(The Jabberwock, diilustrasikan oleh John  Tenniel).


Bab 1: Pembukaan yang Misterius

London, 1898.

Angin sepoi-sepoi musim panas menerpa jalan-jalan kota, membawa aroma bunga-bunga yang mekar di taman-taman.  Aku tinggal sendirian di sebuah apartemen di Baker Street, sebuah tempat yang sunyi namun penuh dengan jejak-jejak kehidupan seorang detektif. Dinding-dindingnya dipenuhi rak buku berisi literatur hukum, kasus-kasus kriminal, dan berbagai alat investigasi. Di sudut ruangan, terdapat meja kerja yang selalu berantakan dengan catatan, peta, dan beragam artefak yang berkaitan dengan penyelidikanku. Aroma tembakau sering kali memenuhi udara, menambah kesan misterius pada tempat ini.

Tingkah lakuku sering dibandingkan dengan Agustine Dupin, detektif terkenal yang ceritanya banyak diceritakan di London. Aku dikenal dengan metode deduktif yang tajam, kebiasaan memainkan biola di malam hari, dan kecenderungan untuk tenggelam dalam kasus-kasus yang rumit. Meskipun aku bekerja sendiri, reputasiku sebagai detektif yang skeptis dan kritis telah tersebar luas di seluruh kota.

Pagi itu, aku tengah duduk di ruang kerjaku, tenggelam dalam pikiran tentang kasus-kasus yang belum terpecahkan. Namun, pikiranku selalu kembali ke satu misteri yang belum terselesaikan—hilangnya kakak perempuanku, Alice Liddell. Pada tanggal 4 Juli 1862, saat Alice berusia 10 tahun, dia menghilang dalam perjalanan perahu bersama Charles Dodgson, yang lebih dikenal sebagai Lewis Carroll, dan saudara-saudara perempuanku yang lain.

Hari di mana bayangan masa lalu datang menghantuiku dengan kekuatan yang tak terduga.

Ingatan yang menyedihkan tentang saudara perempuanku, Alice, terus menghantui pikiranku. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu,  Alice bersama dengan saudara perempuanku yang lain, Lorina, sedang dalam perjalanan menyusuri Sungai Thames bersama seorang penulis muda yang aneh bernama Lewis Carroll. Tetapi saat itu, Lewis Carroll masih dikenal dengan nama aslinya, Charles Dodgson.

Aku ingat dengan jelas hari itu. Aku tidak ikut dalam perjalanan karena sakit. kakakku yang lain bersaksi jika Alice meminta Carroll untuk menghibur dia dan kedua saudara perempuanku, Edith dan Lorina, dengan sebuah cerita. Saat Pendeta Robinson Duckworth mendayung perahu, Carroll bercerita tentang seorang gadis bernama Alice dan petualangannya di sebuah dunia ajaib setelah dia jatuh ke dalam lubang kelinci. Kisah itu kemudian menjadi dasar dari bukunya yang terkenal, "Alice's Adventures in Wonderland."

Namun,  Alice dikabarkan menghilang. Kakak perempuanku hanya bersaksi bahwa Alice mengejar seekor kelinci putih. Carroll akhirnya memberikan naskah "Alice's Adventures in Wonderland" pada bulan November 1864 untuk mengenang kepergian Alice. Aku selalu merasa ada yang janggal dengan cerita itu, dan selama bertahun-tahun, aku mengumpulkan bukti yang mengarah pada kecurigaan bahwa Carroll mungkin terlibat dalam hilangnya Alice.

Lewis Carroll adalah seorang penulis, fotografer, pendeta Anglikan, dan matematikawan asal Inggris yang terkenal dengan dongeng anak-anaknya, Alice's Adventures in Wonderland. Carroll mempelajari matematika dan logika di Universitas Oxford dan kemudian menjadi pengajar di sana. Pada tahun 1861, dia ditahbiskan sebagai diakon di Gereja Katedral Kristus setelah menerima perintah suci dan berkomitmen untuk hidup selibat. Tahun 1865, dia menerbitkan Alice's Adventures in Wonderland lengkap dengan ilustrasi karya John Tenniel. Pada tahun 1871, dia menerbitkan sekuelnya berjudul The Hunting of The Snark, serta menulis puisi panjang berjudul Through the Looking-Glass.

Hari ini, sebuah petunjuk baru muncul. Di Universitas Oxford, tempat Carroll mengajar, aku menemukan sebuah jurnal pribadi miliknya. Di dalamnya terdapat foto-foto Alice dan anak-anak perempuan lain, beberapa di antaranya cukup mengganggu. Jurnal itu juga mengandung petunjuk yang mengarahkan pada kemungkinan bahwa Carroll adalah sosok di balik teror Jack the Ripper yang menghantui London.

Dengan jurnal itu di tanganku, aku merasa lebih dekat dengan kebenaran. Namun, bayangan Wonderland dan misteri yang menyelimutinya semakin mengaburkan jalan. Satu hal yang pasti, aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan kakakku dan mengungkap kebenaran di balik semua ini. Aku siap menghadapi segala rintangan, bahkan jika itu berarti harus berhadapan dengan keajaiban yang tak terduga dan bahaya yang mengancam dari dunia lain.

Di tengah keramaian kota, aku melangkah dengan mantap, topi tinggiku memberiku tampilan yang mengesankan di antara kerumunan. 

London berkembang pesat dengan populasi yang meningkat tajam. Kawasan-kawasan baru mulai dibangun untuk menampung ledakan populasi.  Kota yang sibuk dengan keramaian dan hiruk-pikuk aktivitas komersial dan industri. Jalan-jalan ramai dengan pedagang, pekerja, dan anak-anak.- Teknologi baru dan inovasi muncul di berbagai bidang, menciptakan suasana optimisme namun juga ketegangan sosial akibat perubahan cepat.

Teater dan seni pertunjukan sangat populer, dengan teater-teater seperti Royal Albert Hall menjadi pusat hiburan.

Banyak bangunan-bangunan bergaya Victoria yang mendominasi kota, termasuk rumah-rumah batu bata, gereja-gereja besar, dan stasiun-stasiun kereta api yang megah. Bangunan-bangunan penting seperti Istana Westminster dan Katedral St. Paul sudah ada dan menjadi ikon.

Area seperti Westminster dan City of London adalah pusat administrasi dan keuangan. Di sini terdapat banyak bangunan pemerintahan dan kantor-kantor perusahaan besar.
Perumahan kelas pekerja dan kelas menengah tersebar di seluruh kota, dengan kawasan kelas atas seperti Kensington dan Chelsea menjadi tempat tinggal kaum elit.

Jalan-jalan sempit dengan lalu lintas padat. Banyak jalan-jalan utama dipenuhi dengan toko-toko, pasar, dan fasilitas komersial.

London memiliki jaringan kereta api yang luas, dengan stasiun-stasiun utama seperti King's Cross, Paddington, dan Victoria menjadi pusat transportasi.

kereta kuda dan trem adalah sarana transportasi utama di dalam kota. Sungai Thames adalah jalur transportasi penting dengan kapal-kapal uap yang mengangkut penumpang dan barang.

Aku memejamkan mata sejenak, berusaha mengusir bayangan masa lalu yang selalu menghantuiku. Aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menemukan keberadaan kakak perempuanku, bahkan jika itu berarti melanggar batas-batas yang aku yakini.

Kutipan dari seorang teman lama terus bergema dalam pikiranku, "Ketika misteri datang menghampiri kita, tidak ada yang dapat menjamin bahwa dunia kita akan tetap seperti yang kita pikirkan."

Dengan tekad yang tak tergoyahkan, aku melangkah maju ke petualangan yang penuh misteri untuk menemukan kembali Alice, kakak perempuanku yang hilang di dunia yang aneh dan tak terduga.

Aku, Alistair, kembali ke Sungai setelah 30 tahun berlalu sejak kakak perempuanku, Alice, hilang di sana. Sebagai anak-anak, aku dan Alice sering bermain di tepi sungai tersebut. Hingga suatu hari, Alice menghilang tanpa jejak, dan penyelidikan polisi saat itu tidak membuahkan hasil.

Aku memutuskan untuk menyelidiki ulang kasus hilangnya kakakku. Aku berharap bisa menemukan petunjuk baru di tempat di mana semuanya bermula. Sungai itu masih tampak sama, tenang dan mempesona, tetapi di balik ketenangannya tersimpan banyak rahasia.

Saat memeriksa kembali tepi sungai, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ada sebuah bangunan tua yang dulu tidak ada di sana. Bangunan itu adalah bekas pabrik tekstil yang sekarang telah terbengkalai. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dan memutuskan untuk masuk dan menyelidiki.

Kutatap bangunan tua yang tidak kuduga di tepi sungai. "Apa ini?" gumamku, langkahku terhenti di depannya.

Di dalam pabrik tua itu, aku menemukan sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi. Saat masuk lebih dalam, aku menemukan tubuh seorang pria tua yang tampak sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Pria itu adalah Gerald White, seorang kaya raya yang terkenal di kota kecil tersebut. Gerald dikenal sebagai orang yang baik dan dermawan, sehingga kematiannya mengejutkan banyak orang.

Di dalam, aku terperangah melihat tubuh tua tergeletak. "Gerald White," bisikku, memandang wajah yang dulu begitu kukenal. Memulai Penyelidikan.

"Ada yang tidak beres dengan kematian Gerald," kataku pada diriku sendiri, mencoba memahami situasi.

"Aha! Ini bisa menjadi petunjuk," seruku saat menemukan peti besi tersembunyi di ruangan bawah tanah.

"Apa yang tertulis di sini?" gumamku, memeriksa dokumen-dokumen itu dengan cermat.

Telepon anonim membawaku pada sebuah pondok terpencil. "Ada yang disembunyikan di sini," bisikku saat menemukan lebih banyak bukti tersembunyi.

Aku segera melaporkan penemuanku kepada pihak berwenang, tetapi aku merasa ada kaitan antara kematian Gerald dan hilangnya Alice. Aku mulai menyelidiki latar belakang Gerald dan hubungannya dengan penduduk kota. Dari hasil penyelidikanku, aku menemukan bahwa Gerald ternyata memiliki banyak musuh tersembunyi.

"Apa yang kau temukan?" tanya seorang petugas polisi yang mengawasiku.

"Ada sesuatu yang aneh di sini," jawabku, memasuki bangunan itu.

Untuk mengetahui ini, aku mewawancarai beberapa penduduk kota dan mantan rekan bisnis Gerald. Dari wawancara tersebut, aku mendapatkan informasi bahwa meskipun di permukaan Gerald tampak baik hati dan dermawan, ada banyak orang yang tidak puas dan merasa dirugikan oleh tindakan bisnisnya. Beberapa pengusaha lokal menyebutkan bagaimana Gerald sering menggunakan taktik bisnis yang licik untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, membuat banyak orang marah dan merasa dikhianati.

Saat memeriksa lebih jauh ke dalam ruang bawah tanah pabrik, aku menemukan sebuah peti besi yang tersembunyi di balik dinding palsu. Setelah membuka peti besi itu, aku menemukan beberapa dokumen penting yang menunjukkan transaksi ilegal Gerald serta beberapa surat ancaman. Salah satu surat ancaman itu menunjukkan bahwa seseorang mengetahui rahasia Gerald dan menuntut uang tebusan.

Aku mulai mencocokkan catatan dan surat-surat ancaman dengan tulisan tangan orang-orang yang pernah bekerja dengan Gerald. Setelah menganalisis tulisan tangan dan membandingkannya dengan surat ancaman, aku menemukan bahwa tulisan tersebut milik seorang mantan rekan bisnis Gerald, Raymond Blackwood.

Suatu malam, aku menerima telepon anonim yang menyebutkan bahwa ada lebih banyak bukti tersembunyi di sebuah pondok terpencil milik Gerald. Dengan penuh kewaspadaan, aku menyelidiki tempat tersebut dan menemukan sebuah ruangan rahasia yang penuh dengan berkas-berkas keuangan. Di sana, aku menemukan laporan keuangan yang mencurigakan dan skema investasi yang rumit, yang menunjukkan pola penipuan.

Dengan bukti ini, aku menyusun rencana untuk menjebak pelaku. Aku mengatur pertemuan dengan Raymond, berpura-pura memiliki informasi baru tentang kasus Gerald. Pada pertemuan itu, aku secara tidak langsung memancing Raymond untuk mengungkapkan lebih banyak tentang keterlibatannya. Dalam percakapan tersebut, aku berhasil merekam pengakuan tersembunyi dari Raymond tentang hubungannya dengan Gerald dan motif balas dendamnya.

Namun, ketika semua tampak jelas, aku menemukan bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai. Raymond memiliki alibi yang kuat untuk malam pembunuhan. Aku mulai meragukan apakah Raymond benar-benar pelakunya atau hanya dikambinghitamkan.

Aku menyelidiki lebih dalam dan menemukan bukti baru yang mengarah ke orang lain. Beberapa surat ancaman dan dokumen menunjukkan bahwa Gerald juga terlibat dalam sengketa bisnis dengan seorang pengusaha lokal bernama Vincent Carter. Vincent memiliki reputasi sebagai orang yang tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya.

Aku memeriksa catatan telepon Vincent dan menemukan bahwa Vincent sering berkomunikasi dengan seseorang bernama Lisa Harper, seorang wanita yang bekerja sebagai sekretaris pribadi Gerald. Lisa ternyata memiliki hubungan rahasia dengan Gerald dan juga mengetahui banyak tentang bisnis ilegalnya.

Aku mulai mencurigai bahwa Lisa mungkin terlibat dalam pembunuhan Gerald. Saat menyelidiki lebih lanjut, aku menemukan bahwa Lisa memiliki motif kuat: dia ingin mewarisi kekayaan Gerald dan menghapus semua jejak kegiatan ilegalnya.

Dengan bukti-bukti tersebut, aku mengkonfrontasi Lisa. Pada awalnya, Lisa mencoba menyangkal semua tuduhan, tetapi bukti fisik yang ditemukan olehku tak terbantahkan. Lisa akhirnya mengakui bahwa dia dan Vincent bersekongkol untuk membunuh Gerald dan menghapus semua jejak kegiatan ilegalnya. 

XXX

Alistair menyadari Raymond Blackwood, mantan rekan bisnis Gerald White, menjadi tersangka utama dalam pembunuhan Gerald karena motif balas dendam yang kuat. Namun, alibinya yang kuat membuat Alistair mempertimbangkan kembali tuduhannya.

