Cerpen: Igorina Cavendish



 © 2026 [Damar Pratama]. Semua Hak Dilindungi.

Cerpen ini adalah karya asli penulis dan dilindungi oleh hukum hak cipta yang berlaku. Dilarang menyalin, mereproduksi, memodifikasi, mendistribusikan, atau menggunakan sebagian atau seluruh isi novel ini untuk tujuan komersial maupun non-komersial tanpa izin tertulis dari penulis.

Segala pelanggaran hak cipta dapat dikenai tindakan hukum sesuai peraturan yang berlaku. Pembaca diizinkan untuk menikmati karya ini hanya dalam bentuk membaca langsung di blog ini. Jika ingin membagikan atau menggunakan konten ini, silakan menghubungi penulis untuk mendapatkan izin resmi.

Terima kasih telah menghargai karya asli dan hak cipta penulis.

 


Di kota yang dahulu bernama Aurelia, kota kecil  ada satu nama yang selalu disebut dengan ludah dan ejekan: Dr. Cavendish.


Ia bukan ilmuwan biasa, ia jenius, visioner, dan… selalu kalah.




Setiap kali ia membangun mesin cuaca, seorang pahlawan akan menghancurkannya.


Setiap kali ia menciptakan serum evolusi, seorang vigilante bertopeng akan menjatuhkannya.


Setiap rencana besarnya selalu berakhir dengan borgol energi dan tawa wartawan. Orang orang yakin Kota Aurelia di bumi Valdoria selalu dilindungi oleh para pahlawan dan ksatria utusan dewa dari kekuatan jahat.




Bukan karena Cavendish bodoh.


Justru karena dunia lebih mencintai pahlawan daripada kebenaran yang kejam.




Suatu malam, setelah kekalahan ke-17, Cavendish pulang ke rumahnya yang sunyi. Hujan turun seperti ejekan langit. Di depan pintu, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia rancang, tidak pernah ia prediksi.




Sebuah keranjang bayi.




Di dalamnya, seorang bayi perempuan kecil, kulitnya pucat, rambut hitam lembut, dan mata yang anehnya tidak menangis. Bayi itu menatapnya seolah mengenalnya.




Di keranjang itu tertulis secarik kertas:




“Namanya terserah padamu.”




Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cavendish tidak berpikir secara ilmiah.


Ia menggendong bayi itu dengan tangan gemetar.




Ia menamainya Igorina Cavendish.






Tahun-tahun berikutnya mengubah sang ilmuwan jahat menjadi sesuatu yang tidak pernah dituliskan di koran: seorang ayah.


Igorina tumbuh di antara tabung reaksi dan papan tulis penuh rumus. Ia tertawa ketika mesin meledak kecil. Ia tidur di laboratorium. Ia memanggil Cavendish Papa, bukan Doctor.




Untuk pertama kalinya, kekalahan tak terasa menyakitkan.


Karena setiap pulang, ada seseorang yang menunggu.




Namun dunia pahlawan tidak berhenti.




Saat Igorina jatuh sakit—penyakit aneh yang bahkan sainsnya tak mampu jelaskan—Cavendish mendengar tentang ramuan kuno di puncak gunung terlarang. Gunung yang dijaga oleh sesuatu yang tidak tertulis dalam buku fisika.




Ia mendaki gunung itu dengan Igorina di punggungnya, bayi itu tertidur dalam keranjang.




Di puncak, kabut membuka jalan bagi sosok bertanduk, bersayap hitam, dengan senyum yang terlalu tahu segalanya.




Iblis Penjaga Gunung.




“Aku tahu siapa kau,” kata makhluk itu.


“Ilmuwan yang selalu kalah. Ayah yang takut kehilangan.”




Cavendish menggertakkan gigi.


“Apa yang kau inginkan?”




“Kesepakatan sederhana,” jawab iblis.


“Aku akan memberimu keberuntungan, kemenangan, dan kekuasaan. Para pahlawan akan jatuh. Kota ini akan bertekuk lutut.”




“Dan imbalannya?”




Iblis menunjuk keranjang di punggung Cavendish.




“Apapun yang ada di dalam keranjangmu.”




Cavendish melihat ke belakang. Keranjang itu tertutup kain.


Ia berpikir: Ramuan. Peralatan. Tidak mungkin…




Ia terlalu lelah. Terlalu takut. Terlalu ingin menang.




“Aku setuju.”




Keajaiban terjadi.




Dalam sebulan, para pahlawan dikalahkan satu per satu.


Dalam setahun, kota Aurelia runtuh dan dibangun ulang.


