![]() |
| Cara Menghindari CTE pada Muay Thai, MMA dan Boxing: Fokus Teknik, Bukan Benturan Kepala. (Foto: Pixabay). |
Muay Thai dan boxing merupakan olahraga yang sangat baik untuk meningkatkan kebugaran, koordinasi, kecepatan, disiplin, dan kemampuan bela diri. Namun, seperti olahraga kontak lainnya, keduanya memiliki risiko paparan benturan pada kepala.
Salah satu kondisi yang menjadi perhatian dalam olahraga dengan benturan kepala berulang adalah chronic traumatic encephalopathy (CTE). CTE merupakan penyakit degeneratif pada otak yang dikaitkan dengan paparan benturan kepala berulang. Masalahnya, hingga saat ini belum tersedia pemeriksaan yang dapat memastikan keberadaan CTE pada otak seseorang yang masih hidup. Diagnosis definitif baru dapat dilakukan setelah kematian melalui pemeriksaan jaringan otak saat autopsi.
Kondisi tersebut membuat hubungan antara cedera kepala, CTE, gangguan mental, dan bunuh diri menjadi persoalan yang kompleks. Keberadaan CTE pada seseorang tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa penyakit tersebut menjadi penyebab perilaku atau kematiannya.
John Bateson dalam artikelnya The Strong Correlation Between CTE and Suicide yang diterbitkan pada 30 Juli 2025 di Psychology Today, mengemukakan bahwa sejumlah penelitian menemukan adanya CTE pada sebagian atlet muda yang meninggal karena bunuh diri. Namun, para peneliti menegaskan bahwa penyakit ini masih sulit didiagnosis pada orang yang masih hidup.
CTE Banyak Ditemukan pada Mantan Pemain NFL
Sejumlah penelitian terhadap otak mantan atlet profesional menunjukkan tingginya prevalensi CTE, khususnya pada mantan pemain sepak bola Amerika.
Chris Nowinski, seorang ilmuwan perilaku yang pernah bermain sepak bola di tingkat perguruan tinggi, mengatakan bahwa apabila suatu saat CTE dapat didiagnosis secara akurat pada orang yang masih hidup, temuan tersebut dapat menjadi titik balik besar bagi dunia olahraga.
Menurut data yang dikutip dalam laporan mengenai CTE, sekitar 99 persen otak mantan pemain NFL yang telah diperiksa setelah kematian menunjukkan tanda-tanda penyakit tersebut. Namun, angka ini perlu dibaca dengan hati-hati karena sampel otak yang tersedia untuk penelitian umumnya berasal dari keluarga yang secara sukarela mendonasikan jaringan otak, sehingga tidak selalu mewakili seluruh populasi mantan pemain NFL.
Salah satu mantan pemain yang meninggal karena bunuh diri adalah Junior Seau, linebacker All-Pro yang mengakhiri hidupnya pada 2012. Kasus Seau menjadi salah satu contoh yang kemudian mendapat perhatian luas dalam pembahasan mengenai cedera kepala dan CTE.
Risiko Tidak Hanya Mengancam Pemain Sepak Bola
CTE dan cedera kepala berulang bukan persoalan yang terbatas pada sepak bola Amerika.
Dunia pacuan kuda, misalnya, juga pernah dikejutkan oleh kematian dua joki akibat bunuh diri pada 2023. Mike Smith, joki yang memenangkan Triple Crown pada 2018 dan masuk Racing Hall of Fame, mengatakan bahwa ia mengetahui sejumlah pengendara lain yang juga mengalami persoalan serupa.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa paparan terhadap benturan kepala dapat terjadi dalam berbagai cabang olahraga, bukan hanya olahraga yang secara tradisional dikenal memiliki kontak fisik tinggi.
Hoki es, sepak bola, gulat, dan olahraga lainnya juga dapat melibatkan benturan kepala berulang. Karena itu, perhatian terhadap keselamatan otak atlet kini semakin meluas.
Atlet Perempuan Juga Menghadapi Risiko Gegar Otak
Risiko cedera kepala juga menjadi perhatian dalam olahraga perempuan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2017 oleh American Academy of Orthopedic Surgeons menemukan bahwa dalam olahraga yang dimainkan oleh atlet laki-laki dan perempuan secara terpisah, atlet perempuan memiliki kemungkinan mengalami gegar otak sekitar 12 persen lebih tinggi.
Sepak bola perempuan menjadi salah satu contoh yang menarik perhatian. Dalam penelitian tersebut, gegar otak mencakup sekitar 27 persen dari seluruh cedera yang tercatat pada sepak bola perempuan. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah tingginya frekuensi menyundul bola.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa CTE tidak hanya berkaitan dengan satu kejadian gegar otak (concussion). Penelitian menunjukkan bahwa paparan benturan kepala yang berulang merupakan faktor risiko penting. Karena itu, pendekatan paling masuk akal untuk mengurangi risiko adalah mengurangi jumlah dan intensitas benturan kepala sepanjang aktivitas olahraga.
