![]() |
| Cerpen: Piranha Besi |
© 2026 [Damar Pratama]. Semua Hak Dilindungi.
Cerpen ini adalah karya asli penulis dan dilindungi oleh hukum hak cipta yang berlaku. Dilarang menyalin, mereproduksi, memodifikasi, mendistribusikan, atau menggunakan sebagian atau seluruh isi novel ini untuk tujuan komersial maupun non-komersial tanpa izin tertulis dari penulis.
Segala pelanggaran hak cipta dapat dikenai tindakan hukum sesuai peraturan yang berlaku. Pembaca diizinkan untuk menikmati karya ini hanya dalam bentuk membaca langsung di blog ini. Jika ingin membagikan atau menggunakan konten ini, silakan menghubungi penulis untuk mendapatkan izin resmi.
Terima kasih telah menghargai karya asli dan hak cipta penulis.
Di masa depan, dunia tidak lagi memandang superhero sebagai simbol harapan. Mereka dianggap sebagai ancaman.
Setiap kali monster muncul dan kota hancur akibat pertarungan, masyarakat tidak melihat siapa yang menyelamatkan mereka. Mereka hanya melihat gedung runtuh, jalan raya retak, jembatan ambruk, listrik padam, dan keluarga yang kehilangan rumah.
Televisi setiap hari menyiarkan satu kalimat yang sama:
“Jika superhero tidak ada, kerusakan ini tak akan terjadi.”
Padahal para superhero tidak menginginkan apapun.
Mereka tidak meminta uang.
Tidak meminta kekuasaan.
Tidak meminta penghormatan.
Namun manusia sama sekali tak berterimakasih dan menyalahkan mereka atas kerusakan infrastruktur saat melawan monster.
Akhirnya pemerintah dunia membuat keputusan besar superhero dianggap ilegal.
Semua aktivitas kepahlawanan dilarang.
Siapa pun yang menggunakan kekuatan di depan publik akan diburu.
Patung-patung pahlawan dihancurkan.
Museum superhero dibakar massa.
Anak-anak diajarkan di sekolah bahwa para superhero adalah penyebab penderitaan dunia.
Dan di antara semua nama yang dibenci manusia…
Satu nama paling ditakuti sekaligus paling dibenci
Wanita terkuat di bumi.
Makhluk yang mampu mengalahkan musuh apapun dengan satu pukulan.
Sudah tujuh tahun sejak Solar Eve terakhir terlihat.
Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi.
Sebagian percaya dia mati.
Sebagian percaya dia meninggalkan bumi karena membenci manusia.
Sebagian lain berharap dia benar-benar lenyap selamanya.
Padahal kenyataannya…
Solar Eve hidup sederhana di sebuah rumah kecil dekat danau di pegunungan Kanada bersama putrinya yang masih kecil.
Seorang anak perempuan yang manis dengan rambut hitam panjang dan mata keemasan seperti ibunya.
“Bunda, lihat! Aku menggambar kita!”
Putrinya berlari kecil membawa kertas bergambar keluarga.
Di gambar itu ada dirinya, Solar Eve, dan seorang pria tersenyum.
Suaminya.
Mendiang suaminya.
Solar Eve tersenyum kecil, tapi matanya redup.
“Ayah pasti suka gambar ini,” katanya pelan.
Putrinya memiringkan kepala.
“Kalau begitu kenapa Bunda sedih?”
Solar Eve tidak menjawab.
Karena ia teringat malam terakhir sebelum suaminya meninggal.
Hujan turun deras malam itu.
Suaminya terbaring lemah di rumah sakit setelah kecelakaan saat evakuasi warga ketika Solar Eve melawan monster raksasa.
Ironisnya, publik justru menyalahkan Solar Eve atas tragedi itu.
Padahal monster itulah penyebab semuanya.
Pria itu menggenggam tangan istrinya dengan lemah.
“Berhentilah jadi superhero…”
Solar Eve menangis.