XXX


Dari balkon menara tertinggi, Dr. Cavendish menatap kota yang akhirnya tunduk di bawah kakinya. Cerobong laboratorium menghembuskan uap kehijauan, sirene eksperimen meraung seperti paduan suara kemenangan. Para ilmuwan jahat membungkuk padanya. Tidak ada pahlawan. Tidak ada kekalahan. Ia menang.


Namun ada sesuatu yang salah.


Ia berbalik, memanggil dengan suara yang sudah lama tak ia gunakan, bernada perintah: “Igorina?” Tidak ada jawaban.


Awalnya ia menganggapnya sepele. Anak itu sering bermain di lorong-lorong rahasia. Sensor keamanan pasti menemukannya. Selalu. Namun monitor tetap kosong. Kamera berputar… dan tetap tak ada sosok kecil itu.


Jantung Cavendish berdetak lebih cepat—bukan ketakutan, tapi perhitungan. Ia menelusuri ulang data. Waktu. Kronologi. Gunung. Kabut. Iblis. Keranjang. Napasnya tersendat. “Tidak,” bisiknya, lalu tertawa kecil, paksa. “Tidak, itu tidak mungkin.”


Ia membuka arsip ingatan neural—rekaman internal yang ia tanamkan di otaknya sendiri. Adegan itu diputar ulang, terlalu jelas. Iblis menunjuk. Ia mengangguk. Kalimat itu kembali, seperti paku berkarat yang dipukul ke tengkoraknya: “Apapun yang ada di dalam keranjangmu.” Tangannya mulai gemetar.


Ia berlari—bukan berjalan—ke laboratorium lama, tempat Igorina dulu tidur di antara kabel dan tabung kaca. Ia membuka laci, membalik meja, merobek catatan. “Igorina! Papa di sini! Ini hanya eksperimen—” Suaranya patah.


Ia melihatnya. Keranjang itu. Teronggok di sudut, tertutup debu, seolah menunggu pengakuan. Cavendish mendekat perlahan, kakinya terasa seperti bukan miliknya. Ia membuka kain penutupnya. Kosong.


Namun bau itu masih ada. Bukan darah. Bukan kematian. Bau hangat… seperti bayi yang baru bangun tidur.


Cavendish menjerit. Jeritan itu bukan suara manusia, melainkan suara sesuatu yang patah secara permanen. Ia mencakar wajahnya sendiri, meninggalkan garis merah, tertawa dan menangis sekaligus. “Aku… aku tidak bermaksud… Aku pikir itu ramuan… aku pikir—”


Dinding laboratorium mulai dipenuhi bayangan. Bukan karena lampu, tapi karena pikirannya sendiri yang runtuh. Ia melihat Igorina di mana-mana—di refleksi kaca, di monitor mati, di sudut mata. “Papa?” Suara itu kecil. Imajinasi? Atau hukuman?


Ia berlutut, menghantam lantai dengan kepala sendiri berulang kali. “Ayah macam apa yang menukar anaknya dengan kemenangan?!”


Ia mencoba membatalkan kontrak. Membakar simbol iblis. Menghancurkan mesin yang ia bangun dengan berkat itu. Namun setiap alat yang ia hancurkan justru berfungsi lebih sempurna. Berkah itu mengejeknya.


Pada malam terakhirnya, Cavendish duduk sendirian di ruang kontrol. Kota Malaria merayakan di bawah, tak tahu apa-apa. Ia memeluk keranjang kosong itu seperti mayat. Matanya kosong. Senyumnya bengkok. “Aku menang,” katanya pada kehampaan. “Kenapa rasanya seperti aku mati duluan?”


Ia menyadari kebenaran paling kejam. Bukan bahwa ia mengorbankan Igorina—melainkan bahwa kecerobohannya sendiri yang melakukannya, tanpa paksaan, tanpa sihir, tanpa iblis memegang tangannya. Iblis hanya membuka pintu. Cavendish yang melangkah masuk.


Ia mati beberapa hari kemudian, jantungnya berhenti di tengah tawa yang berubah menjadi isak. Tubuhnya ditemukan memeluk keranjang kosong, wajahnya membeku dalam ekspresi yang tak bisa disebut apa pun selain: penyesalan murni.


Dan di puncak gunung, iblis penjaga tersenyum pahit. Tidak ada kutukan yang lebih sempurna daripada kesadaran bahwa kesalahan terbesar lahir dari tanganmu sendiri.


