Mental Rotation



Mental Rotation  adalah kemampuan visuospasial untuk secara akurat merotasikan stimulus visual untuk menciptakan kembali, memanipulasi, dan memodifikasi aspek dari persepsi seseorang bahkan jika adanya rangsangan visual yang relevan menangani aspek seperti warna, garis, bentuk, sosok, ruang, hubungan yang ada di antara keduanya dan kemampuan rotasi mental berhubungan dengan bentuk, pola, warna.

Searle dan Hamm (2017) menyatakan bahwa  rotasi mental telah digambarkan sebagai transformasi rotasi dari stimulus visual yang memungkinkannya untuk direpresentasikan dalam orientasi bar

Untuk objek tertentu, proses rotasi mental dianggap berlangsung dengan kecepatan yang tetap. Namun, kecepatan tersebut bisa berbeda tergantung jenis objeknya. Misalnya, bentuk tiga dimensi abstrak yang tersusun dari balok biasanya lebih sulit dan lebih lambat diputar dalam pikiran dibandingkan huruf, angka, atau gambar benda sehari-hari. Selain itu, otak dianggap cenderung memutar objek melalui arah atau sudut yang paling pendek. Hal ini didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa semakin besar sudut rotasi, semakin lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk merespons, terutama ketika sudut mencapai 180°

Untuk menentukan arah rotasi tercepat, otak diasumsikan sudah mengetahui posisi awal objek sebelum proses rotasi mental dilakukan. Pada objek umum, huruf, atau angka, objek juga dianggap telah dikenali terlebih dahulu sehingga orientasinya dapat ditentukan. Dalam beberapa penelitian tentang perbedaan objek normal dan cermin atau arah kiri dan kanan, waktu respons sering digabungkan karena dianggap tidak terlalu penting dalam proses rotasi mental. Namun, artikel ini menunjukkan bahwa beberapa asumsi tersebut sebenarnya belum tentu sepenuhnya benar.

Menurut Peters dan Battista (2008), rotasi mental pada objek visual dapat dipelajari menggunakan berbagai jenis gambar dua dimensi maupun tiga dimensi. Stimulus dua dimensi, seperti huruf atau gambar abstrak dengan tingkat kerumitan yang berbeda, hanya dapat diputar pada bidang datar gambar. Sementara itu, stimulus tiga dimensi dapat diputar tidak hanya pada bidang datar, tetapi juga ke arah kedalaman ruang sehingga rotasinya menjadi lebih kompleks.

Thompson dkk. (2013) menjelaskan bahwa kemampuan rotasi mental berkaitan dengan keterampilan matematika tingkat tinggi, namun hubungan kemampuan tersebut dengan representasi dasar angka masih perlu diteliti lebih lanjut.

Berdasarkan pandangan Searle dan Hamm (2017), Peters dan Battista (2008), serta Thompson dkk. (2013), dapat disimpulkan bahwa rotasi mental merupakan kemampuan kognitif yang memungkinkan seseorang membayangkan dan memutar objek secara mental hingga mencapai orientasi tertentu.

Proses ini umumnya dilakukan dengan memutar bayangan objek dalam pikiran dibandingkan mengubah sudut pandang atau kerangka acuan diri sendiri.

Kecepatan rotasi mental dipengaruhi oleh jenis objek dan besar sudut rotasi, di mana objek yang lebih kompleks dan sudut yang lebih besar membutuhkan waktu respons yang lebih lama. Selain berperan dalam pengenalan objek, huruf, dan angka, kemampuan rotasi mental juga berkaitan dengan keterampilan matematika tingkat tinggi.

Namun, hubungan antara rotasi mental dan representasi dasar angka masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Dengan demikian, rotasi mental dapat dipahami sebagai proses penting dalam cara manusia memproses informasi visual, mengenali objek, dan mendukung kemampuan berpikir matematis.

Selain itu, rotasi mental dapat dipelajari menggunakan berbagai jenis stimulus visual, baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Stimulus dua dimensi, seperti huruf atau gambar abstrak, hanya dapat diputar pada bidang datar, sedangkan stimulus tiga dimensi dapat diputar hingga ke arah kedalaman ruang sehingga proses rotasinya lebih kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat dimensi dan kompleksitas objek memengaruhi proses rotasi mental seseorang.

Kemampuan rotasi mental juga berperan dalam pengenalan objek, huruf, dan angka, serta berkaitan dengan keterampilan matematika tingkat tinggi. Namun, hubungan antara rotasi mental dan representasi dasar angka masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Dengan demikian, rotasi mental dapat dipahami sebagai proses penting dalam cara manusia memproses informasi visual, mengenali objek, serta mendukung kemampuan berpikir dan pemecahan masalah matematis.


DAFTAR PUSTAKA

 

Jacqueline M. Thompson, Hans-Christoph Nuerk, Korbinian Moeller, dan  Roi Cohen Kadosh. (2013). The link between mental rotation ability and basic numerical representations. Acta Psychologica, 144(2), 324–331. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2013.05.009

 Michael Peters, & Christian Battista. (2008). Applications of mental rotation figures of the Shepard and Metzler type and description of a mental rotation stimulus library. Brain and Cognition, 66(3), 260–264. https://doi.org/10.1016/j.bandc.2007.09.003

Sandra Kaltner, & Petra Jansen. (2016). Developmental changes in mental rotation: A dissociation between object-based and egocentric transformations. Advances in Cognitive Psychology, 12(2). Jordan A. Searle, dan  Jeff P. Hamm. (2017). What assumptions are made about mental rotation? Wiley Interdisciplinary Reviews: Cognitive Science, 8(6), e1443. https://doi.org/10.1002/wcs.1443

Sandra Kaltner, & Petra Jansen. (2016). Developmental changes in mental rotation: A dissociation between object-based and egocentric transformations. Advances in Cognitive Psychology, 12(2).


Posting Komentar untuk "Mental Rotation "