“Aku tak bisa meninggalkan dunia begitu saja…”
“Kau sudah memberi mereka segalanya.”
“Tapi mereka tetap membutuhkan—”
“Mereka tidak mencintaimu, Eve.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada senjata apa pun.
Pria itu tersenyum tipis.
“Setiap kali kau memakai kekuatanmu… usia hidupmu akan berkurang 1 tahun setiap kau memakai kekuatanmu.”
Solar Eve menunduk.
Ia tahu itu benar.
Tubuhnya seperti matahari hidup.
Setiap ledakan energi mengorbankan umur.
Ia seharusnya bisa hidup hingga usia 1000 tahun.
Namun ratusan tahun hidupnya sudah hilang demi menyelamatkan bumi berkali-kali.
Kini…
Usia hidupnya sudah hilang hingga tersisa 75 tahun.
“Kalau kau terus memakai kekuatanmu…”
Pria itu menatap mata istrinya.
“…kau akan mati lebih cepat.”
Solar Eve gemetar.
“Dan anak anakmu yang masih kecil bisa menjadi yatim piatu…”
Itulah wasiat terakhir mendiang suaminya.
Tahun 2097.
Seluruh observatorium dunia mendeteksi sesuatu di luar tata surya.
Awalnya tampak seperti kabut hitam.
Namun semakin dekat…
Manusia akhirnya melihat bentuk aslinya.
Makhluk hidup.
Jumlah mereka mustahil dihitung.
Gelombang tanpa akhir.
Mereka disebut piranha besi dari galaksi andromeda.
Makhluk-makhluk itu berenang di luar angkasa seperti ikan di lautan kosmik.
Tubuh mereka terbuat dari logam hidup.
Gigi mereka mampu menggigit inti planet.
Mereka memakan serta menggerogoti planet apapun yang mereka temui.
Dan jumlah mereka… 1 quintiliun.
Planet demi planet habis dilalap.
Mars lenyap dalam empat jam.
Jupiter berlubang seperti buah busuk.
Bulan-bulan Saturnus berubah menjadi puing.
Lalu mereka datang menuju bumi.
Seluruh militer dunia menyerang.
Bom nuklir.
Laser orbital.
Meriam plasma.
Armada luar angkasa.
Tak ada yang berhasil.
Piranha-piranha besi hanya memakan misil-misil itu seperti remah roti.
Manusia gagal mengalahkan mereka.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menghina superhero…
Seluruh dunia melakukan sesuatu yang memalukan.
Mereka memohon.
Tanpa rasa malu sedikitpun memohon pada seorang superhero terkuat bernama Solar Eve.
---
Presiden dunia muncul di semua layar.
Wajahnya pucat.
“Kepada Solar Eve… kami mohon bantuanmu.”
Seluruh internet sunyi.
Orang-orang yang dulu menyebutnya monster kini menangis memanggil namanya.
“Selamatkan kami…”
“Please…”
“Kami tak ingin mati…”
Di rumah kecil dekat danau itu, Solar Eve menatap layar tanpa ekspresi.
Putrinya memegang bajunya.
“Mom… mereka jahat sama Mommy kan?”
Solar Eve diam.
“Mereka bilang Mommy monster…”
Hening.
“Kenapa sekarang mereka minta tolong?”
Pertanyaan polos itu menghancurkan hati Solar Eve lebih dari apa pun.
---
Malam itu, ia berdiri sendirian di tepi danau.
Langit dipenuhi cahaya merah.
Planet-planet di kejauhan mulai dimakan.
Suara suaminya seperti bergema di pikirannya.
“Berhentilah jadi superhero…”
Namun suara miliaran manusia juga terdengar.
“Tolong kami…”
Solar Eve menutup mata.
Lalu…
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun…
Ia terbang kembali ke langit.
Ketika Solar Eve muncul di orbit bumi, seluruh dunia menyaksikannya secara langsung.
Wanita bergaun putih itu tampak kecil dibanding lautan monster yang menutupi bintang-bintang.
