Novel: The Legend of Legendary Princess



Prolog: 

Dinasti Ming tidak pernah jatuh. Ming tetap kuat di selatan, melakukan reformasi militer, memperkuat armada, mempertahankan jalur perdagangan, dan secara perlahan berubah menjadi sebuah imperium kolonial. Ketika Portugis, Belanda, Inggris, dan Prancis mulai membangun koloni, Ming tidak hanya bertahan. Ming ikut berlayar.

Mereka mendirikan pelabuhan di Afrika Timur, membuka koloni di pulau-pulau Pasifik, membangun pos dagang di India, dan mulai memahami kenyataan yang selama ini dianggap milik Eropa: jika Eropa dapat menjajah dunia, Asia juga dapat melakukannya.

Namun ancaman terbesar bagi Ming tidak datang dari laut. Ia datang dari utara: bangsa Jurchen.

Pada mulanya para pejabat Ming menganggap Jurchen hanya sebagai ancaman perbatasan. Tetapi Jurchen menaklukkan Mongolia, lalu bergerak melintasi Siberia. Kekaisaran mereka berkembang ke barat hingga akhirnya Moskow jatuh.

Yang Mulia, mereka bukan lagi bangsa perbatasan.

Kaisar Ming memandang peta.

Kalau begitu, apa mereka?

Kerajaan.

Menteri tua itu menggeleng.

Lebih besar.

Imperium.


Tidak pernah muncul Dinasti Qing seperti yang dikenal dalam sejarah. Sebaliknya, orang-orang Manchuria membangun Kekaisaran Jurchen mereka sendiri. Mereka mempertahankan struktur sosial dan politik yang sangat tradisional: klan, bangsawan perang, loyalitas pribadi kepada Kaisar, dan organisasi militer berbasis banner.

Yang berubah bukan fondasi politiknya, melainkan kemampuan mereka. Mereka mengadopsi teknologi secara agresif. Kuda dan budaya perang stepa tetap menjadi bagian dari identitas mereka, tetapi di belakang kavaleri itu berdiri pabrik, gudang, birokrasi, dan jaringan transportasi yang semakin modern.

Jurchen akhirnya menjadi kekaisaran raksasa yang membentang dari Asia ke Eropa. Dalam perkembangan berikutnya, mereka juga akan memiliki wilayah di Amerika.

Ming dan Jurchen akhirnya menyadari bahwa perang terbuka di antara mereka tidak menguntungkan siapa pun. Ming menguasai laut; Jurchen menguasai daratan. Keduanya memiliki sesuatu yang diinginkan Eropa.

Mereka menandatangani sebuah perjanjian yang oleh orang-orang Eropa kemudian disebut Tordesillas Timur. Dunia dibagi ke dalam wilayah pengaruh. Ming memandang ke laut. Jurchen memandang ke daratan.

Namun ada satu klausul penting: jika Eropa menyerang salah satu imperium, yang lain akan membantu. Untuk pertama kalinya, dua kekuatan besar Asia bekerja sama.

Eropa mulai menyadari bahwa dunia tidak lagi dapat diperlakukan sebagai ruang kosong untuk dibagi-bagi oleh kekuatan Barat.

Meskipun Ming menjadi imperium kolonial dan Jurchen menjadi kekaisaran daratan raksasa, Eropa Barat tetap sekuat sejarah asli. Inggris, Prancis, Belanda, Portugal, dan kemudian kekuatan industri lainnya tetap mempunyai armada, modal, industri, perbankan, dan pengalaman kolonial.

Karena itu kolonialisme tidak menghilang. Eropa tetap berani masuk Asia, tetapi jauh lebih berhati-hati. Inggris masih mempunyai kepentingan besar di India. Prancis masih tertarik pada Indochina. Belanda tetap berusaha mempertahankan kepentingannya di Indonesia.

Perbedaannya adalah bahwa Eropa tidak lagi berhadapan dengan Asia yang terfragmentasi. Di belakang berbagai kerajaan dan koloni terdapat Ming dan Jurchen.

Asia menjadi arena perlombaan imperium: koloni Inggris, Prancis, Belanda, dan Portugis berdampingan dengan koloni Ming dan wilayah pengaruh Jurchen. Eropa masih kuat, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya pusat ekspansi.

Jurchen menguasai sebagian besar Asia Utara dan bergerak ke arah Eropa. Karena itu Asia Tengah menjadi medan persaingan baru. Inggris menginginkan jalur dari India menuju Afghanistan dan Asia Tengah. Jurchen menginginkan sabuk pengaman dan wilayah strategis untuk melindungi imperium mereka.

Great Game yang dalam sejarah asli terutama melibatkan Inggris dan Rusia berubah menjadi persaingan Inggris–Jurchen. Bedanya, Jurchen adalah kekuatan Eurasia yang jauh lebih besar dan langsung berbatasan dengan dunia yang dipengaruhi Inggris.

Napoleon Bonaparte tidak takut kepada raja-raja. Ia takut kepada peta. Karena peta menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dikalahkan oleh keberanian: Jurchen.

Pada saat Napoleon menguasai sebagian besar Eropa Barat, Jurchen telah memperluas kekuasaan sampai Austria dan wilayah Eropa lainnya. Wina berada di bawah panji naga.

