![]() |
| Foto: Psychology Today. |
Olahraga tidak hanya membuat otot bekerja lebih keras dan jantung berdetak lebih cepat. Aktivitas fisik juga dapat memengaruhi perhatian, hormon stres, serta kondisi emosional. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah mengetahui bahwa olahraga dapat membuat seseorang merasa lebih baik.
Menurut William A. Haseltine Ph.D. dalam Psychology Today.com, mekanisme perubahan suasana hati terjadi di dalam otak masih menjadi pertanyaan yang menarik.
Sebuah penelitian terbaru dari University Hospital Bonn memberikan gambaran mengenai proses tersebut. Dalam penelitian ini, 20 pria muda yang memiliki tingkat kebugaran tinggi mengikuti tiga sesi berbeda: olahraga interval intensitas rendah, olahraga interval intensitas tinggi, dan sesi kontrol dengan duduk tenang di atas sepeda. Sebelum dan setelah setiap sesi, peserta menilai suasana hati mereka. Para peneliti juga melakukan pemindaian otak saat peserta berada dalam kondisi istirahat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik mungkin membantu mempertahankan, bahkan memperkuat, komunikasi antara bagian-bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi dan proses berpikir ke dalam diri.
Olahraga Meningkatkan Suasana Hati Positif
Setelah melakukan kedua jenis olahraga, peserta mengalami peningkatan suasana hati positif yang cukup jelas. Peningkatan tersebut terlihat baik setelah olahraga intensitas rendah maupun intensitas tinggi. Sesi intensitas tinggi memang menghasilkan kenaikan yang sedikit lebih besar, tetapi perbedaannya belum cukup kuat secara statistik untuk menyatakan bahwa olahraga intensitas tinggi benar-benar lebih unggul.
Sebaliknya, duduk tenang selama sesi kontrol tidak menghasilkan peningkatan suasana hati positif yang serupa.
Menariknya, hasil untuk suasana hati negatif justru berbeda. Perasaan negatif menurun setelah peserta menjalani sesi istirahat, sedangkan kedua jenis olahraga tidak menunjukkan penurunan yang signifikan secara statistik. Tingkat kecemasan juga relatif tidak berubah pada ketiga kondisi.
Temuan ini kemungkinan berkaitan dengan karakteristik peserta. Mereka merupakan individu yang sangat bugar dan sejak awal memiliki tingkat depresi, kecemasan, serta suasana hati negatif yang rendah. Dengan demikian, ruang untuk menurunkan perasaan negatif memang relatif kecil.
Karena itu, para peneliti lebih tertarik pada pertanyaan lain: jika olahraga membuat seseorang merasa lebih positif, apakah perubahan tersebut juga dapat terlihat dalam aktivitas dan hubungan antarbagiannya di otak?
Amygdala dan Precuneus: Dua Bagian Otak yang Saling Berhubungan
Penelitian ini memberi perhatian khusus pada amygdala, struktur kecil yang berada jauh di dalam otak. Amygdala sering dikaitkan dengan rasa takut, tetapi fungsinya jauh lebih luas. Bagian otak ini membantu menilai berbagai informasi yang memiliki arti penting secara emosional.
Para peneliti kemudian melihat bagaimana aktivitas amygdala berhubungan dengan aktivitas di berbagai bagian otak lainnya.
Pada analisis terhadap seluruh otak, tidak ditemukan perubahan signifikan yang berkaitan dengan olahraga dalam hubungan antara amygdala dan bagian otak lainnya. Beberapa hasil penelitian sebelumnya mengenai hubungan amygdala dengan insula dan wilayah temporal juga tidak berhasil ditemukan kembali.
Namun, satu wilayah menarik perhatian: precuneus.
Precuneus berada di bagian belakang otak dan merupakan salah satu bagian penting dari jaringan otak yang aktif ketika seseorang mengarahkan perhatian ke dalam dirinya sendiri. Wilayah ini terlibat dalam refleksi diri, ingatan, dan pembentukan pengalaman internal. Penelitian sebelumnya juga mengaitkan precuneus dengan pengaturan emosi dan pengendalian perhatian.
Olahraga Mempertahankan Pola Komunikasi Otak
Dalam kondisi normal, aktivitas amygdala dan precuneus cenderung bergerak dalam arah yang berlawanan. Ketika aktivitas salah satunya meningkat, aktivitas bagian lainnya cenderung menurun. Pola hubungan seperti ini disebut antikorelasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah peserta menjalani sesi kontrol dengan duduk tenang, hubungan berlawanan antara kedua wilayah tersebut justru menjadi lebih lemah.
