liar, memantul ke dinding-dinding dan memunculkan bayangan menakutkan. Hasyi terhuyung mundur, matanya melebar, jantungnya berdebar tak menentu.

Tiba-tiba, dari pusaran api itu, sosok tinggi dan berjubah muncul—seorang pria dengan aura kuno, api keemasan menari-nari di sekelilingnya, matanya bersinar seperti bara yang hidup. Sosok itu berjalan mantap, menapakkan kaki di lantai apartemen seakan-akan dunia ini miliknya.

Hasyi menatap sosok itu dengan campuran takut dan tak percaya. Suaranya bergetar saat berbicara:
“Kamu… kamu siluman api misterius yang selama ini bersemayam di tubuhku sejak kecil… sejak aku lahir? Kenapa… kenapa kamu tiba-tiba keluar dan bisa menapakkan diri seperti ini? Tak masuk akal!”

Sosok itu menoleh perlahan, api di sekelilingnya berputar seperti mahkota yang hidup, dan senyumnya tipis, penuh wibawa.
“Aku Utnaphistim,” suaranya bergema di seluruh ruangan, berat dan kuno. “Penyihir yang pernah menaklukkan Attila Sombreus… dan memang, aku telah berada dalam dirimu sejak lahir, Hasyi. Tapi waktunya sekarang telah tiba untuk muncul, karena kekuatan yang sedang bangkit tidak bisa lagi ditahan dari dalam.”

Hasyi menelan ludah, gemetar. “Aku… aku selama ini… menganggap api itu hanya bagian dari diriku… tapi kamu? Kamu benar-benar… hidup?”

Utnaphistim melangkah lebih dekat, langkahnya mantap dan penuh kekuatan. “Kehadiranmu hanyalah wadah, Hasyi. Tapi kini aku bebas. Dan percayalah… apa yang akan kau hadapi lebih besar daripada yang pernah kau bayangkan.”

Anita menatap dengan mata berbinar, penuh sukacita. “Utnaphistim! Aku tidak percaya! Kau masih hidup! Denganmu… mungkin kita bisa menghentikan Sombreus!”Namun, senyum Utnaphistim berubah menjadi dingin. “Maaf, Anita. Musuh yang akan kalian hadapi terlalu kuat. Aku tidak berpihak padamu. Aku memilih untuk… bertahan dengan cara sendiri.”

Seketika, aura api Utnaphistim membara lebih dahsyat, menyalakan seluruh apartemen, dan perang yang tak terelakkan pun mulai. Hasyi menatap sosok api yang dulu tersembunyi di tubuhnya, menyadari bahwa kekuatan yang selama ini ia miliki… kini menjadi ancaman sekaligus misteri yang harus mereka hadapi.


Utnaphistim mengangkat satu tangan, api di sekelilingnya menyalak lebih liar. “Kalian terlalu lemah untuk menghadapi kekuatan yang akan bangkit. Energi Sombreus semakin mendekat, dan kekuatanku… telah melemah seiring berjalannya waktu. Aku tidak berpihak padamu. Aku menyerah pada Sombreus. Melawan Sombreus sama dengan mati konyol, mahluk fana seperti kalian pasti tidak paham itu”

Selim dan Aryan terkejut. “Apa?! Kau akan mengkhianati kita setelah semua yang kau ketahui tentang Sombreus?!”

Utnaphistim hanya tersenyum tipis, dingin. “Musuh ini terlalu kuat. Kalian hanyalah pion di medan perang kuno yang sedang dibangkitkan.”

Dengan itu, api kuno melesat ke arah mereka. Pertarungan pecah. Lanza dan Selim menangkis serangan, Aryan mencoba mengatur strategi, sementara Anita mengerahkan energi malaikatnya untuk menahan gelombang api Utnaphistim. Namun setiap serangan dari penyihir kuno itu begitu dahsyat hingga mereka mundur satu demi satu.

Anita menatapnya, penuh kemarahan. “Utnaphistim! Jangan khianati kami !”

Anita berdiri di tengah apartemen, dan seketika udara seakan berubah. Tubuhnya memancarkan cahaya putih keemasan yang lembut, tetapi tajam, seperti matahari yang menembus kabut tebal. Sayapnya terbentang luas di belakang, panjang dan bersinar, dengan bulu-bulu yang tampak halus seperti sutra namun mampu memotong bayangan dengan tajamnya. Setiap gerakan sayapnya menimbulkan gema energi yang membuat dinding bergetar.

Wajahnya… luar biasa. Cantiknya bukan seperti manusia biasa—mata keemasan yang bersinar di bawah alis yang tegas seolah menatap langsung ke inti jiwa, hidung dan bibir sempurna, dan kulitnya bercahaya seperti porselen murni. Namun di balik kecantikannya, ada aura mengintimidasi: tatapannya mampu membuat siapa pun merasa kecil, sekaligus tercerahkan, seperti mereka melihat kebenaran yang menakutkan. Rambut panjangnya berkilau seperti aliran cahaya, menari mengikuti energi di sekitarnya.

Tubuhnya ramping namun kuat, setiap otot tersirat tanpa kehilangan keanggunan. Tangan kanannya terangkat sedikit, dan dari ujung jarinya memancar kilatan energi yang dingin tapi menakutkan, membuat bayangan di ruangan tampak seperti hidup. Setiap langkahnya terdengar ringan namun penuh kekuatan, dan meski kecil gerakannya, aura suci dan menakutkan itu terasa cukup untuk menundukkan mereka yang kurang berani.

Anita—atau Isadora, seperti malaikat yang dulu diusir dari Valhalla—adalah gambaran sempurna dari paradoks: cantik sekaligus mengerikan, memesona sekaligus menakutkan. Kehadirannya membuat teman-temannya refleks menunduk, dan bahkan musuh pun bisa merasakan ketegangan yang menusuk hanya dari pandangannya.

Sosok Utnaphistim berhenti sejenak, matanya memerah karena cahaya malaikat Anita semakin menyelimuti ruangan. Namun kemudian, ia tersenyum dingin dan menghilang dalam pusaran api, melarikan diri ke arah energi Sombreus.

Anita menepuk bahu Hasyi yang gemetar. “Dia memilih jalannya sendiri. Tapi tidak masalah. Kita akan menghadapi Sombreus… bersama.”

Di luar apartemen, bayangan Attila Sombreus semakin jelas, menandakan ancaman yang jauh lebih besar daripada naga merah yang pernah mereka kenal.

XXX

Seabad lalu di langit ketujuh, tempat para malaikat agung menetap, hiduplah seorang malaikat muda bernama Isadora. Ia dikenal sebagai penjaga gerbang cahaya, dengan sayap perak dan mata bercahaya yang mampu melihat kegelapan di dalam hati siapa pun. Namun, Isadora memiliki satu kelemahan: belas kasih yang terlalu dalam—bahkan kepada yang tak layak diampuni.\


Suatu hari, ketika sebuah siluman tingkat tinggi menyusup ke alam langit dalam wujud manusia yang tampak tak bersalah, Isadora-lah yang berjaga di gerbang. Siluman itu memohon belas kasihan, berpura-pura sebagai roh yang tersesat. Dan Isadora, yang hatinya tak sanggup melihat penderitaan, membiarkannya masuk.




Kesalahan itu membawa bencana. Siluman itu menghancurkan salah satu Pilar Cahaya, menyebabkan retakan dalam pelindung antara alam langit dan bumi. Ribuan siluman bangkit di dunia manusia, menyebar dan mencemari jiwa manusia dengan kebencian, keputusasaan, dan kekacauan.




Dihadapkan pada Majelis Malaikat Agung, Isadora tidak membela diri. Ia menerima kesalahannya. Namun, hukum langit tak mengenal ampun bagi malaikat yang gagal menjalankan tugas. Ia tidak dilenyapkan—karena belas kasihnya dianggap berasal dari niat murni—namun dijatuhi hukuman abadi:




"Kau akan turun ke bumi sebagai malaikat tanpa sayap, dan hingga siluman terakhir dibasmi, kau tidak akan diizinkan kembali ke langit."




Begitulah Isadora jatuh ke bumi, tanpa sayap, tanpa kekuatan penuh, hanya berbekal pedang cahaya yang kini redup karena dosanya. Ia tidak lagi bisa terbang. Ia merasakan dingin, lapar, dan kelelahan—sesuatu yang tak pernah ia kenal sebagai malaikat.




Selama ratusan tahun, Isadora berkelana dari hutan gelap ke reruntuhan kota, memburu siluman dalam wujud manusia, binatang, dan bayangan. Setiap siluman yang ia basmi, sedikit cahaya kembali ke pedangnya. Namun setiap pembunuhan juga menggerus nuraninya.




Di antara pertempuran, Isadora mulai menyadari bahwa tidak semua siluman lahir dari kejahatan—beberapa dulunya manusia yang kehilangan harapan, terperosok ke dalam kegelapan. Ia mulai berusaha menyelamatkan, bukan hanya membunuh.




Isadora menciptakan Lingkaran Cahaya, sebuah simbol yang ditinggalkannya di tempat-tempat yang pernah ia bersihkan. Lingkaran itu melindungi manusia dan perlahan mengusir kegelapan dari wilayah sekitarnya. Nama Isadora pun menjadi legenda—malaikat jatuh yang memburu siluman demi menebus kesalahannya.




Namun, hingga kini, siluman terakhir belum ditemukan. Dan Isadora terus berjalan di bumi, sendirian, menebus dosa yang satu... demi menyelamatkan ribuan jiwa lainnya.






Dan langit masih menunggu...


Dan Isadora belum mengangkat wajahnya ke sana.


Karena ia tahu:


Penebusan belum selesai.

XXX

Ratusan tahun telah berlalu sejak perang nuklir memutuskan kontak antara Miggleland dengan daratan barat jauh. Sejak itu, wilayah barat menjadi misteri, hampa, dan terlupakan. Namun pagi itu, sensor militer Tanduk Berlian di Republik Miggleland Kedua menangkap sesuatu yang mengejutkan: sebuah objek raksasa memasuki wilayah udara dari barat jauh, melayang dengan lambat namun pasti, menutupi cakrawala.


“Komando! Ini… sesuatu yang besar! Tidak ada catatan apapun!” suara seorang operator radar terdengar panik.


Pasukan Tanduk Berlian segera dikerahkan. Jet tempur melesat ke udara, peluru kendali diluncurkan, laser ditembakkan—semua untuk menghentikan objek misterius itu. Tapi setiap tembakan memantul, tak satupun mengenai sasaran.


Objek itu akhirnya menampakkan dirinya: sebuah pesawat luar angkasa raksasa, ramping, berlapis logam hitam mengilap, dengan inti energi merah yang berdenyut seperti jantung hidup. Tanpa peringatan, laser dari kapal itu menyambar ke kota terdekat—satu tembakan, dan seluruh kota itu meledak, hancur berantakan. Debu, api, dan reruntuhan menyelimuti bumi, sementara angin panas dari ledakan memporak-porandakan segala sesuatu di sekitarnya.


Lalu, dari cahaya merah yang memancar itu, muncullah sosok yang mengerikan: Attila Sombreus. Wujudnya bukan lagi manusia, tapi hantu legendaris yang mengambang di udara, dikelilingi aura gelap. Di belakangnya, pasukan Tartaria—suku barbar kuno yang membangkitkan Attila dari Wondrland—mengikuti, penuh dengan senjata kuno dan kekuatan yang menakutkan.


Pasukan Tanduk Berlian menyerang, tapi mereka seperti memotong mentega. Pedang dan peluru tidak mempan. 


Di markas pusat, Kanselir Republik Miggleland Kedua menatap dengan terkejut, lalu mencoba menggunakan kekuatan politik dan sihirnya untuk menyerang. Tapi satu jentikan jari dari Sombreus, dan tubuh Kanselir terbelah jadi dua oleh sinar laser dari kapal luar angkasa, hancur seketika. Bahkan Siluman Naga Merah, yang selama ini menjadi senjata pamungkas Republik Miggleland, jatuh terbunuh dengan mudah oleh serangan hantu Sombreus.


“Sebagai hantu, aku tidak bisa disentuh… tapi aku bisa menyentuh dan melukai yang hidup,” suara Sombreus bergema, menggetarkan udara. “Aku datang untuk tahta Agrabah milik Raja Beyzid… yang konon dapat mengembalikan tubuh fisikku dan aku akan mengambilnya.”


Kota demi kota, pasukan demi pasukan, seluruh Miggleland jatuh. Republik Kedua yang dulu dibanggakan kini runtuh, diganti oleh kekuasaan Tartaria yang bangkit kembali. Benua itu menjerit di bawah bayangan pasukan gelap dan Attila Sombreus,  kini resmi menguasai tanah yang dulu menjadi pusat peradaban manusia.


Debu dan api menutupi langit, dan bagi mereka yang selamat, dunia baru yang kelam ini hanya satu: aturan Sombreus telah dimulai.



Tahta Agrabah bukan cuma “mesin kehidupan biasa”, tapi semacam perangkat psikis raksasa yang menjaga Raja bByzid tetap abadi dan hidup dalam kondisi setengah sadar. Menahan gelombang kekacauan dari Warp agar tidak membanjiri kesultanan.

Setelah revolusi rakyat yang berujung perang nuklir, Sultan terluka parah oleh pemberontak pribumi dan tubuhnya hanya bisa bertahan di Tahta Agrabah. Cucu Sultan bernama Suleyman membentuk aliansi dengan bangsa non pribumi untuk merencanakan pemberontakan dan merestorasi monarki melawan rakyat yang pernah menggulingkan kakeknya untuk mendirikan Kerajaan Miggleland, penerus Umatradayawipa dan menggiulingkan Republik Miggleland Pertama yang dibentuk pemberontak pribumi lawan raja beyzid.


Secara psikis dan mistis, Sultan memerlukan energi manusia untuk tetap hidup dan menjaga Kesultanan 


Energi yang disalurkan ke Sultan datang dari manusia yang dikorbankan secara ritual, karena energi psikis manusia bisa “menyokong” fungsinya Tahta Agrabah  Untuk menjaga stabilitas Imperium secara terus-menerus, jumlah energi yang diperlukan sangat besar.


Tahta Agrabah  tidak sempurna; dia tidak bisa bekerja sendiri tanpa korban manusia. Ritual pengorbanan ribuan manusia setiap hari adalah “bahan bakar” bagi Sultan agar tetap hidup dan tetap menahan Chaos dari meluas.Sultan tidak lapar atau haus darah secara pribadi, tapi bergantung pada energi manusia sebagai sumber kekuatan psikis. Hanya sultan itulah yang memilki kekuatan untuk melindungi sisa sisa umat manusia dari berbagai mahluk fantasi mengerikan yang akan menyerang dan memusia akhir zaman, terutama dari para malaikat yang ingin membersihkan bumi.

XXX

Asap dan abu masih menyelimuti langit Miggleland, suara ledakan dan raungan pasukan Sombreus menggema di kejauhan. Anita menatap teman-temannya dengan mata serius, tubuhnya masih bersinar lembut dari wujud malaikatnya.

“Kita tidak bisa menang sekarang,” katanya dengan tegas, suara bergema seperti bel peringatan. “Sombreus terlalu kuat. Jika kita tetap di sini, kita hanya akan mati sia-sia. Kita harus melarikan diri… ke timur jauh.”

Hasyi, Selim, Hasya, Aryan, dan Lanza Naredin saling bertukar pandang, ragu tapi tahu Anita benar. Dengan satu gerakan tangan Anita, cahaya malaikatnya membentuk sayap energi yang menutupi mereka, melindungi dari radar dan pasukan musuh saat mereka menyelinap keluar dari kota yang hancur.

Mereka terbang melintasi gurun reruntuhan dan gunung yang terluka oleh perang nuklir, hingga akhirnya mencapai tembok raksasa Drusselstein, benteng tua yang memisahkan wilayah gelap dan dunia yang masih lestari. Anita menunduk sedikit, menyalurkan kekuatan malaikatnya. Cahaya putih dan emas menyelimuti tembok itu, membuat batu-batu tua bergeser dengan sendirinya, seakan membuka gerbang diam-diam.

“Masuklah cepat, sebelum ada yang melihat,” bisik Anita. Mereka semua menunduk dan melangkah masuk melalui celah yang terbuka, napas mereka masih terengah-engah setelah perjalanan panjang.

Disebelah timur jauh Benua Miggleland ada sebuah benua terisolasi yang dikelilingi oleh tembok raksasa bernanma Drusselstein yang menyelamatkan benua  dari invasi pasukan Tartaria, sisa sisa pasukan Crystal Empire. Bangsa di dalam tembok itu hidup selaras dengan alam meski tertinggal secara teknologi hampir ribuan tahun. Berbeda dengan Miggleland yang selalu kacau dan penuh konflik, benua itu sangat makmur dan berteknologi tinggi meski sudah ratusan tahun tak berkontak dengan Miggleland sejak perang nuklir.  

Di sebuah benua luas bernama Eryndral pusat ketsaran Arcakarta yang membentang hingga asia utara dan Tiongkok, terdapat sebuah lingkaran tembok raksasa yang menjulang hingga menyentuh awan, dikenal sebagai Tembok Abadi Drusselstein yang dibangun untuk melindungi penghuninya dari bangsa Tartaria dan Crystal Empire. Tembok ini dibangun ribuan tahun lalu oleh para arsitek misterius yang hilang dari sejarah. Di balik tembok, terdapat tujuh kerajaan besar yang hidup dalam kedamaian rapuh, saling bersekutu namun juga sering berkonflik kecil.


Ketsaran Arcakarta di benua ini adalah rival terbesar bagi Kesultanan Umatradayawipa di MIggleland di masa lalu meski sekarang saling putus kontak karena perang nuklir, keduanya sama sama mengklaim pelindung umat manusia,ketsaran juga punya politik air hangat, sebagai misi merebut wilayah Umatradayawipa agar memiliki pelabuhan yang tak membeku di musim dingin di era sebelum nuklir.

Begitu mereka menjejakkan kaki di sisi lain, keheningan yang aneh menyelimuti mereka. Langit biru yang jernih membentang luas, sungai berkilau memotong lembah hijau yang subur, dan pepohonan yang rimbun bergoyang pelan diterpa angin sejuk. Burung-burung berwarna-warni beterbangan, sementara desa-desa yang tersebar tampak damai dan makmur.

“Ini… ini tidak mungkin…” Hasya berbisik, matanya membesar. “Setelah semua kehancuran di Miggleland… ini seperti surga.”

Hasyi ternganga, melihat anak-anak bermain di taman, pedagang tersenyum ramah kepada penduduk, dan ladang-ladang yang subur membentang sejauh mata memandang. “Aku… aku tidak pernah melihat tempat seperti ini di seluruh hidupku,” katanya dengan suara rendah, hampir tak percaya.

Anita tersenyum tipis, namun mata keemasan itu tetap serius. “Ini kerajaan Acakarta. Negeri ini masih lestari karena rakyatnya hidup selaras dengan alam dan magi kuno yang menjaga keseimbangan. Kita beruntung bisa sampai di sini… tapi jangan lengah. Dunia di luar sana hancur, dan Sombreus masih mengincar kita.”

Mereka melangkah lebih jauh, menatap kota-kota kecil yang rapi, sungai yang memantulkan cahaya matahari, dan gunung-gunung yang menjulang megah di kejauhan. Setiap langkah mereka di tanah Acakarta membuat mereka merasakan kedamaian yang hampir mustahil dipercaya, sebuah kontras yang tajam dengan dunia Miggleland yang hancur.

Selim menarik napas panjang. “Kau… kau benar-benar mengatakan ini negeri surga,” katanya. “Aku… belum pernah melihat dunia yang seindah ini.”

Anita menatap horizon, sayapnya bergetar pelan, menyadari bahwa walau mereka aman untuk saat ini, ancaman Sombreus masih menggantung di atas kepala mereka seperti bayangan gelap yang tak bisa dihindari. “Kita akan berlatih di sini,” katanya, suaranya rendah tapi pasti. “Karena suatu hari… kita harus kembali menghadapi Sombreus. Dan saat itu, kita tidak boleh kalah.”

Di tengah keindahan Acakarta, teman-temannya akhirnya merasakan secercah harapan—pertama kalinya setelah dunia mereka hancur, mereka bisa bernapas tanpa ketakutan. Namun di balik kedamaian itu, bayangan Sombreus masih menunggu, membawa ancaman yang tak bisa mereka lupakan.

Di tengah hamparan hutan tropis dan gunung berapi di Valdoria yang menjulang, berdirilah sebuah kerajaan yang sudah berdiri sejak zaman  kuno bernama Arcakarta. Kerajaan ini tampak megah dengan tembok batu hitamnya, pasukan tombak dan perisai berbaris gagah di jalan-jalan, dan istana kayu berlapis emas yang menjulang di pusat kota. 


Kerajaan Arcakarta sebuah negeri air kristal yang berkilau bak permata. Istana mereka dibangun dari karang putih bercahaya, berlapis mutiara raksasa, dan menara-menara kaca laut yang menjulang seperti lilin surgawi. Di dalam istana itu, hidup sang  Ratu Naiara, penguasa agung, bersama putrinya, Seraphine, putri duyung dengan rambut panjang seindah gelombang fajar.