Gelombang pertama piranha besi datang seperti tsunami kosmik.
Mereka membuka rahang logam raksasa.
Bersiap memakan bumi.
Solar Eve mengepalkan tangan.
Dan memukul.
Hanya satu pukulan.
Tidak ada ledakan besar.
Tidak ada teriakan dramatis.
Hanya cahaya.
Cahaya yang membelah ruang angkasa.
Dalam satu detik…
Miliaran piranha besi hancur menjadi debu logam.
Gelombang pertama lenyap.
Seluruh bumi bersorak histeris.
“SOLAR EVE!”
“PENYELAMAT KITA!”
Namun di tengah sorakan itu…
Solar Eve merasakan sesuatu.
Tubuhnya melemah.
Rambutnya perlahan memutih di beberapa bagian.
Satu tahun hidupnya hilang lagi.
---
Kemudian radar menunjukkan kenyataan mengerikan.
Gelombang kedua datang.
Lalu ketiga.
Lalu keempat.
Tak terhitung.
Gelombang yang tak ada habisnya.
Jumlah species piranha besi dari galaksi andromeda terlalu besar.
Bahkan jika Solar Eve menghancurkan miliaran setiap detik…
Mereka tetap akan terus datang.
Jenderal dunia memohon lagi.
“Kau satu-satunya harapan kami!”
“Kalau bukan kau, bumi tamat!”
“Selamatkan umat manusia!”
Namun kali ini…
Solar Eve tidak langsung bergerak.
Ia melihat foto kecil di sakunya.
Foto Putrinya yang tersenyum sambil memegang bunga matahari.
Jika ia terus bertarung…
Ia mungkin hanya punya beberapa tahun tersisa.
Mungkin kurang.
Dan anak anaknya yang masih kecil bisa menjadi yatim piatu.
Ia teringat kata-kata suaminya lagi.
“Sisakan hidupmu untuk dirimu sendiri…”
Solar Eve kembali ke rumah.
Putrinya sedang tidur memeluk boneka kecil.
Damai.
Hangat.
Normal.
Sesuatu yang tak pernah dimiliki Solar Eve sepanjang hidupnya.
Ia duduk di samping tempat tidur putrinya.
Lalu untuk pertama kalinya…
Solar Eve menangis.
Bukan karena monster.
Bukan karena manusia.
Tapi karena ia harus memilih.
Apakah menyelamatkan jutaan hingga miliaran manusia yang membencinya…
atau melarikan diri dengan seorang anak perempuannya yang manis ke planet lain dan menyisakan sisa hidupnya untuk bersama dengan putrinya.
Di luar sana, alarm kiamat berbunyi.
Langit berubah merah darah.
Piranha besi mulai menggigit atmosfer bumi.
Manusia berteriak ketakutan.
Dan di tengah semua itu…
Solar Eve memandangi putrinya.
Tangan wanita terkuat di alam semesta itu gemetar.
Karena bahkan seseorang yang mampu mengalahkan musuh apapun dengan satu pukulan…
Tidak selalu mampu mengalahkan pilihan hidupnya sendiri.
Keesokan harinya…
Langit bumi tiba-tiba kosong.
Tidak ada Solar Eve.
Tidak ada piranha besi.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi.
Sebagian percaya Solar Eve pergi bertarung sendirian di luar galaksi.
Sebagian percaya ia meninggalkan umat manusia untuk selamanya.
Sebagian lagi percaya ia akhirnya memilih menjadi ibu… bukan penyelamat.
Namun bertahun-tahun kemudian, seorang gadis kecil di planet jauh pernah berkata kepada ibunya:
“Bunda… apakah manusia di bumi masih membenci superhero?”
Wanita itu tersenyum sedih sambil menatap matahari asing di langit.
“Aku tidak tahu…”
“Tapi semoga suatu hari nanti…”
“…mereka belajar bersyukur sebelum semuanya terlambat.”

Posting Komentar untuk "Cerpen: Piranha Besi "