Pada malam kematian Gerald, Raymond berada di sebuah acara amal yang diselenggarakan oleh seorang pengusaha terkenal di kota. Acara tersebut dihadiri oleh banyak orang berpengaruh dan memiliki jadwal yang padat dari pukul 7 malam hingga tengah malam. Banyak saksi yang melihat Raymond sepanjang acara tersebut, termasuk beberapa tokoh masyarakat dan pengusaha lainnya.

Raymond memastikan untuk berinteraksi dengan banyak orang dan terlibat dalam berbagai kegiatan di acara amal tersebut. Ada foto-foto dan video yang diambil oleh fotografer acara yang menunjukkan kehadiran Raymond di berbagai titik waktu sepanjang malam, membuktikan bahwa dia tidak meninggalkan acara tersebut. Foto-foto ini tersebar di media  resmi acara amal, memberikan bukti visual yang kuat tentang kehadiran Raymond.

Banyak saksi mata yang bisa mengkonfirmasi kehadiran Raymond di acara amal. Pengusaha terkenal, tamu undangan, dan bahkan beberapa wartawan yang meliput acara tersebut mengingat interaksi mereka dengan Raymond. Beberapa dari mereka bahkan memiliki percakapan yang cukup lama dengan Raymond, memberikan kesaksian yang dapat diverifikasi oleh pihak berwenang.

Raymond memiliki tiket masuk acara yang diberi tanggal dan dicatat dalam sistem keamanan di pintu masuk. Selain itu, dia menggunakan layanan transportasi yang mencatat waktu dan rute perjalanannya, dari rumahnya ke lokasi acara dan kembali. Catatan perjalanan dari aplikasi transportasi ini memperkuat alibi Raymond, menunjukkan bahwa dia berada di tempat yang jauh dari lokasi kejadian pada waktu pembunuhan.

Alistair menyadari bahwa alibi Raymond terlalu kuat untuk diabaikan. Semua bukti fisik dan kesaksian mendukung bahwa Raymond tidak mungkin berada di tempat kejadian pada saat pembunuhan. Ini membuat Alistair mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa Raymond dijebak oleh pelaku sebenarnya.

Dengan alibi Raymond yang terbukti kuat, Alistair menggali lebih dalam untuk mencari pelaku sebenarnya. Dia mulai memeriksa jejak-jejak yang mungkin menunjukkan keterlibatan orang lain dan mempertimbangkan motif serta kesempatan dari pihak-pihak lain yang memiliki hubungan dengan Gerald.

Alistair menemukan beberapa bukti tambahan yang menunjukkan bahwa Lisa Harper dan Vincent Carter, yang awalnya tidak dicurigai, memiliki akses dan motivasi yang kuat untuk membunuh Gerald. Bukti-bukti ini termasuk catatan keuangan, komunikasi rahasia, dan jejak pembelian bahan kimia yang digunakan dalam racun.

Dengan alibi Raymond yang kuat dan bukti-bukti baru yang ditemukan, Alistair mampu mengarahkan penyelidikannya ke arah yang benar dan mengungkap kebenaran di balik pembunuhan Gerald White.

XXX

Untuk memastikan tanggal kematian yang tepat, Alistair menggunakan beberapa metode penyelidikan forensik dan analisis bukti yang kompleks.

Tubuh Gerald ditemukan di ruang bawah tanah pabrik tekstil tua oleh Alistair. Alistair segera memanggil petugas forensik untuk memeriksa tempat kejadian.

Tubuh Gerald menunjukkan tanda-tanda dekomposisi yang sesuai dengan kematian yang terjadi beberapa hari sebelum penemuan. Alistair mencatat detail-detail seperti kondisi kulit, rigor mortis, dan perubahan warna tubuh untuk memperkirakan waktu kematian.

Alistair memperhatikan bahwa suhu dan kelembaban di ruang bawah tanah cukup stabil, yang mempengaruhi laju dekomposisi tubuh. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, Alistair dapat lebih akurat memperkirakan waktu kematian.

Di dekat tubuh Gerald, Alistair menemukan sebuah jam saku yang berhenti pada waktu tertentu. Jam saku ini mungkin rusak saat atau setelah kematian Gerald, memberikan petunjuk waktu. Selain itu, ada kalender di meja kerja di ruang bawah tanah yang terakhir ditandai pada hari kematian.

Alistair menemukan beberapa surat kabar dan dokumen di dekat tempat kejadian yang bertanggal hari-hari sebelum penemuan tubuh. Ini membantu mempersempit jangka waktu kematian.

Dokter forensik memeriksa tubuh Gerald dan menemukan tanda-tanda keracunan yang konsisten dengan penggunaan tetrodotoxin. Gejala-gejala ini termasuk kelumpuhan otot dan tanda-tanda kerusakan organ dalam yang khas.

Meskipun teknologi tahun 1892 terbatas, ada beberapa tes dasar yang bisa dilakukan untuk mendeteksi racun. Alistair bekerja sama dengan ahli kimia lokal untuk melakukan tes sederhana pada sampel tubuh Gerald. Hasilnya menunjukkan adanya racun, meskipun jenis pastinya sulit diidentifikasi pada saat itu.

Alistair mewawancarai orang-orang terdekat Gerald, termasuk Lisa Harper dan Raymond Blackwood. Melalui wawancara ini, Alistair mendapatkan gambaran tentang aktivitas dan interaksi Gerald pada hari-hari menjelang kematiannya.

Beberapa saksi mata melaporkan melihat Gerald terakhir kali pada tanggal tertentu, yang membantu mempersempit waktu kematian.

Dengan menggabungkan semua bukti tersebut, Alistair menyimpulkan bahwa Gerald White meninggal pada tanggal tertentu di tahun 1892. Dia mencatat bahwa:

Kondisi dekomposisi tubuh sesuai dengan kematian yang terjadi sekitar 3-4 hari sebelum penemuan. Jam saku yang berhenti dan kalender yang ditandai memberikan petunjuk waktu yang spesifik. Surat kabar dan dokumen di dekat tempat kejadian membantu mempersempit jangka waktu.

Testimoni dari saksi mata dan wawancara dengan orang-orang terdekat membantu menguatkan perkiraan tanggal kematian.

Alistair menatap ruang bawah tanah yang gelap, di mana bayang-bayang menyelimuti dinding-dinding tua pabrik tekstil. Langkahnya terdengar samar-samar di lantai yang berdebu saat dia mendekati tubuh yang tergeletak di tengah ruangan.

Tubuh Gerald White terbaring tak bergerak di antara keheningan yang mencekam. Alistair segera memanggil petugas forensik, menunggu dengan gelisah sambil memperhatikan setiap detail sekelilingnya.

Ketika petugas forensik mulai menyelidiki, Alistair merenung, mencatat setiap detail yang bisa menjadi kunci dalam misteri kematian Gerald.

Dia pasti telah berada di sini selama beberapa hari, pikir Alistair, tapi pertanyaannya, berapa lama tepatnya?

Dia meneliti kondisi tubuh yang mulai membusuk, mencatat setiap tanda yang menunjukkan waktu kematian yang mungkin.

Saat matahari mulai menyinari ruang bawah tanah itu, Alistair memperhatikan lingkungan sekitarnya. Suhu yang stabil dan kelembaban yang rendah, dia menyimpulkan bahwa itu memengaruhi proses dekomposisi.

Di antara serpihan-serpihan debu, Alistair menemukan petunjuk: sebuah jam saku yang berhenti pada waktu tertentu dan kalender yang terakhir ditandai pada hari kematian. Petunjuk-petunjuk kecil ini memberinya harapan.

Dokumen-dokumen dan surat kabar yang tersebar di sekitar tempat kejadian memberikan petunjuk tambahan. Mereka membantu menyempitkan jangka waktu kematian.

Ketika dokter forensik melakukan pemeriksaan, Alistair menyimak dengan cermat. Tanda-tanda keracunan yang ditemukan sesuai dengan apa yang dia curigai. Namun, jenis racunnya masih menjadi misteri.

Dengan teliti, Alistair juga meneliti alibi orang-orang terdekat Gerald dan mendengarkan kesaksian saksi mata yang melihatnya sebelum kematiannya.

Setelah mengumpulkan semua bukti, Alistair duduk untuk merangkum kesimpulannya.

Gerald White meninggal pada tanggal tertentu di tahun 1892, pikirnya. Kondisi tubuhnya, catatan waktu, bukti dokumentasi, dan kesaksian semua mengarah pada itu.

Langit senja menyelimuti ruang bawah tanah yang sunyi saat Alistair meneliti bukti-bukti yang tersebar di depannya. Dengan hati yang penuh keyakinan, dia menyimpulkan bahwa tanggal kematian Gerald White adalah pada tanggal 20 Agustus tahun 1892.

Alistair memegang jam saku Gerald yang terhenti pada pukul 8:45 malam pada tanggal 20 Agustus, mempersempit waktu kematian. Itu adalah petunjuk penting yang tidak bisa diabaikan.

Di sudut ruangan, terdapat sebuah kalender di meja kerja yang terakhir ditandai pada tanggal 20 Agustus. Tidak ada tanda lebih baru setelah itu.

Setumpuk surat kabar dan dokumen di sekitar tempat kejadian bertanggal sebelumnya, namun tidak ada yang lebih baru dari tanggal 20 Agustus. Ini memberikan dukungan tambahan untuk kesimpulan Alistair.

Dengan berpegang pada bukti-bukti tersebut, serta analisis kondisi tubuh dan kesaksian saksi, Alistair yakin bahwa kematian Gerald White terjadi pada tanggal 20 Agustus 1892.

Dalam keheningan ruang bawah tanah yang kuno, kebenaran akhirnya terkuak. Namun, misteri masih menyelimuti motif di balik kematian tragis itu.

Dalam ruang bawah tanah yang sunyi, Alistair menghela nafas lega. Namun, dia tahu bahwa pekerjaannya belum selesai. Misteri ini hanya salah satu dari banyak yang menantinya.

Alistair menemukan kejanggalan bahwa pintu rumah Gerald tidak rusak atau terkunci secara paksa.

Alistair meminta polisi menggeledah Vincent dan  menemukan bahwa Vincent memiliki akses ke kunci cadangan rumah Gerald.

Alistair menemukan botol atau gelas yang mengandung sisa racun di tempat kejadian.

Dia menemukan sarung tangan yang sama digunakan oleh Vincent dengan orang lain, yang bisa ditemukan di tempat pembuangan sampah atau di tempat tersembunyi lainnya.

Barang bukti lain yang mengarah pada kehadiran orang lain di tempat kejadian, seperti jejak sepatu atau baju yang tidak milik Gerald atau Vincent.

Dengan fokus pada bukti fisik dan motif, meskipun tidak ada bukti komunikasi langsung, Alistair masih bisa menyimpulkan bahwa Vincent bekerja sama dengan seseorang dalam melakukan pembunuhan tersebut.

Kunci untuk memasuki ruangan itu hanya ada dua, satu dimiliki Gerald sendiri dan satu dimiliki oleh satu satunya asistennya, Lisa. Alistair menemukan bahwa kunci cadangan yang digunakan oleh Vincent untuk masuk ke rumah Gerald adalah kunci yang diberikan oleh Lisa. Hanya Lisa seorang yang diberikan kepercayaan oleh Gerald untuk memiliki kunci  di ruang pribadi Gerald di dalam pabrik itu sebagai sekertarisnya. Sangat janggal jika Vincent memiliki akses ke ke ruang pribadi Gerald tanpa bantuan pihak lain.

Lisa Harper, seorang wanita cerdas dan licik, merencanakan pembunuhan Gerald White dengan sangat teliti. 

Lisa memastikan memiliki alibi yang kuat untuk waktu pembunuhan. Dia merencanakan berada di sebuah acara sosial yang dihadiri oleh banyak saksi. Lisa mengatur agar Vincent Carter, rekan konspiratornya, bertindak sebagai pelaku langsung sementara dia memastikan kehadirannya di acara tersebut, sehingga dia memiliki bukti fisik dan saksi yang melihatnya.

Lisa memilih untuk menggunakan tetrodotoxin, racun yang ditemukan dalam ikan buntal. Racun ini sangat mematikan dalam dosis kecil dan menyebabkan kelumpuhan otot yang dapat tampak seperti serangan jantung. Racun ini sulit dideteksi dalam jumlah kecil karena gejalanya mirip dengan penyebab alami lainnya.

Lisa dan Vincent memastikan bahwa tempat kejadian pembunuhan tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan. Vincent masuk ke rumah Gerald menggunakan kunci cadangan yang diberikan oleh Lisa. Mereka mengatur ruangan sedemikian rupa sehingga tidak ada tanda-tanda perlawanan atau aktivitas mencurigakan. Semua barang tetap pada tempatnya, dan hanya racun dalam minuman Gerald yang menjadi penyebab kematiannya.

Lisa sangat berhati-hati untuk tidak meninggalkan sidik jari atau DNA di tempat kejadian. Dia mengenakan sarung tangan dan memastikan Vincent melakukan hal yang sama. Mereka juga membersihkan segala sesuatu yang mungkin mereka sentuh untuk menghilangkan jejak.

Lisa menggunakan posisinya sebagai sekretaris pribadi untuk mengakses dan menghapus atau memalsukan dokumen yang dapat mengaitkannya dengan kegiatan ilegal Gerald. Dia juga menghapus catatan keuangan yang menunjukkan aliran uang yang mencurigakan dan surat-surat ancaman yang bisa mengarah padanya. Semua ini dilakukan untuk mengaburkan motif sebenarnya dan mengalihkan kecurigaan.

Untuk memastikan bahwa penyelidikan tidak mengarah padanya, Lisa dan Vincent menyiapkan jejak palsu yang mengarahkan kecurigaan ke Raymond Blackwood, mantan rekan bisnis Gerald yang memiliki motif balas dendam. Mereka menulis surat ancaman palsu dengan meniru tulisan tangan Raymond dan meninggalkannya di tempat yang mudah ditemukan oleh polisi. Mereka juga memasukkan beberapa dokumen terkait Raymond ke dalam peti besi di ruang bawah tanah pabrik.

Lisa menggunakan aksesnya ke informasi di kantor Gerald untuk memantau perkembangan penyelidikan dan memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Dia juga memastikan untuk mempengaruhi opini orang-orang di sekitar Gerald, menciptakan narasi bahwa Gerald telah banyak merugikan orang lain, sehingga menciptakan lebih banyak tersangka potensial dan membingungkan penyelidikan.