Kerajaan Arcakarta bukanlah kerajaan biasa. Kekuatan mereka lahir dari lagu-lagu kebahagiaan. Setiap penduduk, dari nelayan laut dalam hingga para ksatria duyung yang menjaga batas samudra, menyanyikan lagu kebahagiaan setiap fajar. Lagu itu bukan hanya suara; ia adalah energi suci yang menenun cahaya biru lembut di langit Aqua, membentuk perisai tak terlihat yang melindungi kerajaan dari segala bencana dan kejahatan.

Sejak zaman kuno, Arcakarta diikat oleh energi purba, kekuatan yang dikenal sebagai Energi Kausal, jiwa alam semesta yang mengalir dalam segala makhluk hidup dan benda mati. Di balik kemegahan dan peperangan, pertarungan besar antara cahaya dan kegelapan terus berlangsung, diwariskan oleh para dewa kuno yang pernah menciptakan dunia ini.

Mereka yang mampu mengendalikannya dapat membelokkan materi, pikiran, bahkan waktu. Dari kekuatan ini, dewa-dewa kuno yang menciptakan galaksi meninggalkan artefak legendaris yang tersembunyi di berbagai planet, kunci untuk mengubah arah peperangan dan nasib bumi.


Ada yang menggunakan kekuatan ini demi menjaga harmoni dan dharma, jalan kebenaran dan keseimbangan. Namun, tak sedikit pula yang terjerumus ke sisi gelap, menggunakan energi untuk dominasi dan kehancuran, memicu pertarungan abadi antara terang dan gelap yang menentukan masa depan bumi.


Jauh dari hiruk-pikuk medan perang, di hutan  Eldoria, makhluk mistis yang mirip elf menjaga keseimbangan kosmis dengan tekad tak tergoyahkan. Mereka memegang rahasia kuno dan artefak dewa yang tersembunyi, menjaga ajaran spiritual yang menjadi fondasi alam semesta. Eldoria adalah benteng terakhir harapan, di mana cahaya dan kebijaksanaan dipelihara di tengah gelapnya kekacauan.

Bayangkan sebuah dunia yang tumbuh dari akar pohon raksasa, tempat langit dan bumi terjalin dalam sulaman cahaya yang tak pernah diam. Dari kejauhan, batang Yggdrasil—pohon abadi yang menopang sembilan dunia—menjulang laksana gunung tanpa puncak, kulit kayunya berkilau hijau zamrud, dan cabang-cabangnya memancarkan cahaya keperakan yang mengalir seperti bintang jatuh.


Hutan Valdoria bukan sekadar hamparan pepohonan. Pohon-pohon di sini bercahaya lembut, daunnya berubah warna mengikuti musim—hari ini merah rubi, besok biru safir, lusa hijau giok. Di sela-sela akar raksasa, tumbuh jamur-jamur setinggi manusia, berpendar ungu dan biru, meneteskan embun bercahaya yang ketika jatuh ke tanah berubah jadi kunang-kunang kecil.

Di lembah, aliran sungai tampak seperti kaca cair. Airnya bukan sekadar bening, tetapi berkilau seperti serpihan kristal yang memantulkan wajah langit. Ikan-ikan bersisik emas berenang di dalamnya, kadang melompat dan berubah menjadi burung sebelum kembali menjelma ikan lagi.

Gunung-gunungnya menjulang dengan mahkota salju perak. Di puncak-puncaknya, bunga-bunga liar tumbuh di tepi jurang, seolah menantang angin. Ketika malam tiba, aurora menari di langit, bukan hanya hijau dan ungu, tetapi juga merah darah dan biru safir, menciptakan lukisan kosmik yang menyeberangi cakrawala.

Ada padang rumput luas di mana kuda bersayap berlari, meninggalkan jejak cahaya di tanah. Ada danau dalam yang permukaannya memantulkan dua langit sekaligus: langit siang dan langit malam, seolah waktu pecah menjadi dua realitas yang berdampingan.

Namun, keindahan Valdoria bukan hanya megah, tapi juga ganjil. Di hutan-hutan tertentu, bunga bisa bernyanyi, dan jamur besar membuka "payungnya" untuk meneduhkan pengembara yang kelelahan. Ada bukit-bukit yang tersenyum dengan wajah batu, dan lembah yang bergemuruh dengan tawa gaib saat hujan pertama turun.

Di cabang-cabang Yggdrasil yang lebih tinggi, terdapat negeri-negeri yang seolah tak terikat hukum alam. Pulau-pulau terapung melayang di udara, diikat oleh akar-akar bercahaya. Air terjun mengalir ke atas, bukan ke bawah. Ada jalan setapak yang tak pernah berakhir, dan pintu-pintu tersembunyi yang mengantar siapa saja ke dunia lain dalam sekejap.

Di puncak tertinggi, di negeri cahaya, berdirilah kota para Valkry: menara perak dan emas yang berkilau laksana bintang, dijaga oleh jembatan pelangi yang membentang di udara. Namun jauh di cabang lain, negeri penuh warna yang disebut Wonderland berkelok-kelok seperti mimpi yang berubah bentuk setiap kali kau berpaling—penuh jamur raksasa, bunga yang berbisik, dan pepohonan yang tumbuh terbalik, akarnya menggapai langit.

Valdoria adalah dunia yang selalu bergerak, selalu berubah. Indah, megah, sekaligus aneh dan menyesatkan. Dunia di mana keajaiban dan bahaya berjalan beriringan, di mana satu langkah bisa menuntunmu ke surga, dan langkah lain bisa melemparmu ke jurang mimpi buruk.

Namun di balik kejayaan itu, Arcakarta menyimpan rahasia kelam yang membusuk di akar peradabannya.

Arcakarta menindas sebuah ras yang disebut Raptor — mereka adalah ras yang seringkali menjadi sekutu Attila Sombreus dan bangsa Tartaria, manusia yang bukan sepenuhnya manusia. Mereka adalah keturunan jauh dari makhluk purba, tubuhnya lebih kuat, matanya bercahaya tajam seperti reptil, dan mereka mampu berlari lebih cepat dari kuda, melompat setinggi tembok benteng, bahkan mencakar baja dengan kekuatan tangan kosong. Kekuasaan raja di kerajaan melihat mereka bukan sebagai anugerah, melainkan ancaman. Maka, Raptor dipaksa tinggal di pinggiran kota, menjadi budak, tentara bayangan, atau buruh tambang.

Ribuan tahun sebelum berdirinya kerajaan Arcakarta, dunia masih liar dan dihuni oleh makhluk-makhluk purba. Di antara kawanan dinosaurus yang terakhir bertahan, ada satu jenis predator cerdas yang mampu beradaptasi lebih cepat dari yang lain. Mereka tidak punah sepenuhnya ketika bintang jatuh menghantam bumi; sebagian kecil bertahan dengan bersembunyi di gua-gua dalam dan hutan purba yang terlindung dari bencana.




Menurut legenda yang diturunkan kaum Raptor, pada masa itu seorang Dewi Langit melihat penderitaan para dinosaurus yang sekarat. Ia jatuh iba, lalu menyalurkan kekuatan kosmiknya untuk menggabungkan kehidupan purba dengan kehidupan baru: manusia. Dari proses misterius itu lahirlah generasi pertama Raptor  makhluk yang membawa dua garis keturunan: tubuh seperti manusia, tetapi dengan gen bawaan predator prasejarah.




Secara biologis, tubuh mereka berbeda dari manusia Arcakarta


Mata mereka dapat melihat dalam gelap dengan cahaya kekuningan mirip reptil.


Tulang dan otot lebih padat, memberi kekuatan luar biasa.


Refleks mereka tajam, bisa menghindari panah yang melesat.


Insting berburu tetap hidup, membuat mereka cepat membaca gerak lawan.


Di bawah kulit, masih ada sisa sisik tipis di beberapa bagian tubuh, tersembunyi dari pandangan biasa.




Kaum Raptor percaya bahwa mereka adalah keturunan langsung dinosaurus yang berevolusi, bukan manusia biasa. Darah mereka mengandung memori purba, seperti gema masa ketika bumi dikuasai reptil raksasa.




Namun bagi manusia Arcakarta, keberadaan mereka adalah sebuah ironi. Mereka dianggap setengah binatang, “cacat ciptaan” yang tidak layak duduk sejajar dengan bangsawan atau brahmana. Raja-raja Arcakarta menyebarkan doktrin bahwa Raptor adalah kutukan dewa karena berani menentang tatanan dunia.




Kenyataannya, diskriminasi itu hanya karena rasa takut. Raja-raja tahu: bila kaum Raptor bersatu, kekuatan mereka dapat merobohkan tembok kota dan meruntuhkan singgasana. Karena itulah, selama berabad-abad, kaum Raptor ditekan, dipecah-pecah, dan dipaksa tunduk.




Kini, ketika Putri Anindya bergabung dengan mereka, legenda lama kembali bergaung: bahwa suatu hari, “Darah Dinosaurus” akan bangkit untuk menuntut haknya atas dunia.


Kaum Raptor, meski berdarah dinosaurus, tidak menampilkan diri sebagai monster buas. Penampilan mereka lebih dekat dengan manusia, bahkan elegan. Banyak dari mereka berwajah rupawan, 


Namun di balik rupa itu, tersembunyi tanda-tanda leluhur mereka: mata berkilau kuning kehijauan, tulang lebih kuat dari baja, dan sayap hitam atau keperakan yang dapat membentang lebar.




Keturunan Raptor membawa anugerah yang beragam. Ada yang dapat menembakkan sinar laser dari mata, mampu melelehkan baja dan membakar perisai. Ada pula yang mampu mengendalikan petir, memanggil badai guruh yang dapat merobohkan benteng Arcakarta. Sebagian dapat memanipulasi gravitasi, menjatuhkan lawan ke tanah atau melayang bebas di udara. Ada pula Raptor yang dikaruniai kekuatan halus: menyembuhkan luka dengan sentuhan, membaca pikiran, atau membelokkan anak panah di udara.




Mereka tahu betul: meski satu Raptor dapat mengalahkan sepuluh prajurit, jumlah selalu menjadi kelemahan. Arcakarta memiliki ribuan pasukan, ratusan ksatria, dan dukungan brahmana yang menjaga otoritas raja. Sementara Raptor hanyalah minoritas yang terus ditekan, dikejar, dan dipaksa hidup di gua-gua serta lembah terpencil.




Maka lahirlah Strategi Bayangan: konspirasi rahasia untuk menjatuhkan kerajaan dari dalam, bukan melalui perang terbuka.



Ribuan tahun lalu, ketika Pemberontak dari ras Raptor—predator berzirah besi merah—datang untuk menaklukkan Arcakarta demi membantu Sombreus minyak suci yang terkandung di inti lautnya, mereka gagal menembus perisai nyanyian. Lagu kebahagiaan rakyat Arcakarta membuat pedang baja berkarat, dan tombak api mereka padam sebelum menyentuh air.


Namun penindasan hanya melahirkan perlawanan. Di lorong-lorong gelap, di gua-gua tersembunyi, kaum Raptor mendirikan gerakan gawah tanah, sebuah jaringan rahasia yang menyebarkan ide berbahaya: dunia tanpa raja, tanpa brahmana, tanpa dewa tanpa tentara—dunia anarki di mana semua manusia setara. Bagi mereka, Arcakarta hanyalah awal. Mereka ingin api revolusi menjalar ke kerajaan-kerajaan tetangga hingga seluruh benua runtuh.


Untuk melaksanakan rencana itu, mereka membutuhkan sosok simbolis: seorang dari dalam istana, darah kerajaan sendiri. Dan mereka menemukan jawabannya pada seorang gadis yang hidup dalam bayang-bayang kekuasaan: Putri Anindya, Saudara Tiri Seraphine.


Putri Anindya adalah putri kerajaan bawahan dari Arcakarta  yang berkuasa ,ia adalah putri malang yang sejak anak anak sudah diambil dari kedua orangtuannya  dan dididik di Arcakarta tapi jadi selalu merasa menjadi warga kelas 2.

Anindya adalah anak selir—darah biru yang tak pernah diakui sepenuhnya. Sejak kecil ia diperlakukan hina: dicemooh oleh saudara-saudaranya, dijauhi oleh brahmana istana, bahkan sering mengalami penyiksaan fisik dan emosional dari ayahnya, sang raja. Luka-luka itu bukan hanya menorehkan bekas pada kulitnya, melainkan juga di jiwanya.

Kerajaan Arcakarta dulunya dipimpin oleh seorang raja yang sangat kejam bernama Brajasenawarman. Brajasenawarman memiliki baju zirah emas, Mahkotanya terbuat dari bulu Garuda dan memiliki sepatu yang dapat berjalan diatas awan. Setelah sang raja mangkat dan digantikan sang Ratu Naira yang lebih lembut, dendam Anindya terhadap Arcakarta tak serta merta hilang, terutama rasa irinya pada Seraphine yang tak kunjung hilang. 


Anindya sangat marah karena dipisahkan dengan paksa dari kedua orangtuannya dan melihat penindasan yang dilakukan Arcakarta pada orang orang bangsanya sendiri sebagai bangsa kelas dua minoritas yang merupakan taklukan Arcakarta dan bagaimana Arcakarta  menekan keluarga nya sendiri dengan upeti karena itu dia berniat melakukan pemberontakan.


Dalam kesepian dan kepedihan, Anindya mulai memendam amarah. Ia ingin membalas dunia yang menolak keberadaannya. Maka ketika kaum Raptor mendekatinya dengan bisikan revolusi, ia mendengarnya bukan sebagai ajakan asing, tetapi sebagai gema dari dalam dirinya sendiri.


Malam demi malam, Anindya menyelinap keluar istana, bertemu dengan para Raptor di gua tersembunyi. Mereka menyalakan api kecil, berjanji suatu hari dunia lama akan hancur. Arcakarta akan runtuh, dan dari puing-puingnya lahirlah dunia baru: dunia tanpa raja, tanpa hierarki, tanpa agama, tanpa militer dunia yang bagi mereka adalah kebebasan sejati.


Namun, satu pertanyaan menggelantung di benak Anindya


Apakah ia benar-benar ingin menghancurkan kerajaan yang sekaligus menjadi rumahnya, atau ia hanya sedang membalas dendam pada ayah dan takdir yang menolaknya?


Perjalanan Putri Anindya bersama kaum Raptor menjadi api yang menentukan nasib Arcakarta apakah menjadi peradaban yang abadi, atau menjadi reruntuhan yang dikutuk sejarah.






Di sinilah mereka menemukan sekutu tak terduga: Putri Anindya, anak selir yang terbuang dari istana. Luka batinnya dalam, dihina oleh saudari-saudarinya dan dianiaya oleh sang ayah, Raja Arcakarta. Kaum Raptor melihat dalam dirinya sebuah pintu: darah kerajaan, namun hatinya penuh dendam.




Mereka mendekatinya dengan janji:


“Engkau bukan budak takdir, wahai Anindya. Engkau akan menjadi Ibu dari Dunia Baru. Dunia tanpa raja, tanpa brahmana, tanpa prajurit yang menindas. Bersama kami, engkau akan menulis sejarah baru.”




Anindya pun tergoda. Ia tahu bahwa dengan kekuatan Raptor, ia bisa menjatuhkan singgasana yang telah lama menginjak dirinya. Bersama mereka, ia menjadi bagian dari konspirasi besar: meruntuhkan Arcakarta dari dalam, menyusup ke jantung kerajaan, dan membakar fondasi kekuasaan.




Namun para Raptor bukan sekadar ingin menggulingkan raja. Mereka mengusung visi yang lebih radikal: dunia tanpa negara, tanpa agama, tanpa hierarki—sebuah negeri anarki yang akan menelan kerajaan-kerajaan lain setelah Arcakarta tumbang.




Dan di balik senyum misterius Anindya, bersembunyi sebuah pertanyaan mengerikan: apakah ia benar-benar sekutu mereka, atau ia sendiri memiliki agenda yang lebih gelap?


Anindya yang bersekutu dengan Bangsa Raptor dan Tartaria kemudian menjadi penjahat yang melakukan percobaan pemberontakan dan membunuh ibu tuan putri, ratu kerajaan ini dan mengurung tuan putri di dalam penjara tanpa makanan sampai dia semakin kurus,bangsa Marmaid harus hidup dalam penderitaan di bawah kekuasaannya yang berkolaborasi dengan bangsa Raptor.

XXX


Di sebuah benua luas bernama Eryndral milik ketsaran Arcakarta di Hutan Valdoria, terdapat sebuah lingkaran tembok raksasa yang menjulang hingga menyentuh awan, dikenal sebagai Tembok Abadi Drusselstein yang dibangun untuk melindungi penghuninya dari bangsa Tartaria dan Crystal Empire. Tembok ini dibangun ribuan tahun lalu oleh para arsitek misterius yang hilang dari sejarah. Di balik tembok, terdapat tujuh kerajaan besar yang hidup dalam kedamaian rapuh, saling bersekutu namun juga sering berkonflik kecil.


Tujuh kerajaan besar membentang dari pegunungan yang bersalju hingga hutan-hutan purba dan dataran subur yang luas di bawah Konfedrasi yang dipimpin oleh kerajaan Arcakarta kerajaan lautan dalam, terkenal dengan armada laut yang kuat meski terkurung tembok. Arcakarta dihuni oleh ras manusia setengah Marmaid atau putri duyung.


Setiap kerajaan lahir dari kekuatan leluhur mereka, yang dahulu adalah dewa-dewi, kini diwujudkan dalam bentuk kerajaan dengan penguasa yang memiliki kekuatan magis unik.


Ketsaran Perun dipimpin oleh seorang Tsar Vassily yang mengerikan. kerajaan pegunungan dengan tambang mithril, dingin dan keras. 


Kerajaan Perun berdiri di puncak Gunung Petir, di mana langit selalu bergejolak dengan kilat. Istana Perun terbuat dari batu hitam dan tembaga, dengan menara-menara tinggi menjulang ke awan. Penduduknya ahli dalam seni tempur dan magi petir; para penghininnya mampu memanggil badai dan menembakkan panah petir dari kapak atau palu mereka. Perun dikenal sebagai pelindung kerajaan dari ancaman bawah tanah, khususnya dari musuh bebuyutannya, Kerajaan Veles.


Kerajaan Perun dijuluki kerajaan emas dengan ibukota yang berkilau, pusat perdagangan dan ilmu


Di lembah hijau yang dipenuhi sungai berliku dan gua-gua misterius terletak Kerajaan Veles. Kastilnya dibangun di antara hutan gelap dan rawa-rawa berkabut, dihuni naga dan binatang bertanduk. Para penghininnya ahli sihir bumi dan ilusi, mampu berubah menjadi naga atau menyusup ke tanah untuk menyerang musuh. Musik dan mantra magis mereka menjadi sumber kekuatan spiritual kerajaan ini, menjadikannya pusat ilmu hitam dan transmutasi.



Di tengah dataran tinggi berapi dan sungai lava, Kerajaan Svarog memancarkan cahaya yang menandakan kekuatan api dan logam. Kota-kotanya penuh dengan pandai besi dan tukang sihir yang menciptakan senjata legendaris. Para penghininnya mengendalikan api dengan presisi luar biasa, dari bara perapian hingga matahari yang mereka panggil dalam ritual kuno untuk menumbuhkan panen dan memperkuat tentara.  



Dazhbog bersinar di dataran yang subur dan matahari selalu tampak memeluk ladang-ladang emasnya. Kerajaan ini terkenal dengan kesehatan dan kesejahteraan penduduknya. Para penghininnya memiliki kekuatan matahari: mampu menyembuhkan luka, mempercepat pertumbuhan tanaman, dan menyalurkan energi hangat yang membakar kegelapan. Penduduknya percaya bahwa kekayaan dan kekuatan kerajaan adalah berkah Dazhbog yang murah hati.  



Kerajaan Svetovid berdiri di wilayah yang luas, dengan padang rumput hijau dan sungai yang berkilauan. Istana berkubah putih dengan menara empat kepala simbolik, yang setiap menaranya mengawasi satu arah mata angin. Para penghininnya adalah prajurit suci, ahli ramalan, dan pemanggil hujan. Pedang mereka memanggil guntur, dan setiap hujan dianggap berkat langsung dari kerajaan. Svetovid adalah simbol kesuburan, kemakmuran, dan kemenangan dalam perang. Wilayah ini adalah kerajaan padang rumput, para penunggang kuda terbaik di dalam tembok.


Dua kerajaan yang saling bersisian, tetapi berlawanan: Yarilo adalah kerajaan musim semi dengan ladang bunga, sungai jernih, dan kuda putih yang melintasi padang; para penghininnya adalah pemuda tampan yang bisa menyalurkan cinta dan semangat hidup melalui musik dan ritual. Sementara Morana berada di utara, di hutan bersalju dan gunung es yang dingin, istananya putih memantulkan cahaya bulan. Para penghininnya ahli dalam sihir musim dingin dan pengendalian roh, mematikan dan menghidupkan kembali alam melalui siklus kematian dan kelahiran.