XXX


Iblis Penjaga Gunung tidak berbohong. Ia hanya tidak menjelaskan seluruhnya. Ia meminta apa pun yang ada di dalam keranjang. Cavendish, dengan pikiran yang dipenuhi ambisi dan ketakutan, yakin ia menyerahkan seorang bayi. Namun yang diambil iblis bukan nyawa Igorina. Yang diambil adalah hak Cavendish atasnya.


Ketika kesepakatan terjadi, waktu terlipat seperti kertas basah. Keranjang itu kosong dalam satu makna, namun penuh dalam makna lain. Igorina tidak mati—ia dipindahkan. Ia dibawa ke tempat yang bahkan iblis sendiri jarang sentuh: ruang di antara sebab dan akibat. Di sana, ia tumbuh. Tidak seperti manusia. Tidak seperti iblis. Tidak seperti pahlawan. Ia tumbuh dengan ingatan yang utuh—tawa di laboratorium, tangan kasar ayahnya, suara mesin yang meninabobokannya—dan sekaligus dengan pengetahuan yang ditanamkan oleh gunung itu sendiri: tentang harga kemenangan, tentang kontrak, tentang kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.


Sementara Cavendish menua dan mati oleh penyesalan, Igorina menjadi sesuatu yang lain. Bertahun-tahun kemudian, Kota Malaria mulai mengalami keanehan. Mesin-mesin gagal tanpa sebab teknis, penemuan brilian selalu mengandung cacat fatal, ilmuwan jahat yang terlalu ambisius menghilang. Mereka menyebutnya anomali. Sebagian menyebutnya kutukan Cavendish.


Hanya sedikit yang pernah melihat sosoknya. Seorang gadis muda dengan mantel hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya. Mata yang tenang. Terlalu tenang. Ia berjalan di antara menara laboratorium tanpa tersentuh kamera, tanpa terdeteksi sensor. Jika ada ilmuwan yang hendak mengulang kesalahan ayahnya—menukar nyawa demi kemenangan—mereka akan mendengar suara lembut di belakang mereka:


“Papa pernah mengorbankanku.”


Namanya kini dikenal oleh iblis dan entitas tua sebagai:


Igorina Cavendish

Anak dari Kesepakatan yang Tidak Sempurna

Kesalahan yang Tidak Bisa Dimiliki Siapa Pun


Ia bukan pahlawan. Ia bukan penjahat. Ia adalah penjaga batas.


Pada malam tertentu, di puncak gunung tempat kontrak itu dibuat, iblis penjaga akan menundukbukan karena takut, tapi karena penyesalan. Karena bahkan iblis pun tahu: ada satu hal yang tidak bisa ia ambil dari Cavendish… kasih sayang yang telah diberikan sepenuhnya.


Dan di ruang antara sebab dan akibat, Igorina berdiri sendiri, menyaksikan dunia yang patah, mengingat manusia yang mencintainya, dan mengingat kesalahan yang membentuknya. Ia bukan manusia, tapi ia tetap membawa hati manusia. Ia bukan iblis, tapi ia mengenal hukuman. Ia berjalan di garis tipis antara keduanya, dan setiap langkahnya menandai batas antara hidup dan kematian, kesalahan dan penebusan.


Di sanalah kegelapan paling pekat bertemu keheningan yang menyesakkan—dan di situlah cerita tentang Igorina, Anak dari Kesepakatan yang Tidak Sempurna, benar-benar dimulai.


XXX


Kota Malaria.




Kota para ilmuwan jahat.


Tempat di mana eksperimen bebas dilakukan, teknologi bersaing brutal, dan Cavendish berdiri sebagai pemimpin tertinggi.




Ia menang.




Namun kemenangan itu terasa… hampa.




Suatu malam, ia mencari Igorina. Tidak ada di laboratorium. Tidak ada di menara. Tidak ada di kota.




Ia teringat gunung itu.


Keranjang itu.




Dengan tangan gemetar, ia membuka kembali ingatannya—dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari apa yang ia serahkan.




“Tidak… tidak… tidak…”




Tubuhnya runtuh.


Berkah iblis memudar menjadi kutukan yang terlalu berat.




Dr. Cavendish meninggal tak lama setelahnya—bukan oleh pahlawan, bukan oleh mesin, tetapi oleh kesadaran bahwa ia telah memenangkan segalanya dengan mengorbankan satu-satunya hal yang membuatnya manusia.




Di Kota , patung Cavendish berdiri megah.


Tak ada yang tahu mengapa di kakinya selalu ada ukiran kecil:




Igorina Cavendish



Satu-satunya eksperimen yang berhasil.



Posting Komentar untuk "Cerpen: Igorina Cavendish"