Setelah kematian Gerald, Alistair melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap tubuh Gerald dan lingkungan sekitarnya. Dengan pengetahuannya tentang toksikologi, Alistair menyadari bahwa gejala yang ditunjukkan oleh tubuh Gerald mirip dengan efek dari racun tetrodotoxin. Namun, untuk memastikannya, Alistair membutuhkan lebih dari sekadar dugaan.

Alistair kemudian mulai menyelidiki sumber kemungkinan racun tersebut. Dia menemukan bahwa Lisa memiliki latar belakang dalam ilmu biologi dari universitas tempat dia kuliah, termasuk pengetahuan tentang toksin eksotis. Selain itu, dia menemukan bahwa beberapa minggu sebelum kematian Gerald, Lisa memesan bahan kimia dan perangkat laboratorium khusus yang dapat digunakan untuk mengekstrak tetrodotoxin dari ikan buntal.

Untuk menguatkan dugaannya, Alistair mencari catatan keuangan dan menemukan transaksi pembelian ikan buntal oleh Lisa melalui seorang pemasok yang tidak biasa. Ia juga menemukan bahwa Lisa menghabiskan waktu di laboratorium universitas dengan alasan penelitian pribadi. Alistair mengumpulkan bukti-bukti ini untuk menyusun kronologi dan metode yang digunakan oleh Lisa untuk meracuni Gerald.

Dengan bukti-bukti tersebut, Alistair mengkonfrontasi Lisa. Pada awalnya, Lisa mencoba menyangkal semua tuduhan, tetapi detail-detail kecil dalam penyelidikan Alistair, seperti catatan pembelian ikan buntal dan penggunaan laboratorium, tidak bisa dibantah. Lisa akhirnya mengakui bahwa dia dan Vincent bersekongkol untuk membunuh Gerald dan menghapus semua jejak kegiatan ilegalnya. Mereka juga terlibat dalam menghilangkan Alice karena dia mengetahui terlalu banyak.

Meskipun Alistair belum menemukan jasad kakaknya, ia berhasil memberikan keadilan bagi banyak korban dan mengungkap kebenaran yang tersembunyi di balik hilangnya Alice. Sungai Merah kini tidak lagi penuh dengan misteri bagi Alistair, meskipun kenangan akan Alice akan selalu melekat di hatinya.

Alistair tahu bahwa Lisa dan Vincent bekerjasama dalam kasus ini karena dia melakukan penyelidikan menyeluruh yang menghubungkan beberapa poin penting.

Alistair menyadari bahwa gejala yang ditunjukkan oleh tubuh Gerald mirip dengan efek dari racun tetrodotoxin, yang merupakan racun yang sulit didapat. Ini memicu kecurigaannya terhadap sumber racun.

Alistair menemukan bahwa Lisa memiliki latar belakang dalam ilmu biologi, termasuk pengetahuan tentang toksin eksotis seperti tetrodotoxin.

Alistair menemukan bukti bahwa Lisa memesan bahan kimia dan perangkat laboratorium khusus yang dapat digunakan untuk mengekstrak tetrodotoxin dari ikan buntal. Dia juga menemukan transaksi pembelian ikan buntal oleh Lisa melalui pemasok yang tidak biasa.

Alistair menemukan bahwa Lisa menghabiskan waktu di laboratorium universitas dengan alasan penelitian pribadi, yang mencurigakan.

Dari semua bukti ini, Alistair dapat menghubungkan titik-titik dan menyimpulkan keterlibatan Lisa dan Vincent dalam pembunuhan Gerald serta penghilangan jejak kegiatan ilegalnya.

XXX

ketenangan sehari-hari terguncang oleh berita pembunuhan seorang kolektor seni terkenal, Jonathan Blanchard. Insiden ini menarik perhatian Detektif Alistair Lidell, seorang pria dengan reputasi tak tertandingi dalam memecahkan kasus-kasus rumit. Alistair, yang dikenal karena kecintaannya pada permainan catur, memandang setiap kasus seperti sebuah papan catur di mana setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat.

Surat dari "Mad Hatter" yang dikirim kepada Alistair:


---


Tanggal: 8 Juni 1892


Kepada Detektif Alistair Lidell,

Saya, Mad Hatter, ingin menawarkan Anda sebuah tantangan yang menarik. Di balik topi pesta dan senyum yang merekah, London menyimpan misteri yang menunggu untuk dipecahkan. Tenggelamlah ke dalam kegelapan, Detektif Lidell, dan saksikan bagaimana dunia sebenarnya adalah sebuah permainan yang menarik.

Kabar tentang kematian Jonathan Blanchard mungkin telah mencapai telinga Anda. Namun, saya merasa ada lebih banyak yang harus Anda ungkap daripada yang terlihat pada pandangan pertama. Saya menantikan kecerdasan Anda dalam membongkar teka-teki ini.

Semoga surat ini menemukan Anda dalam keadaan sehat dan siap untuk menantang pikiran Anda.


Dengan hormat,

Mad Hatter


---

Meski Alistair mengangap surat itu hanya orang iseng. Dengan surat tersebut, Alistair mendapat tantangan baru yang menarik untuk memecahkan kasus pembunuhan Jonathan Blanchard.

Blanchard ditemukan tewas di ruang tamunya, di samping sebuah papan catur yang setengah dimainkan. Di sekelilingnya, tidak ada tanda-tanda perlawanan, dan pintu serta jendela terkunci dari dalam. Hanya ada sedikit petunjuk: sebuah catur hitam yang tergeletak di lantai, dan bekas tinta di jari Blanchard. Alistair segera mengetahui bahwa kasus ini bukan pembunuhan biasa.

Alistair memulai penyelidikannya dengan menanyai orang-orang terdekat Blanchard. Ada empat tersangka utama: Isabella, asisten pribadi Blanchard; Marcus, rekan bisnisnya; Rebecca, keponakannya yang akan mewarisi hartanya; dan Felix, seorang rival kolektor seni yang sering bersaing dengan Blanchard. Masing-masing memiliki alibi yang kuat, tetapi Alistair tahu bahwa salah satu dari mereka adalah pelakunya.

Dia kembali ke tempat kejadian, memeriksa papan catur dengan saksama. Alistair memperhatikan bahwa permainan tersebut menggunakan variasi Pembukaan Ruy Lopez, sesuatu yang hanya diketahui oleh para pecatur mahir. Ini memberinya petunjuk pertama: pelaku adalah seseorang yang sangat mengerti catur. Dia juga menyadari ada pola tertentu dalam permainan yang belum selesai itu, seolah-olah Blanchard mencoba memberikan pesan terakhir.

Setelah memeriksa papan catur lebih lanjut, Alistair menemukan bahwa tinta di jari Blanchard digunakan untuk membuat tanda samar di sebuah bidak catur hitam. Bidak tersebut diletakkan di posisi yang aneh, seolah-olah menjadi petunjuk. Alistair mengingat setiap langkah permainan, mencoba menelusuri pikiran Blanchard saat itu. 

Di hari berikutnya, Alistair mengundang semua tersangka ke rumah Blanchard dan meminta mereka untuk memainkan permainan catur yang sama seperti yang ada di papan saat Blanchard ditemukan. Marcus dan Rebecca segera menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam permainan tersebut. Isabella bermain dengan cukup baik, tetapi tidak seperti seorang ahli. Hanya Felix yang bermain dengan keahlian luar biasa, menunjukkan pemahaman mendalam tentang variasi Ruy Lopez.

Alistair kemudian memperlihatkan bidak catur hitam dengan bekas tinta kepada semua orang. Dia menjelaskan bahwa Blanchard sengaja menjatuhkan bidak itu sebagai petunjuk terakhir. Bekas tinta di bidak tersebut, ketika diperbesar, membentuk inisial "F". Ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa Blanchard telah mencoba memberi tahu siapa pelakunya sebelum ia tewas.

Felix, terpojok dengan bukti tersebut, mencoba menyangkal, tetapi Alistair dengan tenang menjelaskan deduksinya. "Felix, kamu adalah satu-satunya yang memiliki motivasi kuat dan kemampuan untuk melakukan ini. Kamu membunuh Blanchard karena persaingan yang memanas, dan kamu menggunakan keahlian caturmu untuk membuatnya terlihat seperti kecelakaan yang tidak disengaja. Tapi Blanchard lebih pintar. Dia meninggalkan pesan terakhir dengan bidak catur ini."

Dengan bukti fisik yang tak terbantahkan, Felix akhirnya ditangkap. Alistair, seperti seorang grandmaster catur, telah memecahkan kasus ini dengan deduksi dan pemikiran strategis yang brilian. Di mata Alistair, setiap kasus adalah permainan catur, dan kali ini, dia sekali lagi berhasil mencapai skakmat.

XXX

Saat aku menerima surat dari Mad Hatter, tantangannya langsung membuat dadaku berdebar. Mengapa seseorang yang terlibat dalam kasus ini akan mengirim surat padaku? Itu tidak masuk akal jika dia adalah Felix atau korban, Blanchard. 

Pertama, isi surat itu sendiri. Seseorang yang terlibat tidak akan mengundangku untuk memecahkan kasus yang mereka terlibat langsung. Itu akan seperti memberikan petunjuk kepada polisi untuk menangkap diri mereka sendiri.

Kemudian, aku memikirkan kemampuan dan motivasi tersangka. Felix mahir dalam catur, tapi mengirim surat tantangan bukanlah gaya dia. Motivasinya lebih terkait dengan persaingan seni. Blanchard sudah mati, jadi dia tentu bukan Mad Hatter.

Aku juga mempertimbangkan gaya penulisan surat itu. Jika aku membandingkannya dengan gaya penulisan Felix atau Blanchard, dan tidak cocok, maka Mad Hatter pastilah orang lain.

Dan tujuan surat tantangan itu sendiri. Itu jelas tidak sesuai dengan Felix atau Blanchard. Mad Hatter memiliki motif tersendiri, mungkin ingin melihat seberapa jauh aku bisa memecahkan teka-teki kompleksnya.

Dengan semua pertimbangan ini, aku sampai pada kesimpulan bahwa Mad Hatter adalah sosok lain, dengan motif dan tujuan yang berbeda, di luar Felix atau Blanchard.

Keesokan harinya, aku mendapati sebuah surat ancaman dari Mad Hatter. Ancaman pembunuhan ini membuatku semakin yakin bahwa dia bukanlah Felix atau Blanchard. 

Ancaman itu tidak berhenti di situ. Mad Hatter juga mengancam bahwa jika aku terus mencarinya, konsekuensinya akan fatal. Dan yang lebih mengejutkan, dia mengancamku jika terus mencari Alice yang hilang 30 tahun lalu.


Surat ancaman dari Mad Hatter:

---

Kepada Alistair,

Aku melihat betapa keras kepalamu mencoba menyelidiki kasus ini. Tapi dengar, jangan sekali-kali ganggu urusanku. Jika kau terus mencari-cari, konsekuensinya akan lebih dari yang bisa kau bayangkan.

Aku beri peringatan sekali saja: jika kau masih ingin melanjutkan hidup dengan damai, berhentilah sekarang juga. Setiap langkah yang kau ambil untuk mencariku akan menjadi kesalahan terbesarmu.

Dan tentang Alice yang hilang 30 tahun lalu, biarlah dia tetap menjadi misteri. Jika kau berniat untuk mengungkapnya, maka kau akan menemui nasib yang sama seperti orang lain yang terlalu dekat dengannya.

Ingatlah, Alistair, aku tidak main-main. Kau telah diperingatkan.

Mad Hatter

---

Ini semakin menguatkan keyakinanku bahwa Mad Hatter adalah sosok yang berbeda, dengan kepentingan tersendiri yang terkait dengan kasus ini dan misteri hilangnya Alice. Aku harus waspada, tapi juga harus terus menggali lebih dalam untuk mengungkap kebenaran di balik semua ini.

Langit London pagi itu terasa begitu gelap meskipun matahari mencoba untuk bersinar. Aku, Alistair Lidell, duduk di meja kerjaku, memutar-mutar kasus pembunuhan yang mengganggu pikiranku.

Kasus ini benar-benar aneh. Seorang dokter terkemuka tewas di laboratoriumnya dengan simbol Jabberwocky terukir di dinding. Aku telah mengumpulkan bukti-bukti, mengikuti jejak, namun semakin aku memahami kasus ini, semakin jauh aku dari pemahaman.

Pelaku yang kudapat tidaklah seperti penjahat biasa. Dia seolah-olah kerasukan, matanya kosong, ekspresinya tidak manusiawi. Bukti fisiknya jelas menunjukkan dia melakukan tindakan itu, tetapi bagaimana bisa?

Aku mencoba menerapkan logika, tetapi kejadian ini melampaui akal sehat.Duduk di meja kerjaku, aku mencoba menganalisis arti dari simbol Jabberwocky dalam kasus ini. Simbol ini tidak bisa diabaikan, karena tampaknya menjadi kunci untuk memahami motif di balik pembunuhan misterius ini.

Jabberwocky... sebuah kata yang merujuk pada makhluk fiktif dalam puisi klasik Lewis Carroll. Tapi mengapa simbol ini muncul di tempat kejadian?

Pertama, aku mempertimbangkan kemungkinan bahwa simbol ini adalah pesan tersembunyi dari pelaku. Mungkin ada keterkaitan antara kisah Jabberwocky dengan motif atau keadaan psikologis pelaku. Namun, analisis lebih lanjut tidak menghasilkan bukti yang cukup untuk mendukung teori ini.

Kedua, aku berpikir bahwa simbol Jabberwocky mungkin memiliki makna yang lebih dalam. Setelah menggali lebih dalam, akhirnya aku menemukan jawaban dari arti Jabberwocky dalam kasus ini.

Simbol Jabberwocky tidak langsung terkait dengan pelaku atau korban, melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam: obat-obatan eksperimental yang dikembangkan oleh korban.

Ternyata, korban, si dokter, telah melakukan penelitian rahasia tentang pengembangan obat baru yang sangat eksperimental. Simbol Jabberwocky merupakan kode internal yang digunakan dalam penelitian tersebut.

Pelaku, yang merupakan salah satu subjek uji coba obat tersebut, mengalami efek samping yang tidak terduga. Obat itu memicu reaksi aneh dalam otaknya, membuatnya kehilangan kendali atas tindakannya dan berperilaku secara impulsif.

Jadi, simbol Jabberwocky sebenarnya adalah petunjuk tersembunyi tentang latar belakang kasus ini, yang berkaitan dengan penelitian obat yang dilakukan oleh korban. Dan pelaku, tanpa disadari, menjadi korban dari efek samping obat tersebut.