Kalau kita tidak menghentikan mereka sekarang, mereka akan berada di Prancis.

Napoleon kemudian memutuskan untuk menyerang. Ia tidak bermaksud menaklukkan seluruh Asia. Tujuan yang lebih realistis adalah memukul Jurchen di Eropa Tengah dan mendorong mereka kembali dari Austria, Polandia, dan wilayah Eropa lainnya.

Prancis mengerahkan Grande Armée. Napoleon memenangkan pertempuran pertama, kemudian kedua, lalu ketiga. Eropa bersorak.

Tetapi Jurchen tidak wajib memberikan Napoleon pertempuran penentu. Mereka mundur, meninggalkan kota, menghancurkan persediaan, menyerang jalur komunikasi, dan menggunakan kavaleri untuk mengganggu logistik.

Jarak menjadi senjata. Semakin jauh pasukan Prancis bergerak dari pusat kekuasaannya, semakin panjang jalur logistiknya. Jurchen dapat kehilangan satu kota tanpa kehilangan kekaisaran.

Saya tidak perlu menaklukkan seluruh kekaisaran. Saya hanya perlu memaksa Kaisar Jurchen mundur dari Eropa.

Perang menjadi sangat panjang dan melelahkan. Inggris menikmati konflik itu karena mereka dapat membiarkan Prancis dan Jurchen saling menguras kekuatan.

Ming juga menjadi faktor. Karena Ming dan Jurchen telah bersekutu, Ming dapat menyerang kepentingan perdagangan Prancis di Asia atau membantu musuh Napoleon secara tidak langsung.

Jika Napoleon kalah, kemungkinan buruknya sangat besar: Grande Armée dapat hancur di wilayah Jurchen dan perang dapat berubah menjadi invasi balik ke Jerman dan bahkan Prancis. Jika Napoleon menang, ia paling realistis hanya mengusir Jurchen dari sebagian Eropa, bukan menghancurkan seluruh kekaisaran.

Jurchen tidak pernah benar-benar meninggalkan akar politik mereka. Mereka tetap mempertahankan Kaisar sebagai pusat legitimasi, keluarga bangsawan, klan, banner, birokrasi hierarkis, pengangkatan pejabat oleh Kaisar, hukum dan adat Jurchen, serta konsep kekaisaran universal.

Namun mereka mengadopsi teknologi industri Eropa dan mengembangkannya sendiri. Mereka memiliki pabrik baja, kereta api, telegraf, kapal uap, senapan modern, artileri, dan kemudian senapan mesin.

Prinsip mereka sederhana: teknologi Barat boleh diambil; politik Barat tidak harus diambil.

Kami akan mengambil teknologi Barat, tetapi tidak mengambil sistem politik Barat.

Modernisasi tidak otomatis berarti demokratisasi. Jurchen dapat memiliki universitas dan pabrik sambil tetap mempertahankan aristokrasi dan pemerintahan yang sangat hierarkis.

Struktur negara dapat digambarkan sebagai Kaisar, keluarga kerajaan dan bangsawan Jurchen, kepala klan atau banner, gubernur lokal, kemudian pemerintah lokal. Dengan demikian Jurchen tetap feodal, tetapi bukan kacau.

Jika Kaisar memerintahkan seorang kepala klan untuk menyediakan sepuluh ribu prajurit, kepala klan mengerahkan bawahannya. Dengan industri modern, prajurit tersebut menerima senapan, artileri, kereta api, telegraf, dan sistem logistik industri.

Kereta api menghilangkan sebagian kelemahan tradisional bangsa stepa. Pasukan dapat bergerak dari Siberia ke Polandia atau dari Manchuria ke Rusia dengan jauh lebih cepat. Telegraf memungkinkan perintah dari pusat kekaisaran bergerak lintas ribuan kilometer.

Kombinasi politik klan dan industri menciptakan sesuatu yang unik: kekuatan politik yang berakar pada loyalitas keluarga dan banner, tetapi memiliki daya hancur negara industri.

Sistem itu sangat kuat ketika Kaisar kuat. Namun sistem yang sama dapat menjadi sangat berbahaya ketika suksesi dipertanyakan. Jika seorang bangsawan memiliki ribuan pasukan sendiri, perebutan takhta dapat berubah menjadi perang saudara.

Selain itu, industri modern menciptakan kelas menengah: insinyur, dokter, guru, pedagang, administrator, dan pengusaha. Mereka mulai bertanya mengapa hak politik masih ditentukan oleh kelahiran dan klan.

Semakin modern ekonomi Jurchen, semakin sulit mempertahankan masyarakat feodalnya. Musuh terbesar kekaisaran pada akhirnya mungkin bukan Eropa atau Amerika, melainkan kelas terdidik yang mereka ciptakan sendiri.

Para pelaut Jurchen akhirnya mencapai Alaska sebelum Inggris. Pada awalnya wilayah tersebut berupa benteng, pelabuhan, kota dagang, dan koloni. Penduduk dari Asia bermigrasi ke Amerika Utara.

Jalur strategis berkembang: Siberia, Selat Bering , Alaska, Yukon , British Columbia, Pacific Northwest. Alaska menjadi jembatan antara Asia dan Amerika.

Ketika wilayah Amerika bertambah penting, Kaisar membagi kekaisaran menjadi dua pemerintahan besar.