 

Di lembah yang harum oleh bunga dan kebun madu berdiri Kerajaan Lada & Lelya, simbol cinta, keharmonisan, dan kesuburan. Kota-kotanya penuh taman, air mancur, dan kuil-kuil megah. Para penghininnya mampu menyalurkan api cinta, mengobarkan gairah dan rasa kasih antar manusia, serta menjaga kesejahteraan rakyat. Festival-festival cinta selalu dipenuhi sihir dan bunga-bunga yang menari di udara. kerajaan hutan, penuh dengan para pemanah dan penjaga rahasia kuno.



Kerajaan Myrrhal membentang di dataran basah, penuh sungai dan rawa. Istana dan desa-desa kerajaan dihiasi anyaman dan tenunan, simbol kekuatan tangan para perempuan. Para penghininnya ahli dalam sihir pengendalian air, pertanian, dan kehidupan rumah tangga. Setiap Jumat, ritual magis dilakukan untuk melindungi keluarga dan hasil bumi, menghidupkan kesejahteraan rakyat.  


Di lautan biru Kerajaan Arcakarta yang menjadi pemimpin konfederasi membuat tempat kehidupan laut berkembang dan budaya damai bertahan, 


Setiap kerajaan memiliki penghuninnya sendiri yang mewarisi kekuatan leluhur mereka. Pertarungan, aliansi, dan cinta di antara kerajaan-kerajaan ini menciptakan kisah epik yang mengalir seperti sungai antara cahaya matahari, badai, dan bayangan malam. Dunia Valdoria bukan hanya tentang pedang dan perisai, tetapi juga tentang sihir dan roh leluhur yang membimbing para penghuninya.



Di luar tembok, terbentang tanah tak berujung yang dikuasai oleh Imperium Tartaria, bangsa nomaden yang berubah menjadi imperium militeris. Mereka percaya bahwa dunia di dalam tembok menyimpan rahasia leluhur dan sumber kekuatan yang akan menjadikan Tartaria penguasa seluruh benua.



Masing-masing kerajaan dilindungi oleh Gerbang Tembok yang bisa dibuka hanya dengan kunci pusaka yang diwariskan pada setiap raja. Jika ketujuh kunci digabungkan, Tembok Abadi dapat membuka jalannya keluar atau memanggil kekuatan yang bahkan raja-raja pun tak pahami.


Ancaman imperialisme kian mendekat. Di luar tembok, terbentang tanah tak berujung yang dikuasai oleh Imperium Tartaria, bangsa nomaden yang berubah menjadi imperium militeris. Kerajaan padang pasir, keras dan penuh intrik politik. Mereka percaya bahwa dunia di dalam tembok menyimpan rahasia leluhur dan sumber kekuatan yang akan menjadikan Tartaria penguasa seluruh benua.


Sumber daya minyak yang berharga membuat Arcakarta menjadi target utama bangsa Tartarian. Tartarian  menghisap sumber daya dan kehidupan dari koloni demi koloni demi menjaga dominasi mereka.



Desas-desus menyebar bahwa Tartaria telah menemukan cara menembus tembok dengan mesin perang raksasa. Para raja bersidang di Lysindra, namun mereka terpecah: sebagian ingin bersatu melawan Tartaria, sebagian ingin bernegosiasi, dan sebagian lagi diam-diam berkhianat.


Tartaria mulai melancarkan serangan brutal dari luar. Tembok yang dianggap tak terkalahkan mulai retak di beberapa titik. Di dalam, kerajaan-kerajaan malah saling mencurigai. Kael terjebak di tengah, mencoba menyatukan tujuh kerajaan sambil mencari kebenaran tentang siapa sebenarnya pencipta Tembok Abadi.


Tartaria mengirim pasukan bayangan yang berhasil menyusup ke dalam tembok. Khalmor diam-diam bersekutu dengan Tartaria, berharap menjadi penguasa tunggal setelah kerajaan lain runtuh.


Saat Tartaria menembus gerbang pertama, para kerajaan sadar bahwa mereka bukan hanya berperang melawan musuh dari luar, melainkan juga menjaga agar makhluk purba yang dipenjara di dalam lapisan terdalam tembok tidak terlepas.

XXX

Di zaman kuno ketika peradaban manusia mencapai puncaknya. Dinasti Bhirawa mengisolasi Benua Miggleland dari dunia luar; tak ada yang keluar maupun masuk, agar rakyat percaya bahwa mereka hidup di surga, tanpa mengetahui bahwa ada kehidupan yang lebih baik di dunia luar di luar kekuasaan kesultanan, dunia modern jauh lebih maju.




Meski miskin dan kelaparan, kesultanan Umatradayawipa mengembangkan senjata nuklir untuk mempertahankan rezim.

Teknologi modern lain difokuskan untuk propaganda dan militer, bukan kesejahteraan rakyat. Perlindungan mutlak terhadap rezim, rakyat tetap tertindas. 

Meskipun wilayah kaya sumber daya, distribusi makanan dikorbankan untuk proyek rezim.





Kelaparan mulai melanda sebagian besar rakyat karena sumber daya dialihkan untuk proyek “keagungan” dan militer.


Hukuman Tiga Generasi diberlakukan,  siapa pun yang mencoba mengakses informasi dari luar dihukum bersama anak dan cucu menjadi budak negara.


Sistem kasta semakin mengakar, membuat mobilitas sosial nyaris tidak mungkin. 

Propaganda: rakyat diyakinkan bahwa Baharawi adalah surga, dunia luar penuh dosa, dan kemajuan dunia luar hanyalah ilusi.


Sultan Beyzid Heredi II  adalah manusia abadi dengan kekuatan psikis yang luar biasa, lahir sekitar 8.000 tahun sebelum Era Gelap Teknologi.Dia menyatukan koloni manusia di seluruh dunia setelah masa catalysm akibat perang nuklir.




Dia memimpin ekspedisi ke seluruh benua melawan berbagai mahluk fantasi yang mengancam manusia. Tujuannya adalah agar umat manusia selamat dari pengaruh warp atau Chaos, yang bisa merusak realitas.




Tujuan utamanya adalah  menyatukan umat manusia dan melindungi mereka dari kekacauan, mahluk fanrasi, dan entitas kosmik. Meski Kesultanan Umatradayawipa adalah monarki turun temurun, Sultan Beyzid dianggap sebagai penguasa tertinggi secara anumerta.Bahkan kehendaknya sebagai arwah dianggap lebih prioritas dibandingkan keturunannya yang menjadi Sultan.


Kasta Sultan dianggap  mahasuci, hanya mereka yang bisa menjadi penguasa atau ulama. Hidup dalam kemewahan, tinggal di kota suci dan pusat kekuasaan serta berhasil memperkuat dan mengkonsolidasi bekas wilayah republik dengan kekuasaan terpusat, propaganda, doktrin agama dan kultus individu pada sultan dan keluarganya..



Terdiri dari raja dan anggota keluarganya yang merupakan pelarian dari kekaisaran Agrabah sebelum menaklukkan republik. Setelah kekaisaran Agrabah di barat dihancurkan oleh suku barbar, orang orang kekaisaran Agrabah melarikan diri ke  benua Miggleland, mereka menghancurkan dan menaklukan Republik Miggleland pertama yang didirikan oleh pribumi Umatradayawipa.


Sultan Beyzid Heredi II mendirikan Kesultanan Umatradayawipa di benua Miggleland, sebagai penerus Keamiran Umatradayawipa, negara teokrasi lokal yang pernah menjadi rival Republik pertama.  Sultan merasa tidak puas dengan Republik Miggleland pertama yang dianggapnya lemah dan sekuler,


Mantan kolonial atau keturunan warga non pribumi, menjadi warga kelas dua.

Bertugas sebagai teknisi, guru, birokrat; berguna tetapi tidak punya hak memimpin.


Pribumi Umatradayawipa  menjadi rakyat biasa dan mereka yang dijatuhi hukuman tiga generasi.

Menjadi pekerja paksa di tambang, ladang, dan proyek negara. Mereka dianggap sangat rendah dan hina dibandingkan keluarga raja yang merupakandarah  keturunan nabi.



Setelah kekuasaan penuh diraih, ia menaklukkan seluruh benua  dengan dukungan para Muhhibin, Pribumi Umatradayawipa yang loyal pada monarki karena dijanjikan status “mulia”.  Republik Miggleland pertama dihapus dari catatan sejarah. Dunia luar dianggap “musuh” dan segala kemajuan Ilmu pengetahuan dilarang masuk.



Pendatang keturunan asing yang diklaim sebagai pewaris darah suci, menjadi kasta elit dan tentara kolonial.


Sultan ingin membangun jaringan teleportasi antar benua tanpa menggunakan Warp, agar umat manusia bisa bepergian tanpa risiko Chaos. Wabah teknologi bisa memusnahkan seluruh planet. Jadi, “ratusan atau ribuan orang mati hari ini” dibandingkan jika seluruh planet jatuh ke Chaos atau alien dianggap harga yang harus dibayar. Memutuskan aksi militer ekstrem, termasuk bombardir massal, sebagai cara tercepat untuk menundukkan dunia-dunia yang kacau.



Sultan  Beyzid Heredi II menjadi penguasa mutlak dan membentuk kultus pribadi ekstrem, di mana dirinya dianggap simbol suci dan wakil tuhan di dunia . Keamiran Umatradayawipa, dulu sekutu, dihancurkan dalam konspirasi rahasia untuk memastikan tidak ada rival dalam kekuasaan.

Kesultanan menjadi teokrasi tirani: hukum agama dijadikan alat kontrol, semua rakyat wajib tunduk tanpa kecuali dengan ancaman neraka.


Sultan menerapkan solasi total, tidak ada hubungan resmi dengan dunia luar; rakyat dilarang memperoleh informasi dari luar agar mereka percaya jika negara mereka sempurna bagaikan surga dan tak membandingkan atau menyadari jika kehidupan di dunia luar lebih baik.


Namun, anak-anak muda mulai mengetahui dunia luar sejak mereka mendapatkan USB selundupan dari pasar gelap  yang menyebarkan fakta tentang kemiskinan dan kebohongan rezim., berisi kebenaran tentang kehidupan di luar yang lebih modern dan lebih adil tanpa sistem kasta. Mereka pun mulai tidak mempercayai propaganda yang menyatakan bahwa Umatradayawipa adalah tempat terbaik di dunia. 


Mereka menyadari kemiskinan, kebohongan, dan isolasi negara, benih pemberontakan dan perlawanan mulai tumbuh di bawah permukaan.  Mereka mulai meragukan propaganda dan menginspirasi benih pemberontakan.


Penindasan, kelaparan, dan perpecahan kasta menjadi sumber konflik utama.

Pemberontakan bisa lahir dari kaum muda yang mendapat informasi dari luar.Intrik istana, perebutan kekuasaan, dan rahasia nuklir membuka peluang untuk drama politik, spionase, dan revolusi rakyat.


Anak muda semakin berani: jaringan USB selundupan berkembang menjadi gerakan bawah tanah.

 Beberapa pemimpin muda mulai merencanakan pemberontakan terbatas.


Negara menghadapi krisis kelaparan parah, sumber daya habis, dan ancaman pemberontakan meningkat.

Sultan Beyzid Heredi II semakin paranoid; kultus pribadi diperkuat, pengawasan meningkat.

Benih revolusi rakyat siap meledak; beberapa wilayah mulai menolak kontrol teokrasi. Sebuah konflik internal yang membawa kerajaan itu ke era perang nuklir.


XXX


Dulu setelah perang nuklir benar-benar baru berakhir, bumi hampir saja menjadi planet yang tidak layak huni. Semua akibat radiasi yang terlalu parah dan musim salju teramat panjang yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Dampaknya membuat manusia saat itu kekurangan makanan.


Semua kejadian yang sangat mengerikan itu menjadi pemandangan sehari-hari penduduk siluman dari Kerajaan Asura dan semua orang yang hidup di zaman perang nuklir. Hanya sedikit orang yang selamat dari bencana mahadahsyat itu.


Orang-orang yang mati karena ledakan nuklir di zaman itu sebenarnya jauh lebih beruntung daripada orang yang masih bertahan hidup. Semua orang yang masih bertahan di saat itu hanya akan berjalan tak tentu arah mencoba sekuat mungkin mempertahankan hidup mereka yang tak berarti hingga ajal menjemput.


Setelah era perang nuklir berakhir, semua negara di dunia berusaha mencari cara masing-masing untuk mencegah kepunahan umat manusia. Setiap negara berusaha membuat rakyat tetap dapat bertahan hidup di bumi yang hampir tidak layak untuk kehidupan manusia karena radiasi nuklir yang terlalu parah.


Kerajaan Umatradayawipa memiliki cara tersendiri demi membuat rakyatnya tetap bertahan hidup. Setelah Raja Beyazit Bhirawa Sanca, raja Kerajaan Umatradayawipa saat itu berhasil menaklukkan provinsi Agrabah milik Kerajaan Asura, ia memiliki kekuasaan untuk memaksa penduduk Agrabah yang merupakan siluman sejak awal dan penduduk Miggleland yang merupakan manusia untuk menikah satu sama lain.


Raja Beyazit mengakui, siluman merupakan mahluk yang lebih kuat daripada manusia secara fisik. Jadi para siluman juga dianggap lebih kuat daripada manusia dalam bertahan hidup di bumi yang sudah tak layak huni karena radiasi nuklir.


Menurut Raja Beyazit, satu-satunya jalan agar manusia dapat bertahan hidup di bumi adalah dengan cara menikahi siluman agar manusia dapat menghasilkan keturunan manusia setengah siluman yang memiliki kekuatan untuk bertahan hidup. Penduduk Umatradayawipa yang dulunya manusia, selanjutnya memiliki keturunan yang berubah menjadi berbagai jenis siluman, tergantung dari jenis dan kepribadian siluman yang dinikahi.


Bahkan raja dan seluruh anggota keluarga Kerajaan Umatradayawipa juga saling menikah dengan anggota keluarga Provinsi Agrabah. Ini dengan maksud menyatukan kedua kerajaan itu.


Sejak saat itulah tak ada lagi rasa dendam di dalam hati penduduk Agrabah kepada Kerajaan Umatradayawipa. Ini karena meskipun Agrabah  telah ditaklukkan dan menjadi negara bawahan Kerajaan Umatradayawipa, baik provinsi Agrabah maupun Umatradayawipa memiliki garis keturunan yang sama dampak dari perkawinan campuran yang mereka lakukan.


Namun, Raja Mayasura  yang sudah hidup selama 1000 tahun dan dikalahkan masih membenci umat manusia sampai napas terakhir. Ia bahkan membenci semua anak cucunya di Agrabah yang kini telah tercampur dengan darah manusia dan turut menghancurkan kekuasaannya.


Sudah sejak lama para siluman menjadi korban perang dan keserakahan manusia yang gemar merusak alam. Manusia membangun pabrik besar-besaran dan membuang limbahnya ke laut sesuka hati sehingga membuat banyak siluman air mati keracunan.


Lantaran populasi manusia yang bertambah tak terkendali, manusia pun menggunduli hutan untuk membangun jalan, permukiman, dan perkotaan. Manusia menebang pohon untuk keperluan industri serta memburu hewan di hutan hingga luas hutan di dunia seabad lalu berkurang drastis. Padahal itu merupakan habitat alami para siluman. Banyak siluman yang dijadikan tahanan perang dan menjadi pekerja paksa untuk membangun infrastruktur perang.


Konflik dan kontak pertama dimulai pada abad ke-19 ketika Kerajaan Umatradayawipa membangun pertambangan serta rel dan stasiun kereta api uap di Pulau Asura tanpa izin Raja Siluman Asura. Perebutan wilayah mulai terjadi.


Kerajaan Umatradayawipa tidak pernah dijajah bangsa Eropa karena memiliki sistem suksesi dan diplomasi yang stabil pada abad ke-19 dan mampu mengeksploitasi persaingan dan ketegangan antara negara imperialis di sekitarnya, hingga sanggup memodernisasi angkatan tempurnya menjadi negara yang sulit ditaklukkan siapapun. Meskipun pada abad ke-19 sebagian kecil wilayahnya di pantai selatan dikuasai imperium kolonial Prancis di bawah administratif yang sama dengan Indochina, namun mereka berhasil merebut kembali kekuasaannya.


Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 saat jutaan orang di seluruh dunia terpapar, juga turut memantik perang. Negara-negara di dunia mulai saling berperang memperebutkan sumber daya alam dan bahan baku pembuatan vaksin antivirus yang dimiliki oleh negara lain.


Manusia beranggapan air tidak akan pernah habis karena tersedia tidak terbatas. Mereka mencemari dan menghabiskan air sesuka hatinya. Saat itu sungai, danau, bendungan, dan air bawah tanah telah tercemar atau kering kerontang.


Tak ada lagi pemandangan yang begitu asri dan indah. Yang ada hanyalah gurun-gurun pasir tandus. Infeksi saluran pencernaan, pernapasan, kulit, dan penyakit-penyakit baru terus bermunculan, menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Perebutan pasokan air bersih juga menjadi salah satu penyebab perang nukilir saat itu.


Manusia membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang dibasahi dengan minyak mineral. Sebelumnya, rambut yang indah menjadi kebanggaan setiap perempuan. Tapi saat itu semua orang justru harus mencukur habis rambutnya untuk memudahkan membersihkan kulit kepala tanpa air.


Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak dapat membuat air. Morfologi manusia mengalami perubahan yang menghasilkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.


Sebelum terjadi perang nuklir, tidak ada lagi pohon yang tumbuh subur karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam. Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global sudah terjadi sejak abad ke-20 akibat efek rumah kaca dan polusi yang memprihatinkan. Manusia telah diperingatkan betapa pentingnya untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak banyak yang peduli.


Kerajaan Umatradayawipa memang tidak menganggap siluman sebagai warga kelas dua, namun perlakuan manusia pada siluman di masa lalu terkadang kurang ramah hingga raja menikahkan manusia dan siluman secara paksa pasca-perang nuklir.


Sebelum manusia mulai menikahi siluman, orang yang berusia 50 tahun akan terlihat seperti sudah berusia 85 tahun karena kebanyakan manusia saat itu menderita gangguan ginjal serius. Orang-orang tidak minum cukup air. Manusia juga rentan dengan berbagai virus seperti virus corona dan norovirus. Namun setelah manusia melakukan perkawinan campuran dengan siluman, remaja yang berusia 17 tahun akan terlihat seperti anak 10 sampai 12 tahun.


Adapun satu-satunya keuntungan yang didapatkan para siluman Asura dengan menikahi manusia adalah mereka tak perlu lagi memakan otak manusia. Sebelumnya, para siluman harus memakan otak manusia minimal sekali seumur hidup agar tak menjadi siluman liar yang tak memiliki akal dan mengenal peradaban.


Dengan menikahi manusia, mereka tak perlu lagi takut kehilangan akal seiring berjalannya usia. Manusia adalah mahluk yang memiliki akal secara alami.


Karena pernikahan campuran paksa itulah terjadi peleburan kepercayaan antara penduduk Umatradayawipa dan penduduk Agrabah yang menyebabkan sedikit kemunduran peradaban. Penduduk Miggleland yang awalnya tidak percaya pada mitos dan lebih tergantung pada logika, kini sebagian besar mulai mengikuti kepercayaan dan ritual mengerikan yang dilakukan oleh para siluman Asura.


Meskipun Kerajaan Asura sempat menjadi negara resmi dan sudah puluhan tahun tersentuh oleh peradaban dunia modern, mereka tetap tak dapat melupakan kepercayaan nenek moyang yang diwariskan turun-temurun. Karena Kerajaan Asura adalah kerajaan siluman yang sudah ribuan tahun terasing di sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh samudera, meskipun secara geografis Pulau Asura letak relatifnya masuk dalam wilayah Benua Miggleland.


Dahulu kala, Kerajaan Asura cukup sulit untuk dijangkau. Mereka terisolasi oleh peradaban dunia modern karena arus laut yang sangat deras mengelilingi pulau itu.


Kepercayaan yang paling mencolok warga Asura sebagai siluman dan ditularkan pada pasangan manusianya, penduduk Miggleland, adalah memakan mayat anggota keluarga mereka yang telah meninggal. Penduduk Asura memakan semua anggota keluarganya yang meninggal tanpa terkecuali. Tak akan pernah ada yang menemukan pemakaman di seluruh wilayah kerajaan ini.


Siluman Asura dikenal sebagai mahluk pemakan daging manusia. Lantaran kini sebagian juga memiliki darah manusia, mereka tidak lagi tega membunuh sesama mahluk berdarah manusia yang masih hidup dan hanya mau memakan bangkainya saja.


Namun, tidak semua anak terlahir dengan wujud siluman. Anak yang tidak dilahirkan dengan wujud siluman tetap dapat membangkitkan darah silumannya.


Cara yang paling umum dilakukan anak yang tidak terlahir dengan wujud siluman adalah dengan mempelajari kekuatan Asura. Tetapi, tanpa mempelajari kekuatan Asura pun anak keturunan siluman suatu saat akan ditakdirkan membangkitkan darah silumannya, meskipun dia mencoba menghindarinya.


Anak-anak itu juga akan terlihat seperti orang tuanya, meskipun belum bisa mengendalikan emosi dan kekuatannya secara maksimal. Setiap jenis siluman memiliki ajian atau kesaktian yang berbeda dari siluman lainnya.