Dengan menemukan ini, aku bisa menyelesaikan kasus ini dengan lebih baik, memahami latar belakang dan motif di balik pembunuhan itu. Dan sementara misteri Jabberwocky telah terpecahkan, itu hanya satu langkah dalam rangkaian keanehan dan intrik yang menyelimuti dunia detektif ini.

Pertama, hasil autopsi menunjukkan bahwa luka-luka pada tubuh korban tidak sejalan dengan serangan yang disengaja atau terencana. Ada tanda-tanda bahwa serangan itu dilakukan dengan gerakan yang tidak terkoordinasi atau bahkan tanpa maksud yang jelas.

Kedua, dia menunjukkan perilaku pelaku yang aneh sebelum dan setelah kejadian. Dia terlihat bingung, bergerak tanpa tujuan, dan kadang-kadang tampak seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Ketiga, kesaksian dari saksi-saksi yang melihat pelaku sebelum kejadian juga menggambarkan bahwa dia tampak tidak sadar akan tindakannya. Beberapa menyebutkan bahwa dia terlihat seperti terhipnotis atau kerasukan.

Keempat, ada catatan medis yang menunjukkan bahwa pelaku mengalami gangguan mental atau keadaan yang membuatnya rentan terhadap pengaruh luar tanpa sadar.

Semua bukti ini mengindikasikan bahwa pelaku melakukan tindakan tersebut dalam keadaan yang tidak sadar atau terpengaruh oleh sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan sepenuhnya. Hal ini menambahkan lapisan keanehan dalam kasus ini dan membuatnya semakin rumit untuk dipecahkan.

Saat aku memperhatikan simbol Jabberwocky di dinding laboratorium, ada perasaan aneh yang menyelinap di benakku. Aku merasa bahwa simbol ini tidak mungkin muncul begitu saja, dan entah mengapa, aku merasa bahwa ada hubungannya dengan Mad Hatter.

Pertama, Mad Hatter selalu dikenal dengan simbol-simbol yang aneh dan misterius dalam pesan-pesannya. Simbol Jabberwocky bisa saja menjadi bagian dari kode-kode yang dia gunakan dalam komunikasinya.

Kedua, Mad Hatter dikenal karena teka-teki dan permainan kata-kata yang rumit. Jabberwocky mungkin merupakan bagian dari teka-teki yang dia ciptakan, sebuah pesan tersembunyi yang menunggu untuk dipecahkan.

Selain itu, aku mempertimbangkan bahwa mungkin ada keterkaitan antara kasus ini dengan kasus sebelumnya yang melibatkan Mad Hatter. Mungkin ini adalah bagian dari pola yang lebih besar yang dia buat.

Meskipun hubungannya tidak langsung jelas, intuisiku memberi isyarat bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari simbol Jabberwocky ini, dan Mad Hatter mungkin memiliki peran di baliknya.

Dengan perasaan ini, aku memutuskan untuk menggali lebih dalam lagi, mencari petunjuk yang mungkin terhubung dengan Mad Hatter dan misteri yang dia bawa. Aku yakin bahwa jika aku terus mengikuti jejak ini, aku akan mendekati kebenaran yang sebenarnya.

Si dokter, Dr. Jonathan Hartley, adalah seorang peneliti yang terkenal dalam bidang pengembangan obat-obatan eksperimental. Dia memiliki laboratorium di pinggiran kota London di mana dia melakukan penelitian rahasia.

Beberapa bulan sebelum kematiannya, Dr. Hartley mulai melakukan penelitian tentang obat baru yang sangat eksperimental, yang bertujuan untuk mengatasi gangguan neurologis tertentu. Namun, penelitiannya dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan lembaga yang berwenang.

Simbol Jabberwocky ternyata adalah kode internal yang digunakan dalam penelitian obat tersebut. Dan pelaku, John Smith, adalah salah satu subjek uji coba obat tersebut.

John Smith, seorang sukarelawan dalam uji coba obat, tanpa disadari menjadi korban dari efek samping yang mengerikan. Obat tersebut memicu reaksi aneh dalam otaknya, menyebabkan gangguan mental yang parah dan kehilangan kendali atas perilakunya.

Ketika efek samping obat itu memuncak, John secara tidak sadar melakukan tindakan kekerasan yang mengakibatkan kematian Dr. Hartley. Tindakan itu tidaklah disengaja atau dilakukan dengan sengaja.

Dengan mengetahui latar belakang ini, aku bisa memahami mengapa kasus ini begitu rumit dan mengapa simbol Jabberwocky menjadi kunci untuk memecahkan teka-teki ini. Dan sementara kasus ini telah terpecahkan, masih ada banyak pertanyaan yang mengendap di pikiranku tentang etika penelitian medis dan dampaknya pada kehidupan manusia

XXX

Bab 2: Jejak Pertama

Aku menolak semua kasus baru yang tak berhubungan dengan Alice, dengan peta yang kudapat dari arsip keluarga, aku memulai pencarianku. Aku menelusuri setiap sudut kota London, mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi favorit Alice ketika kami masih kecil.

Taman seperti Hyde Park, Regents Park, dan St James's Park adalah tempat rekreasi populer bagi penduduk.  Gedung-gedung bersejarah seperti Menara London, Jembatan London, dan Istana Buckingham menjadi daya tarik utama. 

Di luar pusat kota, banyak pabrik dan fasilitas industri yang mengeluarkan asap dari cerobong-cerobongnya, mencerminkan era industri.

Di Taman Kensington yang luas, aku mengingat kembali saat-saat bahagia kami bersama. Tetapi di balik senyumku, ada rasa sakit yang mendalam karena kehilangan yang tak terungkapkan.

Kenangan masa kecilku bersama Alice selalu terasa hangat dan penuh keceriaan, meskipun kini hanya menjadi bayang-bayang yang samar. Alice adalah kakak yang penuh semangat, selalu siap memimpin petualangan kami di halaman belakang rumah, seolah-olah dunia di luar pagar adalah negeri ajaib yang belum kami jelajahi.

Aku ingat bagaimana dia selalu bisa membuatku tertawa. Satu kali, saat kami berusia sekitar delapan dan sepuluh tahun, Alice memutuskan bahwa kami akan menjadi penjelajah hutan. Hutan kami sebenarnya hanyalah rumpun pohon di ujung taman, tetapi di bawah kepemimpinannya, itu berubah menjadi tempat penuh misteri dan harta karun yang tersembunyi. Kami membawa tas kecil berisi bekal sederhana—sepotong roti, keju, dan apel—dan menyusuri "hutan" kami seharian penuh.

Alice selalu memiliki bakat untuk bercerita. Setiap malam, sebelum tidur, dia akan menceritakan kisah-kisah menakjubkan yang dia buat sendiri. Kadang-kadang itu adalah cerita tentang peri dan makhluk ajaib yang hidup di dalam lemari, atau tentang pangeran yang berjuang melawan naga di dunia yang jauh. Aku mendengarkan dengan penuh kekaguman, membayangkan diri kami dalam petualangan-petualangan itu.

Pada musim panas yang cerah, kami sering pergi ke tepi sungai untuk bermain. Alice selalu bisa menemukan cara untuk membuat setiap hari menjadi luar biasa. Kami akan membangun istana pasir, bermain perahu-perahuan dengan daun-daun besar, dan tertawa saat air sungai yang dingin menyentuh kaki kami. Aku ingat sekali, dia pernah membuat rakit kecil dari ranting-ranting dan daun, dan mengajakku berlayar di "samudra" kami sendiri. 

Hari-hari itu penuh dengan kegembiraan dan kebersamaan yang membuat kami semakin dekat. Bahkan ketika Alice mulai tumbuh dewasa dan lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya, dia selalu meluangkan waktu untukku, memastikan bahwa aku tidak pernah merasa ditinggalkan.

Namun, kenangan yang paling berharga adalah saat-saat tenang di sore hari, ketika kami berdua duduk di bawah pohon apel di halaman belakang. Alice akan membaca buku untukku, suaranya lembut dan penuh kasih sayang. Kadang-kadang, dia akan membacakan puisi atau cerita yang dia buat sendiri. Dia sangat menyukai buku dan dunia yang bisa mereka bawa. Aku ingat bagaimana matanya berbinar setiap kali dia menemukan cerita baru yang menarik.

Di dalam perpustakaan kota yang berdebu, aku merenungkan kembali catatan-catatan Lewis Carroll yang menyimpan petunjuk-petunjuk misterius. Setiap halaman yang aku putar menambah lapisan kebingungan dalam teka-teki yang terus-menerus.

Aku tidak puas dengan hasil pencarian di dunia nyata, jadi aku memutuskan untuk melangkah ke dunia yang lebih gelap dan misterius: dunia imajinasi.

Dengan hati-hati, aku membuka sebuah buku tua yang menampilkan ilustrasi ajaib dari Alice dan petualangannya di negeri ajaib. Aku membaca kata-kata yang terpahat dengan jelas di dalamnya, mencari petunjuk yang mungkin tersembunyi di antara baris-baris teks yang penuh dengan fantasi.

Namun, semakin dalam aku terjun ke dalam dunia yang diciptakan oleh Lewis Carroll, semakin jelas pula bahwa kebenaran yang aku cari tidak akan mudah ditemukan. Dan di balik keindahan yang tergambar dalam cerita, ada bayangan yang mengancam, menanti untuk diungkapkan.



---


Bab 3: Jejak Misterius

Alistair merenung dalam kegelapan di perpustakaan Oxford, tangannya memegang erat jurnal pribadi Lewis Carroll yang dia temukan di antara rak-rak tua. Dia telah menjelajahi setiap sudut kota London tanpa hasil, tidak menemukan jejak kakak perempuannya, Alice, atau Lewis Carroll yang misterius.

Dengan jurnal itu di tangannya, dia menemukan bukti yang menghantamnya dengan keras. Halaman demi halaman, di antara catatan dan gambar-gambar yang aneh, ada foto-foto yang tidak senonoh dari Alice, kakak perempuannya, dan gadis-gadis muda lainnya. Keterkejutan dan kejijikan bergolak dalam dirinya saat dia menyadari kebenaran yang mengejutkan.

Namun, kejutan sebenarnya datang ketika Alistair menemukan sebuah catatan rahasia yang mengungkapkan bahwa Lewis Carroll bukanlah hanya seorang penulis cerita anak-anak yang terkenal, tetapi juga seseorang yang mungkin terlibat dalam kengerian yang menghantui kota London: Jack the Ripper.

Alistair mengemukakan teori bahwa penulis Inggris Lewis Carroll, dengan nama asli Charles L. Dodgson (1832–1898), bersama rekannya Thomas Vere Bayne (1829–1908), bertanggung jawab atas pembunuhan yang dilakukan oleh Jack the Ripper. Lewis Carroll juga dikabarkan menghilang tanpa jejak sejak teror Jack the Ripper melanda kota London.

Alistair mengemukakan teori ini berdasarkan sejumlah anagram yang ditemukan dalam dua karya Lewis Carroll: "The Nursery 'Alice'", sebuah adaptasi dari "Alice's Adventures in Wonderland" untuk pembaca yang lebih muda, dan volume pertama "Sylvie and Bruno". Kedua buku tersebut pertama kali diterbitkan pada tahun 1889, dan Carroll mungkin masih mengerjakannya selama periode pembunuhan Jack the Ripper. Alistair mengklaim bahwa buku-buku tersebut mengandung deskripsi pembunuhan yang tersembunyi namun rinci. Teori ini mendapat cukup perhatian sehingga Carroll dimasukkan sebagai tambahan yang terlambat namun penting dalam daftar tersangka.

Dengan hati yang berdegup kencang, Alistair membalik halaman demi halaman jurnal itu, mencari petunjuk lebih lanjut. Dan di antara teka-teki dan kode-kode yang rumit, dia menemukan petunjuk yang menakutkan bahwa Wonderland, tempat yang telah mengambil kakak perempuannya, mungkin bukanlah hanya sebuah cerita fiksi, tetapi kenyataan yang gelap dan berbahaya.

Alistair menyadari bahwa dia harus memasuki Wonderland, tidak hanya untuk menemukan Alice, tetapi juga untuk mengungkap kebenaran yang gelap yang tersembunyi di balik kedamaian kota London.


---

Bab 4: Jejak yang Terlupakan


Alistair duduk dengan tegang di dalam ruang studi kecilnya, jurnal pribadi Lewis Carroll terbuka di hadapannya. Matahari terbenam, memberikan cahaya kuning yang hangat ke ruangan itu, tetapi dalam pikirannya, kegelapan masih menggelayuti.

Dia terus merekonstruksi setiap detail dari peristiwa pada tanggal 4 Juli 1862, mencoba menghubungkan titik-titik yang mungkin terlewat. Pikirannya melayang ke perahu dayung di Sungai Thames, di mana Lewis Carroll menghibur Alice dan saudara-saudaranya dengan cerita tentang seorang gadis bernama Alice dan petualangannya di negeri ajaib.

Alistair berusaha merekonstruksi kejadian pada 4 Juli 1862. Saat itu, dalam perjalanan perahu dayung di Isis dari Folly Bridge, Oxford, ke Godstow untuk piknik, Alistair sakit cukup parah sehingga tidak ikut. Alice yang berusia 10 tahun meminta Charles Dodgson (yang dikenal dengan nama pena Lewis Carroll) untuk menghibur dia dan saudara perempuannya, Edith (8 tahun) dan Lorina (13 tahun), dengan sebuah cerita.

Saat Pendeta Robinson Duckworth mendayung perahu, Dodgson menghibur mereka dengan kisah fantastis tentang seorang gadis bernama Alice dan petualangannya setelah jatuh ke dalam lubang kelinci. Cerita ini serupa dengan yang pernah Dodgson buat untuk saudara-saudarinya, namun kali ini Alice meminta Dodgson untuk menuliskannya. Dodgson berjanji, tetapi tidak menyelesaikan tugas tersebut selama beberapa bulan. Beberapa bulan kemudian, Alice dilaporkan menghilang, dan kakaknya hanya bersaksi bahwa Alice mengejar kelinci putih. Akhirnya, pada November 1864, Carroll memberikan naskah "Petualangan Alice in Wonderland" untuk mengenang kepergian Alice.

Robbinson Duckworth sudah lama meninggal, jadi tidak bisa diinterogasi terkait hilangnya Alice. Carrol juga hilang sejak serangan Jack the Ripper. Padahal, dia satu-satunya saksi kunci pada kasus ini, selain Lewis Carroll yang akan dijadikan tersangka.