Jurchen Barat menguasai Asia dan Eropa. Jurchen Timur menguasai Amerika Utara. Keduanya memiliki pemerintahan, tentara, dan administrasi sendiri, tetapi mengakui Kaisar Jurchen sebagai penguasa tertinggi.

Pembagian ini dapat berkembang menjadi semacam federasi kekaisaran: Jurchen Barat dan Jurchen Timur memiliki otonomi administratif, tetapi tetap berada di bawah satu dinasti.

Amerika Serikat berkembang dengan jalur ekspansi Atlantik Mississippi Great Plains Rocky Mountains Pasifik. Namun dalam dunia ini, ketika Amerika bergerak ke barat, mereka menemukan wilayah Jurchen yang sudah mapan di Pacific Northwest.

Jurchen Timur menjadi kekuatan besar di Alaska dan Pasifik Barat Laut. Inggris mempunyai Kanada di utara. Meksiko berada di selatan. Pasifik berubah menjadi medan persaingan antara Jurchen, Inggris, Amerika, Jepang, dan kepentingan Ming.

Amerika memandang Jurchen sebagai kekuatan asing yang menghalangi ekspansi ke Pasifik. Inggris memandang Jurchen sebagai ancaman potensial terhadap Kanada. Jepang melihat Jurchen sebagai kekuatan yang terlalu dekat dengan Asia Timur.

Ketika Perang Saudara Amerika pecah, Jurchen Timur mendukung Konfederasi.

Bantuan paling berharga bukan harus berupa ratusan ribu tentara. Jurchen dapat mengirim senjata, bubuk mesiu, artileri, kapal, bahan baku, uang, intelijen, instruktur, dan persediaan.

Kapal perang Jurchen mengancam blokade Union. Dengan wilayah Jurchen di Pacific Northwest dan Alaska, Pasifik menjadi front strategis tambahan. Union harus mempertahankan California, Oregon, Washington Territory, dan jalur perdagangan Pasifik.

Inggris menghadapi dilema karena Kanada berbatasan dengan Jurchen. Jika Jurchen terlalu agresif, Inggris dapat memberikan dukungan kepada Union. Prancis juga memiliki kepentingan di Meksiko, sehingga Texas dan wilayah selatan Amerika menjadi bagian dari permainan kekuatan internasional.

Konfederasi mungkin bertahan lebih lama karena bantuan Jurchen, tetapi masalah dasarnya tetap ada: Union memiliki populasi, industri, jaringan kereta api, kemampuan finansial, dan angkatan laut yang lebih besar.

Ketika Union dan Konfederasi sama-sama kelelahan, Jurchen melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Kami membantu kalian melawan Union.

Kemudian mereka menyerang.

Sekarang wilayah kalian berada di bawah perlindungan Kekaisaran Jurchen.

Konfederasi menolak. Namun ekonomi mereka hancur, pasukan kelelahan, dan persediaan menipis.

Jurchen merebut wilayah bekas Konfederasi. Texas menjadi salah satu target paling penting karena luas, kaya sumber daya, mempunyai akses ke Teluk Meksiko, dan jauh dari pusat kekuasaan Union.

Ironisnya, serangan Jurchen dapat mempertemukan kembali orang Utara dan Selatan. Mantan tentara Konfederasi dapat berkata bahwa mereka lebih memilih berdamai dengan Union daripada menjadi provinsi kekaisaran asing.

Kami ingin merdeka dari Washington, bukan menjadi koloni kekaisaran asing.

Jurchen memenangkan wilayah, tetapi mulai menghadapi masalah yang lebih sulit: perang gerilya.

Amerika Serikat sangat takut kepada Jurchen, bukan karena Jurchen primitif, tetapi karena mereka merupakan kekaisaran tradisional yang memiliki teknologi industri modern.

Dari sudut pandang Washington, kombinasi klan, bangsawan perang, loyalitas pribadi kepada Kaisar, organisasi banner, senapan modern, artileri, kereta api, telegraf, kapal uap, dan senapan mesin sangat mengancam.

Jurchen dapat memobilisasi masyarakat seperti konfederasi stepa, tetapi dengan senjata industri. Mereka juga dapat menggunakan kereta api dan telegraf untuk menghilangkan sebagian kelemahan geografis.

Namun Jurchen tetap mempunyai masalah besar: wilayahnya terlalu luas, penduduknya beragam, biaya militer sangat tinggi, dan klan-klan dapat menjadi pusat kekuasaan sendiri.

Ketika Jurchen menyerang Konfederasi setelah sebelumnya mendukungnya, Washington mengubah tujuan perang. Masalahnya tidak lagi sekadar Union melawan Confederacy. Kini Amerika menghadapi invasi asing.

Nasionalisme Amerika meledak. Identitas 'Utara' dan 'Selatan' perlahan digantikan oleh identitas 'Amerika'. Jurchen secara tidak sengaja menciptakan musuh bersama.

Inggris mulai mengkhawatirkan Kanada. Perbatasan Kanada–Jurchen menjadi salah satu perbatasan paling termiliterisasi. Meksiko takut menjadi target berikutnya. Prancis memperhitungkan kepentingannya di Meksiko. Amerika mulai membangun benteng, rel militer, tentara permanen, angkatan laut Pasifik, dan industri persenjataan.