XXX


Binatang es seperti penguin bisa bertahan hidup dan populasinya meningkat setelah pendinginan global pasca-perang nuklir meskipun dengan mutasi genetik aneh akibat bahan radioaktif. Penguin kaisar dapat bertahan hidup di suhu dingin karena lapisan lemak tebal pada tubuhnya berguna untuk menyimpan panas dan memisahkan udara dingin dari luar. Meskipun tidak sedingin kutub selatan, benua ini cukup layak huni untuk penguin. Populasi penguin yang selamat dari perang nuklir kini bermutasi menjadi agak lebih besar dan gempal dari nenek moyangnya.



Namun setelah perang nuklir wilayah bagian selatan yang awalnya hangat mulai tertutup salju dan hampir sama dinginnya dengan bagian utara yang ditutupi tembok salju, yang dijuluki tembok salju Antartika. Penguin yang berada di utara mulai bermigrasi dan melakukan musim kawin ke wilayah selatan setiap tahunnya. 


Penguin pun menjadi salah satu lambang negara di kerajaan ini. Bagi penduduki Kerajaan Miggleland, siluman Asura daek Agrabah sudah berbaur menjadi mahluk yang sama dan sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan manusia. Seluruh penduduk Kerajaan Miggleland memang memiliki garis keturunan dari dua mahluk yang berbeda, yaitu ras manusia dan siluman Agrabah. Para siluman tinggal di pulau wilayah utara benua ini yang agak sulit dijangkau manusia.



Siluman memiliki ukuran tubuh yang sama dengan manusia, bahkan wujud mereka juga sama seperti manusia biasa jika dilihat sekilas. Meskipun dalam pertempuran mereka dapat memperbesar ukuran tubuhnya menjadi raksasa dengan mempraktikkan ilmu tiwikrama. Walau seperti manusia, bagian tubuh siluman juga bisa menyerupai hewan, tumbuhan, atau sebuah elemen benda.

Siluman juga dianggap suku asli benua Miggleland sebelum kedatangan bangsa Umatradayawipa di awal Tarikh Masehi.



Semua itu berawal ketika kerajaan Asura berhasil mendapatkan statusnya sebagai kerajaan berpenduduk mahluk siluman pertama yang kedaulatannya diakui di dunia. Asura berhasil mendapatkan ribuan unit kapal udara berbaling-baling logam, pesawat, hingga kapal selam tempur dengan tembakan amunisi energi suara yang mereka beli dari negara-negara Eropa.



Seluruh senjata itu digunakan untuk membebaskan diri dan melakukan gerakan separatis dari pengaruh Kerajaan Miggleland. Mereka juga mendapatkan artileri elang yang tidak akan habis pelurunya.

Kerajaan Asura dengan nama resmi Kemaharajaan Asura Patala masuk daftar negara dengan pengakuan terbatas. Asura dianggap sebagai negara resmi pada tahun 2067 yang memiliki wilayah di Pulau Asura, pesisir pantai timur benua Miggleland.



Meskipun wilayahnya dipersengketakan, lebih dari 100 negara di dunia mengakui kedaulatannya. Asura masuk negara-negara anggota Liga Konfederasi Bumi  yang tidak diakui oleh setidaknya satu anggota lain atau diakui di bawah hukum internasional. Kerajaan Asura tidak mendapatkan pengakuan diplomatik dunia ataupun tidak menjadi anggota Liga Konfederasi Bumi secara penuh di bawah pemerintahan pengamat Liga Konfederasi Bumi.



Kerajaan Asura memiliki hak untuk berbicara di Majelis Umum Liga Konfederasi Bumi dan menandatangani resolusi, akan tetapi tidak memiliki hak memberikan suara pada pengambilan suara untuk suatu resolusi. Namun, kedaulataan kerajaan itu tidak bertahan lama saat terjadi perang nuklir di tahun 2089.  Kota terpenting 

Kerajaan Asura yaitu Agrabah ditaklukkan dengan mudah oleh negara manusia yang jauh lebih besar, yaitu Umatradayawipa. Akhirnya kerajaan Asura menjadi kerajaan dengan kekuasaan terbatas dan dipaksa menandatangani perjanjian yang tak adil dan mempermalukan Asura.


Kerajaan Umatradayawipa ingin menguasai seluruh daratan di benua ini karena wilayah Kerajaan Asura   berada di pulau yang sangat dekat dan strategis untuk ditaklukkan pada situasi perang seperti saat itu. Kerajaan Umatradayawipa menamakan Pulau Asura dengan sebutan Distrik X 2006 sebagai salah satu wilayahnya.



Kini kekuasaan Kerajaan Umatradayawipa tidak terbatas pada daratan utama benua Miggleland yang merupakan benua terkecil kedua di dunia setelah Australia. Benua Miggleland memiliki luas sekitar 8.900.000 kilometer persegi. Kerajaan Umatradayawipa kini juga menguasai Benua Amerika dari utara sampai selatan daratan Pulau Greenland dan Iceland. Meskipun beberapa wilayah daratan di Benua Amerika sudah tidak layak huni karena terpapar radiasi nuklir.



Kerajaan Asura bisa dikalahkan dengan mudah oleh Kerajaan Umatradayawipa karena siluman-siluman Asura  yang membawahi banyak suku siluman lain, tidak memiliki alat tempur dan senjata nuklir yang memadai, seperti yang dimiliki Kerajaan Umatradayawipa. Penduduk Asura hanya mengandalkan sebagian senjata modern terbatas yang tak bisa mereka produksi sendiri dan tentu saja kekuatan siluman Asura yang mereka miliki sejak lahir.

The Magneto Hidrodynamic Munition Explosive disingkat Mahem adalah senjata utama pasukan pejalan kaki Kerajaan Umatradayawipa. Senjata ini memanfaatkan logam cair untuk menembus baju pelindung musuh. Logam cair akan didorong oleh ledakan bubuk mesiu pada peluru yang dimasukkan ke dalam rudal dan mematik ledakan proyektil.


Kontrol dan presisi senjata ini memiliki dampak kerusakan yang lebih besar daripada senjata peledak konvensional.


Kerajaan Umatradayawipa pun diperkirakan memiliki lebih dari 10.000 hulu ledak nuklir Tsar Bomba, nuklir terbesar di dunia saat itu.


Kekuatan siluman Asura benar-benar bukan tandingan alat tempur serta pasukan elite yang dimiliki oleh Kerajaan Umatradayawipa. Sehingga Kerajaan Asura tak dapat mempertahankan wilayahnya dan terpaksa tunduk di bawah kekuasaan Umatradayawipa. Kemajuan peradaban membawa manusia yang awalnya mahluk lemah, bisa menundukkan mahluk sekuat siluman.


Setiap hari, penduduk Asura selalu merasakan kilatan cahaya yang menyilaukan dan radiasi dalam bentuk panas dari ledakan awal. Kemudian ledakan awal itu menjadi sepanas matahari. Kayu, plastik, kain, dan cairan yang mudah terbakar akan tersulut api.


Kilatan dan radiasi akan segera diikuti oleh gelombang ledakan yang bergerak beberapa kali lipat kecepatan suara. Ledakan itu menghimpun puing-puing yang bisa bergerak, meratakan semua bangunan dalam zona ledakan, dan membunuh semua siluman Asura di jalur gelombang selama beberapa kilometer.


Gelombang udara super panas yang mengelilingi dunia membumbung tinggi di atas awan yang kemudian menghalangi cahaya matahari menuju bumi. Akibatnya, bumi mengalami musim salju di seluruh dunia selama 10 tahun.


Mungkin saat itu kondisi di bumi terlihat baik-baik saja karena kebesaran Tuhan yang menginginkan manusia tetap hidup di muka bumi. Hingga sebuah keajaiban seperti muncul. Seolah muncul penyihir penyuling yang membuat setiap tahunnya keseimbangan alam di bumi berangsur-angsur membaik.


Hujan mulai sering turun. Pohon-pohon kembali tumbuh secara ajaib. Pasokan air bersih yang tak terbatas memenuhi berbagai sungai dan sumur. Meskipun begitu, tetap ada sebagian daratan di belahan bumi yang kemungkinan tidak bisa ditinggali sampai 20 ribu tahun ke depan. Dunia baru yang lahir setelah perang nuklir membuat manusia melupakan permukaan bumi biru dan hijau seperti sebelum perang terjadi.


XXX




Di zaman purba, sebelum dunia terbentuk seperti sekarang, alam semesta hanyalah kekosongan gelap yang sunyi. Dari kegelapan itu muncul sebuah entitas suci bernama Arshiel, malaikat cahaya pertama dan terkuat yang diciptakan oleh para dewa.




Arshiel bukan malaikat biasa. Ia terbuat dari sinar bintang yang paling murni dan memiliki sayap yang berkilauan seperti pelangi yang tak pernah pudar. Dari sayapnya, ia mampu menyebarkan cahaya yang menerangi kegelapan dan membawa kehangatan ke tempat-tempat yang paling dingin.




Ketika dunia mulai tercipta, Arshiel diberikan tugas oleh para dewa: menjaga keseimbangan antara cahaya dan kegelapan, dan melindungi manusia dari kegelapan yang ingin menguasai hati mereka. Namun, Arshiel juga punya kebebasan untuk memilih bagaimana ia melaksanakan tugasnya.




Dalam perjalanannya, Arshiel melihat manusia yang rapuh dan penuh dengan ketakutan. Ia memutuskan untuk turun ke bumi dan membimbing mereka dengan cahaya dan kebijaksanaan. Tapi malaikat lain, yang dikenal sebagai Zalvath, Malaikat Bayangan, merasa bahwa kegelapan adalah bagian penting dari keseimbangan itu. Zalvath ingin manusia mengalami kegelapan agar bisa tumbuh menjadi kuat.




Konflik antara Arshiel dan Zalvath pun tak terhindarkan. Pertempuran hebat meletus di antara mereka di angkasa, menciptakan bintang jatuh dan aurora yang indah di langit malam sebagai jejak kekuatan mereka. Namun, Arshiel tak ingin menghancurkan Zalvath, karena ia percaya bahwa tanpa bayangan, cahaya tidak akan berarti.




Akhirnya, mereka mencapai kesepakatan: Arshiel akan menjaga cahaya dalam hati manusia, sementara Zalvath akan menjaga bayangan dan ketakutan mereka, agar keduanya bisa hidup berdampingan dan manusia bisa memilih jalan mereka sendiri.




Sebagai tanda persahabatan dan keseimbangan itu, Arshiel mewariskan Sinar Harapan, sebuah cahaya kecil yang bisa ditemukan setiap kali seseorang merasa putus asa. Sinar itu membimbing mereka kembali ke jalan yang benar.




Hingga hari ini, orang-orang yang kehilangan harapan sering merasa ada kehadiran malaikat Arshiel yang memeluk dan menerangi langkah mereka, menjaga agar cahaya selalu mengalahkan kegelapan dalam hidup.



XXX

Setelah kehancuran Republik Miggleland Kedua dan tewasnya naga merah, bayangan Attila Sombreus menutupi benua itu. Miggleland bukan lagi negeri yang bebas; ia kini menjadi salah satu wilayah jajahan Kekaisaran Tartaria Baru. Kota-kota yang dulu gemerlap kini berselimut kegelapan dan reruntuhan, dijaga oleh pasukan hantu dan Tartaria yang setia.


Di barat jauh, London—bekas ibukota Federasi Euro Britannia—telah diambil alih. Di tengah reruntuhan megahnya yang dulu berkilau, Sombreus menjadikannya ibukota kekaisaran baru. Menara-menara klasik yang masih tersisa kini dipasangi simbol Tartaria, dan langit kota dipenuhi armada udara serta menara energi yang memancarkan cahaya merah keemasan. Dari sana, Sombreus memerintah dengan tangan besi, menyebarkan bayangan kekuasaannya ke seluruh Miggleland dan sekitarnya.


Namun kebangkitan Tartaria Baru tidak berhenti di situ. Mereka tahu satu-satunya ancaman besar yang tersisa adalah Arcakarta—kerajaan yang membentang dari Asia Utara hingga Tiongkok, negeri yang masih lestari, makmur, dan dipenuhi magi kuno. Rival lama Euro Britannia kini digantikan oleh Tartaria Baru, dan Sombreus bertekad menaklukkan Arcakarta dengan cara apapun.


Di dalam laboratorium rahasia yang tersembunyi di bawah London, para ilmuwan Tartaria dan hantu-hantu kuno bekerja tanpa henti. Di tengah ruangan berdiri mesin raksasa yang menakjubkan sekaligus menakutkan Continental Drift Generator. Pilar-pilar besarnya menjulang ke langit, terbuat dari logam hitam yang berlapis rune kuno, mengalirkan energi magma dari inti bumi. Kabel-kabel panjangnya menembus lantai dan tanah, menyalurkan kekuatan yang mampu memicu gempa bumi raksasa, menghancurkan kota bahkan seluruh benua jika diaktifkan.


“Dengan mesin ini,” suara Sombreus bergema dari balkon laboratorium, mata merahnya menyala tajam, “tidak ada tembok Drusselstein yang bisa menahan pasukan kita. Arcakarta akan runtuh, dan aku akan mengklaim semua tanah yang pernah bebas itu. Bahkan langit akan merunduk di bawahku.”


Para ilmuwan Tartaria mengangguk penuh hormat, sementara bayangan pasukan hantu menutupi laboratorium seperti kabut gelap yang hidup. Di layar holografik raksasa, peta bumi bergetar, menandai lokasi Arcakarta dan titik-titik lemah di tembok Drusselstein.


“Setiap gempa yang dihasilkan generator ini akan menghancurkan fondasi alam mereka,” lanjut Sombreus, senyumnya tipis dan mengerikan. “Dan ketika benua itu runtuh, tidak ada satu pun yang bisa menghentikan Tartaria Baru. Dunia baru ini akan bernama… Tartaria, dan semua yang menentangku akan binasa.”


Di balik cahaya merah dan deru mesin yang mulai berdengung perlahan, bumi sendiri seakan merasakan ancaman yang datang. Reruntuhan dan abu dari benua barat jauh yang dulu diselimuti perang nuklir kini menjadi saksi bahwa kekuatan Sombreus bukan sekadar legenda—ia telah berubah menjadi ancaman nyata yang bisa menelan dunia.

Di balik tirai bumi, perseteruan abadi sedang bergulir. Kekuasaan yang serakah merobek hubungan antar dunia, menanam benih konflik yang akan membakar banyak jiwa. Pertarungan untuk kendali atas kekuatan kuno yang mengalir dalam setiap makhluk, kekuatan yang mengikat dan membelah, menjadi ujian bagi mereka yang terpilih.

XXX

Anita Isadora mendatangi Tsarina Arcakarta, Ratu Naira yang melihat Anita dalam wujud malaikatnya sang ratu langsung bertekuk lutut dan menawarkan kerajaannya sebagai sekutu melawan Sombreus. 


Langit Acakarta berkilau lembut, pepohonan dan sungai berkilau di bawah sinar matahari pagi. Di istana megah Tsarina Arcakarta, Anita Isadora melangkah masuk, tubuhnya memancarkan cahaya putih keemasan dari wujud malaikatnya. Sayapnya terbentang lebar, setiap bulu berkilau seperti cahaya surgawi yang menusuk pandangan. Suara langkahnya bergema di aula, dan para pengawal serta menteri Tsar tak berani menatap langsung—kekuatannya terlalu agung, terlalu mengintimidasi.


Tsarina Arcakarta sendiri berdiri di singgasana, wajahnya menunduk perlahan saat menyadari siapa yang hadir. “Anita Isadora…” suaranya nyaris berbisik, penuh hormat.


Anita menunduk sedikit, tetapi tatapannya tetap tegas. “Tsarina Arcakarta, dunia yang kalian kenal akan terancam. Attila Sombreus telah menaklukkan Miggleland dan ingin menaklukkan Arcakarta. Aku datang bukan untuk menuntut, tapi menawarkan bantuan—dan aku meminta kalian berdiri bersama kami melawan kegelapan ini.”


Tanpa ragu, Tsarina Arcakarta perlahan turun dari singgasana, menundukkan diri sepenuhnya di hadapan Anita. “Kerajaan Arcakarta siap menjadi sekutu. Apa pun yang diperlukan, kami akan berdiri di sisi kalian.”


Hasyi dan Hasya, yang selama ini hidup dalam pengasingan, berdiri di samping Anita. Hasya mengangkat mahkotanya—mahkota yang dulu dikenakan sebagai ratu Miggleland. Kilauan emas itu memantul di cahaya malaikat Anita.


Ratu Naira sang Tsarina Arcakarta menatap mahkota itu dengan mata terbuka lebar. “Ini… ini adalah mahkota yang sah. Hasya, kau masih hidup… dan Hasyi…” ia menoleh ke pangeran muda itu, “kau adalah penguasa Miggleland yang sah.”

Hasyi dan Hasya yang selama ini adalah pangeran dan putri Miggleland yang digulingkan oleh tanduk berlian setelah Hasya menunjukkan mahkotanya diakui oleh Tsar Arcakarta sebagai sekutu, Tsar Arcakarta mengakui Hasyi sebagai penguasa Miggleland yang sah,di Arcakarta mereka mendirikan Pemerintahan Miggleland dalam pengasingan dan Hasyi mendeklarasikan berdirinya Kepangeranan Miggleland (Principality of Miggleland) dengan dukungan Arcakarta sebagai dukungan perlawanan melawan Attila,

Hasyi mengangguk pelan, wajahnya dipenuhi campuran rasa lega dan tanggung jawab. Bersama Arcakarta, mereka segera mendirikan Pemerintahan Miggleland dalam pengasingan, dan Hasyi berdiri di hadapan rakyat yang mulai berkumpul di istana Arcakarta, mengumumkan:


“Dengan dukungan kerajaan Arcakarta, hari ini kami mendeklarasikan berdirinya Kepangeranan Miggleland – Principality of Miggleland. Ini adalah simbol perlawanan terhadap kegelapan yang mengancam dunia. Bersama Arcakarta, kami akan bangkit untuk menghadapi Attila Sombreus!”


Di benua Miggleland, sisa-sisa pemberontak Tanduk Berlian yang masih setia pada Republik marah ketika mengetahui kebenaran: ratu Hasya yang mereka gulingkan ternyata masih hidup. Mereka bergegas mengirim pasukan menyerang Arcakarta, mencoba membalas dendam dan menegakkan pemerintahan lama.


Namun jumlah mereka kalah jauh. Pasukan Arcakarta dan pengawal Principality of Miggleland dengan mudah menahan serangan itu, membuktikan bahwa kekuatan gabungan mereka jauh lebih tangguh.


Setelah kekalahan itu, para pemimpin Tanduk Berlian yang pro-republik menyadari kenyataan. Mereka berdiri di hadapan Hasyi dan Hasya, menunduk dengan penuh hormat. “Jika musuh kita terlalu besar untuk dihadapi sendiri… kami bersedia bersatu dengan Principality of Miggleland,” kata seorang jenderal Tanduk Berlian.


Hasyi mengangguk, tatapannya tajam. “Kita bersatu bukan untuk balas dendam. Kita bersatu untuk melawan Attila Sombreus. Ini adalah saatnya semua pihak yang ingin kebebasan bersatu. Bersama, kita akan menghadapi kegelapan yang lebih besar daripada perselisihan lama kita.”


Di istana Arcakarta, sinar matahari menembus jendela kaca, menyinari pangeran dan putri Miggleland yang sah, Anita Isadora di sisi mereka, dan para sekutu baru dari Tanduk Berlian. Sebuah aliansi baru terbentuk—sebuah harapan pertama sejak kegelapan Attila Sombreus menelan Miggleland.


Namun, di seluruh bumi, ketegangan semakin memuncak. Perang meletus, pecah antara mereka yang setia pada kekuasaan kekaisaran Tartaria dan mereka yang menuntut kemerdekaan. Intrik, pengkhianatan, dan kepahlawanan mewarnai peperangan ini, sebuah cermin dari konflik klasik yang menguji batasan moral dan keberanian.

Dalam bayang-bayang konflik, aliansi rahasia terbentuk dan hancur, diwarnai pengkhianatan yang memperumit perjuangan. Setiap langkah membawa konsekuensi besar, menguji loyalitas dan tekad para pejuang dan penguasa.

Ratu Naira dan Putri Aqua Seraphine menawarkan seorang pahlawan dan petualang pemberani dari Arcakarta  bernama Arinn untuk membantu mereka menghadapi kekuatan jahat Attila Sombreus.Sebagai panglima besar pemimpin aliansi.

XXX


Di kerajaan Dazhbog salah satu wilayah konfederasi Tsar Arcakarta, lahirlah seorang ksatria muda bernama Artemy Volkov yang biasa dipanggil Arinn, putra seorang penghuni surya dan prajurit terhormat. Sejak kecil, Artemy menunjukkan bakat luar biasa: ia bukan hanya ahli pedang, tetapi juga mampu memanipulasi energi sihir matahari untuk menyembuhkan, menyalurkan kekuatan, dan menangkis kegelapan. Tubuhnya ramping, namun tangannya mampu mengayunkan pedang raksasa yang bahkan beberapa orang dewasa pun tak sanggup angkat. Pedang itu, Solnce Razrushitel, memiliki bilah berkilau emas dengan garis-garis bercahaya biru gelap yang menyerap energi gelap dari musuh, menyimpannya sebagai kekuatan tambahan untuk pemiliknya.