Namun, di tengah-tengah memori yang kabur, ada suatu kekosongan yang membuatnya merasa gelisah. Ada sesuatu yang hilang, sebuah potongan puzzle yang tak terjawab. Alistair menggigit bibirnya, merenungkan apa yang bisa terjadi pada hari itu yang telah terlupakan oleh sejarah.

Dengan tekad yang kuat, Alistair kembali menyelidiki bukti-bukti yang dia temukan. Jurnal Carroll memberinya petunjuk yang kuat, namun tetap ada sesuatu yang tidak cocok. Di tengah-tengah kisah-kisah fantasi dan gambar-gambar aneh, ada sesuatu yang disembunyikan.

Saat matahari terbenam dan bayang-bayang mulai merayap di sekitarnya, Alistair tiba-tiba mendapat pemikiran yang menggetarkan. Apa jadinya jika kejadian itu bukanlah kecelakaan? Apa jadinya jika kepergian Alice tidaklah sesederhana yang terlihat?

Dengan hati yang berdegup kencang, Alistair bersumpah untuk menemukan jawabannya. Dia menyadari bahwa untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dia harus melangkah lebih jauh dari sekedar memecahkan teka-teki. Dia harus memasuki Wonderland itu sendiri, ke dunia yang ajaib dan misterius di mana kebenaran dan fantasi bersinggungan.

Dengan jurnal Carroll sebagai panduan, Alistair bersiap untuk memulai petualangannya yang paling berbahaya. Dan di bawah langit yang gelap, dia bersumpah untuk membawa pulang Alice, saudara perempuannya yang hilang, dan membongkar misteri yang telah terlupakan selama bertahun-tahun.

Bab 5: Misteri yang Mendalam

Dengan bukti-bukti yang mengejutkan dalam genggamannya, Alistair Lidell merenungkan kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga. Tidak hanya dia menemukan petunjuk yang mengindikasikan keterlibatan Lewis Carroll sebagai Jack the Ripper, tetapi sekarang kabar tentang hilangnya Carroll sendiri menjadi pusat perhatiannya.

Tangannya gemetar saat dia merenungkan konsekuensi dari temuan-temuan ini. Apakah Lewis Carroll menjadi korban dari kejahatan yang dia lakukan sendiri? Ataukah ada skenario yang lebih kompleks yang telah menyatukan keterlibatan Carroll dan keberadaan Jack the Ripper?

Dengan hati yang berdebar, Alistair memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut. Dia berpikir bahwa ada hubungan antara hilangnya Carroll dan gelombang teror yang melanda kota London. Mungkin Carroll adalah sasaran pembalasan dari sesuatu atau seseorang yang terkait dengan pembunuhan Jack the Ripper.

Dengan petunjuk-petunjuk yang dia temukan dalam jurnal Carroll sebagai panduan, Alistair bersiap untuk memasuki dunia yang lebih gelap dan berbahaya dari sebelumnya. Dia mempersiapkan diri untuk menelusuri jejak-jejak yang terlupakan, mengungkap kebenaran yang tersembunyi di balik misteri yang telah menghantui kota London selama bertahun-tahun.

Namun, ketika dia melangkah maju ke dalam petualangan yang lebih dalam, Alistair menyadari bahwa kebenaran mungkin jauh lebih kompleks daripada yang pernah dia bayangkan. Dan dalam gelapnya malam yang menyelimuti kota, dia bersumpah untuk mengungkap semua rahasia yang tersembunyi, tidak peduli seberapa mengerikannya.

Dengan itu, Alistair Lidell memulai perjalanan yang paling berbahaya dan menentukan dalam hidupnya. Dia bersiap untuk menghadapi setiap rintangan dan bahaya demi membawa kebenaran ke permukaan dan menemukan kedua saudara perempuannya, Alice dan Lewis Carroll, dalam perjalanan yang kelam ini.

---
Bab 6: Jejak di Balik Keheningan

Alistair Lidell duduk di ruang keluarga, tatapan kosong terpaku pada api unggun yang membara di perapian. Di seberang ruangan, ayahnya, Mr. Lidell, dan kakak perempuannya, Lorina, duduk dengan tegang, wajah mereka mencerminkan kegelisahan yang sama dengan yang dirasakan Alistair.

"Ayah, Lorina," ucap Alistair dengan suara yang gemetar, "sejak kapan hubungan keluarga kita dengan Lewis Carroll mulai memburuk?"

Mr. Lidell menghela nafas, menggosok pelipisnya dengan gemas sebelum menjawab, "Itu semua dimulai setelah peristiwa pada tanggal 4 Juli 1862. Kami tahu bahwa Alice, Edith, dan Lorina bersama dengan Carroll pergi berlayar. Tetapi setelah kepergian Alice, semuanya berubah."

Lorina menambahkan dengan nada pahit, "Carroll tidak pernah lagi setia kepada keluarga kita setelah kejadian itu. Dia jarang bertemu dengan kami dan hubungannya dengan ayah semakin renggang. Kami merasa seolah-olah dia menyimpan sesuatu yang disembunyikan, tetapi kami tidak pernah tahu apa itu."

Alistair mengangguk, merenungkan kata-kata mereka. Hubungan yang memburuk dengan Lewis Carroll setelah kepergian Alice menambahkan lapisan baru misteri yang perlu dipecahkan. Apakah ada sesuatu yang Carroll sembunyikan dari keluarga Lidell? Apakah itu terkait dengan hilangnya Alice atau keterlibatannya dalam serangkaian pembunuhan yang mengerikan di London?

"Ayah," ucap Alistair dengan lembut, "apakah ayah masih ingat saat Lewis Carroll meminta untuk menikahi Alice?" Carrol memohon izin untuk menikahi Alice, meskipun menikahi anak di bawah umur lazim di zaman Victoria. Namun, kejadian hilangnya Alice dalam perahu dayung membuat keluarga Liddell menutup hubungan dengan Lewis Carrol. Mereka tidak lagi mengizinkannya bermain dengan anak-anak mereka.

Mr. Lidell mengangguk, matanya memancarkan rasa sakit yang dalam. "Ya, aku ingat. Carroll pernah membuat permintaan itu, dan itu adalah salah satu momen tergelap dalam hidupku. Aku tidak pernah bisa melupakan ketakutan dan kejijikan yang aku rasakan pada saat itu."

Lidell melanjutkan, suaranya gemetar oleh emosi yang terpendam. "Melihat orang yang aku anggap sebagai teman dekat dan sahabat keluarga meminta untuk menikahi putriku yang masih kecil hanya karena terpesona dengan tatapannya yang dalam... Itu membuatku marah, Alistair. Sangat marah."

Alistair merenungkan kata-kata ayahnya dengan hati yang berat. Perasaan yang tidak terungkapkan dari masa lalu menyala kembali di pikirannya, menambah lapisan kompleksitas pada misteri yang sedang dia selidiki. Apakah permintaan Carroll untuk menikahi Alice adalah bagian dari motivasinya yang lebih gelap? Apakah ada hubungan antara permintaan itu dan kepergian Alice serta hilangnya Carroll sendiri?

Dengan keinginan untuk membuka luka-luka yang terpendam dan membawa kebenaran ke permukaan, Alistair bersumpah untuk terus menyelidiki dan mengungkap misteri yang telah merajalela di dalam keluarganya dan di sekitar mereka. Dia tahu bahwa jawaban-jawaban yang dia cari mungkin membawa rasa sakit, tetapi dia siap menghadapinya demi membawa kedamaian bagi keluarganya dan memulihkan kebenaran yang terpendam.

Dengan pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikirannya, Alistair bersumpah untuk menemukan jawabannya. Dia tahu bahwa untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dia harus melangkah lebih dalam ke dalam labirin misteri yang melibatkan keluarganya sendiri dan Lewis Carroll.

Dengan hati yang berdebar, Alistair bersiap untuk melanjutkan penyelidikannya. Dia siap menghadapi segala rintangan dan bahaya yang mungkin menghadang, demi membawa kebenaran ke permukaan dan membawa pulang Alice, saudarinya yang hilang, serta membongkar misteri yang telah lama terpendam.



XXX

Bab 7: Pencurian di Malam Gelap

Hembusan angin malam menyusup masuk melalui jendela terbuka saat Alistair Lidell terbenam dalam penelitian di ruang kerjanya. Tiba-tiba, suara gemeretak lembut membuatnya menoleh, dan di sana, di ambang pintu, dia melihat sebuah siluet yang bergerak dengan cepat.

Sebelum dia bisa bereaksi, kelinci putih muncul dari bayang-bayang, matanya yang bersinar-bersinar tertuju pada jurnal investigasi yang terletak di atas meja Alistair. Dengan gerakan yang lincah, kelinci itu mencapai jurnal dengan cepat dan menyambarnya sebelum Alistair bisa bereaksi.

"Berhenti!" seru Alistair, melompat dari kursinya dan berusaha mengejar kelinci itu. Namun, hewan itu sudah terlalu cepat, melompat keluar dari jendela dan menghilang dalam kegelapan malam.

Dengan napas tersengal-sengal, Alistair menyadari bahwa jurnal investigasinya telah dicuri. Ini adalah pukulan berat bagi penyelidikannya, karena jurnal itu berisi bukti-bukti penting yang dia kumpulkan selama berbulan-bulan.

Dengan tekad yang kuat, Alistair bersiap untuk memulai perburuannya. Dia tahu bahwa dia harus mengambil kembali jurnalnya, tidak peduli apa pun yang terjadi. Dan dengan langkah yang mantap, dia melangkah keluar ke dalam malam yang gelap, siap untuk menemukan kelinci putih itu dan mengambil kembali jurnalnya, demi kebenaran dan keadilan.
XXX

Bab 8: Melintasi Lubang Kelinci

Dengan tekad yang kuat, Alistair Lidell mengejar kelinci putih yang mencuri jurnal investigasinya ke dalam kegelapan malam. Langkahnya mantap dan hatinya penuh dengan tekad untuk mengambil kembali jurnal itu dan membawa kebenaran ke permukaan.

Setelah berlari sepanjang malam yang gelap, Alistair akhirnya mencapai tempat kelinci putih itu menghilang: sebuah lubang kelinci yang besar dan misterius. Tanpa ragu, dia memutuskan untuk mengikuti jejak kelinci itu dan melompat ke dalam lubang tanpa ragu-ragu.

Saat dia terjun ke dalam kegelapan yang dalam, Alistair merasakan dunia berputar di sekitarnya, dan tiba-tiba dia menemukan dirinya terjatuh ke dalam lubang yang terus berlanjut ke bawah. Angin berdesir di telinganya, dan dia merasa seperti sedang terbawa oleh kekuatan yang tidak terlihat.

Segera, dia melihat cahaya yang berkilauan di kejauhan, dan dia tahu bahwa dia sedang menuju ke sesuatu yang luar biasa. Dengan hati yang berdebar, dia terus meluncur ke depan, siap menghadapi segala rintangan yang mungkin dia temui di dalam Wonderland.

Dan akhirnya, dia tiba di pintu gerbang ke negeri ajaib itu. Dengan langkah mantap, dia melangkah ke dalam, siap untuk memulai petualangan yang penuh bahaya, misteri, dan keajaiban di Wonderland.

Dengan itu, perjalanan Alistair Lidell ke dalam dunia yang ajaib dan misterius dimulai, di mana segala kemungkinan tampaknya menjadi kenyataan, dan kebenaran menunggu untuk diungkapkan.

XXX

Bab 9: Petualangan di Wonderland

Ketika aku memasuki lubang kelinci itu, aku segera terpesona oleh kilauan kaca yang memantulkan cahaya dengan indahnya. Aku menyadari jika ini adalah gerbang Wonderland yang ada di buku Lewis carrol. Dinding-dinding berwarna-warni terlihat seperti dihiasi permata, menciptakan suasana yang begitu ajaib dan misterius.

Namun, pesona itu segera tergantikan oleh kebingungan ketika aku menyadari bahwa pintu keluar dari ruangan itu terlalu kecil bagiku untuk melewati. Aku merasa terjebak di dalam labirin kaca yang tak berujung, tanpa jalan keluar yang jelas.

Tapi, harapan datang ketika aku menemukan sebuah meja kecil di tengah ruangan, di atasnya terdapat sebotol minuman ajaib dengan tulisan "Drink Me" dan kue-kue kecil yang menggiurkan dengan tulisan "Eat Me". Tanpa ragu, aku memutuskan untuk mencoba salah satunya, berharap itu akan membantu aku menemukan jalan keluar.

Aku memilih untuk memakan kue cantik yang berlabel "Eat Me" dan dengan ragu-ragu meneguknya. Tidak butuh waktu lama sebelum aku merasakan tubuhku mulai membesar secara tiba-tiba. Aku melihat ke bawah dan kagum melihat bahwa aku sekarang jauh lebih besar dari sebelumnya. Namun, kegembiraan itu cepat berganti dengan kepanikan ketika aku menyadari bahwa aku terlalu besar untuk melewati pintu-pintu yang ada di ruangan itu dan ukuran tubuhku yang besar tak bisa menghancurkan ruangan ini.

Dengan cepat, aku memutuskan untuk mencoba hidangan lain yang ada di meja: minuman yang membuatku mengecil bertuliskan "Drink ME". Segera setelah aku meminumnya, tubuhku mulai menyusut dengan cepat, dan dalam sekejap, aku kembali menjadi seukuran yang cukup kecil untuk dapat melewati pintu-pintu yang ada di ruangan itu.

Dengan perasaan lega, aku melangkah keluar dari ruangan kaca tersebut, siap untuk melanjutkan petualanganku di Wonderland dengan semangat yang baru, aku menyimpan kedua hidangan itu disaku untuk berjaga jaga. Aku tahu bahwa di negeri ajaib ini, segala sesuatu mungkin terjadi, dan aku siap menghadapi setiap tantangan dengan kepala tegak dan hati yang berani.

Dengan langkah mantap, aku melangkah ke depan, siap untuk mengungkap misteri-misteri yang menunggu di negeri ajaib yang luar biasa ini.
XXX

Bab 10: Menyusuri Wonderland

Aku mengisi peluru pada revolverku, memastikan setiap slot terisi penuh. Di dunia yang aneh ini, tidak ada yang bisa dipastikan, dan aku harus selalu siap. Setelah memastikan revolverku siap, aku merapikan pakaian. Meski Wonderland tampak seperti tempat mimpi, instingku sebagai detektif memberitahuku bahwa bahaya bisa datang dari mana saja.