Jurchen Timur berhasil memperluas kekuasaannya dari Alaska dan Pacific Northwest melalui wilayah barat dan tengah hingga menguasai hampir seluruh Amerika Serikat pada tahun 1890.

Washington menyerah. Pemerintah Amerika dibubarkan, dipindahkan ke pengasingan, atau beroperasi secara rahasia. Jurchen tidak hanya memperoleh wilayah. Mereka memperoleh industri, jaringan kereta api, tambang, pertanian, pelabuhan Atlantik dan Pasifik, serta sumber daya Amerika.

Jurchen tidak perlu membangun Amerika dari nol. Mereka mengambil alih sistem yang sudah ada dan menghubungkannya dengan jaringan imperium.

Kereta api menjadi senjata utama. Kaisar memerintahkan agar seluruh benua dihubungkan, sehingga tentara dan persediaan dapat bergerak dari New York ke Chicago, Denver, dan San Francisco, sementara jalur utara menghubungkan Alaska dan wilayah barat.

Inggris panik. Kanada kini berbatasan dengan kekuatan yang menguasai hampir seluruh Amerika Serikat. Kanada berubah menjadi negara benteng dengan garnisun, benteng, rel militer, dan dukungan Royal Navy.

Meksiko juga ketakutan. Jika Jurchen dapat menaklukkan Amerika Serikat, tidak ada jaminan Meksiko tidak menjadi sasaran berikutnya.

Prancis, Inggris, Spanyol, dan kekuatan Eropa lainnya mulai memperhitungkan Jurchen Timur sebagai kekuatan Amerika Utara, bukan lagi sebagai kerajaan asing yang jauh.

Jurchen mempertahankan sebagian pemerintahan lokal Amerika. Negara bagian dapat tetap ada, tetapi gubernurnya harus bersumpah kepada Kaisar. Struktur kekaisaran menjadi berlapis: Kaisar, gubernur Jurchen, elite lokal yang bersumpah setia, pemerintah negara bagian, kemudian masyarakat.

Ini memungkinkan Jurchen menghindari kehancuran total administrasi. Tetapi masalah legitimasi tetap ada.

Mengapa kami harus tunduk kepada Kaisar yang berada ribuan kilometer jauhnya?

Pertanyaan itu semakin kuat setiap generasi.

Tahun 1890 menjadi titik patah. Generasi pertama masih mengingat Amerika Serikat secara langsung. Mereka mengingat presiden, bendera, Union, Konfederasi, dan perang.

Generasi berikutnya lahir di bawah Jurchen. Mereka tidak lagi memiliki pengalaman langsung tentang Amerika merdeka.

Jurchen berharap waktu akan mengubah identitas penduduk Amerika.


BAB 1

Pada akhir abad ke-19, Kekaisaran Jurchen telah menjadi kerajaan yang tidak biasa. Wilayahnya membentang dari Asia hingga Eropa. Namun karena luasnya wilayah dan perbedaan kepentingan, kekaisaran tersebut secara perlahan berkembang menjadi dua dunia politik.

Di Eurasia berdiri Jurchen Barat, pusat lama kekaisaran.

Di seberang Samudra Pasifik dan Amerika Utara berdiri Jurchen Timur, wilayah yang pada awalnya hanya merupakan koloni tetapi kemudian berkembang menjadi kekuatan industri yang hampir mandiri.

Keduanya masih mengakui satu Kaisar Jurchen. Namun semakin lama, keduanya semakin berbeda.Jurchen Barat mempertahankan adat aristokrat, klan, dan tata upacara kuno. Jurchen Timur menjadi lebih modern.

Kota-kotanya dipenuhi rel kereta api, pabrik, pelabuhan, perusahaan minyak, bank, dan industri berat. Bangsawan Jurchen Timur masih mengenakan pakaian tradisional, tetapi mereka juga berbicara mengenai produksi baja, minyak bumi, jalur kereta api, dan perdagangan Amerika.

Perbedaan tersebut akhirnya menghasilkan penghinaan.

Pada suatu tahun, Kaisar Jurchen Timur melakukan perjalanan ke Eurasia untuk menghadiri Upacara Persatuan Darah Kekaisaran, sebuah ritual kuno yang dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Jurchen Timur dan Barat masih merupakan satu keluarga kekaisaran.

Kaisar datang bersama keluarganya. Ia hanya memiliki seorang anak. Seorang putri. Putri itu ketika masih kecil memiliki tubuh yang sangat lemah. Ia sering sakit. Para tabib istana bahkan tidak yakin apakah ia akan mencapai usia dewasa. Ketika rombongan Jurchen Timur tiba di istana Jurchen Barat, para bangsawan telah mengetahui keadaan tersebut. Mereka juga mengetahui sesuatu yang jauh lebih penting:

Kaisar Jurchen Timur tidak memiliki putra. Dalam tradisi lama, keadaan itu dianggap sebagai kelemahan politik.

Ketika upacara dimulai, para bangsawan Jurchen Barat sengaja menempatkan sang putri di posisi yang lebih rendah daripada sepupu laki-lakinya dari Jurchen Barat.

Sang putri belum cukup sehat untuk mengikuti seluruh rangkaian upacara. Ia duduk di belakang ayahnya.