Ibunya yang berasal dari wilayah Perun melarikan diri ke Dazhbog,ibunya dihukum mati karena dituduh penyembah iblis pada masa Raja Brajasenawarman yang kejam. Arinn menemukan bahwa ibunya adalah keturunan dari arsitek asli Tembok Drusselstein. Ia membawa sebuah fragmen kunci kuno yang bisa membuka rahasia tembok. Ia menemukan catatan kuno yang menyatakan bahwa Tembok Abadi Drusselstein bukan hanya tembok pertahanan, melainkan penjara raksasa  untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari Tartaria.


Selain pedang, Arinn mewarisi Grimoare Solara, sebuah kitab sihir kuno yang berisi mantra-mantra pengusir kegelapan, mantra pelindung, dan ritual kuno untuk menahan kekuatan makhluk malam. Grimoare itu bersinar lembut di tangan Artemy, menyesuaikan mantra dengan niat dan emosi pemiliknya. Setiap kali ia membaca dari Grimoare, simbol-simbol bercahaya menari di udara, membentuk tameng cahaya atau memanggil makhluk astral untuk membantunya.


Arinn adalah seorang pemuda dengan semangat baja dan darah leluhur yang mengalir dalam nadinya. Tubuhnya lincah dan kuat, dengan rambut yang berkilau seperti ombak lautan, dan mata yang menyimpan tekad tak tergoyahkan. Ia membawa trisula bercahaya—senjata warisan leluhur yang mampu memanggil kekuatan Energi Kausal dari dasar lautan.


Arin adalah anak laki-laki mermaid muda dengan semangat pemberani dan hati yang tulus. Dia punya rambut berwarna biru laut yang mengalir seperti ombak, mata cerah penuh tekad, dan tubuh ramping tapi kuat, hasil hidupnya di bawah air. Meski usianya muda, dia memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap planet dan teman-temannya.


Arin membawa senjata unik — sebuah trisula bercahaya dari kristal laut, warisan leluhur yang mampu memanggil kekuatan energi kuno dari dasar lautan. Dia juga mahir berenang dan bergerak lincah di bawah air, serta mampu mengendalikan kekuatan mistis yang mengalir di Arcakarta.


Arinn dilatih oleh para penghuni Dazhbog sejak kecil, mempelajari seni pedang dan sihir sekaligus, sehingga mampu menghadapi ancaman kegelapan yang muncul di dataran Valdoria. Ia sering menunggang kuda putih di padang bersalju, melintasi hutan lebat dan rawa berkabut untuk mengusir makhluk gelap yang merusak ladang, desa, dan benteng rakyat.


Namun kekuatannya bukan tanpa harga. Setiap kali pedangnya menyerap energi gelap, tubuhnya merasakan beban berat di jiwa, seolah bayangan musuh mencoba menembus pikirannya. Grimoare juga menuntut kehati-hatian: mantra yang salah bisa membakar dirinya sendiri atau melepaskan energi yang tidak terkendali.


Suatu malam, saat aurora merah menyala di langit Dazhbog, Artemy menerima kabar dari kerajaan tetangga Morana: makhluk kegelapan purba, Nyxmar, bangkit dari hutan bersalju, membawa kabut kematian dan salju abadi. Penduduk desa yang melintas di hutan mulai hilang tanpa jejak. Dengan pedang raksasa di tangan dan Grimoare di pundak, Artemy menunggang kudanya menembus badai salju, bersiap menghadapi pertempuran yang bisa menentukan nasib seluruh kerajaan.


Di tengah malam yang membeku, ketika kabut gelap menyelimuti hutan, Artemy menghentikan kudanya. Ia menancapkan Solnce Razrushitel ke tanah, membiarkan bilahnya menyerap energi kegelapan yang memancar dari Nyxmar. Simbol-simbol Grimoare bersinar di udara, memutar mantra pelindung. Dan di bawah sinar aurora yang berdansa di langit, ksatria muda itu bersiap menghadapi makhluk yang bahkan para penghinin tua pun takut untuk lawan.


Di saat-saat genting itu, Artemy tahu satu hal: pedang dan Grimoare hanyalah alat. Kekuatan sejati berasal dari keberanian, keteguhan hati, dan tekad untuk melindungi mereka yang tak berdaya. Dan malam itu, legenda seorang ksatria penyihir lahir, yang akan diceritakan di seluruh Valdoria sebagai penjaga cahaya di tengah bayangan.

XXX

Arin dan Putri Aqua punya ikatan yang kuat sejak kecil — bukan hanya teman tapi saudara jiwa yang saling melengkapi. Arin berjanji untuk melindungi Putri Aqua dari ancaman kekaisaran Tartaria yang ingin menaklukkan benua mereka.

Putri Aqua Seraphine bukan hanya pemimpin spiritual rakyatnya, melainkan juga reinkarnasi dari Dewi Nagagini, penguasa lautan dan pengendali Energi Kausal yang agung. Dewi naga kuno yang melegenda itu dikenal mampu memberikan kekuatannya kepada makhluk hidup terpilih, dan kini kekuatan itu terwariskan kepada Putri Seraphine. Dengan kewibawaan dan kebijaksanaan, ia menjaga keseimbangan dan harmoni di kerajaanya, menjadi sumber inspirasi sekaligus kekuatan bagi Arin dan seluruh rakyat.


Putri Seraphine adalah sosok lembut, anggun, namun punya jiwa kuat. Dia mewakili keseimbangan dan kedamaian planet Seraphine. Rambutnya panjang berkilau seperti air yang beriak, warna hijau laut yang menenangkan. Mata Putri Seraphine memancarkan ketenangan dan kebijaksanaan yang jauh melampaui umurnya.


Selain menjadi pemimpin spiritual rakyatnya, Putri Aqua menyimpan rahasia kuno tentang Energi Kausal, dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan makhluk mistis serta menjaga keseimbangan kosmis di kerajaannya.


Meski tak selalu ikut bertarung secara langsung, keberadaannya sangat penting sebagai simbol harapan dan inspirasi bagi Arin dan rakyat Aqua.


Di bawah langit yang bercahaya merah dari Kerajaan Arcakarta, Arin terbangun dari mimpi yang berat. Ombak lembut mengelus pasir kristal, namun hatinya bergemuruh seperti badai yang akan datang. Dalam genggamannya, sebuah kristal bercahaya perlahan memancarkan energi hangat—warisan leluhur yang berjanji akan mengubah nasib bumi.


Kehidupan di Arcakarta selama ini damai, penuh harmoni antara laut dan bintang. Namun kini, bayang-bayang gelap mulai merayap.  Raptors yang mendukung Tartaria, yang bermarkas di daratan merah jauh, mengulur tangan besi untuk menguasai koloni-koloni yang kaya sumber daya. Mereka bukan hanya penguasa biasa — mereka adalah makhluk yang haus akan kekuasaan dan darah, memakan spesies lain demi memperkuat diri.


Arin menyelam ke dalam laut yang dalam dan luas, membawa beban takdir yang tak bisa dielakkan. Dalam dirinya menyala api perjuangan yang lebih besar dari sekadar peperangan biasa—ini adalah pertarungan antara terang dan gelap, antara kehendak bebas dan takdir, yang telah berlangsung sejak awal semesta.


Sementara itu, di benteng baja Raptors, seorang prajurit bertopeng berdiri di antara bayang-bayang. Dia adalah simbol kekuasaan Raptors, pejuang yang tak kenal ampun, namun juga terperangkap dalam konflik batin yang membakar jiwanya. Di tangannya tergenggam kekuatan yang bisa mengubah jalannya perang, namun apakah dia mampu mengatasi bayangan masa lalunya?


Gelombang dan bintang kini menjadi saksi sebuah perjalanan yang akan mengubah arah sejarah Arcakarta. Arin melangkah meninggalkan masa lalu, menyongsong takdir yang penuh bahaya, pengkhianatan, dan harapan.

Arinn memimpin aliansi rapuh untuk menahan Tartaria yang dipimpin oleh Atilla the Khan. Namun pengkhianatan Svarog membuat gerbang ke-2 jatuh. Tartaria memasuki lingkaran terluar tembok, ia kini berusaha mengusirnya.

Sombreus bukan hanya arwah… melainkan cabang jiwa Yggdrasil itu sendiri.

XXX

Hujan adalah simbol kesedihan, perang dan penderitaan. Jujur semua orang sangat sakit hati, awalnya semua orang hanya menginginkan perdamaian abadi, tapi semuanya hancur karena pejabat rakus.

Langit tak pernah berhenti menangis, itulah gambaran yang bisa menjelaskan perang antara manusia permukaan dan ras manusia kuno yang tinggal di langit langit. Meski manusia langit memandang diri mereka sebagai malaikat yang melindungi bumi dari kerusakan manusia, padahal mereka adalah peradaban kuno pengikut Dei Vulneris, iblis yang ingin terus membuat manusia mengalami penderitaan. Mereka menyembah Yllmorath sebagai tuhan.

Peradaban manusia langit  yang membangun sebuah kota raksasa bernama Irontopia di atas awan, dipenuhi oleh ilmuwan dan orang jenius yang sangat mencintai alam lebih dari apapun dan memandang rendah manusia bumi yang menyebabkan banyak kerusakan alam.


Di mata manusia langit yang picik, manusia daratan selalu berperang, menyebabkan kerusakan, menggunduli hutan, mencemari laut, menyebabkan polusi, perburuan liar hingga penyebab perang nuklir yang mengancam kelangsungan hidup di bumi, manusia daratan adalah satu satunya pihak yang berhak disalahkan atas kerusakan alam di bumi.

Manusia langit membangun peradaban diatas awan buatan dimana mereka menyelamatkan berbagai hewan dan tumbuhan yang terancam punah tapi tak bisa dijangkau manusia permukaan. Manusia Langit memiliki kemampuan untuk terbang dan mengendalikan cuaca di seluruh bumi dengan teknologi canggih.


Manusia langit sangat tertutup karena memiliki teknologi canggih yang membuat peradaban mereka tak pernah dilihat satelit manusia permukaan selama berabad abad, manusia awalnya tak tahu jika mereka ada,

Untuk menghabisi manusia daratan dan mencegah kerusakan alam, mereka berencana melakukan genosida dengan menerapkan proyek noah: menenggelamkan peradaban manusia perlahan lahan dengan hujan abadi dan menyelamatkan orang yang layak untuk diselamatkan. Mereka juga mengirimkan virus zombie yang digunakan untuk membuat manusia punah dan alam bisa memperbaiki diri perlahan lahan.


Namun lama kelamaan manusia daratan menyadari keberadaan mereka dan terjadi perang selama hampir 300 tahun, sampai hampir seluruh peradaban manusia kalah perang karena tenggelam akibat banjir abadi.

Setelah manusia meninggalkan Bumi 300 tahun lalu untuk mencari planet baru setelah kalah perang melawan manusia langit, alam mulai mengambil alih. Tanpa polusi, radiasi, dan perusakan ekosistem oleh manusia, makhluk-makhluk yang tersisa berevolusi dengan kecepatan yang luar biasa. Di hutan-hutan Eropa yang kini telah menjadi raksasa, sekelompok serangga—khususnya kupu-kupu, capung, dan kumbang—mengalami mutasi genetik yang aneh.


Lambat laun, mereka mengembangkan kecerdasan, postur tegak, dan bentuk tubuh yang menyerupai manusia namun dengan keindahan yang nyaris tidak wajar. Kulit mereka berkilau seperti permata, mata mereka besar dan berwarna-warni seperti kristal, manusia langit berniat menjadikan mahluk ini yang disebut sebagai elf menjadi pengganti manusia bumi, mahluk yang lebih indah,tidak agresif dan yang terpenting hidup selaras dengan alam

Sebagian besar manusia juga melarikan diri keluar angkasa karena gagal bertahan dari tekanan manusia langit yang ingin mengusir manusia daratan demi melestarikan alam, kecuali satu negeri totalitarian, Federasi Sosialis Goryeo yang menjajah kepulauan Nusantara. Federasi Sosialis Goryeo yang dipimpin oleh Supreme Leader, Big Brother Kim Jong Tsung, adalah negara paling terisolasi di dunia, negeri itu menjadi negeri manusia daratan terakhir yang selamat dari kiamat zombie akibat virus ciptaan manusia langit. Karena gagal memusnahkan negara itu dengan virus zombie. Manusia langit memperkuat banjir bandang untuk menenggelamkan negeri totalitarian itu namun tetap tidak berhasil.

Sebelum proyek zombie dan proyek  nuh, Federasi Sosialis Goryeo dulunya adalah negeri yang ada di tengah berbagai imperium dan Kekaisaran besar hingga sering dijadikan Medan perang, rakyat menderita tapi ironisnya mereka menjadi negeri terakhir di daratan yang bertahan melawan para manusia langit karena kebijakan isolasi mereka.


Federasi sosialis Goryeo memiliki banyak Kota industri yang dipenuhi dengan pompa, kanal, dan mesin penghisap air, kota ini juga dipenuhi gedung tinggi, saling terhubung, banyak platform,banyak zona kering di atas, kota dengan arsitektur vertikal lebih kecil risiko banjir karena genangan tertahan di lantai bawah, area utama berada di atas, aktivitas tidak di lantai dasar, hanya bagian bawah kota yang mungkin banjir, tapi tidak mengganggu kehidupan.


Federasi sosialis Goryeo juga penuh cerobong raksasa, pipa raksasa, turbin, mesin industri, mesin pompa air, sistem aliran buatan, kanal bawah tanah. Itu semua khas kota industri. Membuat negeri itu juga selamat dari banjir bandang yang disebabkan oleh manusia langit.

Kepulauan Nusantara kini  juga menjadi salah satu Koloni Federasi Sosialis Goryeo, dengan Nama Airstrip One.  Selama hampir seabad Nusantara diperintah dari Pyongyang.

XXX


Federasi Sosialis Goryeo lahir dari reaksi traumatik, bukan ambisi ideologis murni.


Dahulu kala jauh sebelum kedatangan para manusia langit dari Irontopia. Negara-negara Asia Timur dan Tenggara runtuh fungsional (korupsi, oligarki, milisi). Wilayah-wilayah lokal jadi otonom, anarkis dan  brutal, Tiongkok kehilangan stabilitas akibat migrasi massal dan krisis iklim.


Aliansi darurat militer buruh dibentuk. Aliansi itu tidak pernah bubar. Dari situ lahir partai tunggal, Partai Revolusi Proletar Federasi Sosialis Goryeo.


Di Semenanjung Korea yang merupakan pusat kekuasaan Federasi Sosialis Goryeo kehidupan rakyat di kontrol ketat bahkan mereka memiliki teknologi penangkap gelombang otak yang bisa membaca  pikiran pembangkang.


Namun, di Airstrip One atau Kepulauan Nusantara yang merupakan koloni terpenting Federasi Sosialis Goryeo. Mereka memiliki metode yang sangat efektif untuk mengendalikan rakyat di seberang lautan agar tetap patuh. Karena mustahil menguasai wilayah kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari ratusan ribu kepulauan dan ratusan juta penduduk dengan kontrol ketat.


Partai mengklaim dirinya anti-korupsi, anti-elit, anti-anarki  dan memang awalnya didukung rakyat.



Tidak ada “Presiden”.

Tidak ada “Pemimpin Agung” untuk koloni, Kim Jong Tsung adalah the big brother atau saudara tua yang mengayomi adiknya.


Hanya  Dewan Sinkronisasi Revolusi yang biasa menampilkan Wajah Suprame Leader Kim Jong Tsung sebagai the big brother.


Selain Kim Jong Tsung yang dianggap sebagai simbol negara dan dewa absolut, anggota selalu berubah. Arsip identitas disamarkan. Tidak pernah tampil publik sebagai individu


Propaganda menyebut "revolusi tidak butuh wajah."


Kenyataannya ini membuat tidak ada target personal. Tidak ada figur yang bisa dibenci atau digulingkan selain sang Supreme Leader yang dianggap sebagai kebenaran.


Kekuasaan jadi abstrak dan permanen. Struktur Kelas Sosial Goryeo dibentuk dengan sangat rapih agar pemberontakan bisa diminimalisir.


Buruh, teknisi, operator

Tinggal di blok-blok padat

Akses minimum tapi stabil

Diawasi, tapi tidak disiksa


Mereka tidak dimiskinkan ekstrem. Mereka dibuat cukup hidup untuk takut kehilangan.


Kader Fungsional, lapisan berbahaya yang terdiri dari administrator, guru ideologi, polisi partai dan manajer produksi


Mereka adalah kelas yang dibenci rakyat. Mereka diberi privilese kecil, tapi dijadikan “wajah negara”

Secara rutin dikorbankan saat Hari Revolusi Proletar


Mereka adalah tameng sosial. Elemen Reaksioner Terkelola, bukan musuh ideologis besar yang terdiri dari Geng motor, pasar gelap dan milisi informal. Negara tidak menghapus mereka,

tapi mengatur intensitasnya.


Bonang berasal dari kelas ini. Tidak tercatat sebagai kelas, tidak pernah jadi korban Walpurgisnatsch, hidup terpisah, berpindah-pindah,  identitas dihapus dari arsip publik


Mereka tidak disembah, bahkan tidak dikenal. Itulah kekuasaan sejati di Federasi Sosialis Goryeo.



Goryeo jarang berbohong terang-terangan. Mereka melakukan framing, ritualisasi dan pengulangan waktu.


Peristiwa negara seperti penjarahan, redistribusi, revolusioner, pembunuhan eliminasi elemen reaksioner,  hari revolusi proletar, Korban aparat, pengorbanan kelas menengah, kekacauan   dan transisi revolusioner   tak benar benar dihapus dalam kamus standar bahasa nasional. Negara tidak menyangkal kekerasan, negara memberi makna yang tidak bisa ditolak.



Narasi resmi, "Sekali setahun, proletariat mengingat bahwa kekuasaan lahir dari tangan mereka, bukan dari hukum.”


Ada aturan tak tertulis yang membuat aparat mundur, tapi tetap mengamati.


Kelas tertentu wajib jadi korban simbolik

Kekerasan yang terlalu acak diintervensi diam-diam.


Tidak boleh menyasar simbol inti Partai. Ini bukan hari tanpa negara,

tapi hari ketika negara menjadi ritual.


Sekolah tidak mengajarkan “taat”. Mereka mengajarkan ketidakpercayaan terhadap moral pribadi

kebencian pada spontanitas

keyakinan bahwa “kebenaran tanpa jadwal itu berbahaya”


Anak-anak diajarkan


 “Jika keadilan tidak diumumkan, itu bukan keadilan.”


Ini menghasilkan generasi seperti Awang yang sadar akan absurditas tapi belum tahu alternatifnya. Stabil karena kekerasan disalurkan Dendam dijadwalkan Musuh selalu ada.


Rapuh karena tidak ada iman sejati, tidak ada makna personal

Semua menunggu giliran. Negara ini tidak runtuh oleh revolusi. Ia runtuh ketika seseorang menolak menunggu kalender.

XXX

Negara berkata,

“Malam ini, dunia berada di luar waktu.”

Negara berkata:


“Malam ini, dunia berada di luar waktu.”

24 jam  dalam setahun semua orang bisa melakukan tindakan kriminal mengerikan seperti pembunuhan dan perampokan tanpa jeratan hukum. Sebuah anomali di negeri totalitarian yang biasanya mengawasi setiap gerak gerik rakyatnya. 

Hari Revolusi Proletar.


Selama dua belas jam, pada malam 30 April hingga 1 Mei, hukum pidana ditangguhkan.

Perampasan properti “kelas reaksioner” dilegalkan. Kekerasan terhadap “musuh kelas” tidak dituntut. Pemerintah  menciptakan laboratorium psikologi sosial raksasa hanya dalam waktu satu malam, malam itu disebut malam Walpurgisnacht. Hari itu selalu jatuh pada tanggal yang sama.

Toko-toko elite ditutup rapat. Rumah-rumah kader partai tingkat menengah kosong, lampu mati. Orang-orang miskin keluar bukan untuk membakar dunia, tapi untuk mengambil apa yang selama ini tidak pernah bisa mereka sentuh. Walpurgisnacht adalah malam ketika sisa-sisa dunia lama muncul ke permukaan.

Negara tidak menciptakannya, negara hanya memastikan ia tidak melampaui fajar. Negara menyangkal tanggung jawab langsung, kekerasan diperlakukan seperti fenomena alam. Rakyat bukan pelaku, tapi medium, orang mempersiapkan diri secara emosional, bukan logistik

Orang tua tidak menjelaskan secara rasional, hanya berkata pada anak anak mereka,


“Nanti kamu mengerti saat Walpurgisnacht.”


Kamera tetap menyala, arsip tetap berjalan, negara tetap ada, tapi negara bersikap seperti pendeta, bukan polisi. Mereka tidak menghukum, mereka menunggu. Menunggu jauh lebih menekan daripada menindak.