Ketika aku melangkah lebih dalam ke Wonderland, aku mulai mengalami kejadian-kejadian yang aneh dan luar biasa, persis seperti yang tertulis dalam buku "Alice's Adventures in Wonderland". Aku segera bertemu dengan sosok yang sangat aneh: Ulat Catterpillar yang duduk di atas jamur besar, mengisap hookah dan mengeluarkan asap berbentuk huruf. 

"Cari Alice," kataku, berharap mendapatkan petunjuk dari makhluk ini.

Catterpillar hanya tersenyum tipis, seakan mengetahui lebih dari yang dia tunjukkan. "Siapa kamu?" tanyanya dengan nada malas.

"Namaku Alistair. Aku mencari adikku, Alice. Kamu tahu di mana dia?" tanyaku.

Dia menghirup hookah-nya dalam-dalam dan mengeluarkan asap berbentuk huruf A-L-I-C-E. "Segalanya berubah di sini. Yang kau cari mungkin lebih dekat dari yang kau kira, tapi jalannya tak selalu lurus," katanya dengan nada bijak.

Dengan petunjuk yang samar itu, aku melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, aku bertemu dengan dua sosok kembar aneh yang dikenal sebagai Tweedledee dan Tweedledum. Mereka berbicara dalam teka-teki yang sulit dipahami, membuat kepalaku berputar.

"Apakah kalian tahu di mana Alice?" tanyaku pada mereka.

Mereka hanya tertawa dan menjawab serempak, "Alice ada di sini dan di sana, di mana-mana dan tidak di mana-mana."

Jawaban mereka tidak membantu, tetapi aku merasa bahwa setiap kata mereka memiliki arti tersembunyi. Aku mencatat setiap detail dalam pikiranku, berharap petunjuk-petunjuk ini akan berguna nanti.

Perjalananku terus berlanjut, hingga aku tiba di hadapan istana Queen of Hearts. Istana itu megah, tetapi ada aura ketegangan yang menyelimuti. Prajurit-prajurit berbentuk kartu remi berbaris rapi di halaman, dan suasana berubah serius ketika aku dibawa ke hadapan sang ratu.

"Siapa yang berani memasuki kerajaanku tanpa izin?" Queen of Hearts bertanya dengan nada otoriter.

"Namaku Alistair, aku mencari adikku, Alice," jawabku dengan tenang, meskipun di dalam hati aku merasa tegang.

"Alice? Gadis kecil itu?" Ratu tersenyum licik. "Dia telah membuat kerajaanku kacau. Dan sekarang, kau akan diadili!"

Aku dibawa ke ruang sidang yang aneh, penuh dengan karakter-karakter Wonderland yang berbisik-bisik. Perasaanku bercampur antara marah dan takut, tetapi aku tahu bahwa aku harus tetap tenang dan fokus.

Sidang berlangsung kacau dengan tuduhan-tuduhan aneh yang dilemparkan kepadaku. Namun, aku tetap memegang kendali, menggunakan logika dan kecerdikanku untuk melawan setiap tuduhan yang tidak masuk akal. Saat itu, aku merasakan adrenalin mengalir deras dalam tubuhku, tetapi aku harus terus fokus pada tujuan utamaku: menemukan Alice.

Di tengah sidang, tiba-tiba muncul sosok yang tidak asing bagiku: si Kelinci Putih. Dia melompat ke depan dan berteriak, "Tunggu! Dia tidak bersalah!"

Kelinci Putih itu tampak sangat ketakutan, tetapi juga penuh dengan tekad. "Alice ada di sini, di suatu tempat. Aku bisa membawamu ke sana."

Dengan suara tegas, aku menantang Queen of Hearts, "Lepaskan aku, dan aku akan menemukan Alice. Ini bukan sekadar pencarian pribadi. Ini tentang mengungkap kebenaran."

Ratu menatapku tajam, lalu melambaikan tangannya dengan enggan. "Pergi. Tetapi jika kau gagal, hukumannya akan lebih berat."

Dengan Kelinci Putih sebagai pemandu, aku melangkah keluar dari ruang sidang, siap untuk menghadapi apa pun yang ada di depan. Aku tahu bahwa petualangan ini masih panjang, tetapi setiap langkah membawaku semakin dekat kepada jawaban yang aku cari.

---

Bab 11: Kecerdikan Alistair di Hadapan Queen of Hearts

Saat aku dihadapkan pada sidang yang kacau dan penuh dengan karakter-karakter aneh dari Wonderland, aku sadar bahwa pengetahuanku tentang hukum Inggris mungkin bisa menjadi penyelamatku. Pengalaman bertahun-tahun sebagai detektif telah mengajarkanku banyak hal, termasuk cara berpikir cepat dalam situasi sulit.

Queen of Hearts tampak marah, memandangku dengan tatapan yang tajam. "Siapa yang berani memasuki kerajaanku tanpa izin?" dia bertanya dengan nada otoriter.

"Namaku Alistair," jawabku dengan tenang, "dan aku datang untuk mencari adikku, Alice."

"Adikmu telah membuat kekacauan di kerajaanku! Sekarang, kau akan diadili!" seru sang Ratu.

Sidang dimulai dengan tuduhan-tuduhan yang dilemparkan ke arahku, kebanyakan dari mereka tidak masuk akal dan tidak berdasar. Aku tahu bahwa aku harus menggunakan kecerdasanku untuk melawan tuduhan-tuduhan ini. Aku menenangkan diriku dan mulai berbicara dengan tenang tetapi tegas.

"Saya keberatan, Yang Mulia," kataku, berdiri tegak di hadapan Ratu. "Di Inggris, seseorang dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah. Bukti-bukti yang disajikan di sini tidak cukup untuk menjatuhkan hukuman."

Ratu tampak bingung dengan pernyataanku. "Bukti? Apa itu bukti?" tanyanya dengan nada mengejek.

"Bukti adalah sesuatu yang dapat menguatkan kebenaran," jawabku. "Di Inggris, kami memiliki prinsip bahwa setiap tuduhan harus didukung oleh bukti yang kuat dan jelas. Tanpa bukti yang memadai, tidak ada tuduhan yang bisa dibenarkan."

Beberapa karakter Wonderland mulai berbisik-bisik, tampaknya bingung dengan istilah-istilah hukum yang aku gunakan. Aku melanjutkan dengan lebih yakin, menggunakan pengetahuanku untuk mematahkan setiap tuduhan yang dilemparkan padaku.

"Yang Mulia," lanjutku, "apa bukti yang kalian miliki bahwa saya melakukan pelanggaran? Dimana saksi-saksi yang melihat saya melanggar hukum? Jika tidak ada bukti yang sah, maka tuduhan ini tidak berdasar."

Queen of Hearts tampak semakin bingung dan frustrasi. Dia berusaha untuk mengendalikan situasi, tetapi aku bisa melihat bahwa argumenku mulai mengena. Di tengah kekacauan sidang, si Kelinci Putih melompat ke depan dan berteriak, "Tunggu! Dia tidak bersalah!"

Kelinci Putih itu tampak sangat ketakutan, tetapi juga penuh dengan tekad. "Alice ada di sini, di suatu tempat. Aku bisa membawamu ke sana."

Aku menantang Queen of Hearts dengan suara tegas, "Lepaskan aku, dan aku akan menemukan Alice. Ini bukan sekadar pencarian pribadi. Ini tentang mengungkap kebenaran."

Ratu menatapku tajam, lalu melambaikan tangannya dengan enggan. "Pergi. Tetapi jika kau gagal, hukumannya akan lebih berat."

Dengan Kelinci Putih sebagai pemandu, aku melangkah keluar dari ruang sidang, siap untuk menghadapi apa pun yang ada di depan. Aku tahu bahwa petualangan ini masih panjang, tetapi setiap langkah membawaku semakin dekat kepada jawaban yang aku cari.

Dengan revolver di tangan, kaca pembesar di saku, dan tekad yang kuat, aku melanjutkan perjalananku melalui Wonderland, siap untuk menghadapi tantangan apa pun yang ada di hadapan. Pengetahuanku tentang hukum Inggris telah menyelamatkanku kali ini, tetapi aku tahu bahwa ada banyak hal lain yang harus dihadapi sebelum aku bisa menemukan Alice.
XXX

Bab 12: Menelusuri Jejak di Universitas Oxford

Setelah terbangun dari mimpi yang penuh dengan petunjuk samar, aku merasa perlu untuk kembali ke tempat di mana semuanya dimulai. Universitas Oxford, tempat Lewis Carroll mengajar dan tempat pertama kali Alice bertemu dengan dunia fantasi yang ia ciptakan. Aku yakin bahwa di sanalah aku akan menemukan benang merah yang dapat membawaku lebih dekat kepada kebenaran.

Aku tiba di universitas dan mulai mencari-cari arsip lama, buku catatan, dan apapun yang mungkin bisa memberikan petunjuk. Aku membaca ulang jurnal pribadi Carroll yang sudah kutemukan, memperhatikan detail yang sebelumnya mungkin terlewatkan. Ketika matahari mulai terbenam, aku menemukan sebuah ruang yang penuh dengan dokumen-dokumen tua yang tertutup debu. Di sinilah, aku yakin, ada petunjuk penting yang harus aku ungkap.

Saat aku menelusuri tumpukan dokumen, aku menemukan surat-surat pribadi yang ditulis oleh Carroll. Di antara surat-surat itu, ada satu surat yang menarik perhatianku. Surat itu ditujukan kepada ayahku.

"Tuan Liddell yang terhormat,

Saya menulis surat ini dengan berat hati dan penuh keputusasaan. Anda tahu betapa besar perasaan saya terhadap Alice. Dia adalah inspirasi bagi banyak karya saya dan memiliki tempat khusus di hati saya. Saya mohon, berikan restu Anda agar saya bisa menikahi Alice.

Salam Hormat, Charles Dodgson (Lewis Carroll)"

Ayahku menolak permintaan Carroll untuk menikahi Alice yang masih anak-anak, melihatnya sebagai tindakan yang tak pantas dan mengancam kehormatan keluarga. Dari sini, aku bisa melihat awal mula dari kehancuran hubungan antara keluarga kami dan Carroll.

Aku melanjutkan pencarian hingga menemukan catatan yang lebih mengejutkan lagi. Dalam jurnal pribadi Carroll yang lebih tersembunyi, aku menemukan catatan tentang tanggal 4 Juli 1862, hari di mana Alice menghilang. Dalam catatan itu, Carroll menulis tentang obsesinya yang semakin besar terhadap Alice, tentang bagaimana dia merencanakan untuk mengambil Alice jika permintaannya ditolak.

"4 Juli 1862

Hari ini, saya akan membawa Alice ke dunia yang saya ciptakan. Dunia di mana tidak ada yang bisa memisahkan kami. Saya tahu ini satu-satunya cara. Saya tidak akan membiarkan mereka merenggut kebahagiaan saya."

Catatan itu membuat darahku mendidih. Semua ini mulai masuk akal. Carroll telah menculik Alice setelah ayahku menolak permintaannya untuk menikahi Alice. Dia menggunakan kisah Wonderland sebagai kedok untuk membawa Alice ke dalam dunia yang ia ciptakan, dunia yang terpisah dari realitas kami.

Aku merapikan catatan-catatan itu dan memasukkannya ke dalam tas. Bukti ini cukup kuat untuk menunjukkan bahwa Carroll adalah dalang di balik hilangnya Alice. Tapi sekarang, aku perlu menemukan cara untuk masuk ke Wonderland dan membawa Alice kembali.

Aku meninggalkan universitas dengan perasaan campur aduk. Aku tahu bahwa perjalanan ini belum berakhir. Masih ada banyak misteri yang harus dipecahkan, dan aku harus menemukan jalan ke Wonderland.

Dengan tekad yang kuat, aku berjalan keluar dari gerbang universitas, siap untuk menghadapi apapun yang ada di depanku. Jika Carroll bisa menciptakan dunia itu, maka harus ada cara bagi aku untuk masuk dan membawa Alice kembali.

Kali ini, aku tidak akan berhenti sampai Alice kembali ke tempatnya yang seharusnya. Aku tidak akan membiarkan Carroll atau siapapun menghalangi jalanku. Petualangan ini baru saja dimulai.
XXX
Bab 13: Ingatan yang Terpendam

Pagi yang dingin dan berkabut menyelimuti kota London ketika aku mendatangi rumah Lorina, kakak perempuanku. Rumah tua keluarga Liddell tampak sama seperti dulu, namun ada aura kesedihan yang selalu menyelimuti setiap sudutnya sejak hilangnya Alice. Lorina menyambutku dengan senyum tipis, namun aku bisa melihat bayang-bayang masa lalu di matanya.

Kami duduk di ruang tamu, sebuah ruangan yang dipenuhi dengan kenangan masa kecil kami. Foto-foto keluarga berbingkai menghiasi dinding, dan di sudut ruangan, sebuah rak buku berisi koleksi buku-buku anak-anak yang pernah dibacakan ibu untuk kami. Namun, kali ini aku datang bukan untuk mengenang masa lalu, melainkan untuk menggali kebenaran yang tersembunyi selama bertahun-tahun.

"Lorina, ada sesuatu yang harus kau jelaskan padaku," kataku, mencoba menahan kegelisahanku. "Kenapa kau baru menceritakan hilangnya Alice sekarang?"

Lorina menarik napas dalam-dalam, matanya berkabut oleh kenangan yang menyakitkan. "Alistair, kau harus mengerti. Setelah Alice menghilang bersama Carroll, aku... aku tidak ingat apa-apa. Semua ingatanku tentang hari itu hilang begitu saja. Itu seperti mimpi buruk yang tidak pernah bisa kuterjaga."

Aku menatapnya dengan cemas. "Tapi sekarang, kenapa ingatan itu baru kembali?"

Lorina menggigit bibirnya, lalu menjawab dengan suara yang nyaris berbisik. "Ingatanku mulai kembali perlahan-lahan saat berita tentang hilangnya Carroll tersebar. Ketika Carroll dikabarkan hilang dan diduga menjadi korban Jack the Ripper, potongan-potongan ingatanku mulai bermunculan. Seperti potongan puzzle yang kembali ke tempatnya."

Aku mengerutkan kening, mencoba memahami situasi ini. "Jadi, kau ingat sesuatu tentang hari itu?"

Lorina mengangguk pelan. "Ya. Aku ingat Carroll mengajak Alice masuk ke sebuah gua. Dia memintaku untuk tidak ikut. Aku... aku terlalu takut untuk menolak. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi sampai sekarang."