Seorang bangsawan senior kemudian berkata dengan suara cukup keras untuk didengar seluruh aula:

"Keturunan Kaisar seharusnya mampu berdiri di hadapan leluhurnya."

Beberapa bangsawan tertawa kecil.

Yang lain menatap sang putri dengan kasihan.

Tetapi penghinaan terbesar datang ketika seorang pangeran Jurchen Barat berkata:

 "Jurchen Timur membutuhkan seorang penjaga, bukan seorang pewaris."

Ruangan menjadi sunyi.

Kaisar Jurchen Timur tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam tangannya.

Namun sejak hari itu, ia tidak pernah melupakan penghinaan tersebut.

Setelah upacara selesai, beberapa bangsawan Jurchen Barat berkumpul secara rahasia. Mereka mulai membicarakan masa depan Jurchen Timur. Menurut mereka, pemisahan administratif antara Timur dan Barat telah berlangsung terlalu lama.

Jika Kaisar Jurchen Timur meninggal dan hanya meninggalkan seorang putri, maka mereka mempunyai alasan untuk mengakhiri otonomi Jurchen Timur.

Seorang bangsawan bahkan mengatakannya secara terang-terangan:

"Ketika Kaisar Timur meninggal, kita akan mengembalikan Amerika kepada takhta yang sebenarnya."

Mereka tidak bermaksud meminta izin.

Mereka bermaksud menyerap Jurchen Timur kembali ke dalam pemerintahan Jurchen Barat.

Mereka mempunyai alasan yang tampak sah menurut adat karena pewarisnya perempuan, Jurchen Timur terlalu mandiri, pasukan Timur berkembang tanpa kendali langsung Barat, kekayaan minyak Timur semakin besar dan pusat kekuasaan sebenarnya tetap berada di Eurasia.

Tetapi ada satu masalah. Kaisar Jurchen Timur mengetahui rencana tersebut. Dan ia menolak tunduk.

Malam itu, Kaisar berdiri sendirian di balkon istana.

Di bawahnya terbentang kota. Ia memikirkan putrinya. Anak yang dulu hampir tidak mampu berjalan. Anak yang berkali-kali jatuh sakit. Anak yang oleh para bangsawan Barat dianggap tidak layak menjadi penguasa. Kaisar kemudian berkata kepada penasihatnya:

"Mereka berpikir Amerika adalah milik mereka."

Penasihat itu diam.

Kaisar melanjutkan:

"Kalau begitu kita akan membuat Amerika terlalu besar untuk mereka rebut."

Ia kemudian membuat sebuah keputusan yang akan mengubah sejarah.

Jurchen Timur harus menguasai Amerika Utara.

Bukan hanya wilayah yang sudah dimiliki. Bukan hanya koloni tapi seluruh benua. Mencakup Kanada, Amerika Serikat., Wilayah-wilayah perbatasan, Jaringan pelabuhan Atlantik dan Pasifik dan seluruh sumber daya yang diperlukan untuk membangun negara industri yang tidak mungkin ditaklukkan Jurchen Barat.

Kaisar kemudian memiliki sebuah keyakinan: "Jika putriku tidak memiliki banyak saudara laki-laki untuk melindunginya, maka aku akan memberinya sebuah benua."

Sementara ayahnya menyusun rencana politik, sang putri tumbuh

Ketika masih kecil, ia memang sangat sakit-sakitan. Ia mengalami demam berkali-kali.Ia sering harus beristirahat.

Para bangsawan bahkan mulai menyebutnya secara diam-diam sebagai "Putri Porselen."

Mereka mengira tubuhnya akan selalu lemah.

Mereka salah.

Ketika memasuki masa remaja, kesehatannya mulai membaik.

Ia berlatih setiap hari.

Ia mempelajari seni bela diri tradisional Jurchen.

Awalnya hanya beberapa menit. Kemudian satu jam. Kemudian beberapa jam. Ia belajar berkuda dan memanah. Ia belajar menggunakan pedang.

Ia mempelajari teknik pertarungan jarak dekat yang diwariskan oleh keluarga-keluarga militer Jurchen.

Tubuhnya semakin kuat. Dan sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan mulai terlihat. Ia sangat cerdas. Ia bukan hanya menguasai sejarah, politik, dan bahasa. Ia tertarik pada sesuatu yang bagi banyak bangsawan dianggap sebagai pekerjaan para pedagang:

Ayahnya pertama kali membawa putrinya ke sebuah kilang ketika ia masih sangat muda.

Putri itu berdiri di hadapan mesin-mesin besar sambil memperhatikan para insinyur.

Ia bertanya "Mengapa minyak mentah harus dipisahkan?"

Insinyur menjelaskan mengenai fraksi minyak. Ia bertanya lagi:

"Mengapa kita menjual sebagian hasilnya jika kita bisa menggunakannya untuk industri sendiri?"

Insinyur itu terdiam.

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana.

Tetapi sang Kaisar langsung menyadari sesuatu.

Putrinya tidak melihat minyak sebagai komoditas.

Ia melihat minyak sebagai  fondasi kekuasaan.

Ia kemudian memberinya akses terhadap laporan perusahaan minyak.

Putrinya membaca semuanya.

Produksi.

Cadangan.

Biaya transportasi.

Kilang.