Bagi orang yang ingin menikmati Muay Thai atau boxing untuk kebugaran dan pengembangan kemampuan teknik, latihan tidak harus berorientasi pada menerima atau memberikan pukulan keras. Justru, semakin baik seseorang mengatur metode latihan, semakin besar kesempatan untuk menikmati olahraga tersebut tanpa menjadikan benturan kepala sebagai bagian utama dari latihan.
1. Utamakan Latihan Teknik daripada Adu Pukulan
Tidak semua latihan Muay Thai atau boxing harus dilakukan dengan kontak keras.
Latihan dapat difokuskan pada:
- shadow boxing;
- pad work;
- heavy bag;
- footwork;
- kombinasi pukulan dan tendangan;
- latihan defense;
- latihan timing dan jarak;
- drill partner dengan kontak ringan;
- latihan clinch dengan intensitas terkontrol;
- latihan kondisi fisik dan kardio.
Metode tersebut memungkinkan seseorang mengembangkan teknik tanpa harus terus-menerus menerima pukulan ke kepala.
Tujuan latihan sebaiknya bukan membuktikan siapa yang paling kuat menerima pukulan, tetapi meningkatkan kemampuan secara bertahap dan konsisten.
2. Jika Sparring, Jadikan Sparring sebagai Latihan
Sparring tidak harus keras menyerupai pertandingan.
Untuk mengurangi paparan benturan kepala, sparring dapat dibuat lebih teknis dan berintensitas rendah. Partner sebaiknya memahami bahwa tujuan sesi tersebut adalah belajar, bukan memenangkan pertarungan.
Misalnya, sesi dapat difokuskan pada:
- pergerakan kaki;
- menjaga jarak;
- kombinasi teknik tertentu;
- defense dan counter;
- body shot dengan kontrol;
- clinch;
- penggunaan jab dan teep;
- situasi tertentu yang sudah disepakati sebelumnya.
Hindari budaya gym yang menganggap sparring keras sebagai ukuran keberanian atau kemampuan seorang petarung.
Sparring keras bukan persyaratan untuk menjadi lebih mahir.
Bahkan, seseorang dapat memilih untuk tidak melakukan sparring kepala sama sekali dan tetap mengembangkan kemampuan striking melalui pad, bag work, drill, dan latihan teknik.
3. Pertimbangkan Sparring Tanpa Pukulan Keras ke Kepala
Salah satu modifikasi yang paling sederhana adalah membuat aturan bersama bahwa pukulan ke kepala harus sangat ringan atau bahkan ditiadakan.
Dengan demikian, seseorang tetap dapat berlatih membaca gerakan lawan, menjaga jarak, melakukan defense, dan melakukan counter tanpa menjadikan kepala sebagai sasaran benturan keras.
Aturan seperti ini harus disepakati dengan partner dan pelatih sebelum latihan dimulai.
Partner sparring juga sangat penting. Pilih orang yang mampu mengontrol tenaga dan tidak mengubah sesi teknik menjadi pertandingan ego.
4. Jadikan Defense sebagai Bagian Utama Latihan
Kemampuan bertahan bukan hanya berguna untuk memenangkan pertarungan. Defense juga merupakan bagian penting dari pengelolaan risiko dalam olahraga kontak.
Dalam boxing dan Muay Thai, atlet dapat melatih berbagai teknik seperti:
- menjaga guard dengan benar;
- footwork dan menjaga jarak;
- parry;
- slip dan head movement;
- block;
- clinch;
- long guard;
- jab dan teep untuk mengontrol jarak;
- keluar dari posisi terdesak.
Namun, teknik defense tidak membuat seseorang kebal terhadap cedera kepala. Kesalahan tetap dapat terjadi, sehingga pengurangan paparan benturan tetap menjadi prinsip utama.
5. Latihan Otot Leher sebagai Pelengkap
Latihan kekuatan leher dapat menjadi bagian dari program conditioning. Leher dan otot di sekitarnya berperan dalam stabilisasi kepala.
Latihan dapat dilakukan secara bertahap dan dengan teknik yang benar, misalnya menggunakan latihan resistensi yang sesuai kemampuan.
Namun, penting untuk tidak menganggap latihan leher sebagai "pelindung CTE". Belum ada latihan leher yang dapat menjamin seseorang terbebas dari risiko cedera otak atau CTE.
Karena itu, latihan leher sebaiknya dipandang sebagai bagian dari kebugaran secara keseluruhan, bukan alasan untuk meningkatkan intensitas benturan kepala.
6. Jangan Memaksakan Latihan Setelah Benturan Kepala
Jika setelah terkena benturan seseorang mengalami gejala seperti sakit kepala, pusing, mual, gangguan keseimbangan, kebingungan, penglihatan terganggu, atau perubahan kemampuan berpikir, latihan harus dihentikan.
Jangan mencoba "menyelesaikan ronde" atau kembali berlatih hanya karena merasa masih mampu bergerak.
Cedera kepala perlu dievaluasi oleh tenaga medis yang sesuai. Kembali ke latihan kontak juga sebaiknya dilakukan secara bertahap dan mengikuti arahan tenaga kesehatan.
Yang perlu dihindari adalah melatih diri melewati gejala (training through symptoms).
7. Tidak Perlu Mengejar Pertandingan Profesional
Jika tujuan utama adalah kesehatan, kebugaran, hobi, atau menguasai teknik, seseorang tidak harus menjadikan Muay Thai atau boxing sebagai jalur kompetisi. Bahkan lebih baik jika anda dengan jujur mengatakan ke pelatih anda bahwa anda tidak tertarik sparring keras atau berkompetisi demi menghindari CTE agar pelatih bisa memilih latihan yang cocok dengan anda.
Mengikuti pertandingan, terutama pada level yang melibatkan kontak keras dan berulang, berarti menerima paparan benturan kepala yang berbeda dari latihan teknik biasa.
Karena itu, bagi orang yang ingin meminimalkan paparan trauma kepala, pilihan yang masuk akal adalah menjadikan Muay Thai atau boxing sebagai:
- olahraga kebugaran;
- latihan kardio;
- seni bela diri;
- latihan teknik;
- aktivitas rekreasi;
- sarana meningkatkan disiplin dan koordinasi.
Dengan pendekatan ini, seseorang tetap dapat memperoleh banyak manfaat olahraga tanpa harus mengejar karier sebagai petarung profesional.
8. Jangan Menganggap Headgear sebagai Solusi CTE
Headgear dapat memiliki fungsi tertentu dalam olahraga kontak, tetapi penggunaannya tidak berarti otak menjadi terlindungi sepenuhnya dari benturan.
Perlengkapan pelindung tidak boleh menjadi alasan untuk meningkatkan intensitas pukulan ke kepala.
Prinsip yang lebih penting tetap sama: kurangi jumlah dan intensitas benturan kepala yang tidak diperlukan.
9. Mengapa Mengurangi Benturan Kepala Penting?
CTE merupakan penyakit neurodegeneratif yang memiliki perubahan patologis khas pada jaringan otak. Salah satu cirinya adalah akumulasi abnormal protein tau pada area tertentu di otak.
Paparan trauma kepala berulang juga dapat berkaitan dengan perubahan lain pada otak, termasuk kerusakan pada jalur white matter dan proses peradangan.
CTE sendiri tidak dapat didiagnosis secara pasti pada orang yang masih hidup. Diagnosis definitif saat ini memerlukan pemeriksaan jaringan otak setelah meninggal. Karena itu, seseorang tidak seharusnya menyimpulkan bahwa perubahan mood, perilaku, konsentrasi, atau ingatan pasti disebabkan oleh CTE.
Berbagai kondisi lain juga dapat menyebabkan gejala serupa dan perlu dievaluasi oleh tenaga medis.
10. Prinsip Sederhana: Latihan Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras
Jika tujuan Anda adalah menikmati Muay Thai atau boxing dalam jangka panjang, pendekatan yang lebih konservatif adalah mengurangi benturan kepala sebanyak mungkin.
Anda tidak perlu menerima pukulan keras untuk belajar melakukan jab.
Anda tidak perlu terkena hook keras untuk belajar melakukan defense.
Anda tidak perlu menjalani perang di gym untuk menjadi lebih bugar.
Dan Anda tidak perlu mengikuti pertandingan profesional untuk mendapatkan manfaat dari Muay Thai atau boxing.
Latihan dapat diarahkan pada teknik, pad work, bag work, footwork, conditioning, drill, dan sparring yang sangat terkontrol—atau bahkan tanpa sparring kepala sama sekali.
Belum ada cara yang dapat menjamin seseorang pasti tidak akan mengalami CTE kecuali anda tidak pernah melakukan sparring keras atau kompetisi sama sekali. Namun, bukti mengenai hubungan antara paparan trauma kepala berulang dan CTE memberikan alasan kuat untuk mengurangi paparan benturan kepala yang tidak diperlukan.
Untuk praktisi Muay Thai dan boxing rekreasional, salah satu pendekatan yang paling konservatif adalah menjadikan olahraga sebagai latihan teknik dan kebugaran, bukan sebagai ajang adu ketahanan menerima pukulan.
Kurangi hard sparring, prioritaskan teknik dan defense, jangan berlatih ketika mengalami gejala setelah benturan kepala, dan pertimbangkan untuk tidak mengikuti pertandingan kompetitif jika tujuan Anda adalah olahraga dan kebugaran.
Dengan begitu, Muay Thai dan boxing tetap dapat menjadi bagian dari gaya hidup aktif tanpa menjadikan benturan kepala sebagai tujuan latihan.

Posting Komentar untuk "Cara Menghindari Gegar Otak dan CTE pada Muay Thai, MMA dan Boxing: Fokus Teknik, Bukan Benturan Kepala"