Miggleland Dream (Bab 65)

 


Tanpa sengaja Hasyi berjumpa dengan seorang anak yang sangat ia kenal, Raflesianz, yang dulu pernah bertemu dengannya di trotoar bersalju.

“Kau Kak Hasyi kan yang dulu pernah mendongeng untuk memberiku semangat?” Mata Raflesianz berbinar

“Siapa gerangan di dalam diriku?” Hasyi mendesah. ”Kehadiranku janganlah kau cari, ”Hasyi melebarkan senyuman.

Hasyi selalu takut sendirian, dan fakta bahwa dia akan kembali tidak memiliki siapa-siapa jika dia menyakiti orang-orang di sekitarnya menghantuinya sampai periode waktu yang signifikan. Bahkan ketika Hasyi memiliki perubahan kepribadian, dia mencoba untuk melindungi semua orang yang sendirian, terutama karena mereka sangat berarti baginya, tetapi juga karena dia tidak pernah ingin menghadapi trauma sendirian lagi.

Anak itu memukuli Hasyi dengan pukulan lemah dan manja, melampiaskan semua perasaan bahagianya. “Jangan khawatir apapun yang akan terjadi nanti aku janji kalian semua akan selamat.” Hasyi mengulurkan tangannya memaksa Raflesianz bergandengan.

Hasyi melarikan diri lewat kereta bawah tanah yang sangat sepi bersama Hasya dan Raflesianz karena tak ada penumpang yang ingin berwisata menuju Kota Rumeli Hisari di tengah kerusuhan. Mereka tidur di gerbong kamar mewah yang berbeda dengan Hasyi.

Meskipun Hasyi tak berniat keluar kota ia hendak menuju stasiun terdekat setelah selesai mengganti pakaiannya, tiba-tiba di gerbong kereta api, pria siluman api itu muncul kembali di hadapannya. “Kau berhasil bebas dariku Hasyi, kau sudah bukan budakku lagi karena malam ini kau kubebaskan, aku kini akan keluar dari bersemayam di dalam tubuhmu, tapi sebagai ganti kebebasanmu, adikmu akan melupakanmu kembali sebagai kakak kembarnya, selamat meraih kebebasan,“ pria siluman api itu keluar dari dada Hasyi dan terbang ke langit dengan sayapnya yang terbakar di bagian punggung, menembus jendela kereta api.

“Selama ini sebenarnya kau siapa? Siapapun kau mengapa kau tak pernah membiarkanku hidup bahagia dengan Hasya, tapi terima kasih sudah membebaskanku,” Hasyi kini rela Hasya melupakannya, namun dia tetap senang dia dan Hasya bisa selamat.  

Hasyi berniat menemui Lanza dan teman-temannya yang lain untuk mengucapkan terima kasih.

 

***

Lanza mengenakan pakaian ala preman agar identitasnya sebagai polisi tidak diketahui pemberontak. Ia mencegat Hasya yang sedang berlari dengan keempat kaki wujud siluman harimaunya.

“Tenanglah Ratu Hasya, saya Lanza, saya mantan komisaris polisi kerajaan, saya teman kakak Anda, Hasyi,” ujar Lanza sambil menunjukkan kartu identitasnya sebagai komisaris polisi di depan wajah harimau Hasya.

Lanza langsung memanggil Hasyi yang awalnya bersembunyi di balik gang gedung dan tampak agak letih mendorong kursi roda Hasya. Seketika wajah Hasya semingrah. Ia pun kembali berubah wujud dari harimau putih menjadi manusia berkaki dua. Ketika kembali dengan wujud manusianya, ia mengangkat tinggi-tinggi tangannya seolah sedang berdoa. Hasyi dan Lanza membantu kaki Hasya yang lumpuh dalam wujud manusianya kembali duduk di kursi roda.

Hasya mendekap Hasyi setelah berhasil kembali duduk di kursi roda, seakan ia tak akan melepaskan dekapan itu untuk selamanya

“Kupikir ingatanmu telah dihapus dan kau melupakan aku,” tanya Hasyi masih menangis di dalam dekapan adik kembarnya. Ia tak menyangka kutukan pria siluman api itu tak terjadi. Ia bersujud bahagia melihat adik kembarnya masih mengingat dirinya.

 “Jangan bicara begitu kau adalah kakak terbaik di dunia yang pernah kumiliki. Aku tak akan pernah melupakanmu, tak ada kekuatan di dunia ini yang mampu membuatku bisa melupakanmu!” ujar Hasya.

Hasyi melepaskan pelukannya. Ia celingukan seperti mencari sesuatu. “Mana Sinbad, Hasya?”

Sesaat Hasya terdiam. Ia menundukkan kepalanya. “Kami terpisah sejak pelarian dari istana, Kak. Entah bagaimana nasib Sinbad, aku tak tahu, maaf Kak…” ujar Hasya yang mulai terisak.

Hasyi terperanjat. Tak menyangka akan kehilangan Sinbad. Ia kembali terngiang pesan pria siluman api tentang kehilangan Hasya. Ternyata bukan Hasya yang menghilang, melainkan Sinbad. Apakah Sinbad menghilang demi bertukar nasib dengan Hasya? Entahlah, Hasyi tak bisa berpikir terlalu jauh. Ia hanya bisa berharap di luar sana Sinbad baik-baik saja. Ia masih percaya kelak akan menemukan Sinbad kembali.

Hasyi lantas melirik ke arah Kastil Herlingen di perbatasan Kota Rumeli Hisari yang sudah terbakar dengan matanya yang masih basah. ”Selamat tinggal rumah, mungkin aku belum bisa merasakan hidup bahagia di dalamnya dengan seluruh anggota keluarga utuhku, namun aku akan terus menjaga apa yang disebut rumah terakhir yang masih kumiliki,” Hasyi melirik Hasya.

“Rumah sesungguhnya bukanlah bangunan seperti yang aku pikirkan, hingga dulu aku tak mau meninggalkan rumahku dan berpetualang ke dunia luar yang indah ini. Namun rumahku sesungguhnya adalah kau, Hasya. Rumah sesungguhnya adalah tempat aku bisa berada di sisi orang yang menyayangiku di manapun aku berada.” Hasyi bergumam ketika Hasya mulai tertidur di kursi rodanya.

Hasyi mendorong kursi roda Hasya, hatinya campur aduk antara sedih dan bahagia menuju arah matahari terbenam di tepi pantai yang tak jauh dari Kastil Herlingen. Kupu-kupu yang awalnya Hasyi lepaskan dari toples Hasya, hinggap di kepala Hasya yang sedang tertidur dengan wajah imutnya saat Hasyi mengerahkan sisa tenaganya untuk mendorong kursi roda. Seakan mengucapkan selamat tinggal, kupu-kupu itu kian cepat mengepakkan sayapnya dan lalu terbang menuju cahaya senja.

 

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "Miggleland Dream (Bab 65)"