Pipa.

Harga minyak.

Kapal tanker.

Lokasi ladang minyak.

Kebutuhan militer.

Ia bahkan mulai mempelajari hubungan antara minyak dan industri berat.

Ketika usianya semakin dewasa, sang Kaisar mulai memberikan kepadanya tanggung jawab nyata.

Putri itu menjadi pengawas berbagai perusahaan minyak milik kerajaan.

Ia mengunjungi ladang minyak.

Ia memeriksa kilang.

Ia berbicara dengan insinyur.

Ia menegosiasikan kontrak.

Dan perlahan para direktur perusahaan mulai menyadari sesuatu:

Putri yang dahulu dianggap terlalu lemah untuk berdiri dalam upacara kini mampu membuat keputusan yang menentukan nasib ribuan pekerja.

Kemudian pecahlah Perang Saudara Amerika.

Kaisar melihat kesempatan.

Union dan Konfederasi sedang berperang satu sama lain.

Keduanya membutuhkan senjata.

Keduanya membutuhkan uang.

Keduanya membutuhkan kapal.

Dan Jurchen Timur memiliki semuanya.

Pada awalnya, Jurchen Timur menyatakan bahwa mereka hanya ingin membantu menjaga keseimbangan Amerika.

Namun sebenarnya sang Kaisar memiliki tujuan yang jauh lebih besar.

Ia membantu Konfederasi.

Senjata dikirim.

Mesiu dikirim.

Kapal dikirim.

Peralatan industri dikirim.

Para instruktur militer Jurchen Timur membantu pasukan Konfederasi.

Para diplomat Jurchen Timur bahkan berusaha memastikan perang berlangsung selama mungkin.

Sang Kaisar mengetahui bahwa Amerika yang terpecah jauh lebih mudah ditaklukkan daripada Amerika yang bersatu.

Tetapi sang putri mulai mempertanyakan strategi tersebut.

Ia berkata kepada ayahnya:

 "Jika kita membantu mereka menang, mereka akan menjadi kuat."

Kaisar tersenyum.

 "Karena itu kita tidak akan membiarkan mereka menang terlalu banyak."

Putrinya kemudian memahami rencana ayahnya.

Jurchen Timur tidak sedang memilih pihak.

Jurchen Timur sedang membeli waktu.

Perang akhirnya melemahkan kedua pihak.

Union kelelahan.

Konfederasi juga kelelahan.

Keduanya kehilangan jutaan manusia dan menghancurkan sebagian besar ekonomi mereka.

Kemudian Jurchen Timur bergerak. Kapal-kapal mereka memasuki pelabuhan, pasukan mendarat, jalur kereta api dikuasai dan Kota-kota strategis direbut.

Konfederasi, yang sebelumnya mengira Jurchen Timur adalah sekutu, menyadari kenyataan yang mengerikan.

Mereka telah membantu membangun kekuatan yang akan menghancurkan mereka.

Mantan tentara Union dan Konfederasi akhirnya menemukan musuh yang sama.

Namun mereka sudah terlalu lemah.

Jurchen Timur terus bergerak.

Selama beberapa dekade berikutnya, mereka memperluas kekuasaan ke seluruh Amerika Utara.

Dan pada akhirnya, pada tahun 1890, Washington menyerah.

Amerika Serikat tidak lagi menjadi negara berdaulat.

Benua Amerika Utara berada di bawah kekuasaan Jurchen Timur.

Kaisar kembali ke istana. Kini ia tidak lagi memiliki sekadar koloni. Ia memiliki jaringan industri Amerika,  ladang minyak, kilang, tambang, jalur kereta api,pelabuhan Atlantik, pelabuhan Pasifik, industri baja, pertanian raksasa dan populasi yang sangat besar.

Jurchen Timur telah berubah menjadi salah satu kekuatan terbesar di dunia.

Kaisar kemudian menghadap putrinya.

"Sekarang mereka tidak bisa lagi mengambil semuanya darimu."

Putrinya bertanya:

"Siapa yang dimaksud Ayah?"

Kaisar menjawab:

 "Sepupu-sepupumu."

Ia kemudian menunjukkan surat dari Eurasia.

Para bangsawan Jurchen Barat masih menuntut penyatuan kembali.

Bahkan keponakan laki-laki Kaisar di Barat mulai mengklaim bahwa sebagai laki-laki dari keluarga kekaisaran, ia lebih berhak memerintah Jurchen Timur daripada seorang putri.

Sang putri membaca surat itu.

Ia kemudian berkata:

"Jadi mereka masih menganggap saya tidak layak?"

Kaisar menjawab:

 "Mereka akan selalu menganggapmu tidak layak sampai kau membuktikan sebaliknya."

Putrinya tersenyum.

"Kalau begitu saya akan membuat mereka menyesal karena pernah meremehkan saya."

Sang Kaisar kemudian melakukan sesuatu yang kontroversial.

Ia mengumumkan kepada seluruh Jurchen Timur:

Putrinya adalah pewaris resmi takhta.

Bukan sebagai wali.

Bukan sebagai permaisuri.

Bukan sebagai simbol tetapi sebagai Kaisar Jurchen Timur berikutnya. Pengumuman tersebut mengguncang aristokrasi. Di Jurchen Barat, para bangsawan marah.

Seorang pangeran berkata:

"Seorang perempuan tidak dapat memimpin pasukan Jurchen."

Tetapi seorang jenderal Jurchen Timur menjawab:

 "Dia sudah mengelola perusahaan yang lebih besar daripada kerajaan kalian."

Yang lain berkata:

"Dia tidak mempunyai pengalaman perang."

Jenderal itu menjawab:

"Dia belajar bela diri sejak kecil dan menghabiskan hidupnya mempelajari ekonomi perang."

Kemudian ada kritik terakhir:

"Dia hanyalah seorang putri."

Jawabannya menjadi terkenal.

"Putri yang menguasai minyak, kereta api, industri baja, dan setengah Amerika Utara."

Pada usia dewasa, sang putri telah berubah sepenuhnya dari anak kecil yang dahulu sakit-sakitan. Ia menjadi perempuan yang sangat cantik dan berwibawa.

Namun kecantikannya bukanlah hal yang paling ditakuti lawan-lawannya, mereka takut pada  pikirannya.

Ia memahami bahwa kekuasaan modern tidak hanya berasal dari pedang, tapi berasal dari minyak.

Minyak menggerakkan kapal. Minyak menggerakkan kendaraan. Minyak menggerakkan mesin. Minyak memungkinkan perang modern. Minyak memungkinkan industri. Dan minyak memberikan uang untuk membiayai semuanya. Karena itu ia mulai membangun jaringan minyak Jurchen Timur menjadi sistem yang terintegrasi.

Ladang minyak , pipa , kereta api,  kilang, pelabuhan, armada, industri  dan militer semuanya terhubung. Ia bahkan mengatakan kepada ayahnya:

"Jurchen Barat mempunyai sejarah."

Ia menunjuk peta Amerika Utara.

"Kita mempunyai masa depan."

Kini muncul konflik yang jauh lebih besar.

Jurchen Barat mempunyai tradisi, aristokrasi, wilayah Eurasia, dan klaim sejarah. Sedangkan Jurchen Timur mempunyai Amerika Utara, minyak, industri, populasi, pelabuhan, dan generasi baru Jurchen-Amerika.

Dan di tengah kedua dunia itu berdiri seorang Kaisar tua yang mengetahui bahwa kematiannya dapat memicu perang saudara.

Di satu sisi adalah keponakan laki-lakinya, pewaris yang didukung sebagian aristokrasi Barat.

Di sisi lain adalah putrinya, pewaris yang dibesarkan untuk mempertahankan Jurchen Timur.

Ia tahu bahwa persoalannya bukan sekadar apakah seorang perempuan boleh menjadi Kaisar?

Persoalan sebenarnya adalah siapa yang berhak menentukan masa depan Jurchen?

Eurasia? Atau Amerika? Tradisi? industri? Klan? atau negara modern?

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Jurchen, seorang perempuan berdiri tepat di tengah pertanyaan tersebut.

Ia bukan lagi Putri Porselen. Ia telah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi para bangsawan Barat:seorang pewaris yang memiliki seluruh benua sebagai bentengnya. Namanya adalah Aisin Gioro Nara.

XXX

Munculnya Ming dan Jurchen sebagai kekuatan industri dan kolonial mengubah debat intelektual abad ke-19.

Rasisme ilmiah Eropa tidak otomatis hilang, tetapi klaim bahwa bangsa Eropa secara alami lebih mampu membangun peradaban industri menjadi jauh lebih sulit dipertahankan.

Seorang propagandis Eropa dapat mengatakan bahwa Jurchen atau Ming adalah pengecualian, bahwa mereka hanya meniru teknologi Eropa, atau bahwa mereka tetap inferior secara budaya. Namun kemenangan militer, universitas, industri, dan koloni Asia membuat argumen tersebut semakin tidak meyakinkan.

Ming dapat bertanya mengapa kolonialisme Eropa disebut peradaban sementara kolonialisme Ming disebut barbarisme. Jurchen dapat menunjukkan bahwa bangsa yang disebut barbar telah mencapai Moskow, Wina, Austria, Alaska, dan Amerika.

Namun rasisme tidak hilang begitu saja. Ia dapat bertahan sebagai prasangka etnis dan budaya. Bahkan Ming dan Jurchen sendiri dapat mengembangkan teori hierarki untuk membenarkan kolonialisme mereka.

Perbedaan terbesar adalah bahwa istilah 'Barat = modern, Timur = tradisional' tidak lagi sesuai dengan realitas. Dunia mempunyai beberapa pusat modernitas.

Pada akhir abad ke-19, dunia mulai melihat konflik bukan sebagai Barat melawan Timur, melainkan sebagai persaingan antara berbagai imperium industri.

Ketika Perang Dunia I pecah, Jurchen berada di tengah badai.

Jurchen Barat mengerahkan tentara dalam jumlah besar. Kereta api membawa pasukan. Pabrik bekerja siang dan malam. Senjata modern memenuhi gudang.

Pada awalnya Jurchen menang di berbagai front. Tetapi perang industri bukan sekadar perang keberanian. Ia membutuhkan produksi massal, birokrasi, perpajakan, transportasi, dan legitimasi politik.

Jurchen memiliki industri modern, tetapi struktur politik mereka masih bertumpu pada klan, bangsawan, banner, dan loyalitas personal kepada Kaisar.