Olahraga tampaknya mencegah penurunan tersebut. Bahkan, setelah olahraga intensitas tinggi, terdapat kecenderungan hubungan yang berlawanan antara amygdala dan precuneus menjadi lebih kuat. Tiga area di dalam precuneus menunjukkan perbedaan yang signifikan ketika sesi olahraga intensitas tinggi dibandingkan dengan sesi kontrol.
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa manfaat olahraga terhadap suasana hati mungkin tidak hanya berkaitan dengan perubahan hormon atau respons tubuh. Aktivitas fisik juga tampaknya dapat memengaruhi cara jaringan otak yang berkaitan dengan emosi dan pemikiran internal berinteraksi.
Apa Kaitannya dengan Depresi?
Makna temuan ini menjadi lebih jelas jika dikaitkan dengan penelitian mengenai depresi. Pada orang dengan depresi berat, aktivitas jaringan otak yang mencakup precuneus dapat mengalami perubahan.
Jaringan tersebut berhubungan dengan pemikiran yang berpusat pada diri sendiri. Ketika aktivitasnya terlalu tinggi atau tidak teratur, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan ruminasi, yaitu kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan masalah, pengalaman buruk, atau pikiran yang mengganggu.
Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa hubungan normal antara amygdala dan precuneus dapat menjadi lebih lemah pada orang yang mengalami depresi. Dalam kondisi tertentu, kedua wilayah tersebut bahkan dapat menunjukkan pola aktivitas yang lebih serupa daripada bergerak berlawanan.
Dalam penelitian ini, olahraga intensitas tinggi tampaknya memperkuat pola komunikasi antarbagiannya yang lebih sering ditemukan pada otak sehat. Temuan tersebut juga sejalan dengan penelitian sebelumnya dari kelompok peneliti yang sama, yang menunjukkan bahwa latihan aerobik secara rutin selama beberapa bulan dapat memperkuat hubungan berlawanan antara amygdala dan precuneus.
Olahraga Bukan Sekadar Latihan untuk Tubuh
Selama ini, olahraga sering disebut sebagai salah satu cara menjaga kesehatan jantung, otot, metabolisme, dan kebugaran fisik. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa otak juga menjadi salah satu bagian tubuh yang merasakan manfaat aktivitas fisik.
Satu sesi olahraga saja mungkin sudah cukup untuk mengubah kondisi biologis otak secara sementara, termasuk lingkungan tempat berlangsungnya proses berpikir dan pengaturan emosi.
Meski demikian, penelitian ini belum bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa olahraga intensitas tinggi selalu lebih baik daripada olahraga intensitas rendah. Masih diperlukan penelitian untuk mengetahui jenis aktivitas apa yang paling efektif dalam menghasilkan perubahan pada jaringan otak, berapa lama perubahan tersebut bertahan, serta apakah olahraga secara rutin dapat memberikan dampak yang lebih permanen.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah efek tersebut juga dapat ditemukan pada orang yang mengalami gangguan emosional atau membutuhkan dukungan tambahan untuk mengatur suasana hati.
Jika penelitian selanjutnya mengonfirmasi manfaat tersebut, olahraga berpotensi memiliki peran yang semakin penting dalam menjaga kesehatan mental. Aktivitas fisik relatif murah, mudah dilakukan, dan sekaligus memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh.
Satu Sesi Olahraga, Satu Perubahan di Otak
Pelajaran terpenting dari penelitian ini bukan sekadar bahwa olahraga keras dapat membuat seseorang lebih bahagia. Temuan tersebut memberikan kemungkinan yang lebih menarik: bahkan satu sesi aktivitas fisik dapat meninggalkan perubahan yang dapat diukur pada jaringan otak yang mengatur emosi dan pengalaman internal.
Memahami perubahan tersebut dapat membantu para ilmuwan menjelaskan mengapa bergerak dan berolahraga memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap perasaan kita. Di masa depan, pemahaman tentang hubungan antara aktivitas fisik, otak, dan suasana hati mungkin membuka cara baru untuk memanfaatkan olahraga sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan emosional.

Posting Komentar untuk "Bagaimana Olahraga Mengubah Otak dan Suasana Hati"