Di negara totalitarian  Walpurgisnatch tidak menghasilkan chaos massal. Mayoritas warga hanya bingung, takut, dan pasif. Kekerasan akan sangat terbatas, terarah, atau bahkan nihil. Negara totalitarian membunuh spontanitas manusia, bukan hanya kebebasan, sehingga membalik ekspektasi populer tentang “malam bebas kekerasan”. Sebagian besar warga tidak akan bertindak agresif, malah cenderung bingung, pasif, atau ketakutan.


Negara totalitarian bukan sekadar masyarakat yang represif. Ia tidak hanya melarang tindakan tertentu, tetapi juga membentuk struktur batin manusia. Dalam kondisi seperti ini, warga terbiasa hidup di bawah pengawasan permanen—nyata atau hanya imajiner—menginternalisasi rasa bersalah dan takut, kehilangan spontanitas moral, dan menjadi sangat tergantung pada perintah otoritas. Akibatnya, mereka tidak hanya kehilangan kebebasan, tapi juga otonomi untuk bertindak sendiri.


Jika tiba-tiba diumumkan bahwa “semua kejahatan legal selama 12 jam”, reaksi mayoritas warga kemungkinan besar adalah kebingungan dan ketidakpercayaan. Mereka akan bertanya-tanya, “Apakah ini jebakan?” dan curiga adanya kamera tersembunyi. Banyak yang akan menunggu instruksi lanjutan, mengurung diri di rumah, atau merasa tetap bersalah secara moral maupun ideologis. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai learned helplessness dan norm dependency: orang kehilangan kemampuan memilih, bahkan ketika izin diberikan secara resmi.


Kekerasan sendiri tidak muncul hanya karena ada izin. Ironisnya, masyarakat yang paling brutal biasanya bukan yang paling dikontrol, tetapi yang membudayakan kekerasan, ada konflik horizontal, impunitas selektif, dan musuh yang jelas. Dalam totalitarian, kekerasan dimonopoli negara; warga tidak dilatih menjadi pelaku independen, dan agresi diarahkan melalui ritual negara seperti pengakuan publik atau penyangkalan diri. Saat negara tiba-tiba “melepas kendali”, yang muncul bukan ledakan kekerasan, tetapi vakum psikologis kekosongan dan kebingungan, bukan chaos massal.


Kalau pun ada kekerasan, pelakunya kemungkinan besar adalah aparat atau kader ideologis yang terbiasa bertindak tanpa konsekuensi, kelompok oportunis kecil atau kriminal laten, atau beberapa kasus balas dendam personal yang terbatas dan diam-diam. Bukan kerusuhan massal ala film.


Moral ditentukan sepenuhnya oleh Partai, dan dosa adalah pikiran, bukan tindakan. Kejahatan tanpa niat tetap dianggap kejahatan. Jika Walpurgisnatch diumumkan, orang tetap takut akan thoughtcrime; bahkan membunuh bisa terasa salah jika “emosi” atau motivasinya tidak sesuai aturan Partai. Malah kemungkinan, malam itu justru menjadi malam paling sunyi sepanjang tahun.


Paradoks totalitarian jelas: semakin total kontrol negara, semakin lumpuh warganya tanpa perintah. Totalitarianisme bukan sekadar menghapus kebebasan; ia menghancurkan kapasitas manusia untuk menjadi “jahat secara bebas”. Inilah alasan mengapa rezim semacam itu hampir tidak pernah benar-benar melepas kendali, bahkan sebentar. Mereka tahu bahwa jika kontrol dilepas, yang muncul bukan kebebasan, tapi kehampaan.

Di dunia mereka, realitas adalah apa yang Partai katakan hari ini, namun Partai bisa selalu mengubah masa lalu. Janji apa pun tidak pernah stabil, dan kepercayaan terhadap kepastian nyaris tidak ada. Bahkan ketika secara objektif tidak ada jebakan, secara subjektif warga tetap tidak bisa memercayainya. Jam-jam pertama akan diisi oleh kebingungan total: jalanan sepi, hampir semua orang membeku, tidak ada koordinasi massa, dan setiap orang menunggu tanda dari orang lain. Fenomena ini mirip eksperimen sosial: ketiadaan norma mendadak memunculkan paralisis, bukan kebebasan.


Hanya setelah beberapa jam, ketika warga mulai menyadari bahwa ini nyata tetangganya bisa berteriak tanpa ditangkap, ada pembunuhan terbuka tanpa konsekuensi, tidak ada pengumuman koreksi dari Partai—sebagian kecil mulai bertindak. Namun bertindak bagaimana? Bukan pesta kekerasan acak, melainkan tindakan yang aneh, pribadi, dan simbolik.


Yang paling umum adalah kekerasan simbolik dan personal: membunuh informan pribadi, menyerang pasangan atau atasan lama, menghancurkan simbol Partai seperti poster atau teleskrin. Ini bukan kriminalitas oportunistik, tapi ledakan dendam yang telah terpendam lama. Selain itu, ledakan emosi lain juga muncul: tangisan histeris, pengakuan publik yang aneh tapi konsisten dengan Goryeo, bunuh diri meningkat, dan hubungan intim ilegal seks atau keintiman menjadi lebih mungkin daripada pembunuhan massal. Yang ditekan paling lama di Goryeo bukan agresi fisik, melainkan emosi dan keintiman.


Kekerasan massal tetap jarang, karena tidak ada kepercayaan sosial, tidak ada koordinasi, tidak ada bahasa oposisi, dan tidak ada rasa “kita”. Tanpa identitas kolektif, chaos massal tidak mungkin terjadi. Ironisnya, Walpurgisnatch semacam ini justru melemahkan Partai. Orang mengalami realitas tanpa pengawasan mutlak, menyadari bahwa Partai tidak maha hadir, dan ingatan tubuh mereka terhadap hari bebas itu tidak bisa sepenuhnya dihapus. Hal ini sangat berbahaya bagi totalitarianisme, karena justru memunculkan kesadaran eksistensial yang Partai takutkan tapi harus dipertahankan karena mengandung data emas besar. 


Bahkan tanpa jebakan sama sekali, malam itu tidak akan menjadi malam penuh anarki, tidak akan ada pemberontakan spontan besar. Yang terjadi adalah ledakan kecil, personal, dan terfragmentasi, sementara banyak orang tetap membeku dan tidak melakukan apa-apa. Dampak paling berbahaya bukan jumlah korban, melainkan kesadaran bahwa manusia bisa bertindak tanpa izin, sesuatu yang totalitarianisme hancurkan bertahun-tahun. Goryeo menciptakan manusia yang tidak lagi tahu apa arti bertindak sendiri, dan Walpurgisnatch dalam konteks ini menjadi mimpi buruk bukan bagi rakyatnya, tapi bagi rezim itu sendiri.


Satu-satunya alasan rasional bagi Partai untuk melakukannya adalah sebagai laboratorium psikologi sosial raksasa. Tapi bentuknya tidak akan seperti film, dan risikonya sangat besar bahkan bagi Partai sendiri.


Jika dilihat dari logika internal , tujuan eksperimen semacam itu bukanlah melihat seberapa brutal warga bisa menjadi, melainkan menguji seberapa dalam kontrol Partai sudah terinternalisasi. Apakah warga tetap patuh meski hukum dicabut? Apakah rasa bersalah masih bekerja saat tidak ada hukuman? Apakah superego Partai sudah menggantikan hukum eksternal? Ini adalah puncak uji coba: kontrol tanpa kontrol.


Partai juga ingin tahu apa yang muncul secara spontan ketika mereka “menghilang”. Dorongan apa yang paling kuat setelah ditekan puluhan tahun agresi, seks, keintiman, dendam personal, atau kepatuhan kosong? Data ini sangat berharga: individu yang mampu bertindak mandiri, mengambil inisiatif tanpa arahan, atau tidak menunggu norma, adalah orang-orang yang berpotensi paling berbahaya bagi totalitarianisme. Orang yang tenang tapi bertindak sendiri adalah ancaman terbesar yang harus dicuci otak lebih ketat.


Mereka akan mendesain Walpurgisnatch dengan hati-hati: singkat, ambigu secara bahasa “tanggung jawab moral tetap berlaku”, diumumkan sebagai eksperimen patriotik, disertai ritual bahasa yang mengarahkan interpretasi, dan yang paling penting, data tetap dikumpulkan, walau secara formal “tanpa jebakan hukum”. Tidak menghukum tidak berarti tidak mencatat.


Hasil eksperimen ini pun bisa terbaca dengan cepat. Mayoritas warga kemungkinan besar tetap membeku, tidak melakukan apa-apa, kemenangan besar bagi Partai. Ini artinya kontrol sudah masuk ke tubuh warga, hukum eksternal hampir tidak diperlukan, dan masyarakat bisa dijalankan dengan energi minimal. Kekerasan yang muncul bersifat personal, bukan ideologis; dendam lama atau agresi tersembunyi muncul, tetapi tidak terpolitisasi, sehingga Partai tidak takut kriminal, mereka takut makna bersama yang muncul.


Minoritas kecil yang benar-benar bertindak bebas adalah bagian paling berbahaya: orang yang menghancurkan teleskrin tanpa emosi, membantu orang lain tanpa motif Partai, atau menjalin hubungan intim tanpa rasa takut. Mereka adalah subjek yang belum sepenuhnya dibentuk, individu yang menantang kontrol total.


Risikonya fatal. Sensasi kebebasan sesaat, pengalaman tubuh bahwa Partai bisa memilih untuk tidak ada, tidak bisa sepenuhnya dihapus. Bahkan jika arsip diubah dan ingatan dipalsukan, tubuh tetap mengingat. Satu malam seperti ini cukup untuk menanam benih retakan ontologis dalam pikiran warga. Eksperimen yang berhasil menunjukkan kontrol sempurna membuat Walpurgisnatch tidak perlu, sementara eksperimen yang menunjukkan retakan membuatnya terlalu berbahaya untuk diulang. Dalam kondisi apa pun, eksperimen ini tidak menguntungkan bagi totalitarianisme absolut.


XXX

Bayangkan jika efek nyata dari Walpurgis di Goryeo hanyalah perampokan biasa, dengan sesekali menyasar anggota Partai tingkat atas. Ini bukan skenario kekacauan besar, dan kekerasannya tidak luar biasa. Justru di sinilah bahayanya: maknanya sangat spesifik.


Perampokan bukan kegilaan acak. Ada perhitungan risiko, tujuan material, dan pemilihan target. Warga yang sebelumnya membeku kini sudah belajar kapan hukum “mati” dan bisa berpikir secara instrumental tanpa arahan Partai. Dalam konteks ini, manusia Goryeo kembali menjadi agen, meski terbatas—mereka mampu membuat pilihan sendiri, mengukur risiko, dan mengeksekusi rencana.


Bahaya terbesar muncul ketika target perampokan sesekali adalah aparat, kader, atau elite Partai. Selama tidak ada hukuman setelahnya, terjadi fenomena simbolik yang mengerikan bagi totalitarianisme. Pertama, aura kesucian Partai retak. Dalam logika Goryeo, Partai bukan sekadar penguasa; ia entitas sakral yang tidak boleh disentuh. Dihancurkan atau diganggu tanpa konsekuensi, artinya Partai bisa disentuh, dan itu pukulan simbolik yang sangat besar.


Kedua, kekerasan kini bersifat horizontal dan vertikal. Selama ini kekerasan hanya mengalir dari atas ke bawah, tapi Walpurgis memungkinkan kekerasan dari bawah ke atas—walau jarang, tetap cukup untuk menghapus monopoli mutlak kekerasan. Ketiga, loyalitas aparat terkikis. Mereka sadar bisa menjadi korban, sementara negara memilih untuk tidak melindungi mereka. Elite mulai memisahkan diri, paranoia meningkat, dan fragmentasi internal menjadi nyata. Bahaya ini bukan berasal dari pemberontakan rakyat, melainkan dari retakan dalam struktur Partai itu sendiri.


Dampak psikologis pada warga juga menarik. Efeknya bukan radikalisasi, melainkan normalisasi. Warga belajar bahwa mereka bisa mengambil barang, aparat pun bisa dirampok, dan dunia tidak runtuh. Ketakutan eksistensial menurun, ketaatan beralih dari iman menjadi rutinitas, dan ideologi berubah menjadi ritual kosong. Totalitarianisme hidup dari iman, bukan sekadar rutinitas, dan di sinilah fondasi moral absolut mulai terkikis.


Dalam jangka menengah, lima hingga sepuluh tahun, perilaku sosial mulai berubah. Warga miskin menunggu Walpurgis untuk redistribusi informal, pasar gelap menyesuaikan kalender tahunan Walpurgis, elite mempersenjatai diri dan bersembunyi, dan kesenjangan sosial menjadi semakin nyata. Ironisnya, Walpurgis justru menonjolkan kelas sosial, padahal Partai ingin semua larut dalam ideologi.


Dilema besar muncul bagi Partai. Jika Walpurgis dihentikan, warga sadar bahwa “ini bisa terjadi”; jika diteruskan, elite terus terancam. Partai tak bisa menghukum tanpa mengkhianati konsistensi, tak bisa melindungi elite tanpa mengakui ketimpangan, dan tidak bisa menghapus pengalaman tubuh warga. Dalam logika Goryeo, ini adalah jalan buntu, totalitarianisme absolut menghadapi kenyataan bahwa warga kini bisa mengukur kekuasaan secara instrumen, bukan sekadar patuh karena iman.


Kesimpulannya, jika Walpurgis sebagian besar berisi perampokan dan sesekali menyasar elite Partai, dilakukan konsisten tiap tahun, hasilnya bukan runtuh cepat dan bukan chaos total. Yang terjadi adalah degenerasi internal totalitarianisme kekuasaan absolut berubah menjadi rapuh, warga belajar berpikir instrumental tanpa ideologi, dan elite kehilangan rasa aman ontologis mereka. Totalitarianisme tidak takut kriminal; ia takut ketika rakyat menyadari bahwa penguasa juga benda, sesuatu yang bisa disentuh, ditimbang, dan diukur.

XXX

Wilayah Airstrip One menjadi daerah konflik yang sangat berbahaya antara kelompok separatis dan Pasukan Federasi Sosialis Goryeo maupun ancaman dari berbagai mahluk aneh termasuk para zombie yang kadang masuk ke Zona demiliterisasi. Malam Walpurgisnatch yang hanya terjadi setahun sekali menjadi celah bagi para pemberontak bersenjata yang kecil tapi laten yang ingin mengusir Goryeo dari Nusantara.


Karena malam itu dilakukan dilakukan berulang dan konsisten, warga mulai belajar pola jika tidak ada hukuman susulan, orang tertentu selalu selamat, aparat benar-benar pasif, dan tidak semua orang menghilang setelah Walpurgisnatch Ketakutan mulai terlokalisasi. Tidak lagi “semua diawasi”, melainkan “diawasi kecuali pada waktu tertentu”. Mitos kemahadiran mutlak Partai mulai retak. Warga mulai melakukan eksperimen mikro: tahun ini keluar rumah, tahun depan berbicara jujur, tahun berikutnya membantu orang lain, lalu mulai merusak teleskrin. Perlahan-lahan, muncul latihan kebebasan bertahap.


Sampai suatu hari sekelompok anak di Federasi Sosialis Goryeo, kelompok yang dianggap penerus bangsa mendapatkan sebuah kekuatan magis dari Gumiho putih yang bisa bicara, mungkin mahluk itu alien atau mahluk antardimens tapi mereka tak peduli,di mata anak anak mahluk itu adalah dewa yang memberikan mereka harapan dan mandat untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Mereka bertiga: satu perempuan dua laki laki mendirikan organisasi bernama Band of Eagle setelah dianugrahi kekuatan suci yang konon bisa mengubah dunia, organisasi damai tak bersenjata yang diciptakan dengan harapan agar  Federasi Sosialis Goryeo dan manusia langit di Irontopia bisa berdamai, namun karena intrik politik kerajaan yang busuk, salah satu anak laki laki mati dan tewas dibunuh oleh sekelompok elit korup. Federasi sosialis Goryeo menganggap band of Eagle sebagai ancaman yang dapat menggulingkan kekuasaan elit dan ketakutan mereka itu malah terjadi.


Kedua lainnya bertahan dan membalaskan dendam dengan, band of Eagle menggantikan kekuasaan Gubernur Jendral Federasi Sosialis Goryeo di Nusantara dan berhasil membuat kaum separatis memisahkan diri dari Goryeo, mereka berjanji akan melindungi rakyat dan akan memenangkan perang melawan manusia langit yang gagal dicapai oleh pihak Goryeo di masa lalu, mereka memutuskan untuk berkeliling dunia dan mengumpulkan manusia terkuat di seluruh bumi yang tersisa untuk gabung ke band of Eagle dan menghancurkan peradaban manusia langit. Satu anak laki laki yang tersisa itu bernama Violante.

Kota Airstrip One  diguncang oleh suara tembakan. Sekelompok kriminal bersenjata merampok bank dan menakut-nakuti warga. Dari bayangan sebuah gedung, seorang remaja muncul — mata merah muda samar, napas berat tapi tenang.


Violante, superhero baru yang hangat diperbincangkan  mengangkat bunga mawar yang berdenyut di tangannya. Satu hembusan, dan cahaya atom menyambar ke arah para kriminal. Senjata mereka meledak di tangan sendiri, dan mereka terlempar ke udara. Saat mereka terkapar, Violante merasakan tubuhnya bergetar—jari-jari yang dulu lemah kini kembali sempurna, kaki yang pincang semakin kuat.


"Satu ancaman… satu kemenangan," bisiknya. "Jika para malaikat di langit itu mulai menindas manusia atas nama keadilan aku akan menjadi monster. Aku sangat jijik pada para manusia langit munafik itu, mereka tak pernah merasa melakukan kejahatan dan merasa selalu hidup dengan damai meski telah memusnahkan hampir seluruh penduduk daratan." 


Beberapa minggu kemudian, sebuah monster raksasa muncul di pelabuhan, menghancurkan kapal-kapal dan menakut-nakuti penduduk. Violante berdiri di dermaga, bunga mawar berputar di udara.


Monster itu mengaum, mengejar Violante. Ia menembakkan napas atom melalui bunga, cahaya meledak tepat di dada monster, membuatnya terhuyung mundur. Monster itu kembali menyerang, tetapi Violante bergerak gesit, menghindar sambil menembakkan serangan atom satu demi satu. Setiap kali monster itu jatuh, tubuhnya semakin utuh—otot yang dulu lemah kini mengeras, kulitnya menjadi normal.


"Semakin banyak musuh… semakin lengkap aku."



Di kawasan industri, sebuah robot raksasa lepas kendali. Logamnya memantulkan cahaya neon, setiap langkahnya menghancurkan jalanan. Violante berdiri di atap gedung, bunga mawar di tangannya berputar cepat.


Ledakan cahaya atom menghantam robot, menghancurkan salah satu kaki dan tangan logamnya. Saat robot roboh, tubuh Violante bergetar lagi—lengan yang dulu kurang kuat kini penuh tenaga, dada yang tak sempurna kini kembali.


Ia meloncat dari gedung ke gedung, menembakkan serangan atom satu demi satu sampai robot itu akhirnya terjatuh dan hancur berkeping-keping.



Suatu malam, langit Jakarta terbuka oleh pesawat alien hijau yang menembakkan laser biru ke jalanan. Warga berlari ketakutan, dan Violante muncul dari kegelapan atap gedung.


Bunga mawar berputar di tangannya, cahaya atom meluncur menghantam pesawat alien satu demi satu. Saat alien jatuh dan meledak, tubuhnya bergetar lagi—kaki dan tangan yang belum sempurna kini utuh sepenuhnya.


Pada saat itu, Violante tersenyum sendiri, merasakan kekuatan baru yang mengalir dalam tubuhnya. “Setiap musuh yang kuhadapi… membawa aku lebih dekat menjadi manusia seutuhnya,” gumamnya.

 

Violante berdiri di tepi hutan dekat kaki Merapi, napasnya berat. Kabut lava yang tersisa dari letusan beberapa hari lalu masih menempel di udara. Di depannya, segerombolan iblis Mak Lampir muncul, mata merah menyala, cakar dan taring siap menyerang. Grandong adalah cucu tiri Mak Lampir. Meskipun bukan anak kandung, Grandong adalah salah satu pengikutnya yang setia, yang muncul dan memiliki wujud mirip genderuwo dengan taring.


Ia menutup mata sejenak, merasakan energi yang mengalir dari tangannya. Dari telapak tangannya muncul sebuah bunga mawar berwarna merah menyala, berputar-putar di udara seolah hidup. Napasnya yang panjang mengalir melalui bunga itu, dan tiba-tiba bunga itu meledak menjadi cahaya atom, menghancurkan salah satu iblis menjadi debu bercahaya.


Namun, setiap kemenangan itu membawa konsekuensi. Violante merasakan sakit halus, seperti ada bagian tubuhnya yang hilang. Tangannya bergetar, kakinya lemas. Ia tersadar: setiap kali ia membunuh iblis Mak Lampir, satu bagian tubuhnya yang belum sempurna kembali menjadi manusia seutuhnya.