Semakin lama perang berlangsung, semakin banyak masalah muncul: harga makanan naik, kereta api tidak mampu memenuhi kebutuhan, tentara mengalami korban besar, dan rakyat mempertanyakan alasan mereka harus terus berperang.

Kaisar meninggal bukan di medan perang, melainkan di tempat tidurnya.

Kematiannya membuka pintu yang selama berabad-abad selalu terkunci: perebutan suksesi.

Klan-klan memilih pihak. Tentara terpecah. Rusia memberontak. Austria menuntut kemerdekaan. Wilayah Eropa lainnya mulai bergerak menuju nasionalisme. Jurchen Timur di Amerika semakin menuntut otonomi.

Ming menawarkan mediasi. Inggris menawarkan bantuan. Jerman dan Prancis menunggu kesempatan.

Sebuah telegram tiba di istana.

JURCHEN TIMUR MENOLAK PERINTAH ISTANA BARAT.

Kaisar baru mengangkat kepala.

Siapa yang menulisnya?

Presiden Dewan Jurchen Timur.

Kirim perintah.

Sudah.

Jawabannya?

Mereka mengatakan mereka tidak menerima perintah.

Kaisar memandang peta.

Kalau begitu... mereka bukan lagi bagian dari kekaisaran.

Kekaisaran Jurchen tidak runtuh dalam satu hari. Ia pecah seperti kaca.

Austria merdeka. Rusia terpecah. Polandia berdiri sendiri. Italia bangkit. Amerika melakukan revolusi. Jurchen Timur memutuskan hubungan dengan istana Barat. Ming tetap berdiri. Eropa tetap berdiri.

Tahun 1921 menjadi tahun simbolis runtuhnya Kekaisaran Jurchen Barat.

Kejatuhan itu bukan semata-mata akibat satu kekalahan militer. Sistem feodal Jurchen tidak mampu sepenuhnya menyesuaikan diri dengan masyarakat industri, perang total, nasionalisme modern, dan komunikasi massal.

Ironinya, Jurchen telah bertahan terhadap Napoleon, Inggris, Amerika, dan berbagai koalisi Eropa. Yang akhirnya menghancurkan mereka adalah ketegangan internal sistem mereka sendiri.

Jurchen Timur tidak otomatis runtuh. Setelah berabad-abad berkembang di Amerika, mereka telah memiliki identitas sendiri.

Sebagian rakyat mengatakan: kami Jurchen, tetapi kami bukan orang Eurasia.

Jurchen Timur dapat berubah dari bagian kekaisaran menjadi dominion, kemudian federasi, dan akhirnya negara merdeka. Sebagian kelompok tetap setia kepada dinasti, sementara kelompok lain menginginkan republik.

Di Amerika, Thomas Reed berdiri di depan ribuan orang.

Kita tidak melawan rakyat Jurchen. Kita melawan kekuasaan yang mengatakan bahwa sebuah benua dapat dimiliki oleh satu keluarga.

Meriam Jurchen masih terdengar di kejauhan. Tetapi untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Thomas merasa Amerika benar-benar telah lahir.

Dunia memasuki abad ke-20 dengan peta yang sama sekali berbeda dari sejarah asli.

Ming menjadi imperium Asia dan maritim yang bertahan dan menjalankan kolonialismenya sendiri.

Jurchen Barat menjadi kekaisaran Eurasia raksasa sebelum akhirnya pecah akibat krisis modernitas, perang total, nasionalisme, dan konflik suksesi.

Jurchen Timur menjadi kekuatan Amerika Utara yang berakar pada tradisi Jurchen tetapi semakin dipengaruhi identitas Amerika.

Inggris tetap menjadi kekuatan maritim dan kolonial besar dengan Kanada sebagai wilayah strategis utama.

Prancis, Belanda, Portugal, Jerman, dan kekuatan Eropa lainnya tetap mempertahankan kekuatan industri dan kolonial mereka.

Amerika Serikat seperti yang dikenal dalam sejarah asli tidak pernah menjadi superpower abad ke-20 karena ditaklukkan Jurchen pada 1890.

Dunia tidak menjadi lebih sederhana. Dunia menjadi multipolar.

Tidak ada satu bangsa yang dapat dengan mudah mengklaim sebagai satu-satunya pusat modernitas. Tidak ada satu imperium yang dapat menganggap kolonialisme sebagai hak eksklusifnya.

Tetapi pertanyaan yang paling berbahaya tetap berada di dalam masyarakat Jurchen:

Jika negara kita sudah modern, mengapa pemerintahan kita masih diperintah seperti konfederasi klan?

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang.

Di satu sisi dunia, seorang anak Jurchen membaca kisah kejayaan para leluhurnya. Di sisi lain, seorang anak Amerika membaca kisah negaranya yang pernah hilang.

Di Asia, Ming masih membangun kapal.

Di Eropa, kerajaan-kerajaan baru menghitung kembali kekuatan mereka.

Di Amerika, bendera baru berkibar.

Dan di antara semuanya, dunia baru menyadari satu hal:

Imperium dapat menaklukkan benua. Tetapi tidak selalu dapat menaklukkan ingatan manusia.

Posting Komentar untuk "Novel: The Legend of Legendary Princess"