Keterangan Lorina menguatkan dugaanku bahwa Carroll memiliki peran besar dalam hilangnya Alice. Tapi ada sesuatu yang lebih gelap dan rumit di balik semuanya. Aku harus menemukan Carroll dan mengungkap kebenaran sebelum semuanya terlambat.

"Terima kasih, Lorina," kataku, mencoba memberikan senyuman yang meyakinkan. "Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alice."

Lorina mengangguk, matanya penuh harapan. "Hati-hati, Alistair. Dunia yang kau hadapi bukanlah dunia yang kita kenal."

Dengan informasi baru ini, aku kembali ke Baker Street dengan tekad yang lebih kuat. Aku harus kembali ke Wonderland, ke tempat di mana Carroll membawa Alice. Aku harus menghadapi Mad Hatter dan mengungkap rahasia yang selama ini tersembunyi. Alice tidak boleh menjadi korban dari ambisi Carroll, dan London tidak boleh hancur oleh Jabberwocky.
XXX

Bab 14: Pesta Teh di Wonderland

Aku kembali ke lubang kelinci, dengan harapan menemukan jalan ke Wonderland yang selama ini kucari. Saat melompat ke dalam kegelapan, perasaanku bercampur aduk antara kecemasan dan tekad yang kuat. Ketika aku mendarat, aku tidak berada di ruangan penuh kaca seperti sebelumnya, melainkan di sebuah meja perjamuan yang panjang, penuh dengan teh dan kue-kue.

Aku mengusap mataku, berusaha menyesuaikan diri dengan pemandangan aneh ini. Di ujung meja, seorang pria dengan topi besar dan senyum licik menyambutku. Aku mengenalinya dengan segera—Mad Hatter, atau lebih tepatnya, Lewis Carroll.

"Selamat datang, Alistair!" serunya dengan nada ceria yang menakutkan. "Kami sudah menunggumu."

Aku berdiri dengan hati-hati, tanganku siap meraih revolver di saku. "Lewis Carroll," kataku dengan suara tegas. "Di mana Alice? Apa yang telah kau lakukan padanya?"

Carroll tertawa, suara tawanya menggema di seluruh ruangan. "Oh, Alistair, selalu penuh dengan pertanyaan. Alice ada di tempat yang aman, di mana dia tidak akan pernah terluka. Dia adalah inspirasiku, cintaku, dan aku tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kami."

Aku menatapnya dengan marah. "Kau menculiknya! Kau telah merampas hidupnya dan meninggalkannya di dunia ini!"

Carroll menggelengkan kepalanya dengan tenang. "Aku bukan manusia biasa, Alistair. Aku adalah dewa dari dimensi lain, dan aku menciptakan Wonderland ini. Alice adalah milikku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk kau, mengganggu kami."

Aku merasakan ketakutan yang merayap di punggungku, tetapi aku tidak bisa menyerah. "Aku tidak peduli siapa atau apa kau sebenarnya. Aku akan menemukan Alice dan membawanya pulang."

Wajah Carroll berubah menjadi serius. "Aku memperingatkanmu, Alistair. Jika kau terus mencari Alice, aku akan melepaskan Jabberwocky ke London. Naga raksasa itu akan menghancurkan kotamu, membunuh banyak orang yang tak bersalah. Apakah kau siap untuk mengambil risiko itu?"

Aku terdiam sejenak, menyadari ancaman serius yang dia berikan. Tapi aku tahu, menyerah bukanlah pilihan. "Aku tidak akan mundur," kataku dengan tegas. "Alice adalah keluargaku, dan aku akan melakukan apapun untuk membawanya pulang."

Carroll menghela napas panjang, lalu tersenyum licik. "Baiklah, Alistair. Jika itu yang kau inginkan. Tapi ingat, setiap langkah yang kau ambil mendekatkan Jabberwocky ke dunia manusia. Kau telah diperingatkan."

Aku menatapnya tajam, kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan meja perjamuan itu. Aku tahu perjalananku semakin berbahaya, tetapi tekadku semakin kuat. Aku harus menemukan Alice dan mengakhiri semua ini, sebelum Carroll benar-benar melepaskan Jabberwocky ke London.

Dengan langkah tegas, aku melanjutkan perjalanan melalui Wonderland, menyadari bahwa setiap langkahku membawa risiko yang besar. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Aku harus menemukan Alice, apapun yang terjadi.


XXX

Melalui kekuatan ilusi, Hatter dan Alistair berdiri di tepi Sungai Thames meski mereka masih di Wonderland, angin malam membawa kabut yang menyelimuti kota London. Bayangan gelap menari di atas permukaan air yang tenang, menciptakan suasana yang mencekam. Hatter menatap Alistair dengan tatapan serius, wajahnya yang biasanya ceria kini terlihat suram.

"Alistair," Hatter memulai, suaranya datar namun penuh dengan bobot.
 Hatter, matanya menyala dengan kekuatan yang tak bisa dijelaskan. "Kekuatanku berasal dari menyerap jiwa manusia melalui makhluk yang disebut Jabberwocky, seekor naga raksasa."

 "Aku telah menyerap jiwa Alice."

"Tidak mungkin," bisik Alistair, matanya membesar. "Apa yang kau rencanakan?"

Hatter menunjuk ke arah London Bridge yang menjulang di kejauhan. "Jabberwocky akan muncul di sana malam ini. Aku akan menyerap jiwa orang-orang di London."

Langit di atas London Bridge tiba-tiba retak, seperti kain yang terkoyak. Dari celah tersebut, seekor naga raksasa dengan mata berapi-api dan sisik yang menghitam muncul, melayang di udara dengan sayapnya yang besar. Alistair bisa merasakan getaran dari setiap kepakan sayapnya, seakan-akan udara di sekitarnya bergetar oleh kekuatan murni.

Alistair menatap pemandangan itu dengan ngeri.

"Satu-satunya cara untuk mengembalikan jiwa Alice adalah dengan membunuh Jabberwocky," kata Hatter, nadanya penuh ancaman. "Tapi itu mustahil untuk manusia sepertimu."

XXX


 Bab 15: Penemuan yang Mengerikan


Aku melanjutkan perjalananku di Wonderland dengan tekad yang kuat meskipun ancaman dari Carroll terus menghantui pikiranku. Namun, kenangan dari dunia nyata masih membayangi setiap langkahku. Aku ingat bagaimana Carroll, setelah hilangnya Alice, mengaku kepada polisi dan keluargaku bahwa dia tidak tahu ke mana Alice pergi. Dia bahkan menulis "Alice in Wonderland" untuk mengenangnya, sebagai tanda duka cita yang tampak tulus.

Ketika aku merenungkan hal ini, bayangan Carroll dan pengakuannya kepada polisi kembali ke pikiranku. Aku ingat dengan jelas bagaimana Carroll datang ke rumah kami, wajahnya pucat dan penuh kesedihan. Ayah kami sangat marah, dan ibu kami tidak henti-hentinya menangis. Carroll berusaha meyakinkan kami bahwa dia tidak tahu apa yang terjadi pada Alice.

"Percayalah, saya tidak tahu di mana Alice," katanya dengan suara yang gemetar. "Saya menulis buku ini untuk mengenang dia, agar dunia tidak pernah melupakan Alice yang manis."

Polisi juga telah melakukan penyelidikan menyeluruh tetapi tidak menemukan bukti yang mengaitkan Carroll dengan hilangnya Alice. Mereka menganggap kasus ini sebagai misteri yang tidak terpecahkan.

Namun, di Wonderland, kebenaran tampak berbeda. Carroll yang kutemui di sini, dengan identitasnya sebagai Mad Hatter, mengakui bahwa dia adalah dewa dari dimensi lain yang menciptakan dunia ini. Dan bahwa Alice ada di sini, di suatu tempat.

Aku merenungkan semua ini ketika aku tiba di tempat yang tampak seperti pengadilan Wonderland. Di sana, berbagai karakter Wonderland berkumpul, termasuk Ratu Hati yang otoriter. Aku tahu bahwa di sinilah aku harus membuat langkah besar berikutnya.

"Ratu Hati!" seruku dengan suara lantang, menarik perhatian semua orang. "Aku menuduh Lewis Carroll, atau Mad Hatter, sebagai dalang di balik hilangnya adikku, Alice. Dia mengaku telah menciptakan dunia ini dan membawa Alice ke sini!"

Ratu Hati memandangku dengan penuh kemarahan dan ketidakpercayaan. "Apa bukti yang kau miliki, Alistair?"

Aku menarik napas dalam-dalam, mengingat semua petunjuk yang telah kutemukan. "Dia mengakui sendiri di meja perjamuan teh bahwa dia adalah dewa yang menciptakan Wonderland. Dia mengatakan bahwa Alice ada di sini, di suatu tempat. Dan jika kita tidak menghentikannya, dia akan melepaskan Jabberwocky ke London."

Ruangan itu dipenuhi dengan bisikan dan keraguan. Namun, aku tetap berdiri teguh, menantang siapa pun yang berani meragukan kata-kataku.

Carroll, atau Mad Hatter, muncul di pintu ruangan, wajahnya penuh dengan keangkuhan. "Alistair, kau terus saja mencari masalah. Aku sudah memperingatkanmu."

Aku menatapnya dengan tajam. "Aku tidak akan mundur sampai aku menemukan Alice."

Ratu Hati berdiri dan melangkah maju. "Jika apa yang dikatakan Alistair benar, maka kita semua dalam bahaya. Mad Hatter, apakah ini benar?"

Carroll tertawa dengan suara yang mengerikan. "Kalian semua hanya bidak dalam permainanku. Tapi baiklah, jika kalian ingin kebenaran, maka biarlah. Alice memang ada di sini, dan aku akan memastikan dia tetap aman. Jika kalian berani mengganggu, Jabberwocky akan dilepaskan."

Ratu Hati dan para pengikutnya tampak terkejut dan takut. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Aku harus menemukan Alice, apapun yang terjadi.

Dengan langkah tegas, aku mendekati Carroll. "Ini adalah akhir permainanmu, Carroll. Aku akan menemukan Alice dan membawa keadilan bagi keluargaku."

Ketika ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya, aku tahu bahwa pertempuran besar akan segera dimulai. Aku harus menemukan Alice dan menghentikan Carroll sebelum dia benar-benar melepaskan Jabberwocky. Tidak ada waktu untuk mundur. Petualanganku di Wonderland telah mencapai titik kritis, dan aku harus siap menghadapi apapun yang akan datang.

Langkahku berat saat aku mengarahkan langkahku ke kediaman Mad Hatter, atau yang sebenarnya adalah Lewis Carroll. Hatiku dipenuhi dengan kekhawatiran dan ketegangan. Aku tidak tahu apa yang akan kuketahui di sana, tetapi aku harus menemukan Alice, adikku yang hilang.

Sesampainya di depan pintu, aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Aku mengetuk pintu dengan keras, menunggu dengan tegang. Setelah beberapa saat yang terasa seperti abadi, pintu terbuka perlahan.

Aku masuk ke dalam, memasuki ruangan yang gelap dan terbungkus dalam misteri. Saat aku menjelajahi setiap sudut, hatiku berdebar keras, siap untuk apa pun yang mungkin kutemukan.

Dan di sebuah ruangan yang tersembunyi di lantai bawah, aku menemukannya. Alice, kakak perempuanku yang hilang, berdiri di tengah ruangan seperti patung yang membeku. Wajahnya pucat, matanya kosong, seperti jiwa telah diambil dari tubuhnya.

Aku berlari mendekatinya, mencoba memanggil namanya, tetapi dia tidak merespons. Aku memegang tangannya dengan gemetar, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan, tetapi tak ada yang kurasakan kecuali dinginnya tubuhnya yang membeku.

"Alice," bisikku dengan suara penuh kesedihan. "Apa yang telah mereka lakukan padamu?" Dia berdiri di sana, membeku layaknya patung. Matanya tertutup, dan ekspresinya tenang, seolah-olah dia tertidur dalam mimpi buruk yang tak berujung. Tubuhnya tidak menua di Wonderland ketika aku sudah menjadi pria 30 tahunan, tetap seorang gadis kecil seperti saat dia menghilang. Aku mendekatinya perlahan, hampir takut untuk menyentuhnya.

Namun, pertanyaanku hanya dijawab oleh kesunyian yang menyakitkan. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya, tetapi aku tahu bahwa aku harus membawanya pulang, meskipun sulit untuk melihatnya dalam kondisi seperti ini. 

Dengan hati yang berat, aku mengangkat tubuhnya yang ringkih dan membawanya keluar dari kediaman Mad Hatter. Aku tidak tahu apa yang akan aku hadapi selanjutnya, tetapi aku tahu bahwa aku tidak akan menyerah sampai aku membawa adikku kembali ke rumah.

Dengan Alice dalam pelukanku, aku meninggalkan tempat itu, bersiap untuk melanjutkan perjalanan petualanganku di Wonderland. Tetapi kali ini, aku tidak sendiri. Aku membawa Alice dengan harapan bahwa aku bisa menyelamatkannya dari nasib yang mengerikan yang menunggunya di dunia ini yang penuh misteri dan bahaya.
Perjalanan ke Wonderland kali ini terasa lebih gelap dan penuh dengan ancaman. Setiap langkah yang kuambil di dunia aneh ini membawa aku semakin dekat ke kebenaran yang mengerikan. Hingga akhirnya, aku tiba di kediaman Mad Hatter. Tempat itu dipenuhi dengan kekacauan dan keanehan yang melampaui imajinasiku. Di tengah-tengah ruangan yang aneh, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti.

"Alice," bisikku, berharap dia akan merespons. Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dia benar-benar membeku.

Saat itulah aku mendengar tawa gila yang familiar. Mad Hatter muncul dari bayang-bayang, matanya berkilauan dengan kegilaan. "Selamat datang, Alistair. Apakah kau menikmati petualanganmu di Wonderland?"

Aku menatapnya dengan penuh kebencian. "Apa yang telah kau lakukan pada Alice?"

Mad Hatter tertawa lagi. "Alice adalah milikku. Dia akan tetap di sini selamanya, menjadi bagian dari dunia ini. Dan kau, Alistair, tidak akan pernah bisa membawanya kembali."

Aku menggenggam revolverku dengan erat, siap untuk menghadapi Mad Hatter. Tapi dia hanya tersenyum licik dan melangkah mundur, menghilang ke dalam bayang-bayang.

Aku tahu ini belum berakhir. Carroll, atau Mad Hatter, memiliki rencana yang lebih besar. Dan aku harus menghentikannya sebelum dia menghancurkan semuanya. Aku akan menyelamatkan Alice, apapun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan Carroll memenangkan permainan gilanya ini.