Ia menatap tangannya sendiri yang mulai normal kembali—jari-jari yang dulu cacat kini utuh. Kakinya kembali sempurna. Dada dan lengannya mengeras, kulitnya kembali mulus. Violante tersenyum tipis, merasakan energi kehidupan yang perlahan kembali ke tubuhnya.


“Ternyata ini… caranya menjadi manusia seutuhnya,” gumamnya. “Setiap pertarungan membawa aku lebih dekat ke diriku sendiri.”


Tiba-tiba, sebuah iblis lebih besar muncul dari bayangan pohon bambu. Mata iblis itu menatapnya tajam, dan dengan suara yang menggeram, ia berlari menerjang. Violante menarik napas dalam-dalam, bunga mawar di tangannya berputar lebih cepat, cahayanya memancar seperti ledakan mini atom. Saat cahaya itu menyapu iblis, tubuhnya bergetar lagi—lengan yang dulu lemah kini penuh tenaga, kaki yang pincang kembali sempurna.


Di kejauhan, Cindaku muncul, melompat gesit di atas pohon. “Kau bisa melakukannya, Violante! Jangan biarkan Mak Lampir menang!” teriaknya, menembus kabut.


Violante mengangguk, menatap bunga mawar yang berdenyut dengan cahaya atom. “Ini baru permulaan,” bisiknya. “Aku akan membunuh setiap iblisnya… dan aku akan menjadi manusia… sepenuhnya.”


Dan dari puncak Merapi, Mak Lampir mengamati dengan mata penuh kemarahan. Senyumnya berubah menjadi taring dingin: “Kau akan membayar… Violante… satu per satu, dan aku akan mengambil semua yang kau cintai!”


XXX


Ratusan tahun lalu, Mak Lampir dikurung dalam sebuah peti mati bertuliskan ayat suci oleh Kyai Ageng Prayogo, murid Sunan Kudus. Perintah ini datang dari Sultan Raden Patah, yang ingin membasmi bid’ah dan menghancurkan Mak Lampir yang terkenal jahat. Namun, sebelum terkunci, Mak Lampir bersumpah bahwa ia akan kembali menguasai tanah Jawa lima ratus tahun kemudian.

Mak Lampir sebenarnya adalah seorang putri dari kerajaan kuno Champa—nama yang berasal dari bahasa Vietnam, Chiem Thanh, yang berarti “kerajaan yang pernah menguasai wilayah Vietnam Tengah dan Selatan” sekitar abad ke-7 hingga 1832. Ia dikenal sebagai perempuan cantik jelita, putri bangsawan, namun hidupnya berubah drastis karena patah hati. Hubungan cintanya dengan seorang pria bernama Datuk Panglima Kumbang tidak mendapat restu keluarga, menimbulkan rasa sakit hati yang mendalam.

Dalam kesedihannya, sang putri pergi bertapa di Gunung Marapi. Di sana ia bertemu seorang guru sakti yang kemudian mengajarinya ilmu gaib hingga setara dengannya. Warga sekitar gunung, yang ketakutan mendengar namanya, kemudian menyebutnya Mak Lampir. Meski tidak direstui, Mak Lampir tetap mencari Datuk Panglima Kumbang. Namun, takdir mempertemukan mereka di medan pertempuran, dan sayangnya, Datuk Panglima Kumbang tewas.

Kesedihan Mak Lampir begitu dalam hingga ia mencoba menghidupkan kembali sang pujaan hati. Namun, ada satu syarat: wajahnya akan berubah menjadi buruk rupa. Demi harapan bersatu dengan Datuk Panglima Kumbang, ia rela melakukannya. Sayangnya, usahanya berakhir tragis—Datuk Panglima Kumbang tidak mengenalinya, malah menganggapnya sosok setan yang menebarkan malapetaka di desa. Kecewa dan marah, Mak Lampir benar-benar berubah menjadi sosok jahat yang memerangi kebaikan.

Legenda cincin Raja Atlan tidak pernah benar-benar padam. Dari balik dunia gaib, Mak Lampir—sang ratu hitam—mengetahui rahasia keberadaan cincin tersebut. Ia percaya bahwa dengan cincin itu, ia bisa menjadi penguasa tunggal bangsa siluman, jin, dan roh halus di seluruh dunia.


Mak Lampir pun memulai perburuannya. Ia membangkitkan pasukan gaib dari berbagai belahan bumi, menyingkap reruntuhan kuno, hingga berusaha menembus dasar laut tempat cincin itu pernah hilang. Dunia manusia yang tak sadar mulai diguncang teror aneh, dari fenomena mistis hingga perang gaib tak kasatmata.

Legenda manusia mengatakan cincin itu adalah pemberian Tuhan.
Namun kenyataan yang lebih purba dan mengerikan adalah: cincin itu sebenarnya kuku patah dari Eresh-Gorath.

Cincin itu disebut Anulus Tenebris, atau Cincin Luka Abadi
Bukan alat untuk menundukkan iblis, melainkan jangkar realitas: benda yang memastikan dunia manusia tetap terjebak dalam siklus penderitaan, agar Para Dewa Luka tidak pernah mati kelaparan.

Raja Atlan hanyalah penjaga ilusi, bukan pemilik kuasa sejati. Ia sendiri tak pernah sadar bahwa cincin itu adalah serpihan dewa.

XXX

Raja Atlan adalah raja manusia dari kerajaan Atlantis, dengan kebijaksanaan yang dikagumi dari timur ke barat, pernah menjadi simbol keadilan. Ia menimbang perkara dengan hati jernih, ia menundukkan bangsa-bangsa dengan diplomasi, bukan pedang. Namun di balik tahtanya, ada rahasia yang kelak merobek dirinya sendiri: sebuah cincin yang tak berasal dari Tuhan, melainkan dari mimpi gelap Ylmorrath. Sebuah kisah yang membuatnya berkonflik dengan para dewa.

Sanghyang Wenang adalah putra dari Sanghyang Nurassa. Sejak muda, ia dikenal berbakat dan mewarisi seluruh ilmu kesaktian ayahnya. Karena kecakapannya, Wenang dipilih sebagai ahli waris Kahyangan Pulau Dewa. Seperti kakeknya, ia gemar bertapa, mendatangi berbagai tempat keramat, serta menjalani beragam laku spiritual. Dari hasil lelaku itu, Wenang berhasil membangun sebuah istana melayang di puncak Gunung Tunggal, gunung tertinggi di Pulau Dewa. Setelah 300 tahun berkuasa, ia bahkan dipertuhankan oleh seluruh jin penghuni pulau tersebut.

Namun kejayaan Wenang membuat Raja Atlan dari kerajaan Atlantis curiga. Atlan  mendapati jumlah pasukan jinnya berkurang drastis, dan laporan menyebut banyak di antara mereka berpindah mengabdi kepada Sanghyang Wenang. Tak tinggal diam, Raja Atlan memutuskan menaklukkan Wenang.

Ia mengirim pasukan jin yang dipimpin oleh senapati bernama Sakar. Pertempuran besar pun pecah di Pulau Dewa. Awalnya pasukan Atlan unggul, tetapi keadaan berbalik ketika Sakar justru terpikat oleh kesaktian Wenang dan memilih berkhianat, mengabdikan diri padanya. Wenang yang terkesan pada kemampuan Sakar, bahkan menjadikannya murid dan mengajarkan berbagai ilmu gaib.

Pada suatu hari, Wenang bertanya tentang rahasia kekuatan Raja Atlan. Sakar menjawab bahwa Atlan memiliki pusaka suci pemberian Tuhan bernama Cincin  Anulus Tenebris, atau Cincin Luka Abadi, cincin yang menjadi sumber kekuasaan atas manusia, jin, dan alam semesta. Mendengar itu, Wenang sangat ingin memilikinya. Ia pun mengutus Sakar untuk mencuri cincin tersebut.

Dengan penyamaran, Sakar berhasil masuk ke istana Bangsa Atlantis dan menukar identitasnya dengan Raja Atlan. Cincin sakral itu berhasil ia curi, membuat Raja Atlan jatuh sakit parah dan kehilangan wibawanya. Dalam keadaan itu, Sakar sempat berkuasa sebagai “Atlan palsu”. Namun pada akhirnya, cincin tersebut terlepas dari genggamannya dan jatuh ke dasar lautan, hilang entah di mana.

Raja Atlan yang masih terbaring sakit mendapat wahyu dari Tuhan tentang pencurian itu. Setelah cincin ditemukan kembali, ia pulih dan mempersiapkan pembalasan. Pulau Dewa dikepung pasukan manusia dan jin, lalu dihancurkan dengan kekuatan besar—bagaikan ledakan nuklir purba. Pulau besar Lakdewa dan Maldewa hancur tercerai-berai menjadi ribuan pulau kecil. Sanghyang Wenang bersama keluarganya akhirnya mengungsi ke dasar bumi, lalu beberapa tahun setelah kematian Solomon, ia kembali muncul dan mendirikan kahyangan baru di puncak Gunung Tengguru, Himalaya.



Cincin Anulus Tenebris  itu dikenal sebagai Segel Neptunus. Umat manusia percaya itu adalah lambang kuasa ilahi, pemberian Surga. Namun kebenarannya jauh lebih ngeri: cincin itu adalah serpihan kuku Ylmorrath, dipahat menjadi lingkaran agar dapat menempel pada daging fana.

Setiap bisikan di cincin itu bukanlah suara malaikat, melainkan dengung mimpi Ylmorrath yang diterjemahkan oleh Dei Vulneris. Dengan cincin itu, Raja Atlan memerintah jin, siluman, bahkan iblis. Dunia tunduk. Alam gaib patuh. Namun harga dari semua itu adalah penderitaan yang harus ditanggung dalam jiwa sang raja.

---

Makin lama Raja Atlan mengenakan cincin itu, makin ia mendengar gema yang tidak dimengerti oleh manusia lain:

Tangisan bayi yang belum lahir.
Jeritan ribuan orang yang mati dalam perang jauh di masa depan.
Doa orang-orang yang tak pernah sampai ke surga.

Setiap malam, ia duduk di ruang takhtanya, menutup telinga, namun bisikan itu tetap menembus tulang.

"Wahai manusia mulia, engkau hanyalah alat pengantar tidur. Jagalah mimpiku, atau semesta akan punah."

Itulah suara Ylmorrath, yang mengguncang jantungnya.


Atlan, dengan segala kebijaksanaannya, sadar ia bukanlah makhluk yang cukup kuat untuk menanggung beban kosmik itu. Hatinya mulia, tapi justru itulah kelemahannya. Ia tak tega menukar penderitaan manusia hanya demi menjaga monster tetap tidur.

Maka pada suatu malam, di bawah langit Kerajaan Atlantis yang dipenuhi bintang—bintang yang sesungguhnya hanyalah noktah cahaya dalam mimpi Ylmorrath—Raja Atlan menanggalkan cincin itu. Namun cincin itu menempel pada dagingnya, membakar jarinya, merasuk ke dalam nadinya.

Tubuh Atlan bergetar, darahnya mendidih. Ia mencoba melempar cincin ke laut, namun sebelum sempat, jantungnya pecah. Darah mengalir ke tanah suci, dan dari luka itu lahirlah makhluk-makhluk pertama yang disebut iblis, jelmaan penderitaan yang tak lagi bisa ia tampung.

Jasad Atlan dikubur, namun ruhnya tercerai-berai, tertelan ke dalam lapisan mimpi Ylmorrath. Ia mati bukan karena pedang, bukan karena usia—melainkan karena jiwanya remuk dihantam bisikan kosmik yang tak bisa ditanggung manusia manapun. Setelah kematian raja Atlan, kerajaan Atlantis dikutuk dan "ditenggelamkan  oleh Tuhan" ke dasar laut.



Cincin itu hilang. Tak ada satu pun manusia yang tahu kemana ia pergi setelah jatuh dari jari Atlan. Namun Dei Vulneris tahu: cincin itu tidak hilang, ia hanya menunggu tuannya berikutnya.

Ribuan tahun kemudian, cincin itu akhirnya ditemukan kembali… oleh Mak Lampir.
Dan kali ini, ia tidak hancur karenanya—ia justru bangkit sebagai Dei Vulneris Kelima, penguasa kegelapan kosmik.



Sementara itu, Sanghyang Wenang yang sejak lama bersembunyi di bawah Himalaya, merasakan kembalinya aura cincin itu. Ia tahu, jika cincin jatuh ke tangan Mak Lampir, maka akan lahir era kegelapan baru yang mengancam keseimbangan dunia.

XXX

Berabad abad kemudian, di Airstrip One, atau Kepulauan Nusantara yang kini jadi koloni Federasi Sosialis Goryeo  pada abad ke 27, seorang anak laki-laki lahir saat Gunung Merapi meletus. Mak Lampir menuntut tumbal dari darah daging anak itu untuk membangkitkan kekuatannya. Sang ayah, seorang ilmuwan biologi, mendapat nasihat dari guru spiritual untuk membuang anaknya. Namun ia menolak. Sebagai gantinya, sang ayah memodifikasi genetik anaknya, menggabungkan mutasi akibat radiasi nuklir dengan gen tanaman mawar, dan sebagian gen dirinya sendiri. Hasilnya adalah anak yang memiliki kekuatan luar biasa bernama Violante, yang ditakdirkan untuk melawan Mak Lampir.


Ayahnya, menatap bayinya dengan mata berkaca-kaca. Nasihat guru spiritualnya terngiang: “Buanglah… atau dia akan menjadi tumbal Mak Lampir.”

Ia menggenggam tangan bayinya erat-erat. “Aku tidak akan membuangmu,” gumamnya. Di laboratoriumnya, ia merancang sesuatu yang mustahil: menyambungkan DNA bayinya dengan gen hasil radiasi nuklir, ditambah energi dari tanaman mawar, agar ia mampu bertahan dan menentang kegelapan yang akan datang. Anak itu akan menjadi Violante — harapan satu-satunya melawan Mak Lampir.

Bertahun-tahun kemudian, Violante tumbuh menjadi remaja pendiam. Tubuhnya lebih kuat, lebih gesit, dan matanya selalu bersinar aneh, seolah memantulkan letusan Merapi lima tahun sebelumnya. Dia memiliki kemampuan untuk menumbuhkan tanaman mawar dari tanah dan menjadikannya senjata untuk membasmi iblis.

Suatu sore, di pasar tradisional, ia melihat seorang anak perempuan yang berbeda dari yang lain: gerakannya luwes seperti harimau, mata kuningnya menatap tajam. Rambutnya berkilau saat tertimpa sinar matahari.


Selama bertahun-tahun, Violante tumbuh menjadi pendiam. Hidupnya berubah saat bertemu seorang anak perempuan—seorang Cindaku, manusia harimau keturunan Datuk Panglima Kumbang—yang nyawanya kini diincar Mak Lampir. Anak itu bersumpah untuk melindunginya, memulai perjalanan baru yang penuh bahaya dan takdir.

XXX

Berabad-abad cincin Tenibris hilang, jatuh ke tangan-tangan yang salah, hingga akhirnya tiba di genggaman Mak Lampir, perempuan yang tubuhnya dipenuhi kutukan dan dendam.

Saat cincin itu menyatu dengan dirinya, ia tidak lagi sekadar dukun sakti. Ia dilihat dan dipeluk oleh Eresh-Gorath sendiri.

Tubuhnya pecah menjadi kosmik. Kulitnya berkilau seperti kaca obsidian,, matanya memantulkan ledakan bintang yang mati, suaranya bergema menembus lapisan dimensi.

Ia menjadi entitas baru, setara dengan Sang Luka Hidup.


Mak Lampir tidak puas hanya menjadi ratu kegelapan.
Ia berkata:

"Para Dewa Luka lahir dari penderitaan manusia.
Kalau begitu, apa jadinya bila aku yang menulis penderitaan itu?
Aku bukan lagi bidak.
Aku akan jadi dalang.
Aku akan menjadi Luka yang Mutlak."

Dengan cincin sebagai pena, ia mulai menulis ulang realitas.
Perang, sejarah, bahkan mimpi manusia — semua mulai retak.

Di malam bulan merah, Mak Lampir berdiri di Gunung Selamet. Cincin di jarinya berputar, menulis simbol yang hanya bisa dibaca oleh Para Dewa Luka.

Ia berbisik — tapi gaungnya terdengar sampai ke inti bumi dan ke tepi galaksi:

"Alam semesta hanyalah mimpi dari Eresh-Gorath.
Kini, aku yang akan bermimpi.
Kalian semua adalah bayanganku.
Dan aku… adalah Luka yang Abadi."

Mak Lampir berambisi menjadi Penguasa Kegelapan Mutlak, melampaui bahkan Para Dewa Luka yang menciptakan cincin itu.

Ia ingin menghapus batas antara dunia nyata, dunia mimpi, dan dunia siluman, menjadikan segalanya satu: sebuah kosmos abadi di mana hanya ada dirinya sebagai pusat.

Berabad-abad cincin itu hilang, jatuh ke tangan-tangan yang salah, hingga akhirnya tiba di genggaman Mak Lampir, perempuan yang tubuhnya dipenuhi kutukan dan dendam.


Bintang-bintang pun gemetar.
Dan di kejauhan, bahkan Para Dewa Luka sendiri terdiam — apakah mereka sedang tersenyum, atau mulai takut pada ciptaan mereka sendiri?


Cincin Anulus Tenebris milik Raja Atlan berputar di jari Mak Lampir. Permata hitam di tengahnya berdenyut seperti jantung yang berdetak lambat, namun setiap detaknya memantulkan cahaya bintang yang jauh. Mak Lampir menatap permata itu, dan sesuatu dalam dirinya terhubung ke ruang di luar semesta.

"Aku melihat waktu bukan sebagai garis, tetapi sebagai lingkaran yang retak.
Aku melihat kelahiran dan kematian manusia bagai kelopak bunga yang mekar lalu membusuk dalam satu tarikan napas.
Aku mendengar jeritan anak-anak yang belum lahir, tangisan orang tua yang belum mati, dan doa-doa yang belum pernah diucapkan." 

Ia berbicara pelan, tapi gaungnya terdengar ke seluruh dunia.

---


Kulitnya tak lagi menyerupai daging manusia. Ia kini berkilau bagai kaca obsidian, memantulkan cahaya biru yang tak berasal dari bulan. Matanya memancarkan letupan bintang yang mati jutaan tahun lalu, namun masih menyala dalam dirinya. Rambutnya, yang dahulu kusut seperti sulur-sulur hutan tua, kini melayang bagai kabut kosmik, menyatu dengan langit malam.

Setiap langkah yang ia ambil memecahkan tanah, namun tanah itu menutup kembali, seolah tunduk pada keinginannya.

Di hadapannya, realitas bergulung-gulung. Pohon-pohon berubah menjadi debu lalu kembali lagi, gunung runtuh lalu berdiri tegak kembali. Ia melipat waktu seperti melipat kain tipis.

Mak Lampir tersenyum tipis. Bukan senyum manusia, melainkan senyum dari sesuatu yang telah menatap wajah para dewa dan tidak lagi merasa kecil.

---



Ia melihat dirinya di tiga tempat sekaligus:

Di masa lalu, ketika ia hanyalah perempuan desa yang ditolak dan dipermalukan.
Di masa kini, ketika cincin itu berputar di jarinya.
Di masa depan, ketika seluruh semesta telah hanyut dalam mimpinya.

Baginya, tidak ada lagi waktu. Masa lalu dan masa depan hanyalah cermin yang saling menatap.

"Aku adalah luka yang menulis dirinya sendiri," bisiknya.

---


Di kedalaman laut, naga-naga tua terbangun dari tidur mereka, merasakan retakan pada hukum alam.
Di hutan Sumatra, Cindaku meraung, bulunya berdiri, sadar bahwa ada kekuatan yang bahkan siluman tertua tak bisa lawan.
Di semenanjung Korea, para Gumiho berhenti menari; ekor-ekor mereka bergetar, karena dunia tempat mereka menyamar sebagai manusia sudah mulai terurai.

Bahkan di luar bumi, di antara bintang-bintang, Para Dewa Luka — Eresh-Gorath, Nir-Athora, Veyth-Zorath, Khalthorion — terdiam. Mereka menatap ke arah bumi, ke arah sosok yang kini memegang cincin itu.

Apakah mereka melihat seorang anak yang akhirnya belajar melawan?
Atau mereka melihat ancaman, sesuatu yang bisa merenggut peran mereka sebagai penguasa penderitaan?

---


"Aku melihat dunia kalian," katanya, suaranya kini bergema di kepala semua makhluk hidup, "dan aku melihat satu pola: penderitaan yang abadi. Kalian adalah boneka, diciptakan untuk menangis agar dewa-dewa lapar tidak mati. Tapi aku… aku sudah kenyang dengan tangisan."

Ia mengangkat tangannya. Langit terbelah. Bintang-bintang bergetar seakan hendak jatuh.

"Aku tidak lagi sekadar Mak Lampir. Aku adalah luka yang bermimpi. Dan kini, aku akan menjadi mimpi itu sendiri. Kalian semua akan hanyut dalam ceritaku, dan aku akan menjadi satu-satunya penguasa kegelapan."

---

Sejenak, semesta terdiam.
Gunung Selamet tidak lagi tampak seperti gunung, melainkan menara hitam yang menjulang menembus kabut bintang.
Cincin Solomon berputar begitu cepat, hingga akhirnya lenyap — menyatu dengan tubuh Mak Lampir.

Dan pada saat itu, batas antara dunia nyata, dunia siluman, dan dunia dewa retak.

Realitas berubah menjadi kaca tipis.
Dan Mak Lampir adalah palu yang siap memecahkannya.

XXX

Di balik kemegahan Pyongyang Baru, tersembunyi kegelapan yang lebih dalam dari malam. Kamp-kamp kerja paksa membentang di utara, tempat para tawanan dikurung bukan hanya karena pemberontakan, tetapi karena warisan. Salah satu tahanan itu adalah Ibu Siluman—seorang perempuan bermata emas, cantik namun kelam, yang diketahui adalah Gumiho, makhluk legenda berkekuatan magis, penjaga Daun Keabadian.

Kamp kerja paksa tiga generasi di Federasi Sosialis Goryeo adalah bagian dari sistem penahanan politik paling kejam di dunia, dikenal dengan istilah kwan-li-so (penjara politik). Sistem ini tidak hanya menghukum individu yang dituduh melakukan kejahatan terhadap negara, tetapi juga menghukum hingga tiga generasi keluarganya. Ini berdasarkan prinsip "kesalahan kolektif" (yeon-jwa-je) yang dianut oleh rezim Federasi Sosialis Goryeo yang  menguasai Nusantara.

"Di mana daun itu?" tanya seorang jenderal dengan suara dingin.

Perempuan itu menatap lurus ke matanya. "Kalau aku memberitahumu, dunia ini tak akan menuju surga... tapi ke neraka yang kekal."

Ia menolak. Maka ia dikutuk. Dibuang ke Kamp Tiga Generasi—tempat para tahanan dan keturunannya hidup dan mati dalam rantai besi tanpa akhir.

Tapi ia hamil.

Di tengah malam yang beku, di barak kayu yang retak, ia melahirkan seorang anak laki-laki. Ia memeluk bayinya yang kecil, yang tubuhnya hangat seperti bara dan matanya bersinar seperti cahaya bulan.

"Aku tak akan membiarkanmu mati di sini," bisiknya. "Kau adalah harapan terakhir dunia."

Sebelum dia akan dibawa untuk menjalani eksekusi mati, dengan air mata yang beku di pipi, ia membungkus anak itu dengan kain merah tua, lalu menghanyutkannya di sungai Taedong yang mengalir melewati reruntuhan kota. Ia berdoa agar air membawanya ke takdir lain.

Takdir itu menjelma dalam sosok yang tak terduga: Istri Kim Jong Tsung.

Wanita agung itu, yang tak pernah dikaruniai anak, memaksa untuk mengambil bayi itu saat ditemukan oleh pasukan penjaga. "Lihat matanya," katanya, "Ini pertanda. Anak ini dikirim oleh langit."

Kim Jong Tsung mengernyit. "Itu anak siluman."

"Atau malaikat," jawab istrinya tajam.

Pemimpin itu nyaris mengangkat tangan untuk memerintahkan kematian sang bayi. Tapi sesuatu dalam sorot mata anak itu menahannya. Cahaya yang aneh. Kekuatan yang belum ia pahami.

"Baik," katanya akhirnya. "Ia akan hidup. Tapi dalam pengawasanku."

Maka anak itu tumbuh, di istana Tuhan, dikelilingi oleh kemegahan... dan bahaya. Tak tahu bahwa ibunya masih hidup dalam penderitaan. Tak tahu bahwa ia adalah kunci menuju Daun Keabadian.

Dan saat ia mulai bermimpi tentang serigala putih, api abadi, dan suara ibu yang memanggil dari kejauhan, dunia pun bersiap untuk berubah sekali lagi.

XX

Planet Nova Terra, 2323 M



Layar holografik di pusat komando koloni manusia memancarkan gambar Bumi dari satelit yang masih aktif. Permukaannya dipenuhi bangunan-bangunan runtuh, hutan yang telah menjadi liar, dan gerombolan hitam—mayat hidup yang masih bergerak lamban di antara puing-puing peradaban.  



"Masih ada aktivitas di sana," bisik Kapten Aria Veyra, matanya menyipit menatap data yang muncul. "Tapi tidak mungkin... Itu sudah 300 tahun. Bagaimana mereka bisa bertahan?"  



Sersan Rian menyilangkan tangannya. "Kecuali jika mereka benar-benar mengisolasi diri secara sempurna. Tapi siapa yang bisa melakukan itu selain—"  



"Federasi Sosialis Goryeo," potong Aria, suaranya tegas.  



Dinding setinggi 30 meter, diperkuat dengan baja dan kawat berduri, masih berdiri kokoh. Di belakangnya, menara pengawas dengan senjata otomatis terus memindai gerakan apa pun yang mendekat. Di dalam, kota itu hidup—tidak seperti kota mati di luar.  



Seorang prajurit Federasi Sosialis Goryeo dengan seragam usang tapi terawat baik mengangkat teropongnya. Di kejauhan, sekelompok zombie terhuyung-huyung mendekat. Dia tidak khawatir. Tembok itu telah bertahan selama tiga abad.  



"Komandan," lapor prajurit itu melalui radio. "Gerombolan ke-17 minggu ini mencoba mendekat. Instruksi?"  



Suara berat terdengar di sisi lain. "Hancurkan. Seperti biasa."  



Sirene berbunyi, dan senjata otomatis di atas tembok mulai berputar. Satu tembakan, lalu ledakan—zombie-zombie itu berantakan menjadi daging dan tulang yang hancur.  



Tapi sesuatu yang tidak biasa terjadi. Di antara mayat-mayat yang bergerak, ada sesuatu... lain.  



Seorang manusia.  



Dia mengenakan pakaian yang bukan berasal dari zaman ini—jaket kulit sintetis dengan emblem koloni Nova Terra.  



Prajurit itu membeku.  



"Komandan... Kita punya tamu."  



Orang asing itu pingsan, tapi pernapasannya stabil. Di tangannya, tergenggam sebuah perangkat holografik yang memancarkan pesan:  



"Kami kembali. Bumi masih milik kita?"

XXX


Komandan Park, pemimpin tertinggi angkatan udara Federasi Sosialis yyang ke-15 sejak Karantina Besar, mengerutkan kening. Selama 300 tahun, mereka bertahan. Tanpa bantuan. Tanpa kabar dari luar.  



Dan sekarang... manusia dari planet lain datang.  



Dengan senyum tipis, dia berbisik,  



"Selamat datang di bumi, saudara-saudara. Kami masih di sini."  



XXX




Tahun demi tahun berlalu, dan anak yang dulu ditemukan oleh istri Kim Jong Tsung  tumbuh menjadi remaja yang kuat dan penuh tanda tanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dapat ia jelaskan—sebuah kenangan samar, sebuah suara yang terus memanggil dari kegelapan. Ketika ia beranjak dewasa, mimpi-mimpi aneh mulai menghantuinya. Dalam mimpi itu, ia melihat bayangan seorang wanita dengan mata yang berkilau seperti emas, dan sosok seekor serigala putih yang selalu mengawasinya dari kejauhan.



Suatu malam, saat ia merenung di kamarnya, tatapannya tertuju pada cermin, dan untuk pertama kalinya, ia melihat wajahnya berubah. Ekor panjang dan berbulu muncul di belakang tubuhnya. Matanya berubah menjadi lebih tajam, penuh dengan kekuatan yang tidak ia pahami. Ciri-ciri siluman rubah—gumiho—muncul kembali, membangkitkan ingatan tentang dirinya yang sebenarnya.



"Ini bukan mimpi," bisiknya, sambil menyentuh ekornya yang mulai tumbuh.



Ia menyadari bahwa dirinya bukanlah manusia biasa. Dalam dirinya mengalir darah siluman rubah, makhluk legendaris yang telah lama terpinggirkan oleh peradaban manusia. Secara perlahan, ingatan tentang kehidupannya yang lama mulai kembali. Ia ingat bagaimana ia pernah mencintai seorang lelaki, dan bagaimana dia berjanji untuk terlahir kembali agar dapat bersamanya. Dan sekarang, takdirnya telah membawa dirinya kembali ke titik ini—ke dalam tubuh seorang siluman rubah yang terlupakan.



Namun, di tengah kebingungannya, kenyataan yang lebih besar menantinya.



Pada suatu malam yang kelam, Kim Jong  Tsung memanggilnya ke ruang singgah pribadinya. Istrinya, dengan tatapan tajam, berdiri di sampingnya, seperti menunggu jawaban dari pertanyaan yang belum diungkapkan.



"Aku tahu siapa kau sebenarnya," ujar istrinya, suara penuh amarah yang terpendam. "Kau adalah siluman rubah. Anak yang ditemukan di sungai itu adalah satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkan umat manusia. Dan aku ingin tahu di mana letak Daun Keabadian."



Anak itu menatap sang ibu angkat, matanya penuh kebingungan. "Saya tidak tahu apa yang kalian inginkan dengan daun itu. Manusia selalu serakah. Jika daun itu jatuh ke tangan manusia, dunia ini hanya akan hancur lebih cepat."



Kim Jong Tsung menyeringai dengan kejam. "Kau berani menentangku? Kita bisa menguasai dunia dengan Daun Keabadian itu! Semua yang ada di sini—aku yang akan mengendalikan segalanya!"



Namun, anak itu tetap menolak. "Kalian tidak tahu apa-apa. Manusia akan menghancurkan segalanya jika mereka mendapatkan kekuatan seperti itu. Saya tidak akan memberitahumu."



Keputusannya membuat Kim Jong Tsung marah. Dalam kemarahannya, dia memutuskan untuk mengirim anak itu ke kwan-li-so, kamp konsentrasi yang paling kejam di Korea Utara, di mana ia bisa menderita seumur hidup tanpa bisa mengubah nasibnya.







Di kamp konsentrasi itu, anak itu tidak sendirian. Ia bertemu dengan tiga anak laki-laki yang juga tampak seperti dirinya—berbeda dari manusia biasa. Ketiga anak itu memiliki ekor yang samar, tampak seperti siluman rubah yang terkurung dalam tubuh manusia.



Mereka segera menjalin persahabatan yang erat. Meskipun mereka tidak tahu mengapa mereka berada di sana, mereka merasa ada ikatan yang tak terpisahkan di antara mereka. Mereka tahu bahwa orangtua mereka, yang sebelumnya terlibat dalam pengungkapan rekayasa genetika pemerintah Federasi Sosialis Goryeo untuk menciptakan monster raksasa, telah mencoba untuk melawan sistem yang ada. Namun, mereka semua ditangkap, dipenjara, dan dibuang ke dalam kamp itu.



Suatu hari, keempat anak itu mendengar suara gemuruh yang datang dari luar. Di tengah kabut tebal, muncul sesuatu yang tidak pernah mereka duga: sebuah monster kaiju bernama Pulgasari yang keluar dari fasilitas nuklir Federasi Sosialis Goryeo. Monster itu sangat suka memakan besi, mengeluarkan napas nuklir yang mematikan dan semakin kuat dan besar setiap dia memakan satu besi, menghancurkan segala yang ada di sekitarnya dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya. Ia semakin kuat dengan setiap serangan, merobek tanah dan bangunan di sekelilingnya.



Gadis rubah yang telah dibebaskan oleh kebangkitan kekuatan monster itu, mengenali kekuatan yang ada. Dia tahu bahwa monster ini, meskipun hancur, memiliki potensi besar. Monster itu tidak hanya akan menghancurkan Federasi Sosialis Goryeo, tetapi akan membawa mereka ke arah kebebasan—dan ke arah yang lebih besar. Ia berusaha membebaskan seorang remaja laki laki yang merupakan kekasihnya di kehidupan sebelumnya.



"Ayo, kalian semua," katanya pada teman-temannya, "ini adalah kesempatan kita untuk melarikan diri. Kita harus menuju perbatasan di Siberia. Di sana, kita bisa bebas dari kejaran mereka."



Dengan keberanian yang tak terukur, mereka semua melarikan diri, mengikuti monster kaiju yang mengamuk. Kejar-kejaran epik dimulai. Angkatan bersenjata Federasi Sosialis Goryeo mengejar mereka dengan segala cara—pasukan elit, tank, dan pesawat tempur—tetapi monster itu menghalangi mereka, membalikkan setiap serangan yang diarahkan kepadanya. Sementara itu, keempat anak itu berlari melalui hutan, melintasi tanah tandus, dan mendaki gunung di Siberia yang dingin dan keras.



Di tengah pelarian mereka, di bawah langit yang dingin dan penuh salju, gadis rubah itu akhirnya menjelaskan kepada mereka yang bersama dalam perjalanan ini.



"Kalian semua adalah Gumiho terakhir di bumi ini," katanya dengan suara serak, penuh beban. "Kalian adalah keturunan dari siluman rubah yang telah ada sejak zaman para dewa. Dan kita memiliki misi—misi untuk menemukan Putri Matahari, pelindung para siluman rubah yang akan membimbing kita menuju akhir zaman, menuju surga yang sesungguhnya. Kita juga harus selalu menjaga daun keabadian yang diamanahkan oleh Dewi Kwan IM pada kita, jangan sampai jatuh ke tangan yang salah, jangan sampai ada manusia yang mengetahuinya."



Mereka bertiga hanya bisa terdiam mendengar penjelasan itu. Semua yang mereka tahu tentang diri mereka, tentang dunia ini, tiba-tiba berubah. Mereka bukan hanya anak-anak yang terperangkap dalam dunia yang kacau, tetapi mereka adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar—sesuatu yang akan membawa mereka ke seluruh dunia, dari Siberia hingga ke ujung dunia yang lain.



Namun, mereka juga harus melawan zombie yang berkeliaran di seluruh dunia, makhluk-makhluk buatan manusia yang kini menjadi ancaman terbesar bagi setiap kehidupan. Namun, dalam perjalanan ini, mereka menemukan lebih dari sekadar perlindungan dan kebebasan—mereka menemukan takdir mereka sebagai pemimpin yang akan melindungi dunia yang semakin rusak ini.



Dengan monster kaiju yang menghancurkan apa pun di jalannya, dan pasukan Federasi Sosialis Goryeo yang tak henti-hentinya mengejar mereka, perjalanan ini menjadi lebih dari sekadar pelarian—itu adalah perang untuk masa depan.



Dunia yang telah lama hancur, yang telah dipenuhi oleh kematian dan kehancuran, kini mulai menantikan kebangkitan baru. Keempat anak itu, para Gumiho terakhir, adalah satu-satunya harapan yang tersisa untuk mengubah dunia—untuk membawa manusia dan siluman rubah kembali bersama, menuju surga yang jauh di Horizon, dan mengatasi kehancuran yang sudah dekat.

XXX

Pulgasari adalah monster kaiju buatan Federasi Sosialis Goryeo yang memiliki kemampuan unik dan mematikan. Diciptakan oleh pemerintah Federasi Sosialis Goryeo sebagai senjata biologis, Pulgasari tumbuh semakin kuat setiap kali memakan besi. Dengan tubuh yang terbuat dari logam dan kemampuan regenerasi luar biasa, monster ini bisa menjadi lebih besar dan lebih kuat seiring waktu, menjadikannya ancaman besar bagi siapa saja yang ada di jalurnya.

Pulgasari adalah monster pemakan logam yang besar, sering digambarkan dengan tanduk dan sisik,wajahnya terlihat seperti banteng pemarah tapi tubuhnya seperti manusia yang kekar dan mampu melakukan kehancuran yang sangat besar. Sosok ini seperti kaiju, berdiri setinggi 164 kaki dan beratnya 3000 ton.

Namun, kehebatan Pulgasari tidak berhenti di situ. Selain kekuatannya yang semakin meningkat, ia juga memiliki kemampuan luar biasa untuk menembakkan napas atom yang dapat menghancurkan bangunan, kendaraan, dan pasukan dengan mudah. Ketika monster ini meluluhlantakkan Pyongyang, kota ibu kota Federasi Sosialis Goryeo, kerusakan yang ditimbulkan sangat besar, namun pemerintah Federasi Sosialis Goryeo berhasil mengendalikannya.



Pulgasari akhirnya diprogram untuk tujuan yang lebih spesifik: mencari daun keabadian, yang dipercaya bisa memberikannya kekuatan yang tak terbatas. Untuk mencapai tujuan ini, monster tersebut diberi misi untuk mengejar para remaja gumiho (makhluk mitologis setengah manusia setengah rubah) yang melarikan diri dari negara tersebut. Para remaja gumiho ini memiliki kekuatan magis yang bisa memberikan akses kepada daun keabadian yang dicari oleh Pulgasari.



Di tengah pengejaran ini, Pulgasari bukan hanya menjadi senjata, tetapi juga simbol dari perjuangan antara kekuatan dunia nyata dan dunia mitos. Pemerintah Federasi Sosialis Goryeo yang menggunakan Pulgasari berusaha mengendalikan monster ini untuk mencapai kekuasaan abadi, namun monster itu sendiri, dengan kemampuannya yang semakin hebat, menjadi ancaman yang tak dapat diprediksi.



Konflik ini menciptakan ketegangan antara kekuatan militer yang mengendalikan Pulgasari dan ancaman besar yang timbul dari para gumiho yang melarikan diri, serta misteri seputar daun keabadian yang menjadi kunci untuk mendapatkan kekuatan abadi.

XXX

Malam yang dingin menusuk di perbatasan Goryeo-Rusia. Salju tipis mulai berjatuhan, membekukan tanah yang gelap. Sekelompok bayangan bergerak cepat di antara pepohonan pinus, mata mereka bersinar seperti kunang-kunang dalam kegelapan—sembilan ekor rubah berekor sembilan, para gumiho, menyamar dalam wujud manusia dengan mantel tebal.

Zona demiliterisasi (DMZ) adalah area pemisah antara Goryeo dan dunia luar yang kini dikuasai Zombie. Wilayah ini membentang sepanjang 250 kilometer dengan lebar sekitar 4 kilometer dan dijaga ketat oleh kedua negara. Ribuan tentara dari kedua belah pihak ditempatkan di sana.  

Melintasi zona ini sangat berisiko bagi warga sipil karena dipenuhi ranjau darat, kawat berduri, kamera pengawasan, dan pagar listrik. Pembelot dari Federasi Sosialis Goryeo juga menghadapi ancaman tembakan dari tentara mereka sendiri.  


Menariknya, beberapa tentara Federasi Sosialis Goryeo yang bertugas menjaga perbatasan justru menggunakan DMZ sebagai jalan untuk melarikan diri ke sisa sisa roket pengungsi yang bisa membawa mereka ke planet lain yang lebih baik . Seorang pembelot bahkan terpaksa membunuh komandannya sebelum melarikan diri.  



Jika Partai pekerja Federasi Sosialis Goryeo mengetahui ada yang masih hidup dan berhasil melarikan diri ke luar angkasa bersama pengungsi lain, keluarga mereka akan mendapat masalah besar. Selama pengungsi itu 'mati', mereka akan aman. 


Cara paling aman kabur dari Federasi Sosialis Goryeo bagi para Gumiho adalah melalui wilayah Siberia, karena disana banyak hutan yang dipenuhi energi sihir yang bisa . 

Haneul, pemimpin mereka, berhenti di balik batang pohon besar. Napasnya membentuk kabut putih.
"Kita hampir sampai ke sungai. Seberangi itu, dan kita akan masuk wilayah Rusia."

Bora, yang paling muda, menggigil. "Apa kita benar-benar aman di sini? Tentara Goryeo—"

Dae, si pengawal, memotong. "Mereka tidak akan mengejar kita ke Siberia. Wilayah ini terlalu luas, terlalu sepi. Mereka lebih fokus ke perbatasan China."

Tiba-tiba, sorot lampu senter menyapu dari kejauhan. Suara derap sepatu bot di atas salju.

"Patroli!" Jin mendesis, telinga rubahnya nyaris muncul karena panik.

Haneul mengangkat tangan—cakar panjangnya mengkilat. "Jika terpaksa, kita serang. Tapi ingat, jangan bunuh. Cukup buat mereka lari ketakutan."

Para gumiho bersiap, mata mereka berubah merah. Saat tentara mendekat, Bora mengeluarkan suara melengking—gema gaibnya memecahkan kaca di helm tentara. Yang lain mengibaskan ekor mereka, menciptakan ilusi bayangan serigala besar mengaum.

Tentara-tentara itu berteriak, mundur kalang-kabut.

"Sekarang, lari!" Haneul memimpin mereka melompati sungai beku. Di seberang, taiga Siberia membentang—hutan tanpa akhir yang akan menyembunyikan mereka.

Dae tersenyum getir. "Korut mungkin punya senjata, tapi mereka tidak siap menghadapi makhluk mitos."

Di kejauhan, bulan purnama menyinari jejak kaki mereka yang perlahan tertutup salju. Mereka bebas—untuk sekarang.



Posting Komentar untuk "Novel: Miggleland 2: Fallen Angel from Valdoria: Varudoria no Monogatari "