XXX

Alistair menuntun Alice keluar dari lubang kelinci, kembali ke dunia nyata dengan perasaan campuran antara lega dan cemas. Namun, saat mereka tiba di kota London, kekhawatiran Alistair segera menjadi kenyataan. Di ufuk, bayangan gelap dan ganas mulai muncul, dan dengan cepat, kekacauan mengerikan menyebar di sepanjang jalan-jalan kota.

Jabberwocky, naga raksasa dari Wonderland, muncul dengan marah, menghancurkan bangunan dan menakut-nakuti warga kota yang tak berdaya. Nafasnya yang panas membakar sekitarnya, dan teriakannya menggema di langit, memenuhi orang-orang dengan ketakutan dan kepanikan.

Alistair dan Alice menyaksikan kehancuran ini dengan ngeri. Tanpa ragu, Alistair menggenggam erat tangannya, memastikan bahwa dia aman di sampingnya. Dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat untuk melindungi kota dan orang-orang yang dicintainya.

Situasi di London semakin kacau setelah kemunculan Jabberwocky. Makhluk raksasa menyeramkan dengan gigi tajam dan cakar yang kuat.tersebut menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya, memuntahkan api dan meneror penduduk kota. Polisi dan militer kewalahan, tidak ada senjata konvensional yang mampu melukai apalagi menghentikan makhluk mengerikan ini. Berita tentang serangan Jabberwocky menyebar dengan cepat, memicu kepanikan massal di seluruh negeri.

Di tengah hutan yang sunyi,
Mad Hatter berkata dengan gembira,
"Puisi ini akan buat Jabberwocky bangkit,
Dan London akan menjadi ladangnya hancur."

Dengan topi aneh di kepalanya,
Dia mulai merangkai kata-kata,
Mantra yang memanggil kegelapan,
Membangunkan monster dari tidur panjangnya.

"Dengarkan, oh, dunia yang terdiam,
Jabberwocky akan datang dengan amarahnya,
London akan gemetar di bawah kakinya,
Ketika ia muncul dari kegelapan malam."

Angin berbisik, pohon-pohon pun gemetar,
Puisi Mad Hatter menggetarkan alam,
Jabberwocky mulai merentangkan sayapnya,
Siap menghancurkan London dengan nafsu membara.

Tapi, apakah ini yang seharusnya kita lakukan?
Menghadirkan kehancuran dengan kata-kata?
Mad Hatter tersenyum, tanpa ragu,
"Puisi ini akan menorehkan sejarah yang kelam."

Namun, di tengah kata-kata yang terucap,
Ada kekuatan lebih besar dari cinta dan kebaikan,
Mungkin London akan selamat dari malapetaka,
Jika hati-hati bersatu untuk melawan kegelapan.


Dalam kekacauan ini, Pemerintah Inggris bergerak cepat. Mereka menyadari bahwa mereka menghadapi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membutuhkan solusi yang lebih dari sekadar kekuatan militer. Maka, sebuah konferensi darurat diadakan di Westminster. Para pemimpin militer, ilmuwan, dan pejabat tinggi berkumpul untuk menemukan cara menghentikan makhluk itu sebelum menghancurkan seluruh kota.

Aku hadir di konferensi itu sebagai saksi dan pemberi informasi penting. Aku menceritakan semua yang kuketahui tentang Wonderland, Mad Hatter, dan ancaman Jabberwocky. Meskipun banyak yang awalnya skeptis, keputusasaan situasi membuat mereka mendengarkan dengan serius.

"Apa yang kita butuhkan adalah senjata yang mampu menghancurkan makhluk itu dari dalam," kata seorang ilmuwan terkemuka, Dr. Edward Thompson, sambil menunjukkan diagram sebuah perangkat baru. "Ini adalah Oxygen Penetration, sebuah bom yang dirancang untuk menghancurkan makhluk hidup pada tingkat molekuler."

Para pejabat tinggi mendengarkan dengan saksama saat Dr. Thompson menjelaskan cara kerja senjata tersebut. Namun, mereka tahu bahwa penggunaan senjata ini berisiko tinggi. Tidak hanya bisa menghancurkan Jabberwocky, tetapi juga bisa menimbulkan kerusakan besar pada lingkungan sekitarnya.

"Kita tidak punya pilihan lain, Oxygen Penetration adalah sebuah senjata kimia yang mampu menguraikan oksigen di dalam air, sehingga memusnahkan semua kehidupan di sekitarnya. " kata Perdana Menteri dengan suara tegas. "Kita harus menghentikan Jabberwocky, apapun resikonya. Meskipun Thompson awalnya enggan menggunakan penemuannya karena khawatir senjata tersebut akan disalahgunakan dan menyebabkan kehancuran yang lebih besar."

Bab Akhir: Pertarungan Terakhir

Di malam yang gelap dan penuh badai, aku berdiri di atas jam Big Ben, memancing Jabberwocky yang dikendalikan oleh Mad Hatter untuk mengikutiku. Makhluk itu terbang mengelilingi menara, menghancurkan bagian atasnya dengan cakar dan sayapnya yang besar. 

Dengan tekad bulat, aku melompat dari menara dan mendarat di atas kuda yang telah disiapkan. "Ke sini kau, Jabberwocky!" teriakku, suaraku bergema di tengah malam yang dingin. Sayap besar dan mata berapi-api Jabberwocky berkilat di atas, makhluk itu mengepakkan sayapnya dan mengeluarkan raungan yang menggetarkan.

Aku melihat ke bawah, ke jalan-jalan London yang kosong, di mana ribuan orang telah mengungsi untuk menghindari serangan makhluk tersebut. Aku tahu bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka adalah dengan memancing Jabberwocky keluar dari kota dan menuju pantai terdekat.

Dengan lompatan yang penuh keberanian, aku mengikatkan tali di sekitar tubuhku dan meluncur turun dari Big Ben, dengan Jabberwocky mengejarku. Aku berlari secepat mungkin, melewati gang-gang sempit dan jalan-jalan kota yang sepi, menuju ke arah pantai Brighton.
Aku memacu kudaku menuju pantai Brighton.

Di Scotland Yard, tim teknisi senjata dan polisi telah bekerja tanpa henti, menyiapkan jebakan yang dirancang dengan teliti. Mereka telah mengatur bom Oxygen Penetration, sebuah perangkat yang mampu menghancurkan segala bentuk kehidupan di air.

Saat aku tiba di pantai Brighton, aku melihat tim teknisi siap di posisi mereka. Dengan sinyal yang diberikan olehku, mereka mulai mengaktifkan bom tersebut. 

Pantai terdekat dari London yang paling dikenal adalah Pantai Brighton. Brighton terletak di selatan London dan dapat dicapai dalam waktu sekitar satu hingga dua jam perjalanan dengan kereta atau mobil. Brighton terkenal dengan dermaga bersejarahnya, pantai berbatu, dan kehidupan kota yang semarak. 

Jabberwocky mendarat dengan gemuruh di pantai, pasir beterbangan di sekelilingnya. Aku berdiri tegak, revolver di tangan, menghadapi monster yang mengancam nyawa semua orang.

"Ini untuk Alice," bisikku dengan penuh tekad. Aku menembakkan beberapa peluru ke arah Jabberwocky, memancing makhluk itu untuk mendekat ke jebakan.

Kami menyiapkan bom Oxygen Penetrator, senjata yang sangat kuat namun berbahaya. Dr. Edward Thompson, ilmuwan di balik senjata ini, mendampingiku. "Ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan Jabberwocky," katanya dengan suara tegas.

Kami menyelam ke dasar laut, tempat Jabberwocky akan dijebak. Dr. Thompson memutuskan bahwa rahasia Oxygen Penetrator tidak boleh digunakan lagi. Dia memutuskan untuk tinggal di bawah air dan mati bersama dengan senjata tersebut untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa menyalahgunakan teknologi ini di masa depan.

"Edward, jangan lakukan ini!" teriakku saat dia mendorongku keluar dari kapal selam kecil kami.

"Kau harus pergi, Alistair," jawabnya dengan nada penuh tekad. "Jika senjata ini jatuh ke tangan yang salah, itu akan menjadi akhir bagi kita semua. Aku harus memastikan itu tidak pernah terjadi."

Dengan air mata di mataku, aku berenang kembali ke permukaan sementara Dr. Thompson mengaktifkan bom tersebut. 

Dengan ledakan besar, bom Oxygen Penetration meledak, menghasilkan gelombang energi yang menghancurkan tubuh Jabberwocky. Makhluk itu mengeluarkan raungan terakhirnya sebelum tubuhnya hancur berkeping-keping, menyisakan tulang yang berserakan di pasir.

Ledakan besar mengguncang laut, dan Jabberwocky hancur menjadi sisa-sisa tulang yang tersebar di dasar laut.

Ketika debu mulai mengendap, aku melihat pemandangan yang tak terlupakan. Tubuh Jabberwocky hancur, menyisakan tulang belulang yang berserakan di pantai. Makhluk itu telah dikalahkan.

Aku tersungkur di pasir, terengah-engah namun penuh dengan rasa lega. Tim teknisi dan polisi segera mendekat, membantu aku bangkit kembali.

Aku berdiri di tepi pantai, menatap sisa-sisa Jabberwocky dengan campuran perasaan lega dan kehampaan. Alice, yang telah kuselamatkan dari Wonderland, berdiri di sampingku. Dia masih tidak ingat apa-apa tentang masa lalunya di Wonderland, tapi setidaknya dia aman sekarang.

Namun, saat debu mereda dan keheningan menyelimuti pantai, suara tawa yang menggema mengisi udara. Mad Hatter, alias Lewis Carroll, muncul dari bayangan, wajahnya dipenuhi amarah.

"Kau pikir ini sudah berakhir, Alistair? Kau tidak bisa menyelamatkan Alice selamanya. Aku akan merebutnya kembali," ancam Carroll, matanya bersinar dengan kegilaan.

Aku menatap Carroll dengan tatapan penuh kebencian dan keteguhan. "Selama aku masih hidup, kau tidak akan pernah menyentuh Alice lagi," jawabku dengan suara yang tegas.

Dengan itu, Carroll menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan aku dan timku dengan kemenangan yang pahit. Meski Jabberwocky telah dikalahkan, ancaman dari Wonderland belum sepenuhnya berakhir.

Meski Jabberwocky telah dikalahkan, ancaman belum berakhir. Mad Hatter masih berkeliaran di suatu tempat, bersumpah untuk merebut Alice kembali. Namun, untuk saat ini, London telah diselamatkan dari kehancuran total.

XXX

Bab Akhir: Penyesalan dan Tanggung Jawab

Setelah melakukan deduksi panjang, aku menyadari bahwa Mad Hatter tidak bisa melukaiku di Wonderland. Sebagai dewa Wonderland, Mad Hatter tidak memiliki kekuasaan untuk melukai orang yang berasal dunia nyata, karena hal itu berada di luar wilayah kekuasaannya, karena itu dia melepaskan Jabberwocky ke London bukan turun tangan secara langsung. Meskipun dia bisa saja menyerap jiwaku, hal itu hanya dapat dilakukan di dunia nyata.

Aku berdiri di tepi pantai Brighton, menatap puing-puing dan sisa-sisa tubuh Jabberwocky yang hancur. Makhluk itu telah dikalahkan, namun biayanya sangat besar. London telah mengalami kehancuran dan banyak nyawa yang hilang. Di tengah semua ini, aku merasakan penyesalan yang mendalam.

Keinginanku untuk menyelamatkan Alice yang hilang puluhan tahun lalu malah menyebabkan bencana bagi banyak orang. Jabberwocky yang dibawa ke dunia nyata atas tindakanku menghancurkan bagian dari kota yang kucintai. Meskipun aku berhasil membawa Alice kembali, aku tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa banyak orang yang telah menderita karena tindakanku.

Alice berdiri di sampingku, masih tidak ingat apa-apa tentang masa lalunya di Wonderland. Dia hanya seorang gadis kecil yang bingung dan ketakutan. Melihat wajahnya, aku merasakan campuran rasa lega dan kesedihan. Aku telah menyelamatkannya, tetapi aku merasa bersalah karena bencana yang telah kubawa ke dunia ini.

Pemerintah Inggris segera mengadakan konferensi darurat untuk menangani situasi ini. Mereka mengadakan penyelidikan lebih lanjut tentang Wonderland dan makhluk-makhluknya. Aku diundang untuk memberikan kesaksian tentang apa yang telah terjadi dan apa yang kuketahui tentang dunia lain itu.

Selama konferensi, aku menjelaskan semua yang kutahu tentang Wonderland, Mad Hatter, dan ancaman Jabberwocky. Meskipun banyak yang awalnya skeptis, keputusasaan situasi membuat mereka mendengarkan dengan serius. Aku juga mengakui kesalahan dan penyesalanku atas apa yang telah terjadi.

"Kita harus menjaga informasi ini dari publik untuk menghindari kepanikan massal," kata Perdana Menteri. "Namun, kita juga harus mempersiapkan diri untuk ancaman lain yang mungkin datang dari Wonderland."

Aku ditugaskan sebagai penghubung antara dunia nyata dan Wonderland, sebuah peran yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Ini adalah tanggung jawab besar, tetapi aku tahu bahwa aku harus melakukannya untuk menebus kesalahanku dan melindungi dunia ini dari ancaman di masa depan.

Alice kembali ke rumah, di mana keluarga kami mencoba untuk kembali ke kehidupan normal. Namun, kami tahu bahwa kehidupan kami telah berubah selamanya. Kami lebih waspada, lebih kuat, dan lebih bersatu dari sebelumnya.

Di malam hari, aku sering terjaga, memikirkan masa depan dan ancaman yang mungkin datang. Namun, satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah berhenti berjuang untuk melindungi mereka yang kucintai. Dan meski dunia ini penuh dengan misteri dan bahaya, aku akan selalu siap untuk menghadapi apa pun yang datang.

Dengan demikian, kisah kami diakhiri, tapi petualangan kami belum berakhir. Wonderland masih menunggu, dan aku akan selalu siap untuk kembali ke sana jika diperlukan. Untuk Alice, untuk keluarga kami, dan untuk keselamatan dunia ini.

Malam itu, di bawah langit berbintang, aku dan Alice berjanji untuk tidak pernah menyerah, tidak peduli apa yang terjadi. Kami tahu bahwa kami telah memasuki babak baru dalam kehidupan kami, penuh dengan tantangan, tetapi juga penuh dengan harapan.

(Damar Pratama Yuwanto).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama